Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
POLA BAKTERI, RESISTENSI DAN SENSITIVITASNYA TERHADAP ANTIBIOTIK BERDASARKAN HASIL KULTUR PADA SPESIMEN PUS DI RUMAH SAKIT UMUM DOKTER SOEDARSO PONTIANAK TAHUN 2011-2013
Latar Belakang: Pus merupakan hasil dari proses infeksi bakteri. Penanganannya adalah dengan pemberian antibiotik. Namun pemberianantibiotik sering menimbulkan resistensi. Salah satu upaya untukmengurangi terjadinya resistensi dan untuk mengoptimalkan penggunaanantibiotik, pemberian antibiotik harus berdasarkan informasi mengenaipola bakteri penyebab infeksi dan pola kepekaan bakteri terhadapantibiotik. Tujuan: Untuk mengetahui pola bakteri, resistensi dansensitivitasnya terhadap antibiotik berdasarkan hasil kultur padaspesismen pus di RSU dr.Soedarso Pontianak tahun 2011-2013.Metodologi: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatanretrospektif. Sampel penelitian adalah hasil pemeriksaan kultur dan ujikepekaan spesimen pus pasien RSU dr. Soedarso yang diperiksa di ULK.Data di olah secara deskriptif, dengan menggunakan tabel dan grafik.Hasil: Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 111 sampel. Terdapat 21jenis bakteri. Bakteri Gram-negatif lebih banyak ditemukan dari padabakteri Gram-positif, yaitu 70,73% dan 29,27%. Tiga bakteri terbanyakadalah Citrobacter freundii (18,02%), Pseudomonas aeruginosa (17,12%)dan Staphylococcus epidermidis (15,32%). Secara keseluruhan, resistensitertinggi bakteri adalah terhadap metronidazol (96,43%), sefaleksin(95,83%), sefuroksim (92,16%), oksasilin (91,67%) dan sefadroksil(91,53%) dan sensitivitas tertinggi bakteri terhadap piperasilin/ tozobaktam(89,66%), meropenem (82,89%), imepenem (78,08%), amikasin (76,34%),fosfomisin/trometamol (59,49%) dan levofloksasin (56,06%). Kesimpulan:Tiga bakteri terbanyak adalah Citrobacter freundii, Pseudomonasaeruginosa dan Staphylococcus epidermidis. Bakteri Gram-negatif lebihbanyak dari pada bakteri Gram-positif. Secara keseluruhan resistensitertinggi bakteri adalah terhadap metronidazol, sefaleksin, sefuroksim,oksasilin dan sefadroksil dan sensitivitas tertinggi bakteri terhadappiperasilin/ tozobaktam, meropenem, imepenem, amikasin, fosfomisin/trometamol dan levofloksasin.Kata kunci: Bakteri, Antibiotik, Resistensi, Sensitivitas, Pu
Formulasi Krim Anti Acne dari Ekstrak Rimpang Temulawak dengan Variasi Emulgator Span 80 dan Tween 80
Latar Belakang. Temulawak (Curcuma xanthorrhizaRoxb) merupakan salah satu tanaman obat yang berkhasiat sebagai anti acne. Tujuan penelitian ini adalah memformulasikan krim anti acne dari ekstrak rimpang temulawak dengan berbagai variasi emulgator span 80 dan tween 80 sehingga menghasilkan stabilitas krim yang baik. Metode. Formulasi krim F1 terdiri atas emulgator span 80 dan tween 80 yaitu 30% : 70%, F2 dengan perbandingan 50%:50%, dan F3 dengan perbandingan 70% : 30%. Uji yang dilakukan meliputi uji stabilitas fisik dan kimia, serta uji aktivitas anti acne. Uji stabilitas fisik dan kimia dilakukan setiap 3 hari selama 31 hari penyimpanan. Sedangkan uji pengamatan aktivitas anti acne dilakukan terhadap bakteri S.aureus dan S. epidermidis. Hasil. Berdasarkan hasil pengamatan organoleptis, semua krim hasil formulasi tidak menunjukkan perubahan yang berarti terhadap warna, bau, dan konsistensi. Daya sebar yang mengalami perubahan terkecil diperoleh dari krim F2, daya lekat yang mengalami perubahan terkecil adalah krim F1 serta (pH) yang mengalami perubahan terkecil adalah sediaan krim F2. Kesimpulan. Uji aktivitas anti acne menunjukkan bahwa sediaan krim F2 lebih efektif daripada F3 dan F1, dengan diameter zona hambat terhadap bakteri S. epidermidis adalah 7 mm dan terhadap S. aureus adalah 4 mm
EFEK KEKURANGAN ENERGI PROTEIN TERHADAP GAMBARAN HISTOLOGI DUODENUM TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) GALUR Sprague-Dawley
Background Childhood malnutrition is a problem in developing countries, andpathological changes in digestive organ such as duodenum might play a part in theprogression of the disease. An animal model to study the microscopic features ofduodenum could prove important in evaluating the pathophysiology of the condition.Methods This research is an experimental using a post-test only with control groupsdesign. 30 three week-old rats were given access to either an 8 g/100 gBW/day diet(CONTROL, n=15) or a 4 g/100 gBW/day diet (MALNOURISHED, n=15) for 21days. Every 7 days, five rats from each group were euthanized and their duodenumswere collected for histological samples. Histological samples were made from crosssectionsof duodenums and stained with haematoxylin-eosin. Villous height, cryptsdepth and mucosal thickness were recorded from these histological samples. ResultMalnourished rats give lower numbers across all histological parameters comparedto their corresponding counterparts in the control group. Furthermore, theparameters in malnourished rats that were euthanized after 14 days are lower thanthose that were euthanized after 7 days. However, malnourished rats that wereeuthanized after 21 days give higher numbers in all parameters than those that wereeuthanized after 14 days. Conclusion Duodenal morphologies are compromisedduring malnutrition but undergo adaptation mechanism to compensate for the lowintake of protein and calorie. This rat model is relevant for a better understanding ofthe pathophysiology of malnutrition.Keywords: Protein-energy malnutrition, duodenum, villous height, crypts depth,mucosal thicknes
The Effectiveness of Bacillus thuringiensis israelensis in Controlling Aedes aegypti Larvae in Water Containers in Rawasari Village, Central Jakarta
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang menjadi masalahkesehatan masyarakat di DKI Jakarta,salah satunya di Kelurahan Rawasari,Jakarta Pusat. Untuk memberantas vektor DBD salah satu cara yang dapatdilakukan adalah menggunakan biolarvasida, yaitu Bacillus thuringiensisisraelensis (Bti). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas darilarvasida Bti dalam pemberantasan vektor DBD di Container TPA. Desain penelitian ini adalah menggunakan metode quasi-eksperimental dengan intervensi aplikasi Bti bentuk larutan konsentrasi 4 ml/m2. Data sebelum intervensi diambilpada tanggal 14 Februari 2010 dan sesudah intervensi pada tanggal 15 Maret 2010yang terletak Kelurahan Rawasari, Jakara Pusat. Survei entomologi dilakukandengan single-larval method di container TPA di 100 rumah. Data diolah denganprogram SPSS versi 20 dengan analisis menggunakan uji McNemar. Hasilmenunjukkan bahwa setelah pemberian Bti terjadi penurunan dari 15 containerpositif menjadi 12 container, tetapi, hasil McNemar menunjukkan p = 0,629,artinya tingkat kepadatan larva Ae.aegypti tetap tinggi. Maka, Bti konsentrasi 4ml/m2 tidak efektif dalam menurunkan keberadaan larva Ae.aegypti di containerTPA
HUBUNGAN ANTARA LINGKAR PERUT DAN FUNGSI KOGNITIF PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURNAMA KOTA PONTIANAK
Latar Belakang: Beberapa studi telah menunjukkan hubungan antara diabetesmelitus dan gangguan kognitif serta terjadinya penurunan fungsi kognitif secaracepat. Penelitian Withmer menunjukkan adanya peningkatan ressiko terjadinyagangguan kognitif atau demensia pada individu yang mengalami obesitas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lingkar perutdan fungsi kognitif pada penderita DM tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Purnama Kota Pontianak. Metodologi: Penelitian ini menggunakan penelitianobservasional analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Subjek dalampenelitian berjumlah 40 pasien diabetes melitus tipe 2 yang dikumpulkan dengan teknik consecutive sampling dengan pengukuran lingkar perut dilanjutkanpengisian kuesioner Montreal Cognitive Assesment versi Indonesia. Datakemudian dianalisis dengan program SPSS. Hasil: Dari 40 pasien yangdilibatkan pada penelitian, sebanyak 20 pasien mengalami obesitas sentraldisertai gangguan fungsi kognitif. Dengan menggunakan uji analisis Fisherdidapatkan nilai p = 0,033 (<0,05), sehingga hipotesis kerja diterima. Padapenelitian ini didapatkan nilai RR sebesar 4,242 dengan interval kepercayaan95% berkisar antara 0,677 dan 26,587. Hal ini berarti bahwa lingkar perutmerupakan faktor resiko untuk terjadinya gangguan fungsi kognitif yakni padasubjek yang mengalami obesitas sentral mempunyai resiko mengalami gangguanfungsi kognitif 4,242 kali lebih besar dibandingkan dengan subjek yang tidakmengalami obesitas sentral. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antaralingkar perut dan fungsi kognitif pada penderita DM tipe 2.Kata Kunci: obesitas sentral, lingkar perut, diabetes melitus tipe 2, fungsi kogniti
PENGETAHUAN IBU HAMIL MENGENAI FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI AIR SUSU IBU di RSU dr. SUDARSO PONTIANAK TAHUN 2014
Latar Belakang: Penurunan produksi Air Susu Ibu (ASI) mengakibatkankegagalan menyusui yang terjadi akibat kurangnya pengetahuan ibu hamil mengenaifaktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI. Kecemasan dan kekhawatiran yangtimbul akibat dari kurangnya pengetahuan mengenai produksi ASI, selanjutnya akanmengakibatkan kegagalan menyusui dan penurunan produksi ASI. TujuanPenelitian: Menggambarkan pengetahuan ibu hamil yang berobat di poli kebidananRSUD dr. Soedarso Pontianak mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksiASI. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan potongsilang yang dilakukan terhadap 96 ibu hamil di RSUD dr. Soedarso Pontianakkemudian digambarkan melalui narasi dan tabel. Hasil: Gambaran jawaban hasilpengujian tingkat pengetahuan ibu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhiproduksi ASI dengan rata-rata jawaban benar sebesar 61,46% dan rata-rata jawabansalah sebesar 38,54% dari delapan belas pertanyaan yang diajukan dan dikategorikantingkat pengetahuan baik sebanyak 32,29%, cukup sebanyak 55,21% dan kurangsebanyak 12,50%. Kesimpulan: Pengetahuan ibu hamil yang berobat di polikebidanan RSUD dr. Soedarso Pontianak terhadap faktor-faktor yang mempengaruhiproduksi ASI, cukup baik atas pengujian terhadap pengetahuan mengenai ASI,faktor yang mempengaruhi produksi ASI dan tanda kecukupan ASI. Kata Kunci: Faktor Produksi ASI, Pengetahuan Ibu Hami
HUBUNGAN ANTARA NILAI TEST ANXIETY DAN NILAI UJIAN SUMATIF I DAN SUMATIF II PADA MAHASISWA PSPD FK UNTAN ANGKATAN 2010, 2011 DAN 2012
Studi kedokteran sudah diketahui tidak terpisahkan dengan pengalaman akademik yangmenantang dan penuh stres, hingga dapat menumbulkan kecemasan. Salah satu faktoryang menyebabkan kecemasan pada mahasiswa kedokteran adalah ujian. PadaProgram Studi Pendidikan Dokter Universitas Tanjungpura, ujian sumatif I dan sumatif IIsangat rentan menimbulkan Test Anxiety karena beban materi dan beban penilaian yangpaling besar dibanding ujian lainnya. Penting untuk meneliti pengaruh Test Anxietyterhadap performa akademik mahasiswa PSPD FK Untan. Sebab Test Anxiety dapatmempengaruhi performa akademik, kondisi kesehatan, dan kualitas hidup mahasiswa,yang dapat secara langsung dan tidak langsung menurunkan kualitas mahasiswakedokteran
GAMBARAN STATUS ANEMIA PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI UNIT PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU PROVINSI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2010-2012
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis. Indonesia merupakan salah satu dari lima negara di dunia dengan kasus TB terbesar. Angka kematian akibat TB mencapai 90.000 orang setiap tahunnya. Infeksi TB dapat menimbulkan manifestasi klinis pada berbagai organ, diantaranya kelainan hematologi seperti anemia. Telah banyak penelitian yang melaporkan tingginya kasus anemia pada pasien TB dan dikaitkan dengan risiko kematian. Tujuan: Mengetahui gambaran status anemia pada pasien TB paru di Unit Pengobatan Penyakit Paru-Paru Provinsi Kalimantan Barat. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian destriptif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan dengan penilaian terhadap data rekam medik pasien TB paru di Unit Pengobatan Penyakit Paru-Paru Provinsi Kalimantan Barat. Hasil: Terdapat sebanyak 692 orang yang memenuhi kriteria penelitian. TB paru paling banyak diderita oleh pasien laki-laki (66,8%). Kelompok usia 25-34 tahun adalah yang paling banyak mengalami TB paru (24,1%). Pasien TB paru sebagian besar mengalami anemia (76,4%). Anemia ringan adalah yang paling banyak terjadi pada pasien TB paru (59,1%). Jenis anemia yang paling banyak adalah normokromik normositik (54,8%). Kesimpulan: Anemia terjadi pada 76,4% pasien TB paru dan anemia normokromik normositik adalah jenis yang paling banyak ditemukan. Kata kunci: Tuberkulosis, Hematologi, Anemi
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU KEPATUHAN PENASUN DALAM MENGIKUTI PTRM DI RSJD SUNGAI BANGKONG PONTIANAK 2015
Latar Belakang: Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) merupakan salah satu dari program pengurangan dampak buruk Napza (Harm Reduction) untuk pengguna Napza suntik (penasun). Program ini mengalihkan penggunaan narkoba suntik menjadi metadon yang memiliki efek sama dengan heroin dan diberikan dengan cara diminum. Program ini merupakan program jangka panjang, sehingga keberhasilan pengobatan ditentukan dengan tingkat kepatuhan dalam mengikuti PTRM. Tujuan:Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, peran teman sebaya, dan dukungan petugas kesehatan terhadap perilaku kepatuhan dalam mengikuti PTRM. Metodologi: Penelitian analitik dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan non-probability sampling secara total sampling. Data diambil dari hasil wawancara koesioner pada 29 penasun yang memenuhi kriteria sampel di klinik PTRM RSJD Sungai Bangkong Pontianak tahun 2015. Hasil: Uji analisis dengan uji Chi Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan (p=0,042, PR=2,05) dan sikap (p=0,047, PR=2,117) dengan perilaku kepatuhan mengikuti PTRM, dan tidak terdapat hubungan antara dukungan keluarga (p=0,667), peran teman sebaya (0,638), dan dukungan petugas kesehatan (0,270) terhadap perilaku kepatuhan mengikuti PTRM. Kesimpulan:Terdapat kecenderungan bagi penasun dengan tingkat pengetahuan dan sikap yang baik untuk lebih patuh mengikuti PTRM. Kata Kunci: kepatuhan, pengguna Napza suntik, terapi rumatan metado
HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN KRIM PEMUTIH WAJAH DENGAN TERJADINYA TELANGIEKTASIS PADA PARA MODEL SANGGAR INSIX DI PONTIANAK
Latar belakang: Kortikosteroid topikal dalam krim pemutih secara luas sering disalahgunakan dan menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan pada kulit wajah, salah satu efek samping dari penggunaan kortikosteroid topikal jangka panjang termasuk telangiektasis. Telangiektasis merupakan dilatasi pembuluh darah halus pada kulit yang bersifat menetap. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara penggunaan krim pemutih wajah dengan terjadinya telangiektasis. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional menggunakan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di Sanggar Insix dan kandungan krim pemutih wajah diteliti dengan metode skrining fitokimia di Universitas Tanjungpura. Penilaian telangiektasis berdasarkan hasil wawancara dan pemeriksaan fisik. Uji statistik dengan uji fisher. Hasil: Analisis statistik diperoleh nilai p pada uji fisher adalah 0,018 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan terdapat hubungan antara penggunaan krim pemutih wajah dengan telangiektasis. Kesimpulan: Penggunaan krim pemutih wajah berhubungan dengan kejadian telangiektasis. Kata kunci: pemutih kulit, kortikosteroid, telangiektasi