PHARMACON
Not a member yet
1026 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN KEBIASAAN MENYIKAT GIGI DAN STATUS KESEHATAN GINGIVA PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN DI KELURAHAN BATU KOTA
HUBUNGAN KEBIASAAN MENYIKAT GIGI DAN STATUS KESEHATAN GINGIVA PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN DI KELURAHAN BATU KOTA Angelica A. Gosal1), Krista V. Siagian1), Vonny N.S. Wowor1) 1) Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran, UNSRAT  ABSTRACT Removable partial dentures (RPDs) are generally chosen as an alternative in replacing the missing teeth in partially edentulous situation, however the usage of removable partial dentures has a disadvantage in increasing the food debris accumulation that caused dental plaque formation. Plaque is an essential factor in the ethiology of gingivitis, as such plaque can only be mechanically removed by tooth brushing. The act of tooth brushing is the only effective way for plaque control, however the majorities yet to perform the act of tooth brushing correctly. The aim of this study was to explore the relation between the habit of tooth brushing and the status of gingival health on removable partial denture wearers in Batu Kota Manado. This study is an analytical descriptive with cross sectional approach that had done to 81 RPD wearers in Batu Kota Manado recruited by purposive sampling technique. The data were collected by questionnaire for surveying the habit of tooth brushing and gingival index observation towards the respondents. The result of this study shows respondents with a good habit of tooth brushing suffered only from minor gingival inflammation (75.9%), on the other hand respondents that performed a bad habit of tooth brushing appeared to have moderate (82.6%) to advanced (4.4%) gingival inflammation. The statistic evaluation used Chi-Square test resulted in p value = 0.000 < a (0.05), therefore H0 were rejected, wherease this concluded that there is relation between habit of tooth brushing and status of gingival health on removable partial denture wearers in Batu Kota Manado.  Key words: Habit of tooth brushing, gingival index, removable partial denture ABSTRAK Gigi tiruan sebagian lepasan umumnya dipilih sebagai salah satu alternatif untuk menanggulangi kehilangan sebagian gigi, namun pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan dapat meningkatkan penumpukan sisa makanan yang mengakibatkan pembentukan plak. Plak merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gangguan pada kesehatan gingiva atau gingivitis, dan tidak dapat dibersihkan hanya dengan berkumur-kumur, semprotan air atau udara tetapi plak dapat dibersihkan secara mekanis yaitu dengan menyikat gigi. Menyikat gigi merupakan tindakan kontrol plak yang paling efektif, namun masih banyak masyarakat yang belum melakukan tindakan menyikat gigi dengan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 81 responden pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner penilaian kebiasaan menyikat gigi dan pemeriksaan indeks gingiva responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki kebiasaan baik dalam menyikat gigi hanya mengalami keradangan ringan pada gingiva (75,9%), sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik dalam menyikat gigi umumnya mengalami keradangan bersifat sedang (82,6%) hingga berat (4,4%) pada gingiva. Hasil perhitungan statistik dengan menggunakan uji Chi Square diketahui p value = 0,000 < a (0,05), maka H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota.  Kata kunci: Kebiasaan menyikat gigi, indeks gingiva, gigi tiruan sebagian lepasan  Gigi tiruan merupakan perangkat tiruan yang digunakan untuk menggantikan fungsi gigi yang hilang pada seseorang yang mengalami kehilangan gigi serta digunakan untuk mencegah dampak negatif yang dapat ditimbulkannya. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2013, sebanyak 1,5% masyarakat Indonesia yang berusia ³12 tahun menggunakan gigi tiruan, baik gigi tiruan cekat maupun lepasan.1 Gigi tiruan lepasan yang dibuat untuk menanggulangi kehilangan satu atau beberapa gigi pada seseorang disebut sebagai gigi tiruan sebagian lepasan. Gigi tiruan sebagian lepasan umumnya dipilih sebagai salah satu alternatif untuk menanggulangi kehilangan sebagian gigi, antara lain karena biaya pembuatannya relatif lebih terjangkau dibandingkan gigi tiruan cekat. Di sisi lainnya gigi tiruan sebagian lepasan memiliki kelemahan, terutama pada pengguna yang kurang memerhatikan kebersihan gigi tiruan yang digunakannya. Pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan yang tidak diperhatikan pemeliharaan kebersihannya dapat menimbulkan permasalahan baru pada gigi geligi asli yang masih ada serta jaringan pendukungnya. Salah satu permasalahan yang dapat timbul sebagai dampak pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan, yaitu meningkatnya penumpukan sisa makanan pada bagian yang berkontak langsung dengan permukaan gigi asli maupun mukosa rongga mulut.2 Penumpukan sisa makanan yang terjadi bila tidak dibersihkan berperan dalam peningkatan perkembangan bakteri dan pembentukan plak yang merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gangguan pada gingiva berupa gingivitis.3,4 Plak bersifat sangat tipis, baru terlihat setelah dilakukan pewarnaan, dan tidak dapat dibersihkan hanya dengan berkumur-kumur, semprotan air atau udara tetapi plak dapat dibersihkan secara mekanis yaitu dengan menyikat gigi.5 Menyikat gigi merupakan tindakan kontrol plak yang paling efektif, efisien dan ekonomis karena mudah dilakukan sendiri di rumah dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Menurut hasil RISKESDAS tahun 2013, prevalensi menyikat gigi setiap hari di Indonesia telah mencapai 94,2%, namun hanya 2,3% yang menyikat gigi dengan benar.1 Menurut penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Fernatubun di Kelurahan Batu Kota pada tahun 2014, ditemukan kerusakan pada jaringan pendukung gigi penyangga sebanyak 72 kasus dari 81 responden pengguna gigi tiruan sebagian lepasan. Kerusakan jaringan pendukung yang paling banyak ditemukan yaitu gingivitis dengan persentase sebesar 48,6%.6  METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Setiap responden hanya diobservasi satu kali tanpa intervensi dan diukur menurut keadaan atau status waktu diobservasi. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Batu Kota Kecamatan Malalayang Manado pada bulan Maret-September 2015. Populasi penelitian ini adalah masyarakat Kelurahan Batu Kota yang menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan yaitu sebanyak 355 orang. Besar sampel pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Slovin yaitu sebanyak 81 responden. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu menentukan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi sehingga didapatkan jumlah sampel yang dibutuhkan sesuai besaran sampel. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu laki-laki dan perempuan berusia 18-60 tahun yang sehat dan tidak memiliki keterbatasan motorik ataupun keterbelakangan mental yang dapat menghambat kebiasaan menyikat gigi responden, bersedia berpartisipasi dengan sukarela untuk menjadi responden penelitian dengan menandatangani lembar persetujuan kesediaan menjadi responden penelitian, serta bersikap kooperatif selama pengambilan data. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu responden yang sudah kehilangan gigi-gigi indeks yang akan diperiksa, responden yang memiliki kebiasaan merokok, responden yang sedang hamil atau dalam masa menopause atau gangguan hormonal lainnya yang ikut memengaruhi kondisi kesehatan gingiva, serta responden yang memiliki faktor sistemik yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan gingiva, seperti penyakit DM, nutrisional dan hematologi (penyakit darah). Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas yaitu kebiasaan menyikat gigi dan variabel terikat yaitu status kesehatan gingiva. Kebiasaan menyikat gigi, yaitu tindakan menyikat gigi yang sudah menjadi perilaku responden, meliputi cara menyikat, frekuensi, waktu, serta durasi menyikat gigi setiap kali tindakan ini dilakukan. Penilaian kebiasaan menyikat gigi responden yaitu melalui pengisian lembar kuesioner yang berisi pernyataan-pernyataan yang disusun berdasarkan teori dan pilihan jawaban yang menggunakan skala Likert. Status kesehatan gingiva, adalah keadaan yang menggambarkan kondisi klinis gingiva saat diperiksa. Penilaian status kesehatan gingiva ditentukan berdasarkan Indeks Gingiva menurut Loe and Sillness. Instrumen penelitian terdiri atas lembar pemeriksaan status gingiva dan kuesioner untuk penilaian kebiasaan menyikat gigi. Penelitian dilakukan setelah mendapat izin penelitian dari Lurah Batu Kota berdasarkan surat permohonan izin dari PSPDG UNSRAT dan adanya lembar persetujuan kesediaan menjadi responden penelitian yang telah ditandatangani oleh responden. Pendataan dilakukan untuk mendapatkan responden penelitian yang memenuhi syarat sesuai kriteria inklusi. Responden menyatakan kesediaannya dengan menandatangani lembar persetujuan kesediaan menjadi responden dalam penelitian. Responden yang telah memenuhi syarat kriteria inklusi dan menandatangani lembar persetujuan, akan diperiksa status kesehatan gingivanya berdasarkan Indeks Gingiva menurut Loe and Sillness, kemudian data hasil pemeriksaan dicatat di lembar pemeriksaan yang telah disediakan. Responden yang telah diperiksa kemudian mengisi lembar kuesioner untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penilaian kebiasaan menyikat gigi. Setelah pemeriksaan dan pengisian kuesioner selesai pada satu responden, dilanjutkan pemeriksaan pada responden lainnya dengan menggunakan alat yang telah disterilisasi dan pengisian lembar kuesioner seperti pada responden sebelumnya. Semua data hasil penelitian yang diperoleh akan diproses dan diolah dengan komputer menggunakan program SPSS versi 16 dan disajikan dalam bentuk tabel sesuai dengan tujuan penelitian. Data yang diperoleh dari penelitian kemudian dianalisis secara univariate untuk memperoleh gambaran dan distribusi setiap variabel yang diteliti, baik variabel bebas maupun terikat. Data juga dianalisis secara bivariate untuk mengetahui interaksi dari dua variabel tersebut, kemudian diuji menggunakan uji Chi - square. HASIL PENELITIAN Karakteristik responden pada penelitian ini dilihat berdasarkan jenis kelamin dan usia. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh gambaran karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin sebagaimana diperlihatkan dalam Tabel 1.   Tabel 1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan jenis kelamin Jenis kelamin n % Perempuan Laki-laki 65 16 80,2 19,8 Total 81 100,0 Tabel 1 menunjukkan bahwa responden terbanyak menurut jenis kelamin yaitu responden berjenis kelamin perempuan yang berjumlah 65 orang atau sebesar 80,2%, sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki berjumlah 16 orang atau sebesar 19,8%. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh gambaran karakteristik responden berdasarkan usia sebagaimana diperlihatkan dalam Tabel 2. Tabel 2. Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia  Usia (tahun) n % 20-30 31-40 41-50 51-60 4 17 31 29 4,9 21,0 38,3 35,8 Total 81 100,0 Tabel 2 menunjukkan bahwa responden terbanyak yaitu responden yang berusia 41-50 tahun yang berjumlah 31 orang atau sebesar 38,3%, sedangkan responden paling sedikit yaitu responden yang berusia 20-30 tahun yang berjumlah 4 orang atau sebesar 4,9%. Gambaran kebiasaan menyikat gigi responden dapat dilihat pada hasil data distribusi frekuensi responden berdasarkan kebiasaan menyikat gigi yang disajikan dalam Tabel 3. Tabel 3. Distribusi frekuensi responden berdasarkan kebiasaan menyikat gigi Kebiasaan Menyikat Gigi n % Baik Kurang baik 58 23 71,6 28,4 Total 81 100,0  Tabel 3 memperlihatkan gambaran kebiasaan menyikat gigi pada responden, dengan responden paling banyak memiliki kebiasaan baik yaitu berjumlah 58 orang atau sebesar 71,6%, sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik yaitu berjumlah 23 orang atau sebesar 28,4%. Gambaran status kesehatan gingiva responden dapat dilihat pada hasil data distribusi frekuensi responden berdasarkan indeks gingiva yang disajikan dalam Tabel 4.  Tabel 4. Distribusi frekuensi responden berdasarkan indeks gingiva  Indeks Gingiva n % Ringan Sedang Berat 47 33 1 58,0 40,8 1,2 Total 81 100,0  Tabel 4 memperlihatkan gambaran status kesehatan gingiva pada responden, dengan responden paling banyak memiliki indeks gingiva ringan yaitu berjumlah 47 orang atau sebesar 58,0%, sedangkan yang memiliki indeks gingiva sedang yaitu berjumlah 33 orang atau sebesar 40,8% dan yang memiliki indeks gingiva berat yaitu berjumlah 1 orang atau sebesar 1,2%. Hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden dapat dilihat dari data hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden yang disajikan dalam bentuk tabulasi silang pada Tabel 5.  Tabel 5. Tabulasi silang hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden  Kebiasaan menyikat gigi Indeks gingiva Total p value Ringan Sedang Berat n % n % n % n %    0,000 Baik Kurang baik 44 3 75,9 13,0 14 19 24,1 82,6 0 1 0,0 4,4 58 23 71,6 28,4 Total 81 100,0 Tabel 5 memperlihatkan hasil data hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden dalam bentuk tabulasi silang. Responden yang memiliki kebiasaan baik dalam menyikat gigi dan memiliki indeks gingiva ringan berjumlah 44 orang atau sebesar 75,9%, sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik dalam menyikat gigi dan memiliki indeks gingiva ringan berjumlah 3 orang atau sebesar 13,0%. Responden yang memiliki kebiasaan baik dan indeks gingiva sedang berjumlah 14 orang atau sebesar 24,1%, sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik dan indeks gingiva sedang berjumlah 19 orang atau sebesar 82,6%. Responden dengan kebiasaan baik tidak ada yang memiliki indeks gingiva berat, sedangkan responden dengan kebiasaan kurang baik dan memiliki indeks gingiva berat berjumlah 1 orang atau sebesar 4,4%. Hasil uji statistik hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva responden dengan menggunakan uji Chi – Square diperoleh bahwa p value = 0,000. PEMBAHASAN Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa responden terbanyak berjenis kelamin perempuan, yakni sebesar 80,2%, sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki hanya sebesar 19,8% (Tabel 1). Responden terbanyak menurut usia yaitu responden yang berusia 41-50 tahun yakni sebesar 38,3% (Tabel 2). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Pimtip dan juga hasil penelitian Fernatubun, yang menunjukkan bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak yang memakai GTSL dibandingkan responden yang berjenis kelamin laki-laki.6,7 Hasil penelitian Fernatubun juga menunjukkan bahwa responden dengan kelompok usia serupa merupakan responden terbanyak yang menggunakan GTSL di Kelurahan Batu Kota.6 Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa sebagian besar responden sudah memiliki kebiasaan menyikat gigi yang baik yaitu sebesar 71,6% (Tabel 3). Hal ini dibuktikan dengan responden yang sebagian besar sudah menyikat gigi 2 kali atau lebih setiap hari dan sebagian besar responden juga sudah menyikat gigi dengan durasi lebih dari 2 menit. Hal ini sesuai dengan rekomendasi American Dental Association (ADA) yang menyatakan bahwa menyikat gigi dua kali sehari adalah rekomendasi untuk kontrol plak serta oral malodor, dan menyikat gigi dengan durasi 2-4 menit terbukti efektif dalam menghilangkan lebih banyak plak pada gigi .8,9 Sebagian responden dalam penelitian juga masih ada yang memiliki kebiasaan kurang baik dalam menyikat gigi yaitu sebesar 28,4% (Tabel 3). Hal ini disebabkan oleh sebagian responden yang menyikat gigi pada waktu dan dengan cara yang kurang tepat. Menyikat gigi sangat dianjurkan dilakukan sesudah makan pada pagi hari dan sebelum tidur pada malam hari, sedangkan cara atau teknik menyikat gigi yang paling baik adalah teknik kombinasi.10,11 Sebagian responden dalam penelitian menyatakan sudah menyikat gigi 2 kali setiap hari, tetapi dilakukan pada saat mandi pagi atau sore dan teknik menyikat gigi yang paling sering dilakukan adalah teknik horizontal. Hal ini sesuai dengan data RISKESDAS tahun 2013 yang menyatakan bahwa prevalensi menyikat gigi setiap hari di Indonesia telah mencapai 94,2%, namun masih banyak masyarakat yang menyikat gigi pada waktu dan dengan cara yang kurang tepat.1 Salah satu dampak pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan yaitu meningkatnya penumpukan plak yang dapat mengakibatkan gangguan pada kesehatan gingiva.2 Hasil penelitian membuktikan bahwa pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota yang diperiksa sebagai responden umumnya mengalami gangguan pada kesehatan gingiva. Gangguan yang terjadi berupa keradangan bersifat ringan dengan persentase sebesar 58,0%, keradangan bersifat sedang dengan persentase sebesar 40,8% dan hanya 1,2% responden yang ditemukan mengalami keradangan berat pada gingiva (Tabel 4). Penelitian sebelumnya yang dilakukan Fernatubun di Kelurahan Batu Kota menunjukkan hasil yang serupa, dimana ditemukan kerusakan pada jaringan pendukung gigi penyangga sebanyak 72 kasus dari 81 responden pengguna GTSL, dan kasus yang paling banyak ditemukan yaitu gingivitis dengan persentase sebesar 48,6%.6 Pada penelitian ini ditemukan bahwa sebagian besar responden yang memiliki kebiasaan baik dalam menyikat gigi hanya mengalami keradangan ringan pada gingiva (75,9%), sedangkan responden yang memiliki kebiasaan kurang baik dalam menyikat gigi umumnya mengalami keradangan bersifat sedang (82,6%) hingga berat (4,4%) pada gingiva (Tabel 5). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Stanmeyer yang melaporkan bahwa terdapat penurunan keradangan gingiva dengan meningkatnya frekuensi menyikat gigi, serta hasil penelitian Prijantojo yang mengungkapkan bahwa peningkatan kesehatan gingiva bergantung pada teknik menyikat gigi yang benar.12,13 Hasil uji statistik menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji Chi – Square dimana diperoleh p value = 0,000 < a (0,05), sehingga H0 ditolak dan H1 diterima (Tabel 5). Hal ini juga sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa menyikat gigi adalah cara yang paling efektif dalam menghilangkan plak pada gigi, dimana plak adalah salah satu faktor utama penyebab gangguan kesehatan pada gingiva.8,9 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan kebiasaan menyikat gigi dan status kesehatan gingiva pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Batu Kota Manado. SARAN Masyarakat khususnya yang menggunakan GTSL diharapkan lebih memerhatikan penyikatan gigi secara teratur dengan cara yang benar dan pada waktu yang tepat, sehingga dapat meningkatkan dan mempertahankan kebersihan serta kesehatan gigi dan mulut.Dokter gigi dan institusi pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan dan puskesmas setempat perlu lebih aktif dalam mengadakan promosi kesehatan tentang pentingnya menerapkan kebiasaan menyikat gigi yang baik dan benar. Dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah dan kondisi responden yang lebih variatif untuk mengetahui faktor-faktor lain yang berhubungan dengan gangguan kesehatan gingiva pada pengguna GTSL. DAFTAR PUSTAKA Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI. Laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2013. Jakarta, 2013. h. 176-93. (cited 23 April 2015) Tersedia di URL: http://labmandat.litbang.depkes.go.id/images/download/laporan/RKD/2013/RKD_dalam_angka_final.pdf Rodan R, Al-Jabrah O, Ajarmah M. Adverse effects of removable partial dentures on periodontal status and oral health of partially edentulous patients. Journal of The Royal Medicine Services, Vol. 19 No. 3: Sep 2012, p. 53-9.Dula LJ, Ahmedi EF, Shala KS. Clinical evaluation of removable partial dentures on the periodontal health of abutment teeth: A Retrospective Study. The Open Dentistry Journal, Vol. 9: 2015, p. 132-9.Suryono. Buku ajar kepaniteraan periodonsia. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada.Tjahja NI, Lely MA. Hubungan kebersihan gigi dan mulut dengan pengetahuan dan sikap responden di beberapa puskesmas di Jawa Barat. Media Litbang Kesehatan, Vol. XV No. 4: 2005, h. 1-7.Fernatubun. Gambaran kerusakan gigi penyangga pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di kelurahan Batu Kota. Jurnal e-Gigi, Vol. 3 No. 1: 2015.Pimtip. A clinical survey of removable partial denture after 2 years of usage. [Thesis] University of Sydney. Australia 1979.Attin T, Hornecker E. Tooth brushing and oral health: how frequently and when should tooth brushing be performed? [serial online]. (cited 25 Mei 2015) Available from URL: http://www.quintpub.com/userhome/ohpd/ohpd_2005_03_s135.pdfFelton A, Chapman A, Felton S. Basic guide to oral health education and promotion. United Kingdom: Wiley Blackwell, 2013. p. 178-179.Notoatmodjo S. Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta, 2010. h.121-148.Derby M L, Walsh M M. Dental hygiene theory and practice. Canada: Evolve, 2010. p. 390-400, 280.Stanmeyer, WR. A measure of tissue response to frequency of toothbrushing. [serial online] 2005. (cited 2 September 2015) Available from URL: http://archive.rubicon-foundation.org/8305Prijantojo. Kondisi jaringan periodonsium dari kelompok masyarakat di daerah pede
EVALUASI KERASIONALAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT INAP DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI-JUNI 2014
EVALUASI KERASIONALAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT INAP DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE  JANUARI-JUNI 2014 Pande Made Rama Sumawa1), Adeanne C. Wullur2), Paulina V. Y. Yamlean1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 2)POLTEKKES Manado, 95115 ABSTRACT The evaluation of antihypertensive drugs use aims to investigate to secure the rational use in patient with hypertension. This research aims to evaluate the rational use of antihypertensive drugs including the accuracy of patient, indication, drugs, and dose towards the hypertension hospital inpatient in period January-June 2014. This is a descriptive research , the data was collected restrospectively based on the medical records. This research was done to 39 medical records with hypertension as the main diagnosis. The results showed evaluation of antihypertensive drugs rational use based on the accuracy of patient criteria as much as 39 antihypertensive drugs use (100%), the accuracy of indication criteria as much as 39 antihypertensive drugs use (100%), the accuracy of drugs criteria as much as 25 antihypertensive drugs use (64,10%), and the accuracy of dose criteria as much as 25 antihypertensive drugs use (64,10%) Keywords : Rational Use, Antihypertensive, Hypertension, Inpatient ABSTRAK Evaluasi penggunaan obat antihipertensi bertujuan untuk menjamin penggunaan obat yang rasional pada penderita hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kerasionalan penggunaan obat antihipertensi yang meliputi ketepatan pasien, indikasi, obat, dan dosis pada pasien hipertensi rawat inap periode Januari sampai Juni 2014 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif yang didasarkan pada catatan medik. Penelitian ini dilakukan terhadap 39 catatan medik dengan diagnosa utama hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan evaluasi kerasionalan penggunaan obat antihipertensi dilihat berdasarkan kriteria tepat pasien sebanyak 39 penggunaan obat antihipertensi (100%), tepat indikasi sebanyak 39 penggunaan obat antihipertensi (100%), tepat obat sebanyak 25 penggunaan obat antihipertensi (64,10%) dan tepat dosis sebanyak 25 penggunaan obat antihipertensi (64,10%) Kata kunci: Kerasionalan, Antihipertensi, Hipertensi, Rawat Inap. Â
UJI EFEKTIVITAS INFUSA AKAR SELEDRI (Apium graveolens L.) SEBAGAI DIURETIK PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus novergicus).
UJI EFEKTIVITAS INFUSA AKAR SELEDRI (Apium graveolens L.) SEBAGAI DIURETIK PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus novergicus). Aprillia Carolina Jayadi1), Widdhi Bodhi1), Nancy Pelealu1) Prodi Farmasi, FMIPA, UNSRAT, Manado  ABSTRACK Celery (Apium graveolens L.) is a plant that one of its benefits is as a diuretic. The research was aimed to find out diuretic effectiveness of Celery root infusion and the result on increasing the dose of Celery root infusion on Wistar white male mice. Fifteen mice were divided into five groups : negative control group (CMC 0,5% suspension), positive control group (furosemide suspension), the dose of 1,26 g/KgBB Celery root infusion group, the dose of 2,52 g/KgBB Celery root infusion group, the dose of 5,04 g/KgBB Celery root infusion group. The test of diuretic effect was conducted by calculating the volume of excreted urine during the 6-hour treatment. The result show that diuretic activity has improved by giving the Celery root infusion Data was analyzed using spss ver.22., the significant different for the treatment was tasted by one way ANOVA followed with LSD test to observe the different from the treatment. The dose of Celery root infusion 1,26 g/KgBB was the most good diuretic activity. Increasing the dose of Celery root infusion showed no significant difference. Based on the result, the study concludes that the Celery root infusion has diuretic effect.  Keyword : celery root infusion, effectiveness of diuretic, Rattus novergius ABSTRAK Tanaman Seledri (Apium graveolens L.) merupakan tanaman yang salah satu manfaatnya yaitu sebagai diuretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas infusa akar seledri (Apium graveolens L.) sebagai diuretik dan hubungannya dengan peningkatan dosis infusa akar seledri (Apium graveolens L.) pada tikus putih jantan galur wistar (Rattus novergicus). Sebanyak 15 ekor hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu : kelompok kontrol negatif (suspensi CMC 0,5%), kelompok kontrol positif (suspensi furosemide), kelompok infusa akar seledri 1,26 g/KgBB, kelompok infusa akar seledri 2,52 g/KgBB, dan kelompok infusa akar seledri 5,04 g/KgBB. Pengujian terhadap efek diuretik dilakukan dengan melihat volume urin yang dikeluarkan selama 6 jam. Hasil yang didapat, aktivitas diuretik meningkat pada pemberian infusa akar seledri. Data dianalisis dengan spss ver.22., beda nyata setiap perlakuan diuji dengan one way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji LSD untuk melihat perbedaan antar setiap kelompok perlakuan. Infusa akar seledri dosis 1,26 g/KgBB menunjukkan aktivitas diuretik yang paling baik. Peningkatan dosis infusa akar seledri tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa infusa akar seledri memiliki efektivitas sebagai diuretik.  Kata kunci : infusa akar seledri, efek diuretik, Rattus novergicu
HUBUNGAN ANTARA UMUR, MASA KERJA DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN INDEKS KESEGARAN KARDIOVASKULER PEGAWAI PEMADAM KEBAKARAN KOTA MANADO
HUBUNGAN ANTARA UMUR, MASA KERJA DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN INDEKS KESEGARAN KARDIOVASKULER PEGAWAI PEMADAM KEBAKARAN KOTA MANADO Franklin J. Wondal1), Joy A.M Rattu1), Johan Josephus1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi ABSTRACT Firefighter is a job that has a high risk of such injuries and occupational diseases that can cause death and severe burns to the employees who are doing the work . Factors - factors that could lead to the disruption of cardiovascular freshness on firefighters such as age , length of work, smoking habits, nutritional status , gender and environmental conditions. Based on this theory , this study aims to determine the relationship between age, length of work and smoking habits to cardiovascular freshness index for employee firefighters in the city of Manado.This research uses analytical survey and the design of cross-sectional study. The number of samples was 43 respondents. Research variables are age, length of work, smoking habits and cardiovascular freshness. Data is collected by using questionnaires and cooper test measurement run 12 minutes by measuring endurance for 12 minutes for employee firefighters in the city of Manado. Bivariate Analysis data uses Spearman. Age Percentage < 35 years-old is 60,5%, ≥ 35 years-old is 39,5%, Length of work < 5 Years is 34,9%, ≥ 5Years is 65,1%, smoking is 51,2%, not smoking is 48,8%, cardiovascular freshness very good is 4,7%, good is 18,6%, moderate is 23,3%, less is 16,3%, less so is 87,8%. The result of Spearman regarding age and cardiovascular freshness has p=0.02. Length of work and cardiovascular freshness has p =0.40. Smoking habits and cardiovascular freshness has p =0.01.There is no relationship between length of work and cardiovascular freshness. There is a relationship between age, smoking habits and cardiovascular freshness.  Keywords: Age, Length of Work, Smoking habits and Cardiovascular freshness ABSTRAK Pemadam kebakaran merupakan pekerjaan yang memiliki risiko tinggi seperti luka-luka dan penyakit akibat kerja sehingga bisa menyebabkan kematian dan luka bakar pada pegawai yang sedang melakukan pekerjaan. Faktor – faktor yang bisa mengakibatkan terjadinya gangguan kesegaran kardiovaskuler pada pekerja pemadam kebakaran seperti umur, masa kerja, kebiasaan merokok, status gizi, jenis kelamin dan kondisi lingkungan. Berdasarkan teori tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara umur, masa kerja, dan kebiasaan merokok dengan indeks kesegaran kardiovaskuler pegawai pemadam kebakaran kota Manado. Penelitian ini adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel adalah 43 responden. Variabel penelitian yaitu umur, masa kerja, kebiasaan merokok dan kesegaran kardiovaskuler. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan pengukuran tes Cooper lari 12 menit dengan mengukur daya tahan selama 12 menit pada pegawai damkar kota Manado. Analisis data bivariat menggunakan uji Spearman. Persentase umur < 35 tahun yaitu 60,5%, ≥ 35 tahun yaitu 39,5%, masa kerja < 5 tahun yaitu 34,9%, ≥ 5 tahun yaitu 65,1%, Merokok 51,2%, tidak merokok 48,8%, kesegaran kardiovaskuler baik sekali 4,7%, baik 18,6%, sedang 23,3%, kurang 16,3% dan kurang sekali 87,8%.Hasil uji menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara masa kerja dengan kesegaran kardiovaskuler. Terdapat hubungan antara umur dan kebiasaan merokok dengan kesegaran kardiovaskuler. Dari hasil penelitian ini peneliti memberikan saran bagi pegawai pemadam kebakaran kota Manado agar mengkonsumsi makanan bergizi dan lebih rajin untuk berolahraga agar meningkatkan kesegaran kardiovaskuler pekerja.  Kata kunci : Umur, Masa Kerja, Kebiasaan Merokok, Kesegaran Kardiovaskuler Â
EVALUASI KERASIONALAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN LANSIA DENGAN BRONKITIS KRONIK EKSASERBASI AKUT YANG DIRAWAT JALAN DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JULI 2013-JUNI 2014
EVALUASI KERASIONALAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN LANSIA DENGAN BRONKITIS KRONIK EKSASERBASI AKUT YANG DIRAWAT JALAN DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JULI 2013-JUNI 2014 Eunice M. S. Kundiman1), Fatimawali1), Heedy Tjitrosantoso1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115  ABSTRACT  Rational use of antibiotics have to comply several criteria like the appropriate patient, appropriate indication, appropriate drug, appropriate dose, and appropriate duration. The use of antibiotics in elderly patient with Acute Exacerbation of Chronic Bronchitis is need special attention to avoid the risk of mortality and morbidity. This study was aimed to evaluate the rational utilizing of antibiotics in the treatment of geriatric with acute exacerbation of chronic bronchitis in outpatient installation of RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. This research is a descriptive study with retrospective data aggregation based on medical records. Research conducted on 15 geriatric patient medical record with acute exacerbation of chronic bronchitis with 20 use of antibiotics . The result showed, that evaluation of rational use of antibiotics to the appropriate patient as much as 20 antibiotics (100%), appropriate indication as much as 20 antibiotics ( 100%) appropriate duration as much as 20 antibiotics (100%), appropriate drug as much as 11 antibiotics (55%) and appropriate dose as much as 12 antibiotics (60%) . The antibiotic that the most used antibiotic is cefadroxil (46,64%).  Keywords : Rational, antibiotic, acute exacerbation of chronic bronchitis, elderly  ABSTRAK  Penggunaan Antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan resistensi, kejadian superinfeksi, peningkatan beban ekonomi pelayanan kesehatan, efek samping yang lebih toksik dan kematian. Penggunaan Antibiotik yang rasional harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis dan tepat lama pemberian. Proses penuaan menyebabkan penurunan fungsi organ pada pasien lansia dan menyebabkan peningkatan resiko infeksi pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kerasionalan penggunaan antibiotik pada pengobatan Bronkitis Kronik Eksaserbasi Akut pada pasien lansia yang di rawat jalan di RSUP. Prof. Dr. R. D Kandou Manado. Penelitian ini berupa penelitian deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif yang didasarkan pada data rekam medik. Penelitian ini dilakukan terhadap 15 data rekam medik pasien lansia yang menderita Bronkitis Kronik Eksaserbasi Akut yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil Penelitian menunjukkan evaluasi penggunaan antibiotik yang rasional berdasarkan kriteria tepat pasien sebanyak 20 pemberian antibiotik (100%), tepat indikasi senayak 20 pemberian antibiotik (100%) , tepat lama pemberian sebanyak 20 pemberian antibiotik (100%), tepat obat sebanyak 11 pemberian antibiotik (55%), dan tepat dosis sebanyak 12 pemberian antibiotik (60%). Antibiotik yang paling banyak digunakan adalah antibiotik sefadroksil , oleh 6 penderita (46.64%).  Kata kunci : Kerasionalan, antibiotik, bronkitis kronik eksaserbasi akut, lansia Â
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN EKOR KUCING (Acalypha hispida Burm. F.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli SECARA IN-VITRO
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN EKOR KUCING (Acalypha hispida Burm. F.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli SECARA IN-VITRO  Kevin Caesar Moningka1), Novel S. Kojong1), Sri Sudewi1) 1) Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115   ABSTRACT  Through the last view years, the incidence of infectious disease by microorganisms was increase, one of which is bacterial pathogens. This research aims to investigate antibacterial activity of hexane, etil asetat, and ethanol extract, and the most effective of ekor kucing leaves of Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Extraction was done by maceration used hexane, etil asetat and ethanol as the solvents. The antibacterial activity test used Kirby and Bauer agar difussion method. The results was showed that all the extracts have antibacterial activity. Ethanol extract has the highest antibacterial activity compared to the other extracts against Staphylococcus aureus (19.33 mm) and Escherichia coli (18.50mm). The result of antibacterial activity test was analyzed with Oneway Anova, continue with Turkey test. The result showed that ekor kucing leaves extract with concentration 10%, 20%, 40%, 80% has antibacterial activity against the test bacterial. The concentration 80% is the most effective concentration with a high inhibition diameter of Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Keywords :   Acalypha hispida Burm. F., Antibacterial activity, Staphylococcus   aureus, Escherichia coli.  ABSTRAK Selama beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan timbulnya penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme salah satunya ialah bakteri patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak heksana, etil asetat, etanol dan ekstrak yang paling efektif daun ekor kucing terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut heksana, etil asetat dan etanol. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar (Kirby dan Bauer). Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan semua ekstrak memiliki aktivitas antibakteri. Ekstrak etanol memiliki aktivitas antibakteri yang paling tinggi dibandingkan dengan ekstrak yang lainnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus (19.33 mm), dan Escherichia coli (18.50 mm). Hasil uji aktivitas antibakteri dianalisa dengan metode Oneway Anova, dilanjutkan dengan Uji Turkey. Data Anova menunjukkan bahwa ekstrak daun ekor kucing pada konsentrasi 10%, 20%, 40%, 80% telah memberikan aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji. Konsentrasi 80% menunjukkan konsentrasi yang paling efektif untuk menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri Escherichia coli. Hal ini terlihat dari semakin besar diameter zona hambat yang dihasilkan.. Kata kunci :    Acalypha hispida Burm. F., Aktivitas antibakteri, Staphylococcus     aureus, Escherichia coli
AKTIFITAS ANTIBAKTERI DAN KARATERISTIK GUGUS FUNGSI DARI TUNIKATA POLYCARPA AURATA
AKTIFITAS ANTIBAKTERI DAN KARATERISTIK GUGUS FUNGSI DARI TUNIKATA POLYCARPA AURATA Andrio Rainhard Kumayas1), Defny Silvia Wewengkang1), Sri Sudewi1) Program Studi Farmasi, FMIPA UNSRAT, MANADO   Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol, fraksi methanol, n-heksan dan kloroform dari tunikata Polycarpa aurata terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escericia coli. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Fraksinasi dilakukan menggunakan metode partisi dengan pelarut n-heksan, kloroform dan methanol serta pengujian antibakteri dengan menggunakan metode difusi agar Kirby Bauer. Karakterisasi fraksi terbaik terhadap Tunikata Polycarpa aurta dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis dan Spektrofotometri IR. Aktivitas antibakteri paling baik terdapat pada fraksi kloroform dengan daya hambat bakteri Staphylococcus aureus sebesar 8,90 mm, dan Escericia coli sebesar 7,03 mm. Hasil Spektrofotometri UV-Vis menunjukkan dua pita yaitu pada panjang gelombang 348,50 nm dengan absorbansi 0,141, dan  pada panjang gelombang 259,00 nm dengan absorbansi 0,624. Data didukung dengan menggunakan FTIR, muncul serapan pada bilangan gelombang 3120,82 cm-1 yang merupakan karakteristik gugus fungsi N-H. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa fraksi kloroform Tunikata Polycarpa aurata memiliki kemampuan untuk menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Escericia coli dengan kategori sedang. Kata kunci : Tunikata Polycarpa aurata, antibakteri, Staphylococcus aureus dan Escericia coli, Spektrofotometer UV-Vis, Spektrofotometer IR.   Abstract  The purpose of this study to determine the antibacterial activity of ethanol extract, fraction of methanol, n-hexane and chloroform from Tunicates Polycarpa aurata on the growth of Staphylococcus aureus and Escericia coli. Extraction was done by maceration using ethanol 96 %. Fractionation was performed using solvent partition method with n-hexane, chloroform and methanol as well as antibacterial testing using agar diffusion method of Kirby Bauer. Characteristics fraction of the Tunicates Polycarpa aurta best done using Spectro UV-Vis and IR spectrophotometry. Most excellent antibacterial activity present in the chloroform fraction inhibition of Staphylococcus aureus by 8.90 mm​​, and 7.03 mm for Escericia coli. UV-Vis spectrophotometry results indicate that there are two bands at a wavelength of 348.50 nm with 0.141 absorbance, and at a wavelength of 259.00 nm with 0.624 absorbance. Data is supported by using FTIR, appears uptake wave number 3120.82 cm-1 which is characteristics N-H functional groups. The results of this study concluded that chloroform fraction Tunicates Polycarpa aurata has the ability to inhibit Staphylococcus aureus and Escericia coli with moderate category. Keywords : Tunicates Polycarpa aurata, antibacterial, Staphylococcus aureus and Escericia coli, Spectrophotometer UV-Vis , IR spectrophotometer. Â
FORMULASI TABLET KLORFENIRAMIN MALEAT DENGAN BAHAN PENGIKAT GETAH KULIT BUAH PISANG GOROHO (Musa acuminafe L) MENGGUNAKAN METODE GRANULASI BASAH
FORMULASI TABLET KLORFENIRAMIN MALEAT DENGAN BAHAN PENGIKAT GETAH KULIT BUAH PISANG GOROHO (Musa acuminafe L) MENGGUNAKAN METODE GRANULASI BASAH Lemborano Nugratama Hano1), Paulina Yamlean1), Hamidah Sri Suprianti2) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado,95115 2)Program Studi DIII Farmasi STIKES Muhammadiyah Manado, 95115  ABSTRACT Goroho’s sap peel has the stongest adhesive force, and also has antiseptic and antioxidant effect. The aim of this research to formulate chlorpheniramine maleic tablet used Goroho’s sap peel as a binder substance by wet granulation method . The formulations made by variation of Goroho’s sap peel concentration at 15% and 25%. The resulting granule evaluation preformulation .further more granule is compressed into a tablet and be tested evaluation tablet. at the q 25% fulfill all the assigned qualification consist of Organoleptic test, water content, flow rate, the angle of respose, the physicalappearance, size and weight uniformity, hardness, friability, disintegration time of tablet. From this result can be concluded concentration of 25% fulfill the qualification as binder substance at the chlorpheniramine maleic tablet.  Key words : Banana sap peel Goroho, binder substance of tablet, wet granulation   ABSTRAK Getah kulit buah Pisang Goroho memiliki daya rekat yang sangat kuat, memiliki efek antiseptik dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menformulasikan tablet Klorfeniramin maleat menggunakan getah kulit buah Pisang Goroho sebagai bahan pengikat dengan metode granulasi basah. Formulasi ini dibuat dengan variasi konsentrasi getah yaitu 15% dan 25%.Granul yang dihasilkan diuji preformulasi.Selanjutnya granul dikempa menjadi sediaan tablet dan dilakukan evaluasi pengujian tablet. Pada konsentrasi 25% memenuhi semua persyaratan meliputi,uji organoleptik, kadar air, sifat alir, sudut diam, penampilan fisik, keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur tablet. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan konsentrasi 25% memenuhi persyaratan sebagai bahan pengikat pada sediaan tablet Klorfeniramin Maleat   Kata Kunci: Getah kulit buah Pisang Goroho, bahan pengikat tablet, klorfeniramin malea
PERBEDAAN EFEKTIVITAS OBAT KUMUR ANTISEPTIK BERALKOHOL DAN NON ALKOHOL DALAM MENURUNKAN AKUMULASI PLAK
PERBEDAAN EFEKTIVITAS OBAT KUMUR ANTISEPTIK BERALKOHOL DAN NON ALKOHOL DALAM MENURUNKAN AKUMULASI PLAK Marcella Talumewo1), Christy Mintjelungan1), Mona Wowor1) 1) Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran, UNSRAT  ABSTRACT The common factor which causes dental and mouth diseases is a thinned layer name dental plaque. The best way to prevent the accumulation of plaque. The plaqueis chemically controlled by using mouthash is in indispensable to help the work of cleaning the oral cavity instead of replacing it. The purpose of this research is to know the difference in the activity of alcohol antiseptic and non alcohol of mouthwash in lowering the accumulation of plaques.This study is experimental with pretest and posttest controlled group design. The population in this study are students of Dental Education, Faculty of Medicine, the existing class of 2011 numbered 128 students, but the sample used in this research are 40 people who had inclusion criteria, each divided into two treatment groups. The results shows that there are differences in the effectiveness of antiseptic mouthwash alcoholic and non alcoholic in reducing the accumulation of plaque which is based on statistical test unpaired t-test p value <0.05. Key word: moutwash alcohol antiseptic, moutwash non alcohol, the plaque   ABSTRAK Faktor umum yang menyebabkan terjadinya penyakit gigi dan mulut ialah lapisan tipis yang dinamakan plak gigi. Cara terbaik untuk mencegah akumulasi plak, yaitu dengan melakukan kontrol plak. Kontrol plak secara kimiawi dengan penggunaan obat kumur sangat diperlukan untuk membantu kerja pembersihan rongga mulut secara mekanis bukan mengganti. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui perbedaan efektivitas obat kumur antiseptik beralkohol dan non alkohol dalam menurunkan akumulasi plak. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan pretest and posttest controlled grup design. Populasi pada penelitian ini yaitu mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran angkatan 2011 yang ada berjumlah 128 mahasiswa, namun sampel penelitian yang digunakan berjumlah 40 orang yang memiliki kriteria inklusi, masing masing dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan efektivitas obat kumur antiseptik beralkohol dan non alkohol dalam menurunkan akumulasi plak dimana berdasarkan Uji statistik T-test tidak berpasangan didapatkan nilai p<0,05.  Kata Kunci: Obat Kumur beralkohol, obat kumur non alkohol, plak Â
HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (RESPIRATOR) DENGAN KAPASITAS VITAL PARU PADA PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN DI DINAS PEMADAM KEBAKARAN KOTA MANADO
HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (RESPIRATOR) DENGAN KAPASITAS VITAL PARU PADA PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN DI DINAS PEMADAM KEBAKARAN KOTA MANADO Apriyanti Manoppo1), Grace D. Kandou1), Johan Josephus1) 1)Fakultas Kesehatan MasyarakatUniversitas Sam Ratulangi Manado 2015 ABSTRAK On this dry season, there is a lot of house got caught on fire and that was a part of the firefighters duty. Firefighters have a risk of respiratory problems caused by smoke, dust and other chemicals. In the process of extinguishing the fire the firefighters didn’t used personal protective equipment. Firefighters also had a fatal risk when performing their duties. This study aims is to determine the correlation between years of service and the use of personal protective equipment with vital lung capacity on firefighter in fire department in Manado. this study used analytical survey method with cross-sectional design. Took place in the fire department, from September to October 2015. The sample of this study is 95 people who were the total population of the firefighters. Chi-square test was used to analyze the relationship between the variables. bivariate analysis showed that the variables associated with lung vital capacity is variable of years of services p=0,007 (p<0,05) and variable use of personal protective equipment p=0,000 (p<0,05). there is a correlation between years of service and the use of personal protective equipment with vital lung capacity on firefighter in fire department in Manado.  Keywords: years of service, use of personal protective equipment (respirator), vital lung capacity ABSTRAK Saat ini pada musim yang kemarau banyak kejadian kebakaran rumah yang menjadi bagian dari petugas pemadam kebakaran untuk melaksanakan tugasnya. Petugas pemadam kebakaran mempuyai risiko terjadinya gangguan pernafasan yang di akibatkan oleh asap, debu dan berbagai bahan kimia lainnya, dalam pemadaman api petugas pemadam tidak menggunakan alat pelindung diri respirator.Petugas juga mempunyai resiko fatal dalam melaksanakan tugas pemadam api. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara masa kerja dan penggunaan alat pelindung diri (respirator) dengan kapasitas vital paru.Penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan pendekatan cross-sectional. Bertempat di Dinas pemadam kebakaran, pada bulan September-oktober 2015. Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi yang berjumlah 95 orang petugas yang berada di Dinas pemadam kebakaran. Untuk menganalisis hubungan antara variabel dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square.Menunjukkan analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kapasitas vital paru adalah variabel masa kerja dengan nilai p 0,007 < 0,05 dan variabel penggunaan alat pelidung diri respirator dengan nilai p 0,00 (< 0,05).Terdapat hubungan antara masa kerja dan penggunaan alat pelindung diri respirator dengan kapasitas vital paru.  Kata Kunci:MasaKerja, Penggunaan APD (respirator), Kapasitas Vital Par