Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
KUALITAS ORGANOLEPTIK DAGING SAPI YANG DIBERI PASTA LENGKUAS (Alpinia galanga L.) DENGAN LAMA SIMPAN YANG BERBEDA
Daging sapi merupakan pangan hewani yang bernilai gizi yang tinggi yang mudah rusak dan mengalami penurunan kualitas daging. Untuk mencegah hal tersebut diperlukan tindakan pengawetan, dengan cara penggunaan pengawet alami yakni lengkuas (Alpinia galanga L.) dan cara pendinginan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas organoleptik daging sapi yang diberi pasta lengkuas (Alpinia galanga L.) dengan lama simpan yang berbeda. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging sapi bagian tanjung dan rimpang lengkuas. Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan perlakuan 4 x 5 dan 2 kali ulangan. Faktor A adalah konsentrasi penggunaan pasta lengkuas (0%, 10%, 20%, dan 30%) dan faktor B adalah lama simpan daging yang berbeda (0, 2, 4, 6, dan 8 hari). Variabel penelitian meliputi warna, aroma, tekstur, cita rasa, dan keempukan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan SPSS 16.0 dan uji wilayah berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara lama simpan dengan pemberian pasta lengkuas pada daging sapi berpengaruh nyata (p0.05) terhadap warna, tekstur dan cita rasa. Lama simpan daging sapi yang diberi pasta lengkuas secara mandiri berpengaruh nyata (p0.05) terhadap keempukan daging sapi. Perlakuan terbaik diperoleh pada daging sapi dengan pemberian pasta lengkuas 30% yang disimpan selama 4 hari.Kata Kunci: pasta lengkuas, daging sapi, organoleptik
Perubahan Suhu, pH, Protein Kasar, dan Serat Kasar pada Fermentasi Biji Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) dan Tepung Jagung dengan Level Jamur Trichoderma viride yang Berbeda
ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mengetahui proses fermentasi yang tepat digunakan untuk meningkatkan kualitas protein kasar dan serat kasar pada biji kecipir dan menentukan level terbaik penambahan jamur Trichoderma viride yang mampu meningkatkan kualitas protein kasar dan serat kasar pada biji kecipir sehingga mampu meningkatkan kualitas dan tingkat kecernaan. Produk yang akan dihasilkan pada penelitian ini adalah alaternatif pakan fermentasi biji kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) untuk peternak unggas. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan yaitu P0 = biji kecipir dengan 10% tepung jagung tanpa fermentasi; P1 = Biji kecipir dengan 10% tepung jagung + 0,1% jamur Trichoderma viride (Tv); P2 = biji kecipir dengan 10% tepung jagung + 0,2% Tv; dan P3 = biji kecipir dengan 10% tepung jagung + 0,3% Tv. Materi yang digunakan adalah biji kecipir yang dihaluskan digunakan sebagai substrat dan dihomogenkan dengan cara diaduk. Masing-masing sampel perlakukan ditimbang sebanyak 100 g, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik dengan ketebalan 2 cm dan dilubangi agar tercipta suasana aerob. Selanjutnya diinkubasikan dalam ruang fermentor pada suhu 30oC selama 7 hari. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Peubah yang diamati pH, suhu, protein kasar dan serat kasar. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan suhu, penurunan pH, serta kenaikan pada protein kasar dan penurunan serat kasar.Kata kunci: biji kecipir, Trichoderma viride, pH, suhu, protein, serat kasar ABSTRACTThe purpose of this study was to determine the proper fermentation process used to improve the quality of crude protein and crude fiber in winged beans and the best level of addition of Trichoderma viride fungus which could improve the quality of crude protein and crude fiber in winged beans to improve feed quality and digestibility. The result product of this study is an alternative fermented winged bean (Psophocarpus tetragonolobus) feed for poultry farmers. This study utilized completely randomized design with four treatments. P0 = Unfermented winged beans with cornstarch, P1 = winged beans with 10% cornstarch + 0,1% Trichoderma viride fungus (Tv), P2 = winged beans with 10% cornstarch + 0,2% Tv, P3 = winged beans with 10% cornstarch + 0,3% Tv. The material used were powdered winged beans as substrate then homogenized by stirring. Each sample was weighed 100 g, then put into a plastic bag with a 2 cm thickness and perforated to create an aerobic atmosphere. Subsequently, the sample was incubated in a fermenter room at 30oC for 7 days. Each treatment was repeated 3 times. Variables observed for pH, temperature, crude protein, and crude fiber. The result of this study concluded that there were change in temperature, decrease in pH, increase in crude protein, and decrease in crude fiber.Keywords: winged beans, Trichoderma viride, pH, temperature, protein, crude fibe
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN INDIGOFERA ZOLLINGERIANA DALAM RANSUM TERHADAP PRODUKSI DAN BERAT TELUR AYAM ARAB
This study aimed to evaluate the effect of using leaf flour of Indigofera zollingeriana which was added to the ration on the productivity and quality of Arab chicken eggs. This research conducted in March to May of 2018. This research conducted at the Permata Poultry Farm Group in Wua Wua Village, Kendari. This research used a completely randomized design with four (4) treatments and four (4) replications. The experimental ration which was tested consisted of: P0 = The Ration contained 0% Indigofera leaf flour, P1 = ration containied 10% Indigofera leaf flour, P2 = Ration contained 15% Indigofera leaf flour, and P3 = Ration contained 20% Indigofera leaf flour. The parameters were observed feed consumption, egg weight, feed conversion, daily egg production. The research data were analyzed by using Analysis of Variance (ANOVA) based on RAL in using Statistical Product and Service Solutions (SPSS) software. If the treatment has a significant effect, further testing will be carried out with the Duncan Multiple Range Test. The results of this study showed that the addition leaf flour of indigofera zollingeriana in Arab chicken rations affected the feed conversion and egg weight of Arabic chicken, however indigofera leaf flour did not affect the feed consumption and egg production of Arab chickenKeywords: Indigofera Zollingeriana, Feed conversion, Egg Production, Arabic Chicken
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN INDIGOFERA ZOLLINGERIANA DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS INTERNAL TELUR AYAM ARAB
ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh tepung daun Indigofera (Indigofera zollingeriana) yang diberikan dalam pakan terhadap kualitas telur ayam arab. Penelitian didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 (empat) perlakuan dan 4 (empat) ulangan. Perlakuan penelitian terdiri atas: P0 = Ransum mengandung 0% Tepung daun Indigofera, P1 = Ransum mengandung 10% Tepung daun Indigofera, P2 = Ransum mengandung 15% Tepung daun Indigofera, dan P3 = Ransum mengandung 20% Tepung daun Indigofera. Peubah yang diukur dan diamati meliputi berat kuning telur, berat putih telur, berat kerabang telur, warna kuning telur, kadar lemak, kadar protein, dan kadar kolesterol. Data yang didapatkan dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) berdasarkan RAL menggunakan aplikasi SPSS. Jika perlakuan berpengaruh nyata maka dilakukan uji lanjut dengan Uji Duncan Multiple Range Test. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung daun indigofera dalam pakan ayam arab, dapat mempengaruhi berat kuning telur, berat putih telur, berat kerabang telur, dan warna kuning telur ayam arab. Kata kunci :Indigofera zollingeriana, Kuning Telur, Putih Telur, dan Ayam Arab.
KAJIAN PERTUMBUHAN KARKAS DAN BAGIAN NON KARKAS KAMBING LOKAL JANTAN PASCA PEMBERIAN ASAM LEMAK TERPROTEKSI
Tujuan penelitian untuk mengkaji produksi karkas, non karkas, edible portion dan non edible portion dari non karkas kambing lokal lepas sapih yang diberi asam lemak terproteksi. Materi penelitian terdiri dari kambing jantan lokal umur 4-6 bulan sebanyak 16 ekor dengan kisaran bobot badan 10-12 kg, pakan hijauan dan ALT. Pakan yang digunakan terdiri dari hijauan dan campuran asam lemak terproteksi. Rancangan penelitian adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, dengan perlakuan P1= 0 g ALT, P2 = 200 g ALT, P3 = 250 g ALT dan P4 = 300 g ALT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap bobot potong, potongan karkas, edible portion dan non edible portion terkecuali pada limfa dan ginjal. Dapat disimpulkan bahwa pemberian asam lemak terproteksi sebanyak 200-300 g/ekor/hari mampu meningkatkan bobot badan, bobot akhir atau bobot potong serta bobot karkas dan bobot non karkas baik edible portion maupun non edible portion, terkecuali bobot limpa pada kambing jantan lokal dalam fase pertumbuhan. Kata Kunci: Asam lemak terproteksi, pertumbuhan, kambing lokal jantan, karkas, non karka
PERTUMBUHAN KAMBING PERANAKAN ETTAWA PADA PEMBERIAN DAUN LAMTORO DAN DAUN MANGGROVE DENGAN KOMBINASI YANG BERBEDA
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji pertumbuhan kambing peranakan ettawa, dan (2) Mengkaji komposisi karkas kambing peranakan ettawa. Materi penelitian ini menggunakan 12 ekor kambing peranakan Ettawa jantan dengan kisaran umur 6 bulan sampai 11 bulan serta dibagi menjadi 12 petakan kandang individu. Bahan yang digunakan terdiri dari pakan (dan daun bakau), air, garam, dan obat-obatan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pemberianpakan bakau dan pakan campuran (lamtoro + bakau) belum mampu meningkatkan tingkat konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan. (2) Pemberianpakan yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang nyata pada bobot potong, bobot karkas, dan persentase karkas. Sedangkan pada bobot potongan karkas, hanya bobot rusuk (rack) yang menunjukan perbedaan yang nyata. (3) Pemberian pakan yang terbaik diperoleh pada perlakuan P4 (lantoro 75% + bakau 25%). Olehnya itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pertumbuhan dan produksi karkas kambing peranakan etawa dengan pemberian berbegai jenis hijauan makanan ternak dengan penambahan pakan tambahan atau pakan komersial sehingga dapat meningkatkan pertambahan bobot badan dan bobot karkas kambing peranakan ettawa. Kata kunci: Pertumbuhan, kambing ettawa, pertambahan bobot, karkas, pengaruhnyata
Evaluasi Kandungan Nutrisi Pakan dan Daya Hambat Tepung Biji Asam Kandis (Gracinia cowa) sebagai Bahan Pakan Unggas
Kandis acid (Gracinia cowa) has been used for cooking, medicine, beauty, etc., but using of seeds has not been profitable so it was wasted. Seeds can be used as a fitobiotic to replace antibiotics or as feed ingredients. The purpose of this study was to determine the food ingredient and the inhibitory of bacteria on kandis seeds flour. This research was conducted by laboratory experiments using Kandis seeds flour as a material, analysis proximate used to represent the composition of feedstuft, bioactive used test flavonoid quantitaf seconder and the inhibitory test with hollow diffusion methode. The results of the test were dry matter 89.11%, crude fat 4.77, fiber 18.57, crude protein 0.99, tannin 0.29%, GE 5244 kcal / kg, Ca 0.72%, P 0, 22%, flavonoids 0.44%, density 413 g / mL. The smallest inhibitory bacteria produced by lactic acid bacteria then Salmonella and Escherichia coli. The food ingredient represented that value Kandis acid seeds flour can be used as food and there are bacterial inhibitory by the activity of flavonoids and tannins. The conclusion is the kandis acid seeds have potential as feed ingredients and phytobiotics Keywords: gracinia cowa, flavonoid, proximate analysis, inhibitio
PENGARUH UMUR LEPAS SAPIH DAN UMUR INDUK TERHADAP PRODUKSI SUSU SAPI PERAH PERANAKAN FRIESIAN HOLSTEIN (PFH)
Penelitian ini dilaksanakan di Pujon Kabupaten Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh umur lepas sapih dan umur induk terhadap produksi susu sapi perah PFH. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 27 ekor induk sapi perah PFH dengan kelompok umur 3-4 tahun, 5-6 tahun dan 7-8 tahun sebanyak 9 ekor dari berbagai kelompok umur. Metode yang dipakai adalah studi kasus dengan teknik pengambilan data secara observasi dan wawancara dengan pemilik. Data yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah produksi susu dalam waktu 30 hari, umur induk dan umur pedet saat penyapihan. Analisis data menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur induk 5-6 tahun menghasilkan produksi susu yang terbaik sebesar 12,72±0,77 liter, kemudian dari kelompok umur 7-8 tahun sebesar 11,31±1,75 liter dan yang terakhir umur 3-4 tahun memberikan produksi susu yang terendah sebesar 10,94±0,41 liter. Rata-rata produksi susu umur lepas sapih 1 bulan sebesar 13,00±0,38 liter. Rata-rata produksi susu umur lepas sapih 2 bulan sebesar 11,77±0,72 liter. Rata-rata produksi susu umur lepas sapih 3 bulan sebesar 10,96±0,50 liter. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh umur induk terhadap produksi susu sapi perah PFH, umur induk 5-6 tahun memberikan produksi tertinggi yaitu 12,72±0,77 liter. Umur lepas sapih tidak memberikan pengaruh terhadap produksi susu sapi perah PFH kemudian tidak terdapat interaksi antara umur induk dan umur lepas sapih terhadap produksi susu.Kata Kunci: produksi susu, peternak, sapi pra
Karakterisasi Gen KIF12 (Kinesin Familly 12) serta Hubungannya dengan Komposisi Asam Lemak pada Domba
ABSTRAKKinesin Family 12 (KIF12) merupakan gen yang terlibat dalam mediasi kaskade antioksidan dalam sel beta sebagai sebuah target intraselular dari kelebihan asupan lemak atau lipotoksit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakterisasai gen KIF12 melalui identifikasi keragaman dan asosiasi gen KIF12 terhadap komposisi asam lemak pada domba. Sampel domba yang digunakan sebanyak 35 ekor yang terdiri dari Domba ekor Gemuk (DEG) dan Domba Ekor Tipis (DET) masing-masing 20 dan 15 ekor. Titik mutasi gen KIF12 berada pada posisi g.9617965 C>T. Identifikasi keragaman gen KIF12 dianalisis menggunakan Polymerase Chain Reaction - Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) dengan menggunakan enzim BfaI. Hasil keragaman gen KIF12 bersifat polimorfik dengan ditemukan tiga genotipe yaitu CC, CT, dan TT. Hasil Uji chi square menunjukkan bahwa lokus KIF12 berada pada keseimbangan Hardy-Weinberg (HWE) pada pada DET, hal berbeda ditunjukakan pada DEG. Titik mutasi gen KIF12 berasosiasi secara signifikan (P <0.05) terhadap asam lemak jenuh (SFA) asam laurik (C12:0), asam miristik (C14: 0) and asam heptadenoik (C17: 0) juga asam lemak jenuh tunggal (MUFA), asam miristoleinik (C14: 1) and asam oleik (C18: 1n9c). Gen KIF12 memiliki potensi untuk digunakan sebagai penanda seleksi terhadap komposisi asam lemak.Kata kunci: domba, asam lemak, KIF12, PCR RFLPABSTRACTKinesin Family 12 (KIF12) is one of gene which involved in mediates an antioxidant cascade in beta cells as an intracellular target of excess fat intake or lipotoxicitys. This study was aimed to identify the polymorphism and association of KIF12 gene as candidate gene for fatty acid composition in Indonesian sheep including fat-tailed sheep and thin-tailed sheep. The sample of sheeps used 35 heads consist fat-tailed sheep and thin-tailed sheep as many as each 20 and 15 samples. Identification of polymorphism of KIF12|BfaI gene were analyzed using Polymerase Chain Reaction - Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP). The results of polymorphism of KIF12 gene were polymorphic for three kind of genotypes of CC, CT, and TT. The chi square revealed that the locus of KIF12 was deviated in Hardy-Weinberg equilibrium (HWE) in fat-tailed sheep, but was in HWE in thin-tailed sheep. A SNP of KIF12 was associated (P <0.05) with saturated fatty acids (SFA) including lauric acid (C12:0), myristic acid (C14: 0) and heptadecanoic acid (C17: 0) as well as monounsaturated fatty acids (MUFA), namely miristoleinic acid (C14: 1) and oleic acid (C18: 1n9c).The KIF12 gene was the potential to be used as a marker of selection for fatty acid compositions. Keywords : sheep, fatty acids, KIF12, PCR-RFL
Pengaruh Penambahan Stabilizer Pati Talas Lokal (Colocasia esculenta) terhadap Viskositas, Sineresis dan Keasaman Yogurt pada Inkubasi Suhu Ruang
ABSTRACTThis study aims to examine the effect of adding local taro starch stabilizer (Colocasia esculenta) to physicochemical properties (viscosity and sineresis) and acidity (pH and total acid) of yogurt at room temperature incubation. The material used includes: cow milk; skim milk; starch from taro tubers from the traditional market of Malang, East Java; starter of lactic acid bacteria (S. thermophillus, L. bulgaricus, and L. acidhopilus). The research method used was a completely randomized laboratory experiment consisting of 6 treatments of adding taro starch, namely: P0: 0% (without taro starch); P1: 0.5%; P2: 1%; P3: 1.5%; P4: 2%; and P5: 2.5%. Pasteurization of milk at 85 °C for 30 minutes, addition of starter BAL 3% with an incubation period of 24 hours at room temperature. Each treatment was repeated 4 times. The data obtained were analyzed using the Variant Analysis method, if the treatment gave effect then continued with Duncan's Multiple Distance Test (UJBD). The results showed that there was a very significant effect (P <0.01) of the addition of taro starch to the viscosity, syneresis, pH, and total acid of yogurt at room temperature incubation. The addition of different concentrations of taro starch stabilizer varies the values of viscosity (1007.5-4596.25 cP), sineresis (10.11-20.33%), pH (4.16-4.20) and total acid (0,94-1.08%) yogurt. The conclusion of this study is the addition of local taro starch stabilizer up to 2.5% concentration providing optimal physicochemical and acidity properties of yogurt. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penambahan stabilizer pati talas lokal (Colocasia esculenta) terhadap sifat fisiko (viskositas dan sineresis) dan keasaman (pH dan total asam) yogurt pada inkubasi suhu ruang. Materi yang digunakan meliputi: susu sapi; susu skim; pati dari umbi talas yang berasal dari pasar tradisional Kota Malang, Jawa Timur; starter bakteri asam laktat (S. thermophillus, L. bulgaricus, dan L. acidhopilus). Metode penelitian yang digunakan adalah percobaan laboratorium dengan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 6 perlakuan penambahan pati talas yaitu P0: 0% (tanpa pati talas); P1: 0,5%; P2: 1%; P3: 1,5%; P4: 2%; dan P5: 2,5%. Pasteurisasi susu pada pemanasan 85°C selama 30 menit, penambahan starter BAL 3% dengan masa inkubasi 24 jam pada suhu ruang. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode analisis varian, apabila perlakuan memberikan pengaruh maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda duncan (UJBD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) penambahan pati talas terhadap viskositas, sineresis, pH, dan total asam yogurt pada inkubasi suhu ruang. Penambahan konsentrasi stabilizer pati talas yang berbeda memberikan variasi nilai terhadap viskositas (1007,5-4596,25 cP), sineresis (10,11-20,33%), pH (4,16-4,20) dan total asam (0,94-1,08%) yogurt. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan stabilizer pati talas lokal sampai dengan konsentrasi 2,5% memberikan sifat fisiko dan keasaman yogurt yang optimal