Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pemberian Astaxanthin terhadap Kadar Ureum dan Kreatinin Serum Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar yang diinduksi Formaldehid secara Oral
Latar Belakang. Formaldehid sering disalahgunakan sebagai bahan pengawet makanan. Formaldehid yang bersifat sangat reaktif dapat memicu peningkatan produksi radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. Pemberian astaxanthin dapat menghambat terbentuknya radikal bebas sehingga dapat memperbaiki kerusakan pada ginjal. Metodologi. Desain penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan rancangan penelitian pre and posttest-only control group design. Dalam penelitian ini digunakan sebanyak 25 tikus dan dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok kontrol normal diberikan CMC 0,5%; kelompok kontrol negatif diberikan induksi formaldehid; Kelompok dosis 1 diberikan astaxanthin 12 mg/hari; kelompok dosis 2 diberikan astaxanthin 24 mg/hari; kelompok dosis 3 diberikan astaxanthin 48 mg/hari. Data dianalisis dengan uji statistik t berpasangan. Hasil. Pada pengukuran setelah perlakuan (posttest) tidak terjadi penurunan pada rerata kadar ureum dan kreatinin pada kelompok uji dosis 1 dan 2 (p>0.05), namun terjadi penurunan bermakna pada kelompok uji dosis 3 (p<0.05). Kesimpulan. Astaxanthin dosis dosis 48 mg/hari menyebabkan penurunan rerata kadar ureum dan kreatinin yang diinduksi formaldehid
Uji Aktivitas Ekstrak Metanol Daun Kesum (Polygonum minus) sebagai Larvasida Aedes aegypti
Latar Belakang. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia yang disebabkan oleh virus dengue. Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara mengurangi populasi vektor utama penyebaran virus dengue, yaitu Aedes aegypti. Daun kesum mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin yang berpotensi sebagai biolarvasida. Metodologi. Ekstrak metanol daun kesum disiapkan dalam tujuh konsentrasi berbeda, yaitu 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5%, 3% dan 3,5%. Larutan aquades dan temefos digunakan sebagai kontrol negatif dan kontrol positif. Hewan uji yang digunakan adalah larva instar III/IV Aedes aegypti. Kematian larva dalam waktu 24 jam dihitung dan dilakukan analisis data. Hasil. Persentase kematian larva yang dihasilkan oleh ekstrak metanol daun kesum konsentrasi 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5%, 3% dan 3,5% secara berturut-turut adalah 7%, 10%, 19%, 23%, 26%, 37,6% dan 54%. Persentase kematian larva pada kontrol negatif sebesar 0%, sedangkan pada kontrol positif sebesar 100%. Terdapat perbedaan bermakna antara kematian larva yang ditimbulkan oleh berbagai kelompok konsentrasi ekstrak metanol daun kesum dengan kontrol positif. Kesimpulan. Ekstrak daun kesum dalam berbagai konsentrasi memiliki aktivitas sebagai larvasida Aedes aegypti, namun belum lebih efektif dibandingkan dengan temefos. Kata kunci: larvasida, daun kesum, Aedes aegypt
Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil tentang Inisiasi Menyusu Dini di Puskesmas Kom Yos Sudarso Kota Pontianak Tahun 2016
Latar belakang. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, yang mana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri. Persentase pemberian Air Susu Ibu (ASI) dalam 1 jam pertama hanya sebesar 34,5% di Indonesia tahun 2013. Inisiasi Menyusu Dini memiliki dampak positif bagi ibu maupun bayinya. Namun pelaksanaan IMD ternyata sulit untuk dilakukan karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap ibu. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan kuesioner yang telah diuji validitasnya. Penelitian dilakukan di Puskesmas Kom Yos Sudarso Kota Pontianak. Subjek penelitian berjumlah 40 ibu hamil. Hasil penelitian secara deskriptif dianalisis dengan bantuan program SPSS 23.0. Hasil. Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang IMD menunjukan bahwa sebanyak 40% berpengetahuan baik, 45% berpengetahuan sedang dan 15% berpengetahuan kurang baik. Sedangkan gambaran sikap ibu hamil terhadap IMD menunjukan bahwa sebanyak 65% mempunyai sikap baik, 32,5% mempunyai sikap sedang dan 2,5% mempunyai sikap yang kurang baik.
Daya Antelmintik Ekstrak Metanol Daun Kesum (Polygonum minus) terhadap Ascaridia galli secara In Vitro
Latar Belakang. Infeksi cacing merupakan salah satu infeksi yang sering terjadi pada sebagian besar populasi dunia dengan prevalensi lebih dari dua miliar manusia. Askariasis merupakan penyakit infeksi cacing usus Ascaris lumbricoides yang paling sering ditemui dengan prevalensi 25% populasi dunia (0,8-1,22 miliar manusia). Daun kesum merupakan tanaman endemik di Kalimantan Barat yang secara tradisional digunakan sebagai obat cacing namun belum ada penelitian yang membuktikannya. Metodologi. Penelitian ini tediri dari lima kelompok yaitu, kelompok kontrol negatif (NaCl 0,9%), kontrol positif (Albendazol) dan tiga kelompok uji ekstrak metanol daun kesum dengan konsentrasi 0,5 mg/mL, 1 mg/mL dan 2 mg/mL. Hewan uji yang digunakan yaitu Ascaridia galli. Waktu kematian cacing diamati setiap jam. Hasil. Waktu kematian cacing pada kelompok ekstrak metanol daun kesum konsentrasi 0,5 mg/mL, 1 mg/mL dan 2 mg/mL berturut-turut yaitu 32,8±5,12 jam, 31,2±5,17 jam dan 23,2±5,11 jam. Konsentrasi ekstrak 2 mg/mL tidak memiliki perbedaan yang signifikan terhadap kelompok kontrol positif (p=0,262). Kesimpulan. Ekstrak metanol daun kesum memiliki daya antelmintik. Senyawa-senyawa terkandung di dalam ekstrak metanol daun kesum yaitu fenol, flavonoid, tanin, saponin dan alkaloid. Konsentrasi efektif ekstrak metanol daun kesum sebagai antelmintik adalah 2 mg/mL
PERSEPSI PENGELOLA PONDOK PESANTREN WALISONGO KECAMATAN PONTIANAK KOTA TERHADAP PENANGANAN KASUS SKABIES TAHUN 2017
Latar belakang: Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis dan produknya. Scabies merupakan manifestasi klinis yang disebabkan oleh penetrasi kutu parasit obligat pada manusia, Sarcoptes scabies var. hominis ke dalam lapisan epidermis. Skabies menyerang seluruh lapisan masyarakat, dimana wanita dan anak-anak lebih banyak terinfeksi. Penyakit ini umumnya cenderung banyak ditemukan pada area urban, khususnya pada area padat penduduk. Skabies adalah penyakit kulit yang sering dijumpai di kalangan santri di pondok pesantren. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran persepsi pengelola pondok pesantren terhadap penanganan kasus skabies di pondok pesantren Walisongo Kecamatan Pontianak Kota. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi. Dalam penelitian ini yang diteliti adalah pengalaman manusia melalui deskripsi dari orang yang menjadi partisipan penelitian, sehingga peneliti dapat memahami pengalaman hidup partisipan. Penelitian ini juga bersifat deskriptif kualitatif yang diuraikan dengan kata-kata menurut pendapat responden, apa adanya sesuai dengan pertanyaan penelitiannya, kemudian dianalisis pula apa yang melatarbelakangi responden berperilaku (berpikir, berperasaan, dan bertindak). Kesimpulan: Seluruh informan beranggapan bahwa penyakit skabies merupakan penyakit yang sudah sangat biasa terjadi dikalangan santri dan sebagian santri yang pernah tinggal di pondok pesantren pasti pernah mengalami penyakit skabies. Selain itu juga informan beranggapan bahwa penyakit skabies merupakan penyakit yang tidak berbahaya hanya saja penyakit tersebut sangat mengganggu aktifitas bagi penderitanya
Hubungan Dukungan Keluarga dan Kualitas Hidup Pasien HIV/AIDS yang Menjalani Rawat Jalan di Care Support Treatment Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong
Latar belakang. Pontianak merupakan kota di Kalimantan Barat yang menghadapi beban terbanyak orang dengan HIV/AIDS. Pasien HIV di klinik CST Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong Pontianak tahun 2016 sebanyak 190 orang. Banyak pasien HIV yang melawan berbagai masalah sosial yang dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pada pasien HIV yaitu dukungan keluarga. Klinik CST Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong Pontianak belum pernah melakukan penelitian mengenai dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien HIV/AIDS. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2017. Subjek pada penelitian ini adalah pasien HIV/AIDS yang menjalani rawat jalan di Care Support Treatment (CST) Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong Pontianak. Total sampel sebanyak 41 responden. Analisis data dengan teknik chi square. Hasil. Sebanyak 26,8% responden mempunyai kualitas hidup baik dan 34,1% mendapat dukungan keluarga yang baik. Terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien HIV/AIDS (p= 0,012). Kesimpulan. Dukungan keluarga mempengaruhi kualitas hidup pasien HIV/AIDS yang menjalani rawat jalan di Care Support Treatment (CST) Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong Pontianak
Pengaruh Pajanan Akut Formaldehil Oral terhadap Gambaran Histopatologis Duodenum Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar
Latar Belakang. Formaldehid dalam bentuk cairan adalah formalin yang mengandung 37% formaldehid dan air 10% sebagai pelarut. Penggunaan formaldehid sebagai pengawet makanan dapat menyebabkan kerusakan epitel mukosa doudenum. Metode. Desain penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan menggunakan 20 tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok. Sampel dipilih dengan metode simple random sampling. Kelompok kontrol normal (KN) diberikan akuades 2 ml; kelompok perlakuan 1 (K1) diberikan formaldehid sebanyak 50mg/kgBB; kelompok perlakuan 2 (K2) diberikan formaldehid sebanyak 100mg/kgBB; kelompok perlakuan 3 (K3) diberikan formaldehid sebanyak 200mg/kgBB. Semua perlakuan dilakukan selama 2 minggu. Tikus kemudian dimatikan, di bedah dan diambil organ duodenumnya untuk pembuatan preparat duodenum dengan pewarnaan HE. Variabel data adalah kerusakan epitel mukosa duodenum. Data diamati dengan perbesaran lensa objektif 40x. Data dianalisa menggunakan One Way ANOVA kemudian dilanjutkan uji Post Hoct dengan program SPSS 22. Hasil. Terdapat perbedaan bermakna kerusakan epitel mukosa duodenum normal (KN) dengan seluruh kelompok perlakuan (K) (p<0,05). Kesimpulan. Pajanan formaldehid per oral menyebabkan kerusakan epitel mukosa duodenum
AKTIVITAS QUORUM QUENCHING BAKTERI GRAM POSITIF ENDOFIT TANAMAN PEGAGAN (Centella asiatica) TERHADAP Chromobacterium violaceum
Latar Belakang: Quorum quenching adalah mekanisme penghambatankomunikasi bakteri yang dimediasi oleh molekul sinyal ekstraseluler yaituautoinducers (AI). Bakteri endofit tanaman pegagan (Centella asiatica)diduga memiliki aktivitas quorum quenching. Tujuan: Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui aktivitas quorum quenching bakteri Gram positif endofittanaman pegagan terhadap C. violaceum. Metode: Bakteri Gram positifendofit daun pegagan diisolasi, dimurnikan dan disubkultur dengan metodecawan gores. Uji quorum quenching dilakukan dengan metode difusi cakrammelalui pengukuran diameter zona hambat warna. Bakteri yang diperolehdikarakterisasi berdasarkan ciri-ciri dari morfologi koloni, morfologi sel danaktivitas biokimia. Hasil: Dari 42 isolat bakteri endofit yang diisolasi dandimurnikan dari pegagan (C. asiatica), 27 merupakan bakteri Gram positifendofit. Dua puluh isolat bakteri gram positif endofit memiliki aktivitas QQditandai dengan zona hambat warna berkisar antara 2,5 mm-10,15 mmdalam diameter. Tiga isolat yang memiliki kemampuan aktifitas quorumquenching yang paling besar yaitu isolat nomor 26, 1 dan 12 dengan hasilidentifikasi yang termasuk ke dalam genus Micrococcus, Brevibacterium danClavibacter secara berturut-turut. Kesimpulan: Bakteri Gram positif endofittanaman pegagan (C. asiatica) memiliki aktivitas quorum quenching terhadapC. violaceum.Kata Kunci: Quorum quenching, bakteri Gram positif endofit,Chromobacterium violaceu
Efektivitas Ekstrak Akar Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) sebagai Antimalaria terhadap Jumlah Eosinofil pada Mencit (Mus musculus) yang diinfeksi Plasmodium berghei
Latar Belakang. Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium melalui gigitan nyamuk Anopheles betina sebagai vektor malaria. Eosinofil memainkan peran sebagai pelindung selama melawan serangan malaria dengan memicu pembunuhan parasit. Tanaman akar pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) memiliki senyawa yang dapat bekerja sebagai antimalaria. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni secara in vivo dengan rancangan complete randomized design. Uji efektivitas antimalaria menggunakan ekstrak metanol akar pandan wangi dengan konsentrasi 6,5%, 13% dan 26%. Kontrol positif diberi 3,74 mg/mL DHP (Dihydroartremisinin-Piperaquin), kontrol normal tidak diintervensi, sedangkan kontrol negatif diberi akuades. Hasil. Konsentrasi 6,5%, 13% dan 26% memiliki aktivitas antimalaria dengan penurunan persentase parasitemia. Selain itu ketiga konsentrasi tersebut mampu meningkatkan eosinofil namun tidak signifikan. Kesimpulan. Ekstrak akar pandan memiliki aktivitas malaria dengan konsentrasi yang paling baik yaitu 26% dalam penurunan jumlah parasitemia dan peningkatan eosinofil
Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas tentang Kolostrum terhadap Perilaku Pemberian Kolostrum di Puskesmas Sungai Durian
Latar Belakang. Kolostrum adalah ASI yang dihasilkan pada hari pertama sampai hari kelima setelah bayi lahir. Kolostrum mempunyai banyak manfaat, tetapi sebagian masyarakat belum mengetahui pentingnya kolostrum terutama ibu menyusui. Salah satu penyebab dari ketidaktahuan ini dikarenakan mitos yang beredar di masyaraka bahwa kolostrum adalah zat berbahaya yang harus dibuang dan dianggap zat yang tidak diinginkan. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 93 responden. Hasil. Tingkat pengetahuan responden sebagian besar berkategori baik sebanyak 45 orang (38,4%), sedangkan yang berkategori cukup sebanyak 34 orang (36,6%), dan kategori kurang sebanyak 14 orang (15,1%). Perilaku responden terhadap pemberian kolostrum mayoritas memiliki perilaku yang positif sebanyak 67 orang (72%), Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pemberian kolostrum dengan nilai p= 0,000. Kesimpulan. Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pemberian kolostrum