Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Not a member yet
    440 research outputs found

    Identifikasi Kualitas Spermatozoa Sapi Kuantan Riau sebagai Pelestarian Plasma Nutfah Ternak Lokal

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan ingin mengetahui kualitas spermatozoa sapi kuantan. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Benei Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau dengan menggunakan metode purposive sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 15 ekor sapi kuantan jantan dewasa yang tersebar di Kecamatan Benai. Kualitas spermatozoa diamati melalui sperma yang diambil dari cauda epididimis. Sampel diambil dari tiga desa yaitu Desa Gunung Kesiangan, Desa Kalimanting dan Desa Banjar Lopak. Parameter penelitian ini yaitu pengamatan secara makroskopis meliputi pH, bau, warna dan pengamatan secara mikroskopis meliputi motilitas dan viabilitas. Data setiap pengamatan kualitas spermatozoa dianalisis dengan mencari nilai rata-rata dan standar deviasi dan diuraikan secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa sermatozoa sapi kuantan yang diamati dari cauda epididimis memiliki kualitas pH 6,13, bau amis (khas sperma), warna putih krem, motilitas 58%, dan viabilitas 76,67%. Motilitas spermatozoa yang terdapat pada cauda epididimis sapi kuantan dalam penelitian ini masih dalam batasan normal dan masih memenuhi syarat untuk digunakan sebagai semen cair untuk mendukung pelaksanaan inseminasi buatan.Kata kunci: cauda epididimis, plasma nutfah, sapi kuantan, spermatozoaABSTRACTThe purpose of this study was to determine the quality of spermatozoa of Kuantan Riau cattle. This research was conducted in Benai subdistrict of Kuantan Singingi regency, Riau by using purposive sampling method. The samples used in this study were 15 adult bulls scattered in Benai district. The quality of spermatozoa was observed through sperm taken from the cauda epididymis.The samples were taken from three villages; Gunung Kesiangan, Kalimanting, and Banjar Lopak village. The parameters in this study were macroscopic qualities including pH, odour, color, and microscopic qualities including motility and viability of spermatozoa. This result was analized descriptively. The data collected from each observation were then analyzed by measuring the mean values and standard deviation. The result of this study indicated that spermatozoa of kuantan cattle collected from cauda epididimis had a pH quality of 6.13, fishy smell (typical of sperm), creamy white color, 58% motility, and 76.67% viability. The motility of spermatozoa of Kuantan Riau cattle found in this study is within normal value and qualified for the requirements for use as liquid for artificial inseminaton.Keywords: cauda epididymis, kuantan cattle, sperm plasma, spermatozo

    Evaluasi Kualitas Telur Itik Talang Benih dengan Jenis Daun dan Lama Penyimpanan yang Berbeda

    Get PDF
    ABSTRAK                                                                        Tujuan penelitian ini mengetahui jenis daun dan lama penyimpanan terbaik pada kualitas telur itik talang benih konsumsi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama yaitu jenis daun (daun sirsak dan jambu biji) dan faktor kedua yaitu lama penyimpanan (0, 15, dan 30 hari). Parameter yang diamati yaitu warna kuning telur, albumen indeks, yolk indeks, dan haugh unit. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan perbedaan antara perlakuan diuji lanjut dengan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukan bahawa tidak ada interaksi antara jenis daun dan lama penyimpanan terhadap warna kuning telur, albumen indeks, yolk indeks, dan haugh unit. Daun sirsak lebih mampu mempertahankan warna kuning telur dibandingkan daun jambu biji (P0,05) terhadap albumen indeks, yolk indeks, dan haugh unit. Lama penyimpanan sangat berpengaruh nyata (P0.05) to the albumen index, yolk index, and haugh unit. Storage time had strong significant effect (P<0.01) on egg yolk color, albumen index, yolk index, and haugh unit. It is concluded that soursop leaves have a better ability to maintain the color of duck egg yolk. Egg storage time should be carried out up to 15 days because albumen index, yolk index, and haugh unit had quality 2.Key words: egg quality, leaves, storage time, talang benuh duc

    Pertumbuhan Bulu Ayam Hasil Persilangan Sentul dengan Onagadori dan Resiprokal Umur 1 sampai 12 Minggu

    Get PDF
    ABSTRAKAyam tidak hanya sebagai komoditi pangan, namun juga hias. Salah satu ayam hias yang unik dan banyak menarik minat pecinta ayam hias adalah ayam ekor panjang atau onagadori. Salah satu jenis asli ayam lokal Indonesia adalah ayam sentul. Ayam sentul adalah ayam asli dari daerah Ciamis, Jawa Barat. Persilangan onagadori dengan sentul dan resiprokalnya diharapkan memiliki bulu yang panjang di bagian tubuhnya dengan perpaduan warna bulu abu-abu akibat adanya kombinasi warna dari kedua tetua dengan performa tubuh yang gagah dan indah. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah pertumbuhan bulu sayap, pinggang, dan ekor pada umur 1-12 minggu. Pada penelitian ini digunakan rancangan acak kelompok untuk menganalisa data. Hasil penelitian menunjukan bahwa panjang  bulu sayap SO jantan 7,93±0,63 cm, SO betina 7,96±0,79 cm dan  OS jantan  6,39±0,66 cm, OS betina 6,29±0,91 cm. Hasil pengukuran bulu pinggang SO jantan 6.80±0.10 cm, SO betina 6,81±0,10 cm dan OS jantan 2,59±0,86 cm, OS betina 2,50±0,98 cm. Panjang bulu ekor SO jantan 10,71±0,10 cm, SO betina 10,78±0,10 cm dan OS jantan 7,31±0,10 cm, OS betina 7,29±0,12 cm. Karakteristik kualitatif ayam hasil persilangan onagadori dengan sentul pada warna bulu jantan cenderung lebih dominan 1 warna sedangkan yang betina 2 warna. Warna shank yang dihasilkan dari persilangan ini adalah abu dan putih lebih banyak dibandingkan hijau. Bentuk jengger hasil persilangan ini bentuk jengger pea lebih banyak daripada bentuk jengger single dan cushion. Ayam hasil persilangan SO memiliki pertambahan pertumbuhan bulu sayap, pinggang, dan ekor lebih cepat dan panjang dari OS.Kata kunci: onagadori, pertumbuhan bulu, resiprokal, sentulABSTRACTChicken is not only a food commodity, but also ornamental. One of the unique ornamental chickens that attracts many ornamental chicken lovers is the long-tailed chicken or onagadori. One native of Indonesian local chicken is sentul chicken from the Ciamis area, West Java. The crossing of cock onagadori with hen sentul (Onagadori-Sentul/OS) and its reciprocal cock sentul with hen onagadori (Sentul-Onagadori/SO) is expected to have long feather tail, and on its body with a combination of gray feather due to the combination of colors from the two parents with a good performance.. Parameters measured in this study were the growth of wing, saddle, and tail feathers at 1-12 weeks. A randomized block design is used to analyze this data.  The measurement of the males 6.80±0.08 cm, SO females 6.81±0.08 cm, and OS males 2.59±0.86 cm, Females OS 2.50±0.98 cm. Result of SO tail tailed data 10.71±0.10 cm, SO females 10.78±0.10 cm and OS males 7.31±0.10 cm Females OS 7.29±0.12 cm. Chicken offspring from SO crossbreed has better feather growth than onagadori. While the offspring from OS crossbreed has better feather growth than sentul chicken. Characteristics of qualitative chicken onagadori crosses with sentul on the color of male feathers tend to be more dominant one color while the female two colors. The shank color resulting from this cross color of the ash and white shank is more dominant than green. The pea comb form produced from this cross is more dominant than the single and cushion comb. The SO cross breed chikens have faster feather growth of wing, saddle, and tail than OS chikens.Key words: feathers growth, onagadori,  reciprocal, sentu

    Tampilan Kesuburan Sapi Bali Induk yang Dikawinkan Langsung dengan Pejantan dan Inseminasi Buatan Ketika Estrus Hasil Sinkronisasi Menggunakan PGF2α

    Get PDF
    ABSTRAKAngka kebuntingan sapi bali yang mengalami sinkronisasi estrus dan diinseminasi pada saat estrus muncul masih di bawah 50%. Akan tetapi, persentrasi gejala estrus yang muncul setelah sinkronisasi selalu di atas 85%.  Oleh karena itu, penelitian untuk mengevaluasi tingkat kebuntingan sapi bali setelah sinkronisasi, deteksi estrus dan perkawinan baik kawin alam maupun inseminasi telah dilakukan dengan menggunakan 67 ekor sapi bali induk umur 4-6 tahun yang mempunyai corpus luteum periodik. Penelitian dilakukan sebanyak empat tahap dengan masing-masing tahap selama 22 hari. Semua sapi percobaan dipelihara secara intensif pada 5 pedok yang terpisah dan setiap pedok ditempatkan 4 ekor sapi bali induk dan seekor pejantan. Hormon estron digunakan untuk sinkronisasi induk sapi percobaan dengan dosis 5 ml/ekor secara intra muscular, selanjutnya dilakukan induk sapi dikawinkan pada hari pertama sampai kelima setelah sinkronisasi dan deteksi estrus. Deteksi estrus diperpanjang sampai dengan akhir siklus estrus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 91,05% sapi percobaan mengalami estrus setelah sinkronisasi sedangkan gejala estrus muncul mulai hari pertama sampai hari kelima (rata-rata hari ke 3) setelah sinkronisasi.  Angka kebuntingan yang diperoleh rata-rata 27,87%.  Estrus alami (terjadi setelah estrus sinkronisasi) mulai muncul setelah 6-13 hari (rata-rata 8 hari) estrus hasil sinkronisasi muncul.Kata Kunci: estrus, kebuntingan, PGF2α  Therefore, the experiment related to evaluation of conception rate of bali cow following synchronization, estrus detection and natural mating or artificial insemination was conducted using 67 bali cow aged 4-6 y.o. that has periodic corpus luteum. The experiment was conducted in four sequent periods (22 days each).  All animal was kept intensively in 5 separate paddocks where each paddock was allocated five animals (4 cows+1 bull).  Estron contained PGF2α was injected intramuscular (5 ml/head) to all cows for synchronization while mating (natural mating and artificial insemination) was conducted during 1-5 days following synchronization and estrus detection.  Estrus detection was prolonged up to the end of estrus cycle. The results showed that 91.05% of synchronized cow was estrus, while the estrus sign occurred on day 1-5 (day 3 in average) after synchronization. Conception rate gained in this experiment was 27.87%.  Natural estrus that occurred following synchronized estrus varied between 6-13 days (8 days in average) after synchronized estrus occurred.Keywords: conception, estrus, PGF2α, synchronization 

    KUALITAS SPERMATOZOA KAMBING BOERAWA DAN KAMBING KACANG PADA PENGGUNAAN TRIS-KUNING TELUR YANG BERBEDA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh interaksi antara bangsa kambing dan konsentrasi pengencer Tris-Kuning Telur terhadap kualitas spermatozoa. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola Faktorial dengan 2 faktor x 4 perlakuan dengan 4 ulangan.  Faktor pertama adalah jenis kambing, yaitu kambing Kacang (K1) dan kambing Burawa (K2) sedang Faktor kedua adalah pengencer Tris-Kuning Telur yang terdiri atas 4 (empat) konsentrasi kuning telur yang berbeda yaitu 5% (P1), 10% (P2), 15% (P3) dan 20% (P4). Parameter yang diukur adalah evaluasi kualitas semen segar secara makroskopis kambing Burawa dan kambing Kacang terdiri atas  : volume, warna, bau dan derajat keasaman (pH) dan secara mikroskopis  terdiri atas : gerak massa, konsentrasi, persentase spermatozoa hidup, persentase motilitas dan persentase membran plasma utuh.  Hasil  penelitian  menunjukan karakteristik semen segar kambing Boerawa dan kambing Kacang kualitasnya hampir sama. Interaksi perlakuan bangsa kambing dan konsentrasi pengencer Tris-Kuning Telur tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas spermatozoa kambing.Faktor konsentrasi pengencer Tris-Kuning Telur secara mandiri tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas spermatozoa kambing. Rataan persentase membran plasma utuh spermatozoa kambing Kacang nyata lebih baik dibandingkan kambing Boerawa setelah pengenceran. Penurunan persentase motilitas spermatozoa selama 4 hari penyimpanan pada suhu 3-5oC lebih rendah pada kambing Kacang dibandingkan pada kambing Boerawa. Konsentrasi pengencer Tris-Kuning Telur 10% mampu mempertahankan motilitas spermatozoa kambing lebih baik dibandingkan konsentrasi pengencer yang lain,konsentrasi pengencer Tris-Kuning Telur 15% mampu mempertahankan persentase MPU spermatozoa dibandingkan konsentrasi yang lain selama 4 hari penyimpanan pada suhu 3-5oC.Kata kunci : Kualitas spermatozoa, kambing Burawa, kambing Kacang,  pengencer TRIS.

    KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PETERNAKAN PUYUH (STUDI KASUS PETERNAKAN PUYUH PERMATA KOTA KENDARI)

    Get PDF
    Peternakan merupakan salah satu subsektor pertanian yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian di Indonesia. Namun dalam pelaksanaannya subsektor peternakan menghadapi berbagai risiko yang tidak jarang memberikan kerugian bagi pelaku subsektor peternakan khususnya peternak. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan finansial Peternakan Puyuh Permata.  Hasil analisis kelayakan finansial menunjukan bahwa usaha Peternakan Puyuh Permata layak untuk dikembangkan.  Hasil perhitungan NPV adalah positif pada discount faktor 12%, yakni sebesar sebesar Rp. Rp. 119.192.758,-, Nilai Net B/C Ratio sebesar 2.30, ( > 1), nilai IRR sebesar 32.04 % (>12%) dan Payback Periode untuk mengembalikan nilai investasi sebesar Rp. 119.192.758-, memerlukan waktu 2 tahun 66 hari. Kata Kunci : Evaluasi Kelayakan Finansial, Agribisnis, Puyuh

    KAJIAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KAMBING PERANAKAN ETTAWA JANTAN YANG DIBERI PAKAN BERBEDA

    Get PDF
    This study aimed to analyze the growth and productivity of male bred Ettawa goats that are fed with different animal feeds. The study was conducted for 4 months, from January to April 2016, at the village of Ranomentaa in the sub district of Toari, Kolaka regency. The used involved 12 male bred Ettawa goats, aging between 4-6 months and placed in 12 individual cages. The study used the Complete Randomized Design with 3 treatments and 4 repetitions, including Treatment 1 (P1), P2 (50% of mulberry leaves, 50% of gliricidia leaves), and P3 (100% of gliricidia leaves). Parameters under observation in the study were increase of body weight (PBB), weight of slaughtered animal, weight and percentage of carcass, weight and percentage of non-carcass. Results of the study showed that the average of PBB of P3 (26.98 g/day) was significantly different (P<0.05) from P2 (22.83 g/day) and P1 (22.42 g/day), whereas P2 and P1 were not significantly different. This was in line with the average of slaughtered animal weight from the highest to the lowest, namely P3 (13.29 kg), P2 (11.21 kg), and P1 (10.37 kg), followed by the average of carcass weight which was significantly affected (P<0.05) by the treatment. The average of carcass weight was P1 (4.17 kg), P2 (4.42 kg), and P3 (5.38 kg), whereas the average of carcass percentage had no significant different (P<0.05) due to the treatment with the range of 38.43–39.43%. Similarly, the weight and percentage of non-carcass were within the range of 50.73–55.09%. Based on the results of this study, it could be concluded that while feeding goats with gliricidia and mulberry leaves had a significant effect on the increase of body weight, weight of slaughtered animal, and weight of carcass, it had no significant effect on carcass percentage, weight of non-carcass, and percentage of carcass.Keywords: gliricidia leaves, mulberry leaves, growth and productivity of male PE goat

    KUALITAS DAN KAPASITASI SPERMATOZOA SAPI BALI, MADURA, DAN PERANAKAN ONGOLE

    Get PDF
    ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kualitas dan kapasitasi spermatozoa pada sapi potong lokal. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai standar uji kualitas semen. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua ekor sapi jantan ongole, sapi bali dan sapi madura. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa persentase motilitas spermatozoa sapi bali 70,83±2,04%, sapi madura 70,00±0,00% dan sapi PO 71,67±2, 58%. persentase Viabilitas spermatozoa sapi bali adalah 89,39±2,84%, sapi madura 90,60 ± 3,13% dan sapi PO 92,13±2,08%. Persentase abnormalitas spermatozoa sapi bali adalah 3,48±1,09%, sapi madura 2,13±0,86% dan sapi PO 2,86±0,51%. Konsentrasi sperma sapi bali 1126,67±169,08 juta/mL, sapi madura 1076,67±3,94 juta/mL dan sapi PO 1210±160,87 juta/mL. Total spermatozoa motil pada sapi bali adalah 3136,9±653,4 juta/mL, sapi madura 3520,41±357,48 juta dan sapi PO 3653,83±1293,59 juta/mL. Persentase status akrosom spermatozoa adalah 85,72±1,72%, sapi madura 85,35±0,76% dan sapi PO 86,40±1,97%. Data yang didapatkan dalam penelitian ini dianalisis menggunakan rancangan acak lengkap dimana hasil analisa menunjukkan tidak ada perbedaan kualitas yang signifikan (P>0,05). Dapat disimpulkan perbedaan jenis pada sapi lokal tidak berpengaruh pada kualitas dan kapasitas spermatozoa, tetapi sapi PO memiliki persentase yang lebih tinggi dari kualitas dan kapasitasi sperma dibandingkan sapi bali dan sapi madura.Kata kunci : kualitas semen, spermatozoa, kapasitasi, sapi lokalABSTRACTThe purpose of this research was to determine the differences in the quality and capacitation of local beef cattle sperm. In addition, this study was also expected to be used as a standard of semen quality test. The material used in this study were two bulls of crossbreed ongole, bali cattle and madura cattle. The results of this study revealed that percentage of motility  sperm bali cattle  70.83 ± 2.04%, madura cattle 70.00 ± 0.00% and PO cattle 71.67 ± 2, 58%. percentage of  Viability sperm of bali cattle was 89.39 ± 2.84, madura cattle 90.60 ± 3.13% and PO cattle 92.13 ± 2.08%. Percentage of abnormality sperm bali cattle  were 3.48 ± 1.09%, madura cattle 2.13 ± 0.86% and PO cattle 2.86 ± 0.51%. percentage of concentration sperm bali cattle 1126.67 ± 169.08 million / mL, madura cattle 1076.67 ± 73.94 million / mL and PO cattle 1210 ± 160.87 million / mL. percentage of  total motile sperm bali was 3136.9 ± 653.4 million / mL, madura cattle 3520.41 ± 357.48 million and PO cattle 3653.83 ± 1293.59 million / mL. percentage of status acrosom sperm is 85.72 ± 1.72%, madura cows 85.35 ± 0.76 and cattle PO 86.40 ± 1.97. Data of this research was analyzed using Block  Randomized Design (BRD) which showed not  significant differences in quality (P> 0.05). The conclusion based on the observations made in this research, differences in local cattle have no effect on the quality and capacitation of spermatozoa, but cross breed ongole cattle have a higher percentage of quality and capacitation of sperm than bali cattle and madura cattle. Semen of bali cattle, and madura cattle used in this study can be used for artificial insemination.Keywords: semen quality, sperm capacitation, local cattle

    EVALUASI KINERJA PROGRAM PENGEMBANGAN SAPI POTONG BANTUAN DINAS PERTANIAN DAN KEHUTANAN KOTA KENDARI

    Get PDF
    Salah satu upaya pengembangan sapi potong yang di lakukan oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Kendari adalah pemberian bantuan kepada kelompok tani yang ada di Kota Kendari.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan populasi sapi potong, permasalahan dan kebijakan pemerintah Kota Kendari dalam pengembangan peternakan sapi potong di Kota Kendari.Metode penelitian adalah sensus dan sampel ditentukan secara purposive yaitu Kecamatan Baruga, Poasia, Abeli, Puwatu dan Mandonga.Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tani penerima bantuan hibah program  pengembangan sapi potong tersebut  terdiri dari 22 kelompok tani ternak dengan jumlah bantuan 10 ekor perkelompok. Pola pemeliharaan sapi potong di Kota Kendari umumnya dilakukan secara semi intensif (92,3%), rata-rata perkembangan populasi sapi bantuan 24 ekor/tahun. Permasalahan pengembangan sapi potong yang dominan muncul dalam pengembangan sapi potong adalah musim kemarau sulit diperoleh hijauan makanan ternak, harga berfluktuasi, lahan penggembalaan sempit.Dukungan kebijakan yaitu peraturan daerah tentang peternakan dan kesehatan hewan. Hasil evaluasi program di lapangan dilaksanakan sesuai dengan petunjuk teknis program sehingga layak untuk dilanjutkan. Saran dari hasil penelitian ini adalah perlu adanya pengembangan lahan hijauan makanan ternak dan kelompok tani penerima bantuan sebaiknya diprioritaskan kepada kelompok tani yang memiliki lahan penggembalaan yang cukup luas untuk mengantisipasi kekurangan hijauan pada musim kemarau.Kata kunci : Evaluasi kinerja program pengembangan, Sapi potong

    Kualitas Semen dengan Berbagai Formulasi Pengencer Dasar Air Kelapa Hijau Selama Simpan Dingin pada Sapi Madura

    Get PDF
    ABSTRAKInseminasi Buatan dengan menggunakan semen cair digunakan untuk daerah yang sulit nitrogen cair dan mempunyai kualitas yang lebih baik dari pada semen beku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas berbagai bahan pengencer dasar air kelapa penyimpanan dingin 2-5°C.Penelitian ini dilaksanakan di Loka Penelitian Sapi Potong Grati, Pasuruan. Semen yang digunakan berasal dari sapi madura sebanyak dua ekor, berumur 5 dan 3 tahun  dan berat badan yaitu 397 kg dan 360,5 kg. Sapi madura ditampung seminggu 2 kali dengan motilitas > 70% , sedangkan air kelapa yang digunakan adalah air kelapa hijau yang masih muda. Pengenceran semen cair dibagi menjadi 4 yaitu P0 (CEP-3 + 20% kuning telur) sebagai kontrol, P1 (air kelapa hijau +20% kuning telur), P2 (P1 + 0,4% putih telur + 1% fruktosa) dan P3 (P1 + 0,4% putih telur kuning telur +2% fruktosa). Data dianalisis menggunakan uji Pearson’s Chi Square dan Uji Deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan motilitas spermatozoa sesuai standar SNI yaitu motilitas> 40% pada pengencer CEP-3 dapat disimpan selama hari ke-8 (40,50±6,43%) sedangkan pada pengencer dasar air kelapa hijau pada P1, P2 dan P3 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) selama disimpan 6 hari yaitu 40,50±10,12%, 38,00±4,22%, 40,00±8,50%. Abnormalitas dari semua perlakuan menunjukan nilai 70%, and the coconut water used is unripe green coconut water. The research treatments were P0 (CEP-3 + 20% egg yolk) as control, P1 (unripe green coconut water + 20% egg yolk), P2 (P1+ 1% fructose + 0.4% egg white) and P3 (P1+ 0.4% egg white + 2% fructose). Data were analyzed using Pearson's Chi Square test and Descriptive Test. The results showed that the motility of spermatozoa was within Indonesian National Standard (SNI) with more than 40% motility in the CEP-3 diluent and it can be stored until the 8th day (40.50 ± 6.43%). The basic diluents of green coconut water at P1, P2 and P3 was not significantly affected (P> 0.05) until 6 days storing with the motility number average are 40.50 ± 10.12%, 38.00 ± 4.22%, 40, 00 ± 8.50%. The abnormality of all treatments was under 20%. The highest viability was showed by treatment P2 (89.58±2.16%), followed by P4 (89.39 ± 3.79%), P3 (88.62 ± 4.59%) and the lowest was P4 (87.93 ± 4.41%). Keywords:CEP-3, liquid semen, madura bull, cool storage, green coconut water ABSTRACT               Artificial Insemination using liquid semen is performed for areas that where liquid nitrogen is difficult to find and havng better quality than frozen semen. Purpose of this research was to investigate the quality on various coconut water base diluents on liquid semen of madura bull during cold storage of 2-5°C. Research was conducted at Laboratory of Reproduction of Grati Beef Cattle Research Station, Pasuruan.Semen that is used comes from two madura bulls aged 5 and 3 years with body weight is 397 kg and 360.5 kg. The semen was collected twice a week with motility> 70%, and the coconut water used is unripe green coconut water. The research treatments were P0 (CEP-3 + 20% egg yolk) as control, P1 (unripe green coconut water + 20% egg yolk), P2 (P1+ 1% fructose + 0.4% egg white) and P3 (P1+ 0.4% egg white + 2% fructose). Data were analyzed using Pearson's Chi Square test and Descriptive Test. The results showed that the motility of spermatozoa was within Indonesian National Standard (SNI) with more than 40% motility in the CEP-3 diluent and it can be stored until the 8th day (40.50 ± 6.43%). The basic diluents of green coconut water at P1, P2 and P3 was not significantly affected (P> 0.05) until 6 days storing with the motility number average are 40.50 ± 10.12%, 38.00 ± 4.22%, 40, 00 ± 8.50%. The abnormality of all treatments was under 20%. The highest viability was showed by treatment P2 (89.58±2.16%), followed by P4 (89.39 ± 3.79%), P3 (88.62 ± 4.59%) and the lowest was P4 (87.93 ± 4.41%)

    263

    full texts

    440

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇