EDUSAINS
Not a member yet
289 research outputs found
Sort by
PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) ABILITY OF PRE SERVICE BIOLOGICAL TEACHERS BASED ON LESSON PLAN AND TEACHING PRACTICE
PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (PCK) KEMAMPUAN GURU BIASA PRA PELAYANAN BERBASIS RENCANA PELAJARAN DAN PRAKTEK PENGAJARAN AbstrakPenelitian ini mengidentifikasi empat aspek berbeda dari pengetahuan pedagogi dan tiga aspek dari pengetahuan materi, serta terkait di antara aspek-aspek PCK. Penelitian ini menunjukkan bahwa skor PCK calon guru biologi dalam menyusun rencana pelajaran dan praktik mengajar berada dalam kategori baik, dengan hasil persentase skor CK 70,83% (baik), hasil persentase skor PK 75,70% (baik), dan hasil persentase skor PCK 66,67% (sangat baik). Temuan dalam penelitian ini adalah kemampuan smahasiswa calon guru mulai berkembang mengenai PCK melalui cara penyampaian materi pelajaran biologi dengan menghargai ide-ide siswa sebelumnya dalam pembelajaran, meskipun kedalaman pemahaman bervariasi. Selain itu, hasil PCK menunjukkan banyak perkembangan dalam perancangan rencana pelajaran melalui pengetahuan konstruktivis. Pengembangan terhadap pengetahuan pedagogi, konten dan PCK berkaitan dengan keterampilan mengajar merupakan aspek yang sangat penting. Penggunaan rencana pelajaran yang mudah diakses dapat meningkatkan kemampuan PCK untuk mengembangkan prinsip-prinsip pedagogis. Meskipun pengembangan konten dan PCK terkait pedagogis, mungkin cukup untuk memungkinkan mahasiswa calon guru untuk membuat dan menghubungkan konteks materi pelajaran biologi yang memfasilitasi siswa dalam pembelajaran kontekstual. AbstractThis study identified four distinct aspects of pedagogical knowledge and three aspects of content knowledge, as well as related among these PCK aspects. This study shows that the PCK scores of pre service biology teachers in preparing lesson plan and teaching practice are in good category, with result of CK score percentage 70.83% (good), result of PK score percentage 75.70% (good), and result of PCK score percentage 66.67% (very good). Finding in this study were pre service students ability about PCK began to develop an understanding of the way to deliver biology subject material that values students’ prior ideas in learning, eventhough the depth of this understanding varied. In addition, PCK show as much growth in their lesson plan with respect to the constructing knowledge. In developing a pedagogy and content knowledge of PCK, relating to skills about teaching, appears to be critical. Using lesson plan that is simple accessible seems to increase PCK ability to develop pedagogical principles. Although development of content and pedagogical related PCK, it may be enough to allow pre-service student to create and relate the biology subject material contexts that facilitate students in contextual learning
POLA INTERAKSI VERBAL GURU BIOLOGI SETELAH MENDAPATKAN PELATIHAN KURIKULUM 2013
VERBAL INTERACTION CATEGORY SYSTEM OF 2013 CURRICULUM BIOLOGY TEACHER TRAINED AbstractPrevious research has shown that the implementation of Curriculum 2013 has success. However, it is not objective yet. This descriptive research aims to describe the pattern of verbal interaction during the learning process in class XI MIA. The research was conducted in 3 High Schools of Bogor City that implemented the Curriculum 2013. The matrix of Flander’s Verbal Interaction Category System (VICS) instrument was used to analyze interaction beetween teacher and students. The result of the study is the learning process in the three student-centered schools with the students multi-direction interaction patterns about 47,19% in School A, 74,37% in School B, and 70,77% in School.AbstrakPenelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum 2013 telah berhasil. Namun, itu belum objektif. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola interaksi verbal selama proses pembelajaran di kelas XI MIA. Penelitian ini dilakukan di 3 SMA Kota Bogor yang menerapkan Kurikulum 2013. Matriks instrumen Sistem Interaksi Verbal Kategori Belgia (VICS) digunakan untuk menganalisis interaksi antara guru dan siswa. Hasil dari penelitian ini adalah proses pembelajaran di tiga sekolah yang berpusat pada siswa dengan pola interaksi multi-arah siswa sekitar 47,19% di Sekolah A, 74,37% di Sekolah B, dan 70,77% di Sekolah C.
PENGARUH PEMBELAJARAN MODEL ADVANCE ORGANIZER TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA PADA KONSEP PROTISTA
This research purposed to know the influence of using advance organizer model to students’ biology achievement in protists concept. This research was used quasi experiment method with pretest-posttest control group design. The data analysis was used t-test, from the result of calculating mean differentiation of posttest both groups, obtained the value of t-count was equal to 3,087, while t-table at the level of significant 5% with degree of freedom (df) = 78 that was equal to 1,67. So, it can be said that t-count > t-table that means the alternative hypothesis (Ha) was accepted and the zero hypothesis (H0) was refused. It showed that there was influence of using advance organizer model to students’ biology achievement in protists concept
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS LITERASI SAINS UNTUK SISWA SMP PADA TEMA TEKNOLOGI
Abstract The aim of the study is to develop the multimedia learning based on scientific literacy for junior high school students on the theme of technology. Moreover, the study was also done to examine the effectiveness of the multimedia in enhancing students’ scientific literacy. Multimedia in science learning can create more meaningful learning process, so the vision of scientific literacy can be achieved. This study used research and development (R&D) methods with ADDIE design (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). The stage of analysis, design, and development are a development stage of multimedia learning based on scienctific literacy. The implementation and evaluation stage are the stage of implementation multimedia in science teaching in SMP Cimahi. Multimedia learning based on scienctific literacy on the theme of technology has a design that adapts to the scientific literacy from PISA, there are context domain, competence of science domain and scientific knowledge domain. The use of multimedia learning based on scienctific literacy can enhance students’ scienctific literacy for 65,64%. In the competence of science domain for 62.35%, scientific knowledge domain for 57.02% and students attitude toward for 60,12%. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengetahui efektifitas penggunaan multimedia pembelajaran berbasis literasi sains untuk siswa SMP pada tema Teknologi. Multimedia dalam pembelajaran sains dapat menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna, dengan demikian visi literasi sains yaitu membekali siswa dengan pengetahuan konsep sains yang benar serta mampu menerapkan konsep sains pada fenomena kehidupan sehari-hari dapat tercapai. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D) dengan desain ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation), tahap analysis, design, dan development merupakan tahap pengembangan multimedia pembelajaran berbasis literasi sains. Sementara tahap implementation dan evaluation merupakan tahap penerapan multimedia dalam pembelajaran di salah satu SMP Negeri di Kota Cimahi. Multimedia pembelajaran berbasis literasi sains pada tema teknologi memiliki desain yang menyesuaikan dengan domain literasi sains yaitu konteks, kompetensi sains dan pengetahuan sains. Penggunaan multimedia pembelajaran berbasis literasi sains dapat meningkatkan literasi sains siswa secara keseluruhan sebesar 65,64%. Sementara itu pada domain kompetensi sains peningkatannya sebesar 70,1%, domain pengetahuan sains sebesar 63,7% dan domain sikap siswa terhadap sains sebesar 60,12%.Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v7i2.176
ANALISIS PERTANYAAN PADA BUKU TEKS KIMIA BERDASARKAN QUESTION CATEGORY SYSTEM FOR SCIENCE(QCSS)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertanyaan yang dikembangkan pada buku teks kimia SMA negeri di Kota Tangerang Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis isi dengan desain penelitian kualitatif dan teknik pengambilan sampel random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar analisis klasifikasi pertanyaan berdasarkan Question Category System For Science (QCSS).Terdapat tiga buku yang dianalisis. Hasil penelitian menujukan bahwa pertanyaan yang dikembangkan pada semua sampel didominasi oleh pertanyaan tertutup. Buku teks kimia Asebesar 79,24%, buku teks kimia B 64,10%, buku teks kimia C sebesar 71,17%. Maka dapat disimpulkan hasil penelitian menunjukan bahwa pertanyaan yang dikembangkan pada buku teks kimia di SMA Negeri di Kota Tangerang Selatan memilki persamaan antara satu dengan yang lainya yaitu sama–sama didominasi oleh pertanyaan tertutup kategori berfikir konvergen. Kata Kunci: analisis pertanyaan, buku teks kimia, Question Category Syste
KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT PADA KONSEP VIRUS
Abstract Graduation standard of Indonesia senior high school hopes the students show their logical, crithical, creative, and inovative thinking skill in making decision. The study aimed to find out difference of crithical thinking between students taught with Problem Based Learning (PBL) method and Society Technology Science (STM) in the concept of virus. The subject are 64 students grade X of SMAN 11 South Tangerang City. Method used was quasy experiment with non-equivalent control group design. Sample were taken by simple random technique sampling. Instruments used was free analysis essay test. The result of postest percentage in both of class shows that (PBL) is better in giving the simple explanation and constructing the basic skill aspect, while STM model is better in giving further explaination aspect. In addition, the posttetest result was analyzed by t-test. The result gained was t-count is 2,79 and t-table with the significant of 5% is 1,99. It shows that there is a difference in in chritical thinking between students taught with PBL method and STM in the concept of virus. Keywords: quasi experiment; problem based learning; society tecnology science; chritical thinking skill Abstrak Standar kelulusan SMA di Indonesia mengharapkan seorang siswa menunjukan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keterampilan berpikir kritis siswa yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning dan Sains Teknologi Masyarakat pada konsep Virus. Subjek penelitian adalah siswa SMA Negeri 11 Kota Tangerang Selatan kelas X yang berjumlah 64 siswa. Tipe Penelitian kuasi eksperimen dengan desain non-equivalent control group. Sampel ditentukan dengan teknik simple random sampling dengan diberikan instrumen berupa tes essay uraian bebas sebagai pengumpul data. Hasil menunjukan model pembelajaran Problem Based Learning lebih baik pada aspek Memberikan Penjelasan Sederhana dan Membangun Keterampilan Dasar. Aspek kritis pada Menjelaskan Lebih Lanjut lebih baik di model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat. Analisis hasil menggunakan uji-t menunjukkan nilai t-hitung sebesar 2,79 lebih besar dari t-tabel sebesar 1,99 pada taraf signifikasi 5%. Dengan demikian keterampilan berpikir kritis siswa yang diajar dengan model pembelajaran PBL berbeda dengan STM pada konsep Virus. Kata Kunci: kuasi eksperimen; problem based learning; sains teknologi masyarakat; berpikir kritis Ennis Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v8i2.389
ANALISIS SKILL CALON GURU BIOLOGI DALAM PENYUSUNAN LESSON PLAN SISTEM GERAK
Abstract Human skeletal system is one of the important topics of grade XI of biology high school in Indonesia. This topic is commonly delivered by teacher in traditional method by following the order of the subtopics as written in the biology textbook. This research was a case study aimed to analyse the skills of trainee students on developing the lesson plan of skeletal system, which will be implemented during the field teaching practicum during the intership program. Two trainee students who were in the 7th semester are the participants of this research. Both were in the teaching practicum program in different schools. The skills of developing the lesson plan were analyzed by document analysis, observation of the practices, and measuring the satisfaction level of participant high school students who attended the classes. Both trainees had been guided by lecturers to construct inquiry, contextual and scientific approach-based lesson plan of skeletal system. The lesson plans made by student A and B are different, on indicators and intended learning, organizing the topics, approach and strategy of teaching, student activities, tools used, and the assessment. Lesson plan B is relatively close to inquiry-based activities and contextual teaching and learning. And according to students\u27 satisfaction, lesson plan made by trainee B was more satisfied. The result may suggest that there should be a guidance, which can close the skills gap between trainee with different academic achievement Keywords: paedagogic skills; teacher training; lesson plan; skeletal system; high school biology Abstrak Sistem Gerak adalah salah satu topik penting di kelas XI SMA di Indonesia. Materi ini pada umumnya disampaikan oleh guru secara tradisional dengan cara mengikuti urut-urutan topik pada buku pelajaran biologi. Riset ini adalah studi perbandingan bertujuan untuk mempelajari bagaimana keterampilan dua mahasiswa calon guru dalam menyusun lesson plan sistem gerak yang dipraktekkan dalam Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Kedua mahasiswa adalah mahasiswa semester 7. Keterampilan dan kemampuan mahasiswa dianalisis melalui analisis dokumen lesson plan, observasi keterlaksanaan sintaks pembelajaran, serta tingkat kepuasan pada pembelajaran dari para siswa SMA peserta pembelajaran. Kedua mahasiswa diarahkan agar menggunakan pendekatan saintifik, kontekstual dan pembelajaran berbasis inkuiri. Lesson plan yang disusun mahasiswa (Lesson Plan A dan B) menunjukkan perbedaan pada penguraian kompetensi dasar menjadi indikator pembelajaran, strukturisasi materi, pendekatan dan strategi pembelajaran, aktivitas siswa, media yang dipergunakan, dan bentuk asesmen yang dipergunakan untuk menilai kompetensi siswa. Tingkat kepuasan siswa terhadap pengajaran kedua mahasiswa (Pembelajaran A dan B) juga dinilai berdasarkan penggunaan waktu, media, cara mengajar, kesempatan tanya jawab, diskusi kelas, dan presentasi. Siswa menunjukkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi pada pembelajaran dengan Lesson Plan B. Munculnya perbedaan kemampuan menyusun lesson plan sistem gerak menunjukkan perlunya sistem pembimbingan yang dapat mengatasi gap capaian akademik dan kemampuan antarmahasiswa. Kata Kunci: skill pedagogik; training guru; desain pembelajaran; sistem gerak; biologi SMA Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v9i1.5476
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH FISIKA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY-DISCOVERY
ENHANCEMENT OF PHYSICS PROBLEM-SOLVING SKILLS WITH INQUIRY-DISCOVERY LEARNING MODEL AbstractThe purpose of this study was to determine differences in problem solving abilities of students who were given inquiry-discovery learning through web-assisted empirical-theoretical reviews with students who were given conventional learning. This study uses a quasi-experimental pretest-posttest control group design. The average gain score of the problem solving ability test shows that students who are taught with inquiry-discovery learning through web-assisted empirical-theoretical reviews are higher than students who are taught with conventional learning. Hypothesis test results show that students who are learning with inquiry-discovery learning through web-assisted empirical-theoretical reviews have higher problem solving abilities than students who are taught with conventional learning, this also applies to students with high or low initial abilities. AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah siswa yang diberi pembelajaran inquiry-discovery melalui tinjuan empiris-teoritis berbantuan web dengan siswa yang diberi pembelajaran konvensional. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi exsperiment pretest-posttest control group design. Hasil rata-rata gain score tes kemampuan pemecahan masalah menunjukkan siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran inquiry-discovery melalui tinjuan empiris-teoritis berbantuan web lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa siswa yang dibelajarakan dengan pembelajaran inquiry-discovery melalui tinjuan empiris-teoritis berbantuan web memiliki peningkatan kemampuan pemecahan masalah lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarakan dengan pembelajaran konvensional, hal ini juga berlaku pada siswa yang berkemampuan awal tinggi maupun rendah.
MEMBANGUN KEPERCAYAAN DIRI SISWA PADA KONSEP ASAM BASA MELALUI PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kepercayaan diri siswa.Penelitian ini dilakukan di SMAN 24 Kabupaten Tangerang pada bulan Januari-Juni 2013. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen, subyek dalam penelitian ini terdiri dari 77 siswa, dibagi menjadi 2 kelompok: yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Desain penelitian dalam penelitian ini adalah nonequivalent control group design.Instrumen yang digunakan adalah angket kepercayaan diri siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan kepercayaan diri siswa untuk kelompok eksperimen (rata-rata N-Gain = 0,07) lebih rendah daripada kelompok kontrol (rata-rata N-Gain= 0,15). Setelah dilakukan uji Mann-Whitney (pada taraf signifikansi 95%) diperoleh nilai α sebesar 0,212> 0,05. Maka dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata kepercayaan diri siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa pada konsep asam basa, tetapi tidak signifikan secara statistik
PENGARUH PENERAPAN KOMBINASI METODE INKUIRI DAN RECIPROCAL TEACHING TERHADAP CAPAIAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA
Abstract This research aims to find out of achievement of student understanding concept between applied combination learning of inquiry and reciprocal teaching methods’ class (experimental class) and learning of inquiry method’s class (control class). The research method used quasi experiment with the randomized posttest-only control group design. The sample consists of 39 students in X grade in one of senior high school in Rengat. The finding research is overall achivement of student understanding concept in class experimental was better than control class. However, if we look for details, achivement of understanding concept indicators for translation indicator, we got that control class is better than experimental class, but for interpretation and ekstrapolation indicators, we got that experimental class is better than control class. Overall, there is no different achivement of student understanding concept significantly. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan capaian pemahaman konsep siswa antara kelas yang diterapkan pembelajaran kombinasi metode inkuiri dan reciprocal teaching (kelas eksperimen) dengan kelas yang diterapkan metode Inkuiri (kelas kontrol). Metode penelitiannya adalah kuasi eksperimen dengan the randomized posttest-only control group design dan sampel sebanyak 39 siswa kelas X di salah satu SMAN di Rengat. Hasil penelitiannya yaitu secara keseluruhan capaian pemahaman konsep siswa yang mendapatkan penerapan pembelajaran menggunakan kombinasi metode inkuiri dan reciprocal teaching lebih baik dibandingkan siswa yang mendapatkan penerapan pembelajaran metode inkuiri. Ditinjau dari indikator pemahaman konsep, capaian indikator translasi, siswa yang dikenai penerapan pembelajaran metode inkuiri lebih baik dibandingkan siswa yang dikenai penerapan pembelajaran kombinasi metode inkuiri dan reciprocal teaching, namun capaian indikator interpretasi dan ekstrapolasi siswa yang dikenai penerapan pembelajaran kombinasi metode inkuiri dan reciprocal teaching lebih baik dibandingkan siswa yang dikenai penerapan pembelajaran metode inkuiri. Secara keseluruhan, tidak ada perbedaan yang signifikan pada capaian pemahaman konsep siswa.Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v7i1.139