Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
Kandungan Antioksidan Teh Hijau Daun Mangrove dan Uji Efektifitasnya Sebagai Antikolesterol Pada Mencit
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan senyawa antioksidan teh hijau dan menjelaskan efektifitas teh hijau daun mangrove sebagai anticholesterol pada mencit. Senyawa kimia bahan antioksidaan teh hijau pada daun mangrove Bruguiera gymnorrhiza, B. parviflora, Rhizophora stylosa, R. mucronata, Lumnitzera racemosa, Ceriops tagal dan C. decandra dianalisis dengan GCMS, sedangkan khasiat teh hijau daun mangroves sebagai antikolesterol di ujikan pada mencit. Hasil penelitian menunjukan bahwa senyawa bahan teh hijau bervariasi diantara daun mangrove yaitu polifenol sederhana ditemukan pada daun semua jenis mangrove yang menjadi sampel penelitian dengan konsentrasi yang bervariasi. Senyawa katekin hanya ditemukan pada daun mangrove Ceriops decandra, L. racemosa, R. mucronata dan R. apiculata. Di sisi lain, flavonoid terdeteksi hanya pada daun C. tagal, B. gymnorrhiza dan R. stylosa, sedangkan senyawa T-flavin hanya ditemukan pada daun B. parviflora. Teh hijau daun mangrove mampu menurunkan kadar kolesterol mencit dengan kisaran 33,33 sampai 53,67% mengindikasikan besarnya potensi daun mangrove sebagai bahan teh hijau antikolesterol.Kata kunci: bahan teh hijau, polifenol sederhana, katekin, flavonoid, antikolesterol, daun mangroveABSTRACTThis study aimed to determine the antioxidant properties of green tea material in mangrove leaves and elucidate their capacity on reducing the cholesterol of mice. The chemical properties in leaves of Bruguiera gymnorrhiza, B. parviflora, Rhizophora stylosa, R. mucronata, Lumnitzera racemosa, Ceriops tagal and C. decandra were analyzed by GCMS, while their capability as anticholesterol of mice were examined. The results showed that simple polyphenols were found in all sampled mangrove leaves with different concentration, while the chatechine was found only in leaves of four mangroves including Ceriops decandra, L. racemosa, R. mucronata and R. apiculata. On the other hand, flavonoids was detected only in leaves of C. tagal, B. gymnorrhiza and R. stylosa. Meanwhile, T-flavine was detected only in leaves of B. parviflora. However, green tea material for all of sampled mangroves showed high capacity to reduce cholesterol of mice that ranging from 33.33% to 53.67%, which indicated high potentitiality of mangroves leaves as green tea material of anticholesterol.Keywords: Green tea material, simple polyphenol, cathechin, flavonoid, anticholesterol, Mangroves leave
Penampilan Produksi Sapi Aceh Umur Satu Hari, Umur Sapih, dan Umur Satu Tahun
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui penampilan produksi sapi aceh di BPTU-HPT Indrapuri Aceh. Materi penelitian yaitu sapi aceh umur satu hari, umur sapih, dan umur satu tahun sebanyak 159 ekor. Metode penelitian adalah studi kasus berdasarkan data bobot lahir, bobot sapih, bobot satu tahun beserta ukuran tubuhnya. Data dianalisis menunjukkan bahwa sapi jantan memiliki bobot lahir 13,66±1,08 kg, bobot umur 205 hari 71,60±7,92 kg dan bobot umur 365 hari 104,66±11,72 kg. Sapi betina memiliki bobot lahir 13,88±1,32 kg, bobot umur 205 hari 64,38 ± 10,36 kg dan bobot umur 365 hari 90,29±11,95 kg. Sapi Aceh umur satu hari memiliki lingkar dada, panjang badan dan tinggi pundak berturut-turut 55,41 cm, 46,16 cm dan 55,22 cm pada sapi jantan serta 55,87 cm, 46,83 cm, dan 55,74 cm pada sapi betina. Sapi aceh umur 365 hari memiliki ukuran lingkar dada, panjang badan dan tinggi pundak berturut-turut 114,32 cm, 94,31 cm dan 92,93 cm pada sapi jantan serta 104,25 cm, 85,06 dan 87,71 cm pada sapi betina. Rata-rata penampilan produksi sapi aceh di BPTU Indrapuri berpotensi menjadi ternak unggul berdasarkan kriteria SNI.Kata Kunci: sapi aceh, penampilan produksi, bobot badan, ukuran tubuhABSTRACTThis study aimed to evaluate the productive performance of aceh cattle at Indrapuri Breeding Center for Superior Livestock and Forage. A total of 159 heads of aceh cattle were used in this study. The method used was a case study based on the data of birth weight, weaning weight, yearling weight, and body size. The results showed that the birth weight, weaning weight at 205 days of age, and yearling weight at 365 days of age of male aceh cattle were 13.66±1.08 kg, 71.60±7.92 kg, and 104.66±11.72 kg, respectively. Whereas, female aceh cattle had the birth weight, weaning weight at 205 days of age, and yearling weight at 365 days of age of 13.88±1.32 kg, 64.38±10.36 kg, and 90.29±11.95 kg, respectively. At birth, male Aceh cattle had the chest circumference, body length, and shoulder height of 55.41 cm, 46.16 cm, and 55.22 cm, respectively, while female aceh cattle were 55.87 cm, 46.83 cm, and 55.74 cm, respectively. At 365 days of age, male aceh cattle had the chest circumference, body length, and shoulder height of 114.32 cm, 94.31 cm, and 92.93 cm, respectively, while female aceh cattle were 104.25 cm, 85.06 cm, and 87.71 cm, respectively. The average productive performance of aceh cattle at Indrapuri Breeding Center for Superior Livestock and Forage has the potential to become superior cattle based on the criteria of Indonesian National Standard.Keywords: aceh cattle, performance, body weight, body siz
IMBANGAN PROTEIN DAN ENERGI BERBEDA DALAM RANSUM PUYUH FASE GROWER TERHADAP KONSUMSI PAKAN, PERTAMBAHAN BOBOT BADAN, DAN KONVERSI RANSUM
ABSTRAK Kandungan energi dan protein pakan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas pakan dan performans produksi ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh imbangan energi dan protein berbeda dalam ransum puyuh fase grower terhadap konsumsi pakan, perrtambahan bobot badan, dan konversi pakan. Seratus dua puluh DOQ disebar secara acak pada 24 unit kandang percobaan. Perlakuan yang dicobakan terdiri atas 2 level energi pakan (2700 dan 2900 kkal/kg) dan 3 level protein pakan (18, 20, dan 22%), sehingga terdapat 6 kombinasi perlakuan, yaitu R1 (2700 EM – 18% PK), R2 (2700 EM – 20% PK), R3 (2700 EM – 22% PK), R4 (2900 EM – 18% PK), R5 (2900 EM – 20% PK), dan R6 (2900 EM – 22% PK). Pakan yang dicobakan merupakan pakan self mixing. Parameter yang diamati adalah konsumi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan puyuh umur 2 hingga 6 minggu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji wilayah berganda duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan energi-protein pakan berbeda tidak memberikan pengaruh (P>0,05) pada konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan. Kombinasi energi metabolisme 2700 kkal/kg dan 18% protein sudah dapat memenuhi kebutuhan nutrisi puyuh periode grower.Kata Kunci: protein, energi, puyuh, grower ABSTRACT Energy and protein that contained in poultry feed is a factor that affect the feed quality and poultry production performance. This research aimed to study the effect of different energy and protein balance in quail feed on feed consumption, weight gain, and feed conversion ratio. One hundred and twenty day old quails were divided into 24 units enclosure research. The trial feed was consist of 2 levels of energy feed (2700 and 2900 kcal/kg) and 3 levels of crude protein (18, 20, and 22% CP), so that there were 6 combinations of treatments, i.e. R1 (2700 ME – 18% CP), R2 (2700 ME – 20% CP), R3 (2700 ME – 22% CP), R4 (2900 ME – 18% CP), R5 (2900 ME – 20% CP), R6 (2900 ME – 22% CP). The used feed was a self mixing feed. The observed parameters were feed consumption, body weight gain, and feed conversion ratio of quail at 2-6 weeks of age. The data obtained were analyzed using variance analysis and continued using Duncan’s multiple range test. The result showed that the balance of energy-protein in quail feed did not affect (P>0,05) feed consumption, body weight gain, and feed conversion ratio. The combination of 2700 kcal/kg metabolizable energy and 18% cruse protein could already maintain the needs of the grower period of quail nutrients.Keywords: protein, energy, quail, growe
Pengaruh Penambahan Buah Nangka Muda terhadap Sifat Fisik dan Organoleptik Abon Daging Itik Afkir
ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui sifat fisik dan organoleptik abon daging itik afkirdengan penambahan buah nangka muda. Bahan yang digunakan adalah daging itik afkir, buah nangka muda, bawang putih, bawang merah, kemiri, ketumbar, kelapa, gula merah, garam, air, dan minyak goreng. Rancanganpenelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rancangan acak lengkap terdiri dari 4 perlakuan (A0: 100% daging itik, A1: 85% daging itik dan 15% nangka muda, A2:70% daging itik dan 30% nangka muda,A3:55% daging itik dan 45% nangka muda) dengan3 ulangan untuk peubah fisik, dan 15 panelis untuk pengujian organoleptik.Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan buah nagka muda padaabon itik afkir tidak berpengaruh nyata terhadap pH dan rendemen abon. Sifat organoleptik (aroma, warna, rasa, dan tekstur)abon daging itik afkir tidak berbeda nyata dengan penambahan buah nangka muda.Katakunci: Abon, daging itik afkir, buah nangka muda, sifat fisik, sifat organoleptik.ABSTRACT This study was conducted to determine the physical characteristics and organoleptic qualities of spent duck abon with the addition of unripe jackfruit. The materials used were spent duck meat, unripe jackfruit, garlic, shallot, candlenut, coriander, coconut, brown sugar, salt, water, and cooking oil. The design used in this study is completely randomized design consisted of 4 treatment (A0: 100% duck meat, A1: 85% duck meat and 15% unripe jackfruit, A2: 70% duck meat and 30% unripe jackfruit, A3: 55% duck meat and 45% unripe jackfruit) with 3 repetition for physical variables, and 15 panelists for organoleptic test. The results of this study suggested that addition of unripe jackfruit in spent duck abon showed no significant difference for pH and rendemen. Organoleptic qualities (aroma, color, flavor and texture) of spent duck abon showed no significant difference with unripe jackfruit aditition.Keywords: abon, spent duck meat, unripe jackfruit, physical characteristic, organoleptic qualitie
PERTAMBAHAN ALAMIAH DAN DISTRIBUSI ANGKA KELAHIRAN SAPI BALI DI KOTA BAUBAU
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertambahan alamiah distribusi angka kelahiran sapi bali di Kota Baubau. Diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat sebagai informasi mengenai pertambahan alamiah dan distribusi angka kelahiran sapi bali di Kota Baubau. Penentuan lokasi penelitian di kota Baubau ditentukan secara purposive samplingyaitudi pilih 3 (tiga) kecamatan yang memiliki populasi sapi bali terbanyak yaitu (Kecamatan Bungi, Kecamatan Sorawolio dan Kecamatan Lea-lea). Pemilihan responden penelitian di tingkat desa di lakukan secara purposive sampling dengan kriteria peternak yang di jadikan responden adalah peternak yang memiliki sapi bali induk yang pernah melahirkan. Variabel yang diamati adalah jumlah populasi ternak sapi bali, persentase kelahiran, persentase kematian, dan angka kelahiran bulanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai persentase kelahiran sapi bali sebesar 45,40%tahun, persentase kematian sapi bali sebesar 7,86%tahun, pertambahan alamiah populasi 37,54%tahun dan rata-rata distribusi kelahiran bulanan 14% ekor/bulan dengan persentase induk yang melahirkan dalam setahun 86,08% dari jumlah total populasi induk 194 ekor. Dapat disimpulkan bahwa nilai pertambahan alamiah populasi dan distribusi angka kelahiran bulanan di Kota Baubau cukup tinggi.Kata kunci : Pertambahan alamiah, Angka kelahiran bulanan, Sapi bali
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN DAN DESINFEKSI MENGGUNAKAN DAUN SIRIH (piper betle linn) TERHADAP DAYA TETAS TELUR BURUNG PUYUH (coturnix-coturnix japonica)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan dan desinfektan menggunakan daun sirih (piper betle linn) terhadap fertilitas, daya hidup embrio dan daya tetas telur burung puyuh (coturnix-coturnix japonica). Materi penelitian yang digunakan yaitu telur tetas burung puyuh berjumlah 200 butir. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x2 dengan 5 ulangan, faktor A (lama penyimpanan telur) 5 hari (A1) dan 7 hari (A2) dan faktor B (penggunaan desinfektan daun sirih) dengan penggunaan desinfektan daun sirih (B1) dan tanpa penggunaan desinfektan daun sirih (B2). Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat interaksi antara faktor lama penyimpanan telur dengan faktor penggunaan desinfektan daun sirih pada fertilitas, Sedangkan perlakuan dengan menggunakan desinfektan daun sirih memberikan pengaruh yang sangat nyata (P>0,01) pada daya tetas telur burung puyuh. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu desinfeksi daun sirih dapat meningkatkan daya tetas telur burung puyuh.Kata kunci : Burung puyuh, telur, daun siri
SUPLEMENTASI ASAM LEMAK TERPROTEKSI DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMANS AYAM KAMPUNG
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penampilan produksi ayam kampung umur 10 minggu yang diberi ransum dengan suplementasi asam lemak terproteksi asam lemak terproteksi. Penelitian ini menggunakan 48 ekor ayam kampung yang dibagi ke dalam 12 plot kandang. Penelitian ini terdiri atas 3 perlakuan (P0= ransum komersial 100 %, P1= ransum komersial + campuran garam karboksilat kering 3%, P2= ransum komersial + hidrolisat minyak sayur 3%), dan 4 ulangan. Rataan konsumsi ransum 53,52 ± 3,96 (P0), 38,86 ± 5,12 (PI) dan 50,72 ± 6,41 (P2), pertambahan bobot badan 17,41 ± 4,80 (P0), 18,89 ± 2,77 (PI), dan 16,22 ± 1,29 (P2), konversi ransum 6,11 ± 1,46 (P0), 3,92 ± 1,06 (PI), dan 5,71 ± 1,09 (P2). Analisis data menggunakan sidik ragam dilanjutkan dengan uji Kontras Ortogonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi asam lemak terproteksi dalam ransum berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum ayam kampung umur 10 minggu. Kesimpulan bahwa (1) pemberian ransum dengan suplementasi asam lemak terproteksi 3% CGKK (Campuran garam karboksilat kering) pada ayam kampung selama 3 minggu cenderung meningkatkan konsumsi bahan kering dan pertambahan bobot badan tetapi menurunkan konversi ransum dan (2) pemeberian ransum dengan suplementasi asam lemak terproteksi 3% HMS (Hidrolisat minyak sayur) pada ayam kampung selama 3 minggu cenderung meningkatkan konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan dan konversi ransum.Kata kunci: Suplementasi, Asam Lemak Terproteksi dan Performans Ayam Kampun
Motilitas dan Vabilitas Spermatozoa Ayam Kampung pada Suhu 5°C Menggunakan Pengencer dan Lama Simpan yang Berbeda
ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui motilitas dan viabilitas spermatozoa ayam kampung pada suhu 5oC menggunakan pengencer dan lama simpan yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan pengencer ringer lactat solution, air kelapa dan tanpa pengencer serta lama simpan 0, 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 27, 30, masing-masing diulang 10 kali. Variabel yang diamati yaitu motilitas dan viabilitas spermatozoa. Analisa data yang digunakan adalah analisis varian. Hasil analisis data menunjukkan bahwa motilitas dan viabilitas spermatozoa menggunakan pengencer ringer lactat solution lebih tinggi (P<0,01) serta dapat bertahan sampai lama simpan 24 jam dibandingkan air kelapa dan tanpa pengencer. Adapun nilai motilitas ringer lactat solution, air kelapa dan tanpa pengencer pada lama simpan 24 jam masing-masing sebesar 43,5±17,17%; 8±4,83%; 6,5±2,4%, sedangkan nilai viabilitasnya sebesar 83,2±7,25%; 64,6±3,20%; dan 63,1±2,33%. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah ringer lactat solution lebih baik dibandingkan air kelapa dan tanpa pengencer dalam mempertahankan kualitas semen ayam kampung pada suhu simpan 5oC sampai lama simpan 24 jam.Kata Kunci : air kelapa, ayam kampung, motilitas, spermatozoa, viabilitas ABSTRACTThis study was conducted to determine the motility and viability of spermatozoa of Native chickens at 5oC using different diluents and time storage. The method used in this study was laboratory research using Factorial Completely Randomized Design with ringer lactate solution, coconut water and without diluent at 0, 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 27, 30 hours of time storage each repeated 10 times. The variables observed were motility and viability of sperm. Data analysis used is variance analysis. The results of data analysis showed that the motility and viability of spermatozoa using ringer lactate solution diluents was higher (P <0.05) than coconut water and without diluents. The motility values of ringer lactat solution, coconut water and without diluents were 43,5±17,17%; 8±4,83%; 6,5±2,4% respectively, while the viability values were 83,2±7,25%; 64,6±3,20% and 63,1±2,33%. The conclusion of this study is that ringer lactat solution is better than coconut water an without diluents in maintaining the quality of Native chicken semen at a storage temperature of 5oC until 24 hours.Keywords: coconut water, motility, native chicken, sperm, viabilit
PENGARUH KETEPATAN WAKTU INSEMINASI BUATAN TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN KEBUNTINGAN DI KECAMATAN GEDANGAN KABUPATEN MALANG JAWA TIMUR
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang-Sub Dinas Unit Pelaksana Teknis IB Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Malang sebagai salah satu sentra peternakan rakyat sangat bergantung pada teknik Inseminasi Buatan tersebut. Dengan teknik ini sangat dimungkinkan untuk menghasilkan keturunan sapi yang memiliki daging unggul dengan harga jual yang lebih tinggi daripada sapi lokal, keadaan ini pada akhirnya akan membantu peningkatan ekonomi peternak. Selama pelaksanaan penelitian, input data berupa hari pelaksanaan IB, waktu birahi sapi betina dan waktu pelaksanaan IB. Metode yang digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan IB ini menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian evaluasi pelaksanaan IB di Kecamatan Gedangan menunjukkan bahwa IB yang dilakukan pada awal birahi memiliki tingkat keberhasilan sebesar 51,3%, pelaksanaan IB pada rentang waktu pertengahan birahi memiliki tingkat keberhasilan 100%, sedangkan pada tahap akhir birahi memiliki kemungkinan terjadinya konsepsi sebesar 30%. Setelah dilakukan analisa dan penghitungan presentase, maka angka keberhasilan IB di Kecamatan Gedangan adalah 57,37% dan angka ketidakberhasilan IB mencapai 42,63%. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat pengaruh ketepatan waktu IB terhadap tingkat keberhasilan kebuntingan di Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang. Faktor-faktor penentu keberhasilan IB dalam hubungannya dengan ketepatan waktu IB adalah: kelainan anatomi saluran reproduksi, kelainan ovulasi, sel telur yang abnormal, sperma yang abnormal, dan kesalahan pengelolaan reproduksi.Keywords: artificial insemination, conception rate, estrus, standing hea
PENGARUH PEMBERIAN SARI BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) TERHADAP PERFORMA BURUNG PUYUH (Coturnix coturnix japonica) UMUR 2-6 MINGGU
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian sari belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) terhadap performa burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) umur 2-6 minggu. Materi yang digunakan daalm penelitian ini yaitu 80 ekor burung puyuh periode starter dan grower yang dipelihara selama 5 minggu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Level pemberian sari belimbing wuluh masing-masing perlakuan yaitu 0%, 0,25%, 0,50%, 0,75% dan 1,00%. Parameter yang diamati adalah konsumsi pakan, konsumsi air minum, pertambahan bobot badan dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sari belimbing wuluh tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan burung puyuh, namun memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi air minum burung puyuh. Kata Kunci: Burung Puyuh, Sari Belimbing Wuluh, Perform