Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
Total Jamur dan Identifikasi Yeast pada Limbah Kubis Fermentasi dengan Penambahan Vitamin dan Mineral
ABSTRAKPenelitian bertujuan mengkaji peningkatan kualitas limbah kubis fermentasi dengan penambahan vitamin dan mineral dilihat dari kandungan total jamur dan identifikasi yeast. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola searah dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Pengolahan data pada parameter total jamur diolah menggunakan anova, jika ada pengaruh yang nyata dilanjutkan uji duncan, sedangkan pada parameter identifikasi yeast menggunakan metode deskriptif. Penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin dan mineral berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap total jamur yang dihasilkan. Total jamur terbanyak pada perlakuan penambahan vitamin dan mineral 10% dengan rata-rata total jamur 71,33 x 104 CFU/g. Pengecatan gram pada identifikasi jenis yeast didapatkan bentuk oval, soliter dan gram positif (yeast) menunjukkan identifikasi jenis yeast yang tumbuh yaitu Saccharomyces cerevisiae. Simpulan penelitian adalah penambahan vitamin dan mineral sebanyak 10% mampu meningkatkan kualitas limbah kubis fermentasi dilihat dari kandungan total jamur dan jenis yeast.Kata kunci: fermentasi, jamur, limbah kubis, pengecatan gram, yeastABSTRACTThe study aimed to evaluate the quality improvement of fermented cabbage waste which was added by vitamins and minerals by observing the total fungus and type of yeast. The method used was a completely randomized design (CRD) unidirectional pattern, with 5 treatments and 3 replications. Statistical analysis of total fungus was processed by ANOVA and continued by the Duncan Multiple Renge test, and the data type of yeast was discussed descriptively. The result showed, the addition of vitamin and mineral treatment significantly influenced the number of fungi (P<0,05). The highest number of fungus was shown beside 10% supplementation of vitamins and minerals (7.33 x 104 CFU/g). Gram coloring on the identification of yeast types obtained oval, solitary, and gram-positive (yeast) it shows that the identification of the growing yeast type, Saccharomyces cerevisiae. The conclusion of the addition of 10% vitamins and minerals can improve the quality of 2 days cabbage waste fermentation seen from the total fungus and the type of yeast that grows.Key Words: cabbage waste, fermentation, gram paintings, yeas
Utilitas Asam Organik Sari Belimbing Wuluh dan Asam Sitrat Sintetis Sebagai Acidifier Terhadap Performa Produksi Puyuh (Coturnix coturnix Japonica) Fase Grower
ABSTRAKPenggunaan acidifier baik organik atau sintetis dapat meningkatkan optimalisasi nutrien di dalam saluran pencernaan. Optimalisasi nutrien diharapkan dapat meningkatkan performa ternak khususnya puyuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan dua macam acidifier terhadap performa puyuh fase grower. 100 ekor unsexed puyuh (Coturnix coturnix Japonica) fase grower umur 14-40 hari digunakan dalam penelitian yang menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Bahan pakan yang digunakan adalah jagung kuning, dedak, konsentrat puyuh komersil, sari belimbing wuluh, dan asam sitrat sintetis. Perlakuan yang dicobakan terdiri dari perlakuan kontrol (P0), penggunaan 0,3% asam sitrat sintetis (P1), penggunaan 0,25% sari belimbing wuluh (P2), penggunaan 0,6% asam sitrat sintetis (P3), dan penggunaan 0,5% sari belimbing wuluh (P4). Variabel yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum mingguan. Penggunaan sari belimbing wuluh memiliki konsumsi pakan yang lebih rendah (P<0,05) pada minggu pertama dibanding kontrol dan asam sitrat sintetis. Penggunaan asam sitrat sintetis meningkatkan pertambahan bobot badan pada minggu pertama (P<0,05). Penggunaan asam sitrat sintetis nyata dapat menurunkan konversi pakan minggu ke tiga dan empat dibanding kontrol dan asam organik belimbing wuluh. Kesimpulan penelitian ini yaitu penggunaan sari belimbing wuluh sebagai acidifier belum menunjukkan perbaikan performa yang signifikan sedangkan penggunaan asam sitrat sintetis memiliki performa yang lebih baik dibanding perlakuan kontrol dan penggunaan sari belimbing wuluh.Kata kunci: acidifier, asam sitrat, belimbing wuluh, puyuh fase growerABSTRACTThe organic and synthetic acidifiers could improve the optimization of nutrients utilization in the quail digestive tract. Furthermore, the optimization of nutrients is expected to improve quail performance. This study was aimed to determine the effect of using two types of acidifiers (Averrhoa bilimbi juice and synthetic citric acid) on the grower phase of quail performance. Total of 100 unsexed quails (Coturnix coturnix japonica) grower phase aged 14-40 days were used in this research and designed as a completely randomized design of five treatments and four replications. Feed ingredients used were yellow corn, rice bran, commercial quail concentrate, Averrhoa bilimbi juice (organic acidifier), and synthetic citric acid. The treatments consisted of control (P0), 0.3% synthetic citric acid (P1), use of 0.25% Averrhoa bilimbi juice (P2), use of 0.6% synthetic citric acid (P3), and use of 0.5% Averrhoa bilimbi juice (P4). The variables observed were weekly feed intake, body weight gain, and feed conversion. The result showed that utilization of Averrhoa bilimbi juice has lower feed consumption (P<0.05) in the first week compare to control and synthetic citric acid, and synthetic citric acid utilization increases body weight gain in the first week (P<0.05). The use of synthetic citric acid significantly reduces feed conversion in the third and fourth weeks compared to control and organic acid groups. The conclusion of this study is the utilization of Averrhoa bilimbi juice as an acidifier has not shown significant improvements in quail performance. The use of synthetic citric acid has a better performance compared to control and Averrhoa bilimbi juice utilization.Keywords: acidifier, organic acidifier, citric acid, growing quai
Kolesterol, Asam Urat, dan Glukosa Darah Ayam Buras yang Diberi Pakan dengan Ramuan Herbal dan Ekstrak Kerang Bakau (Polymesoda erosa)
ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan ramuan herbal yang dikombinasikan dengan ekstrak kerang bakau (Polymesoda erosa) di dalam pakan terhadap kadar kolesterol, asam urat dan glukosa darah ayam buras. Penelitian menggunakan 100 ekor ayam buras yang dipelihara mulai dari umur satu hari (DOC) sampai dengan umur 16 minggu. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri atas R0 (pakan basal + 0% probiotik herbal + 0% ekstrak kerang bakau), R1 (pakan basal + 0,75% probiotik herbal + 1,5% ekstrak kerang bakau), R2 (pakan basal + 1,5% probiotik herbal + 3% ekstrak kerang bakau), R3 (pakan basal + 2,25% probiotik herbal + 4,5% ekstrak kerang bakau) dan R4 (pakan basal + 3% probiotik herbal + 6% ekstrak kerang bakau). Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan kolesterol darah yang diperoleh adalah berturut-turut 185,00±7,30 (P0), 185,75±6,80 (P1), 153,25±19,06 (P2), 167,75±17,72 (P3), 214,00±19,18 (P4). Rataan asam urat dalam darah yang diperoleh adalah 3,95±0,58 (P0), 6,70±4,23 (P1), 4,10±0,64 (P2), 4,32±1,27 (P3), 6,30±2,27 (P4). Sedangkan rataan glukosa darah yang diperoleh adalah 231±20,19 (P0), 188,50±24,63 (P1), 223,50±32,19 (P2), 227,25±68,61 (P3), 236,50±28,43 (P4). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ramuan herbal dan ekstrak kerang bakau dalam pakan dapat mempengaruhi kadar kolestrol darah, namun tidak mempengaruhi kadar asam urat dan glukosa darah ayam buras. Kadar kolesterol darah terendah diperoleh pada perlakuan R2 dan R3 yang nyata berbeda dengan perlakuan R0, R1 dan R4.Kata Kunci: ayam buras, ramuan herbal, kolesterol, asam urat, glukosa darah.ABSTRACTKeywords: blood glucose, cholesterol, herbal concoction, uric acid, village chickenThe objectives of this research was to evaluate the effect of agricultural by product-based feed supplemented with herbal concoction (HC) and mud clams extract (MC) on blood cholesterol, uric acid and blood glucose concentration. Completely randomized design was used with 4 treatments and 4 replications. Ninety day old chick of local village chicken was used in this experiment and kept up to 16 weeks during the experiment. The treatments consisted of basal feed (R0), basal feed + 0.75% HC + 1.5% MC (R1), basal feed + 1.5% HC + 3.0% MC (R2), basal feed + 2.25% HC + 4.5% MC (R3), basal feed + 3.0% HC + 6.0% MC (R4). All data were analyzed using analysis of variance and different between treatments were proved using Duncan multiple range test. The results showed that the concentrations of blood cholesterol gained (mg/dl) were 185.00±7.30 (P0), 185.75±6.80 (P1), 153.25±19.06 (P2), 167.75±17.72 (P3), 214.00±19.18 (P4). The concentration of uric acid gained (mg/dl) were 3.95±0.58 (P0), 6.70±4.23 (P1), 4.10±0.64 (P2), 4.32±1.27 (P3), 6.30±2.27 (P4). Whereas, the glucose concentration gained (mg/dl) were 231.00±20.19 (P0), 188.50±24.63 (P1), 223.50±32.19 (P2), 227.25±68.61 (P3), 236.50±28.43 (P4). Based on variance analysis it was concluded that the treatments gave a significant effect (P0.05) on uric acid and blood glucose concentration. Blood cholesterol concentrations were significant lower in treatment R2 and R3 compared to treatment R0, R1 and R4.Keywords: blood glucose, cholesterol, herbal concoction, uric acid, village chicke
Komposisi Minyak Atsiri dan Aktivitas Antimikroba Rimpang Temu Putih dan Jahe Gajah sebagai Fitobiotik Pakan Unggas
ABSTRAK Imbuhan pakan unggas dapat berasal dari bahan herbal yang mengandung berbagai komponen aktif yang bermanfaat bagi pertumbuhan ternak.Temu putih dan jahe gajah dapat dimanfaatkan sebagai imbuhan pakan karena mengandung minyak atsiri yang dapat berperan sebagai agen antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen penyusun minyak atsiri dan aktivitas antimikroba pada rimpang temu putih dan jahe gajah. Penelitian dilakukan dengan percobaan in vitro menggunakan temu putih dan jahe gajah yang diolah menjadi bentuk ekstrak minyak atsiri temu putih dan jahe gajah sebagai materi uji komposisi penyusun minyak atsiri serta bentuktepung dan enkapsulasi sebagai materi uji aktivitas antimikroba. Komposisi minyak atsiri temu putih terdiri dari lima komponen penyusun dengan cis-1,7-octadien-3-yl acetat sebagai komponen utama. Komposisi minyak atsiri jahe gajah terdiri dari tujuh komponen dan benzene,1-(1,5-dimethyl-4-hexenyl)-4-methyl-(CAS) ar-curcumene sebagai komponen utama. Minyak atsiri yang terkandung pada temu putih dan jahe gajah mempunyai peran dalam menghambat mikroba. Uji komposisi penyusun minyak atsiri menggunakan alat GC-MS dan uji aktivitas antimikroba menggunakan metode disc diffusion dan. Hasil dari uji aktivitas antimikroba menunjukkan bahwa temu putih dan jahe gajah dalam bentuk tepung dan enkapsulasi memiliki perbedaan yang sangat nyata (P<0,01) terhadap aktivitas antimikroba pada bakteri asam laktat, Escherichia coli dan Salmonella sp. Campuran temu putih dan jahe gajah (1:1) menunjukkan kemampuan terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen dengan diameter zona hambat 5,70±0,14 mm (Escherichia coli) dan 6,88±0,45 mm (Salmonella sp.).Kata Kunci : antimikroba, fitobiotik, jahe gajah, minyak atsiri, temu putihABSTRACTThe poultry feed additives can contain herbal ingredients that contain various beneficial components for livestock growth. White turmeric and giant ginger can be used as feed additives because they contain essential oils that can be used as antibacterial agents. This study aims to determine the constituent components of essential oils and antimicrobial activity in white turmeric and giant ginger rhizomes. The study was carried out by in vitro experiments using white turmeric and giant ginger which were processed into the form of essential oil extract as material for the composition of essential oils test, and powder and encapsulation form as antimicrobial activity test material. The composition of essential oils of white turmeric consists of five constituent components with cis-1,7-octadien-3-yl acetate as the main component. The composition of giant ginger essential oil consists of seven components with benzene, 1- (1,5-dimethyl-4-hexenyl) -4-methyl- (CAS) ar-curcumene as the main component. Essential oils contained in the white turmeric and giant ginger have a role in inhibiting microbes. The composition of the essential oil tested using GC-MS and the antimicrobial activity test used the disc diffusion method. The results of the antimicrobial activity test showed that white turmeric and giant ginger in powder and encapsulation form had significant differences (P <0.01) on antimicrobial activity in lactic acid bacteria, Escherichia coli and Salmonella sp. The mixture of white turmeric and giant ginger (1: 1) showed the best ability to inhibit the growth of pathogenic bacteria with inhibitory zone diameters of 5.70 ± 0.14 mm (Escherichia coli) and 6.88 ± 0.45 mm (Salmonella sp.).Keywords: antimicrobial, essential oil, giant ginger, phytobiotic, white turmeri
Pengaruh Imbangan Ongggok dan Sari Pepaya Terhadap Sifat Fisik
ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui sifat fisik campuran onggok dengan sari pepaya. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL). Data yang terkumpul dilakukan analisis uji Duncan. Perlakuan terdiri atas 1) P0 = onggok (kontrol), 2) P1 = 1 bagian onggok + 1 bagian sari pepaya, 3) P2 = 1 bagian onggok + 2 bagian sari pepaya, dan 4) P3 = 1 bagian onggok + 3 bagian sari papaya. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Hasil menunjukan bahwa bahwa semakin tinggi penambahan sari pepaya pada onggok, maka semakin tinggi (P<0,05) nilai kerapatan tumpukan, sedangkan nilai berat jenis paling tinggi (P<,005) diperoleh pada perlakuan P3 sebesar 1,03 Kg/m3, ketika kerapatan pemadatan tumpukan tidak menunjukan perbedaan yang nyata, Kesimpulan, pencampuran onggok dengan sari pepaya mengubah sifat fisik onggok, dimana nilai kerapatan tumpukan dan berat jenis tertinggi diperoleh pada pencampuran 1 bagian onggok dengan 3 bagian sari pepaya (P3).Kata Kunci : onggok, sari pepaya, sifat fisikABSTRACTThe research aims to determine the physical properties of the mixture of onggok with papaya extract. The study was conducted experimentally with a completely randomized design (CRD). The collected data was carried out by Duncan test analysis. Treatment consists of 1) P0 = onggok (control), 2) P1 = 1 part onggok + 1 part papaya extract, 3) P2 = 1 part onggok + 2 parts papaya extract, and 4) P3 = 1 part onggok + 3 parts papaya extract. Each treatment was repeated 6 times. The results showed that the higher the addition of papaya extract to onggok, cause the higher (P <0.05) of the value of bulk density, while the highest value of specific density (P <0.05) was obtained in P3 treatment of 1.03 Kg / m3, when the compact bulk density does not show a significant difference. The conclusion, mixing onggok with papaya juice changes the physical properties of onggok, where the highest bulk density and specific density is obtained by mixing 1 part onggok with 3 parts papaya juice (P3).Keywords: onggok, papaya extract, physical propertie
Analisis Potensi dan Kelayakan Usahatani Sistem Integrasi Padi Ternak (Studi Kasus di Desa Silea Jaya Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan)
ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi sistem intergasi padi ternak (SIPT) melalui ketersediaan ouput padi dan ternak sapi potong dan mengetahui kelayakan usahatani SIPT di Desa Silea Jaya Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan. Responden penelitian ini berjumlah 25 orang, yaitu keseluruhan petani yang menerapkan sistem integrasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif dan kelayakan usaha SIPT dengan menggunakan dua pendekatan yaitu analisis Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) dan Breack Even Point (BEP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi SIPT di Desa Silea Jaya cukup untuk mendukung pengembangan SIPT ini dengan melihat melalui potensi luas, lahan, kepemilikan ternak, limbah padi sawah dan sapi potong. Sedangkan untuk kelayakan usaha farming system di Desa Silea Jaya layak untuk dijalankan hal ini terlihat dari hasil analisis R/C Ratio yaitu 5,26 (R/C Ratio>1) dan analisis BEP untuk padi sawah yakni 1.150,41 kg dengan harga jual Rp 1.054,27. Sedangkan ternak sapi potong yakni 0,2 ekor dengan nilai Rp. 432.279.Kata kunci: kelayakan, potensi, sistem integrasiABSTRACT The objective of this research is to know the potency of paddy-cattle integration system (SIPT) through the availability of rice output and beef cattle and to recognize the feasibility. The number of respondents in this study was 25 people, all of the farmers who implemented the integration system. The analysis applied in this study is quantitative descriptive analysis and feasibility of SIPT with two approaches, i.e. analysis of Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) and Break Even Point (BEP). The result shows that the potential of SIPT in Silea Jaya Village is sufficient to support the development of this SIPT by noticing the vast potential, land, livestock ownership, rice paddy waste, and beef cattle. For the activity feasibility of the farming system in Silea Jaya Village, it is proper to run. It is concluded from the result of R/C Ratio analysis which is 5,26 (R/C Ratio>1) and BEP analysis for paddy rice which is 1,150.41 kg with a selling price of IDR 1,054.27, and beef cattle is 0.2 with a price of IDR 432,279. Keyword: integrated farming system, feasibility, potency
Strategi Pengembangan dan Diversifikasi Sapi Potong di Jawa Timur
ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui peramalan populasi sapi potong, diversifikasi produk daging sapi potong, dan strategi pengembangan sapi potong di Jawa Timur. Penelitian dilakukan di Jawa Timur. Metode yang dipergunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif dan korelasional. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan melakukan wawancara langsung dan FGD dan data sekunder yang diambil dari BPS, dinas terkait, buku-buku referensi dan internet. Metode analisis data menggunakan analisis time series menggunakan metode Box-Jenkins (ARIMA) dengan Eviews, analisis nilai tambah dan analisis SWOT. Hasil yang diperoleh dari peramalan produksi sapi potong pada tahun 2017 hingga 2022 cenderung meningkat. Diversifikasi produk pengolahan sapi potong yaitu bakso dan abon daging. Hasil analisis nilai tambah, margin untuk keuntungan usaha bakso yaitu 22,18%, lebih kecil daripada marjin pendapatan atau imbalan tenaga kerja yaitu 32,73%. Margin untuk keuntungan industri usaha abon daging yaitu 23,12%, lebih besar daripada marjin pendapatan atau imbalan tenaga kerja yaitu 18,29%. Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa posisi kompetitif relatif dan berada pada kuadran SPEKULATIF dengan nilai IFAS 1,99 dan EFAS 3,72. Pengembangan sapi potong di Jawa Timur memiliki peluang yang prospektif akan tetapi produsen belum mampu mengembangkannya.Kata Kunci : diversifikasi, populasi, spi potong, strategi pengembanganABSTRACTThe purpose of this research was to forecast beef cattle population, diversification of beef products, and strategies of developing beef cattle in East Java. The study was conducted in East Java. The method used in this study was descriptive and co-relational methods. The data used in this study are primary data obtained by conducting direct interviews and FGDs; and secondary data taken from BPS, related agencies, reference books, and the internet. The method of data analysis used was time series analysis using the Box-Jenkins (ARIMA) method with Eviews, value-added analysis, and SWOT analysis. The results obtained from forecasting beef cattle production in 2017 to 2022 show an increased trend. Diversification of beef processed products are meatballs (bakso) and meat floss (abon). The results of value-added analysis showed the margin for the profit of the meatball business was 22.18%, relatively smaller than the income margin or labor benefits, which was 32.73%. The margin for the industrial profits of the shredded meat business was 23.12%, which was greater than the income margin or labor benefit (18.29%). The results of the SWOT analysis indicated that the relative competitive position is in the SPECULATIVE quadrant with IFAS value of 1.99 and EFAS 3.72. This means that beef cattle development in East Java has a prospective opportunity but producers have not been able to develop it.Keywords: beef, diversification, development strategy, populatio
Pengaruh Lama Thawing yang Berbeda pada Suhu 25 oC Terhadap Kualitas Semen Beku Sapi Ongole
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama thawing yang berbeda pada suhu 250C untuk mendapatkan kualitas spermatozoa semen beku sapi ongole yang optimal. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Kanjuruhan Malang. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Setiap perlakuan thawing diberikan ulangan sebanyak 10 sampel semen beku sapi ongole. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan lama thawing 7, 15, 30 detik pada suhu 25oC memberikan perbedaan pengaruh yang sangat nyata (p<0.01) pada motilitas, viabilitas dan abnormalitas spermatozoa semen beku sapi ongole. Motilitas tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 dengan rata-rata sebesar 40,8%, viabilitas tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 dengan rata-rata sebesar 82,39%, sedangkan abnormalitas terendah diperoleh pada perlakuan P3 dengan rata-rata sebesar 11,95%. Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa thawing pada suhu 25oC dengan lama waktu 30 detik memberikan kualitas spermatozoa yang paling baik sehingga disarankan untuk melakukan thawing pada suhu 25oC dengan lama waktu 30 detik. Kata kunci: abnormalias, mortalitas, ongole, thawing, viabilitasABSTRACT This study aims to determine the effect of different thawing time at 250C to get the sperm quality of frozen semen ongole bull. Research conducted at the Laboratory of Animal Husbandry Faculty Kanjuruhan University of Malang. The method of study by using Completely Randomized Design (CRD) factorial. Any treatment given repeated thawing of frozen samples of 10 times. The study show that treatment with time thawing 7 (P1), 15 (P2), 30 (P3) seconds at 25oC gives a very significant difference (P<0.01) on motility, viability and abnormalities of ongole Bull sperm. The highest motility and viability were obtained at P3 (40,8%) and (82,39%), while the lowest abnormalities obtained on P3 (11,95%). Based on this research it can be concluded that thawing at 25oC with 30 seconds to give the best quality sperm that is recommended for thawing. Keywords: abnormality, motility, ongole, thawing, viabili
Analisis Kelayakan dan Manajemen Usaha Peternakan Sapi Perah Penerima Kredit Simpan Pinjam di Koperasi SAE Pujon
ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui analisis sistem manajemen usaha peternak sapi perah penerima kredit modal usaha di KUD SAE Pujon terhadap kelayakan usaha peternakan sapi perah dan analisis kelayakan usaha anggota peternakan sapi perah penerima kredit modal usaha di Koperasi SAE Pujon. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Penentuan lokasi dan 30 responden berdasarkan metode purposive sampling dari total semua peternak penerima kredit modal usaha yang ada di Koperasi SAE Pujon. Pengumpulan data dilakukan dengan cara teknik kuisoner, dokumentasi dan teknik wawancara. Jumlah ternak, jumlah produksi dan harga jual susu, kredit modal usaha dan manajemen peternakan adalah variabel bebas dan analisis kelayakan usaha adalah variabel tergantung. Indikator dari sistem manajemen yaitu manajemen bibit, pakan, kandang dan kesehatan. Indikator analisis kelayakan usaha yaitu break event point (BEP) unit, break event point (BEP) harga dan benefit cost ratio (B/C Ratio). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Hubungan SDA dan pelaksanaan kerja berpengaruh terhadap analisa usaha dalam persamaan (AU = -0,267*SDA + 0,226*PK), kemudian hubungan kredit simpan pinjam dan analisa usaha berpengaruh terhadap kelayakan usaha dalam persamaan (AKLU = 0,794*BP + 0,260*KSP).Kata Kunci: analisis kelayakan, kredit usaha, sistem manajemen, sumber daya alamABSTRACTThe cooperative also provides supporting facilities, one of which is a cooperative providing credit to the community. The study aimed to determine the analysis of the business management system of dairy farmers who received venture capital loans at KUD SAE Pujon on the feasibility of dairy farming businesses and an analysis of the business feasibility of members of the dairy farm recipients of business capital at SAE Pujon Cooperative. This research is exploratory. Location determination and 30 respondents based on the purposive sampling method of the total all farmers receiving business capital loans at the SAE Pujon Cooperative. Data collection is done by questionnaire techniques, documentation and interview techniques. The number of livestock, the amount of production and the selling price of milk, business capital credit, and livestock management are independent variables and the business feasibility analysis is a dependent variable. Indicators of the management system are the management of seeds, feed, pens, and health. Business feasibility analysis indicators are break event points (BEP) units, break event points (BEP) prices and benefit-cost ratio (B/C Ratio). The results showed that: (1) The relationship of natural resources and work implementation had an effect on business analysis in the equation (AU = -0.267 * SDA + 0.226 * PK), then the relationship between savings and loans and business analysis had an effect on business feasibility in the equation (AKLU = 0.794 * BP + 0.260 * KSP).Keywords: capital loans, feasibility analysis, management system, natural resource
Substitusi Kuning Telur dengan Lesitin Kedelai sebagai Pengencer Semen dalam Mempertahankan Kualitas Spermatozoa Kerbau Penyimpanan 5°C
ABSTRAKPengencer konvensional berbasis kuning telur yang bersumber dari hewan membawa risiko kontaminasi mikroba dan menghalangi jarak pandang pemeriksaan spermatozoa di bawah mikroskop. Penelitian ini dilaksanakan` untuk menilai apakah substitusi kuning telur dengan lesitin kedelai di dalam pengencer berbasis-tris dapat mempertahankan kualitas spermatozoa kerbau lumpur pada penyimpanan 5°C selama 120 jam. Ejakulat dari 3 ekor kerbau umur 3-4 tahun dengan bobot badan 450-500 kg ditampung dengan menggunakan vagina buatan.Semen diencerkan dengan pengencer konvensional yang mengandung 20% kuning telur (kontrol) dan pengencer lesitin dengan konsentrasi1%, 2%, 3% dan 4%(perlakuan) dan disimpan pada 5°C selama 120 jam. Parameter spermatozoa dinilai pada interval 0, 72, dan 120 jam setelah semen yang diencerkan disimpan 5°C.Persentase motilitas dan spermatozoa normal tidak berbeda nyata (P<0,05) antara pengencer 1% lesitin dan kontrol. Namun pengencer 1% lesitin mampu mempertahankan kedua parameter tersebut setelah penyimpanan 5°C selama 120 jam. Persentase viabilitas, keutuhan membran dan tudung akrosom spermatozoa pada pengencer 1% lesitin dibandingkan pengencer kontrol lebih tinggi (P<0,05) dari pengencer perlakuan 2, 3, dan 4% lesitin. Disimpulkan bahwa pengencer 1% lesitin dapat menyubstitusi pengencer konvensional berbasis kuning telur untuk penyimpanan semen kerbau pada 5ºC selama 120 jam.Kata kunci: kuning telur, lesitin, pengencer, semen cair, semen kerbauABSTRACTConventional egg yolk-based diluent animal origin carries the risk of microbial contamination and interference with microscopic examination. This study was conducted to assess whether substitution of egg yolk with soy lecithin in tris-based diluents can maintain the quality of buffalo spermatozoa stored at 5°C for 120 h. Ejaculate from 3 buffaloes aged 3-4 years and body weight of 450-500 kg was collected using an artificial vagina. Semen was diluted with diluent containing 20% egg yolk (control) and diluent with concentrations of lecithin 1%, 2%, 3% and 4% (treatment). Spermatozoa parameters were assessed at intervals of 0, 72 and 120 h after the diluted semen was stored at 5°C for 120 h. The percentages of motility and normal spermatozoa did not differ significantly (P<0.05) between 1% lecithin and control diluents. However, 1% of lecithin was able to maintain both parameters after stored at 5°C for 120 h. The percentages of viability, membrane integrity and functional acrosome of spermatozoa in 1% lecithin were higher (P<0.05) than control and the other three treatment diluents. In conclusion, 1% of lecithin diluent could substitute conventional egg yolk-based diluent for the storage of buffalo semen at 5ºC for 120 h.Keywords: buffalo semen, egg yolk, lecithin, diluents, liquid seme