Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
Identifikasi Salmonella pullorum pada Ayam Petelur Periode Grower dengan Uji Aglutinasi dan Makroskopik di Peternakan Ayam Kabupaten Sidrap
ABSTRAKPenyakit pullorum merupakan penyakit yang sering menginfeksi ayam yang disebabkan oleh Salmonella pullorum. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ada tidaknya penyakit pullorum pada ayam petelur periode grower di peternakan ayam kabupaten Sidrap. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Sampel serum dan organ diambil dari 19 peternakan ayam di Batu-Batu. Sebanyak 57 sampel serum diuji dengan uji aglutinasi. Diperoleh sebanyak 26 sampel serum yang positif dan dilanjutkan dengan pemeriksaan makroskopik. Pemeriksaan makroskopik ditemukan adanya hepatomegali, lesi berwarna kuning-pucat, konsistensi lunak, dan nodul-nodul di permukaan hati serta adanya kardomegali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peternakan ayam layer periode grower di kabupaten Sidrap telah terinfeksi Salmonella pullorum dangan gambaran patologis yang bervariasi. Kata kunci: ayam petelur, identifikasi, Salmonella pullorum, makroskopikIdentification of Salmonella Pullorum in Grower Period of Laying Hens By Agglutinated and Macroscopic Test in Layer Farms of Sidrap RegencyABSTRACTPullorum is a bacterial disease that commonly infected the chicken infected by Salmonella pullorum. This research aimed to identify Salmonella pullorum in the growing period of laying hen in Batu-Batu. The research used a purposive sampling method. The organ and serum samples were collected from 19 farms. Agglutination test for serum and macroscopic test for organ was performed. There were 26 samples that tested positive from 57 serum samples. There were 26 organ samples of macroscopic treatment that resulted in liver damages in the forms of swelling, pale yellow lesions, soft consistency, and nodules on the surface. The heart also experienced changes through swelling, soft consistency, uneven surface, and a mixture of fluid and fibrin inside the pericardium. It can be concluded that layer farms in Sidrap districts have been infected by Salmonella pullorum affecting the growing period.Keywords : laying hens, identification, Salmonella pullorum, macroscopi
Bobot Relatif Organ Pencernaan dan Limfoid Ayam Broiler yang Diberikan Temulawak, Kencur, dan Mineral Zink
ABSTRAKPemanfaatan tanaman herbal sebagai aditif pakan yang memiliki fungsi fotobiotik dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengganti penggunaan antibiotik dalam budidaya ayam broiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektifitas tepung temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb.) dan tepung kencur (Kaempferia galangan L.) sebagai fitobiotik yang dikombinasikan dengan mineral zink terhadap respon organ pencernaan dan organ limfod ayam broiler. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri lima perlakuan, empat ulangan yang setiap ulangan terdapat tiga ekor ayam broiler. Perlakuan (P) yang diberikan meliputi P1 (ransum basal), P2 (ransum basal + 2,5% tepung temulawak + 120 ppm mineral zink), P3 (ransum basal + 0,04% tepung kencur + 120 ppm mineral zinc), P4 (ransum basal + 2,5% tepung temulawak + 0,04% tepung kencur), dan P5 (ransum basal + 2,5% tepung temulawak + 0,04% tepung kencur + 120 ppm mineral zink). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap bobot relatif ventrikulus, hati, timus, dan bursa fabrisius. Bobot relatif organ pencernaan umumnya lebih tinggi pada perlakuan P5 (ransum basal +2,5% tepung temulawak + 0,04% tepung kencur +120 ppm mineral zink). Sedangkan bobot relatif organ limfoid lebih besar pada perlakuan tepung temulawak, tepung kencur dan mineral zink dibandingkan kontrol. Penggunaan tepung temulawak, tepung kencur dan mineral zink tidak menunjukkan efek yang buruk berdasarkan bobot relatif organ pencernaan dan organ limfoid ayam broiler.Kata kunci: temulawak, kencur, mineral zink, broiler, organ limfoid, organ pencernaan Relative Weight of Digestive Organs and Lymphoid Broiler Chickens Given Curcuma xanthorhiza Roxb., Kaempferia galangan L., and Mineral ZincABSTRACTUtilization of herbal plants as feed additives that have a phytobiotic function can be an alternative to replace the use of antibiotics in broiler cultivation. This study aims to examine the effectiveness of curcuma flour (Curcuma xanthorhiza Roxb.) and Kaempferia galangan L. flour as phytobiotics combined with zinc minerals on the response of the digestive organs and lymphatic organs of broiler chickens The study was conducted using an experimental method using a completely randomized design (CRD) consisting of five treatments, four replications, each of which contained three broiler chickens. The treatments (P) that were given included P1 (Basal ration), P2 (Basal ration +2.5% Curcuma xanthorhiza Roxb. flour+ 120 ppm mineral zinc), P3 (Basal ration + 0.04% Kaempferia galangan L. flour + 120 ppm zinc mineral), P4 (Basal ration + 2.5% Curcuma xanthorhiza Roxb. flour+ 0.04% Kaempferia galangan L. flour), and P5 (Basal ration + 2.5% Curcuma xanthorhiza Roxb. flour + 0.04% Kaempferia galangan L. flour + 120 ppm zinc mineral). The results showed that the treatment had a significant effect (p<0.05) on the relative weight of the ventriculus, liver, thymus, and bursa fabrisius. The relative weight of the digestive organs was generally higher in the P5 treatment (basal ratio + 2.5% Curcuma xanthorhiza Roxb flour +0.04% Kaempferia galangan L. flour +120 ppm mineral zinc). Meanwhile, the relative weight of lymphoid organs was greater in the treatment of ginger flour, kencur flour and zinc minerals than the control. The use of Curcuma xanthorhiza Roxb flour, Kaempferia galangan L. flour and zinc minerals did not show any bad effects based on the relative weight of the digestive organs and lymphoid organs of broiler chickens.Keywords: temulawak, kencur, zinc minerals, broiler, lymphoid, digestive organ
Biomassa Tajuk dan Laju Pertumbuhan Relatif Digitaria ciliaris dan Arachis sp dalam Pertanaman Campuran
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh imbangan pertanaman campuran antara Digitaria ciliaris dan Arachis sp terhadap pertumbuhan kedua tanaman yang dilihat dari pertumbuhan tunas, biomassa tajuk dan laju pertumbuhan relatif. Pelaksanaan penelitian berlokasi di Kota Baru, Jambi. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain Digitaria ciliaris, Arachis pintoi, Arachis glabrata, pupuk urea, KCl, dan TSP. Perlakuan yang digunakan adalah imbangan Digitaria cilliaris (Dc) dengan Arachis pintoi (Ap) dan Digitaria cilliaris (Dc) dengan Arachis glabrata (Ag) dalam pertanaman campuran meliputi, Dc:Ap (0:4) ; Dc:Ap (1:3); Dc:Ap (2:2); Dc:Ap (3:1); Dc:Ap (4:0); Dc:Ag (0:4); Dc:Ag (1:3); Dc:Ag (2:2); Dc:Ag (3:1); dan Dc:Ag (4:0). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 10 perlakuan imbangan pertanaman campuran antara Digitaria cilliaris (Dc) dengan Arachis pintoi (Ap) dan Digitaria cilliaris (Dc) dengan Arachis glabrata (Ag) dengan 3 kelompok. Peubah yang diamati meliputi jumlah tunas, biomassa tajuk dan laju pertumbuhan relatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertanaman campuran berpengaruh nyata (p0.05) on the number of shoots, biomass and relative growth rates. It was concluded that the best mixed cropping balance was between Digitaria ciliaris and Arachis pintoi with ratio 3:1. Keyword : Arachis pintoi, Arachis glabrata, Digitaria ciliaris, mixed cropping, relative growth rate
Sifat Fisik Pellet Kulit Ari Biji Kedelai Fermentasi EM4 dengan Lama Penyimpanan Berbeda
ABSTRAKPakan merupakan faktor terpenting dalam peningkatan usaha peternakan, kurangnya ketersediaan pakan akan mempengaruhi usaha peternakan tersebut. Perlu dilakukan pembuatan pakan alternatif dengan memanfaatkan limbah hasil agroindustri berupa kulit ari biji kedelai dalam pembuatan pellet. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kualitas fisik batas waktu penyimpanan yang terbaik yang tidak mempengaruhi kualitas fisik pellet dengan lama penyimpanan yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Peubah dalam penelitian adalah kualitas fisik pellet meliputi (kadar air, berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, sudut tumpukan, ketahanan benturan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lama penyimpanan yang berbeda memperbaiki kualitas fisik pellet dilihat dari berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, sudut tumpukan, ketahanan benturan. Penelitian ini menunjukkan bahwa lama penyimpanan 2 minggu merupakan perlakuan terbaik dalam menghasilkan kualitas fisik pellet.Kata Kunci: kulit ari biji kedelai, sifat fisik,pellet, lama penyimpanan.Physical Qualities of Soy Bean Husk Pellet Fermented with EM4 on Different Storage TimeABSTRACTFeed is the most important factor in improving livestock business, lack of feed availability will affect the advancement of a livestock business. It is necessary to make alternative feed by utilizing waste of agroindustry, for example, soybean husk in pellet form. The purpose of this study to examine the storage time effect on the physical quality of pellets. The method used in this research was a completely randomized design with 5 treatments and 5 replications. The variables observed in the study were physical qualities of pellet including moisture, specific gravity, pile density, pile compaction density, pile angle, impact resistance. The results of this study indicate that different storage times affect the physical quality of the pellet in terms of specific gravity, pile density, pile compaction density, pile angle, impact resistance. The 2 weeks storage time is the best treatment in producing the best physical quality pellet.Keywords: soybean husk, physical properties, pellet, storage tim
Perbandingan Penampilan Reproduksi Sapi Kuantan dengan Sapi Bali Betina di Kecamatan Inuman Kabupaten Kuantan Singingi
ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penampilan reproduksi sapi kuantan dan sapi bali. Total sampel yang digunakan adalah 80 ekor sapi betina yang terdiri dari 40 ekor sapi kuantan dan 40 ekor sapi bali. Data didapatkan dari responden dan pengamatan langsung di lapangan. Analisis data dilakukan dengan uji t. Parameter yang diukur adalah umur bunting pertama, days open, lama bunting dan calving interval. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penampilan reproduksi sapi bali lebih baik dari sapi Kuantan dengan umur bunting pertama (20,35±2,12 bulan vs 21,75±1,93 bulan), days open (110,25±8 hari vs 114,75±9,93 hari) dan calving interval (388,13±9,65 hari VS 392,25±9,25 hari). Namun sapi bali dan sapi kuantan memiliki lama bunting yang sama.Kata kunci: sapi bali, sapi kuantan, calving interval, lama bunting, days openThe Comparison of Reproductive Appearance of Kuantan Cattle with Bali Cattle in Inuman District, Kuantan Singingi RegencyABSTRACTThe purpose of this study was to evaluate the reproductive performances of kuantan and bali cattle. The total sample used was 80 cows consisting of 40 Kuantan cows and 40 Bali cows. Data were obtained from respondents using questionnaires and direct field observations. Data analysis was performed by t-test. The parameters measured were age at first pregnancy, days open, gestation periods, and calving interval. The results showed that age at first pregnancy of kuantan and bali cattle was 21.75 ±1.93 months vs 20.35±2.12 months, days open was 114 .75±9.93 days vs 110.25±8 days and calving interval was 392.25±9.25 days vs 388.13±9.65 days, respectively. In conclusion, the reproductive performance of bali cattle was better than kuantan cattle. However, kuantan and bali cattle have the same length of pregnancy.Keywords: bali cattle, kuantan cattle, calving interval, gestation periods, days ope
Produktivitas Kambing Kacang dengan Pemberian Complete Feed yang Mengandung Berbagai Jenis Tepung Bonggol Pisang
ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produktifitas kambing kacang yang diberi complete feed yang mengandung tepung berbagai jenis bonggol tanaman pisang. Materi yang dikaji dalam penelitian ini adalah enam jenis complete feed. Complete feed yang mengandung tepung bonggol dari 5 varietas tanaman pisang. Complete feed disusun dengan komposisi bahan penyusun complete feed. Ternak yang digunakan 18 ekor kambing kacang jantan rataan bobot badan awal, 15,42±1,98 kg (CV:13,73 %) umur 10 – 15 bulan. Ternak diberi complete feed yang mengandung tepung bonggol pisang selama 60 hari. Kandang berukuran 12 m x 6m, konstruksi berlantai panggung setinggi 140 cm, petak kandang yang berukuran 1 x 1 m dengan tinggi 130 cm, dilengkapi tempat minum. perlakuan berupa 6 jenis complete feed dengan formulasi yang berbeda, terdiri dari CF0, CF1, CF2, CF3, CF4 dan CF5 yang mengandung tepung bonggol pisang yang berbeda varietasnya dan perlakuan kontrol (CF0). Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan formula complete feed yang mengandung tepung bonggol berbagai varietas pisang. Variabel penelitian antara lain: Konsumsi bahan kering, konsumsi energi. kecernaan energi, glukosa darah dan pertambahan bobot badan harian (PBBH). Hasil penelitian formulasi complete feed mengandung tepung bonggol pisang batu perlakuan (CF2) dan kepok (CF3) menghasilkan produktivitas dan respon Peformance kambing kacang terbaik dibandingkan perlakuan complete feed yang mengandung tepung bonggol pisang ambon, susu, raja, dan perlakuan kontrol. Tepung bonggol pisang kapok dan batu dapat digunakan sebagai salah satu campuran complete feed untuk ternak kambing kacang.Kata kunci: complete feed, produktivitas kambing kacang tepung bonggol pisangProductivity in Kacang Goats with Complete Feeds That Contain Various Types of Banana Weed FlourABSTRACTThe purpose of this study was to determine the productivity in kacang goats which were given a complete feed containing flour of various types of banana plant weevils. The material studied in this study were six complete types of feed. Complete feed containing weevil flour from 5 banana plant varieties. Complete feed is prepared with a complete feed composition. The cattle used were 18 male bean goats, mean initial body weight, 15.42±1.98 kg (CV: 13.73%) aged 10-15 months. Livestock is given complete feed containing banana weevil flour for 60 days. The cage is 12 m x 6m in size, construction has a floor platform as high as 140 cm, the enclosure is 1 x 1 m in size and 130 cm in height, equipped with a drinking area. The treatment was in the form of 6 complete types of feed with different formulations, consisting of CF0, CF1, CF2, CF3, CF4, and CF5 containing banana weevil flour with different varieties and control treatment (CF0). The research design used was a completely randomized design with five treatments of complete feed formulas containing hump flour of various banana varieties. The research variables include dry matter consumption, energy consumption energy digestibility, blood glucose, and daily body weight gain. The results of the research on the complete feed formulation containing batu banana hump flour (CF2) and kepok (CF3) treatment resulted in the best productivity and performance response of kacang goat compared to the complete feed treatment containing ambon banana hump flour, Susu, Raja, and control treatments. Banana kapok and batu hump flour can be used as a complete feed mixture for kacang goats. KJITRO (Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis) is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. eywordJITRO (Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis) is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. s:cJITRO (Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis) is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. omplete feed, kacang goat productivity, banana hump flou
Profil Lemak Darah pada Itik Periode Layer yang diberi Penambahan Silase Limbah Ikan Terbang (Exocoetidae)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk megetahui level penambahan silase limbah ikan terbang (Exocoetidae) terhadap profil lemak darah pada itik periode layer. Penelitian dilakuakan selama 42 hari dengan masa adaptasi selama 14 hari di kandang percobaan Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Sulawesi Barat. Rancangan peneltian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 Perlakuan dan 5 ulangan, dengan masing-masing ulangan diisi 2 ekor itik, sehingga itik yang digunakan adalah 40 ekor. Itik yang digunakan berumur 20 minggu dengan berat 1500 ± 80 gram. Masing-masing perlakuan terdiri atas P0 = Ransum basal, P1 =Ransum basal + 5% silase limbah ikan terbang, P2 = Ransum + 7,5% silase limbah ikan terbang,P3 = Ransum basal + 10% silase ikan terbang. Parameter yang diamati adalah kadar kolesterol, trigliserida, HDL, dan LDL darah. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan anova dengan uji lanjut jarak berganda duncant. Hasil penelitian menunjukan kadar kolesterol darah berkisar 92,8-200,6 mg/dl, Trigliserida 66,6-200,3 mg/dl, HDL berkisar 41,7-75,2 mg/dl, LDL berkisar 31,6-94,6 mg/dl. Hasil anova menunjukan bahwa penambahan silase limbah ikan terbang kadar kolesterol darah berpengaruh nyata (p0,05) terhadap kadar trigliserida, HDL, dan LDL. Penambahan silase limbah ikan terbang 10% (P3) cenderung menurunkan kadar kolesterol darah itik periode layerKata Kunci: kolesterol, HDL, ttik, LDL, trigliseridaBlood Lipid Profile of Laying Ducks Given Dietary Supplementation of Flying Fish (Exocoetidae) Waste SilageABSTRACTThis experiment aimed to evaluate the effect of dietary supplementation of flying fish (exocoetidae) waste silage (FFWS) on the blood lipid profile of laying ducks. The experiment was conducted in the experimental farm of the Faculty of Animal and Fisheries Sciences, Universitas Sulawesi Barat for 42 d which is started with 14 d of the adaptation period. A total of 40 laying ducks weighing 1500-1600 g were maintained for 20 weeks and subjected to 4 dietary treatments with 5 replicates according to a completely randomized design (CRD), giving a total of 20 experimental units. The treatments were: P0 = control diet; P1 = control diet + 5% FFWS; P2 = control diet + 7,5% FFWS; and P4 = control diet + 10% FFWS. Variables observed were cholesterol, triglycerides (TG), HDL, and LDL concentrations. Results showed that the concentrations of cholesterol, TG, HDL, and LDL were 92,8-200,6 mg/dL, 66.6-200,3 mg/dL, 41,7-75,2 mg/dL, and 31,6 – 94,6 mg/dl, respectively. Statistical analysis showed that dietary FFWS supplementation had a significant effect on blood lipid concentration (p0.05). Supplementing FFWS into the laying ducks diet at 10% tended to reduce cholesterol blood concentration of laying ducks. Keywords: cholesterol, HDL, laying ducks, LDL, trigliserid
Potensi Pen gembangan Sapi Sumba Ongole berdasarkan Pemanfaatan Limbah Pertanian: Studi Kasus Kabupaten Sumba Timur
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji populasi dan struktur populasi sapi potong Sumba Ongole, potensi daya dukung limbah tanaman pangan guna pengembangan industri sapi potong serta menghitung kapasitas penambahan populasi ternak ruminansia (KPPTR). Data sekunder dianalisa menggunakan model analisis deskriptif, dan analisis kapasitas penambahan populasi ternak ruminansia (KPPTR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi ternak di Kabupaten Sumba Timur sebesar 38.006 ST. Potensi limbah tanaman pangan berupa jerami diseluruh wilayah Kabupaten Sumba Timur sebesar 221.892 ton BK/ ha dengan produksi limbah terbesar berasal dari jerami jagung (38,62%), diikuti secara berturut-turut oleh jerami padi sawah (37.88%), jerami padi ladang (15,93%), jerami kacang tanah (3,13%), jerami ubi jalar (1,59%), jerami kacang hijau (0,57%) dan kacang kedelai (0,19%). Potensi limbah tanaman pangan ini mampu menampung ternak sejumlah 97.321 ST dan masih mampu menampung ternak sejumlah 59.315 ST. Nilai KPPTR tertinggi terdapat pada Kecamatan Lewa, yaitu sebesar 7.349 ST dengan pemanfaatan jerami limbah tanaman pangan sebesar 77,8 %, sementara Kecamatan Rindi memiliki nilai KPPTR terendah yaitu sebesar -1.309 ST, dengan pemanfaatan jerami limbah tanaman pangan sebesar -29,7%. Kata kunci: sapi potong, limbah tanaman pangan, kpptr Potential Development of Sumba Ongole Cattle based on Agricultural Waste Utilization: A Case Study of East Sumba RegencyABSTRACTThe research aimed to study the population and population structure of Sumba Ongole beef cattle, the potential carrying capacity of food crop byproduct for the development of the beef cattle industry and to calculate the capacity of ruminant animal addition. The secondary data were analyzed using descriptive analysis models, and analysis of capacity of ruminant animal addition. The results showed that the structure of livestock population in East Sumba Regency was 38,006 AU. Potential food crop byproduct in the form of straw in the entire area of East Sumba Regency amounted to 221,892 tons DM/ha with the largest byproduct production coming from corn straw (38.62%), followed respectively by rice straw (37.88%), dryland rice straw (37.88%) 15.93%), peanut straw (3.13%), sweet potato straw (1.59%), green bean straw (0.57%) and soybean straw (0.19%). Potential food crop byproduct is able to accommodate a number of livestock 97,321 AU and still able to accommodate livestock as many as 59,315 AU. The highest Capacity of Ruminant Animal Addition value is in Lewa District, which is 7,349 AU with utilization of food crop byproduct straw at 77.8%, while Rindi District has the lowest capacity of ruminant animal addition value of -1.309 AU with utilization of food crop byproduct straw at -29.7%.Keywords: beef cattle, food crop byproduct, capacity of ruminant animal additio
Identifikasi Fungi Mikoriza Arbuskula pada Rizhosfer Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
ABSTRAKFungi mikoriza arbuskula (FMA) sangat berperan dalam memacu pertumbuhan hijauan tanaman pakan ternak. Hijauan tanaman pakan khususnya rumput dan leguminosa. FMA telah banyak diteliti dan teridentifikasi berbagai jenisnya pada rizhosfer tanaman leguminosa jenis pohon. Jenis FMA belum diketahui pada tanaman hijauan pakan ternak khususnya rumput gajah yang tumbuh di Sulawesi Tenggara, oleh karena itu sangatlah penting dilakukan penelitian mengenai identifikasi FMA pada tanaman rumput gajah. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis fungi mikoriza arbuskula pada rizhofer rumput gajah. Sampel tanah dan sampel akar rumput gajah diambil masing-masing sebanyak 500g. Analisis sampel tanah untuk mengidentifikasi FMA dilakukan di pusat Penelitian Biologi LIPI Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada rizhosfer rumput gajah ditemukan 5 jenis fungi mikoriza arbuskula dari 3 genus (Glomus, gigaspora dan acalauspora) yaitu Glomus sp (1 spora), gigaspora sp (57 spora), giga spora gregaria N.C. Schenck & T.H. Nicolson (48 spora), Acaulospora tuberculata Janos & Trappe (12 Spora) dan Acaulospora scrobiculata Trappe (2 spora). Jenis FMA terjadi kolonisasi pada rizhosfer rumput gajah, ditandai dengan ditemukannya struktur FMA. Struktur FMA yang ditemukan pada akar rumput gajah adalah hifa internal dan hifa eksternal. Persentae kolonisasi FMA pada akar rumput gajah berkisar 47-88% dengan rata-rata 72,93%.Kata kunci: mikoriza, rumput gajah, pennisetum, glomus Identification of Arbuscular Mycorrhiza Fungi in the Rhizosphere of Elephant Grass (Pennistum purpureum)ABSTRACTArbuscular mycorrhizal fungi (AMF) plays a role forage growth of animal feed crops. Forage feed plants, especially grass and Leguminosae. AMF has been widely studied and identified in various types in the rhizosphere of legume tree plants. The type AMF is not widely known in forage animal feed, especially elephant grass that grows in Southeast Sulawesi, therefore it is very important to research the identification of AMF in elephant grass plants. The study aims to identify the arbuscular mycorrhiza fungi in the elephant grass rhizosphere. Samples of rhizosphere soil and elephant grassroots samples were taken by as much as 500g each. Analysis of soil samples to identify AMF was conducted at LIPI Bogor Biological Research Centre. Analysis of soil samples to identify AMF was conducted at LIPI Bogor Biological Research Center. The results showed in the rhizosphere elephant grass found 5 types of AMF from 3 genera (glomus, gigaspora, and acalauspora) namely glomus sp. (1 spora), gigaspora sp. (57 spora), gigaspora gregaria N.C. Schenk & T.H Nicolson (48 spora), acaulospora tuberculata Janos & Trappe (12 spora), and acaulospora scrobiculata Trappe (2 spora). Colonization has occurred in the rhizosphere of elephant grass, characterized by the discovery of AMF structures. The AMF structures found at elephant grassroots are internal hyphae and external hyphae. The colonization AMF percentage at the elephant grassroots ranges 47-88% with average of 72.93%.Keywords: mycorrhiza, elephant grass, pennisetum, glomu
Kurva Pertambahan Bobot Badan Domba Garut Jantan Umur 13-16 Bulan yang Diberi Ransum Mengandung 40% Hijauan dan 60% Konsentrat
Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2019 Februari 2020 di Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Pengembangan dan Perbibitan Ternak Domba dan Kambing (UPTD BPPTDK) Margawati, Garut, Jawa Barat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kurva pertambahan bobot badan Domba Garut jantan umur 13-16 bulan yang diberi ransum pada imbangan 40% hijauan dan 60% konsentrat. Domba garut jantan yang digunakan berjumlah 8 ekor yang dipelihara selama 12 minggu. Kurva PBBH dianalisis menggunakan aplikasi Curve Expert, model kurva terbaik ditentukan berdasarkan persamaan regresi yang memiliki koefisien determinasi (R2) terbesar dengan standart error (SE) yang terkecil. Hasil penelitian menghasilkan 3 model kurva dengan nilai R2 yang besar dengan SE yang kecil yaitu Fungsi Rasional (R2 = 0,999; SE = 10,31), Fungsi Eksponensial (R2 = 0,998; SE = 17,91) dan Fungsi Polinomial (R2 = 0,978; SE = 73,54). Model kurva PBBH terbaik diperoleh pada model kurva fungsi rasional karena memiliki R2 yang paling besar dengan SE yang paling kecil.Kata kunci: pertambahan bobot badan harian, domba garut, hijauan, konsentrat Body Weight Growth Curve of Garut Sheep Aged 13-16 Months Feed Ration Containing 40% Grass and 60% ConcentrateABSTRACTThe study was conducted in November 2019-February 2020 in Sheep and Goat Development and Breeding Center, Margawati, Garut, West Java. The study aimed to determine the average daily gain (ADG) curve of male garut sheep aged 13-16 months which were given rations at a balance of 40% forage and 60% concentrate. There are 8 male garut sheep used that are kept for 12 weeks. The ADG curve was analyzed using the Curve Expert application program, the best curve model was determined based on a regression equation that has the largest coefficient of determination (R2) with the smallest standard error (SE). The results of the study produced 3 curve models with large R2 values with small SE, namely Rational Functions (R2 = 0.999; SE = 10.31), Exponential Functions (R2 = 0.998; SE = 17.91) and Polynomial Functions (R2 = 0.978; SE = 73.54). The best ADG curve model is obtained in the rational function curve model because it has the largest R2 with the smallest SE.Keywords: average daily gain (ADG), concentrate, forages, garut shee