Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
Hubungan Kadar Serum Low Density Lipoprotein dengan Nyeri, Kekakuan dan Fungsi Fisik pada Pasien Osteoartritis Lutut
Latar Belakang. Studi terbaru telah menunjukkan bahwa osteoartritis (OA) tidak hanya terkait dengan obesitas, melainkan juga gangguan metabolisme lemak. Analisis komparatif telah menunjukkan bahwa pasien OA memiliki kadar serum low density lipoprotein (LDL) yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan kontrol sehat. Terdapat juga bukti bahwa LDL kolesterol berperan dalam patologi OA. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain potong lintang. Sebanyak 19 pasien OA lutut yang menjalani rawat jalan di klinik penyakit dalam dilibatkan dalam penelitian ini. Diagnosis OA lutut berdasarkan pada kriteria klinis American College of Rheumatology (ACR). Serum darah diambil dari setiap responden untuk menghitung kadar serum LDL. Responden juga mengisi kuesioner Western Ontario and Mcmaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC) Hasil. Kadar serum LDL memiliki hubungan yang bermakna dengan skor WOMAC nyeri (p=0,002), skor WOMAC kekakuan sendi (p=0,000), dan skor WOMAC aktivitas fisik (p=0,000). Kesimpulan. Dapat disimpulkan bahwa pasien OA lutut dengan kadar serum LDL lebih tinggi memiliki risiko lebih besar untuk mengalami gejala OA yang lebih berat
HUBUNGAN KECEMASAN DENGAN KEJADIAN SINDROM DISPEPSIA PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
Latar belakang. Pengalaman akademik yang berat pada mahasiswa kedokteran dapat menyababkan mahasiswa mengalami gangguan psikologi seperti kecemasan yang dapat berpengaruh pada kesehatan fisik, salah satunya sindrom dispepsia. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kecemasan dengan sindrom dispepsia pada mahasiswa program studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. Metode. Penelitian analitik dengan desain penelitian potong lintang menggunakan kuesioner Beck Anxiety Inventory (BAI) dan kuesioner kriteria sindrom dispepsia Roma III. Penelitian dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak. Sebanyak 150 mahasiswa menjadi sampel dalam penelitian ini. Hasil penelitian diuji dengan uji statistik Tau Kendall dengan bantuan program SPSS 20.0. Hasil. Sebanyak 44,7% mahasiswa mengalami kecemasan normal, kecemasan ringan sebanyak 32,7%, kecemasan sedang sebanyak 18%, kecemasan berat sebanyak 4,7% dan kejadian sindrom dispepsia dialami oleh 63,3% mahasiswa. Berdasarkan analisis statistik diperoleh nilai signifikansi (p) yang didapatkan dengan uji Tau-Kendall adalah 0,000 dan nilai korelasi (r) adalah 0,480. Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna antara kecemasan dengan kejadian sindrom dispepsia pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura.Kata kunci: kecemasan, sindrom dispepsia, BAI, kuesioner kriteria sindrom dispepsia Roma II
Hubungan Frekuensi dilakukannya Terapi Aktivitas Kelompok Pada Pasien Skizofrenia dan Penurunan Positive and Negative Syndrome Scale (Panss) di Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong Pontianak
Latar Belakang. Skizofrenia merupakan salah satu dari sindrom klinis atau suatu prosespenyakit yang mempengaruhi prilaku, persepsi emosi, fungsi sosial, dan kongnisi. MenurutDepartemen Kesehatan RI pada tahun 2009 mencatat bahwa 70% gangguan jiwa terbesar diIndonesia adalah skizofrenia. Sedangkan menurut Riskesdas 2013, prevalensi gangguan jiwaberat untuk wilayah Kalimantan Barat seperti skizoftrnia 0,7 permil. Metodologi. penelitianini menggunakan studi analitik observasional jenis cohort , sampel total berjumlah 36 orang. ,Rekam medik untuk mengkonfirmasi bahwa diagnosa pasien tersebut adalah skizofrenia.Instrumen penelitian menggunakan penilaian Positive and Negative Syndrome Scale(PANSS). Data dianalisa menggunakan uji T Berpasangan dengan menggunakan StatisticalProduct and Service Solution (SPSS) 22. Hasil. hasil dari uji T berpasanyan menghasilkannilai signifikan sebesar p= 0,000 (p < 0,05) menunjukan adanya perbedaan PANSS 1 DANPANSS 2 setelah di lakukan terapi aktivitas kelompok. Dan terdapat ke korelasian antaraPANSS 1 DAN PANSS 2 setelah di lakukan terapi aktivitas kelompok yaitu p = 0,034 (p <0,05). Kesimpulan. Terapi aktivitas kelompok terdapat hubungan dan berpengaruh terhadappenurunan Positive and Negative Syndrome Scale pada pasien skizofrenia di Rumah SakitJiwa Daerah Sungai Bangkong di Kota Pontianak. Kata Kunci : Skizofrenia, Terapi Aktivitas Kelompok , penurunan Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS
Hubungan Tingkat Ketergantungan Merokok dan Health-Related Quality of Life Perokok di Klinik Berhenti Merokok
Latar Belakang. Merokok merupakan faktor penyumbang terbesar ke dua di dunia yang menyebabkan penyakit pada seluruh organ tubuh, dan merupakan penyebab utama kematian yang dapat dicegah di seluruh dunia. Bahaya paparan merokok dapat dikurangi hanya dengan berhenti merokok. Kesehatan seseorang dapat diukur melalui Health-Related Quality of Life (HRQoL). Pemerintah mendirikan Klinik Berhenti Merokok sebagai sarana untuk mencegah peningkatan jumlah perokok dan mengurangi jumlah perokok. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik menggunakan desain potong lintanf dengan jumlah sampel 49 responden. Hasil. Sebagian besar pasien Klinik Berhenti Merokok Puskesmas UPTD Pontianak Kota tahun 2016 memiliki tingkat ketergantungan sedang (47%). Sebagian besar pasien Klinik Berhenti Merokok Puskesmas UPTD Pontianak Kota tahun 2016 memiliki kualitas hidup buruk pada dimensi nyeri. Tingkat ketergantungan merokok berhubungan dengan HRQol Perokok di Klinik Berhenti Merokok Puskesmas UPTD Pontianak Kota. (p=0,012) Kesimpulan. Tingkat ketergantungan merokok berhubungan dengan HRQol Perokok di Klinik Berhenti Merokok Puskesmas UPTD Pontianak Kota
Analisis Spasial sebaran dan Faktor Resiko Lingkungan pada Kasus TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Rasau Jaya
Latar Belakang. TB paru masih menjadi masalah kesehatan yang utama, baik di dunia maupun di Indonesia. Indonesia menempati urutan ketiga di dunia setelah India dan China dalam hal jumlah penderita TB paru sekitar 583 ribu orang, dan diperkirakan sekitar 140 ribu orang meninggal dunia tiap tahun akibat TB paru. Tingginya angka kasus tersebut maka diperlukan pemetaan sebaran kasus menggunakan Geographic Information System (GIS). Metode. Penelitian ini bersifat studi deksriptif kuantitatif cross sectional menggunakan pendekatan Geographic Information System (GIS). Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran spasial di tahun 2015-2017 terjadi penurunan rata-rata kelembaban udara yang diikuti dengan penurunan jumlah kasus baru TB paru, gambaran spasial TB paru berdasarkan suhu udara menunjukkan bahwa jumlah kasus baru menurun yang diikuti dengan peningkatan rata-rata suhu udara, gambaran spasial TB paru berdasarkan curah hujan menunjukkan bahwa jumlah kasus baru menurun yang diikuti dengan peningkatan rata-rata curah hujan, sedangkan Desa Rasau Jaya 1 merupakan daerah dengan jumlah rumah yang belum memenuhi syarat terbanyak diikuti dengan insidensi TB paru terbanyak di wilayah kerja Puskesmas Rasau Jaya. Kesimpulan. Kelembaban udara, suhu udara, curah hujan, dan jumlah rumah sehat berpengaruh terhadap jumlah kasus TB paru di wilayah kerja Puskesmas Rasau Jaya
Hubungan Kecerdasan Emosional terhadap Nilai Ujian Sumatif Modul Penginderaan pada Mahasiswa FK UNTAN
Latar belakang. Ujian sumatif adalah ujian tertulis untuk mengevaluasi kemampuan mahasiswa kedokteran dalam memahami materi modul. Untuk mendapatkan nilai ujian yang baik dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya kecerdasan emosional. Mahasiswa dengan kecerdasan emosional yang baik memiliki hubungan sosial yang baik, mengetahui keadaan emosional dirinya dan pandai dalam mengartur emosinya serta memiliki motivasi untuk berhasil. Metode. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi analitik observasional jenis cross-sectional. populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura angkatan 2015 dengan jumlah sampel 41 mahasiswa. Kecerdasan emosional diukur menggunakan kuesioner dengan 30 pertanyaan. Hasil. Pada uji korelasi product moment didapatkan nilai p 0,001 (p<0,05) dan nilai korelasi pearson 0,484 yang menunjukkan penelitian ini memiliki hubungan korelasi positif dengan kekuatan korelasi cukup kuat. Kesimpulan. Terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan nilai ujian sumatif modul pengindraan mahasiswa Prodi Pendidikan Kedokteran tahun Universitas Tanjungpura. Terdapat hubungan kecerdasan emosional dalam aspek motivasi, empati dan pengaturan emosi terhadap nilai ujian sumatif modul pengindraan mahasiswa Prodi Pendidikan Kedokteran tahun Universitas Tanjungpura
Hubungan Volume Perdarahan Intrakranial terhadap Glasgow Outcome Scale pada Pasien Cedera Kepala
Latar Belakang. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab terjadinya gangguan neurologis dan kematian yang diakibatkan oleh perdarahan intrakranial yang selanjutnya terjadi peningkatan tekanan intrakranial. Penilaian luaran pasien akibat cedera kepala perlu dilakukan untuk menentukan kondisi pasien cedera kepala. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain potong lintang. Subjek penelitian berjumlah 30 orang. Data GOS dan status pasien saat masuk IGD diambil dari rekam medis di RSUD Dr Abdul Aziz Kota Singkawang, sedangkan volume perdarahan intrakranial pasien diketahui melalui data CT-scan di RS Santo Vincentius Kota Singkawang. Analisis data menggunakan uji Chi Square. Hasil. Volume perdarahan intrakranial memiliki hubungan bermakna dengan GOS (p=0,000), yang mana pada penelitian ini jumlah pasien luaran baik dengan volume perdarahan intrakranial sedikit berjumlah 43,3%, dan pada pasien luaran buruk dengan perdarahan intrakranial banyak sebanyak 46,67%. Kesimpulan. Terdapat hubungan bermakna nilai GOS terhadap volume perdarahan intrakranial pada pasien cedera kepala di RSUD Dr Abdul Aziz Kota Singkawang periode tahun 2015.
Hubungan antara Glasgow Coma Scale dan Lama Perawatan pada Pasien Cedera Kepala dengan Perdarahan Subdural
Latar Belakang. Cedera kepala merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius dimasyarakat karena berperan sebagai pemicu kecacatan dan kematian di seluruh dunia. Perdarahan subdural termasuk pada cedera paling mematikan dari semua tipe cedera kepala. Glasgow Coma Scale (GCS) merupakan salah satu alat prediksi yang dapat digunakan dalam menentukan prognosis. Metode. Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian berjumlah 30 orang. Data Glasgow Coma Scale (GCS) dan lama perawatan diambil dari rekam medis di RSUD DR Abdul Aziz Kota Singkawang. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil. Analisis data dengan uji Spearman mengindikasikan adanya perbedaan bermakna antara Glasgow Coma Scale (GCS) dan lama perawatan (p=0,006). Keeratan hubungan yang terjadi diwakili dengan nilai ρ (koefisien korelasi) yaitu 0.486 yang berarti kedua variabel ini memiliki hubungan yang positif atau berbanding lurus. Kesimpulan. Terdapat hubungan antara Glasgow Coma Scale (GCS) dan lama perawatan yaitu peningkatan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) dapat meningkatkan lama perawatan pada pasien cedera kepala dengan lesi perdarahan subdural
Uji Resistensi Jamur Penyebab Tinea Pedis pada Satuan Polisi Pamong Praja Kota Pontianak terhadap Flukonazol
Latar Belakang. Tinea pedis merupakan dermatofitosis yang terjadi pada telapak kaki dan selaput sela jari kaki akibat dari infeksi dermatofita. Faktor predisposisi yang menyebabkan kejadian tinea pedis yaitu keadaan kaki yang lembab, berkeringat dan selalu basah pada orang yang memakai kaus kaki dan sepatu tertutup dalam jangka waktu yang panjang seperti pada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Pontianak. Penanganan tinea pedis dapat dilakukan dengan pemberian flukonazol. Flukonazol dilaporkan sudah tidak sensitif dalam pengobatan dermatofitosis. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel diambil dengan cara total sampling. Sampel yang memiliki UKK positif tinea pedis akan diambil kerokan kulit kaki untuk pemeriksaan KOH, dibiakan pada media Saboraud Dextrose Agar (SDA), dan diidentifikasi dengan metode slide kultur. Jamur penyebab tinea pedis yang didapat diuji resistensi terhadap flukonazol dengan metode difusi cakram. Hasil. Jamur penyebab tinea pedis pada Satpol PP Kota Pontianak yang didapat yaitu Trychophyton mentagrophytes sebanyak delapan sampel. Tujuh sampel yang diuji resistensi terhadap flukonazol tidak membentuk zona hambat dan satu sampel membentuk zona hambat sebesar 39 mm. Kesimpulan. Sebagian besar Trychophyton mentagrophytes resisten terhadap flukonazol
Gambaran dan Hubungan Karakteristik Individu dan Frekuensi Cuci Rambut dengan Kejadian Pediculosis capitis
Latar Belakang. Pediculosis merupakan infeksi kulit pada manusia yang disebabkan oleh parasit Pediculus. Pediculus humanus merupakan parasit obligat yang hidup dengan menghisap darah manusia untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.Penyakit Pediculosis menyerang terutama individu berusia muda dan dapat menyebar secara cepat dan luas dalam lingkungan hidup yang padat. Gatal merupakan gejala utama dari Pediculosis capitis. Faktor yang dicurigai sebagai penyebab Pediculosis capitis adalah frekuensi cuci rambut dan karakteristik individu seseorang. Metode. Penelitian analitik observasional dengan pendekatan rancangan penelitian jenis crosssectional. Jumlah sampel sebanyak 193 orang. Variabel bebas penelitian ini adalah frekuensi cuci rambut dan karakteristik individu subjek penelitian sedangkan variabel terikatnya adalah kejadian Pediculosis capitis pada santri Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Pesantren X Kecamatan Mempawah Timur. Hasil. Sebanyak 73,1% subjek penelitian mencuci rambut dua kali atau lebih dalam seminggu, sebanyak 79,6% berjenis kelamin perempuan, sebanyak 60,2% berambut panjang dan 77,4% bertipe rambut lurus dari total terinfeksi menderita penyakit Pediculosis capitis. Berdasarkan uji statistik yang telah dilakukan terdapat hubungan yang bermakna pada variabel jenis kelamin dan panjang rambut individu dengan nilai p0,05. Kesimpulan. Terdapat hubungan antara panjang rambut dan jenis kelamin individu sementara tidak terdapat hubungan antara frekuensi cuci rambut dan tipe rambut dengan kejadian Pediculosis capitis pada santri putra dan putri Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Pesantren X Kecamatan Mempawah Timur