Muslim Heritage
Not a member yet
    201 research outputs found

    Studi Economic Policy Uncertainty dan Pasar Keuangan terhadap Perkembangan Pasar Sukuk Indonesia

    No full text
    AbstractSukuk as a form of sharia investment are starting to be in great demand by investors because they are considered to have a lower level of risk and better performance and stability compared to conventional investments. However, conditions of global uncertainty pose a threat to the development of the national sharia economy. The purpose of this study was to analyze the influence of macroeconomic dynamics and financial market conditions consisting of exchange rates, international liquidity, foreign debt, debt repayment rates, and global economic policy uncertainty on the development of Indonesian sukuk. The research methodology used in this study is the multiple linear regression method using the ordinary least squares method. The results of this study indicate that macroeconomic and financial variables have a significant impact on the development of the sukuk market in Indonesia. Meanwhile, the global economic policy uncertainty variable has an insignificant influence on the development of the sukuk market in Indonesia. Thus, there is a need for new policy alternatives to maintain overall economic fundamental stability and maintain sufficient liquidity in all sectors. This aims to maintain investor confidence and create a conducive environment for the development of Islamic economics and the sukuk market in Indonesia.  AbstrakSukuk sebagai salah satu bentuk investasi syariah mulai banyak diminati oleh investor karena dianggap memiliki tingkat resiko yang lebih rendah, memiliki kinerja dan stabilitas yang lebih baik dibandingkan dengan investasi konvensional. Namun, kondisi ketidakpastian global memberikan ancaman terhadap perkembangan ekonomi syariah nasional. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh dari dinamika ekonomi makro dan kondisi pasar keuangan yang terdiri dari nilai tukar, likuiditas internasional, utang luar negeri, dan tingkat pengembalian utang dan ketidakpastian kebijakan ekonomi global terhadap perkembangan sukuk Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode regresi linear berganda dengan menggunakan metode Ordinary Least Square. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel keuangan ekonomi makro memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan pasar sukuk di Indonesia. Sedangkan variabel ketidakpastian kebijakan ekonomi global memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap perkembangan pasar sukuk di Indonesia. Dengan demikian, perlu adanya alternatif kebijakan baru untuk tetap menjaga stabilitas fundamental ekonomi secara keseluruhan serta menjaga kecukupan likuiditas di segala sektor, hal ini bertujuan untuk menjaga kepercayaan investor serta membuat lingkungan yang kondusif bagi pengembangan pasar sukuk dan ekonomi islam di Indonesia

    Rasionalitas Epistemik dalam Pendidikan Islam dengan Perspektif Historis untuk Membangun Moderasi Beragama di Indonesia

    No full text
    AbstractThis study aims to describe the history of education in Islam to serve as the basis for its epistemic framework.  This study uses a literature study method with a qualitative approach.  The sources used are books, articles that are relevant to the history of Islamic religious education, besides that, literature on epistemic rationality and religious moderation is also collected.  How to obtain data in this study by reviewing the literature.  The data analysis uses the concept given by Miles and Huberman.  The results of this study are: 1) Historically the decline of Islamic education was due to the geopolitics of the destruction of the city of Baghdad so that the emergence of the western anti-colonial movement which resulted in radicalization to maintain power over religion.  2) Islamic education undergoes a transformation from the rationality of science through religious beliefs to the narrowing of knowledge and education in Islam for religious and political purposes.  3) Epistemic rationality is needed to revive Islamic education such as the golden age that uses rationality and empiricism in acquiring knowledge.  4) With an epistemic rationality approach based on the history of Islamic education, it can be used as an effort to form a moderate attitude in religion. AbstrakModerasi beragama kembali menjadi isu yang penting untuk dibahas, seiring dengan maraknya tindakan anarkis, radikalisme dan fanatisme mengatasnamakan agama yang dilakukan oleh oknum tertentu di waktu akhir ini. Oleh karena itu, perlu menilik sejarah pendidikan Islam pada masa keemasan untuk dijadikan pijakan kerangka epistemiknya. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Sumber yang digunakan adalah buku, artikel yang relevan dengan sejarah pendidikan agama islam selain itu dikumpulkan juga literatur-literatur rasionalitas epistemik dan moderasi beragama. Cara memperoleh data pada penelitian ini dengan telaah literature. Adapun analisis data menggunakan konsep yang diberikan oleh Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini berupa : 1) Tercatat historis kemunduran pendidikan islam disebabkan geopolitik hancurnya kota baghdad sehingga munculnya gerakan anti kolonial barat yang dampaknya radikalisasi untuk mempertahankan kekuasaan dengan atas agama. 2) Pendidikan islam mengalami transformasi dari rasionalitas ilmu pengetahuan melalui keyakinan agama berubah menjadi mempersempitnya ilmu pengetahuan dan pendidikan dalam Islam untuk tujuan agama dan politiknya. 3) Rasionalitas epistemik diperlukan untuk membangkitkan kembali pendidikan islam seperti masa keemasan yang menggunakan rasionalitas dan empirik dalam memperoleh pengetahuan. 4) Dengan pendekatan rasionalitas epistemik berdasar sejarah pendidikan islam bisa digunakan sebagai upaya pembentukan sikap moderat dalam beragama.

    Seni Pegelaran Wayang dalam Perspektif Fikih dan Spiritualitas Seni Islam Seyyed Hossein Nasr

    No full text
    AbstractThe function of wayang in the context of ancient times was a means of worship and an intermediary in worshiping God. Whereas in Islam, it is not permissible to worship God by means of means or media, so this becomes a shirk to Allah, over time wayang changes its function, which is contrary to the past, and becomes more adaptive to the times. The purpose of writing this article is to discuss the art of wayang from the perspective of Islamic law or fiqh and in the study of the spirituality of Islamic art Seyyed Hossein Nasr. The writing of this article uses the library research method and literature sources that are in line with the discussion. This research resulted in findings that 1) wayang is an indigenous culture of the archipelago, which at first glance contradicts the views of Islamic jurisprudence and art by Seyyed Hossein Nasr 2) Wayang is an archipelago culture that has a great influence, in the perspective of fiqh, wayang performances are a form of Islamic art based on culture because of their use value today as art without associating partners with Allah., 3) From the perspective of Islamic art Seyyed Hossein Nasr Wayang is classified as a traditional Islamic art as its function is used in educational media through stories that are interesting and seem unique, the existence of wayang that can bring people to their goals Islamic art makes wayang used by walisongo as an effective preaching medium. AbstrakFungsi wayang dalam konteks zaman dahulu menjadi sarana ibadah dan perantara dalam menyembah Tuhan. Sedangkan dalam islam tidak diperkenankan menyembah Tuhan dengan menggunakan sarana atau media, sehingga hal tersebut menjadi syirik kepada Allah, seiring berjalannya waktu Wayang beralih fungsi yang bertolak belakang dengan zaman dahulu, dan menjadi lebih adaptif dengan perkembangan zaman. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk membahas seni rupa wayang dalam kacamata hukum islam atau fiqih dan dalam kajian spiritualitas seni islam Seyyed Hossein Nasr. Penulisan artikel ini menggunakan metode library research dan sumber literatur yang selaras dengan pembahasan. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa 1) wayang merupakan budaya asli Nusantara yang sekilas bertentengan dengan pandangan fiqih dan seni islam Seyyed Hossein Nasr 2) Wayang merupakan budaya Nusantara yang memiliki pengaruh yang besar, dalam perspektif fiqih, pagelaran Wayang merupakan salah satu bentuk seni islam berlandaskan budaya karena nilai kegunaannya pada zaman sekarang sebagai seni tanpa unsur menyekutukan Allah, 3) Dari perspektif seni islam Seyyed Hossein Nasr Wayang diklasifikasikan sebagai seni tradisional islam sebagaimana fungsinya yang digunakan dalam media pendidikan melalui cerita yang menarik dan terkesan unik, eksistensi wayang yang dapat membawa manusia kepada tujuan seni islam menjadikan wayang digunakan walisongo sebagai media berdakwah yang efektif

    Diskursus Pengenaan Pajak pada Transaksi Kripto Perspektif Pemikiran Yusuf Qardhawi

    No full text
    AbstractCryptocurrency is one type of digital currency that is prohibited by Bank Indonesia to be used as a medium of exchange because it is not in accordance with Law Number 7 of 2011 concerning currency. After the legalization  of cryptocurrency as a commodity asset in Indonesia, the government gave birth to a new regulation of the Minister of Finance Regulation Number 68/PMK.03/2022 concerning Value Added Tax and Income Tax on Crypto Asset Trading Transactions  with the aim of the same level of playing field (equating the imposition of crypto asset tax with other investment instruments). This policy has caused anxiety for the Muslim community because taxes on crypto assets are a new thing. Islam is a kaffah  religion that is never separated from everything, including in the law of imposition of taxes. Such is the tax thought by ulama' Yusuf Qardhawi.  The purpose of this study is to find out Yusuf Qardhawi's thoughts regarding the imposition of taxes on crypto assets. This research is a normative legal research using conceptual and statutory approaches. The material in this study is in the form of primary and secondary legal materials. The results of this study are 1) crypto assets are a new commodity called virtual treasures. This asset is equated with digital gold, which is only taxed at the time of buying and selling transactions, 2) PMK Number 68/PMK.03/2022 has explained the imposition of Value Added Tax and Income Tax on crypto asset transactions. Crypto assets can be said to be trading assets that have profits. This crypto asset can be used as an object of wealth tax and income tax in accordance with Yusuf Qardhawi's tax concept. Thus, the imposition of taxes in PMK Number 68/PMK.03/2022 is theoretically valid for Yusuf Qardhawi to apply. AbstrakCryptocurrency merupakan salah satu jenis mata uang digital yang dilarang oleh Bank Indonesia untuk dipergunakan sebagai alat tukar karena tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang. Setelah dilegalkannya cryptocurrency sebagai aset komoditi di Indonesia, pemerintah melahirkan peraturan baru Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penghasilan Atas Transaksi Perdagangan Aset Kripto dengan tujuan untuk same level of playing field (menyamakan pengenaan pajak aset kripto dengan instrumen investasi yang lainnya). Kebijakan ini menimbulkan kegelisahan bagi masyarakat muslim karena pajak atas aset kripto ini merupakan hal yang baru. Islam merupakan agama kaffah yang tidak pernah terlepas dari segala sesuatu, termasuk dalam hukum pengenaan pajaknya. Seperti halnya pemikiran pajak oleh ulama’ Yusuf Qardhawi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pemikiran Yusuf Qardhawi mengenai pengenaan pajak atas aset kripto. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan konseptual dan perundang-undangan. Bahan dalam penelitian ini berupa bahan hukum primer dan sekunder. Hasil dari penelitian ini yaitu 1) aset kripto merupakan komoditi baru yang disebut dengan harta virtual. Aset ini disamakan dengan emas digital, yang mana hanya dikenai pajak pada saat transaksi jual beli saja, 2) PMK Nomor 68/PMK.03/2022 telah menjelaskan adanya pengenaan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penghasilan atas transaksi aset kripto. Aset kripto dapat dikatakan sebagai harta perdagangan yang memiliki keuntungan. Aset kripto ini dapat dijadikan objek pajak kekayaan dan pajak pendapatan sesuai dengan konsep pajak Yusuf Qardhawi. Maka, pengenaan pajak yang ada di PMK Nomor 68/PMK.03/2022 secara teori Yusuf Qardhawi sah untuk diberlakukan.

    The Locals’ Voices To A Langgher Dhatang Developmental Plan As A Religious Tourism Destination in Madura

    No full text
    AbstractLanggher Dhatang symbolizes an Islamic architecture. Some belive that religion should not be commercialized. This article, however, rebuts the given point of views. Therefore, this aims to study three major issues: 1) local perceptions towards the development of Langgher Dhatang as a religious tourism destination, 2) the common-held belief in the interplay between the local tourism destination and economic advantages, and 3) feasible actions to take to make Langgher Dhatang more popular. This employed a quantitave research. Conducting door-to-door interviews with structured questions to collect the data was held. Researchers successfully interviewed 13 local people nearest to the location of Langgher Dhatang as they would be likely to have a direct impact from the scheme. The research shows that the involved participants demonstrated various attitudes when Langgher Dhatang is designed to be a local religious tourism destination. The participants’ responses are everage, ranging from 38.5% (agree), 30.8% (disagree and neither). The responses vary dealing with economic consequences that would possibly bring and their gaps is wide: 69.2% believe that the tourism positively impacts economically, and 15.4% claims that this will have no economic advantages, including 15.4% has no idea with the impact of tourism destination development around them. Some feasible strategies were also proposed. AbstrakLanggher Dhatang menyimbolkan arsitektur agama Islam. Sebagian orang percaya bahwa agama seharusnya tidak boleh dikomersialkan. Akan tetapi, penelitian bertentangan dengan pandangan tersebut. Oleh karena itu, ada tiga hal penting yang menjadi isu dalam penelitian ini: 1) persepsi masyarakat setempat jika Langgher Dhatang dijadikan tujuan wisata religi, 2) pandangan umum terhadap kaitan antara tujuan wisata religi dan keuntungan secara ekonomi, 3) serta strategi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan popularitas Langgher Dhatang sehingga pengunjungnya bisa meningkat. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Peneliti melakukan interview dari pintu ke pintu untuk mendapatkan data. Kami berhasil menginterview 13 orang terdekat dengan lokasi Langgher Dhatang. Hal ini disebabkan karena mereka yang terdekat akan terkena dampak secara langsung dari rencana ini. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa responden memiliki pandangan yang berbeda terhadap rencana pengembangan Langgher Dhatang sebagai tujuan wisata religi: 38,5% setuju, 30,8% tidak setuju, dan 30,8% netral. Terkait dengan isu ekonomi, responden juga menunjukkan respon yang berbeda. Menariknya, perbedaan persentasenya cukup luas: 69,2% percaya bahwa pengembangan Langgher Dhatang ke arah destinasi wisata memberikan dampak positif terhadap perekonomian mereka, 15,4% justru sebaliknya tidak percaya dampak positif tersebut, dan 14,4% posisi netral. Beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan popularitas Langgher Dhatang juga diusulkan.

    Islam Melayu dan Islam Jawa: Studi Komparatif Akulturasi Islam dan Kebudayaan dalam Perspektif Sejarah

    No full text
    Malay Islam and Javanese Islam are two forms of practice and expression of religion (Islam) in two different regions, and each is unique, so it is not uncommon for one to be opposed to the other. This study aims to analyze differences in Islamic and cultural acculturation in the two regions from a historical perspective. In its analysis, this study uses historical methods with an anthropological approach and cultural diffusion theory. The findings in this study are that there are differences in the acculturation of Islam and culture in Malay and Java in terms of process and outcome. In terms of process, the acculturation of Islam and culture in Malay occurs in an integrative-structural manner, while in Java it occurs in a dialogical-cultural way. In the Malay region, the process of acculturation occurs as a whole through the socio-political system and the legitimacy of power, while in Java, there is a process of dialogue in order to achieve harmony with the local culture. The process then produces a different form of Islamic practice. The conclusion in this study is that in Malay the form of Islamic community practice is more formalistic in nature, while in Java it is more substantive, so this makes the element of novelty in this study. AbstrakIslam Melayu dan Islam Jawa adalah dua wujud praktik dan ekspresi beragama (Islam) masyarakat pada dua wilayah yang berbeda dan masing-masing memiliki keunikan, sehingga tidak jarang antara satu dengan lainnya dipertentangkan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan akulturasi Islam dan kebudayaan pada dua wilayah tersebut dari perspektif historis. Dalam analisisnya, penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan antropologi dan teori difusi budaya. Temuan dalam penelitian ini adalah akulturasi Islam dan kebudayaan di Melayu dan Jawa terdapat perbedaan pada segi proses dan hasilnya. Dari segi proses, akulturasi Islam dan kebudayaan di Melayu terjadi secara integratif-struktural, sedangkan di Jawa terjadi secara dialogis-kultural. Di wilayah Melayu proses akulturasi terjadi secara menyeluruh melalui sistem sosial-politik dan legitimasi kekuasaan, sedangkan di Jawa terjadi proses dialog guna mencapai harmoni dengan kebudayaan setempat. Proses tersebut kemudian menghasilkan wujud praktik keislaman yang berbeda pula. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah jika di Melayu wujud praktik keislaman masyarakat lebih bersifat formalistik, sedangkan di Jawa lebih bersifat substantif, sehingga hal ini yang menjadikan unsur kebaruan di dalam penelitian in

    Representasi Ideologis Muhammadiyah dalam Wirid Sebelas Ayat: Studi Living Qur’an di Desa Sidoharjo, Samigaluh, Kulon Progo

    No full text
    AbstractThis paper departs from the author's interest in the practice of reading wirid collectively by the Muhammadiyah modernist Islamic group. Unlike wirid in general, which takes the form of sholawat, istighfar, and dhikr, wirid eleven verses consists of certain parts of the Qur'anic verses with several affixes of Allah, Insyallah, al-hamdulillah, and Allahu Akbar. Wirid eleven verses is taught through oral tradition, therefore this research was conducted to trace the verses used as wirid and then make it a text. This research will discuss how the historicity of wirid eleven verses reached the Muhammadiyah community in Sidoharjo village whose implementation of Sufism is different from traditionalist Islamic groups and the purpose of reading wirid eleven verses for its practitioners and how it affects the Muhammadiyah community in general. This research is field research with the main data in the form of interviews, the approach used in the research is a philosophical historical approach. Wirid eleven verses was spread by Haji Widarso Widarsono. This Wirid has two purposes, implied purpose and explicit purpose. The implicit purpose of this wirid is as a tool or knowledge (panginjen) of Allah's knowledge and a form of taqarrub ilaa Allah. While the explicit purpose of wirid is manifested in the aspects of education for the elderly, Islamic propagation, strengthening tawhid, and as a representation of the implementation of accommodative Muhammadiyah Sufism. Wirid eleven verses is proof that purification groups do not always idolise wirid practices, but actively take part by modifying them without eliminating the ideology they believe in, while wirid eleven verses, are verses chosen as the essence of the Qur'an which is loved by Allah. AbstrakTulisan ini berangkat dari ketertarikan penulis terhadap adanya praktik pembacaan wirid secara kolektif oleh kelompok Islam modernis Muhammadiyah. Tidak seperti wirid pada umumnya, yang berbentuk sholawat, istighfar, dan dzikir, wirid sebelas ayat terdiri dari bagian bagian tertentu dari ayat-ayat Al-Qur’an dengan beberapa imbuhan Allah, Insyallah, al-hamdulillah, dan Allahu Akbar. Wirid sebelas ayat diajarkan melalui oral tradition, oleh itu penelitian ini dilakukan untuk menelusuri ayat-ayat yang digunakan sebagai wirid lalu menjadikannya sebuah teks. penelitian ini akan membahas bagaimana historisitas wirid sebelas ayat hingga sampai di masyarakat Muhammadiyah di desa Sidoharjo yang implementasi tasawufnya berbeda dengan kelompok Islam tardisionalis dan tujuan pembacaan wirid sebelas ayat bagi pengamalnya serta bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat Muhammadiyah secara umum. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan data utama berupa wawancara, pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan historis filosofis. Wirid sebelas ayat disebarkan oleh Haji Widarso Widarsono. Wirid ini memiliki dua maksud, maksud tersirat dan maksud tersurat. Maksud tersirat wirid ini ialah sebagai alat atau ilmu (panginjen) ilmu Allah dan bentuk taqarrub ilÄ Allah. Sedangkan maksud tersurat wirid diwujudkan pada aspek pendidikan kaum lansia, syiar Islam, penguatan tauhid, dan sebagai representasi implementasi tasawuf Muhammadiyah yang akomodatif. Wirid sebelas ayat menjadi bukti kelompok purifikatif tidak selalu membid’ahkan praktik-praktik wirid, namun turut aktif mengambil bagian dengan memodifikasi tanpa menghilangkan ideologi yang dipercaya, adapun wirid sebelas ayat, merupakan ayat-ayat yang dipilih sebagai intisari Al-Qur’an yang dicintai Allah

    Manajemen Kebudayaan Pesantren Pascamodern di Indonesia

    No full text
    AbstractThis paper aims to analyze how Islamic boarding schools can survive in a constantly changing world and what is the secret behind the ability of Islamic boarding schools to adapt to increasingly rapid developments and open information systems. Such significant challenges of the times force pesantren to choose one of two things, to be left behind or to change to adapt. This study chose the locus at the Amanatul Ummah Islamic Boarding School located in Pacet Mojokerto because the pesantren's policies are closely related to survival efforts over the current developments. After this research was carried out, it showed that, on the one hand, Islamic boarding schools have limited infrastructure. On the other hand, they are subject to government pressure and community demands to adapt to changes and meet applicable standards. Two reasons are the answer to the survival of pesantren. First, Al-muḥÄfaẓah 'alÄ al-qadÄ«m al-á¹£Äliḥ wa al-ahdz bi al-jadÄ«d al-aá¹£laḥ has become a value basis for the contextual transformation of pesantren. Second, the cultural management of the pesantren can be seen from the ability of the pesantren to carry out religious and cultural missions that negotiate with science and technology. Modernity management in Islamic boarding schools is a starting point for a pesantren continually to evaluate and then change with the note that it maintains the traditional values of the pesantren as keeping the faith, which is the finding in this study. This paper suggests the need for institutional standardization of Islamic boarding schools to achieve the mission of making Islamic boarding schools a centre for the development of education and civilization. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pesantren dapat bertahan dalam dunia yang terus berubah, apa rahasia di balik kemampuan pesantren beradaptasi dengan perkembangan zaman yang semakin pesat dan sistem informasi yang terbuka. Tantangan zaman yang demikian besar memaksa pesantren untuk memilih satu di antara dua hal, ketertinggalan, atau berubah untuk menyesuaikan. Penelitian ini memilih lokus di Pesantren Amanatul Ummah yang berlokasi di Pacet Mojokerto dengan alasan kebijakan pesantren yang lekat dengan upaya survival atas perkembangan zaman yang ada. Setelah penelitian ini dilakukan, penelitian ini menunjukan bahwa pesantren di satu sisi memiliki keterbatasan infrastruktur, di lain sisi mendapatkan tekanan pemerintah dan permintaan masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan perubahan  dan memenuhi standar yang berlaku. Dua alasan menjadi jawaban kelangsungan hidup pesantren. Pertama, Al-muḥÄfaẓah 'alÄ al-qadÄ«m al-á¹£Äliḥ wa al-ahdz bi al-jadÄ«d al-aá¹£laḥ telah menjadi basis nilai bagi transformasi pesantren secara kontekstual. Kedua, manajemen kebudayaan pesantren yang tampak dari kemampuan pesantren menjalankam misi agàma dan kebudayaan yang bernegosiasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Modernity management di pesantren menjadi sebuah titik pijakan sebuah pesantren untuk selalu malakukan evaluasi kemudian berubah dengan catatan tetap menjaga nilai tradisi pesantren sebagai keeping faith menjadi temuan dalam penelitian ini. Tulisan ini menyarankam perlunya standarisasi kelembagaan pesantren agar tercapai misi menjadikan pesantren sebagai pusat perkembangan pendidikan dan peradàban

    Stereotip Perempuan dan Budaya Patriarkal Berlatar Islam dalam Novel Religi Best Seller Tahun 2000-2021

    No full text
    AbstractThis research is a study of the image or stereotype of women in literary works, especially spiritual novels. This research interesting because many religious values in religious novels are considered counterfeminist and place women under male domination. The purpose of this research is to reveal stereotypes of women and patriarchal culture in the best selling spiritual novels for 2000-2021. This research was conducted by means of text or discourse analysis which investigates an event, either in the form of an act or writing in the best seller Spiritual Novels of 2000-2021 which is examined to obtain the exact facts (find the origins, causes, true causes, and so on). . The results of this study, namely: First. Women in the novel under study are still seen as people from the second class. There are many scenes showing women being discriminated against. Second, patriarchal culture still dominates stories in novels, especially religious novels. Many quotes show hegemony over women. Third, the socio-cultural background of the author influences the style of the novel's story. The setting of the novel is always related to the real life of the author. AbstrakPenelitian ini merupakan kajian terhadap citra atau stereotip perempuan dan budaya patriarkal berlatar islam dalam karya sastra khususnya novel Religi. Penelitian ini menjadi menarik karena nilai agama dalam novel religi banyak yang dianggap kontrafeminis dan menempatkan perempuan dalam dominasi laki laki.  Tujuan penelitian ini adalah untuk menyingkap stereotip perempuan dan budaya patriarki dalam novel Religi best seller tahun 2000-2021. Penelitian ini dilakukan dengan analisis teks atau wacana yang menyelidiki suatu peristiwa, baik berupa perbuatan atau tulisan dalam Novel Religi best seller tahun 2000-2021 yang diteliti untuk mendapatkan fakta-fakta yang tepat (menemukan asal-usul, sebab, penyebab sebenarnya, dan sebagainya). Hasil penelitian ini, yaitu: Pertama. Perempuan dalam novel yang diteliti  masih dipandang sebagai orang dari golongan kedua. Banyak adegan yang memperlihatkan perempuan mendapatkan diskriminasi. Kedua, budaya patriarki masih mendominasi cerita dalam novel khususnya novel religi. Banyak kutipan yang memperlihatkan hegemoni terhadap perempuan. Ketiga, latar sosial budaya pengarang berpengaruh terhadap corak cerita novel. Latar novel selalu berkaitan dengan kehidupan pengarang yang sebenarnya.

    Subtansiasi Nilai-Nilai Jiwa dalam Pendidikan Islam: Perspektif IbnÄ

    No full text
    AbstractThis article critically explores how to substantiate the values of the soul in Islamic education using Ibn SinÄ's perspective. As a discourse that interests Muslim scholars, the concept of the soul has experienced ups and downs and passed through various endless debates. Ibn SinÄ as one of the Muslim philosophers concerned with the soul managed to develop a good conception of the soul that received extraordinary attention and appreciation from Muslim philosophers after him, such as al-GhazÄli, Fakhruddin al-RÄzi, Ibn Rushd, and Western scholars. Using an exploratory, descriptive, and analytical approach, this article argues that the soul is a spiritual substance that inspires the body so that it lives, which then becomes a tool for acquiring knowledge and divine (theological) knowledge. The practice of teaching Islamic education, thus, cannot be separated from the touch of Ibn SinÄ's soul element. For SinÄ, Islamic education must reconsider psychological aspects to develop students' potential naturally to become perfect human beings (insan kamil). AbstrakArtikel ini, secara kritis, mengeksplorasi bagaimana substansiasi nilai kejiwaan dalam Pendidikan Islam menggunakan perspektif Ibn SinÄ. Sebagai suatu diskursus yang menyita atensi ilmuwan Muslim, konsep kejiwaan berkembang sedemikian rupa serta membuka ruang dialektika yang beragam. Ibn SinÄ, satu dari sekian filsuf Muslim yang concern terhadap kejiwaan, telah berhasil mengembangkan konsepsi kejiwaan dengan sangat baik sehingga mendapat atensi dan apresiasi yang luar biasa dari kalangan filsuf muslim setelahnya, seperti al-GhazÄli, Fakhruddin al-RÄzi, Ibn Rushd, dan sarjana Barat. Dengan menggunakan pendekatan eksploratif, deskriptis, dan analitis, artikel ini berpendapat jiwa merupakan substansi ruhani yang mengilhami jasad sehingga ia hidup dan menjadi piranti untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan ketuhanan (teologis). Praktik pendidikan Islam, dalam hal ini, tidak terlepas dari sentuhan unsur kejiwaan Ibn SinÄ. Bagi SinÄ, pendidikan Islam harus merekonsiderasi aspek-aspek kejiwaan guna pengembangan potensi peserta didik secara fitri sehingga mampu meraih derajat manusia sempurna (insan kamil)

    0

    full texts

    201

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Muslim Heritage
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇