Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
ANALISIS PENDAPATAN PEDAGANG BAKSO SAPI DI KABUPATEN KOLAKA
This study aimed to find out the cost variable, fixed price, earned profits, and B/C ratio, as well as to determine consumers’ preference for beef meatballs in Kolaka regency. Population of the study included all sellers of beet meatballs in Kolaka. Samples were drawn using Slovin formula with 1% tolerance degree to come up with 64 mobile sellers of meatballs, whereas consumers’ preference was determined by using accidental sampling method to obtain 100 panelist of consumers. Data were analyzed by calculating cost, incomes, profits, as well as B/C ratio, whereas consumer’s, preference was analyzed by using 1-5 hedonic scale on a variety of characteristics including color, texture, chewiness, crack poer, and acceptance. On average, 81.25% of the beef meatballs sellers were within a category of productive age, 54,68% of 64 respondents had formal education (senior high school), 43.75% had 4-6 members of family, and 57.18% had more than 20 years of experiences in business. The majority of the sellers chose this business because it was considered more profitable than others. The average fixed income of the sellers was Rp 1.840.000 labor 81% of fixed cost. In terms of cost variable , as much as Rp. 13.341.000 was spent for materials, which was the largest portion or 67% of the total of cost variable. The total cost was Rp. 15.181.000 or 87% of the total of cost. The everage of income generated per month was Rp 23.000.000. The average of profits earned the sellers was Rp. 7.819.000. The B/C ratio per month was 0.51, indicating that the ratio was higher than 0, therefore the business of beef meatballs was profitable and feasible enough to run. Key Word : Beef meatballs sellers, Profit, Cos
SEX RATIO ANAK PUYUH (Coturnix-coturnix japonica) PADA TETUA YANG DIBERI RANSUM TERSUPLEMENTASI MINERAL Zn DAN VITAMIN E
Jenis kelamin unggas dapat dimanipulasi, yaitu melalui pengubahan jumlah hormon estrogen dan testosteron di dalam tubuh dan yolk. Pengubahan ini dapat dilakukan melalui pengaturan kandungan Zn pada pakan. Selain Zn yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi ternak, vitamin E juga bermanfaat untuk meningkatkan fertilitas, pertumbuhan embrio normal dan sebagai antioksidan. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplemen mineral Zn, vitamin E dan interaksi keduanya terhadap sex ratio anak puyuh. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah level mineral Zn (0mg, 50mg dan 100mg) ) dan faktor kedua adalah level vitamin E (0ppm, 45ppm dan 50ppm). Setiap unit percobaan terdiri dari 2 ekor puyuh betina dan 1 ekor puyuh jantan. Parameter yang diukur adalah konsumsi ransum, bobot telur, daya tetas dan sex ratio anak puyuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Interaksi antara mineral Zn dan vitamin E berpengaruh terhadap bobot telur, namun tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum, daya tetas dan sex ratio anak puyuh. Penambahan mineral Zn berpengaruh nyata terhadap bobot telur, namun tidak mempengaruhi konsumsi ransum, daya tetas dan sex ratio anak puyuh. Penambahan vitamin E berpengaruh nyata terhadap konsumsi ransum, bobot telur dan daya tetas, namun tidak berpengaruh terhadap sex ratio anak puyuh. Kata kunci : Anak puyuh, mineral Zn, vitamin E, sex ratio. Abstrac
PENGARUH METODE FORCE MOLTING YANG BERBEDA TERHADAP RONTOK BULU AYAM PETELUR AFKIR
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode force molting berbeda terhadap rontok bulu ayam ras petelur pada masa akhir produksi telur (afkir). Sebanyak 18 ekor ayam petelur strain Lohman Brown, daun lamtoro, ransum basal, dedak padi digunakan sebagai materi penelitian. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap 3 perlakuan dan 6 ulangan, perlakuan yang digunakan adalah P0 = Pembatasan pakan dan pemuasaan, P1 = Pemuasaan dan penambahan daun lamtoro 20%, P2 = Pemuasaan dan pemberian dedak padi. Perlakuan yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Variable yang diamati adalah jumlah rontok bulu leher, bulu punggung, bulu sayap, bulu ekor dan bulu dada. Hasil penelitian menunjukkan: Perlakuan force moting berbeda pada ayam petelur berpengaruh nyata (p0.05) pada jumlah rontok bulu punggung, bulu sayap, bulu ekor, selisih bobot badan dan lama masa berhenti bertelur. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu perlakuan force molting dengan penambahan daun lamtoro menunjukkan hasil yang lebih baik. Kata Kunci: Ayam Petelur Afkir, Rontok Bul
DAYA HIDUP SPERMATOZOA KAMBING PERANAKAN ETAWA YANG DIPRESERVASI DENGAN BERBAGAI JENIS PENGENCER
The purpose of this research was to examine the effectivity of Tris, sodium citrate, and lactose extenders in maintaining viability of etawa crossbreed (EC) goat spermatozoa preserved at 3–5oC. Semen was collected using artificial vagina once a week for six times as replicate. Fresh semen was divided into three tubes then diluted with Tris, sodium citrate, and lactose extenders, respectively. Diluted-semen were stored in refrigerator at 3–5oC. Quality of diluted-semen including percentages of motile spermatozoa (MS) and live spermatozoa (LS) were evaluated every day during storage at 3–5oC for four days. Data were analyzed using completely randomized design with three treatments and six replicates. Results of this study showed that mean volume, colour, consistency, pH, mass activity, spermatozoa concentration, MS, LS, and spermatozoa abnormal of PE goat fresh semen were 1.05 ml, cream, thick, 6.9, ++ – +++, 3,756.67 million cell/ml, 76.67%, 85.83%, and 4.5%, respectively. Tris, sodium citrate, and lactose extenders have same ability in maintaining viability of EC goat spermatozoa during preserved at 3–5oC. At day-4 storage, percentages of MS and LS for Tris (44.17 and 57.83%) was no difference significant with sodium citrate (43.33 and 56.67%), and lactose (43.33 and 54.17%). In conclusion, Tris, sodium citrate, and lactose extenders have same ability in maintaining viability of EC goat spermatozoa during preserved at 3–5oC. Tris, sodium citrate, and lactose extenders could be maintaining 40% in percentage of motile spermatozoa for three days after preserved at 3–5oC, and suitable for use in artificial insemination (AI) programKeywords: Tris, sodium citrate, lactose, spermatozoa viability, PE goat
KAJIAN KARAKTERISTIK DAN EVALUASI PRODUKSI TERNAK KAMBING BERDASARKAN INDIKATOR KETERSEDIAAN PAKAN DI KABUPATEN MUNA BARAT
West Muna regency is quite potential for development of livestock goats. However, the productivity level of goat in every region of West Muna regency and support of animal feed resources have been unknown for sure, therefore detailed information about the potential of animal feed resources is needed to be able fulfill production needs before developing goat farms. This study aimed to calculate the carrying capacity of goat farm based on the availability of animal feed in 18 villages within 6 sub-regencies including Kusambi, Napano Kusambi, Lawa, Central Tiworo, South Tiworo, and Tiworo Islands based on a criteria of population ownership. Primary data were collected from 101 respondents with a total of 408 animal units. The availability of animal feed was calculated by multiplying production of animal feed with harvested area and was expressed in dried materials (BK) and organic materials (BO). Samples of the production of green animal feed was obtained by taking grass from protected square meter and agricultural by products. Production of green legumes was calculated based on the production of each tree multiplies with harvested green area. Result of the study showed that with the current production of animal feed it is still possible to develop goat farm up to 359.52 UT/ha (2.247 animal units) or 227.5 UT cow per hectare. Keywords: production of goats, animal feed, carrying capacit
KUALITAS ORGANOLEPTIK DENDENG SAPI YANG DIBERI GULA MERAH DENGAN LEVEL BERBEDA
Dendeng giling merupakan salah satu produk olahan daging secara tradisional dibuat dari daging giling yang ditambah gula aren dan bumbu-bumbu lainya. Dendeng sudah memasyarakat dan digemari tua-muda sebagai bahan lauk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan gula aren dengan level yang berbeda terhadap kualitas organoleptik dendeng giling sapi. Materi penelitian dendeng dibuat dari daging sapi bali yang di beri garam, bumbu dan gula merah dengan kosentrasi yang berbeda yaitu 10% , 20%, dan 30% dan 40% sebagai perlakuan. Data diolah dengan analisis sidik ragam berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dengan 15 orang panelis sebagai ulangan. Peubah yang diamati adalah kualitas organoleptik dendeng berupa warna, citarasa, keempukan dan penerimaan umum panelis (akseptabilitas). Hasil menunjukkan bahwa penambahan gula aren pada dendeng giling daging sapi berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap sifat organoleptik yaitu meningkatkan flavor (cita rasa) tetapi menurunkan warna, keempukan. Dan tidak berpengaruh terhadap akseptabilitas dendeng. Disimpulkan bahwa produk olahan dendeng giling daging sapi yang berkualitas baik adalah pada dendeng dengan penambahan gula aren 20% dimana mempunyai sifat organoleptik yang banyak disukai oleh panelis.Kata kunci: dendeng giling, daging sapi, gula are
KARAKTERISTIK SPERMATOZOA SAPI BALI SETELAH SEXING MENGGUNAKAN METODE KOLOM ALBUMIN DENGAN LAMA WAKTU SEXING YANG BERBEDA
Penelitian ini menggunakan Racangan Acak Lekap (RAL) dengan tiga perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah waktu sexing yang terdiri atas 20 menit (W1), 35 menit (W2) dan 50 menit (W3), sedangkan ulangannya adalah penampungan semen sebanyak enam kali. Parameter makroskopis yang diukur meliputi volume, warna, derajat Keasaman (pH), sedangkan parameter mikroskopis meliputikonsentrasi, gerakan massa, persentase motilitas, persentase spermatozoa hidup dan persentase membran plasma utuh serta non return rate.Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara makroskopis dan mikroskopis yaitu volume (ml) (5,5 ± 0,53), warna (putih krem), pH (7 ± 0,00), konsentrasi (1185,57± 392,09), persentase motilitas (80 ± 0.0), persentase spermatozoa hidup (94,71 ± 1,38) dan persentase membran plasma utuh (96,14 ± 1,46).Hasil penelitian setelah sexing kualitas spermatozoa tidak menunjukkan perbedaan pada inkubasi yang berbeda baik pada lapisan atas maupun lapisan bawah. Hasil IB menggunakan semen pasca sexing didapatkan non return rate sebesar 79%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan kualiatas spermatozoa sapi Bali hasil sexing masih layak untuk diinseminasikan pada induk sapi untuk menghasilkan anak ternak. Kata Kunci: Sapi Bali, spermatozoa, kolom albumin, sexing, kualita
HEMATOLOGI AYAM KAMPUNG SUPER YANG DIBERI MINYAK KELAPA SAWIT TERPROTEKSI DALAM RANSUM
ABSTRAKTujuan penelitian adalah untuk mempelajari hematologi ayam kampung super yang diberi minyak kelapa sawit terproteksi dalam ransum. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 64 ekor ayam kampong super yang tidak dibedakan jenis kelaminnya yang dipelihara sampai umur 5 minggu. Penelitian terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 4 ekor ayam. Minyak kelapa sawit terproteksi digunakan pada level 0% (P0), 3%(P1), 6% (P2), dan 9% (P3). Parameter yang diamati adalah jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan jumlah leukosit. Penelitian menggunakan percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) apabila terdapat perbedaan perlakuan maka dilanjutkan Uji Berganda Duncan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa minyak kelapa sawit terproteksi tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan jumlah leukosit. Disarankan agar melakukan kajian lebih lanjut mengenai minyak kelapa sawit terproteksi. Kata kunci: Hematologi, Ayam kampung super, Minyak kelapa sawit terproteksi
IDENTIFIKASI KERAGAMAN GEN TOLL-LIKE RECEPTOR-4 PADA AYAM TOLAKI, AYAM PETELUR KOMERSIAL DAN AYAM BROILER
ABSTRAK Gen Toll-like Receptor 4 (TLR4) adalah salah satu gen yang mengontrol ketahanan ayam terhadap serangan Salmonella sp, melalui respon immun non-specific. Gen ini dapat digunakan sebagai marka genetik pada ayam. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan mengevaluasi polimorfisme genetik gen TLR4 pada beberapa jenis ayam (Ayam Tolaki, Ayam Ras pedaging dan petelur). Total sampel sebanyak 126. Penelitian ini melalui 3 tahapan yakni ekstraksi DNA, amplifikasi PCR (dengan ukuran DNA 220 pb pada ekson 2), dan metode RFLP menggunakan enzim MscI. Hasil penelitian menunjukkan gen TLR4 | MscI bersifat polimorfik pada semua jenis ayam. Diperoleh 2 alel (A dan G). Frekuensi alel G (membawa sfat resisten) pada ayam Tolaki, Ras pedaging, dan petelur masing-masing 0.77, 0.87 dan 0.20. Nilaix2menunjukkan genTLR4|MscI berada dalan keseimbangan Hardy-Weinberg dengan Ho dan He 0,31 dan 0,29. Nilai PIC 0,25 termasuk kategori medium. Gen TLR4| MscI dapat digunakan sebagai marka genetik sifat ketahanan ayam Tolaki terhadap infeksi Salmonellasp. Keywords : Polimorfik, Gen TLR4, Salmonella sp., Non-Specific Immune Respons
SIFAT-SIFAT KUALITATIF DAN KUANTITATIF AYAM KETAWA DI KOTA KENDARI
ABSTRACTThe objectives of this research was to provide data both qualitative and quantitative traits of laughing chicken. The research was conducted in period of December, 2012 to Januari, 2013 in Kendari. The location was determined using purposive sampling where the population of laughing chicken was high enough either in Sub-district or in village levels. Seventy five adult chicken consisted of 50 cocks and 25 hens were used in thes research to observe both qualitative traits (feather colors, feather patterns, feather like, feather stripe, shank color and comb shape) and qualitative traits (body weight and body dimension). The data of qualitative traits were analyzed using relative frequency value (percentage) and reviewed descriptively, while quantitative data were presented in mean with standard deviation and variance coefficient. The result showed that laughing chicken in Kendari both cocks and hens has colored feather (ii), black color pattern (E_), silver-like feather color (S_), and non barred (bb) stripe feather. The cock shank was dominated by black/grey (idid) while the hen shank was dominated by white/yellowish (Id_). The cock comb was dominated by single comb (rrpp), while the hen was dominated by pea comb (rrP_). Body weight of cock ranged between 1,521,94 kg with the average 1,81±0,08 kg, while the hen body weight ranged between 1,26-1,54 kg with the average 1,38±0,09 kg. the high score of variance coefficient of body dimensions of cock were neck length (11,47%), followed by length of the third toe (11,10%), sternum length (10,68%) and shank circle (10,16%), and the low score observed in sternum circle (4,01%). The back length (4,01%). While the high score of variance coefficient of body dimensions of hen were sternum width (10,35%) and the low score was observed in neck length (2,67%).Key words: Qualitative trais, quantitative, laughing chicken, KendariPenelitian ini bertujuan memperoleh data sifat-sifat kualitatif dan kuantitatif ayam ketawa. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai Januari 2013 bertempat di Kota Kendari. Penentuan lokasi penelitian secara purposive sampling yaitu pada kecamatan dan kelurahan yang memiliki ayam ketawa dengan populasi terbanyak. Ayam ketawa yang diamati adalah ayam dewasa berumur 12-18 bulan, yang terdiri atas 50 ekor jantan dan 25 ekor betina.Sifat kualitatif yang diamati adalah warna bulu, pola bulu, kerlip bulu, corak bulu, warna cakar dan bentuk jengger, sedangkan sifat kuantitatif meliputi bobot badan dan ukuran tubuh. Data sifat kualitatif dianalisis menjadi nilai frekuensi relatif dan diulas secara deskriptif, sedangkan data sifat kuantitatif dianalisis menjadi nilai rata-rata, simpangan baku dan koefisien keragaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenotipe sifat kualitatif pada ayam ketawa jantan maupun betina di Kota Kendari didominasi warna bulu berwarna (ii), pola bulu hitam (E_), kerlip bulu perak (S_), dan corak bulu polos (bb). Fenotipe warna cakar ayam ketawa jantan didominasi cakar hitam/abu-abu (idid), dan betina didominasi cakar putih/kuning (Id_), sedangkan bentuk jengger pada jantan didominasi jengger tunggal (rrpp), dan pada betina didominasi jengger kapri (rrP_). Bobot badan ayam ketawa jantan berkisar antara 1,52-1,94 kg, dengan nilai rata-rata sebesar 1,81±0,08 kg, sedangkan bobot badan ayam ketawa betina berkisar antara 1,26-1,54 kg, dengan nilai rata-rata sebesar 1,38±0,09 kg. Ukuran-ukuran tubuh ayam ketawa jantan yang memiliki nilai koefisien keragaman (KK) tertinggi adalah panjang leher (11,47%), kemudian panjang jari ketiga (11,10%), panjang dada (10,68%), dan lingkar cakar (10,16%), sedangkan yang terendah nilai koefisien keragamannya adalah lingkar dada (4,01%) dan panjang punggung (4,01%). Ukuran-ukuran tubuh ayam ketawa betina yang memiliki nilai koefisien keragaman tertinggi adalah lebar dada (10,35) dan yang terendah adalah panjang leher (2,67%).Kata Kunci : Sifat kualitatif, kuantitatif, ayam ketawa, Kota Kendar