Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
Integrasi Pertanian, Kehutanan, dan Peternakan (Agrosilvopastural) di Wilayah DAS Laeya Kabupaten Konawe Selatan
ABSTRAK Konsep agrosilvopastural merupakan salah satu komponen dari konsep agroforestri, yakni pengkombinasian antara komponen pertanian dengan kehutanan dan peternakan/hewan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi jenis usaha agrosilvopastural, (2) menganalisis karakteristik pelaku usaha agrosilvopastural dan (3) menganalisis keragaan usaha agrosilvopastural di wilayah sekitar DAS Laeya. Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bermukim di wilayah hulu dan hilir DAS Laeya dengan jumlah 51 rumah tangga. Analisis yang digunakan dalam kajian ini analisis deskriptif, pendapatan, analisis R/C-ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Jenis usaha agrosilvopastural di wilayah sekitar DAS Laeya Kabupaten Konawe Selatan meliputi; (a) Tanaman pangan, palawija, dan hortikultura (semusim), yang terdiri dari; padi ladang, padi sawah, jagung, cabai, serta jenis sayur-sayuran dan buah-buahan, (b) Tanaman perkebunan (tahunan) yang terdiri dari; jambu mete, lada, dan kelapa sawit, (c) Tanaman kehutanan yang terdiri dari; jati lokal, jati putih, jabon, dan kayu biti, dan (d) Peternakan yang terdiri dari; sapi bali, unggas lokal, dan kambing. Berdasarkan hasil analisis R/C ratio dan B/C ratio, bahwa usaha agrosilvopastural di wilayah hulu dan hilir DAS Laeya Kabupaten Konawe Selatan layak untuk dijadikan sebagai objek pengembangan usaha agrosivopastural, dengan rata-rata nilai R/C ratio sebesar 4,02 dan B/C ratio sebesar 3,02.Kata kunci: integrasi pertanian, kehutanan, peternakanABSTRACTThe agrosilvopastural concept is one component of the concept of agroforestry, namely the combination of agricultural components with forestry and livestock / animal. This study aims to: (1) identify the type of agrosilvopastural business, (2) analyze the characteristics of agrosilvopastural business actors and (3) analyze the performance of agrosilvopastural businesses in the area around the Laeya watershed. Respondents in this study were people living in the upstream and downstream areas of the Laeya watershed with a total of 51 households. The analysis used in this study was descriptive analysis, income, R/C-ratio analysis. The results showed that: Types of agrosilvopastural businesses in the area around the Laeya watershed in South Konawe Regency include; (a) Food crops, secondary crops and horticulture (annuals), which consist of; field rice, paddy rice, corn, chili, and types of vegetables and fruits, (b) Plantation crops (annual) consisting of; cashew, pepper, and oil palm, (c) Forestry plants consisting of; local teak, white teak, jabon, and biti wood, and (d) Livestock consisting of; Bali cattle, local poultry, and goats. Based on the results of the /C ratio and B/C ratio, that the agrosilvopastural effort in the upstream and downstream areas of the Laeya watershed in Konawe Selatan Regency is feasible to be used as an object of developing agro-ventricural enterprises, with an average R / C ratio of 4.02 and B / C ratio of 3.02.Keywords: integration of agriculture, forestry. livestoc
Pengaruh Kewirausahaan Terhadap Pertumbuhan Usaha Peternakan Ayam Broiler Pola Mandiri di Kabupaten Lima Puluh Kota
ABSTRAK Sumatera barat yang merupakan salah satu sentra produksi peternakan ayam broiler. Selain itu daging ayam broiler merupakan konsumsi tertinggi daripada daging sapi maupun daging ayam kampung. Namun pada tahun 2017 terjadi penurunan produksi ayam broiler sebesar 0,21 persen. Hal ini menggambarkan adanya masalah aktivitas kewirausahaan terutama pada peternakan mandiri yang lebih rentan terhadap ketidakstabilan harga dipengaruhi oleh daya produksi, inovasi dan daya saing dalam melakukan usahanya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aktivitas kewirausahaan terhadap pertumbuhan usaha peternakan mandiri. Metode analisis yang digunakan adalah Partial Least Square (PLS). Data primer diperoleh dari wawancara menggunakan kuisioner. Data sekunder diperoleh dari literatur terkait. Hasil penelitian menujukan daya produksi dan daya saing tidak berpengaruh signifikan. Sedangkan inovasi berpengaruh signifikan sebesar 0.368. Artinya penting adanya usaha yang inovasi dan kreatif seperti penggunaan metode berproduksi baru. Variabel laten aktivitas kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan usahanya sebesar 0.330. Saran agar pemerintah dapat mempercepat pertumbuhan usaha dengan mengadakan pelatihan dan penyuluhan yang mendorong pertumbuhan usaha dilihat dari pendapatan dan skala usaha.Kata Kunci: inovasi, partial least square (PLS), peternakan ayam broiler, pertumbuhan usaha, pola mandiriABSTRACTWest Sumatra which is one of the centers of broiler chicken production. In addition broiler chicken meat is the highest consumption than beef or chicken meat. But in 2017 there was a decrease in broiler chicken production by 0.21 percent. This illustrates the problem of entrepreneurial, especially in independent farms which are more susceptible to price instability influenced by the power of production, innovation, and competitiveness in doing business. Therefore this study aims to analyze the influence of entrepreneurial activity on the growth of independent livestock businesses. The analysis method used is PLS. Primary data were obtained from interviews using questionnaires. Secondary data were obtained from the relevant literature. The results of the research addressing the power of production and competitiveness have no significant effect. While innovation has a significant effect of 0.368. It means that there is an innovation and creative effort such as the use of new production methods. The latent variable of entrepreneurial has a positive and significant effect on business growth of 0.330. Suggestions that the government can accelerate business growth by holding training and counseling that encourage business growth seen from income and business scale.Keywords: broiler, business growth, independent pattern, innovation, PL
Pemetaan Potensi Sumberdaya Lahan Hijauan Pakan Ternak Sapi Bali di Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan
ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan memetakkan potensi sumberdaya lahan hijauan pakan ternak (HPT) di Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskripsi kualitatif dan analisis SIG. Lokasi penelitian ini adalah Kecamatan Tinanggea, yang memiliki sumberdaya lahan potensial untuk dikembangkannya hijauan pakan ternak (HPT). Metode pengumpulan data menggunakan metode survey melalui pengambilan sampel tanah pada setiap wilayah yang telah ditetapkan, selanjutnya melakukan pemetaan wilayah yang memiliki potensi untuk pengembangan hijauan pakan ternak (HPT). Hasil penelitian ini diperoleh berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan yang dilakukan di Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan dengan menggunakan metode pencocokan (matching) antara data karakteristik dan kualitas lahan dengan kriteria kesesuaian lahan (persyaratan tumbuh tanaman yang dievaluasi) dengan kategori sangat sesuai, yaitu lahan untuk tanaman rumput gajah seluas 31,85 hektar, lahan untuk tanaman leguminosa seluas 21,50 hektar, dan lahan untuk tanaman rumput lapangan seluas 184,26 hektar.Kata Kunci: hijauan pakan ternak, pemetaan, sumberdaya lahanABSTRACTThis study aimed to identify and map the potential of forage land resources in Sub-district Tinaggea, Konawe Selatan Regency. Analysis method used in this research was qualitively descriptive analysis and Geographic Information System (SIG). This research was conducted in Sub-district Tinanggea where the land resources are very potential to be improved as the pasture area. Method of collecting data used survey method by collecting the soil samples in each determined areas, and then mapping the areas that have the potential for expanding the forage land. Result of the study was obtained based on evaluation of land suitability conducted in Sub-district Tinanggea, Konawe Selatan Regency by using matching method among characteristic data and land quality with the land suitability criteria (growth requirement of evaluated grass) in the very appropriate category including the land for elephant grass as large as 31.85 hectare, leguminosae as large as 21.50 hectare, and grass field as large as 184.26 hectare.Keywords: forage, land resources, mappin
Sifat Organoleptik Daging Ayam Broiler yang Diberikan Pakan Terfermentasi Neurospora crassa
ABSTRAK Ampas sagu dan tahu merupakan limbah industri yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Penelitian ini bertujuan mengkaji sifat organoleptik daging ayam broiler yang diberi pakan fermentasi dari ampas sagu dan ampas tahu dengan Neurospora crassa sehingga dapat meningkatkan kualitas daging ayam. Penelitian dilakukan di peternakan ayam broiler milik masyarakat yang berada di Desa Keude Dua Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen selama 4 Minggu. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dengan 4 ulangan. Tahapan pelaksanaan penelitian yaitu persiapan fermentasi ampas sagu dan ampas tahu dan persiapan kandang selajutnya pemeliharaan ayam broiler dengan pemberian pakan terfermentasi. Uji kesukaan pada daging ayam yang diolah secara dipanggang menggunakan uji organoleptik yang melibatkan 25 orang panelis yang tidak terlatih. Parameter yang dianalisis warna, aroma, rasa, dan tekstur. Perhitungan statistika dilakukan dengan sidik ragam satu arah dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian pakan yang terfermentasi Neurospora crassa sampai pada tingkat 20% berpengaruh signifikan terhadap warna, aroma, rasa maupun tekstur daging broiler, artinya pemberian pakan fermentasi Neurospora crassa dari ampas sagu dan ampas tahu dengan sampai tingkat 20 persen dalam pakan ayam broiler dapat meningkatkan kualitas daging broiler baik warna, aroma, rasa dan tekstur daging.Kata kunci: ampas sagu, ampas tahu, Neurospora crassa, organoleptikABSTRACTSago pulp and tofu are industrial wastes that can be used as animal feeds. The study aims the organoleptic properties of broiler chicken fed fermented feed from sago pulp and tofu with Neurospora crassa so as improve the quality of meat. This research was conducted on broiler farms belonging to community in Juli Keude Dua Village, Juli, Bireuen District for 4 weeks. The design used was a complete randomized design with 4 treatments with 4 replications. The stages of the research are the preparation fermented sago pulp and tofu, cage, as well broiler maintenance chickens with fermented feed. The preference test for roasted chicken is processed using an organoleptic test involving 25 untrained panelists. Parameters analyzed for color, aroma, taste, and texture. Statistical calculations are performed with one-way variance and continued Duncan test. The results of this study indicate that Neurospora crassa fermented feeding to level 20% has a significant effect on the color, aroma, taste and texture, meaning that the provision of Neurospora crassa fermented feed from sago pulp and tofu up to level 20 percent in broiler chicken feed so as improve the quality of broiler meat both in color, aroma, taste, and texture of meat.Keyword: Neurospora crassa, organoleptic, sago pulp, tofu pul
Karakteristik Dendeng Lambok Khas Sumatera Barat dengan Metode Pengolahan dan Lama Penyimpanan yang Berbeda
ABSTRAKDendeng merupakan salah satu hasil pengolahan daging yang digemari masyarakat Indonesia. Salah satunya di Sumatera Barat terdapat dendeng yang dimodifikasi yakni dendeng lambok batokok. Tujuan penelitian ini untuk menganalis metode pengolahan yang tepat untuk menghambat proses oksidasi lemak dan kerusakan mikrobiologi pada suhu ruang, sehingga menghasilkan dendeng lambok yang berkualitas dan aman dikonsumsi. Variabel yang diamati meliputi sifat fisik (Kadar air, aktivitas air dan pH), sifat kimia (kandungan malonaldehida, antioksidan) dan analisis pertumbuhan mikroba (total plate count, S.aureus, E.coli, dan Salmonella). Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok pola faktorial, dengan faktor pertama adalah metode pengolahan meliputi penggorengan dan pemanggangan, dan faktor kedua adalah waktu penyimpanan meliputi 0,2,4,dan 6 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengolahan memberikan pengaruh yang nyata (P0,05) kecuali pH dan kadar air. Hasil analisis mikrobiologi menunjukkan interaksi antara metode pengolahan dan lama penyimpanan. Berdasarkan penelitian ini, dendeng lambok batokok dengan metode pengolahan digoreng memiliki kadar air, aktivitas air dan pH yang lebih rendah, serta MDA dan aktioksidan yang lebih tinggi dibandingkan yang dipanggang. Dilihat dari segi mikrobiologi dendeng lambok masih aman dikonsumsi sampai hari kedua penyimpanan suhu ruang.Kata kunci: dendeng lambok, pengolahan, penyimpanan, fisikokimia, mikrobiologiABSTRACTDendeng is one of meat processing product preferred by Indonesian. One of them in West Sumatra, there is a modified dendeng namely dendeng lambok batokok. The purpose of this study was to analyze the appropriate processing methods to inhibit the process of fat oxidation and microbiological damage at room temperature, so as to produce high-quality dendeng lambok and safe for consumption. The variables observed included physical properties (moisture content, water activity, and pH), chemical properties (malonaldehyde content, antioxidants) and microbial growth analysis (total plate count, S. aureus, E. coli, and Salmonella). The study design used was a factorial randomized block design, with the first factor was the processing method including frying and roasting, and the second factor was the storage time including 0,2,4 and 6 days. The results showed that the processing method had a significant effect (P0,05) except on pH and water content. The results of the microbiological analysis showed that there was an interaction between processing methods and storage time. Based on this study, dendeng lambok batokok with frying process has lower water content, water activity and pH, and higher MDA and antioxidants than the roasting process. In terms of microbiology, dendeng lambok is still safe to consume until the second day of storage at room temperature.Keywords: dendeng lambok, processing, storage, physicochemical, microbiolog
Identifikasi Keragaman Gen DGAT1 serta Asosiasinya terhadap Karakteristik Karkas dan Sifat Perlemakan Domba
ABSTRAK Karakteristik karkas dan sifat perlemakan pada daging domba dikontrol oleh banyak gen salah satunya gen DGAT1 (Diacylglycerol Acyltransferasel 1). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi SNP (Single Nucleotide Polymorphism) gen DGAT1 pada titik mutasi g.8539 C>T dan asosiasinya terhadap karakteristik karkas dan sifat perlemakan pada domba Indonesia. Total sampel domba yang digunakan sebanyak 150 buah terdiri dari 35 sampel domba compass agrinak (DCA), 36 sampel domba barbados cross (DBC), 41 sampel domba komposit garut (DKG), 20 sampel domba ekor gemuk (DEG), dan 18 sampel domba ekor tipis (DET). Karakteristik karkas dan sifat perlemakan diukur dari domba jantan berumur 10-12 bulan. Identifikasi keragaman DGAT1|ALuI dianalisis dengan metode PCR-RFLP (Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism). Hasil keragaman gen DGAT1 bersifat polimorfik dalam DET dan DEG, sedangkan DCA, DBC, dan DKG bersifat monomorfik. Dua genotipe disebut CC dan CT ditemukan dalam DET dan DEG. Titik mutasi gen DGAT1 berasosiasi (P<0.05) dengan karakteristik karkas, yaitu bobot dan panjang karkas. Selain itu, keragaman gen DGAT1 juga berasosiasi signifikan (P<0.05) dengan asam lemak jenuh, yaitu asam stearat (C18:0) dan asam arakidat (C20:0) dan asam lemak tak jenuh tunggal, yaitu asam oleat (C18:1n9c). Gen DGAT1 memiliki kontribusi dalam karakteristik karkas dan komposisi asam lemak pada domba.Kata Kunci: domba, gen DGAT1, karakteristik karkas, PCR-RFLP, sifat perlemakan ABSTRACT Characteristic of carcass and fatness traits of sheep is regulated by many genes such as DGAT1 (Diacylglycerol Acyltransferasel 1) gene. The research was aimed to investigate SNP (Single Nucleotide Polymorphism) of DGAT1 and its association with characteristic of carcass and fatness traits in Indonesian sheep. A total sample of sheeps used 150 rams of 10–12 months consisted 35 samples of compas agrinak sheep (CAS), 36 of barbados cross (BCS), 41 of garut composite (GCS), 20 of javanese fat tailed (JFT), and 18 of javanese thin tailed (JTT). Identification variant of DGAT1|ALuI were performed by PCR-RFLP (Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism). The results of polymorphism of DGAT1 were found in JTT and JFT. However, SNP of DGAT1 in CAS, BCS and GCS were monomorfic. Two genotype namely CC and CT were found in JTT and JFT populations. A SNP of the DGAT1 was associated (P<0.05) with characteristic of carcass, including weight and length of carcass. The variant of DGAT1 was associated too with saturated fatty acids (SFA) including stearic acid (C18:0) and arachidic acid (C20:0), and mono unsaturated fatty acid (MUFA) including oleic acid (C18:1n9c). The DGAT1 gene was contribute to characteristic carcass and fatty acid composition in sheep.Keywords: DGAT1 gene, characteristic carcass, fatness traits, PCR-RFLP, shee
Kriopreservasi Semen Kambing Boer dengan Konsentrasi Pengencer Nira Aren dan Gliserol Berbeda
ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas nira aren sebagai pengencer alternatif dalam proses pembekuan (kriopreservasi) semen kambing boer.Kriopreservasi semen kambing boer menggunakan pengencer tris-gliserol-kuning telur (P1 73-7-20%), nira aren-gliseol-kuning telur(masing-masing P2 74-6-20%, P3 73-7-20%, dan P4 72-8-20%) dan andromed (P5 tanpa mengandung kuning telur dan gliserol). Parameter evaluasi meliputi motilitas, viabilitas, dan membrane plasma utuh setelah pengenceran, ekuilibrasi dan thawing. Evaluasi motilitas pasca thawing menunjukkan P5 52% berbeda nyata (P0,05) dengan P1 61,8%, akan tetapi P5 dan P1 berbeda sangat nyata (P0,05) dengan P1 65,4%, akan tetapi keduanya berbeda sangat nyata (P 0.05) with P1 61.8%, but P5 and P1 significantly different (P 0.05) with P1 65.4%, but both were very significantly different (P <0.05) with P2 39%, P3 38% and P4 36.2%. Conclusions, sugar palm juice-glycerol-egg yolk with differentconcentrationsineffectively as an alternative extenderin cryopreservation of boer semen.Keywords: boer goat, semen, sugar palm juic
Efek Silang Dalam Terhadap Ukuran Tubuh Kerbau Murrah
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh silang dalam terhadap ukuran tubuh kerbau murrah. Penelitian ini dilaksanakan di BPTU-HPT Siborong-borong dan di peternakan masyarakat Kabupaten Deli Serdang yaitu Desa Tanjung Garbus dan Desa Amplas Tambak Rejo. Penelitian ini menggunakan 41 ekor ternak kerbau murrah terdiri dari 23 ekor betina dan 18 ekor jantan (umur 1-4 bulan) dan data silsilah ternak kerbau murrah. Variabel yang diamati adalah koefisien silang dalam, ukuran populasi efektif, laju silang dalam, dan pengaruh silang dalam terhadap ukuran tubuh kerbau murrah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien silang dalam di BPTU-HPT Siborong- borong dan Deli serdang adalah 0,218 dan 0,062. Ukuan populasi efektif kerbau murrah di Sumatera Utara sebesar 61 ekor dengan laju silang dalam per generasi sebesar 0,81%. Disimpulkan bahwa inbreeding yang terjadi di BPTU-HPT Siborong-borong dan Deli Serdang berpengaruh terhadap ukuran tubuh yaitu nilai rataan tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, lebar dada, dalam dada, tinggi pinggul, lebar pinggul, panjang pinggang, dan lebar pinggang.Kata kunci: kerbau murrah, koefisien silang dalam, laju silang dalam, ukuran populasi efektif, ukuran tubuh ABSTRACTThis study was aimed to identify the effect of inbreeding on the body size of murrah buffalo. The research was done in the BPTU-HPT Siborong-borong and the community farm of Deli Serdang Regency (Tanjung Garbus village and Amplas Tambak Rejo village). The sample of murrah buffalo used 41 heads consist of females and males as many as every 23 and 18 heads (age of 1-4 months) and data of murrah buffalo pedigree. The variables measurement were inbreeding coefficient, effective population size, rate of inbreeding and the affect of inbreeding to body size of murrah buffalo. The results showed that the coeficient of the inbreeding coefficient in the BPTU-HPT Siborong–borong and Deli Serdang were 0.218 and 0.062. The effective population size of murrah buffalo in North Sumatra is 61 heads, with the rate of inbreeding per generation were 0.81 percents. It could be concluded that inbreeding that occurred in BPTU-HPT Siborong-borong and Deli Serdang the value of shoulder height, body length, chest circumference, chest width, chest depth, hip height, hip width, waist length, and waist width.Keywords: body size, effective population size, inbreeding coefficient, murrah buffalo, rate of inbreedin
Identifikasi Keragaman Gen FTO Pada Bangsa Sapi Potong Indonesia
ABSTRAK Gen FTO berfungsi sebagai regulasi homeostasis, deposisi lemak dan pengaturan obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi polimorfisme SNP g.125550A>T di ekson 3 gen FTO pada bangsa sapi potong Indonesia. Sampel darah diperoleh dari 209 ekor sapi, terdiri atas sapi bali (44), madura (20), Pesisir (20), katingan (20), Peranakan ongole (PO) (22), Pasundan (20), Sumba Ongole (SO) (11), brahman (20), simental (15), dan limousin (18). Polimorfisme gen FTO dianalisis menggunakan metode PCR-RFLP (HpyCH4III) dan direct sequencing. Hasil genotiping SNP g.125550A>T adalah polimorfik (genotipe AA, AT, dan TT) pada sapi madura, pesisir, katingan, PO, pasundan, SO, brahman, simental, dan limousin. Frekuensi alel A dan T masing-masing adalah 0,70, 0,68, 0,84, 0,89, 0,70, 0,86, 0,90, 0,73, 0,69 dan 0,30, 0,33, 0,16, 0,11, 0,30, 0,14, 0,10, 0,27, 0,31. Nilai Ho dan He masing-masing adalah 0,60-0,14 dan 0,44-0,18 serta dalam keseimbangan Hardy-Weinberg (P>0.05). Sementara pada sapi bali bersifat monomorfik hanya bergenotipe AA. Hasil sekuensing SNP g.125550A>T ditemukan mutasi tranvesi A menjadi T pada posisi nukleotida g.125550. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa SNP 125550A>T gen FTO beragam dan berpotensi dijadikan marka genetik untuk kualitas daging pada bangsa sapi potong Indonesia.Kata Kunci: gen FTO, PCR-RFLP, Sapi, SNP g.125550A>TABSTRACTThe FTO gene functions as regulation of homeostasis, fat deposition and regulation of obesity. This study aimed to identify the polymorphism of SNP g.125550A>T in exon 3 of FTO gene in Indonesian beef cattle. Blood samples were collected from 209 cattle, including bali (44), madura (20), pesisir (20), katingan (20), PO (22), pasundan (20), SO (11), brahman (20), simental (15), and limousin (18). Polymorphism of the FTO gene was analyzed using PCR-RFLP (HpyCH4III) and direct sequencing methods. The results of genotyping SNP g.125550A>T was polymorphic (AA, AT and TT genotypes) in madura, pesisir, katingan, PO, pasundan, SO, brahman, simental, and limousin cattle. The frequency of A and T alleles were 0,70, 0,68, 0,84, 0,89, 0,70, 0,86, 0,90, 0,73, 0,69 and 0,30, 0,33, 0,16, 0,11, 0,30, 0,14, 0,10, 0,27, 0,31 respectively. The values of Ho and He were 0,60-0,14 and 0,44-0,18 respectively and in Hardy-Weinberg equilibrium (P>0,05). While in Bali cattle was monomorphic (AA genotype). Results of sequencing SNP g.125550A>T of the FTO gene found a transverse mutation A to T at the nucleotide position g.125550. As a result of this study, it can be concluded that SNP 125550A>T of the FTO gene was diverse and potentially used as genetic markers for meat quality in Indonesian beef cattle.Keywords: cattle, FTO gene, PCR-RFLP, SNP g.125550A>T
Mikroklimat, Termoregulasi dan Produktivitas Sapi Perah Friesians Holstein pada Ketinggian Tempat Berbeda
ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat terhadap kondisi mikroklimat,termoregulasi dan produktivitas sapi Friesian-Holstein (FH). Penelitian dilakukan pada tiga lokasi dengan ketinggian berbeda, yaituPodok Ranggon (97mdpl), Ciawi (576mdpl), dan Lembang (1241mdpl). Sebanyak 63 sapi FH dalam kondisi laktasi normal digunakan dalam penelitian ini. Aspek lingkungan meliputi suhu udara, kelembaban relatif dan Temperature-Humidity Index di dicatat setiap 2 jam dari pukul 08.00 sampai 16.00 WIB. Parameter termoregulasi yang diamati terdiri atas suhu kulit (Ts),suhu rektal (Tr), suhu tubuh (Tb), denyut jantung (Hr),laju pernapasan (Rr), dan Heat Tolerance Coeficient (HTC).Berdasarkan nilai Ta, Rr dan THI, dataran rendah memberikan dampak cekaman panas sedang, dataran sedangdan tinggi memberikan dampak cekaman panas ringan pada sapi perah. Hasil menunjukkan bahwa sapi dataran rendah memiliki Nilai HTC, Tr, Ts dan Tb tertinggi (P<0,05) dan Hr yang terendah (P<0,05). Produksi susu di ketiga lokasi penelitian berbeda nyata (P<0,05), dengan produksi susu tertinggi di dataran tinggi (13,1±3,52 kg),dataran sedang (11,3±4,73 kg) dan dataran rendah (7,0±3,36 kg). Secara umum sapi FH di dataran rendah, sedang dan tinggi tercekam panas akibat kondisi lingkungan yang berada pada kondisi di luar zona nyamanselama musim kemarau, akan tetapi mampu beradaptasi terhadap kondisi tersebut. Kata kunci: ketinggian tempat, produktivitas, sapi perah, cekaman panas, termoregulasiABSTRACTThe purpose of this research was to determine altitude effect on microclimate, thermoregulation and productivity of Friesian Holstein. Research was conducted in different altitudes, i.e.: Pondok Ranggon (97m asl), Ciawi (576m asl), and Lembang (1241 m asl). A total of 63 FH cows in normal lactation were used in this study. Microclimate aspects observation includes environmental temperature (Ta), relative humidity (RH) and Temperature-Humidity Index (THI) were recorded every 2 hours from 08.00 to 16.00. The physiological responses measurements consisted of skin temperature (Ts), rectal temperature (Tr), body temperature (Tb), heart rate (Hr), respiratory rate (Rr) and Heat Tolerance Coeficient (HTC). Lowland environmental provide moderate heat stress, while the medium and highland impacts with mild stress. The results showed that lowland cows have highest HTC, Tr, Ts and Tb (P<0.05) and lowest Hr (P<0.05). Milk production in the different altitude was significantly different (P<0.05), with the highest milk yields in the highlands (13.1±3.52 kg), medium (11.3±4.73 kg) and lowland (7.0±3.36 kg). In general, HF dairy cows in low-, medium- and highland are exposed to climatic stress during dry season conditions, although they have the ability to adapt physiologically and cope with environmental stress. Keyworlds: altitude, dairy cattle, heat stress, productivity, physiological response