Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP)
Not a member yet
173 research outputs found
Sort by
The Achievement of Flourishing in the Elderly through Education at Pesantren
This study aims to explore the flourishing in elders. In this study, the authors carried out a mixed method, a quantitative method in the form of giving two questionnaires, namely independence and resilience which were analyzed descriptively from each variable, and qualitative methods by developing an in-depth interview based on Seligman’s concept of flourishing. The interview had open questions, which were given to eight santri as research subjects aged 55 to 76 years. Data were analyzed using qualitative methods, i.e., Interpretative Phenomenology Analysis (IPA) techniques. The results of the study showed that the elderly have fairly good flourishing achievements. They can do daily activities naturally formed from the results of habituation while in pesantren. They also have high independence and resilience as has been revealed in previous research which used quantitative methods that showed a high level of both variables. It can be concluded that the activities can increase the independence and resilience of the elderly who become santri and with habituation carried out can bring the elderly to achieve flourishing
Properti Psikometri Skala Online Friendship pada Siswa Sekolah Menengah Pertama
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan kita untuk membentuk pertemanan di dunia nyata (offline friendship) dan juga di dunia virtual (online friendship). Penelitian tentang online friendship belum banyak berkembang di Indonesia. Konsep dan skala online friendship telah dikembangkan dengan mahasiswa sebagai subjek uji coba. Skala tersebut juga telah diuji untuk diterapkan pada siswa SMA. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah skala online friendship memiliki properti psikometri yang baik ketika diterapkan pada siswa SMP. Terdapat 248 subjek dalam penelitian ini. Menggunakan confirmatory factor analysis (CFA), hasil analisis model telah menemui kriteria kesesuaian untuk validitas konstruk, termasuk CFI, TLI dan RMSEA. Koefisien Cronbach alpha juga baik dan memuaskan. Dari hasil tersebut maka skala online friendship tidak hanya dapat diaplikasikan pada dewasa muda dan siswa SMA, tetapi juga pada siswa SMP
Gambaran Compassion Fatigue dan Compassion Satisfaction Pada Rescuer BASARNAS (Studi pada Rescuer BASARNAS Kantor SAR Jakarta)
Badan SAR Nasional (BASARNAS) bertugas menangani kondisi yang membahayakan manusia seperti bencana alam sehingga beresiko mengalami permasalahan psikologis dari medan berbahaya, situasi krisis-traumatis, serta durasi bekerja yang panjang-tanpa jeda. Kondisi tersebut menjadi faktor pendukung yang memungkinkan rescuer mengalami Compassion Fatigue dan Compassion Satisfaction yang dapat memengaruhi Professional Quality of Life mereka. Tujuan penelitian adalah mendapatkan gambaran Compassion Fatigue dan Compassion Satisfaction pada rescuer Basarnas, sedangkan metode dalam penelitian ini adalah Mixed Method. Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah 32 rescuer Basarnas di Kantor SAR Jakarta. Partisipan diberikan ProQoL-V Scale untuk mengukur Compassion Fatigue dan Compassion Satisfaction dan Big Five Inventory untuk melihat gambaran ciri sifat kepribadian, kemudian mengikuti FGD dan wawancara individual. Teknik Analisis data kuantitatif menggunakan statistik deskriptif, sementara data kualitatif dengan metode content analysis. Hasil penelitian menunjukkan skor Compassion Fatigue berada pada rentang rendah sampai rata-rata, namun, skor rendah pada Compassion Fatigue tidak diikuti dengan skor tinggi pada Compassion Satisfaction. Adanya penghayatan pengalaman yang berasal dari work, client, dan person-environment, berperan sebagai faktor pendukung, sekaligus faktor risiko. Dampak psikologis yang dialami, di antaranya: kelelahan, gambaran buruk yang berulang, dan kecenderungan menjadi protektif yang mengganggu keseharian dan pekerjaan. Oleh sebab itu, pengetahuan dan psikoedukasi psikologis dibutuhkan sebagai upaya menjaga Professional Quality of Life para rescuers Basarnas
Peran Adverse Childhood Experience terhadap Internalizing Problem dan Externalizing Problem pada Remaja
Perkembangan manusia memiliki berbagai macam tahap atau periode yang saling terkoneksi dan mempengaruhi periode perkembangan selanjutnya. Adverse childhood experience merupakan pengalaman yang menjadi sumber stres dan trauma akut yang dialami oleh individu selama masa kanak-kanak, terutama selama di usia 18 tahun awal kehidupan, yang dalam beberapa literatur dapat meningkatkan kemungkinan gangguan perilaku internalizing problem dan externalizing problem. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran adverse childhood experience terhadap internalizing problem dan externalizing problem. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional. Subjek penelitian ini ditentukan menggunakan teknik cluster random sampling. Analisis data menggunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian mengindikasikan adanya pengaruh positif yang signifikan antara adverse childhood experience terhadap internalizing problem dan externalizing problem (β = 0,287; p<0,05 dan β = 0,280; p<0,05). Adverse childhood experience pada remaja memberikan sumbangsih positif terhadap internalizing problem sebesar 8,2% dan externalizing problem sebesar 7,8%
Validitas Struktur Internal Self-Determination Scale versi Indonesia: Pengujian Struktur Faktor, Reliabilitas, dan Invariansi Pengukuran
Self-Determination Scale (SDS) telah digunakan untuk mengukur determinasi diri, kesadaran terhadap diri sendiri, dan kesempatan untuk menentukan pilihan tetapi belum terdapat penelitian yang menguji properti psikometri dari SDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi validitas struktur internal dari SDS versi Indonesia. Penelitian ini melibatkan 703 remaja yang berusia 12-21 tahun yang sedang menempuh pendidikan di Kota Surabaya. Partisipan direkrut dengan teknik convenience sampling dengan cara menghubungi secara langsung dan melalui media sosial. Evaluasi validitas struktur internal dari SDS versi Indonesia meliputi struktur faktor, reliabilitas, dan invariansi pengukuran antar gender dan kelompok usia yang diuji dengan analisis konfirmatori faktor, reliabilitas komposit, dan analisis multi-kelompok. Hasil menunjukkan bahwa model bifaktor dari SDS versi Indonesia memiliki ketepatan model dan reliabilitas yang memuaskan. Namun, SDS versi Indonesia tidak memiliki invariansi pengukuran antar gender dan kelompok usia. Temuan ini mengindikasikan bahwa SDS versi Indonesia dapat digunakan untuk mengukur determinasi diri, kesadaran terhadap diri sendiri, dan kesempatan untuk menentukan pilihan tetapi tidak dapat digunakan untuk membandingkan skor antar gender dan kelompok usi
The Employability of Government Institution: The Role of Job Crafting and Creative Climate Moderator
The evolution of technology led to rapid changes that affected both organizations and employees. Employability was a term to describe a continuum process of fulfilling the skills and expertise that also changed rapidly. One’s behavior in crafting a job could lead to one’s employability. Organizational climate, which in this study was the creative climate, had a moderating role in affecting the job creation toward employability. This study aimed to explain the role of job crafting in predicting employability in government institution X and creative climate as the moderator. The quantitative approach was applied to this research, by distributing Employability Scale (α = 0.937), Job Crafting Scale (α=0.922), and Creative Climate Scale (α=0.950) to 129 employees of government institution X. The study showed that job crafting significantly predicted the employability (R2 = 56.7%; p = 0.000, p < 0.05) along with creative climate lessened the prediction of job crafting to employability (p = 0.027, p < 0.05). Thus, the hypothesis in this study was accepted. Therefore, it was worth noting that job crafting had benefits for employees’ employability with a constructive, suitable organizational climate
Psychometric properties of Mental Health Scale: An Item Response Theory Approach
Indonesia Family Life Survey (IFLS) the fifth wave used the Centre for Epidemiological Studies Scale (CES-D10) to measure mental health state, which was depressive symptoms construct. It was primarily used in some studies regarding depressive symptoms. However, there was no specific validation research in the Indonesian context. Thus, this study aimed to (1) investigate the item quality of depressive symptom measurement from IFLS fifth wave, (2) measurement precision of this scale, and (3) the measurement invariance based on gender using the IRT approach. This study used data from ILFS-5 in the KP ("Keadaan Psikologis" or Mental Health) section, which was CES-D10 consisting of 10 items and conduct IRT analysis using a 2-PL model. The number of participants from the data was 31,447. CFA analysis resulted a unidimensional model fit for this scale. Moreover, finding showed that this scale had good psychometric properties, including item discrimination, item location, and item fit, except item 5 and item 8. Despite the poor quality for those items, the reliability coefficient, including the items, met a reliable measurement criterion. Also, this scale had much information for assessing medium and severe depressive symptoms. Moreover, the Differential Item Functioning (DIF) analysis indicated that there was no item exhibiting DIF
The Role of Calling and Perceived Organizational Support in the Work Engagement of Private Employees during the COVID-19 Pandemic
The Covid-19 pandemic affected the industrial sector by decreasing productivity, including in private companies. Some private companies have laid off their employees to achieve company efficiency. This situation drives a threat that is arising insecurity, anxiousness, and decreasing engagement among employees. This research aims to understand the role of calling and perceived organizational support (POS) toward work engagement. The research participants are 144 employees from private companies working for at least six months, and they work from home (WFH). This study hypothesizes that POS and calling predict work engagement in a positive direction. Multiple regression analysis was utilized in this study. Results showed increased calling and POS followed by increased work engagement. The implication of this study has two directions; the first is for the organization to improve perceived organizational support, and the other hand, the employee needs to internalize the calling more
Peran Kualitas Persahabatan terhadap Tingkat Stres dengan Mediator Kesepian
Hubungan persahabatan merupakan salah satu aspek penting di kehidupan mahasiswa. Kualitas dalam hubungan tersebut dapat berdampak pada kondisi Kesehatan mental mereka. Tujuan dari penelitian ini yaitu menguji secara empiris peran kualitas persahabatan terhadap tingkat stres melalui kesepian sebagai mediator pada mahasiswa sekolah kedinasan yang berusia 18-21 tahun. Partisipan penelitian adalah 216 mahasiswa (95 laki-laki dan 121 perempuan). Tingkat stres diukur dengan Perceived Stress Scale – 10, kesepian diukur dengan UCLA Loneliness Scale Version 3, dan kualitas persahabatan diukur dengan Friendship Quality Questionnaire (FQQ). Semua skala yang digunakan telah diadaptasi ke bahasa Indonesia Analisis mediasi sederhana digunakan untuk menentukan peran kualitas persahabatan pada tingkat stres dengan kesepian sebagai mediator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas persahabatan berperan negatif secara signifikan terhadap tingkat stres dengan kesepian sebagai mediator (β = -0,1114; p < 0,001). Dengan demikian, individu dengan kualitas persahabatan yang tinggi dengan sahabat mereka cenderung memiliki tingkat stres yang rendah dengan kesepian sebagai mediator keduanya
Identifikasi Kompetensi Psikolog dalam Telekonseling: Metode Delphi
Telekonseling telah digunakan di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir dan semakin memuncak saat pandemi terjadi, tetapi belum terdapat panduan spesifik mengenai kompetensi apa saja yang perlu dimiliki psikolog dalam memberikan layanan telekonseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kompetensi dasar apa saja yang perlu dimiliki psikolog dalam melakukan telekonseling. Identifikasi kompetensi psikolog dilakukan dengan menggunakan metode Delphi, aitem kompetensi awal disusun melalui literature review yang selanjutnya dikirimkan kepada panel ahli untuk diberikan penilaian, komentar dan masukan terkait kompetensi yang ada. Konsensus dilakukan melalui dua kali putaran. Dari 51 orang panel ahli yang diundang sebanyak 31 panel ahli berpartisipasi dalam penelitian dengan latar belakang dosen pengampu Mata Kuliah Konseling, psikolog dan tim penyusun panduan telepsikologi HIMPSI dan AP2TPI. Berdasarkan kesepakatan panel ahli, diperoleh 93 kompetensi yang perlu dimiliki psikolog dalam melakukan telekonseling yang terbagi ke dalam empat kategori yakni pengembangan hubungan interpersonal, pelaksanaan asesmen dan evaluasi, pelaksanaan intervensi dan konsultasi, serta penguasaan kode etik dan standar layanan. Dari hasil penelitian ini diperoleh sejumlah rekomendasi terkait kebijakan dan penelitian selanjutnya