Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
Hubungan Ekspresi Emosi Family Caregiver dan Frekuensi Rehospitalisasi Pasien Skizofrenia di RSDJ Sungai Bangkong Pontianak
Latar Belakang. Skizofrenia adalah gangguan mental berat berupa ketidakserasian antara afeksi, kognitif dan perilaku dengan resiko relaps yang tinggi. Berdasarkan laporan data, total pasien rawat inap dengan diagnosis skizofrenia di RSJD Sungai Bangkong pada Desember 2016 adalah 77 orang, di mana 35 orang diantaranya telah mengalami rehosptalisasi dalam dua tahun terakhir. Family caregiver berperan dalam melakukan tugas perawatan pasca hospitalisasi pasien. Tingkat rehospitalisasi pasien dikaitkan dengan sikap dan ekspresi emosi (EE) tinggi family cargiver dalam interaksinya dengan pasien. Metode. Studi analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-November 2017. Pengukuran EE menggunakan kuesioner Family Questionnaire (FQ) versi Indonesia. Subyek pada penelitian ini adalah caregiver dan anggota keluarga pasien skizofrenia di RSJD Sungai Bangkong Pontianak dengan riwayat rehospitalisasi selama dua tahun terakhir. Pemilihan subyek menggunakan cara non-probabilistik dan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 23 orang. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil. Family caregiver yang memiliki tingkat ekspresi emosi tinggi sebanyak 11 orang (47,82%) dan pasien skizofrenia dengan frekuensi rehospitalisasi tinggi sebanyak 15 orang (65,22%). Terdapat hubungan antara ekspresi emosi family caregiver dengan frekuensi rehospitalisasi pasien skizofrenia (p=0,012). Kesimpulan. Ekspresi emosi family caregiver mempengaruhi frekuensi rehospitalisasi pasien skizofrenia di RSJD Sungai Bangkong
Domestikasi Tumbuhan Potensi Obat Ciplukan (Physalis angulata L.) dengan Aplikasi Mikoriza Arbuskula dan Pupuk NPK
Latar Belakang. Kalimantan Barat dengan hutan tropisnya memiliki keanekaragaman hayatiyang cukup tinggiyang tumbuh di berbagai jenis tanah, baik tanah podsolik, aluvial, maupun gambut. Khusus tanah gambut, yangmemiliki tingkat kejenuhan basa dan kesuburan tanah yang rendah, bereaksi masam, banyak senyawa toksik,pathogen tanah yang tinggi, ternyata memiliki beberapa jenis tumbuhan pionir yang mampu tumbuh di kondisilingkungan tumbuh yang suboptimal tersebut. Salah satu tumbuhan liar yang mampu beradaptasi di lahangambut adalah ciplukan (Physalis angulata L.). Metodologi. Penelitian disusun dengan Split Plot Design.Perlakuan terdiri atas 2 Faktor. Faktor I adalah faktor mikoriza arbuskula (M) sebagai petak utama, terdiri dari2 taraf ( m0= tanpa mikoriza arbuskula, dan m1 = dengan mikoriza arbuskula). Faktor II adalah pemupukan (P),yaitu taraf pupuk yang semakin berkurang , terdiri dari 5 taraf (p0 = 100% pupuk rekomendasi ; p1 = 75%pupuk rekomendasi; p2 = 50% pupuk rekomendasi; p3 = 25%pupuk rekomendasi ; p4 = 0% pupukrekomendasi / tanpa pemupukan). Setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali, setiap ulangan terdiri dari 3sampel, sehingga terdapat 90 satuan . Hasil. Penelitian menunjukkan bahwa Faktor tunggal mikoriza danpemupukan NPK pada tanaman ciplukan memberikan pengaruh sangat nyata pada semua variabel pengamatan,sedangkan interaksi kedua faktor tidak memberikan pengaruh nyata terhadap seluruh variabel pengamatan.Pemberian pupuk mikoriza meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabangproduktif, mempercepat munculnya bunga, jumlah buah pertanaman, dan berat buah pertanaman.Kesimpulan. Terjadi perbaikan pertumbuhan dan hasil untuk semua variabel pengamatan dengan aplikasipupuk hayati Mikoriza, serta diketahui pertumbuhan dan hasil ciplukan lebih baik pada aplikasi pupuk NPKyang lebih efisien hingga 50% pemupukan.Kata kunci : mikoriza arbuskula, ciplukan, efisiensi pemupuka
Hubungan Tingkat Stress dalam Menghadapi Ujian Objective Structured Clinical Examination dan Gejala Insomnia pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Tanjungpura
Latar belakang. Mahasiswa kedokteran adalah peserta didik yang mengikuti proses pendidikan akademik, profesi, residensi, magang, untuk mencapai kompetensi dokter, dokter spesialis, dokter subspesialis, dokter gigi, dokter gigi spesialis dan dokter gigi subspesialis yang diisyaratkan. Mahasiswa sebagai peserta didik tidak terlepas dari ujian, ujian merupakan salah satu stressor yang sering dialami dan dapat menyebabklan insomnia. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik menggunakan desain potong lintang menggunakan kuesioner DASS dan kuesioner KSPBJIRS. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak. Sebanyak40 responden menjadi sampel dalam penelitian ini. Hasil penelitian diuji dengan uji statistik Spearman dengan bantuan program SPSS 20.0. Hasil. 11 orang stres sangat berat, 10 orang stres berat, 4 orang stres sedang, 8 orang stres ringan, 7 normal, serta 11 orang mengalami insomnia berat, 18 orang insomnia ringan dan 11 orang normal.. Berdasarkan analisis statistik diperoleh nilai signifikansi (p) yang didapatkan dengan uji Spearman adalah 0,000 dan nilai korelasi (r) adalah 0,557. Kesimpulan. Terdapat hubungan hubungan antara tingkat stres dengan gejala insomnia Kata kunci: stres, insomnia, ujian OSCE, UKMPP
GAMBARAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU BTA POSITIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI KAKAP KABUPATEN KUBU RAYA TAHUN 2016-2017
Latar Belakang: Angka keberhasilan pengobatan (SR) merupakanindikator yang digunakan sebagai evaluasi pengobatan TB yangmerupakan penjumlahan angka kesembuhan dan angka pengobatanlengkap. Di Puskesmas Sungai Kakap diketahui keberhasilan pengobatansebesar 78% pada tahun 2016 dan sebesar 90% pada tahun 2017.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran keberhasilanpengobatan pada pasien TB Paru BTA positif di Wilayah kerja PuskesmasSungai Kakap kabupaten Kubu Raya tahun 2016-2017. Metodologi:Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatanstudi case series. Total sampel sebanyak 55 orang menggunakan telaahdokumen formulir TB 03 dan kuesioner. Pengambilan sampel dilakukandengan metode purposive sampling yaitu dengan cara consecutivesampling. Data dianalisis dengan analisis univariat. Hasil: Mayoritasresponden adalah laki-laki (60%), 54,4% responden dengan umur 26-45tahun, 44,7% responden dengan pendidikan dasar, pengetahuanresponden sebagaian besar adalah kurang (49,1%), 56,4% respondenyang bekerja, 61,8% responden memiliki penghasilan perbulan ≤2.075.000, 65,5% responden bukan perokok, 58,2% responden denganakses jauh ke pelayanan kesehatan. Sebagian besar respondenmerupakan pasien baru dengan pengobatan kategori I (74,5%). Sebagianbesar PMO berasal dari keluarga (83,6%) dan sebagian besar PMOberperan baik (56%). Mayoritas motivasi responden baik (56%) dari dirisendiri, motivasi sedang dari keluarga (47%) dan motivasi kurang daripetugas kesehatan (47%). Kesimpulan: Pengetahuan, peran PMO sertamotivasi baik dari diri sendiri, keluarga maupun petugas kesehatanmendukung keberhasilan pengobatan pasien.Kata Kunci: TB Paru, Keberhasilan Pengobatan, Karakteristik Individu,Tipe pasien, Kategori Pengobatan, PMO, Peran, Motivasi
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU TENTANG CUCI TANGAN PADA PEGAWAI RUMAH SAKIT PENDIDIKAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK TAHUN 2017
Latar Belakang: Risiko infeksi di rumah sakit atau yang biasa dikenal dengan infeksinosokomial atau Health Care Assosciated Infection (HCAI) merupakan masalah pentingdi seluruh dunia. World Health Organization (WHO) sebagai induk organisasi kesehatandunia telah mengkampanyekan program keselamatan pasien, salah satunya adalahmenurunkan risiko HCAI. Cuci tangan atau hand hygiene menjadi salah satu langkahyang efektif untuk memutuskan rantai transmisi infeksi, sehingga insidensi HCAI dapatberkurang. Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan dan perilaku tentang cucitangan pada pegawai Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak tahun2017. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatancross sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner untuk menilai pengetahuandan observasi untuk menilai perilaku reseponden. Total sampel yang diberikan kuesionersebanyak 153 responden dan yang diobservasi sebanyak 50 responden. Pemilihansampel dalam penelitian ini ditentukan dengan cara total sampling. Hasil: Pengetahuanresponden mengenai cuci tangan paling banyak berada pada kategori cukup yaitusebanyak 66 orang (43,14%), diikuti dengan kategori baik sebanyak 60 orang (39,21%),dan kategori kurang sebanyak 27 orang (17,65%). Perilaku responden mengenai cucitangan paling banyak berada pada kategori cukup yaitu sebanyak 25 orang (50%%),diikuti dengan kategori baik sebanyak 22 orang (44%), dan kategori kurang sebanyak 3orang (6%). Kesimpulan: Pengetahuan tentang cuci tangan pada pegawai Rumah SakitPendidikan Universitas Tanjungpura berada dalam kategori cukup yaitu sebesar 43,14%(66 dari 153 responden). Sedangkan perilaku tentang cuci tangan pada pegawai RumahSakit Pendidikan Universitas Tanjungpura berada dalam kategori cukup yaitu sebesar50% (25 dari 50 responden). Kata Kunci: Cuci tangan, Pengetahuan, Perilaku1. Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura,Pontianak, Kalimantan Barat.2. Departemen Anak, Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soedarso, Pontianak,Kalimantan Barat.3. Departemen Histologi, Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran,Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat
HUBUNGAN ANTARA USIA IBU TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PREOPERASI SECTIO CAESAREA (SC) YANG PERTAMA DI RUMAH SAKIT BERSALIN NABASA, MULIA, DAN ANUGRAH
Latar Belakang: Sectio caesarea merupakan suatu persalinan buatandimana janin dilahirkan melalui insisi dinding perut dan dinding rahimdalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram. Tindakanpembedahan Sectio caesarea merupakan tindakan yang umumnyamenyebabkan munculnya kecemasan pada seseorang yang bervariasidari tingkat ringan sampai berat. Umur atau usia adalah satuan waktuyang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yanghidup maupun yang mati. Usia termasuk kedalam faktor internal yangmempengaruhi kecemasan pada ibu hamil. Usia juga menjadi faktorresiko kecemasan pada ibu hamil saat akan melakukan Operasi Sectiocaesarea. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungananatara usia ibu terhadap tingkat kecemasan pada pasie preoperasiSectio caesarea yang pertama kali di Rumah Sakit Bersalin SwastaPontianak. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian analitikdengan pendekatan Cross sectional. Metode pengambilan sampel yangdigunakan adalah Total sampling. Sampel penelitian berjumlah 50responden. Data mengenai tingkat kecemasan didaptkan dari hasilkuesioner Hamilton Rating for Anxiety. Analisis statistic yang digunakanChi-square. Hasil: Hasil analisis statistic menggunakan uji Chi-squaremenunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara usia ibu terhadaptingkat kecemasan pada responden yaitu pasien preoperasi Sectiocaesarea (p>0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermaknaantar usia ibu terhadap tingkat kecemasan pada pasien preoperasi Sectiocaesarea yang pertama kali.Kata Kunci : Usia Ibu, Tingkat Kecemasan, Preoperasi Sectio caesare
PENGARUH KONSUMSI KOMBINASI PEMANIS BUATAN SIKLAMAT DAN SAKARIN TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH DAN TOLERANSI GLUKOSA
Latar Belakang: Pemanis buatan rendah kalori adalah salah satu dari zat aditifyang paling sering digunakan diseluruh dunia. Konsumsi pemanis buatan rendahkalori direkomendasikan pada penderita obesitas ataupun diabetes, meskipundata-data ilmiah yang mendukungnya tidak jelas dan kontroversial. Tujuan: Mengetahui pengaruh konsumsi kombinasi sakarin dan siklamat terhadap kadar glukosa darah puasa (GDP) dan nilai area under the curve (AUC) test toleransiglukosa oral (TTGO) pada tikus (Rattus norvegicus) jantan galur wistar. Metode:Penelitian ini merupakan studi eksperimental pada tikus putih (Rattusnorvegicus) jantan galur Wistar yang mendapat perlakuan mengkonsumsipemanis buatan rendah kalori (Sakarin, Siklamat dan Kombinasi Sakarin denganSiklamat) selama 5 minggu. Pada akhir perlakuan, darah tikus diambil untukmengukur glukosa darah dengan glucose check unit. Hasil yang didapatkandianalisis dengan uji statistik One-way ANOVA dilanjutkan dengan post hoc test.Hasil: Hasil yang didapat menunjukkan perbedaan bermakna rerata glukosadarah puasa antara ketiga kelompok perlakuan dibanding kelompok kontrol,sedangkan perbedaan area under the curve ditemui antar kelompok akuadesdengan kelompok kombinasi sakarin dan siklamat. Kesimpulan: Konsumsikombinasi pemanis buatan rendah kalori sakarin dan siklamat menunjukkanpeningkatan glukosa darah puasa dan nilai area under the curve test toleransiglukosa oral yang bermakna pada tikus galur wistar.Kata Kunci: Sakarin, Siklamat, Kadar Glukosa Dara
Hubungan Orang Tua Perokok terhadap Kebiasaan Merokok pada Siswa SMK-SMTI Pontianak
Latar Belakang. Merokok adalah menghirup asap hasil dari pembakaran tembakau yang terbungkus dalam rokok, pipa, atau cerutu. Pada umumnya perokok mulai menginisiasi untuk merokok pada masa remaja dan dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya orang tua. Orang tua yang merokok memiliki risiko sebesar 2,81 kali anaknya juga perokok. Provinsi Kalimantan barat menempati urutan ketiga nasional dalam hal proporsi usia mulai merokok usia 15-19 tahun dengan presentase 57,4%. Kota Pontianak yang merupakan ibu kota dari Provinsi Kalimantan Barat memiliki presentase perokok usia 13-15 tahun yang tinggi yaitu sebanyak 14,7%. Guru Bimbingan Konseling SMK-SMTI mendapatkan laporan sekurangnya 1 hingga lebih dari 10 kasus siswa yang merokok di area yang dilarang setiap bulannya selama januari sampai juli 2017. Metode. Desain penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan metode penelitian Cross-sectional. Penelitian dilakukan pada tanggal 7 sampai dengan 11 Agustus 2017. Penelitian ini menggunakan metode stratified sampling pada proses pemilihan sampelnya dengan sampel siwa-siswi SMK-SMTI kelas XI. Sampel berjumlah 211 responden. Data diperoleh dengan membagikan kuisioner. Data yang didapat dianalisis dengan uji statistik chi-square Hasil. Sebanyak 21,8% responden merupakan seorang perokok. Sebanyak 64,92% responden memiliki orang tua yang merupakan seorang perokok. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan antara perilaku merokok orang tua dengan perilaku merokok pada siswa (P=0,647) dengan nilai CI 95% 0,1402-0,2770. Kesimpulan. Tidak ada hubungan yang bermakna antara orang tua perokok dan perilaku merokok siswa SMK-SMTI Pontianak
Gambaran Kepadatan Tungau Debu Rumah Spesies Dermatophagoides pteronyssinus dan Dermatophagoides farinae yang ditemukan pada Habitat Kasur Rusunawa Universitas Tanjungpura
Latar Belakang. Tungau Debu Rumah (TDR) merupakan parasit yang terdapat pada debu yang ada di lingkungan rumah. Banyak ditemukan pada debu kasur, dan dapat pula ditemukan pada karpet serta perabotan rumah tangga lainnya. Dermatophagoides pteronyssinus dan Dermatophagoides farinae umumnya ditemukan pada debu rumah dan berkaitan dengan reaksi alergi. Lingkungan dalam kasur yang hangat dan lembab sangat cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan tungau. Metode. Penelitian survei deskriptif dengan metode yang dilakukan secara potong lintang. Jumlah sampel sebanyak 38 orang. Variabel penelitian ini adalah Tungau Debu Rumah spesies Dermatophagoides pteronyssinus dan Dermatophagoides farinae dalam debu yang berasal dari habitat kasur kapuk dan busa di kamar penghuni rusunawa. Hasil. Kepadatan TDR spesies Dermatophagoides pteronyssinus paling tinggi terdapat pada habitat kasur busa (7.67 tungau/gram debu). Dermatophagoides farinae dengan kepadatan di kasur busa tinggi dibandingkan kasur kapuk (2.24 tungau/gram debu). Kepadatan keseluruhan pada habitat kasur (16.35 tungau/gram debu) dengan kepadatan tungau paling tinggi di kasur busa (9.90 tungau/gram debu). Kesimpulan. Kepadatan tungau debu rumah spesies Dermatophagoides pteronyssinus dan Dermatophagoides farinae di Rusunawa Universitas Tanjungpura Kecamatan Pontianak Tenggara paling tinggi terdapat di kasur busa
Hubungan antara Perempuan Perokok Pasif dan Kejadian Stroke di RSUD Abdul Aziz Singkawang
Latar Belakang. Stroke atau penyakit serebrovaskuler mengacu kepada setiap gangguan neurologik mendadak akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui sistem suplai arteri otak. Salah satu faktor resiko stroke yaitu rokok. Rokok adalah salah satu produk tembakau yang dimaksudkan untuk dibakar dan diisap dan/ atau dihirup asapnya. Asap Rokok menimbulkan polusi terhadap perokok pasif dan lingkungan sekitarnya. Berbagai penelitian membuktikan perokok pasif mempunyai risiko yang lebih besar dari perokok aktif untuk terkena penyakit jantung koroner, stroke, emphysema, kanker paru, yang semuanya itu merupakan sebab utama kematian. Kebanyakan perokok pasif merupakan perempuan dan anak. Dengan demikian perokok pasif merupakan masalah perempuan dan anak karena dampak negatif dari asap rokok terhadap kesehatan mereka. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini melibatkan 38 pasien wanita yang terpapar asap rokok dan dilakukan pencocokan dalam hal umur serta pekerjaan. Hasil. uji statistik menunjukkan terdapat hubungan antara perempuan perokok pasif dengan kejadian stroke di RSUD Abdul Aziz Singkawang (p=0,036). Kesimpulan. Terdapat hubungan antara perempuan perokok pasif dengan kejadian stroke di RSUD Abdul Aziz Singkawang