Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
Hubungan antara Pediatric Trauma Score dan Mortalitas pada Pasien Cedera Kepala di RSUD dr. Abdul Aziz Kota Singkawang
Latar Belakang. Cedera kepala merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi didunia dan terbanyak diantara penyebab utama mortalitas serta morbilitas pada anak. Pediatric Trauma Score (PTS) merupakan salah satu alat prediksi yang dapat digunakan dalam menentukan prognosis. Metode. Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian berjumlah 30 orang. Data Pediatric Trauma Score (PTS) dan mortalitas diambil dari rekam medis di RSUD DR Abdul Aziz Kota Singkawang. Analisis data menggunakan uji. Hasil. Analisis data dengan uji chi square mengindikasikan adanya hubungan yang bermakna antara Pediatric Trauma Score (PTS) dan mortalitas (p=0,000). Kesimpulan. Terdapat hubungan antara Pediatric Trauma Score (PTS) dan mortalitas yaitu rendahnya nilai Pediatric Trauma Score (PTS) dapat meningkatkan mortalitas pada pasien cedera kepala. Kata kunci : Cedera kepala, Mortalitas, Pediatric Trauma Score (PTS
Hubungan antara Glasgow Coma Scale dan Tingkat Mortalitas pada Pasien Cedera Kepala dengan Lesi Perdarahan Subarachnoid
Latar Belakang. Salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada usia produktif maupun usia lanjut adalah cedera kepala. Diantara spektrum yang luas dari cedera kepala yang termasuk kedalam cedera otak traumatik, perdarahan subarachnoid karena trauma merupakan salah satu penyebab utama mordibitas. Glasgow Coma Scale (GCS) merupakan instrumen standar yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesadaran pasien trauma kepala. Metode. Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian berjumlah 30 orang. Data Glasgow Coma Scale (GCS) dan mortalitas diambil dari rekam medis di RSUD DR Abdul Aziz Kota Singkawang. Analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil. Analisis data dengan uji Chi-square mengindikasikan adanya perbedaan bermakna antara Glasgow Coma Scale (GCS) dan tingkat mortalitas (p=0,003). Resiko GCS mempengaruhi mortalitas diwakili dengan nilai odd ratio yaitu 11,875 yang berarti pasien cedera kepala sedang (GCS 9-12) dan pasien cedera kepala berat (GCS 3-8) mempunyai peluang 11,875 kali lebih besar untuk meninggal dibandingkan dengan pasien cedera kepala ringan (GCS 13-15). Kesimpulan. Terdapat hubungan antara Glasgow Coma Scale (GCS) dan tingkat mortalitas yaitu terjadi peningkatan mortalitas pada pasien cedera kepala sedang (GCS 9-12) hingga pasien cedera kepala berat (GCS 3-8)
Gambaran Histopatologi dan Kemampuan regenerasi Korteks Ginjal Tikus Putih Jantan Dewasa setelah Penghentian Pajanan Monosodium Glutamat
Latar Belakang. Monosodium glutamat (MSG) merupakan bahan tambahan pada berbagai jenis makanan. Ginjal berperan penting dalam mempertahankan homeostasis dengan mengatur konsentrasi berbagai konstituen plasma dan mengeliminasi semua sampah metabolik. Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa terjadi kerusakan akibat MSG pada korteks ginjal, disertai adanya kemampuan korteks ginjal untuk beregenerasi. Metode. Penelitian ini merupakan studi in vivo dengan pendekatan eksperimental murni. Kelompok kontrol (K) 1,2,3 diberikan aquades selama 28 hari; kelompok perlakuan satu (P1) 1,2,3 diberikan MSG dosis 4g/KgBB/hari selama 28 hari; kelompok perlakuan (P2) 1,2,3 diberikan MSG dosis 6 g/KgBB/hari selama 28 hari kemudian pajanan dihentikan dan dibiarkan selama 1 hari, 28 hari dan 56 hari. Berikutnya dilakukan pembuatan preparat organ ginjal dengan pewarnaan Haematoxylin-Eosin. Variabel yang diukur adalah jumlah korpuskulum ginjal dan tubulus proksimal normal, diamati dengan perbesaran lensa objektif 40x. Data dianalisa dengan menggunakan uji One-Way ANOVA dengan uji Post-Hoc LSD, serta uji Kruskal-Wallis dan uji Mann Whitney. Hasil. Terdapat perbedaan bermakna (p0,05) pada penghentian pajanan MSG hari ke-56 antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan dosis 4 g/KgBB dan 6 g/KgBB menunjukkan terjadi regenerasi pada korpuskulum ginjal dan tubulus proksimal. Kesimpulan. Penghentian pajanan MSG dosis 4 g/KgBB dan 6 g/KgBB pada hari ke-56 menunjukkan adanya regenerasi pada korpuskulum ginjal dan tubulus proksimal
GAMBARAN KOINFEKSI SIFILIS PADA PASIEN HIV/AIDS DI KLINIK MELATIRSUD DR. SOEDARSO PONTIANAK
Latar belakang: Sifilis dapat meningkatkan jumlah virus HIV di dalam darah dan menurunkan jumlah CD4 pada pasien koinfeksi. Pasienpositif HIV sering terjadi koinfeksi dengan sifilis karena berbagai rutetransmisi yang sama seperti pemakaian jarum suntik bersamaan danhubungan seksual.Tujuan: Untuk mengetahui angka prevalensi koinfeksiSifilis pada pasien HIV/AIDS dan karakteristik pasien koinfeksi HIV-Sifilisdi Klinik Melati RSUD Dr. Soedarso Pontianak. Metode: Penelitian inimerupakan penelitian analitik observasional menggunakan desain crosssectional. Penelitian dilaksanakan di klinik Melati RSUD Dr. SoedarsoPontianak dan Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran UniversitasTanjungpura Pontianak. Penilaian koinfeksi HIV-Sifilis berdasarkan hasiluji pemeriksaan immunokromatografi antiSifilis dan penilaian karakteristikberdasarkan rekam medis pasien. Data disajikan dalam bentuk tabel dannarasi Hasil: Dari 98 pasien HIV/AIDS, terdapat 5 pasien (5,1%) koinfeksiHIV-Sifilis. Semua berjenis kelamin laki-laki (100%) dan sebagian besarberada pada rentang umur 23-29 tahun (60%). Jenis pekerjaan terbanyakadalah swasta (80%). Jalur transmisi melalui heteroseksual mendominasi(60%) dan jumlah CD4+≥100 sel/ul adalah yang terbanyak (60%).Kesimpulan: Angka prevalensi koinfeksi HIV-Sifilis pada pasien HIV/AIDSdi klinik Melati RSUD dr. Soedarso Pontianak adalah 5 dari 98 pasienHIV/AIDS. Pasien koinfeksi HIV-Sifilis semua berjenis kelamin laki-laki danberada pada rentang umur 23-29 tahun, jenis pekerjaan terbanyak adalahswasta, jalur transmisi terbanyak adalah heteroseksual dan sebagianbesar memiliki jumlah CD4+ diatas 100 sel/ul. Kata kunci: Koinfeksi, HIV/AIDS, sifili
Aktivitas Anthelmintik Ekstrak Etanol Daun Buas-buas (Premna serratifolia L.) terhadap cacing Ascaridia galli secara in vitro
Latar belakang. Daun buas-buas sebagai obat tradisional diduga memiliki kandungan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai anthelmintik. Metode. Keberadaan senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak di uji degan metode KLT. Sebanyak lima ekor cacing direndam dan direplikasi sebanyak lima kali dalam larutan 100 mg/mL, 200 mg/mL, 400 mg/mL larutan ekstrak daun buas-buas, NaCl 0,9 %, dan 15 mg/mL albendazole. Aktivitas dari ekstrak ini ditentukan berdasarkan hambatan pergerakan dan kematian cacing secara in vitro. Hambatan pergerakan dan kematian cacing diamati tiap jam. Data dianalisis dengan One Way ANOVA dilanjutkan Post Hoc Test LSD. Hasil. Berdasarkan uji KLT yang dilakukan ditemukan bahwa ekstrak etanol daun buas-buas mengandung alkaloid, flavonoid, fenol, tanin, saponin, triterpenoid dan steroid. Hasil Percobaan in vitro menunjukkan bahwa ekstrak daun buas-buas100 mg/mL, 200 mg/mL, 400 mg/mL memiliki efek antelmintik. Kesimpulan. Ekstrak etanol daun buas-buas memiliki aktivitas anthelmintik terhadap cacing Ascaridia galli. Ekstrak paling efektif adalah pada konsentrasi 200 mg/mL. Kata kunci: Premna serratifolia L., Ascaridia galli, kematian, anthelmintic, KL
Kontaminasi Bakteri Escherichia coli pada Makanan Jajanan di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Pontianak Negara
Latar belakang. Makanan jajanan merupakan salah satu jenis makanan yang dikenal oleh masyarakat terutama pada anak sekolah. Makanan jajanan mudah ditemukan dipinggir jalan maupun di lingkungan sekolah. Makanan jajanan memiliki komponen gizi yang tidak sehat dan beresiko tinggi terkontaminasi mikrob yang dapat menyebabkan penyakit diare. Bakteri yang sering dijadikan indikator terjadinya pencemaran makann adalah bakteri Escherichia coli. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan secara cross sectional. Penelitian ini menggunakan metode kuantifikasi bakteri dengan teknik Most Probable Number (MPN) dan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 7 sampel makanan jajanan yang diuji secara kuantifikasi dengan metode MPN melebihi batas maksimum mikrob sebesar 93 - <1100/g MPN dan semua sampel positif terkontaminasi bakteri E. coli sebesar 89%. Kesimpulan. menunjukkan bahwa semua sampel makanan jajanan terkontaminasi sebesar 89% dengan rentang nilai MPN 93 - <1100/g. Kata Kunci : Makanan jajanan, Sekolah Dasar, Escherichia coli, Kelayakan makana
Keberhasilan terapi Anti Retroviral Lini Pertama ditinjau dari CD4 pada Pasien HIV/AIDS di Klinik Melati RSUD dr. Soedarso Pontianak
Latar Belakang. Strategi penanggulangan HIV/AIDS salah satunya dengan memberikan obat antiretroviral (ARV). Keberhasilan program terapi ARV bisa dicapai dengan diikuti kegiatan pemantauan berupa pemantauan klinis atau dengan pemantauan laboratorium dengan melihat jumlah CD4 dalam darah. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif yang menggunakan sampel adalah semua pasien yang mendapatkan terapi ARV lini pertama berdasarkan rekam medis di klinik Melati RSUD dr. Soedarso pada tahun 2013- 2015 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan Sebanyak 22 pasien (73,3%) termasuk dalam kategori berhasil dan 8 pasien (26,7%) masuk dalam kategori gagal. pasien terbanyak yang gagal dalam terapi ARV adalah pasien dengan jenis kelamin laki- laki yaitu sebanyak 6 orang (20%), dan perempuan sebanyak 2 orang (6,7%), terdapat pada kelompok usia 37-44 tahun yaitu sebanyak 3 orang (10%), usia 29-36 tahun sebanyak 2 orang (6,7%), dan kelompok usia 21-28 tahun, 45-52 tahun, dan 53-60 tahun masing- masing sebanyak 1 orang (3,3%), bekerja sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 4 orang (13,3%), sebagai karyawan sebanyak 2 orang (6,7%), dan bekerja sebagai buruh dan ibu rumah tangga masing- masing sebanyak 1 orang (3,3%), mempunyai faktor risiko heteroseksual yaitu sebanyak 8 orang (26,7%), dan mendapat terapi dengan kombinasi Zidovudin+ Lamivudin+ Nevirapin yaitu sebanyak 7 orang (23,3%) dan Tenofovir+ Lamivudin+ Efavirenz sebanyak 1 orang (3,3%). Kesimpulan. Pasien dengan gagal terapi sebanyak 26,7% lebih banyak terjadi pada laki- laki, pada usia 37-44 tahun, mempunyai pekerjaan sebagai wiraswasta, dengan faktor risiko heteroseksual dan mendapatkan terapi kombinasi Zidovudin+ Lamivudin + Nevirapin
Studi Kualitatif Perilaku Mencari Kesehatan dan Praktik Perawatan Diri pada Penderita Filariasis di Kecamatan Teluk Pakedai
Latar Belakang. Lymphatic Filariasis (LF) adalah penyakit yang disebabkan oleh nematode dari famili Filariodidea. Kurang lebih 90% infeksi dari penyakit lymphatic filariasis (LF) ini disebabkan oleh Wuchereria bancrofi. Penyakit ini dapat menimbulkan gejala akut dan gejala kronis. Metode. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif observasional melalui wawancara mendalam (in depth interview) dengan pendekatan cross-sectional. Hasil. Penderita Filariasis Limfatik di Teluk Pakedai pada awal mengalami pembengkakan tidak memeriksakan dirinya atau tidak melakukan kegiatan apa-apa. Perawatan diri yang dilakukan penderita filariasis belum sesuai standar perawatan limfedema. Kesimpulan.Perilaku mencari kesehatan dan perawatan diri penderita Filariasis Limfatik dipengaruhi oleh dukungan keluarga penderita, akses jalan yang tidak baik, jarak yang jauh, dan biaya transportasi serta pembengkakan yang menyebabkan sulitnya penderita bergerak (berjalan) menjadi penghambat bagi penderita memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan dan melakukan perawatan diri
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN, PEKERJAAN DAN UMUR TERHADAP PERILAKU MEROKOK DI KOTA PONTIANAK TAHUN 2015
Latar Belakang: Persentase rumah tangga di Indonesia yang menerapkanperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sejak tahun 2012-2014 cenderungmengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh persentase capaian setiapindikator PHBS tatanan rumah tangga. Di Kota Pontianak indikator perilaku tidakmerokok di dalam rumah memiliki capaian yang rendah sejak tahun 2012. Perilakumerokok tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor karakteristik keluarga, antara lainfaktor tingkat pendidikan, pekerjaan dan umur. Oleh karena itu, perlu dilakukanpenelitian untuk menilai hubungan antara tingkat pendidikan, pekerjaan dan umurterhadap perilaku merokok. Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat pendidikan,pekerjaan dan umur terhadap perilaku merokok di Kota Pontianak tahun 2015.Metodologi: Studi analitik deskriptif dengan pendekatan cross-sectional.Pengumpulan data dan informasi tingkat pendidikan, pekerjaan, umur dan perilakumerokok anggota keluarga atau rumah tangga berasal dari data hasil Survei SosialEkonomi Nasional Kota Pontianak tahun 2015. Analisis data menggunakan uji Chisquaredan uji regresi logistik berganda. Pemilihan sampel menggunakan caranon-probabilistik dengan teknik total sampling. Hasil: Anggota keluarga ataurumah tangga yang merokok diketahui tingkat pendidikan 37,4% rendah, 40,3%menengah, 10,6% tinggi, dan tidak sekolah 11,7%, pada kelompok umur anak0,4%, remaja 9,3%, dewasa 47,6%, paruh baya 34,2% dan tua 8,4%, serta 77,1%bekerja dan 22,9% yang tidak bekerja. Tingkat pendidikan, pekerjaan dan umurmemiliki hubungan yang signifikan (p < 0,05) terhadap perilaku merokok. Nilairisiko relatif (RR) tertinggi 3,00 dan p = 0,002 pada pekerjaan. Kesimpulan:Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik (p < 0,05) antara tingkatpendidikan, pekerjaan dan umur terhadap perilaku merokok di Kota Pontianaktahun 2015 dan pekerjaan menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadapperilaku merokok dibanding tingkat pendidikan dan umur. Kata Kunci: Hubungan, Tingkat Pendidikan, Pekerjaan, Umur, Perilaku Merokok,Risiko Relatif dan Regresi Logistik Berganda
Studi Docking Senyawa Apigenin terhadap Reseptor p66 dan p51 Reverse Transkriptase Human Immunodeficiency Virus
Latar Belakang. Acquired Immunodeficiency Disease (AIDS) masih menjadi kendala dalam tantangan kesehatan sementara pengobatan retroviral ditemukan resistensi, efek yang tidak diinginkan, kegagalan terapi dan masalah kepatuhan pasien sehingga dibutuhkan penemuan obat baru. Studi ini menganalisis peluang mekanisme aksi molekuler nukleosida reverse transcriptase inhibitor (NRTI) dan non nukleosida reverse transcriptase inhibitor (NNRTI) senyawa apigenin. Metode. Analisis afinitas yaitu energi interaksi apigenin dan enzim reverse transcriptase HIV dilakukan menggunakan Program Autodock Vina 1.1.2 version dengan Autodock Tools dan analisis residu asam amino reseptor yang terikat dengan apigenin menggunakan Discovery Studio 4.5. Hasil. Hasil analisis menunjukkan afinitas yaitu energi interaksi reseptor substrat enzim reverse transcriptase HIV-1 dengan apigenin dan nevirapin untuk mekanisme NRTI berturut turut -8,5 dan -7,5. Sedangkan energi interaksi reseptor enzim reverse transcriptase HIV-1 dengan apigenin dan zidovudin untuk mekanisme NNRTI berturut turut -8,3 dan -6,4. Asam amino reseptor yang terikat dengan apigenin dan nevirapin ada pada bagian jari dan telapak tangan domain Polimerase dari enzim reverse transcriptase HIV-1. Sedangkan asam amino reseptor yang terikat dengan apigenin dan zidovudin ada pada RNA substrat dari enzim reverse transcriptase HIV-1. Kesimpulan. Apigenin memiliki mekanisme obat NRTI dan NNRTI