PHARMACON
Not a member yet
1026 research outputs found
Sort by
FORMULASI SEDIAAN GEL ANTIJERAWAT MINYAK ATSIRI KULIT BATANG KAYU MANIS (Cinnamomum burmanii) DAN UJI AKTIVITAS TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus
FORMULASI SEDIAAN GEL ANTIJERAWAT MINYAK ATSIRI KULIT BATANG KAYU MANIS (Cinnamomum burmanii) DAN UJI AKTIVITAS TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus Sarah Pelen1), Adeanne Wullur1), Gayatri Citraningtyas1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT Acne is a pile of oil glands in the skin that are actively being clogged by dirt and infection because of bacteria Staphylococcus aureus. The bark is cinnamon (Cinnmomum burmanii) contains antibacterial compounds sinamaldehid and eugenol. This research aims to create a gel formulation anti-acne essential oil of cinnamon bark with two variations of the concentration of HPMC base that is 3% and 7% gel also examine the effect of essential oils of cinnamon bark on the antibacterial activity. The research proves that the essential oil of cinnamon bark can be formulated as a gel formulation antijerawat eligible organoleptic, homogeneity, pH, dispersive power and consistency. Gel essential oil of cinnamon bark with concentration of 7% is the most excellent gel inhibits the activity of S. aureus because of inhibition zone of 7,8 mm were included in the category of medium inhibition. Keywords: cinnamon bark, gel, antijerawat, Staphylococcus aureus ABSTRAK Jerawat merupakan timbunan kelenjar minyak pada kulit yang terlalu aktif yang tersumbat oleh kotoran dan terjadi infeksi karena adanya bakteri Staphylococcus aureus. Kulit batang kayu manis (Cinnmomum burmanii) mengandung senyawa antibakteri sinamaldehid dan eugenol. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sediaan gel antijerawat minyak atsiri kulit batang kayu manis dengan dua variasi konsentrasi basis HPMC yakni 3% dan 7% juga menguji pengaruh gel minyak atsiri kulit batang kayu manis terhadap aktivitas antibakteri. Hasil penelitian membuktikan bahwa minyak atsiri kulit batang kayu manis dapat diformulasikan sebagai sediaan gel antijerawat yang memenuhi persyaratan organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar dan konsistensi. Gel minyak atsiri kulit batang kayu manis dengan konsentrasi 7% merupakan gel yang paling baik menghambat aktivitas bakteri S. aureus karena memiliki zona hambat 7,8 mm yang termasuk dalam kategori daya hambat sedang. Â Â Kata kunci: Kulit batang kayu manis, gel, antijerawat, Staphylococcus aureus Â
PERBEDAAN PELEPASAN ION NIKEL DAN KROMIUM PADA BEBERAPA MEREK KAWAT STAINLESS STEEL YANG DIRENDAM DALAM ASAM CUKA
PERBEDAAN PELEPASAN ION NIKEL DAN KROMIUM PADA BEBERAPA MEREK KAWAT STAINLESS STEEL YANG DIRENDAM DALAM ASAM CUKA Meri Angelia Situmeang1), P. S. Anindita 1), Juliatri1) 1)Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran UNSRAT Manado, 95115 Â ABSTRACT Wire is one of the important components in the orthodontic treatment. Orthodontic wire inside the oral cavity can trigger the release of metal ions when contact with an environment that has an acidic pH. One type of wire used in orthodontic treatment is stainless steel wire, because it has high strength and is affordable. Currently orthodontic stainless steel wire has been circulating in various brands. The purpose of this study was to determine the difference of nickel and chromium ion release on some brands of stainless steel orthodontic wire soaked in vinegar. This type of research is analytical research laboratory, performed in vitro using post test only control group design. The sample was 6 pieces of wire from 3 different brands and were divided into 2 groups: a control group soaked in saliva without the vinegar and the treatment group were soaked in saliva with vinegar. The release of ions was examined using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Data were analyzed using One Way Anova statistical test, Kruskal-Wallis, Independent T-test and Mann-Whitney. The results from this study showed significant ion release difference (p <0.05) of Ni and Cr in stainless steel orthodontic wires brands A, B, and C which soaked in vinegar. Key words : stainless steel orthodontic wires, nickel and chromium ions, vinegar. ABSTRAK Kawat merupakan salah satu komponen penting dalam perawatan ortodonti. Didalam rongga mulut kawat ortodonti dapat memicu pelepasan ion logam jika berkontak dengan lingkungan yang memiliki pH asam. Salah satu jenis kawat yang digunakan dalam perawatan ortodonti ialah kawat stainless steel, karena mempunyai kekuatan yang tinggi dan ekonomis. Saat ini kawat ortodonti stainless steel telah beredar dalam berbagai macam merek. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk melihat perbedaan pelepasan ion nikel dan kromuim pada beberapa merek kawat ortodonti stainless steel yang direndam dalam asam cuka.Jenis penelitian ini ialah penelitian analitik laboratorik, yang dilakukan secara in vitro menggunakan rancangan post test only control group design. Sampel yang digunakan berjumlah 6 buah kawat dari 3 merek yang berbeda yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol yang direndam dalam saliva tanpa asam cuka dan kelompok perlakuan yang direndam dalam saliva dengan asam cuka. Pelepasan ion kemudian diuji menggunakan alat Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Data hasil penelitian selanjutnya dianalisis menggunakan uji statistik One Way Anova, Kruskal-Wallis, Independent T-Test, dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pelepasan ion Ni dan Cr yang bermakna (p<0,05) pada kawat ortodonti stainless steel merek A, B, dan C yang direndam dalam asam cuka. Kata kunci: kawat ortodonti stainless steel, ion nikel dan kromium, asam cuka
GAMBARAN KUALITAS BAKTERIOLOGIS DAN KONDISI FISIK SUMUR GALI DI LINGKUNGAN III KELURAHAN MANEMBO-NEMBO TENGAH KECAMATAN MATUARI KOTA BITUNG TAHUN 2015
GAMBARAN KUALITAS BAKTERIOLOGIS DAN KONDISI FISIK SUMUR GALI DI LINGKUNGAN III KELURAHAN MANEMBO-NEMBO TENGAH KECAMATAN MATUARI KOTA BITUNG TAHUN 2015 Tiya Hardyanti1), Grace. D. Kandou 1), Woodford B.S Joseph 1) 1)Fakultas Kesehatan MasyarakatUniversitas Sam Ratulangi, Manado ABSTRACT The drilling well is one of the sources study about water it was supply for people who lives in rural and uban areas. The driliing wells provide water from soil layers that are relatively close to the soil surface, therefore easily contaminated by seepage from manure humans, animals, as well as for domestic households. The Purpose of this study was to to describe the bacteriological quality and physical condition of the wells in the Manembo- Nembo village, neighborhood III District of Bitung in 2015. Methods: This research is a descriptive survey. In this study population was divided into the 15 drilling wells, and the sample size in this study is total population of 15 drilling wells. The result of the study, the bacteriological quality of the 15 wells in the Manembo village, neighborhood III, District of Bitung and physical conditions which include the location of the drilling well, the drilling well lining and floor of the drilling wells doesn’t meet health requirement. Conclusion: that the quality of bacteriological and physical conditions of the drilling wells are not eligible. Suggestion: Through of this research, necessary to do some treatment for the water of the drilling well that are not qualified by the addition of chlorine and should be made an example of making the drilling wells that meet health requirements. Keywords : Bacteriological Quality, Physical Condition, Drilling Well ABSTRAK Sumur gali merupakan salah satu sumber penyediaan air bersih bagi masyarakat di pedesaan maupun perkotaan. Sumur gali menyediakan air yang berasal dari lapisan tanah yang relatif dekat dengan permukaan tanah, oleh karena itu mudah terkontaminasi melalui rembesan yang berasal dari kotoran manusia, hewan, maupun untuk keperluan domestik rumah tangga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kualitas bakteriologis dan kondisi fisik sumur gali di Lingkungan III Kelurahan Manembo- Nembo Tengah Kecamatan Matuari Kota Bitung. Metode: Jenis penelitian ini adalah survei deskriptif. Populasi dalam penelitian ini terbagi menjadi populasi sumur gali yakni 15 sumur gali , dan jumlah sampel pada penelitian ini adalah total populasi.Hasil. Hasil penelitian, kualitas bakteriologis dari 15 sumur gali di Lingkungan III Kelurahan Manembo – Nembo Tengah Kecamatan Matuari Kota Bitung dan kondisi fisik yang meliputi lokasi sumur, dinding sumur, bibir sumur dan lantai sumur tidak memenuhi syarat kesehatan. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa kualitas bakteriologis dan kondisi fisik sumur gali tidak memenuhi syarat. Saran: Perlu dilakukan pengolahan air sumur yang tidak memenuhi syarat dengan penambahan kaporit dan sebaiknya dilakukan contoh pembuatan sumur gali yang memenuhi syarat kesehatan. Kata Kunci : Kualitas Bakteriologis, Kondisi Fisik, Sumur Gali Â
GAMBARAN STOMATITIS AFTOSA REKUREN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI TAHUN 2015
GAMBARAN STOMATITIS AFTOSA REKUREN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI TAHUN 2015 Cindy Cantia Sewow1), D.H.C. Pangemanan1), Christy Mintjelungan1) 1)Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi E-mail : [email protected] ABSTRACT Recurrent aphthous stomatitis (RAS) is a commonly diseases of the oral mucosa and the cause is remains unclear. Some underlying factor such as stress, food allergy, genetic, trauma, and hormonal unbalance are considered as a cause of RAS. Aim: to see the statistic of Recurrent aphthous stomatitis at PSPDG UNSRAT Dental and Mouth Hospital on year 2015. Methods: This study was a descriptive study with cross sectional approach. The sample that was used in the form of medical record with a total of 24 medical record. Results: research shows that based on gender statistically RAS occur more on female (66,67%) than on male. The age group of 21-30 years old was easier to have RAS at 54,17%. The most common location that RAS occur was the mucosa of the lip at 45,83%. As for the educational degree most of the patients have a college degree at 41,67%. Based on occupation, college student was the most common group that have RAS at 58,3%. Trauma was the most underlying factor at 54,16%. Conclusion: According to the study that was conducted, RAS mostly occur in female with the age group of 21-30 years old, with the location on the mucosa of the lip which cause by trauma. Keyword: Recurrent aphthous stomatitis ABSTRAK Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) merupakan suatu penyakit mukosa mulut yang paling sering terjadi dan penyebabnya belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor predisposisi seperti stress, alergi makanan, genetik, trauma dan ketidakseimbangan hormonal diduga pencetus timbulnya SAR. Tujuan ini untuk mengetahui gambaran stomatitis aftosa rekuren di RumahSakit Gigi dan Mulut PSPDG UNSRAT tahun 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel penelitian yang digunakan berupa data rekam medic di bagian penyakit mulut yang berjumlah 24 rekam medik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran SAR berdasarkan jenis kelamin didapati perempuan(66,67%) lebih banyak terkena SAR dibandingkan laki-laki. Umur 21-30 tahun yaitu kelompok umur yang gampang terkena SAR yaitu sebanyak 54,17%. Lokasi yang sering terkena SAR yaitu pada mukosa bibir sebanyak 45,83%. Berdasarkanpendidikanpasien yang sering terkena SAR adalah pasien yang memiliki pendidikan akhir di perguruan tinggi sebanyak41,67%.Berdasarkan pekerjaan, mahasiswa merupakan kelompok pekerjaan yang paling banyak terkena SAR sebanyak 58,3%. Trauma yaitu faktor predisposisi terbanyak yang ditemukan sebanyak 54,16%. Kesimpulan: Berdasarkanpenelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa SAR banyak dialami oleh wanita pada kelompok umur 21-30 tahun, dengan lokasi SAR di mukosa bibir yang disebabkan oleh trauma. Kata kunci : Stomatitis Aftosa Rekuren  Â
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK BIJI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK BIJI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli Hizkia Alesta Tanauma1), Gayatri Citraningtyas1), Widya Astuty Lolo1) 1)Progam Studi Farmasi Fakultas MIPA UNSRAT Manado, 95115 Â Â ABSTRACT The purpose of this study is to test the antibacterial activity of robusta coffee seed extract against bacterium Escherchia coli. The extraction method using maceration with solvent ethanol 96%. Antibacterial activity test was done by using pitting method. The results showed that robusta coffee seed extract has antibacterial activity. Effective concentration to inhibit bacterium Escherchia coli extract at concentration of 10%, 50% and 100%. The results showed that the geater concentration, the geater the inhibitory zones are formed. Keywords : Caffea canephora, Escherchia coli, antibacterial, and agar diffusion ABSTRAK Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak biji kopi robusta terhadap bakteri Escherichia coli pada konsentrasi 10%, 50% dan 100%. Ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Pengujian antibakteri menggunakan metode difusi agar dengan cara sumuran. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak biji kopi robusta dapat menghambat bakteri Escherichia coli. Konsentrasi 10%, 50% dan 100% ketiganya memberikan zona hambat yang berbeda. yaitu semakin besar konsentrasi eksrak biji kopi robusta maka semakin besar zona hambat yang terbentuk. Kata kunci : Coffea canephora, Escherichia coli, antibakteri, difusi agar.
GAMBARAN KONDISI FISIK BAK PENAMPUNGAN SUMBER AIR BERSIH DENGAN UJI BAKTERIOLOGIS PADA SUMBER AIR DI DESA TATELI KECAMATAN MANDOLANG KABUPATEN MINAHASA TAHUN 2015
GAMBARAN KONDISI FISIK BAK PENAMPUNGAN SUMBER AIR BERSIH DENGAN UJI BAKTERIOLOGIS PADA SUMBER AIR DI DESA TATELI KECAMATAN MANDOLANG KABUPATEN MINAHASA TAHUN 2015 Ryan A.S Johannes1), Odi Pinontoan1), Rahayu H. Akili1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi Manado  ABSTRACT Drinking water is water that meets the health requirements and can be drunk directly . Clean water requirements set by PERMENKES No. 416 of 1990 concerning the conditions and monitoring water quality . Biological water quality , especially microbiological measured by parameters, namely parameters of microbial contaminants, pathogens and toxin . The purpose of this study is knowing about the Tank Physical Condition of Clean Water Source with Bacteriological Test on Water Resources in the Tateli Village Mandolang District of Minahasa. This study is a descriptive study that was carried on September-October 2015 in the Tateli Village Mandolang District of Minahasa . with a total is 11 Tank of Water Resources . This study uses research instrument Checklist and Tools Bacteriological Water quality analysis is conducted in the laboratory of Environmental Health Engineering and Eradication of Communicable Diseases Class 1 Manado . Based on laboratory test receive 4 sources of water ( 36 % ) were eligible and 7 water sources ( 64 % ) are not eligible. Tank Physical Condition of Clean Water in the Tateli Village Mandolang District of Minahasa not eligible specified requirements included the walls of the tub, bathtub floor , roof tubs, piping . Based on bacteriological test water quality to get the four sources of water ( 36 % ) were eligible and 7 water sources ( 64 % ) are not eligible . Key words : Reservior , Bacteriological  ABSTRAK Air minum merupakan air yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Persyaratan air bersih diatur oleh PERMENKES RI Nomor 416 Tahun 1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas Air. Kualitas air secara biologis, khusunya mikrobiologis diukur oleh parameter, yaitu parameter mikroba pencemar, patogen, dan penghasil toksin. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui Gambaran Kondisi Fisik Bak Penampungan Sumber Air Bersih dengan Uji Bakteriologis pada Sumber Air di Desa Tateli kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yang dilaksanakan pada bulan September – Oktober 2015 di Desa Tateli Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa. dengan total 11 Bak Penampungan sebanyak dan 11 Sumber Air. Penelitian ini menggunakan instrument penelitian Checklist dan Alat Pemeriksaan Kualitas Air secara Bakteriologis dilakukan di laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantas Penyakit Menular Kelas 1 Manado. Berdasarkan uji laboratorium mendapatkan hasil 4 sumber air (36%) yang memenuhi syarat dan 7 sumber air (64%) tidak memenuhi syarat. Kondisi Fisik Bak Penampungan Air Bersih di Desa Tateli Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa tidak memenuhi syarat yang ditetapkan meliputi dinding bak, lantai bak, atap bak, perpipaan. Berdasarkan uji bakteriologis kualitas air bersih mendapatkan hasil 4 sumber air (36%) yang memenuhi syarat dan 7 sumber air (64%) tidak memenuhi syarat.  Kata kunci: Bak Penampungan, Bakteriologi
UJI SENSITIVITAS BAKTERI PENYEBAB INFEKSI NOSOKOMIAL SALURAN KEMIH AKIBAT PENGGUNAAN KATETER TERHADAP ANTIBIOTIK AMPICILLIN, AMOXICILLIN DAN CIPROFLOXACIN
UJI SENSITIVITAS BAKTERI PENYEBAB INFEKSI NOSOKOMIAL SALURAN KEMIH AKIBAT PENGGUNAAN KATETER TERHADAP ANTIBIOTIK AMPICILLIN, AMOXICILLIN DAN CIPROFLOXACIN di RSUP Prof. dr. R.D Kandou MANADO Silfhani Cristin Rambiko1), Fatimawali1), Widdhi Bodhi1) 1) Program Studi Farmasi Fakultas MIPA UNSRAT Manado ABSTRACT One of the infections diseases are the cause of the increasing number of pain and death in hospitals is the disease of nosocomial infections. The purpose of this research was to identify bacteria in the urine of the patients sufferers of nosocomial infections and to know the limits of sensitivity of bacteria against antibiotics Ampicillin, Amoxicillin, and Ciprofloxacin. From the results of this research show the antibiotics Ampicillin and Amoxicillin resistant 100% against bacteria, while the antibiotics Ciprofloxacin showed results of intermediate 40% without any resistance but has an inhibitory sensitiv 60%. So it can be concluded that antibiotics with the highest sensitivity level and sensitive against bacteria Escherichia fergusonii, Vagococcus, and Klebsiella oxytoca is the antibiotic Ciprofloxacin by 60%. Key words : sensitivity, nosocomial infections, measurement of the inhibitory zones ABSTRAK Salah satu penyakit infeksi yang merupakan penyebab meningkatnya angka kesakitan dan kematian di rumah sakit ialah penyakit infeksi nosokomial. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi bakteri pada urin dari pasien penderita infeksi nosokomial dan mengetahui batas sensitivitas bakteri terhadap antibiotik Ampicillin, Amoxicillin, dan Ciprofloxacin. Dari hasil penelitian ini menunjukkan antibiotik Ampicillin dan Amoxicillin resisten 100% terhadap bakteri, sedangan antibiotik Ciprofloxacin menunjukkan hasil intermediet 40% tanpa adanya resistensi tetapi memiliki angka penghambatan yang sensitiv 60%. Jadi dapat disimpulkan bahwa antibiotik dengan tingkat kepekaan yang tertinggi dan sensitiv terhadap bakteri Escherichia fergusonii, Vagococcus, dan Klebsiella oxytoca adalah antibiotik Ciprofloxacin sebesar 60%.  Kata kunci : sensitivitas, infeksi nosokomial, pengukuran zona hambat   Â
UJI EFEKTIVITAS SEDIAAN KRIM EKSTRAK DAUN LAMTORO (Laucaena glauca) TERHADAP LUKA BAKAR PADA KELINCI (Orytolagus cuniculus)
UJI EFEKTIVITAS SEDIAAN KRIM EKSTRAK DAUN LAMTORO (Laucaena glauca) TERHADAP LUKA BAKAR PADA KELINCI (Orytolagus cuniculus) Yeyen Yessica Manapode1), Paulina V.Y Yamlean1), Sri Sudewi1) 1) Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115  ABSTRACT Lamtoro leaf (Laucaena glauca) contains flavonoid, alkaloid, saponin, and tannin that have healing effect of burns. The content of Lamtoro leaf can regenerate injured tissue damage of skin caused by burns. This research aimed to test the effectiveness of Lamtoro leaf (Laucaena glauca) cream with concentration 2%, 4%, and 8% for heal burns on rabbit. The type of emulsion in Lamtoro leaf extract cream was oil in water. The test animals used in this research was divided into 5 groups : test groups with 3 concentrations, negative control (cream base) and positive control (bioplacenton). The burns on the rabbit’s back with diametre 1,5 cm was given treatment, and the healing effect was observed within 7 days. The result shows that cream with concentration 2% was given healed effect and more increase the concentration (4% and 8%) more effective and faster the healing procces. Keywords : Lamtoro Leaf (Laucaena glauca), Bioplacenton, Rabbits ABSTRAK Daun Lamtoro (Laucaena glauca) Memiliki Kandungan Flavonoid, Alkaloid, Tanin dan Saponin yang dapat memberikan efek penyembuhan terhadap luka. Kandungan yang terdapat dalam daun lamtoro mampu memberikan regenerasi sel kulit yang mengalami kerusakan jaringan sel akibat luka bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji efektivitas ekstrak daun lamtoro (Laucaena glauca) dalam bentuk sediaan krim dengan tingkatan kosentrasi 2%, 4% dan 8% untuk penyembuhan luka bakar pada kelinci. Pembuataan formulasi krim ekstrak daun lamtoro menggunakan fase minyak dalam air dan hewan uji yang digunakan sebanyak 5 ekor kelompok yaitu kelompok perlakuan krim uji, kelompok kontrol negatif (Dasar Krim) dan kelompok kontrol positif (Bioplacenton). Luka bakar di daerah punggung dengan diameter 1,5 cm diberi perlakuan dan diamati efek penyembuhannya selama 7 hari. Hasil penelitian menujukan bahwa di hari ke-1 sampai hari ke-7 pengamatan luka bakar mengalami pengecilan diameter. Disimpulkan bahwa konsentrasi krim ekstrak daun lamtoro 2% telah memberikan efek penyembuhan dan semakin meningkat konsentrasi yakni 4% dan 8% yang terkandung menunjukan semakin efektif dan mempercepat proses peyembuhan. Kata Kunci : Daun Lamtoro (Laucaena glauca), Bioplacenton, Kelinc
EVALUASI PERENCANAAN DAN PENGADAAN OBAT DI INSTALASI FARMASI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO BERDASARKAN ANALISIS ABC-VEN
EVALUASI PERENCANAAN DAN PENGADAAN OBAT DI INSTALASI FARMASI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO BERDASARKAN ANALISIS ABC-VEN Vionita Martini Mumek 1) , Gayatri Citraningtyas1) , Paulina V.Y. Yamlean1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115  ABSTRACT Planning is the determination of the types and amounts of pharmaceuticals in accordance with the pattern of disease and the need for health services in the hospital. Procurement is an activity to realize the needs that exist, so that the necessary evaluation to control the amount of drug use ABC-VEN analysis. The purpose of this study is to determine the planning and procurement of drug at the pharmacy installation department of Prof. Dr. R. D. Kandou Manado whether in accordance with the standards of the hospital and to determine the influence of ABC-VEN analysis of the cardiovascular and anesthetic drug. This research is descriptive research with data collection in the form of reports and interviews. The results showed that the planning and procurement of the number of drugs are less effective due to the advantages and disadvantages of the drug. Influence analysis of ABC-VEN against drugs on cardiovascular and anesthetic drugs is that there is of drugs that enter the category of VA that the amount of the drug is less when categorized as vital, there is of drug in the category of VC supply is excessive although including vital and there is of drug in the category of EC number of drugs only required small amount of funds. Keywords: planning, procurement, ABC-VEN analysis, Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Hospital  ABSTRAK  Perencanaan ialah penetapan jenis dan jumlah perbekalan farmasi sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang ada, sehingga diperlukan evaluasi untuk mengendalikan jumlah obat menggunakan analisis ABC-VEN. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui proses perencanaan dan pengadaan obat di Instalasi Farmasi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado apakah telah sesuai dengan standar rumah sakit serta mengetahui pengaruh analisis ABC-VEN terhadap obat kardiovaskuler dan obat anastesi. Jenis penelitian yang digunakan ialah jenis penelitian deskriptif dengan pengumpulan data berupa laporan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa perencanaan dan pengadaan jumlah obat masih kurang efektif karena terjadi kelebihan serta kekurangan obat. Pengaruh analisis ABC-VEN terhadap obat kardiovaskuler dan obat anastesi ialah terdapat jenis obat yang masuk kategori VA yang  jumlah obatnya kurang padahal masuk kategori vital, terdapat jenis obat yang masuk kategori VC persediaannya berlebih walaupun termasuk vital serta terdapat jenis obat yang masuk kategori EC jumlah obat berlebih walaupun hanya menyerap dana sedikit.  Kata Kunci : perencanaan, pengadaan, analisis ABC-VEN, RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Â
KADAR KALSIUM DAN HEMOGLOBIN DALAM JARINGAN OTOT RANGKA DAN DARAH PADA AYAM (Gallus gallus) DAN BURUNG MERPATI (Columba livia)
KADAR KALSIUM DAN HEMOGLOBIN DALAM JARINGAN OTOT RANGKA DAN DARAH PADA AYAM (Gallus gallus) DAN BURUNG MERPATI (Columba livia) Sunarno Nugroho Sastromiharjo1), Lalu Wahyudi1), Edwin De Queljoe1), Rooije Roogers H Rumende2) 1)Jurusan Biologi Fakultas MIPA UNSRAT Manado, 95115 2)Universitas Sariputra Indonesia Tomohon  ABSTRACT The relationship between muscle contraction with the concentration of Ca2+ in which the concentration of Ca was instrumental in setting the contraction and relaxation of the muscles of the Ca ion positive framework it will bind to the protein troponin molecules on the structure of actin filaments so that the head of the fiber filaments are myosin filaments on myosin will be bound so sliding muscle fibers or the shortening of muscle fibers in another term occurrence of muscle contraction.This study was carried out in the laboratory of the pharmaceutical Department of the pharmaceutical Faculty of mathematics and natural sciences of the University of Sam Ratulangi Manado. On January-February 2016. This research was conducted on the examination and analysis of calcium (Ca) and Hemoglobin (Hb) in chickens (Gallus gallus) and pigeons (Columba livia). These studies use quantitative analysis by looking at the average value of the two types of samples. Hemoglobin in chickens (Gallus gallus) is lower than the pigeons (Columba livia) and its average value is the 13.53 g/dL for hemoglobin levels in chickens (Gallus gallus) and 16.88 g/dL for hemoglobin levels in the pigeon (Columba livia). The chicken had a calcium levels with an average rating of 3, 13 MCG/mL and the pigeons with the average value of the levels of calcium 6.6 MCG/mL. Hemoglobin Levels and calcium in chickens and pigeons, chickens have an average value of hemoglobin levels and calcium is lower than pigeons, due to the difference in the flying activity and muscle contraction work system on each animal, chicken and pigeons. Keywords: Calcium, Haemoglobin, Chicken, Pigeon ABSTRAK Hubungan antara kontraksi otot dengan konsentrasi Ca2+ dimana konsentrasi Ca sangat berperan didalam pengaturan kontraksi dan relaksasi otot kerangka ion Ca positif itu akan berikatan dengan molekul protein troponin pada struktur filamen aktin sehingga kepala dari serat filamen miosin akan terikat pada filamen miosin sehingga terjadi sliding serat otot atau pemendekan serat otot dalam istilah lain terjadinya kontraksi otot. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmasi Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sam Ratulangi Manado. Pada bulan Januari - Februari 2016. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan dan analisis terhadap Kalsium (Ca) dan Hemoglobin (Hb) pada ayam (Gallus gallus) dan merpati (Columba livia). Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dengan melihat nilai rata-rata dari dua jenis sampel. Hemoglobin pada ayam (Gallus gallus) lebih rendah dari merpati (Columba livia) dengan nilai rata-ratanya adalah 13,53 g/dL untuk kadar hemoglobin pada ayam (Gallus gallus) dan 16,88 g/dL untuk kadar hemoglobin pada merpati (Columba livia). Ayam mempunyai kadar kalsium dengan nilai rata-rata 3, 13 MCG/mL dan merpati dengan nilai rata-rata kadar kalsium 6,6 MCG/mL. Kadar hemoglobin dan kalsium pada ayam dan merpati, ayam memiliki nilai rata-rata kadar hemoglobin dan kalsium lebih rendah dari merpati, disebabkan adanya perbedaan aktivitas terbang dan sistem kerja kontraksi otot pada masing-masing hewan tersebut yaitu ayam dan merpati. Kata kunci: kalsium, Hemoglobin, Ayam, Merpati  Â