Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN DERAJAT OBSTRUKSI PARU DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA PPOK DI RSUD DR. SOEDARSO PONTIANAK
Latar belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah kondisi kronis suatu penyakit yang menyebabkan kecacatan dan kematian.Kualitas hidup penderita PPOK merupakan ukuran penting yang dinilaikarena berhubungan dengan keadaan sesak yang akan menyulitkanpenderita melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari atau terganggu statusfungsionalnya seperti merawat diri, mobilitas, makan, berpakaian danaktivitas rumah tangga. Tujuan: Untuk mengetahui karakterisik dan hubungan derajat obstruksi paru terhadap kualitas hidup penderita PPOKdi Poliklinik Paru RSUD dr. Soedarso. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain studi analitik observasional dengan pendekatanwaktu cross-sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian iniberjumlah 51 orang. Pengumpulan data diambil dari hasil diagnosis,rekam medis, wawancara, kuesioner dan pemeriksaan spirometri. Datadianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil: Kelompok usia terbanyakadalah 51- 60 tahun (41,2%), jenis kelamin laki – laki (92,2%), pensiunan(25,5%), SMA (33,3%), adanya riwayat merokok (84,3%), 21 pasien(41,2%) mengalami derajat obstruksi paru berat dan 29 pasien (56,9%)mengalami kualitas hidup yang buruk. Terdapat hubungan yang bermaknaantara derajat obstruksi paru dengan kualitas hidup (p = 0,000) dengankoefisien korelasi sedang (r = 0,589). Kesimpulan: Derajat obstruksi paruyang berat secara bermakna positif menyebabkan kualitas hidup yangburuk. Kata kunci: PPOK, derajat obstruksi paru, kualitas hidu
HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN (Hb), INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DAN TEKANAN DARAH DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD DOKTER SOEDARSO PONTIANAK BULAN APRIL 2013
Background.Prevalence of ChronicRenalFailure (CRF) is increasing andbecome a problem in world health. According to National KidneyFoundation (NKF), anemia, malnutritionand hypertension can affect the lifequality of CRF patients who undergoing hemodialysis. Poor life quality canincrease mortality.Purpose.To determine the relationship betweenhemoglobin (Hb) levels, BodyMass Index (BMI)and blood pressure with lifequality of CRF patients who undergoing hemodialysis.Method.Thisresearch was an analytical descriptive study with cross sectional design.The data retrieval is by looking at the medical records of patients. Lifequality was measured by questionnaire WHOQOL-BREF which consistedof 26 questions. Bivariate analysis used Chi-Square test with Fisher testas alternative and multivariate analysis used logisticregression.ResearchResults.Number of samples were 49 people, mostaged between 51-60 years old, most sex were male, 43 people (87.8%)were anemia, 6 people (12.2%) were not anemia, 43 people (87.8%) hadunder until normal BMI categorized as malnourished, 6 people (12.2%)had a BMI of over until obese, 45 people (91.8%) had hypertension, 4people (8.2%)had not hypertension and 40 people (81, 6%) had a poorquality of life and 9 people (18.4%) had a good quality of life. There is arelationship between Hb levels with life quality (p = 0.000). The variablethat affect the life quality the most were Hb level (OR= 180,000) and IMT(OR= 36,000).Conclusion.Anemia, malnutrition and hypertension occurred in most HDpatients. Hb levels related to life quality and is the variable that affect themost to life quality of HD patients in RSUD DokterSoedarso Pontianak.Keywords.CRF, HD, life quality, Hb levels, BMI, blood pressure1. Medical EducationProgram, Faculty of Medicine, TanjungpuraUniversity, Pontianak, WestKalimantan.2. Department of Internal Medicine, KharitasBakti Hospital, Pontianak, West Kalimantan.3. Medical Research Unit (MRU), Faculty of Medicine, Tanjungpura University, Pontianak, WestKalimantan
PERBEDAAN A BODY SHAPE INDEX DAN BODY MASS INDEX SEBAGAI PREDIKTOR HIPERTENSI PADA PNS PRIA KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KALIMANTAN BARAT DI PONTIANAK Tahun 2014
Background: Body Mass index (BMI) has long been used to evaluate thebody mass and is used to assess a person's health risks. A Body ShapeIndex (ABSI), a new measurement method showed better correlation to theaverage incidence of mortality compared with BMI. Body weight and bloodpressure are closely related, as weight gain, blood pressure will rise.Objective: to compare BMI and ABSI as a predictor of hypertension in menworkers tax office West Kalimantan Pontianak. Method: This study usedcross-sectional design, 43 subjects, aged 24-60 years, men were taken. allwere measured blood pressure, waist circumference, weight and height,then ABSI and BMI value were calculated. Result: BMI mean is 26,43. ABSImean is 0,07. Systolic blood pressure mean is 121,39 mmHg. Diastolicblood pressure mean is 81,60 mmHg. There was no significant correlationbetween BMI or ABSI compared to blood pressure(p=0, 240 and p=0,692).Conclusion: ABSI nor BMI had no significant relationship to bloodpressure.Key Words: Body Mass Index, A Body Shape Index, Blood PressureNote:1. Medical School, Faculty of Medicine, University Of Tanjungpura,Pontianak, West Kalimantan.2. Departement Of Nutrition, Faculty of Medicine, University OfTanjungpura, Pontianak, West Kalimantan.3. Departement Of Physiology, Faculty of Medicine, University OfTanjungpura, Pontianak, West Kalimantan
HUBUNGAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) DAN KEBIASAAN KELUARGA DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KOTA PONTIANAK TTAHUN 2013
Background: Dengue Hemorragic fever (DHF) is an infection deseasescaused by dengue virus through vector of Aedes aegypti mosquito.Kalimantan Barat province had the largest cased caused by DBD inPontianak city. Numbers of DBD cases in 2009 is 3.893. Objective: Theaims of this research are to find out the relationship of mosquitos nestelimination including covering the water container, draining the watercontainer, burying unused things, not hanging clothes,using the mosquitonet, using repellent and temephos, and raising a wiggler eating fish towardthe occurrence of DHF in Pontianak at 2013. Methods: This research wasobservasional analytic research applying case-control design. This researchconducted in June 2014. Total population of this research was 100 samples,separated into two subject, 50 each control and case . Data had beencollected with the questionnaire instrument. Consecutive sampling used forcase and perposive sampling for control as sampling. Data had beenanalyzed with Chi Square technique test. Result: The results showed thatthere are a significant relationship towards DHF were draining the bathingcontainer (p= 0,002), covering the water container (p= 0,000), using repellent(0,001) and temephos using (p= 0,000). Multivariate analysis result showedthat probability of an individual with DHF if do not draining the watercontainer,using repellent and temephos is 92%. Conclusion: Covering thebathing container, draining the water container, using repellent and temephos using had a significant relationship towards the occurrence of DHF .Keywords: Dengue Hemorragic Fever, DHF Preventive Behavior,Occurrence of DHF1. Medical Education Program, Faculty of Medicine, Tanjungpura University, Pontianak, West Kalimantan2. Department of Public Health, Medical Education Program, Faculty of Medicine, Tanjungpura University, Pontianak, West Kalimantan3. Department of Histology, Medical Education Program, Faculty of Medicine, Tanjungpura University, Pontianak
UJI PENGARUH PEMBERIAN DEKOKTA ANGKAK (BERAS FERMENTASI Monascus purpureus sp) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN TIKUS (Rattus novergicus) JANTAN GALUR WISTAR SETELAH INDUKSI CISPLATIN
Latar Belakang: Anemia merupakan masalah medis yang paling seringdijumpai di klinik di seluruh dunia dengan perkiraan penderita lebih dari30% penduduk dunia menderita anemia dan sebagian besar tinggal didaerah tropis. Angkak merupakan produk fermentasi kapang Monascuspurpureus yang sering digunakan masyarakat sebagai ramuan penambahdarah secara empiris. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiefek dekokta angkak terhadap kadar hemoglobin tikus jantan galur wistaryang telah mengalami penurunan kadar hemoglobin setelah induksicisplatin. Metodologi: Penyarian angkak dilakukan dengan metodedekokta yang dilanjutkan dengan skrining fitokimia medote tes tabung.Sampel dalam penelitian ini adalah 30 ekor tikus jantan galur wistar yangdibagi kedalam 6 kelompok. Induksi cisplatin dilakukan secara intravenadengan dosis 7 mg/kg BB. Pemberian angkak dilakukan secara oraldengan dosis 37,8 mg/kg BB, 56,7 mg/kgBB, 75,6 mg/kg BB dan 151,2 mg/kgBB. Sampel darah diambil dari vena lateral ekor. Analisa datamenggunakan uji T-test berpasangan yang dilanjutkan dengan uji ANOVAdan uji post-hoc LSD. Hasil: Berdasarkan skrining fitokimia dekoktaangkak mengandung terpenoid, fenol, flavonoid, tanin, dan saponin. Uji Ttestberpasangan pada kelompok uji menemukan tidak terdapatperbedaan bermakna antara kadar hemoglobin sebelum dan sesudahpemberian angkak. Uji ANOVA menemukan perbedaan bermakna antarakelompok kontrol tanpa perlakuan dengan kelompok kontrol negatif dankelompok dosis 151,2 mg/kg BB. Tidak ditemukan perbedaan antarakelompok kontrol negatif dengan kelompok yang diberikan perlakuanangkak. Kesimpulan: pemberian dekokta angkak pada dosis 37,8 mg/kgBB, 56,7 mg/kgBB, 75,6 mg/kg BB dan 151,2 mg/kgBB tidakmemberikan perbedaan kadar hemoglobin yang bermakna dibandingkankontrol negatif. Kata Kunci : Hemoglobin, dekokta angkak, induksi cisplatin, tikus wistar Keterangan : 1) Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat2) Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat3) Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Bara
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI INFUSA DAUN KESUM (Polygonum minus Huds.) TERHADAP Staphylococcus aureus
Latar Belakang: Penyakit infeksi merupakan salah satu penyebabmasalah kesehatan masyarakat terutama di negara berkembang sepertiIndonesia. Salah satu bakteri penyebab morbiditas dan mortalitas padamanusia adalah Staphylococcus aureus. Tanaman kesum (Poligonumminus Huds.) merupakan tanaman yang banyak terdapat di KalimantanBarat. Data empiris menunjukkan bahwa air rebusan daun kesum seringdigunakan dalam pengobatan tradisional. Penelitian sebelumnyamenunjukkan ekstrak daun kesum memiliki sifat antibakteri. Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri infusa daunkesum terhadap Staphylococcus aureus dengan menentukan konsentrasihambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM) sertamengetahui kandungan metabolit sekunder didalamnya. Metodologi:Skrining fitokimia infusa daun kesum dilakukan dengan uji tabung. Ujiaktivitas antibakteri dilakukan dengan metode makrodilusi terhadapStaphylococcus aureus untuk mendapatkan KHM dan KBM. Data yangdidapatkan kemudian dianalisa menggunakan uji Kruskal-Wallis yangdilanjutkan dengan uji Mann-Whitney, dan uji korelasi Spearman. Hasil:Berdasarkan skrining fitokimia infusa daun kesum mengandung fenol,flavonoid, tanin, dan triterpenoid. Infusa daun kesum memiliki KHMsebesar 12,5% terhadap Staphylococcus aureus, sedangkan KBM tidakdidapatkan. Analisa statistik menunjukkan konsentrasi infusa daun kesumyang menurunkan jumlah koloni secara bermakna adalah konsentrasi0,19%, 0,78%, 1,56%, 3,12%, dan 100%. Uji korelasi menunjukkanvariabel pertumbuhan koloni bakteri memiliki korelasi berlawanan arahyang sangat kuat (r= -0,987) dengan konsentrasi infusa. Kesimpulan:Infusa daun kesum memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcusaureus.Kata Kunci: Antibakteri, infusa, daun kesum, Staphylococcus aureu
UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN SINGKONG (Manihot utilissima Pohl) SEBAGAI LARVASIDA Aedes aegypti
Background. Dengue Haemorrhagic Fever is a very dangerous virusdisease because it can cause people die quickly (a few days). One of theefforts to overcome the disease is using larvacide. Cassava’s leaves(Manihot utilissima Pohl) contain saponins and flavonoids that havelarvacide activity. Objective. The purpose of this research is to know theactivity of cassava’s leaves ethanol extract as larvacide of Aedes aegypti,to know the compounds that contained in cassava’s leaves, to determineconcentration of cassava’s leaves ethanol extract which has larvacideactivity with LCand to analyze larvacide activity comparison betweencassava’s leaves ethanol extract and temephos. Methodology. 1125instar III/IV Aedes aegypti larvae were used for this experiment whichdivided into nine groups. The groups were one negative control group(aquades), one positif control group (temephos) and seven experimentalgroups with concentration of 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5%, 3% and 3,5%.Each group consist of 25 larvae. Each experiment was replicated fivetimes. Mortality rate data was analyzed with One Way Anova Test andthen continued with Tukey Test. Probit Analysis was used to know thevalue of LC9090,. Results. Cassava’s leaves ethanol extract has larvacideactivity to Aedes aegypti with LCvalue at 2,613%. There is nosignificance difference of larvacide activity between cassava’s leavesethanol extract with concentration of 3% and 3,5% compared to temephos.Conclusion. Cassava’s leaves ethanol extract has larvacide activity toAedes aegypti.90Keywords: Ethanol extract, cassava’s leaves, larvacide, Aedes aegypti1)Medical School, Faculty of Medicine, University of Tanjungpura,Pontianak, West Borneo2)Pharmacy School, Faculty of Medicine, University of Tanjungpura,Pontianak, West Borneo3)Departement of Parasitology, Medical School, Faculty of Medicine,University of Tanjungpura, Pontianak, West Borne
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS KEBISINGAN MUSIK DISKOTIK DAN MASA KERJA DENGAN FUNGSI PENDENGARAN KARYAWAN DISKOTIK DI PONTIANAK TAHUN 2013
Background. Hearing loss is the most common sensoric impairmentfound in human population, affects more than 250 million of world society.In 2002 prevalence of hearing loss in Indonesia was 4,2% of population orabout 9,3 million people. One of the causes of hearing loss is exposure tointensity of noise. Discotheque music noise exceed noise threshold limitvalue (85 dBA), so that discotheque employees are at risk of havinghearing loss. Objective. The aim of this study was to assess the relationbetween intensity of discotheque music noise and working period withhearing function among discotheque employees in Pontianak in 2013.Method. This research was an analytic study with cross sectional design.The data was obtained from Biztro Discotheque of Kapuas Palace Hoteland MGM Discotheque of Garuda Hotel. Twenty three employees wereincluded in this research. Noise intensity was measured by sound levelmeter, anamnesis was taken from the employees, and hearing functionwas assessed by audiometer. Result. The rate of highest noise intensitymeasured was 101,3 dBA. Sensorineural hearing loss was found in 4employees (17,4%). Fisher test showed no relation between noiseintensity or working period with hearing function (p = 1 and p = 0,26,respectively). Conclusion. There was no significant relation betweenintensity of discotheque music noise and working period with hearingfunction among discotheque employees in Pontianak in 2013.Keywords: noise intensity, working period, hearing function, discotheque Notes 1) Medical School, Faculty of Medicine, Tanjungpura University,Pontianak, West Kalimantan. 2) Department of Public Health, Medical School, Faculty of Medicine,Tanjungpura University, Pontianak, West Kalimantan. 3) Department of Physiology, Medical School, Faculty of Medicine,Tanjungpura University, Pontianak, West Kalimantan
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN PERILAKU PENGELOLAAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURNAMA KECAMATAN PONTIANAK SELATAN KOTA PONTIANAK
Latar Belakang: Diabetes Melitus merupakan penyakit kronik yang dapatmenimbulkan komplikasi akut maupun kronik bila tidak dikelola denganbaik. Perilaku pengelolaan penyakit DM yang baik oleh pasien perludilakukan terus menerus dan dibutuhkan adanya peran serta dari keluargauntuk memberikan dukungan agar pasien termotivasi melalukannya.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antaradukungan keluarga (informasi, penilaian, instrumental, emosional) danperilaku pengelolaan penyakit DM tipe 2 di wilayah kerja PuskesmasPurnama Kecamatan Pontianak Selatan Kota Pontianak. Metodologi:Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional denganpendekatan potong lintang. Data dikumpulkan dengan menggunakankuesioner dan besar sampel yakni 38 orang diambil secara consecutivesampling. Data dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil: Uji statistikmenunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara dukunganinformasi dan emosional terhadap perilaku pengelolaan penyakit DM tipe2. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan penilaiandan instrumental terhadap perilaku pengelolaan penyakit DM tipe 2.Kesimpulan: Dukungan keluarga dalam bentuk dukungan informasi danemosional berhubungan dengan perilaku pengelolaan penyakit DM tipe 2pada pasien di wilayah kerja Puskesmas Purnama Kecamatan PontianakSelatan Kota Pontianak.Kata kunci: dukungan keluarga, perilaku pengelolaan D
HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN TERHADAP KEJADIAN MIOMA UTERI-ADENOMYOSIS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER SUDARSO KALIMANTAN BARAT
Latar Belakang: Mioma uteri merupakan tumor panggul yang palingsering terjadi pada wanita usia reproduksi. Adenomyosis biasanya seringterjadi disertai dengan mioma uteri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untukmengidentifikasi hubungan karakteristik pasien dengan kejadian miomauteri-adenomyosis. Metode:Penelitian ini adalah penelitian analitik dengandesain kasus kontrol. Data diambil dari rekam medik pasien tahun 20072012.Hasil: Penelitian menggunakan 63 subjek penelitian, 21 pasienyang di diagnosis mioma uteri-adenomyosis dan 42 pasien yang didiagnosis mioma uteri. Analisis bivariat menunjukkan hasil terdapatperbedaan rata-rata rentang usia pasien terhadap kejadian mioma uteriadenomyosis(p=0,008),terdapat hubungan yang bermakna jenis operasiterhadap kejadian mioma uteri-adenomyosis (p=0,004 [(OR) 0,5 90% Cl0,458-0,734], tidak terdapat hubungan status paritas terhadap kejadianmioma uteri-adenomyosis (p=0,571 [(OR) 1,3 (CI) 90% 0,445-4,333],tidak terdapat hubungan nyeri panggul terhadap kejadian mioma uteriadenomyosis(p=0,195 [(OR) 2,0 90% CI 0,69-5,958], tidak terdapatperbedaan rata-rata yang bermakna ukuran berat uterus wanita yangmenderita yang menderita mioma uteri-adenomyosis (p=0,224),Kesimpulan: Wanita yang menderita mioma uteri yang disertaiadenomyosis memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dengan wanitayang menderita mioma uteri tersendiri. Kata Kunci: adenomyosis, mioma uteri, multipara, nyeri panggu