Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Not a member yet
    440 research outputs found

    Evaluasi Kecernaan In Vitro Bahan Kering dan Bahan Organik Kulit Singkong Fermentasi Sebagai Bahan Pakan Ternak

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi kecernaan in vitro bahan kering dan bahan organik kulit singkong yang difermentasi menggunakan jamur Aspergillus niger dan EM-4 sehingga dapat memberikan informasi tambahan mengenai kualitas kulit siongkong yang difermentasi maupun tanpa fermentasi.  Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 4 ulangan.  Perlakuan yang diberikan terhadap kulit singkong adalah P1 (tanpa fermentasi), P2 (fermentasi dengan Aspergillus niger), P3 (fermentasi dengan EM-4), P4 (fermentasi dengan kombinasi A. niger dan EM-4).  Evaluasi kecernaan in vitro ini dilakukan dengan menggunakan metode Tilley and Terry.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jamur A. niger dan EM-4 dalam proses fermentasi kulit singkong dapat meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan kering kulit singkong secara signifikan dimana hasil terbaik diperoleh pada penambahan kombinas A. niger dan EM-4.Kata kunci: Aspergillus niger, bahan kering, bahan organik, EM-4, kecernaan in vitroABSTRACTThe aim of this study was to evaluate the in vitro digestibility of dry matter and organic matter of fermented cassava peel using Aspergillus niger and EM-4 inoculant to provide additional information about the quality of fermented and unfermented cassava peel. The study design used was a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 4 replications. The treatments were P1 (without fermentation), P2 (fermented with Aspergillus niger), P3 (fermented with EM-4), P4 (fermented with a combination of A. niger and EM-4). This in vitro digestibility evaluation was conducted by using the Tilley and Terry method. The results showed that the addition of A. niger fungi and EM-4 in the fermentation process of cassava peel could significantly improve the digestibility of dry matter and dry matter of cassava peel where the best results were obtained on the addition of A. niger and EM-4 combinations.Keywords: Aspergillus niger, dry matter, EM-4, in vitro digestibility, organic matte

    Perbaikan Mutu Genetik Melalui Sistem Grading Ternak dalam Upaya Menunjang Program Pemuliaan Berbasis Digital

    Get PDF
    ABSTRAKPengembangan sapi potong di Indonesia telah berkembang dibeberapa daerah dengan menerapkan teknologi dan inovasi peternakan melalui Sekolah Peternakan Rakyat (SPR). Penelitian ini bertujuan memperbaiki mutu genetik sapi PO melalui seleksi berdasarkan sistem grading untuk pembibitan dan perbanyakan sapi, serta melakukan pemantauan perkembangannya dengan program digitalisasi. Penelitian dilakukan melalui pendataan kuantitatif dan kualitatif dengan sistem wawancara langsung ke para peternak menggunakan kuisioner. Parameter penelitian diantaranya karakteristik eksternal, silsilah sapi, dan ukuran tubuh seperti bobot badan dan lingkar dada. Analisis data menggunakan Analisis  Deskriptif dan pendugaan model regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sapi di Desa Sekaran  lokasi Sekolah Peternakan Rakyat sebanyak 971 ekor dengan populasi terbanyak di dusun Ngantru yaitu sebesar 82%. Sistem perkawinan  sapi yang sering diterapkan yaitu kawin suntik (inseminasi buatan) sebesar 94% dan 6% dengan perkawinan alami. Produktivitas sapi PO cukup tinggi dengan ukuran lebar dada berkisar 154–165 cm dan bobot badan berkisar 282–309 kg. Body condition score (BCS) sapi PO berada pada kisaran 2–3 di skala 5. Sistem grading menunjukkan bahwa sapi PO banyak tergolong dalam grade A sebesar 58%. Sapi PO di Desa Sekaran memiliki potensi yang besar untuk dijadikan sumber bibit dan perbanyakan populasi karena telah memiliki sistem grading yang baik .Kata kunci : Desa Sekaran, digitalisasi, sapi PO, seleksi, sistem grading                                                            ABSTRACT             The development of beef cattle in Indonesia has developed in several regions by implementing animal husbandry technology and innovation through the Sekolah Peternakan Rakyat (SPR). This study aims to improve the genetic quality of PO cattles through selection based on grading systems for cattle breeding and propagation, as well as monitoring their development with a digitization program. The study was conducted with a direct interview system to farmers using a questionnaire. The research parameters included external characteristics, genealogy of cattle, and body size such as body weight and chest size. Data analysis using descriptive statistic and regression analysis. The results showed that the total of cattle in Sekaran Village was 971 with the largest population in the Ngantru approximately 94%. The cattle mating system were conducted using  artificial insemination and naturally bred were  94% and 6%, respectively.  PO cattle productivity is high with chest width measurements from 154–165 cm and body weights from 282-309 kg. The body condition score of PO cattles is in the range of 2-3 on a scale of 5. The grading system shows that many PO cattles were classified in grade A was 58%.  PO cattles in Sekaran Village have great potential to be used as a source animal genetic resources of PO breeding center.Keywords : grading system, digital, PO cattle, Sekaran village, selectio

    Motilitas Dan Daya Hidup Spermatozoa Asal Epididimis Sapi Persilangan yang Diencerkan dengan Air Tebu

    Get PDF
    ABSTRAKAir tebu diketahui mengandung sukrosa yang dapat meningkatkan energi bagi motilitas spermatozoa.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan air tebu dan kuning telur dalam mempertahankan kualitas spermatozoa asal kauda epididymis sapi persilangan.  Penelitian ini menggunakan epididimis sapi persilangan dari rumah pemotongan hewan (RPH) Basirih Kotamadya Banjarmasin.  Spermatozoa yang dikoleksi ditempatkan ke dalam empat tabung reaksi masing-masing terdiri dari: 80% pengencer laktosa + 20% kuning telur ayam ras (kontrol), 45% air tebu + 45% akubidestilata + 10% kuning telur ayam ras (ATKT10), 42,5% air tebu + 42,5% akubidestilata + 15% kuning telur ayam ras (ATKT15), dan 40% air tebu + 40% akubidestilata + 20% kuning telur ayam ras (ATKT20). Parameter pengamatan adalah motilitas, daya hidup, dan membran plasma utuh.  Hasil penelitian menunjukkan motilitas pengencer kontrol (65%), berbeda nyata (P0,05) perlakuan ATKT 20 sebesar 76%, akan tetapi persentase MPU kontrol masih lebih baik (P0,05) to ATKT20 (76%). Both treatments have higher of IPM than ATKT10 (71.80%) and ATKT15 (74.20%).  The sugarcane juice was able to maintain spermatozoa motility for up to two days.Keywords: crossbred cattle, spermatozoa from cauda epididymis, sugarcane juic

    Produksi Jerami Arbila (Phaseolus Lunatus L) Pascapanen Akibat Penambahan Level Bokashi Feses Sapi dan Chromolaena yang Berbeda

    Get PDF
    ABSTRAKArbila merupakan legume pakan yang jeraminya merupakan pakan hijauan yang berkualitas bagi ruminansia, dan produksi jeraminya ditentukan oleh kualitas tanah. Level bokashi yang ditambahkan mempengaruhi kualitas tanah, yang tentu berdampak pada produksi jerami arbila. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi produksi jerami arbila pasca panen akibat pemberian level bokashi yang berbeda. Penelitian tersebut telah dilaksanakan selama 5 bulan di Desa Noelbaki. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, terdiri atas P0 = tanpa bokashi (kontrol), P10 = penambahan bokashi 10 ton/ha, P20 = bokashi 20 ton/ha, P30 = bokashi 30 ton/ha, P40 = bokashi 40 ton/ha. Variabel yang diamati adalah  produksi bahan segar jerami (PBSJ) (ton/ha), produksi bahan kering jerami (PBKJ), produksi bahan organik jerami  (PBOJ) arbila. Data yang diperoleh dianalisis varians dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil analisis varians menunjukkan bahwa level pemberian pupuk bokashi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap PBSJ arbila serta berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap PBKJ dan PBOJ arbila. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui rataan PBSJ arbila berkisar 0,46-2,52 ton/ha, PBKJ arbila berkisar 0,07-0,18 ton/ha, dan PBOJ arbila berkisar 0,04-0,16 ton/ha. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa nilai PBSJ, PBKJ dan PBOJ arbila tertinggi terdapat pada perlakuan P40. Disimpulkan bahwa semakin meningkatnya level bokashi Chromolaena dan feses sapi, produksi jerami arbila semakin tinggi. Level bokashi feses sapi dan Chromolaena terbaik adalah 40 ton/ha.Kata kunci: arbila, bokashi, jerami, hijauan ABSTRACTArbila’s straw is a quality feed for ruminants. Production of these straw is determined by soil quality. The level of bokashi added influences the quality of the soil and therefore influences the straw production. This research aimed to evaluate arbila’s straw production post-harvest in different levels of bokashi. This research was carried out for 5 months at Noelbaki. The experimental design used was a randomized block design (RBD) with 5 treatments and 4 replications consisting of P0 = without bokashi (control), P10 = addition of 10 tons of bokashi / ha, P20 = 20 tons of bokashi / ha, P30 = 30 tons of bokashi / ha, P40 = bokashi 40 tons / ha. The observed variables were the straw fresh weight production (SFW) (tons/ha), straw dry matter production (SDM) (tons/ha), straw organik matter production (SOM) (tons/ha). Data were analyzed for variance and continued with Duncan test. Analysis of variance showed that the level of bokashi fertilizer had a very significant effect (P <0.01) on SFW and significantly affected (P <0.05) SDM and SOM. The average SFW in this study ranged from 0.46 to 2.52 tons/ha, HDM ranges from 0.07 to 0.18 tons/ha, and SOM ranges from 0.04 to 0.16 tons/ha. Duncan's test shows that the highest SFW, SDM and SOM are found in P40. It was concluded that arbila’s straw production increases with the level of Chromolaena and cattle manure bokashi added. Highest production was shown in group with 40 ton/ha bokashi.Keywords: bokashi, forage, Phaseolus lunatus L, stra

    Pengaruh Pemberian Moringa oleifera Terhadap Kuantitas dan Kualitas Semen Sapi Peranakan Ongole

    Get PDF
    ABSTRAK  Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bubuk daun Moringa oleifera (MO) terhadap kuantitas dan kualitas semen sapi peranakan ongole (PO). Metode penelitian menggunakan percobaan lapang dengan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan pemberian MO sebesar 0 kg/ekor/hari (P1); 0,05 kg/ekor/hari (P2) dan 0,1 kg/ekor/hari (P3). Analsis data menggunakan one way analysis of variance. Masing-masing perlakuan terdiri atas empat ekor dengan tiga periode pengamatan sebagai ulangan, yaitu periode pertama dan ketiga tanpa MO, dan periode kedua diberikan MO pada P2 dan P3. Hasil penelitian menunjukan bahwa volume dan pH semen perlakuan P1, P2 dan P3 tidak berbeda semua periode pengamatan. Motilitas massa spermatozoa P2 dan P3 periode kedua dan ketiga menunjukan nilai +++ berbeda nyata (P1.350 juta/ml berbeda nyata (P88-89 % beda nyata (P1,350 million/cc significantly different (P88-89% significantly different (P<0.05) than P1 (<84%) in the second and third periods, while the best spermatozoa abnormalities were P2 at 4.30% in the second period and P3 at 5.33% in the third period. It was concluded that the giving of MO leaf powder at a dose of 0,1 kg/head/day could improve the quantity and quality of semen (viability and total motile spermatozoa) of Ongole Crossbreed bulls. Keywords: bulls, Moringa oleifera, quantity and quality of seme

    Kualitas Semen Beku Sexing Sapi Peranakan Ongole Menggunakan Volume Semen Awal Yang Berbeda

    Get PDF
    ABSTRAKInseminasi buatan dengan menggunakan semen sexing diharapkan menghasilkan pedet dengan jenis kelamin sesuai harapan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas, proporsi, dan jumlah produksi straw sexing menggunakan metode sentrifugasi gradien densitas percoll dengan volume awal semen yang berbeda. Penelitian dilakukan di Loka Penelitian Sapi Potong, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan dan Laboratorium Reproduksi Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang. Materi yang digunakan adalah semen sapi peranakan ongole berumur berkisar lima tahun dan bobot badan  berkisar 700 kg sebanyak tiga ekor, motilitas massa ≥2+ dan motilitas individu ≥70%. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan tiga perlakuan volume awal saat sexing, yaitu 1 (P1); 1,5 (P2); dan 2 (P3) ml dengan ulangan 11 kali (ulangan berfungsi sebagai kelompok). Data dianalisa menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan volume awal semen tidak berpengaruh (menurun) terhadap motilitas, viabilitas, abnormalitas, konsentrasi, total spermatozoa motil, recovery rate dan proporsi spermatozoa (P>0,05). Pengaruh yang sangat nyata (meningkat) terhadap jumlah produksi straw (P0.05). On the other hand, the difference in the initial volume of semen had a very significant effect (increased) on the amount of frozen semen production (P<0.01). Repeated research also had a very significant effect (increased) on the semen quality (motility, concentration, viability, abnormality, total sperm motility, recovery rate proportion, and straw production) and the proportion of spermatozoa X and Y (P<0.01). The total motile sperm for each treatment had met the expected value (10 million/straw). Proportions of spermatozoa X and Y have met the expected value (80%: 20%).Keywords: proportion, quality, sexing frozen semen, straw

    Halaman Depan

    No full text
    Halaman Depa

    Hubungan Bobot Hidup dan Bobot Karkas Sapi Madura

    Get PDF
    ASBTRAKKarkas merupakan bagian dari ternak yang telah disembelih yang terdiri dari daging dan tulang, tanpa kepala, kaki, kulit dan jeroan. Berat karkas yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh perlakuan ternak sebelum dipotong.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan bobot hidup terhadap bobot karkas, rasio karkas sapi madura terhadap bobot hidupnya, dan memperoleh formulasi pendugaan bobot karkas berdasarkan bobot hidup. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan dengan menggunakan 50 ekor sapi yang dipotong di tempat pemotongan tersebut. Metode penelitian menggunakan metode observasi. Variabel yang diukur pada penelitian ini meliputi bobot hidup dan bobot karkas sapi madura. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara menimbang sapi yang akan menjadi sampel untuk memperoleh bobot hidup. Data dianalisis dengan menggunakan analisis persamaan regresi linier dan korelasi dengan menggunakan microsoft excel for Windows 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot hidup memiliki hubungan yang erat dengan bobot karkasnya dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0.889 dan persamaan regresi linier y = 0,4716x + 12,295 dengan bobot karkas mencapai 143,0 kg (52,14%) dengan bobot hidup rata-rata 275 kg.  Bobot hidup dapat digunakan untuk memprediksi bobot karkas pada sapi Madura.Kata Kunci:  bobot karkas, bobot hidup, estimasi, sapi madura  ABSTRACTThe carcass is part of cattle that have been slaughtered consisting of meat and bones, without head, legs, skin, and viscera. The carcass weight obtained is strongly influenced by the treatment of livestock before slaughter. This study aims to determine the relationship of life weight to carcass weight, the ratio of the carcass to live weight, and to obtain a formulation of carcass weight estimation based on the life weight of madura cattle. The study was conducted in Waru District Pamekasan Regency using 50 madura cattle. The survey method was used in this study. The variables measured in this study include life weight and carcass weight of Madura cattle. For data collection, cattle were weighed to obtain life weight.  Data were analyzed using linear regression equations and correlations using the Microsoft Excel for Windows 2010.  The results showed that life weight had a close relation with carcass weight with a coefficient of determination of 0.889 and linear regression equation y = 0.4716x + 12.295 on carcass weight reached 143.0 kg (52.14%) with an average body weight of 275. Live weight can be used to predict carcass weight in Madura cattle.Keywords: carcass weight, estimation, life weight, madura cattle

    Performa Ayam Sentul yang Diberi Ransum Mengandung Indigofera zollingeriana

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan Indigofera zollingeriana dalam ransum terhadap kinerja ayam sentul. Seratus empat puluh empat ekor ayam Sentul dialokasikan ke dalam 6 perlakuan dan 4 ulangan. Unggas tersebut dipelihara dari mulai day old chick (DOC) sampai umur 3 minggu dengan diberi ransum BR 501 CP, selanjutnya selama 7 minggu diberi ransum perlakuan. Ransum perlakuan tersebut adalah 1) R1 = ransum komersial (Sinta SP 22), 2) R2 = ransum yang biasa digunakan peternak, 3) R3 = ransum mengandung Indigofera zollingeriana 20% tanpa jagung, 4) R4 = ransum mengandung Indigofera zollingeriana 10%, 5) R5 = ransum mengandung Indigofera zollingeriana 15%, 6) R6 = ransum mengandung Indigofera zollingeriana 20% dan mengandung jagung. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dan data yang terkumpul dianalisis dengan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa konsumsi dan konversi ransum tidak menunjukan perbedaan yang nyata, tapi pertambahan bobot badan tertinggi (P<0,05) dicapai pada R1 dengan bobot badan akhir sebesar 833,25 g pada umur 10 minggu. Ransum R4 yang mengandung Indigofera zollingeriana 10% menghasilkan pertambahan bobot badan yang sama dengan R1 dengan bobot akhir penelitian sebesar 722 g. Kesimpulan Indigofera zollingeriana sebanyak 10% dapat diberikan dalam ransum ayam sentul.Kata kunci:  ayam sentul, performa, Indigofera zollingerianaABSTRACTThis study was aimed to utilize Indigofera zollingeriana in diets on the performance of sentul chicken. One hundred and fourty four sentul chickens were allocated into 6 treatments and 4 repetitions. This poultry was kept from DOC until the age of 3 weeks with BR 501 CP diets, next for 7 weeks fed treatment diets. The treatment diet was 1) R1 = commercial diet (Sinta SP 22), 2) R2 = diet commonly used by breeder, 3) R3 = diet containing Indigofera zollingeriana 20% without maize, 4) R4 = diet containing Indigofera zollingeriana 10%,  5) R5 = diet containing Indigofera zollingeriana 15%, 6) R6 = diet containing Indigofera zollingeriana 20% and containing maize. The study used a complete randomized design and the collected data were analyzed by Duncan test. The results showed that the consumption and conversion of diets did not show any significant difference, but the highest body weight gain (P <0.05) was achieved in R1 with final bodyweight of 833.25 g at 10 weeks. The R4 diet containing 10% Indigofera zollingeriana resulted in the same weight gain as R1 with the final weights of 722 g. Conclusion Indigofera zollingeriana as much as 10% can be given in sentul chicken diets.Keywords: performance, Indigofera zollingeriana, sentul chicke

    Review: Pengaruh Pakan Terhadap Kualitas Semen Ayam

    Get PDF
    ABSTRAKSemen adalah cairan yang dikeluarkan oleh organ kelamin ternak jantan yang secara normal diejakulasikan ke dalam saluran reproduksi ternak betina melalui kopulasi. Evaluasi semen merupakan alat utama untuk memprediksi kinerja  reproduksi ternak ayam  jantan. Evaluasi kualitas semen penting dilakukan untuk menyelesaikan salah satu masalah utama dalam peternakan pembibitan ayam, yaitu   rendahnya fertilitas.  Faktor terbesar dari sumber masalah tersebut terkait dengan rendahnya kualitas semen ayam. Kualitas semen ayam  lebih banyak dipengaruhi oleh faktor non genetik, seperti faktor pakan dan nutrisi. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji hasil-hasil studi terkait pengaruh pakan terhadap kualitas semen ayam. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor pakan sangat mempengaruhi kualitas semen ayam, terutama imbangan energi metabolis-protein dalam pakan ayam jantan sangat penting diatur untuk menjaga berat badan ayam jantan agar tidak terjadi kelebihan atau kekurangan berat badan yang sangat mempengaruhi kualitas semen ayam. Suplementasi suplemen dan imbuhan pakan menjadi upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas semen ayam. Jenis suplementasi yang dapat dilakukan dengan bahan sumber antioksidan, asam amino, mikromineral, bahan mengandung bioaktif tanaman, bahan sumber asam lemak dan probiotik. Disimpulkan bahwa faktor pakan sangat menentukan terhadap kualitas semen ayam.Kata kunci: ayam jantan, kualitas semen, pakanABSTRACTRooster semen is a liquid released by the genitals of the roosters which is normally ejaculated into the female reproductive tract during copulation. Semen evaluation is the main way to predict the reproductive performance of roosters. Semen quality evaluation is important to solve one of the main problems in poultry breeding farms, namely low fertility, whereas the biggest factor of this problem source is related to the poor of roosters’ semen quality. The quality of roosters semen is more influenced by non-genetic factors, such as feed and nutrition. The purpose of this paper was to examine the results of studies so far related to the effect of feed on the roosters’ semen quality. The results of the study indicated that the feed factor greatly influences the quality of roosters semen. The metabolic energy-protein balance in the rooster's feed was very important to regulate to maintain the weight of the rooster so as not to overweight and underweight because bodyweight greatly affects the quality of roosters semen. Supplementation of feed supplements and feed additives was an effort that can be done to improve the roosters semen quality. The kind of supplementation that could be done was supplementation of antioxidant sources, amino acids, microminerals, materials containing plant bioactive, fatty acid source ingredients, and probiotics. It was concluded that the feed factor was crucial to the quality of semen quality produced by the roosters.Keywords: feed, rooster, semen qualit

    263

    full texts

    440

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇