Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
Not a member yet
    445 research outputs found

    PERBANDINGAN ANTARA KANDUNGAN PROTEIN AIR SUSU IBU (ASI) DENGAN SUSU FORMULA UNTUK BAYI USIA 0-12 BULAN YANG BEREDAR DI PONTIANAK

    Get PDF
    Latar Belakang: ASI merupakan nutrisi terbaik untuk bayi. Susu formulamempunyai kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan denganASI. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandinganantara kandungan protein ASI dengan susu formula untuk bayi usia 0-12bulan yang beredar di Pontianak. Metode: Penelitian ini merupakanpenelitian analitik. Sampel penelitian berjumlah 15 sampel ASI dari ibupasca melahirkan di RSB. Jeumpa Pontianak, 15 sampel susu formulastandar (SF), 4 susu formula soya (SoyF), 2 susu formula partialhydrolized (PHF), 3 susu formula extensive hydrolized (EHF), dan 4 susuformula bebas laktosa (FLF) untuk bayi usia 0-12 bulan. Kandunganprotein pada ASI dan susu formula dianalisis menggunakan metodebiuret. Analisa statistik menggunakan uji T tidak berpasangan dan Mannwhitney. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna antara kandungan proteinASI dengan semua jenis susu formula. ASI matur foremilk dan hindmilkdengan SIF awal, SIF lanjutan, PHF, dan FLF (p=0,000), ASI maturforemilk dan hindmilk dengan EHF (p=0,008), ASI matur foremilk dengansusu SoyF awal dan lanjutan (p=0,000), ASI matur hindmilk dengan SoyFawal dan lanjutan (p=0,031) dan (p=0,033). Kesimpulan: Kandunganprotein pada semua susu formula untuk bayi usia 0-12 bulan yang beredardi pontianak lebih tinggi dibandingkan dengan ASIKata kunci: protein, ASI, susu formul

    HUBUNGAN FREKUENSI DAN INTENSITAS SENAM AEROBIK DENGAN DERAJAT DISMENORE PADA PESERTA SENAM AEROBIK DI KOTA PONTIANAK

    Get PDF
    Latar Belakang: Dismenore merupakan gangguan ginekologis yang umum dan dapat mempengaruhi kualitas hidup wanita.Berbagai terapitelah digunakan untuk mengurangi dismenore, salah satunya olahraga.Senam aerobik merupakan jenis olahraga yang diminati oleh wanita saatini. Terdapat empat faktor latihan dalam senam aerobik yaitu: durasi,frekuensi, intensitas, dan tipe. Tujuan: Mengetahui hubungan antarafrekuensi dan intensitas senam aerobik terhadap derajat dismenore padapeserta senam aerobik di Kota Pontianak. Metode: Penelitian inimerupakan studi analitik dengan pendekatan cross sectional yangdilakukan terhadap 55 peserta senam aerobik di Sanggar Senam Yanti.Hasil: Prevalensi dismenore di Sanggar Senam Yanti sebanyak 36,37%.Pada frekuensi senam aerobik 1-2 kali per minggu didapatkan 12 orangmengalami dismenore, frekuensi 3-5 kali perminggu sebanyak 3 orang,dan frekuensi lebih dari 5 kali perminggu sebanyak 1 orang mengalamidismenore. Pada intensitas senam aerobik rendah sebanyak 8 orangmengalami dismenore, intensitas sedang sebanyak 11 orang mengalamidismenore dan intensitas tinggi sebanyak 1 orang mengalami dismenore.Dari hasil analisis menggunakan uji Chi Square ditemukan bahwa terdapathubungan yang bermakna antara frekuensi senam aerobik dengan derajatdismenore (p=0,003) dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antaraintensitas senam aerobik dengan derajat dismenore (p=0,957)Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi senamaerobik dan derajat dismenore di Kota Pontianak. Tidak terdapathubungan yang bermakna antara intensitas senam aerobik dan derajatdismenore pada peserta senam aerobik di Kota Pontianak.  Kata kunci : Dismenore, Frekuensi Senam, Intensitas Senam, SenamAerobi

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkatan Stres pada Tenaga Kesehatan di RS Universitas Tanjungpura Pontianak Tahun 2015

    Get PDF
    Latar Belakang. Stres merupakan respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Stres satu di antaranya dapat dialami oleh tenaga kesehatan.Tingkatan stres dibagi menjadi ringan, sedang, dan berat yang dipengaruhi oleh faktor yang berbeda-beda dari setiap individu. Metode. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui kuesioner. Hasil. Tingkat stres tenaga kesehatan sebagian besar dalam kategori tidak stres sebanyak (66%). Didapatkan juga faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat stres yaitu faktor kemampuan individu mempersepsikan stresor (84%), faktor intensitas terhadap stimulus (88%), faktor jumlah stresor yang harus dihadapi dalam waktu yang sama (68%), faktor lamanya pemaparan stresor (74%), faktor pengalaman masa lalu (82%), dan faktor tingkat perkembangan (78%). Kesimpulan. Faktor kemampuan individu mempersepsikan stresor, faktor intensitas terhadap stimulus, faktor jumlah stresor yang harus dihadapi dalam waku yang sama, faktor lamanya pemaparan stresor, faktor pengalaman masa lalu dan faktor tingkat perkembangan mempengaruhi tingkat stres

    UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR INFUSA DAUN MANGGA BACANG (Mangifera foetida L.) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Trichophyton rubrum

    Get PDF
    Latar Belakang: Dermatofitosis merupakan infeksi jaringan superfisialberkeratin yang banyak terjadi di daerah hangat dan lembab (tropis), dan penyebab terseringnya adalah jamur Trichophyton rubrum. Manggabacang (Mangifera foetida L.) merupakan salah satu spesies dari buahmangga, famili anacardiachae yang tersebar di wilayah Indonesia.Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak dari tanaman mangga bacang(Mangifera foetida L.) mengandung senyawa metabolit sekunder yangmemiliki aktivitas antimikroba. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untukmengetahui aktivitas antijamur infusa daun mangga bacang (Mangiferafoetida L.) terhadap Trichophyton rubrum, mengetahui senyawa metabolitsekunder yang terdapat dalam ekstrak, dan menentukan konsentrasihambat minimum infusa daun mangga bacang (Mangifera foetida L.). Metodologi: Daun mangga bacang (Mangifera foetida L.) diekstraksidengan metode infundasi menggunakan pelarut akuades. Skrining fitokimia dilakukan secara kualitatif dan uji aktivitas antijamur dilakukanmenggunakan metode sumuran dengan berbagai konsentrasi (1,25%;2,5%; 5%; 10%; 20%; 40%; dan 80%). Kontrol positif yang digunakanadalah ketokonazol 20 μg/sumuran dan kontrol negatif yang digunakan  adalah akuades. Hasil: Metabolit sekunder yang terdapat dalam infusadaun mangga bacang (Mangifera foetida L.) antara lain alkaloid, flavonoid, fenol, saponin, tanin, dan triterpenoid. Infusa daun mangga bacang(Mangifera foetida L.) tidak menunjukkan adanya aktivitas antijamur terhadap pertumbuhan Trichophyton rubrum. Kesimpulan: Infusa daunmangga bacang (Mangifera foetida L.) tidak memiliki aktivitas antijamur terhadap pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum. Kata Kunci: Antijamur, infusa daun mangga bacang (Mangifera foetidaL.), Trichophyton rubrum

    GAMBARAN KARAKTERISTIK DAN TINGKAT KEPARAHAN OBSTRUKSI PASIEN BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH) DI RSU dr. SOEDARSO PONTIANAK TAHUN 2013

    Get PDF
    Latar Belakang: Benigna Prostatica Hyperplasia (BPH) adalahpembesaran progresif kelenjar prostat yang menyebabkanpenyumbatan saluran kemih dan pembatasan aliran urin. Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik dantingkat keparahan obstruksi pasien BPH di RSU dr. Soedarso Pontianaktahun 2013. Metodologi: Penelitian ini merupakan studi deskriptifdengan pendekatan cross-sectional di Poli Bedah Urologi RSU dr.Soedarso Pontianak, dari Januari-Februari 2013. Menggunakan teknikconsecutive sampling didapatkan 44 sampel berdasarkan kriteriainklusi dan eksklusi. Data diperoleh dari kuesioner IPSS (InternationalProstatic System Score) dan rekam medik. Pengolahan datamenggunakan Microsoft Excel 2007. Hasil: Usia terbanyak padarentang 70-73 tahun sebanyak 10 pasien (22,72%), 40 pasien (90,90%)tidak memiliki riwayat keluarga menderita BPH, BMI (Body Mass Index)terbanyak dengan kategori normal 27 pasien (61,36%), frekuensiolahraga <3x/minggu sebanyak 25 pasien (56,81%), pasien yangmemiliki riwayat merokok 27 pasien (61,36%), status pasien merokokyang terbanyak adalah perokok sedang 14 pasien (51,85%), frekuensiseksual terbanyak adalah tidak pernah berhubungan lagi 16 pasien(36,36%), pekerjaan terbanyak adalah pensiunan 33 pasien (75%).Tingkat keparahan berdasarkan IPSS yaitu derajat berat 21 pasien(47,72%), derajat sedang 16 pasien (36,36%) dan derajat ringan 7pasien (15,90%), sedangkan berdasarkan skor rest urine yaitu grade I14 pasien (31,81%), grade II 22 pasien (50%) dan grade III 8 pasien(18,18%). Kesimpulan: Gambaran karakteristik pasien BPH di RSU dr.Soedarso adalah usia, riwayat keluarga, BMI, frekuensi olahraga,perilaku merokok, frekuensi seksual dan pekerjaan. Tingkat keparahanterbanyak berdasarkan IPSS adalah derajat berat dan berdasarkan skorrest urine adalah grade II.Kata Kunci: BPH, IPSS, Rest Urin

    HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KONTROL ASMA DAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN ASMA DI KLINIK PARU RSU DOKTER SOEDARSO PONTIANAK

    Get PDF
    Latar Belakang: Asma merupakan sebuah penyakit pernapasan kronisyang ditandai dengan mengi berulang, sesak napas, rasa dada tertekandan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Gejala asma yangsering muncul dapat mengurangi kualitas tidur. Kontrol asma didefinisikansebagai kondisi  di mana  memiliki sedikit atau tidak ada gejala, tidak adapenggunaan obat pelega, terbangun di malam hari, hampir ataunormalnya fungsi paru-paru, tidak ada eksaserbasi, tidak ada efeksamping dari pengobatan dan tidak ada kunjungan darurat Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kontrolasma dan kualitas tidur pada  asma di Klinik Paru RSU Dokter Soedarso.Metodologi: Penelitian ini merupakan analitik observasional dengandesain cross sectional yang dilakukan di Klinik Paru RSU dr. SoedarsoPontianak, dari 17 Desember 2012 - 8 Februari 2013. Ada 70 sampelyang dipilih dengan teknik consecutive sampling berdasarkan kriteriainklusi dan eksklusi. Data diperoleh dari rekam medis dan kuesionermenggunakan Asthma Control Test (ACT) dan Pittburgh Sleep QualityIndex (PSQI). Data dianalisis dengan uji chi-square menggunakan SPSS20.0. Hasil: Asma tidak terkontrol ditemukan pada 57 pasien  (81,43%).Dari 57 pasien  dengan asma yang tidak terkontrol terdapat 46 pasien (95,83%) dengan kualitas tidur yang buruk. Terdapat hubungan yangbermakna secara statistik antara tingkat kontrol asma dan kualitas tidur(p= 0,000). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antaratingkat kontrol asma dan kualitas tidur. Kualitas tidur akan meningkatapabila tingkat kontrol asma juga meningkat.Kata kunci: Asma, tingkat kontrol asma, kualitas tidu

    UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN MANGGA BACANG (Mangifera foetida L.) TERHADAP PERTUMBUHAN Shigella flexneri SECARA IN VITRO

    Get PDF
    Latar Belakang: Shigellosis masih merupakan permasalahan yang cukupmengkhawatirkan di negara-negara berkembang seperti di Indonesiadikarenakan fasilitas sanitasi yang kurang baik. Adanya peningkatan kasusresistensi bakteri shigella menyebabkan pilihan terapi antibakteri yangdapat digunakan menjadi terbatas sehingga dicari alternatif pengobatandari tumbuhan. Salah satu tumbuhan yang khas di Kalimantan adalahmangga bacang (Mangifera foetida L.). Mangifera foetida memilikikesamaan genus dengan Mangifera indica yang telah terbukti memilikiaktivitas antibakteri. Kandungan metabolit sekunder yang dimiliki keduanyahampir sama sehingga Mangifera foetida diduga akan memiliki aktivitasantibakteri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui golongansenyawa metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri dari ekstrak etanoldaun Mangifera foetida terhadap Shigella flexneri dengan menentukandiameter zona hambat. Metode: Skrining fitokimia dilakukan denganmenggunakan uji tabung. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metodedifusi sumuran termodifikasi dengan konsentrasi ekstrak etanol daunMangifera foetida sebesar 2000; 1000; 500; 250; 125; 62,5; 31,25; 15,625;7,8125 dan 3,09265 mg/mL. Kontrol positif yang digunakan adalahsiprofloksasin 5 μg/sumuran sedangkan kontrol negatif yang digunakanadalah DMSO 10%. Hasil: Berdasarkan hasil skrining fitokimia, ekstraketanol daun Mangifera foetida mengandung golongan senyawa fenol,flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Ekstrak etanol daun Mangiferafoetida tidak memberikan zona hambat terhadap pertumbuhan Shigellaflexneri. Kesimpulan: Ekstrak etanol daun mangga bacang (Mangiferafoetida L.) tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhanShigella flexneri.Kata Kunci: Antibakteri, daun Mangifera foetida L., Shigella flexneri, difusisumura

    UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI INFUSA UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine americana (Aubl.) DAN DAUN MANGGA BACANG (Mangifera foetida L.) TERHADAP Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO

    Get PDF
    Latar belakang: Staphylococcus aureus adalah bakteri yang seringmenyebabkan infeksi oportunistik. Beberapa strain bakteri ini telahdiketahui resistensi terhadap banyak antibiotik seperti antibiotik penicillindan β-lactam yang dikenal sebagai Methicillin-resistent S. aureus (MRSA).Penelitian saat kini telah berusaha mencari agen antibakteri alternatif lainuntuk melawan S. aureus dari berbagai tanaman obat tradisional.Penggunaan tanaman tradisional dalam pengobatan seperti umbi bawangdayak dan daun mangga bacang telah menjadi kebiasaan padamasyarakat Kalimantan Barat. Pola penggunakan tanaman obat seringdilakukan dengan teknik perebusan dan dikombinasikan, sehingga hal inimenjadi dasar pemilihan teknik kombinasi infusa tanaman dalampenelitian ini. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikandungan metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri kombinasi infusaumbi bawang dayak dan daun mangga bacang dengan menilai diameterzona hambat yang terbentuk. Metodologi: penelitian ini adalah penelitianeksperimental laboratorium secara in vitro dengan rancangan acaklengkap posttest only control group design. Uji aktivitas antibakteridilakukan dengan metode cup plate dengan konsentrasi kombinasi infusa100%, 85%, 70%, 55%, 40% dan 25%. Kontrol positif menggunakandoksisiklin 30 µg/sumuran, kontrol negatif menggunakan aquades steril.Medium untuk pengujian antibakteri menggunakan Mueller hinton agar(MHA). Hasil: Kandungan metabolik sekunder kombinasi infusa adalahflavonoid, tanin, saponin dan kuinon. Pada semua variasi konsentrasiterbentuk diameter zona hambat namun tidak signifikan dengan diameterminimum dan maksimum masing – masing sebesar 5,56 mm ± 3,74 padakonsentrasi 25% dan 11,55 mm ± 0,34 pada konsentrasi 100%.Kesimpulan: terdapat aktivitas antibakteri kombinasi infusa umbi bawangdayak dan daun mangga bacang terhadap  Staphylococcus aureus. Kata Kunci: antibakteri, Staphylococcus aureus, bawang dayak, manggabacang, infusa

    UJI EFEK ANTIINFLAMASI KOMBINASI ASTAXANTHIN DAN COENZYME Q10 TERHADAP JUMLAH NEUTROFIL DAN LIMFOSIT DARAH TEPI TIKUS PUTIH GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI KARAGENIN

    Get PDF
    Latar Belakang: Inflamasi merupakan suatu gejala yang berhubungan dengan setiap penyakit yang sampai saat ini tatalaksananya masih menimbulkan efek samping. Astaxanthin dan coenzyme Q10 sebagai antioksidan yang mampu mencegah aktivasi NF-κB diharapkan mampu menjadi alternatif terapi untuk kasus inflamasi yang aman dikonsumsi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil uji efek antiinflamasi kombinasi astaxanthin dan coenzyme Q10 pada tikus putih galaur wistar yang diinduksi karagenin. Metode: 30 ekor tikus putih galur Wistar secara acak dibagi dalam 5 kelompok: kelompok 1 diintervensi dengan CMC 0,5% (kontrol negatif), kelompok 2 diintervensi dengan celecoxib 18 mg/kgBB (kontrol positif), kelompok 3, 4, dan 5 secara berurutan diintervensi dengan astaxanthin dosis bertingkat (0,72 mg/kgBB; 1,44 mg/kgBB; 2,88 mg/kgBB) dan coenzyme Q10 9 mg/kgBB. Satu jam setelah pemberian bahan uji, telapak kaki sampel disuntikkan karagenin 1% secara subkutan. Selanjutnya, dilakukan pengambilan darah pada jam ke-0, 4, 8, dan 12 pasca penyuntikan untuk dihitung jumlah neutrofil dan limfosit sampel. Hasil: Terdapat penurunan rerata jumlah neutrofil (p<0.05) perlakuan 1 pada jam ke 0, 4, dan 8 bila dibandingkan dengan kontrol negatif. Perlakuan 2, di sisi lain, hanya menunjukkan penurunan rerata jumlah neutrofil (p<0.05) pada jam ke-0 dan 4 sedangkan perlakuan 3 tidak menunjukkan adanya perbedaan bermakna dengan kontrol negatif. Kesimpulan: Kombinasi astaxanthin 0.72 mg/kgBB dan coenzyme Q10 9 mg/kgBB memiliki efek antiinflamasi

    HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI ASMA TERHADAP TINGKAT KONTROL ASMA PADA PASIEN ASMA DI UNIT PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU (UP 4) PONTIANAK

    Get PDF
    Latar Belakang: Asma adalah penyakit gangguan inflamasi kronis saluranpernapasan yang dihubungkan dengan hiperresponsif, keterbatasan aliranudara yang reversible dan gejala pernapasan. Tingkat kontrol asma dapatdicapai dengan pengobatan medikamentosa serta self-managementpasien asma yang baik sehingga dengan adanya pengetahuan mengenaiasma, pasien dapat mengenali dan melakukan self-management penyakitasma dengan efektif.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanapengaruh pengetahuan pasien mengenai asma terhadap tingkat kontrolasma.Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasionaldengan pendekatan potong lintang. Penelitian ini dilakukan di UnitPengobatan Penyakit Paru-Paru (UP4) Pontianak dari bulan Oktobersampai November 2015. Data dikumpulkan dari 45 pasien asma yangberkunjung ke UP4 Pontianak menggunakan Asthma General KnowledgeQuestionnaire (AGKQ) dan Asthma Control Test (ACT). Data dianalisisdengan menggunakan uji Chi-square.Hasil: Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat hubungantingkat pengetahuan pasien asma dengan tingkat kontrol asma p= 0,021(p<0,05).Kesimpulan: Pengetahuan merupakan faktor yang mempengaruhi statuskontrol asma pada penderita asma. Kata Kunci: Pengetahuan Asma, Tingkat Kontrol Asma, Asthma General Knowledge Questionnaire, Asthma Control Tes

    426

    full texts

    445

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇