Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
PENGARUH BOBOT POTONG DAN PAKAN KOMERSIAL TERHADAP PERTUMBUHAN AYAM BROILER
This study aims to examine the different weighting and different types of commercial feeds on the growth of broiler chickens. The study was prepared based on Completely Randomized Design (RAL) of 4 x 3 and 3 replication factorial patterns. The first factor is Grouping Cut Off (600 - 1000 grams or ± 800 g, 1,100 - 1300 g or ± 1,200 grams, 1,400-1,700 or ± 1,600 grams, 1,800 - 2200 g or ± 2,000). The second factor is the type of commercial feed / ration from different factories (AB1, BP11 and P11). Parameters measured include: feed intake, drinking water consumption, body weight gain, feed conversion and final cutting weight. The results of this study indicate that the use of commercial BP-11 feed on various commercial broiler feed factors resulted in increased body weight, better feed conversion compared with AB-1 and P-1 feed types. While the cut weight factor significantly affect the consumption of feed as weight gain and cut weight. At the cut weight of 1100-1500 grams, the average feed conversion produced is the lowest that is 1.26 which indicates that this cut weight is most favorable with the smallest feed efficiency. Keywords: cutting weight, commercial feed, growth, feed consumption, average daily gain, feed conversion, broiler chicken
PENGARUH PEMBERIAN DEDAK PADI FERMENTASI TERHADAP PERTUMBUHAN AYAM BROILER
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Dedak Padi Fermentasi terhadap Pertumbuhan Ayam Broiler. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2013 bertempat dikandang Ayam Broiler Fakultas Peternakan Universitas Halu Oleo, Kendari, Penelitian ini menggunakan 48 ekor DOC (day old chick) broiler unsexed strain avian CP707 produksi PT. Charoen Phokhpand Makassar yang dibagi ke 12 petak kandang dan masing-masing petak berisi 4 ekor DOC. Ada empat konsentrasipenggunaan dedak padi fermentasi yang diterapkan dalam percobaan ini yaitu: 0% dedak padi fermentasi dalam ransum komersial (R0), 5% dedak padi fermentasi dalam ransum komersial (R1), 10% dedak padi fermentasi dalam ransum komersial (R2), dan 15% dedak padi fermentasi dalam ransum komersial (R3). Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan dedak padi fermentasi dalam ransum komersial tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, dan konversi ransum. Penelitian ini menunjukan bahwa penggunaan dedak padi fermentasi dalam ransum komersial pada taraf 15% dapat diberikan pada ayam broiler mulai umur 2 minggu tanpa berpengaruh negatif pada konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, dan konversi ransum. Kata Kunci: Ayam Broiler, Dedak padi fermentasi, Konsumsi ransum, PBB, ABSTRAC
STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS AYAM RAS PETELUR PADA CV. BINTANI POULTRY SHOP KENDARI
The research was conducted to analyze and identify supporting and inhibiting factors, arranging layer farm agribusiness development strategy on CV Bintani Poultry Shop Kendari. This research was held on 2012. The research variables were (a) layer farm business characteristic and (b) strength, weakness, threat, and opportunity. The agribusiness development strategy aspect analysis was using SWOT and QSPM analysis. Research result showed that production capacity increasing strategy and quality increasing and worker quantity were scored 6,146, and 5,375 respectively. Meanwhile technology application on layer farming practice and others livestock business development were scored 5,303 and 4,220 respectively. Key words: Agribusiness, Layer Farm, Development Strategy
PERSENTASE BOBOT KARKAS AYAM PEDAGING SETELAH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS MINYAK BUAH MERAH (Pandanus Conodeus. lam)
This study was designed using a complete randomized design (RAL) with four treatments and each treatment was repeated as many as 5m (five) times to obtain 20 experimental units, each experimental unit consisting of 5 (five) chickens. The tested treatment was giving various doses of red fruit oil with the application of mouth drops. The given dose is 0 cc / tail (0 drops), 0.05 cc / tail (1 drop), 0.1 cc / head (2 drops), and 0.15 cc / tail (3 drops). Red (Pandanus Conodeus Lam) dose of 0.15 cc (3 drops) increased live weight gain and best carcass weight at week V and significantly different from control treatment and 0.05 cc / head. Provision of 0.15 cc red fruit oil (3 drops) resulted in live weight of 2.046 kg / head, carcass weight of 1,462 kg and percentage of carcasses 71%. Key Words : Red Fruits (Pandanus Conodeus. lam), Broiler, Weight of carcasses
ANALISIS POTENSI ENERGI TERBARUKAN LIMBAH KOTORAN DARI TERNAK SAPI DI KECAMATAN KUSAMBI KABUPATEN MUNA BARAT PROVINSI SULAWESI TENGGARA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan limbah ternak sapi, potensi energi terbarukan dari limbah ternak sapi di Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna Barat. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data primer, yang terdiri dari 72 responden. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif dan analisis konversi kotoran ternak menjadi gas methan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah ternak sapi (feses) yang ada di Kecamatan Kusambi Kabupaten Muna Barat belum termanfaatkan karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh peternak tersebut untuk pemanfaatan limbah ternak sapi sebagai pupuk kompos/pupuk organik. Potensi energi terbarukan dari limbah ternak sapi sebesar 5.080 Kg feses/hari atau setara dengan 98.640,78 m3 gas dengan kandungan methan sebesar 69.048,54 m3.Kata kunci: ternak sapi, limbah, pupuk, biogas
SELEKSI PADA SAPI ACEH BERDASARKAN UJI PERFORMANS DI BPTU-HPT SAPI ACEH INDRAPURI
Uji performans merupakan tahap seleksi awal untuk memilih calon pejantan dan induk yang terbaik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan pada sapi Aceh dewasa. Sebanyak 49 ekor sapi Aceh (23 jantan dan 26 betina) digunakan untuk uji performan selama 369 hari di BPTU-HPT Sapi Aceh Indrapuri. Rata-rata umur sapi sebelum diuji adalah sekitar 600 hari dengan berat awal terkoreksi (BAT) sebesar 110,08+16,25 kg (jantan) dan 108,25+21,08 kg (betina). Rata-rata berat akhir terkoreksi (BFT) sebesar 138,30+16,59 kg (jantan) dan 141,63+24,88 kg (betina). hari (betina). Rata-rata tinggi gumba (TG), panjang badan (PB) dan lingkar dada (LD) setelah pengujian pada sapi jantan masing-masing sebesar 99,07+4,64 cm, 94,41+6,21 cm dan 120,85+6,41 cm. Selanjutnya rata-rata nilai TG, PB dan LD pada sapi betina setelah pengujian sebesar 97,00+4,00 cm, 95,62+4,90 cm dan 124,25+9,38 cm. Nilai BFT tertinggi selama pengujian sebesar 166,71 kg (jantan) dan 214,19 kg (betina). Kata kunci: Sapi Aceh, uji performans, berat badan, ukuran tubuh
KARAKTERISTIK FENOTIP SIFAT KUALITATIF DAN KUANTITATIF KAMBING KACANG DI KABUPATEN MUNA BARAT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fenotip sifat kualitatif dan kuantitatif kambing kacang di Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini di lakukan di 3 Kecamatan di Kabupaten Muna Barat (Kusambi, Sawerigadi, dan Wadaga). Penelitian menggunakan sebanyak 285 ekor kambing dengan jenis kelamin jantan dan betina, kemudian dikelompokkan berdasarkan umur ternak yaitu umur ≤ 3 bulan, 4-6 bulan, > 6-12 bulan, > 1-2 tahun dan > 2 tahun. Observasi dan pengukuran dilakukan untuk mengumpulkan data hubungan dari pengukuran variabel. Hasil analisis deskriptif rataan bobot badan kambing kacang jantan dewasa 24,05±3.95 kg dengan koefisien keragaman 16,29% sedangkan pada kambing kacang betina dewasa 21,51±3,52 kg dengan koefisien keragaman 16,41%. Hasil analisis diperoleh tinggi pundak dan lingkar dada memiliki korelasi tertinggi terhadap bobot badan, sehingga dapat dijadikan penduga bobot badan kambing kacang di Kabupaten Muna Barat. Kata Kunci : Kambing Kacang, Sifat Kualitatif, Sifat Kuantitatif, Kabupaten Muna Barat.
IDENTIFIKASI BAKTERI Azospirillum DAN Azotobacter PADA RHIZOSFER ASAL KOMBA-KOMBA (Chromolaena odorata)
Tingginya kandungan N pada komba-komba (Chromolaena odorata) yang dapat tumbuh pada tanah yang miskin hara menguatkan dugaan adanya bakteri nonsimbiotik pemfiksasi N yang berasosiasi dengan akarnya. Tujuan dilaksanakan penelitian ini antara lain untuk mengetahui ada tidaknya bakteri Azospirillum dan Azotobecter pada rhizosfer asal komba-komba (Chromolaena odorata). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi Fakultas Matematika dan IPA Institut Pertanian Bogor. Sampel tanah diambil dari rhizosfer tanaman komba-komba pada daerah yang berbeda di Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, masing-masing 1 sampel. Isolat yang berasal pada rhizosfer asal komba-komba (Chromolaena odorata) dari kelurahan Mokoau dan Lalolara, bakteri Azospirillum memiliki bentuk koloni lengkung atau setengah spiral dan vibrinoid dan termasuk bakteri gram negatif, bakteri Azotobacter memiliki koloni bakteri berbentuk oval, batang pendek, batang dan terdapat kista serta termasuk bakteri gram negatif. Kata Kunci; Komba-Komba (Chromolaena odorata), Azospirillum, Azotobacter
RESPON PERTUMBUHAN RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum var. Hawaii) YANG DIBERI PUPUK BOKASHI KOTORAN AYAM BROILER DENGAN DOSIS YANG BERBEDA
This study aims to determine the best dose of fertilizer Bokashi broiler chicken manure on the growth of elephant grass. This study uses 64 trees planted elephant grass in a polybag, divided into 16 plots and the design of treatment used is Complete Random Design (RAL). This study consisted of 4 treatment that P0 (0 ton / ha Fertilizer Bokashi manure Broiler), P1 (10 ton / ha Fertilizer Bokashi manure Broiler), P2 (15 ton / ha Fertilizer Bokashi manure Broiler) and P3 (20 ton / ha Broiler Chicken manure Fertilizer Bokashi), and four replications. The research variables include plant height, number of tillers, stem diameter, number of leaves, number of segments, and root length. Analysis of data using analysis of variance followed by Duncan's multiple test. The results are: The average of plant height (cm / week / treatment) is (P0) 99.11, (P1) 132.45, (P2) 133.61, (P3) 129.95. The average number of saplings (tree / week / treatment) is (P0) 0.99, (P1) 1.46, (P2) 1.93, (P3) 2.3. Mean stem diameter (cm / Week / treatment) is (P0) 0.97, (P1) 1.44, (P2) 1.47 (P3) 1.37. The average number of leaves (Overlay / treatment) is (P0) 10.85, (P1) 19.89, (P2) 21.77, (P3) 22.56. The average number of segment (Segment / treatment) is (P0) 2.88, (P1) of 4.93, (P2) 4.38, (P3) 3.88. The average root length (cm / treatment) is (P0) 72.22 (P1) 98, (P2) 104.75 (P3) 98.75. Bokashi fertilizer application broiler chicken manure can increase the growth of elephant grass (Pennisetum purpureum var. Hawaii)with the best dose of 15 ton / ha. Keywords: Fertilizer Bokashi broiler chicken manure, gra
KAJIAN PRODUKTIVITAS TERNAK KAMBING PADA SISTEM PEMELIHARAAN YANG BERBEDA DI KECAMATAN ANDOOLO BARAT KABUPATEN KONAWE SELATAN
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) untuk mengevaluasi sebaran jenis ternak kambing yang dipelihara pada sistem yang berbeda, (2) untuk mengkaji tingkat produktivitas ternak kambing yang dipelihara pada sistem yang berbeda, (3) untuk mengkaji sistem pemeliharaan ternak kambing yang lebih produktif dan efisien di Kecamatan Andoolo Barat Kabupaten Konawe Selatan. Sampel pada penelitian ini adalah peternak kambing yang memelihara ternak kambing dengan sistem pemeliharaan yang berbeda. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survey, wawancara dan observasi. Data yang diperoleh ditabulasi dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) sebaran populasi jenis ternak kambing yang dipelihara pada sistem pemeliharaan yang berbeda terdiri atas ternak kambing kacang 361 ekor, kambing PE 84 ekor, kambing Boer-PE 50 ekor dan kambing Boer-kacang 26 ekor. (2) bobot lahir anak kambing kacang jantan pada pemeliharaan secara ekstensif lebih tinggi (1,83 kg) dibandingkan anak kambing kacang betina (1,69 kg). Demikian halnya pada sistem pemeliharaan semi intensif dan intensif masing-masing anak kambing kacang jantan dan anak kambing kacang betina yaitu 2,32 kg vs 2,11 kg dan pemeliharaan intensif yaitu 2,51 kg vs 2,42 kg. (3) bobot sapih yang tertinggi pada pemeliharaan secara ekstensif anak kambing kacang jantan lebih tinggi (6.38 kg) dibandingkan dengan anak kambing kacang betina (6,28 kg). Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa (1) produktivitas ternak kambing seperti bobot lahir dan bobot sapih diperoleh pada sistem pemeliharaan secara intensif lebih baik dibandingkan dengan sistem pemeliharaan secara ekstensif dan semi intensif (2) sistem pemeliharaan secara intensif yang mampu menghasilkan produktivitas dan efisiensi usaha ternak kambing yang baik. Kata kunci: kambing, produktivitas, intensif, semi intensif, ekstensi