Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
Gambaran pengetahuan, Sikap dan Perilaku Penduduk terhadap Filariasis di Desa Bata Lura Kecamatan tanah Pinoh Kabupaten Melawi Tahun 2015
Latar Belakang. Kabupaten Melawi merupakan satu-satunya Kabupaten di Kalimantan Barat yang program eliminasi filariasisnya diakui oleh WHO. Berdasarkan program eliminasi filariasis yang telah diadakan dan banyaknya kasus filariasis setiap tahun di Kabupaten Melawi, maka perlu diadakan penilaian terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku penduduk terhadap filariasis. Metodologi. Penelitian ini bersifat observasional deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 81 orang diambil dengan menggunakan cara simple random sampling. Data diambil dengan menggunakan kuesioner. Hasil. Gambaran pengetahuan penduduk terhadap filariasis adalah kurang baik (61,7%). Gambaran sikap penduduk terhadap filariasis adalah baik (84,0%). Gambaran perilaku penduduk terhadap filariasis adalah baik (59,3%). Kesimpulan. Penduduk Desa Bata Luar memiliki pengetahuan yang kurang baik mengenai filariasis (61,7%), sikap yang baik mengenai filariasis (84,0%), dan perilaku yang baik mengenai filariasis (59,3%)
Uji Efek Hepatoprotektor Ekstrak Metanol Daun Sambiloto (A. Paniculata) terhadap Kadar Malondialdehid Plasma Tikus Jantan Galur Wistar yang Diinduksi Parasetamol
Latar Belakang: Daun sambiloto (A. paniculata) mengandung metabolitsekunder flavonoid dan andrografolid yang berfungsi sebagai senyawaantioksidan dan menstimulasi pembentukan GSH (glutation) sehinggamemberikan efek hepatoprotektor berupa penurunan kadar MDA plasma.Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui efek hepatoprotektor dandosis efektif ekstrak metanol daun sambiloto (A. paniculata) pada tikusputih jantan galur Wistar dibandingkan kurkuma melalui indikator MDAplasma. Metodologi: Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan desain pretest dan posttest. Sebanyak 30 ekortikus putih jantan galur wistar dibagi secara acak ke dalam 5 kelompok:kontrol positif (kurkuma), kontrol negatif (parasetamol 900mg/kg), dosis I(500 mg/kg), dosis II (1000 mg/kg), dosis III (2000 mg/kg). Semua tikusdiinduksi parasetamol dosis toksik selama jalannya penelitian. MDAplasma diukur menggunakan metode Wills. Data dianalisis menggunakanuji One-way anova yang dilanjutkan dengan uji Post-Hoc LSD. Hasil: Hasilanalisa post hoc menunjukkan perbedaan yang bermakna kadar MDAplasma kelompok ekstrak dosis I, II dan III terhadap kelompok kontrolnegatif (p=0,000). Selain itu, terdapat perbedaan yang bermakna kadarMDA plasma kelompok dosis II dan III terhadap kelompok kontrol positif(p=0,004). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar MDAplasma kelompok dosis I terhadap kontrol positif (p=0,337). Kesimpulan:Ekstrak metanol daun sambiloto (A. Paniculata) memiliki efekhepatoprotektor dengan dosis efektif 500 mg/kg. Ekstrak sambiloto (A.Paniculata) dosis 500 mg/kg tidak memiliki efek yang lebih baik biladibandingkan dengan kurkumin dosis 500 mg/kg.Kata Kunci : Andrographis paniculata, ekstrak metanol sambiloto,parasetamol, hepatoprotektor, antioksidan, MDA plasm
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG HIPERTENSI DENGAN PERILAKU PENGENDALIAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA UPK PUSKESMAS GANG SEHAT PONTIANAK 2018
Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama kematianglobal dan diperkirakakan telah menyebabkan 9,4% kematian dunia per tahunnya.Tiap tahunnya, diperkirakan prevalensi hipertensi akan terus meningkat sebanyak7,2%. Untuk mengurangi kejadian hipertensi di Indonesia dapat dilakukan berbagaicara. Salah satunya adalah meningkatkan pengetahuan individu, kelompok ataumasyarakat mengenai hipertensi. Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh kepadaperilaku sebagai hasil jangka menengah dari pendidikan kesehatan. Tujuan:Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang hipertensi dengan perilakupengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi di wilayah kerja PuskesmasGang Sehat Pontianak. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian analitikobservasional jenis cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 50 orangmahasiswa. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Gang Sehat, Pontianak Selatan.Hasil penelitian diuji dengan uji statistik Spearman dengan bantuan program SPSS23. Hasil: 36 orang (72%) memiliki pengetahuan baik, dan didapatkan hasilsebanyak 37 orang (74%) memiliki perilaku pengendalian baik. Berdasarkananalisis statistik diperoleh nilai signifikansi (p) yang didapatkan dengan ujiSpearman adalah 0,000 dan nilai korelasi (r) adalah 0,905. Kesimpulan: Terdapathubungan antara tingkat pengetahuan tentang hipertensi dengan perilakupengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi di wilayah kerja PuskesmasGang Sehat, Pontianak, 2018.Kata kunci : Tingkat Pengetahuan, Perilaku Pengendalian, Hipertensi, Pasie
Perbedaan Efektifitas Penyuluhan Kesehatan menggunakan Metode Ceramah dan Media Audiovisual (Film) terhadap Pengetahuan Santri Madrasah Aliyah Pesantren Khulafaur Rasyidin tentang TB Paru Tahun 2015
Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) hingga saat ini masih merupakan masalah kesehatan yang utama di dunia dan belum ada satu negara pun yang bebas dari TB. Salah satu program penanggulangan TB yang disusun oleh Depkes RI dibidang promotif adalah penyuluhan kesehatan, karena masalah TB banyak berkaitan dengan masalah pengetahuan dan perilaku masyarakat. Penggunaan media penyuluhan kesehatan akan memperjelas informasi yang disampaikan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku. Media audiovisual merupakan media penyuluhan yang menarik dan melibatkan lebih banyak indera. Metodologi. Penelitian ini menggunakan metode quasi-experimental dengan rancangan nonequivalent control group design with pretest and posttest pada 68 orang santri Madrasa
Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa Kitosan terhadap Neisseria gonorrhoeae yang diisolasi dari Pasien dengan Penyakit Infeksi Seksual secara In Vitro
Latar Belakang. Infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme. Neisseria gonorrhoeae merupakan salah satu mikroorganisme berupa bakteri potensial patogen penyebab penyakit infeksi dan sering bersifat multidrug resistance. Peningkatan resistensi antibiotik menyebabkan peningkatan penggunaan bahan alami. Kitosan merupakan bahan alam yang terkandung dalam kulit udang (crustacea) yang mengandung metabolit aktif yang bersifat sebagai antibakteri. Metode. Kitosan yang sudah diolah kemudian dilarutkan dengan menggunakan asam asetat 0.1 M. Kitosan kemudian dibagi kedalam beberapa konsentrasi. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 1000 ppm, 2000 ppm, 3000 ppm, 4000 ppm, 5000 ppm dan 6000 ppm. Kontrol positif menggunakan ceftriaxone 15 µg/disk dan kontrol negatif menggunakan asam asetat 0,1 M. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode sumuran. Hasil. Tidak ditemukan zona hambat terhadap pertumbuhan Neisseria gonorrhoeae. Kesimpulan. Senyawa kitosan tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap Neisseria gonorrhoeae.
Rasionalitas Penggunaan Antibiotik pada Kasus Typhus Abdominalis di Puskesmas Siantan Hilir Kota Pontianak Tahun 2014
Latar Belakang. Penggunaan obat secara rasional menurut World Health Organization (WHO) adalah penggunaan obat yang sesuai dengan kebutuhan klinis pasien, dalam jumlah dan untuk masa yang memadai, serta dengan biaya yang terendah. Obat yang paling banyak digunakan secara salah (misused) adalah antibiotik. Tatalaksana antibiotik yang tepat pada pasien typhus abdominalis sangat penting karena dapat mencegah komplikasi dan mengurangi angka kematian. Metodologi. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang dengan pendekatan retrospektif. Sampel pada penelitian ini adalah 95 rekam medis pasien typhus abdominalis yang memuat antibiotik. Rasionalitas penggunaan antibiotik dinilai dengan kriteria Gyssens. Hasil. Peresepan antibiotik pada kasus typhus abdominalis rawat inap dengan kategori 0 sebanyak 69,4%, kategori III B sebanyak 16,1%, kategori I sebanyak 6,5%, kategori V sebanyak 4,8%, dan kategori IVA sebanyak 3,2%. Peresepan antibiotik pada kasus typhus abdominalis rawat jalan dengan kategori IV A sebanyak 93,9% dan kategori 0 sebanyak 6,1%. Kesimpulan. Penggunaan antibiotik yang rasional pada kasus typhus abdominalis rawat inap sebanyak 69,4% dan yang tidak rasional sebanyak 30,6%. Penggunaan antibiotik yang rasional pada kasus typhus abdominalis rawat jalan sebanyak 6,1% dan yang tidak rasional sebanyak 93,9%
Hubungan antara Analisis Sikap Kerja dan Indeks Prestasi Kumulatif pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FK UNTAN Angkatan 2015
Latar Belakang. Aspek-aspek sikap kerja yang meliputi kecepatan, ketelitian, ketahanan, dan konsistensi kerja dapat menentukan bagaimana seseorang berkonsentrasi dengan baik. Kinerja mahasiswa kedokteran yang dapat dilihat berdasarkan keseluruhan prestasi mahasiswa dalam satu waktu tertentu yaitu Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Metodologi. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan studi kohort tunggal prospektif melalui pendekatan single blind, dilakukan di Fakultas Kedokteran Untan pada bulan Desember 2015. Instrumen data yang digunakan yaitu hasil penilaian Kraepelin Test meliputi aspek sikap kerja serta nilai prestasi akademik diambil dari rekapitulasi IPK di dua (2) semester dengan sampel sebanyak 56 orang Hasil. Hasil penelitian menunjukkan keempat aspek sikap kerja yaitu kecepatan kerja mahasiswa mayoritas dalam kategori baik sebesar 28,60% (16 mahasiswa), ketelitian kerja mahasiswa mayoritas dalam kategori baik sekali sebesar 78,60% (44 mahasiswa), konsistensi kerja mayoritas dalam kategori sedang sebesar 82,10% (46 mahasiswa) dan ketahanan kerja mahasiswa mayoritas dalam kategori kurang sebesar 39,30% (22 mahasiswa). Indeks Prestasi Kumulatif didapatkan mahasiswa mayoritas dalam kategori Sangat Memuaskan sebesar 62,50% (35 mahasiswa), Dengan Pujian 17,90% (10 mahasiswa), Memuaskan 17,90% (10 mahasiswa), dan Tidak Memuaskan 1,80% (1 mahasiswa). Dengan menggunakan uji korelasi Spearman rho didapatkan nilai p sebesar 0,590 (p>0,05) pada kecepatan kerja, p sebesar 0,598 (p>0,05) pada ketelitian kerja, p sebesar 0,367 (p>0,05) pada konsistensi kerja, p sebesar 0,608 (p>0,05) pada ketahanan kerja dengan kekuatan korelasi (r) = 0,070, 0,074, 0,367, 0,070. Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara analisis sikap kerja dan Indeks Prestasi Kumulatif pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura angkatan 2015
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENAGA KESEHATAN TERHADAP PENANGANAN DIARE CAIR AKUT DENGAN DEHIDRASI ANAK USIA 1-5 TAHUN DI UNIT GAWAT DARURAT KOTA PONTIANAK
Latar Belakang: Diare menjadi penyakit kedua penyebab kematian anakdi dunia setelah infeksi saluran pernapasan akut. Penyebab kematianutama pada diare dikarenakan dehidrasi. Dehidrasi yang terjadi akibatdiare pada anak jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat akanmenyebabkan anak syok, kejang-kejang bahkan tidak sadarkan diri,sehingga diperlukan penanganan segera oleh dokter di UGD. Tujuan:Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan terhadappenanganan diare cair akut dengan dehidrasi anak usia 1-5 tahun di UGD.Metodologi: Studi analitik dengan pendekatan cross-sectional.Pengukuran tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang diare cairakut serta penanganannya dilakukan dengan memberikan kuesioner. Dataanalisis menggunakan uji Spearman. Pemilihan sampel menggunakancara non-probabilistik dengan teknik consecutive sampling. Hasil: Tingkatpengetahuan tenaga kesehatan mengenai diare cair akut dengandehidrasi diketahui 36,4% rendah, 45,5% sedang, 18,1% tinggi dan tingkatpenanganan 27,3% buruk dan 72,7% baik. Nilai korelasi (r) 0,615 danp=0,000. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna secarastatistik (p<0,05) antara tingkat pengetahuan tenaga kesehatan terhadappenanganan diare cair akut dengan dehidrasi anak usia 1-5 tahun di UGDkota Pontianak. Kata Kunci: Pengetahuan, Diare cair akut, Dehidrasi, Penanganan, Anak usia 1-5 tahun, Tenaga Kesehatan, UGD
PENGARUH PEMBERIAN ASTAXANTHIN TERHADAP AKTIVITAS SPESIFIK ENZIM KATALASE JARINGAN HEPAR TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI FORMALDEHID SECARA ORAL
Latar Belakang: Formaldehid merupakan zat yang banyakdisalahgunakan, sebagai contohnya sebagai pengawet makanan.Paparan formaldehid yang berlebihan dapat merusak hepar melalui stressoksidatif dan menurunkan jumlah antioksidan alami dalam tubuh, salahsatunya katalase. Pemberian astaxanthin sebagai antioksidan eksogendiharapakan dapat meningkatkan aktivitas spesifik enzim katalase.Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberianastaxanthin terhadap aktivitas spesifik enzim katalase pada jaringan hepartikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur wistar yang diinduksiformaldehid secara oral. Metodologi: Desain penelitian ini merupakaneksperimental murni dengan rancangan posttest-only control groupdesign. Dalam penelitian ini digunakan sebanyak 30 tikus yang dibagimenjadi 5 kelompok: kelompok kontrol normal: kelompok kontrol negatifhanya diberi induksi formaldehid; kelompok dosis 1 diberikan astaxanthin12mg/hari; kelompok dosis 2 astaxanthin 24 mg/hari; kelompok dosis 3diberikan astaxanthin 48 mg/hari. Aktivitas spesifik enzim katalasejaringan hepar diuji dengan metode Mates kemudian data dianalisisdengan One Way ANOVA dilanjutkan Post Hoc Test LSD. Hasil:. Tidakterdapat perbedaan bermakna pada aktivitass spesifik enzim katalasejaringan hepar antara kelompok kontrol positif, kontrol negatif, dosisastaxanthin 12 mg/hari, dosis astaxanthin 24 mg/hari, dan dosisastaxanthin 48 mg/hari (One Way ANOVA>0,05). Kesimpulan:Pemberian astaxanthin tidak menyebabkan peningkatan bermakana padaaktivitas spesifik enzim katalase jaringan hepar pada tikus galur wistaryang diinduksi formaldehid secara oral
Hubungan antara Lama Terapi terhadap Tingkat Gejala Depresi pada Pasien TB Paru di Unit pengobatan Penyakit Paru-Paru Pontianak
Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) Paru merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Sampai sekarang, TB paru masih menjadi masalah kesehatan didunia begitu pun juga di Indonesia. Banyaknya angka kejadian penyakit TB paru di dunia khususnya Indonesia, menimbulkan permasalahan seperti terapi yang lama dan kompleks, komplikasi penyakit serta banyak kekhawatiran lain yang dapat memicu munculnya depresi. TB Paru memerlukan pengobatan selama 6-8 bulan. Pengobatan tersebut memerlukan waktu yang lama maka penderita TB paru sangat mungkin mengalami depresi. Metodologi. Jenis penelitian ini adalah metode studi analitik observasional dengan pendekatan cross sectional, dilakukan Unit Pengobatan Penyakit Paru-Paru (UP4) Pontianak pada bulan April 2016. Instrumen data yang digunakan yaitu Hasil Penilaian Kuesioner Tingkat Depresi Menggunakan Bec