Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP TERHADAP MUTU PELAYANAN BPJS KESEHATAN DENGAN METODE SERVQUAL DI RSUD SULTAN SYARIF MOHAMAD ALKADRIE PONTIANAK
Latar Belakang: Mutu pelayanan ditujukan untuk memuaskanpelanggan atau masyarakat yang dapat dinilai melalui tingkat kepuasanpelanggan. Kepuasan yang tinggi atau kesenangan yang meningkatcenderung berdampak langsung pada tingkah laku dan sikap pelanggan.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat kepuasan pasien rawat inapterhadap mutu pelayanan BPJS di RSUD Sultan Syarif Mohamad AlkadriePontianak. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian analitikobservasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampeldengan teknik consecutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 67orang responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner.Analsis statistic yang digunakan adalah uji Fisher. Hasil: Hasil uji Fishermenunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tangible(p=0,015), reability (p=0,015), responsiveness (p=0,030), assurance(p=0,030), dan emphaty (p=0,030) terhadap tingkat kepuasan pasienrawat inap. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat kepuasanterhadap mutu pelayanan BPJS Kesehatan pada pasien rawat inap diRSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak.Kata Kunci: Mutu Pelayanan, BPJS, tingkat kepuasa
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PRAKTEK MINUM OBAT PENCEGAHAN FILARIASIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI RAYA DALAM
Latar Belakang: Filariasis atau penyakit kaki gajah merupakan penyakit menular kronisakibat infeksi parasit dari golongan nematode yang menyerang langsung sistem limfatikmanusia. Kabupaten Kubu Raya telah melakukan Pemberian Obat Pencegahan Massal(POPM) filariasis yang dilakukan pada tahun 2009 – 2014, sekitar 49,29% yangmeminum obat dan jauh dari target yaitu 65%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadappraktek minum obat pencegahan filariasis di Puskesmas Sungai Raya Dalam.Metodologi: jenis penelitian ini analitik dengan rancangan penelitian cross sectional.Jumlah sampel minimal pada penelitian ini adalah 97 responden. Hasil: Adanyahubungan antara tingkat pengetahuan (p=0,000) dan sikap (p=0,000) masyarakatterhadap praktek minum obat pencegahan filariasis. Saran : Diharapkan kepada semuapihak untuk mendukung program POPM filariasis yang dilakukan oleh dinas kesehatansetempat
Gambaran Tingkat Pengetahuan Wanita Usia Subur tentang Imunisasi Tetanus Toksoid di Desa Sungai Rengas
Latar belakang. Imunisasi Tetanus toksoid (TT) adalah pemberian imunisasi tetanus pada wanita usia subur (WUS) atau sedang mengandung yang merupakan pencegahan terhadap tetanus neonatorum yang paling mudah dan efektif. Dengan pemberian imunisasi tetanus lengkap, maka perlindungan terhadap infeksi tetanus bisa mencapai lebih dari 90%. Dikatakan lengkap apabila WUS sudah mendapatkan imunisasi tetanus sebanyak 5 kali yang akan memberikan perlindungan terhadap tetanus selama 25 tahun. Metode. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Data diambil dari 97 responden Pemilihan sampel dilakukan melalui metode pengambilan sampel berdasarkan peluang (probability sampling), yaitu dengan cara stratified random sampling. Hasil. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik tentang imunisasi TT. Kesimpulan. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik tentang imunisasi TT.Kata kunci: Imunisasi TT, tetanus neonatorum, wanita usia suburBackground. Tetanus toxoid Immunization is tetanus immunization for women of childbearing age or for pregnant women that Is a precaution against tetanus neonatorum that can be most easily and effective. By the provision of complete tetanus immunization So protection against infection tetanus Can reach more than 90%. It will be said complete when women of childbearing age are already getting tetanus immunization as many as 5 times that will provide Protection against tetanus for 25 years. Method. This research is a descriptive research with the cross sectional design . Based on opportunities ( probability sampling ) , a stratified random sampling Data were taken from 97 respondent. The Sample selection is done through a method of sampling Based on opportunities ( probability sampling ) with a stratified random sampling. Result. Based on the results of the research which has been done , most of the respondent have a good knowledge about tetanus toxoid. Conclusion. Most of the respondent Have a good knowledge about tetanus toxoid.Keywords: tetanus toxoid immunization , neonatorum tetanus, childbearing age woman
Perbandingan Efektivitas Penyuluhan Metode Ceramah dan Media Audiovisual terhadap Pengetahuan Ibu Rumah Tangga tentang 3M Plus sebagai Upaya Preventif Demam Berdarah Dengue
Latar Belakang. Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Angka penderita DBD di Indonesia cenderung meningkat terutama 3 provinsi tertinggi yaitu DKI Jakarta (313,41), Kalimantan Barat (228,3), dan Kalimantan Timur (173,84). Di Kalimantan Barat khususnya Kota Pontianak tahun 2015, Kelurahan Sungai Jawi Luar merupakan kelurahan di Pontianak Barat dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) 70,14. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai perilaku preventif berupa 3M Plus juga menjadi salah satu faktor tingginya jumlah penderita DBD. Perlu pengetahuan masyarakat mengenai 3MPlus untuk dapat melakukan perilaku preventif terhadap DBD terutama pada ibu rumah tangga karena ibu rumah tangga berperan penting dalam menjaga kesehatan keluarga. Metode. Menggunakan kuasi eksperimental dengan desain pre-test post-test control group. Sampel berjumlah 96 responden menggunakan teknik non probability sampling. Hasil. Karakteristik responden mayoritas memiliki jenjang pendidikan terakhir SMA (35,41%) dan mayoritas berusia 25-50 tahun (79,16%). Pengetahuan kelompok ceramah dengan kategori baik meningkat menjadi 89,58% dengan nilai t 13,109 dan P=0,000, sedangkan kelompok audiovisual dengan kategori baik meningkat menjadi 39,58 dengan nilai t 8,902 dan P=0,000. Kesimpulan. Penyuluhan menggunakan metode ceramah lebih efektif dibandingkan dengan metode audiovisual.Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue, 3M Plus, Penyuluhan, Pengetahuan, Ibu Rumah tanggaBackground. Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious diseases caused by dengue virus transmitted by mosquito bite, Aedes aegypti. Number of (DHF) in Indonesia is increasing especially the highest 3 province, DKI Jakarta (313,41), West Borneo (228,3), and East Borneo (173,84). In West Borneo, especially Pontianak City in 2015, Kelurahan Sungai Jawi Luar has Angka Bebas Jentik (ABJ) 70,14. Lack of community knowledge about preventative behaviour of 3M Plus become one of the factors that cause high number of DHF patients. Community knowledge about 3M Plus is necessary in order to commit preventive behaviour of DHF especially toward housewives because they are play an important role to maintain their familys health. Method. Used quasi experimental with pre-test and post-test control group design. Number of sample were 96 respondents by using non probability sampling technique. Result. Majority of respondents last education level is high school (35,41%) and majority of respondents age are 25-50 years old (79,16%). The knowledge of communicative group with good category increased to 89,58% and t value 13,109 and P=0,000, meanwhile the knowledge of audio visual group with good category increased to 39,58 and t value 8,902 and P=0,000. Conclusion. Communicative method is more effective than audio visual method.Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever, 3M Plus, Health Education, Knowledge, Housewife
HUBUNGAN ANTARA DERAJAT MEROKOK DENGAN KEJADIAN STROKE DI RSUD ABDUL AZIS SINGKAWANG
Latar Belakang:Stroke merupakan penyakit gangguan fungsional otak,akut maupun fokal akibat proses patologis (trombus,embolus, dan rupturpembuluh darah).1 Stroke merupakan penyebab umum kematian urutanke tiga di negara maju setelah penyakit kardiovaskular dan kanker. Setiaptahun, lebih dari 700.000 orang Amerika mengalami stroke, 25% diantaranya berusia di bawah 65 tahun, dan 150.000 orang meninggalakibat stroke atau akibat komplikasi segera setelah stroke. Belum adapenelitian mengenai derajat merokok dengan kejadian stroke di RSUDAbdul Azis Singkawang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan antara derajat merokok dengan kejadian stroke diRSUD Abdul Azis Singkawang.Metodologi: Penelitian ini merupakanpenelitian dengan desain potong lintang. Data didapatkan dari kuisionerdan data rekam medis. Sampel penelitian berjumlah 64 orang. Datadianalisis menggunakan uji chi square. Hasil: Uji statistik menunjukkantidak terdapat hubungan antara derajat merokok dengan kejadian stroke diRSUD Abdul Azis Singkawang (p=0.689). Kesimpulan: Tidak terdapathubungan antara derajat merokok dengan kejadian stroke di RSUD AbdulAzis Singkawang.Kata Kunci: Derajat Merokok, Strok
Uji Aktivitas Antifungi Minyak Atsiri Daun Pal (Myristica fragrans Houtt) terhadap Candida albicans secara In Vitro
Latar belakang. Candida dapat menyebabkan infeksi yang disebut kandidiasis. Tanaman pala (Myristica fragans Houtt) dilaporkan memiliki senyawa metabolit sekunder yang dapat berperan sebagai insektisidal, antibakteri dan antifungi. Minyak atsiri daun pala (M. fragrans H.) diketahui memiliki kandungan terpenoid sebagai antibakteri dan antifungi. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen murni. Penelitian dilakukan di laboratorium non mikroskopik dan mikroskopik Fakultas Kedokteran Tanjungpura. Uji antifungi menggunakan metode difusi cakram. Analisis data diolah dengan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil. Minyak atsiri daun pala (M. fragrans H.) memiliki aktivitas antifungi terhadap C. albicans pada konsentrasi 10%, 25%, 50%, 75%, dan 100% dengan zona hambat yaitu 8.5 mm, 16 mm, 17 mm, 19 mm, dan 23.75 mm. Berdasarkan uji Mann-Whitney aktivitas antifungi pada konsentrasi 75% dan 100% menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermkana terhadap kontrol positif (p > 0.05) Kesimpulan. Minyak atsiri daun pala (M. fragrans H.) efektif pada konsentrasi minimum 75% terhadap C. albicans secara in vitro
Hubungan antara Usia Ibu terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi Sectio Caesarea yang Pertama di Rumah Sakit Bersalin di Kota Pontianak
Latar Belakang. Sectio caesarea merupakan suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui insisi dinding perut dan dinding rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram. Tindakan pembedahan Sectio caesarea merupakan tindakan yang umumnya menyebabkan munculnya kecemasan pada seseorang yang bervariasi dari tingkat ringan sampai berat. Umur atau usia adalah satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan suatu benda atau makhluk, baik yang hidup maupun yang mati. Usia termasuk kedalam faktor internal yang mempengaruhi kecemasan pada ibu hamil. Usia juga menjadi faktor resiko kecemasan pada ibu hamil saat akan melakukan Operasi Sectio caesarea. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan Cross sectional. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Total sampling. Sampel penelitian berjumlah 50 responden. Data mengenai tingkat kecemasan didaptkan dari hasil kuesioner Hamilton Rating for Anxiety. Analisis statistic yang digunakan Chi-square. Hasil. Hasil analisis statistic menggunakan uji Chi-square menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara usia ibu terhadap tingkat kecemasan pada responden yaitu pasien preoperasi Sectio caesarea (p>0,05). Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna antar usia ibu terhadap tingkat kecemasan pada pasien preoperasi Sectio caesarea yang pertama kali. Kata Kunci : Usia Ibu, Tingkat Kecemasan, Preoperasi Sectio caesarea
Pengaruh Pajanan dan Penghentian Monosodium Glutamat pada Gambaran Histologis Pankreas Tikus Putih Jantan dewasa
Latar Belakang. Monosodium glutamat (MSG) merupakan salah satu zat penambah rasa pada bahan makanan yang digunakan secara meluas di seluruh dunia. Pankreas merupakan salah satu organ yang berperan penting dalam metabolisme tubuh.. Pada beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa terjadi kerusakan akibat MSG pada pankreas, yang disertai adanya kemampuan pankreas untuk beregenerasi. Metode. Penelitian ini merupakan studi in vivo dengan pendekatan eksperimental murni. Kelompok kontrol (K) 1,2,3 diberikan aquades selama 28 hari; kelompok perlakuan satu (P1) 1,2,3 diberikan MSG dosis 4g/kgBB/hari selama 28 hari; kelompok perlakuan (P2) 1,2,3 diberikan MSG dosis 6 g/kgBB/hari selama 28 hari kemudian pajanan dihentikan dan dibiarkan selama 1 hari, 28 hari, 56 hari. Kemudian dilakukan pembuatan preparat jaringan pankreas dengan pewarnaan Haematoxylin-Eosin. Variabel yang diukur adalah jumlah sel pulau langerhans, diamati dengan perbesaran lensa objektif 40x. Data dianalisa dengan menggunakan uji Kruskall Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney Hasil. Terdapat perbedaan bermakna (p0,05) pada penghentian pajanan MSG hari ke-28 dan hari ke-56 antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan dosis 4 g/KgBB dan 6 g/KgBB menunjukkan tidak terjadi perbaikan pada jaringan pankreas. Kesimpulan. Penghentian pajanan MSG pada hari ke-1, hari ke-28, dan hari ke-56 tidak menunjukkan adanya perbaikan pada jaringan pankreas
ANALISIS FAKTOR RISIKO DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS BANJAR SERASAN KECAMATAN PONTIANAK TIMUR TAHUN 2014
Latar Belakang: Diabetes melitus (DM), penyakit kronik dengankarakteristik hiperglikemia, 90% dari populasinya merupakan DM tipe 2.Terdapat beberapa faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian DM.Pengetahuan akan faktor risiko DM yang berpengaruh dapat menjadiupaya dalam pencegahan DM. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untukmengetahui faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian DMtipe II di wilayah kerja Puskesmas Banjar Serasan kecamatan PontianakTimur tahun 2014. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitiananalitik kategorik dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambildengan metode simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan diPuskesmas Banjar Serasan kecamatan Pontianak Timur pada tanggal 1sampai 30 april 2015. Data diambil dari 52 orang melalui wawancara,kuesioner Global Physical Activity Questionnairre (GPAQ) dan kuesionerpola makan oleh Wiro, serta pemeriksaan langsung. Data dianalisissecara univariat, bivariate dan multivariat menggunakan SPSS 20. Hasil:Dari 52 subjek penelitian didapatkan faktor risiko yang memiliki hubunganbermakna adalah usia (p=0,043), tingkat aktivitas fisik (p=0,000) danriwayat merokok (p=0,000). Dari uji multivariat didapatkan kekuatanhubungan dari yang terbesar dan ke yang terkecil adalah aktivitas fisik(OR = 24,850) dan usia (OR = 0,124). Kesimpulan: Tingkat aktivitas fisikmerupakan faktor risiko yang memiliki pengaruh paling bermaknaterhadap kejadian kejadian DM tipe 2 di Puskesmas Banjar Serasan Kecamatan Pontianak Timur tahun 2014.Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, faktor risik
Gambaran Tingkat Depresi Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Klinik Kitamura Pontianak
Latar belakang. Depresi merupakan gangguan psikologis yang sering dikaitkan dengan stresor jangka panjang seperti penyakit kronis, diantaranya diabetes melitus. Diabetes melitus didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi insulin dapat disebabkan oleh gangguan produksi insulin oleh sel-sel β langerhans kelenjar pankreas atau disebabkan kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin. Metode. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah paeisn diabetes melitus di klinik Kitamura Pontianak Periode 2017 yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner Hamilton depression rating scale (HAM-D). Hasil. Subjek yang mengalami depresi sebanyak 55% dengan rincian depresi ringan sebanyak 27.5%, tingkat depresi sedang 15%, tingkat depresi berat sebanyak 5%, dan tingkat depresi sangat berat sebanyak 7,5%. Kesimpulan. Tingkat depresi terbanyak pada pasien DM tipe 2 di klinik Kitamura Pontianak adalah tingkat depresi ringan. Karakteristik responden terbanyak pada pasien yang mengalami depresi adalah sebagai berikut: umur >46 tahun, perempuan, sudah menikah dan pekerjaan ibu rumah tangga