Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP)
Not a member yet
    173 research outputs found

    Konsistensi Internal dan Validasi Kriteria pada Alat Ukur Kesehatan Mental Mahasiswa Universitas Hasanuddin

    Full text link
    Literasi kesehatan mental dapat menjadi tolok ukur kemampuan seseorang dalam memahami dan mengatasi masalah kesehatan mental pada dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya. Namun, asesmen literasi kesehatan mental masih belum banyak dilakukan di Indonesia, khususnya di kalangan remaja akhir sebagai kelompok berisiko mengalami gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menguji reliabilitas dan validitas dari instrumen literasi kesehatan mental (Mental Health Literacy Scale/MHLS) pada remaja akhir. Penelitian dengan desain potong lintang ini mengambil sampel berbasis proporsi mahasiswa tingkat pertama program sarjana reguler di semua fakultas yang ada di Universitas Hasanuddin (n=374). Responden direkrut melalui flyer dan pesan teks untuk mengikuti survei daring pada Juli 2019. Instrumen MHLS yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diadaptasi melalui wawancara kognitif terdiri dari 11 pertanyaan dengan skala 4, dan 14 pertanyaan dengan skala 5. Hasil pengujian menunjukkan MHLS memiliki reliabilitas yang baik (Alpha Cronbach=0,77) dan memiliki asosiasi yang positif dengan instrumen literasi kesehatan (Health Literacy Scale). Hasil analisis lanjutan menunjukkan rata-rata skor total responden setelah dikonversi ke skala 100 adalah 60,72 (SD=8,94). Secara umum, hasil adaptasi mengindikasikan bahwa MHLS adalah instrumen yang valid dan reliabel untuk mengukur tingkat literasi kesehatan mental pada mahasiswa tingkat pertama

    Perbandingan Properti Psikometri antara Tes PAPs Berbentuk Computer-Based dan Paper and Pencil Test

    Full text link
    Perkembangan zaman yang diikuti dengan perkembangan teknologi telah menawarkan berbagai kemudahan dalam hal administrasi tes. Salah satunya adalah administrasi tes berbasis komputer atau yang lazim dinamakan dengan Computer Based Test (CBT). CBT dikembangkan untuk menjadi alternatif penyelenggaraan tes dengan menggunakan Paper and Pencil Test (PPT). Secara praktis CBT memiliki banyak keuntungan dibanding dengan PPT namun perbandingan mengenai properti psikometris pada kedua bentuk tes ini masih perlu ditelaah lebih lanjut. Penelitian mengenai paralelisme kedua model administrasi tes ini belum banyak dilakukan, terutama pada tes-tes yang dikembangkan oleh Fakultas Psikologi UGM seperti Tes Potensi Akademik Pascasarjana (PAPs). Analisis pada penelitian ini dilakukan dengan mengikutsertakan taraf kesukaran dan daya diskriminasi menggunakan pendekatan Item Response Theory (IRT), indeks ketepatan model dan struktur pengukuran sebagai bukti validitas konstruk. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Tes PAPs secara umum tergolong memiliki kesetaraan pada parameter taraf kesukaran butir, daya diskriminasi butir dan tingkat ketepatan butir ketika disajikan dalam bentuk CBT dan PPT. Sehingga, Tes PAPs ke depannya dapat disajikan dalam kedua bentuk tersebut secara bergantian

    Resiliensi pada Narapidana Tindak Pidana Narkotika Ditinjau dari Kekuatan Emosional dan Faktor Demografi

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kekuatan emosional yang terdiri dari karakter keberanian, harapan, semangat, kecerdasan sosial, cinta, dan humor terhadap resiliensi dan perbedaan faktor demografi (usia, tingkat pendidikan, dan lama menjalani pidana) terhadap resiliensi pada narapidana tindak pidana narkotika. Ada dua hipotesis dalam penelitian ini, yaitu “ada peran signifikan antara kekuatan emosional terhadap resiliensi” dan “ada perbedaan signifikan antara faktor demografi terhadap resiliensi”. Uji hipotesis dilakukan melalui analisis regresi dan ANOVA terhadap 35 narapidana yang berusia antara 45-55 tahun. Hipotesis pertama dalam penelitian ini diterima dengan menghasilkan nilai F=3,160 (p0,05), tidak ada perbedaan signifikan antara faktor demografi (usia, tingkat pendidikan, dan lama menjalani pidana) terhadap resiliensi pada narapidana tindak pidana narkotika. Kekuatan emosional berkontribusi terhadap resiliensi sebesar 40,4%. Hal ini mengindikasikan kekuatan emosional layak dipertimbangkan untuk menjadi prediktor resiliensi narapidana

    Komparasi Antara Tingkat Kepuasan Seksual dan Kepuasan Hubungan (Hubungan Friends with Benefit vs. Hubungan Konvensional)

    Full text link
    Penelitian ini akan membandingkan tingkat kepuasan hubungan dan kepuasan seksual. Pengukuran kepuasan hubungan memakai Relationship Assesment Scale yang telah dimodifikasi oleh peneliti, sedangkan untuk kepuasan seksual menggunakan single item yang disusun oleh peneliti. Penelitian ini melibatkan 178 partisipan (89 kelompok FWB, 89 kelompok konvensional), pengumpulan data dilakukan secara online. Analisis data menggunakan independent sample t-test dan analisis kovarians. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kepuasan seksual (t = -3,74, p = 0,000) dan kepuasan hubungan (t = 5,88, p = 0,000) antara kelompok konvensional (menikah atau pacaran) dengan FWB. Perbedaan jenis ikatan terbukti memberikan efek terhadap kepuasan hubungan (F = 65,604, p < 0,01, Ƞ2p = 0,273), kelompok konvensional berdasarkan estimasi means memberi efek yang lebih tinggi. Perbedaan jenis ikatan juga berkontribusi terhadap kepuasan seksual (F = 42,008, p < 0,01, Ƞ2p = 0,194), kelompok FWB memberi efek yang lebih tinggi. Perbedaan jenis ikatan (ikatan resmi/ konvensional dan tidak resmi/ FWB) dapat dijadikan rujukan mengapa kepuasan hubungan untuk hubungan konvensional (menikah atau pacaran) lebih tinggi dari hubungan FWB, dan mengapa kepuasan seksual pada kelompok FWB lebih tinggi dari hubungan konvensional.

    The Dynamic of Cheating: Descriptive Study of Intention to Cheat

    Full text link
    Cheating is strongly related to other unethical behaviors. It happens everywhere, including in universities. College students, ideally, should be prevented from cheating to minimize the potential of conducting unethical behaviors in the future. To design effective intervention, examining the cause of cheating is absolutely necessary. Cheating, like any other behavior, can be predicted by knowing its intention and the components of intention using the Theory of Planned Behavior. The present study explained the intention to cheat while studying in university along with its determinants and beliefs. The present study obtained data using online questionnaire based on the Theory of Planned Behavior to 233 participants. Regression analysis was performed to describe the significance level of each determinant and belief. The result showed that the determinant which had significant influence toward intention to cheat was attitude toward behavior (p = 0.00; β = 0.769; t = 15.620). The most significant belief in that determinant was “cheating during learning in university can help one earning good grade without studying hard”. Therefore, present study can be used as a basis to design interventions to reduce intention to cheat in university students

    Peran Moral Disengagement dan Kepemimpinan Etis terhadap Intensi Korupsi pada Pegawai Negeri Sipil

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan moral disengagement dan kepemimpinan etis terhadap intensi korupsi pada Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sebanyak 100 PNS pada beberapa dinas pemerintahan di Kota Yogyakarta menjadi partisipan dalam penelitian ini. Metode penelitian ini adalah survei menggunakan tiga skala, yaitu Moral Disengagement Scale yang telah diadaptasi oleh Maharani, Ethical Leadership Scale  yang telah diadaptasi oleh Seliamang, dan Skala Intensi Korupsi oleh Nayoan. Analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa moral disengagement secara signifikan mampu memprediksi intensi korupsi pada PNS sebanyak 13% (F = 14,583; p 0,05). Analisis tambahan menemukan bahwa tidak ada perbedaan intensi korupsi berdasarkan jenis kelamin maupun usia

    Peran Resiliensi Karier sebagai Mediator antara Perceived Supervisor Support dan Employability Generasi Milenial

    Full text link
    Era disrupsi menuntut milenial untuk mengembangkan kompetensi dirinya (employability) agar mampu bertahan dalam lingkungan kerja dengan tuntutan pasar yang berubah-ubah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran resiliensi karier sebagai mediator dalam hubungan perceived supervisor support terhadap employability generasi milenial yang bekerja di sektor telekomunikasi. Pengumpulan data dilakukan secara daring dengan melibatkan 218 pekerja milenial di perusahaan telekomunikasi. Employability diukur menggunakan skala CBME yang dimodifikasi dan terdiri atas 35 aitem, sedangkan perceived supervisor support diukur menggunakan skala modifikasi dari SPSS dengan aitem sebanyak 14, dan resiliensi karier diukur menggunakan skala CRQ yang dimodifikasi dan terdiri atas 19 aitem. Analisis data menggunakan teknik regresi secara bertahap. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui resiliensi karier memiliki efek mediasi sebagian (parsial) dalam hubungan antara perceived supervisor support terhadap employability. Hal tersebut berarti bahwa pengaruh langsung perceived supervisor support terhadap employability lebih kuat dibandingkan pengaruh tidak langsung melalui resiliensi karier. Keterbatasan penelitian dan implikasi praktis dari penelitian ini dibahas lebih lanjut

    Peran Perceived Organizational Support terhadap Work Engagement Karyawan

    Full text link
    Work engagement adalah sikap yang menggambarkan individu secara penuh terlibat dengan pekerjaannya, baik secara emosi maupun fisik dengan menunjukkan perilaku yang penuh semangat, penuh dedikasi, dan penghayatan dalam menunaikan pekerjaan. Salah satu faktor yang dapat berperan dalam meningkatkan work engagement adalah perceived organizational support, yaitu persepsi karyawan mengenai dukungan, kepedulian dan kontribusi organisasi terhadap  kesejahteraan karyawannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji peran perceived organizational support terhadap work engagement karyawan. Subjek penelitian ini sejumlah 300 karyawan di bidang jasa dan produksi yang diperoleh menggunakan teknik quota sampling. Instrumen penelitian menggunakan SPOS (Survey Perceived Organizational Support) sebanyak 13 aitem dan UWES-17 (Utrecht Work Engagement Scale-17) sebanyak 17 aitem. Analisis data menggunakan teknik regresi linier sederhana dengan hasil perceived organizational support berperan positif terhadap work engagement karyawan (Nilai F = 152,442; p = <0,005). Adapun, sumbangan efektif yang diberikan oleh perceived organizational support dapat memprediksi work engagement sebesar 33,8%. Artinya, perceived organizational support terbukti memiliki peran terhadap tinggi rendahnya work engagement karyawan

    Peran Kontrol Diri dan Mediasi Orang Tua terhadap Perilaku Penggunaan Internet Secara Berlebihan

    Full text link
    Perilaku penggunaan internet yang berlebihan pada remaja muncul sebagai interaksi dari berbagai faktor, diantaranya ialah kontrol diri dan mediasi orang tua. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris peran kontrol diri dalam memediasi hubungan antara  mediasi orang tua terhadap kecenderungan perilaku penggunaan internet secara berlebihan pada remaja. Partisipan penelitian ini adalah 327 remaja berusia 15-18 tahun (139 laki-laki, 188 perempuan). Skala yang digunakan dalam penelitian ini meliputi skala kontrol diri, skala mediasi orang tua, dan skala perilaku penggunaan internet secara berlebihan. Dengan prosedur pengujian variabel mediator, analisis regresi menunjukkan bahwa penggunaan internet secara berlebihan merupakan prediktor bagi mediasi orang tua (b =-0,610; p < 0,05) maupun kontrol diri (b =-0,503 ; p < 0,05). Peran penggunaan internet berlebihan ini menurun ketika regresinya dengan mediasi orang tua dengan mengikutsertakan kontrol diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol diri berperan sebagai mediasi pada hubungan mediasi orang tua terhadap kecenderungan perilaku penggunaan internet secara berlebihan pada remaja

    Hubungan Materialisme dengan Subjective Well-Being yang Dimoderasi oleh Religiositas pada Ibu Rumah Tangga

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran religiositas sebagai moderator dalam hubungan antara materialisme dengan subjective well-being. Hipotesis dalam penelitian ini adalah religiositas memoderasi hubungan materialisme dengan subjective well-being serta menurunkan dampak negatif materialisme terhadap subjective well-being. Subjek penelitian (N=160) merupakan ibu rumah tangga usia 20-40 tahun. Pengambilan data menggunakan Material Value Scale (MVS), Satisfaction with Life Scale (SWLS), Positive Affect and Negative Affect Schedule (PANAS) dan skala religiositas. Data dianalisis menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA). Dari hasil analisis ditemukan nilai koefisien parameter variabel moderat -0,055 dengan signifikansi sebesar 0,006. Artinya, religiositas memoderasi hubungan antara materialisme dengan subjective well-being. Efek moderasi religiositas ini terjadi karena secara bersamaan, pada satu sisi dimensi religiositas menekan nilai materialisme  dan meningkatkan subjective well-being pada sisi lain

    161

    full texts

    173

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇