Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
KUALITAS DAN FERTILITAS SPERMATOZOA SAPI BALI HASIL SEXING DENGAN MENGGUNAKAN METODE SWIM-DOWN
Metode sexing spermatozoa telah banyak digunakan dalam upaya memproduksi anak ternak sapi dengan jenis kelamin yang bisa dikendalikan. Pada penelitian ini telah dilakukan kajian tentang kualitas dan fertilitas spermatozoa setelah sexing menggunakan metode swim down. Semen yang didapat berasal dari pejantan milik UPTD Balai Perbibitan dan Pakan Ternak Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 6 kali ulangan. Perlakuan adalah lama waktu sexing P1 (10 menit), P2 (20 menit), P3 (30 menit) dan ulangannya adalah 6 kali penampungan. Media sexing yang digunakan adalah Tris-Kuning Telur. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan lama waktu sexing berpengaruh nyata terhadap konsentrasi spermatozoa, persentase motilitas spermatozoa dan Post Thawing Motility (PTM) spermatozoa hasil sexing yang telah dibekukan. Persentase Non Return Rate (NRR) 21 hari setelah inseminasi pada 120 ekor sapi betina menunjukkan persentase kebuntingan berkisar antara 77,5% - 87,5%. Kesimpulan penelitian ini adalah kualitas spermatozoa hasil sexing dan motilitas spermatozoa hasil sexing yang dibekukan masih baik dan memenuhi syarat untuk digunakan pada inseminasi buatan. Fertilitas spermatozoa hasil sexing yang dibekukan masih mampu menghasilkan angka kebuntingan yang tinggi berdasarkan nilai Non Return Rate. Kata kunci: Spermatozoa, sapi bali, sexing, swim dow
Penggunaan Tepung Limbah Udang sebagai Bahan Pakan Sumber Protein terhadap Performa Produksi Puyuh Fase Layer (Coturnix-coturnix japonica)
ABSTRAKLimbah udang merupakan limbah pengolahan udang yang memiliki potensi sebagai pakan sumber protein bagi ternak puyuh. Penelitian ini bertujuan mengkaji penggunaan tepung limbah udang (TLU) sebagai sumber protein pakan pada puyuh fase layer. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap empat perlakuan lima ulangan perlakuan yang digunakan terdiri dari empat level penggunaan tepung limbah udang dalam ransum yaitu P0 (kontrol), P1 (5% TLU), P2 (7,5% TLU) dan P3 (10% TLU), tiap unit perlakuan disi dengan 5 ekor puyuh. Puyuh yang diguanakan adalah puyuh fase layer umur 20 minggu, sebanyak 100 ekor yang didistribusikan kedalam 20 unit percobaan. Bahan pakan yang digunakan adalah jagung, dedak padi, konsentrat petelur dan tepung limbah udang. Data yang diperoleh dianalisis ragam dan data yang berbeda nyata (P0,05) terhadap produksi telur, bobot telur dan konversi ransum. Kesimpulan penelitian ini bahwa penggunaan TLU dalam ransum dapat digunakan hingga level 7,5% sedangkan level 10% menunjukkan adanya penurunan rata-rata performa produksi.Kata kunci: tepung limbah udang, puyuh fase layer, performa produksiABSTRACTShrimp waste was shrimp processing waste which has the potential as protein source for quail feed. This study was aimed to examine the use of shrimp waste flour (SWF) asprotein source for laying quail feed. This study used completely randomized design that consist of four treatments and five replications.The treatmentswere using levels of shrimp waste flour in feed and consist of P0 (control), P1 (5% SWF), P2 (7.5% SWF) and P3 (10% SWF ). Each treatment unit was filled with 5 quails. One hundred of 20 weeks laying quails were used in this study. Self mixing feed that contained corn, rice bran, laying concentrate and shrimp waste flour were used in this study. The data obtained were analyzed using analyze of variance and continued using Duncan multiple range test. The variables observed were production performance that consist of feed consumption, egg production, egg weight and feed conversionratio. The results showed that the use of SWF in feed (P1, P2 and P3) showed a significant effect (P 0.05) for egg production, egg weight and feed conversion. The conclusion of this study was the use of SWF in feed can be used until 7.5% on laying quail feed while the level of 10% indicates a decrease in average production performance.Keywords: shrimp waste flour, laying quail, production performanc
Alternatif Kebijakan Pengendalian Pemotongan Sapi Bali Betina Produktif di Timor Barat
Salah satu persoalan yang terjadi di daerah sentra produksi adalah pemotongan betina produktif. Fenomena tersebut diduga terjadi pula di Timor Barat sebagai salah satu daerah kantong produksi sapi bali. Sapi bali adalah salah satu plasma nuftah yang memiliki persoalan sistemik karena melibatkan banyak pelaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya pengendalian pemotongan betina produktif dalam manajemen dan kelembagaan aktual. Pendekatan pemahaman sistem agribisnis sapi bali di Timor Barat dilakukan dengan prespektif dinamika sistem. Informan kunci ditentukan melalui pemetaan pelaku dalam rantai pasok sapi bali. Penentuan informan kunci menggunakan metode snow ball sampling. Banyaknya informan kunci tergantung pada kejenuhan informasi yang diperoleh. Data, informasi, dan pengetahuan primer dikumpulkan berdasarkan observasi, focuss group diskusi (FGD), dan wawancara mendalam (indepth study) dengan informan kunci. Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas: data numerik, data tertulis, dan model mental. Pemodelan dengan dinamika sistem akan menggunakan perangkat lunak Ventana Simulation (Vensim). Hasil analisis dan pembahasan menunjukkan manajemen dan kelembagaan aktual yang melibatkan berbagai pelaku dalam sistem ketersediaan daging sapi untuk pasar lokal belum memiliki peran untuk pengendalian pemotongan betina produktif. Kebijakan yang diperlukan untuk mengendalikan pemotongan sapi bali betina produktif, adalah meningkatkan calf crop dan menekan mortalitas.Kata kunci: betina produktif, pemotongan, sapi bali, sistem, Timor Barat. ABSTRACTOne of the problems that occur in the center of production is slaughtering productive cows. This phenomenon is thought to occur in West Timor as one of the production center of bali cattle production. Bali cattle are one of the plasma nuftah which has systemic problems due to involve many actors. This study aims to determine the efforts to control the slaughtering of productive cows in actual management and institutions. An understanding approach to the bali cattle agribusiness system is carried out with a perspective dynamics system. Key informants were determined through mapping of actors in the supply chain of bali cattle. Determination of key informants is applying the snow ball sampling methods. Data are collected based on observation, FGD, and in-depth interviews. Data collected consists of: numeric and written data, and also mental models. Modeling with dynamics system will use Vensim software. The results show that actual management and institutions do not yet have a role to control the slaughtering of productive cows. The policy needed to control the slaughter of productive bali cows is to increase calf crop and reduce mortality.Keywords: productive, slaughtering, bali cows, system, West Timo
Evaluasi Aspek Teknis Pemeliharaan Sapi Perah Berdasarkan Good Dairy Farming Practices (GDFP) di Peternakan Rakyat Cibungbulang
ABSTRAKPeningkatan produktivitas ternak dapat dicapai melalui perbaikan aspek teknis pemeliharaan yang meliputi perbaikan genetik, pakan, pengelolaan, perkandangan dan kesehatan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan aspek teknis pemeliharaan sapi perah berdasarkan Good Dairy Farming Practices (GDFP) pada peternakan sapi perah rakyat di Cibungbulang. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan pembagian kuisioner, observasi serta pengukuran langsung. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk frekuensi tabulasi untuk menggambarkan karakteristik penerapan setiap aspek pemeliharaan sapi perah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan aspek teknis pemeliharaan sapi perah berdasarkan Good Dairy Farming Practices (GDFP) di peternakan rakyat Cibungbulang sebesar 69,75% pada musim hujan dan 67,25% pada musim kemarau. Aspek kesehatan ternak memperlihatkan nilai yang sangat rendah baik pada musim hujan maupun musim kemarau sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus agar produktivitas ternak dapat ditingkatkan secara optimal.Kata kunci: biji kecipir, Trichoderma viride, pH, suhu, protein, serat kasarABSTRACTIncreased dairy cow productivity can be achieved through improving the technical aspects of maintenance which include genetic improvement, feed, management, housing and dairy cow health. This study was done to evaluate the application of the technical aspects of dairy cow maintenance based on the Good Dairy Farming Practices (GDFP) on smallholder dairy farm in Cibungbulang. The research method used was a survey and distribution of questionnaires, observations and direct measurements. Data were analyzed descriptively and presented in frequency tabulations to describe the characteristics and application each aspect of dairy cow maintenance. The results showed that the implementation of technical aspects of dairy cow maintenance was based on the Good Dairy Farming Practices (GDFP) at smallholder dairy farm in Cibungbulang i.e 69.75% in rainy season and 67.25% in dry season. The health aspect of dairy cow shows a very low value both in rainy and dry season so need special attention to increased productivity optimally.Keywords: dairy cow, technical aspects of maintenance, GDFP
KARAKTERISTIK PRODUKSI, FERTILITAS, DAYA TETAS DAN BOBOT TETAS TELUR AYAM ARAB SERTA PERTUMBUHAN ANAK AYAM HASIL PERSILANGAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menganalisis Karakteristik produksi, fertilitas dan daya tetas, bobot tetas telur ayam arab dan pertumbuhan anak ayam hasil persilangan. Penelitian ini dilakukan pada usaha Kelompok Tani Permata, Kelurahan Wua-wua, Kecamatan Wua-wua Kendari Sulawesi Tenggara selama 3 bulan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap yaitu 3 perlakuan dan 6 ulangan. parameter yang diukur adalah kualitas semen, produksi telur bobot telur, index telur, fertilitas, daya tetas, bobot tetas, pertambahan berat badan DOC, konsumsi pakan dan konversi pakan. Analisis data yang digunakan adalah Analysis of Variance dan dilakuakn uji lanjut Tukey. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil persilangan tiga pejantan (ayam bangkok, ayam kampung dan arab jantan) tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap parameter yang diukur. Hal ini dapat dilihat pada proses penelitian yang memberikan hasil tidak jauh berbeda dari hasil persilangan ketiga pejantan yang berbeda dengan menggunakan induk arab fase awal produksi.Kata kunci : Pertumbuhan, Persilangan tiga pejantan yang berbeda, Ayam arab.
Optimalisasi Penggunaan Level Sabun Kalsium Minyak Kedelai dalam Ransum Terhadap Karakteristik Fermentasi, Populasi Mikroba dan Kecernaan Nutrien Secara In Vitro Menggunakan Cairan Rumen Sapi Bali
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi optimalisasi penggunaan level sabun kalsium yang berbeda dalam ransum secara in vitro terhadap karakteristik fermentasi, populasi mikroba dan kecernaan nutrien ransum, menggunakan sumber inokulum cairan rumen sapi Bali. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 4 jenis perlakuan dalam 3 ulangan. Ransum penelitian terdiri atas : R1, 40% rumput lapang (RL) + 60% konsentrat (K), R2 (40% RL + 60% K, mengandungn 2.5% SCa-kedelai), R3 (40% RL + 60% K, mengandung 5% SCa-kedelai), R4 (40% RL + 60% K, mengandung 7.5% SCa-kedelai). Variabel yang diukur terdiri atas karakteristik fermentasi in vitro (pH, N-NH3, produksi total volatile fatty acids), populasi mikroorganisme (total bakteri dan total protozoa), dan kecernaan nutrien (kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik). Data dianalisis menggunakan analysis of varians (ANOVA) dan perbedaan antara perlakuan diuji dengan Duncan’s Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan, penambahan SCa-kedelai pada level yang berbeda dalam konsentrat tidak mempengaruhi pH, konsentrasi amonia, populasi mikroba, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik fermentasi tetapi berpengaruh sangat nyata (P0,05) on pH, NH3-N, total bacteria, total protozoa, dry matter and organic matter digestibility. The treatments significantly increased (P<0.05) the production of total volatile fatty acids. The highest production of total VFA was obtained from ration R4 (concentrate containing 7.5% CaS-soybean) and the lowest was obtained from treatment R1 (control). There were no significant differences between R1 and R2, and between R2 and R3 on the total VFA production. However, the total productions of VFA in ration R3 were higher than that of the control ration. The addition of CaS-soybean in the concentrate had increased the total production of VFA, but at the same time, it began pressing the total population of bacteria. Considering the results of the fermentation variables and microbial population as well as the cost of making calcium soap products, CaS-soybean at 5% level was selected as the best level of CaS-soybean in ration.Keywords : calcium soap, fermentation, in vitro, digestibilit
Karakteristik Fenotip dan Genotip Gen GH (Growth Hormon) pada Ayam Tolaki
This study aims to improve the genetic quality of local chickens through genetic approaches and phenotypic characterization for selection purposes. The cGH gene (Chicken Growth Hormone) is one of the genes responsible for local chicken growth traits. Tolaki chicken is a local chicken from Southeast Sulawesi. This study uses the phenotyping method of production and genotyping traits with PCR technique. A total of 50 parents of tolaki chicken were kept 4 weeks. The results showed average body weight of tolaki chicken ranged from 1,395 kg - 1,910 kg, average body weight gain was 58,78 (g / head / week), feed consumption was 81,37 (g / head / day) and ration conversion 9,68. Body weight gain in males was slightly higher (60.30 g / head / mg) compared to females (58.42 g / head / mg). In this study, the presence of the tolaki chicken cGH gene was identified through DNA extraction and amplification through a PCR machine with a length of DNA section of 399 bp
PENGARUH UMUR POTONG TERHADAP BOBOT AKHIR DAN BOBOT KARKAS AYAM BROILER
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh umur potong terhadap bobot akhir dan bobot karkas ayam broiler. Sebanyak 96 ekor ayam yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Variabel yang diamati adalah bobot akhir, bobot karkas dan persentase karkas ayam broiler. Data yang diperoleh dianalisis berdasarkan analisis ragam. Jika perlakuan berbeda nyata dilakukan uji lanjut menggunakan uji beda nyata terkecil. Berdasarkan hasil penelitian perbedaan umur potong ayam broiler berpengaruh yang sangat nyata (p<0,01) terhadap bobot akhir, bobot karkas dan persentase karkas ayam broiler. Disimpulkan bahwa umur potong berpengaruh terhadap bobot akhir, bobot karkas dan persentase karkas ayam broiler. Kata kunci : Ayam broiler, umur potong, bobot akhir, bobot karkas, persentase karkas
MOTIVASI PETERNAK DALAM PENGEMBANGAN USAHA SAPI BALI DI KABUPATEN MUNA BARAT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pemeliharaan ternak sapi bali, motivasi peternak dalam memelihara sapi bali dan tingkat motivasi peternak dalam memelihara sapi bali di Kabupaten Muna Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan November-Desember 2017,dengan jumlahresponden 60 peternak. Data dikumpulkan dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan sapi bali sebagian besar dilakukan secara ekstensif dengan persentase sebesar 70%, semi intensif 18% dan intensif 12%. Motivasi beternak sapi bali di Kabupaten Muna Barat adalah motivasi ekonomi dengan persentase 76,28%, motivasi hiburan 73,73%, motivasi lingkungan 67,03% dan motivasi status sosial 51,73%. Tingkat kategori motivasi beternak sapi bali di Kabupaten Muna Barat yang mendorong peternak untuk beternak sapi bali adalah motivasi ekonomi dan hiburan.Kata Kunci : Motivasi, Sapi Bali.
BOBOT AKHIR PERSENTASE KARKAS DAN LEMAK ABDOMINAL AYAM BROILER DENGAN PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L.) DALAM AIR MINUM
This study aims to know the effect of (Piper betle L.) leaves extract addition in drinking water on carcass percentage and abdominal fat of broiler chicken. Experimental material was used to this study were eighty broiler chicken SR-707. Broiler chicken was divided into twenty pen with five treatments and four replications and each pen was filled with four broiler chickens. The treatments were P1 = drinking water without betel leaves extract, P2 = drinking water + 0,5% extract of betel leaves, P3 = drinking water + 1% extract of betel leaves, P4 drinking water + 1,5% betel leaves extract, and P5 = drinking water + 2% betel leaves extract. variables were final weight, carcass percentage and abdominal fat of 5 weeks broiler chicken. The data obtained was processed and analyzed using analysis variance and continued using F-test. The result showed that addition of betel leaves extract in drinking water did not give significant (P>0,05) effect on final weight, carcass percentage and abdominal fat of broiler chicken. The conclusion was using betel leaves extract untill 2% in broiler drinking water no decreased final weight, carcass percentage and abdominal fat of broiler chicken that was slaughtered at 5 weeks of old.Key words: Final Weight, Carcass percentage, abdominal fat, Piper betle L, BroilerABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek dari penambahan ekstrak daun sirih (Piper betle L) dalam air minum terhadap bobot akhir persentase karkas dan lemak abdominal ayam broiler. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah 80 ekor ayam broiler strain SR-707 yang dipelihara selama 5 minggu. Ayam penelitian dibagi dalam 20 petak kandang dengan lima perlakuan dan empat pengulangan yang masing-masing petak diisi dengan 4 ekor ayam percobaan. Air minum perlakuan yang diberikan terdiri atas: P1= kontrol, P2 (Air minum + ekstrak daun sirih 0,5%), P3(Air minum + ekstrak daun sirih 1%), P4 (Air minum + ekstrak daun sirih 1,5%), P5 (Air minum + ekstrak daun sirih 2%). Parameter yang diamati adalah bobot akhir, persentase karkas, lemak abdominal ayam broiler umur 5 minggu. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis berdasarkan prosedur sidik ragam dan di uji dengan uji-F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun sirih dalam air minum berpengaruh tidak nyata (p>0,05) terhadap bobot akhir, persentase karkas dan lemak abdominal ayam brolier. Kesimpulan yang di peroleh dalam penelitian ini adalah bahwa penggunaan ekstrak daun sirih sampai pada level 2% dalam air minum tidak berpengaruh terhadap bobot akhir, persentase karkas dan lemak abdominal ayam broiler yang dipotong pada umur lima minggu.Kata kunci: Bobot akhir, Persentase karkas, lemak abdominal, daun sirih, broiler