Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
Not a member yet
    445 research outputs found

    HUBUNGAN SKOR APRI (Aspartat Aminotransferase to Platelet Ratio Index) DENGAN DERAJAT KEPARAHAN SIROSIS HATI DI RSUD DOKTER SOEDARSO PONTIANAK

    Get PDF
    Latar Belakang: Aspartat aminotransferase to platelet ratio index (APRI)merupakan prediktor non invasif untuk mengevaluasi fibrosis dan sirosispada pasien dengan penyakit hati akibat hepatitis B kronik, hepatitis Ckronik maupun oleh sebab lain. APRI merupakan test yang sederhanadengan tingkat akurasi yang tinggi. Tujuan: Untuk mengetahui hubunganskor APRI (aspartat aminotransferase to platelet ratio index) dengan derajatkeparahan sirosis hati di RSUD Dokter Soedarso Pontianak. Metode:penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan cross sectional.Data dikumpulkan dari rekam medis penderita sirosis hati di RSUD DokterSoedarso Pontianak, periode Januari 2010 s/d Mei 2014. Analisis dilakukansecara bivariat menggunakan uji Kruskal Wallis. Hasil penelitian:didapatkan 87 penderita sirosis hati yang dirawat di RSUD DokterSoedarso Pontianak yang memiliki data hasil laboratorium yang lengkap,terdiri dari 61 laki-laki dan 26 perempuan dengan rata-rata usia 51,08tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan bermaknaantara skor APRI dengan derajat keparahan sirosis hati (p=0,005).Kesimpulan: skor APRI meningkat seiring dengan meningkatnya tingkatkerusakan hati pada penderita sirosis hati.Kata Kunci: sirosis, skor APRI, Child-Turcott

    HUBUNGAN ANTARA DIABETES MELITUS DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI KECAMATAN PONTIANAK SELATAN

    Get PDF
    Latar Belakang: Hipertensi dan komplikasinya merupakan penyebab kematian nomorsatu secara global. Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu faktor resiko hipertensi. Tujuan : Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan antara DM dan kejadianhipertensi di Kecamatan Pontianak Selatan.Metode : Penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan cross sectional.Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling dengan jumlah sampelsebanyak 108 subjek. Pengukuran yang dilakukan meliputi tekanan darah sistolik dandiastolik serta kadar gula darah sewaktu. Berdasarkan gejala klasik DM dan kadar GDS,subjek dikelompokkan dalam 2 kategori, yakni non-DM (tidak ada gejala klasik DM danatau GDS <200 mg/dl) dan DM (terdapat gejala klasik DM dan GDS ≥200 mg/dl). Berdasarkan nilai tekanan darah, subjek dikelompokkan dalam 2 kategori, yakni non-hipertensi (normal dan prahipertensi) dan hipertensi (hipertensi derajat 1 dan 2). Datadianalisis menggunakan chi-square.Hasil : Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara DM dan kejadian hipertensi (P < 0,004). Resiko relatif (rasio prevalens [RP] dan interval kepercayaan 95%[IK]) terjadinya hipertensi pada penderita DM adalah (RP 1,7; IK 1,15 – 2,05).Kesimpulan : : Terdapat hubungan yang bermakna antara DM dan kejadian hipertensi.DM merupakan faktor resiko hipertensi. Dalam hal ini, penderita DM mempunyai resikomengalami hipertensi 1,7 kali lebih besar dibandingkan dengan subjek yang tidakmenderita DM.Kata Kunci : Kecamatan Pontianak Selatan, hipertensi, diabetes melitus, prevalensi. Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura,Pontianak, Kalimantan Barat, 089694116436. Bagian Penyakit Dalam RSU St. Antonius, Pontianak, Kalimantan Barat,085750600888. Departemen Biokimia, Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran,Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat, 08115712364

    HUBUNGAN INSOMNIA SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GANG SEHAT KECAMATAN PONTIANAK SELATAN

    Get PDF
    Latar Belakang: Secara global hipertensi merupakan penyebab kematian nomor satu didunia. Insomnia merupakan salah satu faktor resiko hipertensi.Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan insomnia sebagai faktorrisiko terjadinya hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Gang Sehat Kecamatan PontianakSelatan.Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan case control. Carapengambilan sampel adalah dengan teknik non-probability sampling (consecutivesampling) dengan jumlah sampel sebanyak 90 subjek. Pengukuran yang dilakukan meliputi tekanan darah sistolik dan diastolik serta status insomnia berdasarkan kriteria Diagnostic Statistical Manual of Mental Disorder Fourth-edition Text Revision (DSM-IVTR). Berdasarkan kriteria DSM-IV TR, subjek dikelompokkan dalam 2 kategori, yakniinsomnia dan non-insomnia. Berdasarkan nilai tekanan darah, subjek dikelompokkandalam 2 kategori, yakni non-hipertensi (normal dan prahipertensi) dan hipertensi (hipertensi derajat 1 dan 2). Data dianalisis menggunakan program Statistical Product andService Solution.Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara insomnia dan kejadianhipertensi (P < 0,043). Odds Ratio [OR] dan interval kepercayaan 95% [IK]) terjadinyahipertensi pada penderita insomnia adalah (OR 2,95; IK 1,01 – 8,53).Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara insomnia dan hipertensi.Insomnia merupakan faktor resiko hipertensi. Dalam hal ini, penderita insomniamempunyai resiko mengalami hipertensi 2,9 kali lebih besar dibandingkan dengan subjekyang tidak menderita insomnia.Kata Kunci: hipertensi, Insomnia Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura,Pontianak, Kalimantan Barat Bagian Penyakit Dalam RSUD dr. Sudarso, Pontianak, Kalimantan Barat Departemen Kedokteran Komunitas, Program Studi Pendidikan Dokter, FakultasKedokteran, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Bara

    UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN CENGKODOK (Melastoma malabathricum L.) TERHADAP Shigella flexneri SECARA IN VITRO

    Get PDF
    Latar Belakang: Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satupenyakit utama yang menjadi masalah kesehatan masyarakat diIndonesia karena memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Agenpenyebab diare yang paling sering ditemukan adalah bakteri Shigellaflexneri. Tumbuhan cengkodok (Melastoma malabathricum L.) merupakantumbuhan yang berkhasiat obat. Penelitian terdahulu menunjukkanadanya potensi daun cengkodok sebagai antibakteri. Tujuan: Penelitianini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak etanoldaun cengkodok (Melastoma malabathricum L.) dan konsentrasi efektifnyadalam menghambat pertumbuhan Shigella flexneri. Metodologi: Dauncengkodok diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol. Ekstrakyang diperoleh diskrining fitokimia dan diuji aktivitas antibakterinya denganmetode difusi sumuran. Kontrol positif yang digunakan adalahsiprofloksasin 5µg/sumuran dan kontrol negatif menggunakan DMSO10%. Hasil: Ekstrak etanol daun cengkodok mengandung senyawaflavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid. Ekstrak etanol daun cengkodokmemiliki aktivitas antibakteri terhadap Shigella flexneri. Konsentrasi 80%menunjukkan aktivitas antibakteri terbesar namun siproflosasin 5 µgmemiliki aktivitas antibakteri yang lebih baik bila dibandingkan dengankonsentrasi 80%. Kesimpulan: Ekstrak etanol daun cengkodok memilikiaktivitas antibakteri terhadap Shigella flexneri.Kata Kunci: antibakteri, ekstrak etanol daun cengkodok, Melastomamalabathricum L., Shigella flexner

    HUBUNGAN ANTARA LAMA DAN SIKAP DUDUK TERHADAP KEJADIAN NYERI PUNGGUNG BAWAH DI POLIKLINIK SARAF RSUD DOKTER SOEDARSO PONTIANAK

    Get PDF
    Latar belakang: Salah satu nyeri yang paling sering terjadi di duniaadalah nyeri punggung bawah (NPB), yang dirasakan di daerah lumbalatau lumbosakral, dapat berupa nyeri lokal, radikular atau keduanya.Selama ini duduk telah menjadi topik yang kompleks oleh para penelitiNPB dan faktor risiko NPB terkait duduk adalah lama duduk dan sikap duduk. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubunganantara lama dan sikap duduk terhadap kejadian NPB di Poliklinik Saraf RSUD Dokter Soedarso Pontianak. Metode: Penelitian ini menggunakanmetode analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yangdilakukan pada bulan Mei-Juli 2014 di Poliklinik Saraf RSUD DokterSoedarso Pontianak dengan jumlah sampel 100 orang, menggunakanteknik pengambilan sampel non-probability sampling jenis consecutive.Diagnosis sampel berdasarkan data rekam medis pasien. Pasien yangtelah didiagnosis kemudian diwawancarai dan diminta mengisi kuisioneryang telah divalidasi. Hasil dan Kesimpulan: Ditemukan bahwa lamaduduk (p = 0,000) dan sikap duduk (0,014) memiliki hubungan dengankejadian NPB, di mana seorang dengan lama duduk lebih dari 4 jammemiliki risiko 1,661 kali lebih besar mengalami kejadian NPBdibandingkan dengan lama duduk kurang dari 4 jam, dan seorang dengansikap duduk membungkuk memiliki risiko 2,657 kali lebih besar mengalamikejadian NPB dibandingkan dengan sikap duduk tegak. Kata kunci: Lama duduk, Sikap duduk, Nyeri punggung bawah1) Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat.2) Bagian Saraf RSUD Dokter Soedarso, Pontianak, Kalimantan Barat.3) Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat

    GAMBARAN KADAR LOW DENSITY LIPOPROTEIN (LDL) PADA PASIEN STROK NON HEMORAGIK DI RSUD dr. SOEDARSO PONTIANAK PERIODE 2012

    Get PDF
    Latar Belakang: Strok merupakan penyebab kematian ketiga di dunia,dan penyebab utama kecatatan fisik di dunia. Strok non hemoragik yaitusuatu strok yang terjadi akibat obstruksi dari satu atau lebih arteri besarpada pembuluh darah otak, dan bertanggung jawab pada sebagian besar(70-80%) kasus strok. Peningkatan kadar Low Density Lipoprotein (LDL)merupakan salah satu faktor resiko strok non hemoragik. Tujuan:Mengetahui Gambaran kadar LDL pada pasien strok non hemoragik diRumah Sakit Umum Daerah Dokter Soedarso Pontianak. Metode:Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan crosssectionalyang dilakukan terhadap 80 sampel rekam medik pasien yangdirawat di bangsal penyakit saraf Rumah Sakit Umum Daerah DokterSoedarso Pontianak. Hasil: Dari 80 sampel pasien strok non hemoragikdidapatkan 40 sampel (50%) memiliki kadar LDL tinggi (>160mg/dl), 26sampel (22,5%) memiliki kadar LDL Borderline (131-159mg/dl) dan 14sampel (17,5%) memiliki kadar LDL rendah (<130mg/dl). Kesimpulan:Pada penelitian ini didapatkan 42 pasien strok non hemoragik yangmemiliki kadar LDL tinggi.Kata Kunci: Strok non hemoragik, kadar Low Density Lipoprotein (LDL) 1) Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, UniversitasTanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat 2) Departemen Neurologi RSUD dr. Soedarso, Pontianak, KalimantanBarat 3) Departemen Mikrobiologi, Program Studi Pendidikan Dokter, FakultasKedokteran, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Bara

    UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL DAUN MANGGA BACANG (Mangifera foetida L.)TERHADAP Candida albicans SECARA IN VITRO

    Get PDF
    Background: One of the plants that is often used as medicine are mangoleaves (Mangifera indica). Plant with the same genus that are native toIndonesia is horse mango (Mangifera foetida L.)which expected caninhibit the growth of Candida albicans. Objective: The purpose of thisstudy were to determine the antifungal activity of ethanol extract of M.foetida L. leaves against Candida albicans in vitro, the minimum inhibitoryconcentration (MIC), and the secondary metabolite compounds.Methodology: M. foetida L. leaves were extracted by maceration using70% ethanol. Phytochemical screening test performed on extractsobtained from the maceration. The antifungal activity was determined inthe extracts using Kirby-Bauer Disc Diffusion methods against Candidaalbicans. Ketoconazole 10 μg/ disc was used as positive control whileDMSO ad aqua bidest was used as negative control. Results: Based onthe study result, ethanol extract of M. foetida L. leaves has an antifungalactivity at concentration of 1000; 500; 250; 125 mg/mL, MIC at 125 mg/mLwith zone of inhibition 9,15 mm, phytochemical screening test, containsphenols, flavonoids, tannins, saponins, steroids and alkaloids.Conclusion: Ethanol extract of M. foetida L. leaves has an antifungalactivity against Candida albicans.Keyword: Antifungal, ethanol extract of horse mango leaves, Candidaalbican

    GAMBARAN POSISI KERJA YANG MENYEBABKAN RISIKO KEJADIAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS PADA PEKERJA PANEN KELAPA SAWIT PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XIII KABUPATEN SANGGAU KALIMANTAN BARAT

    Get PDF
    Latar Belakang: Posisi kerja merupakan salah satu faktor yang dapatberpengaruh terhadap timbulnya kejadian musculoskeletal disorders(MSDs) pada pekerja. Pekerjaan memanen kelapa sawit merupakan salahsatu pekerjaan yang masih mengandalkan tenaga manusia dan beresikountuk menyebabkan MSDs. Hal ini dikarenakan pekerja panen bekerjasecara manual, rata-rata pohon kelapa sawit yang tinggi, tandan buahsegar (TBS) yang berat dan kondisi lingkungan. Tujuan: Penelitian inibertujuan untuk mengetahui apakah posisi dan cara kerja dari pekerjapanen merupakan posisi kerja yang beresiko menimbulkan gangguanmuskuloskeletal ataukah tidak. Metodologi: Jenis penelitian ini adalahpenelitian deskriptif yang menggambarkan posisi kerja dari pekerja panenyang mungkin dapat menimbulkan MSDs. Penelitian ini dilakukan padapekerja panen  kelapa sawit di PT. Perkebunan Nusantara XIII (PTPN XIII)di Sanggau, Kalimantan Barat pada tahun 2013. Posisi kerja dianalisisdengan menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA).Hasil: Hasil penelitian diketahui bahwa penghitungan skor REBA untukmasing-masing bagian adalah (1) memotong pelepah daun dan TBSdengan skor 9; (2) memasukkan TBS ke dalam kereta angkut dengan skorREBA 9; (3) mendorong kereta angkut ke tempat pengumpulan hasildengan skor REBA 7; dan (4) memuat TBS ke dalam truk dengan skorREBA 10. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa posisi kerja yangdilakukan pekerja panen kelapa sawit di PTPN XIII merupakan posisi kerjayang beresiko menimbulkan MSDs.    Kata kunci: MSDs, posisi kerja, REBA Keterangan: 1) Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, UniversitasTanjungpura Pontianak, Kalimantan Bara

    UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI INFUSA DAUN KESUM (Polygonum minus Huds.) TERHADAP Salmonella typhi

    Get PDF
    Latar Belakang: Salah satu penyakit yang timbul karena permasalahansanitasi adalah demam tifoid. Angka kematian akibat penyakit ini terusmeningkat disebabkan kegagalan penatalaksanaan terkait resistensibakteri penyebab dan efek samping obat. Kesum (Polygonum minusHuds.) merupakan tanaman endemik Kalimantan Barat. Tanaman inidigunakan masyarakat untuk mengobati gangguan pencernaan.Gangguan pencernaan merupakan manifestasi klinis utama demam tifoidselain demam yang berkepanjangan sehingga kesum berpotensi untukditeliti sebagai antibakteri terhadap Salmonella typhi. Tujuan: Penelitianini bertujuan untuk mengetahui apakah infusa daun kesum (Polygonumminus Huds.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Salmonella typhi.Metodologi: Daun kesum diekstraksi secara infundasi. Infusa dilakukanuji skrining fitokimia. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metodedilusi terhadap bakteri Salmonella typhi. Hasil: Hasil skrining fitokimia,infusa daun kesum mengandung metabolit sekunder senyawa fenol,flavonoid, terpenoid, dan tanin. Hasil uji aktivitas antibakteri didapatkankonsentrasi hambat minimal (KHM)infusa daun kesum terhadapSalmonella typhi adalah 3,125% dan konsentrasi bunuh minimal (KBM)adalah 50%. Kesimpulan: Infusa daun kesum (Polygonum minus Huds.)memiliki aktivitas antibakteri terhadap Salmonella typhi.Kata Kunci: Antibakteri, Infusa daun Kesum, Salmonella typh

    Pengaruh Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar yang Diinduksi Aloksan

    Get PDF
    Latar Belakang: Temulawak merupakan tanaman tropis Indonesia yangkandungan metabolit sekunder dalam rimpangnya diduga dapatmenurunkan kadar glukosa darah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untukmengetahui efek ekstrak temulawak terhadap kadar glukosa darah tikuswistar yang diinduksi aloksan dan dibandingkan dengan metformin.Metodologi: Penelitian eksperimental ini menggunakan metode pretestand posttest control group design. Temulawak diekstrak dengan pelarutetanol 96% menggunakan metode maserasi. Sebanyak tiga puluh ekortikus wistar diaklimasi dan diberi diet tinggi protein selama tujuh hari. Tikusdibagi secara acak ke dalam enam kelompok perlakuan, yaitu kontrolnormal dan negatif (CMC 0,5%), kontrol positif (metformin 63 mg/kgBB),dosis I (4,375 mg/kgBB), dosis II (8,75 mg/kgBB) dan dosis III (17,5mg/kgBB). Induksi aloksan dosis 155 mg/kgBB diberikan pada semuakelompok kecuali kontrol normal secara intraperitoneal. Kadar glukosadarah puasa diukur empat kali yaitu sebelum dan setelah induksi aloksan,serta setelah tujuh dan empat belas hari perlakuan menggunakan metodeGOD-PAP dengan spektrofotometer. Data dianalisis menggunakan ujiOne Way Anova, dilanjutkan dengan uji Post-Hoc LSD. Hasil: Skriningfitokimia menunjukkan ekstrak temulawak mengandung fenol, flavonoid,alkaloid, tanin, triterpenoid dan glikosida. Hasil analisa menunjukkanperbedaan bermakna nilai rerata kadar glukosa darah antara kelompokkontrol negatif dengan kelompok kontrol normal dan positif, serta ketigadosis ekstrak temulawak (p<0,05) setelah tujuh dan empat belas hariperlakuan. Kesimpulan: Ketiga dosis ekstrak temulawak dapatmenurunkan kadar glukosa darah tikus putih wistar yang diinduksialoksan. Ekstrak temulawak pada dosis III (17,5 mg/kgBB) samaefektifnya dengan metformin dalam menurunkan kadar glukosa darah.Kata kunci: ekstrak temulawak, Curcuma xanthorrhiza Roxb., aloksan,kadar glukosa dara

    426

    full texts

    445

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇