Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis
Not a member yet
440 research outputs found
Sort by
Kadar Tanin, Kalsium (Ca), dan Fosfor (P) Tepung Kulit Pisang Fermentasi dengan Cairan Rumen Kambing
ABSTRAK Kulit pisang merupakan hasil samping pengolahan makanan yang dapat digunakan sebagai pakan ternak. Kadar tanin yang tinggi pada kulit pisang membatasi penggunaannya sebagai pakan monogastrik. Kandungan tanin dalam bahan pakan dapat dikurangi dengan teknologi fermentasi. Mikroorganisme yang berperan dalam proses fermentasi dapat diperoleh dari cairan rumen hewan ruminansia seperti kambing. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kadar cairan rumen kambing terhadap kadar tanin, kalsium (Ca), dan fosfor (P) tepung kulit pisang kepok. Rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan lima ulangan digunakan dalam penelitian ini. Perlakuannya adalah R0: tepung kulit pisang kepok + cairan rumen 0% (kontrol), R1: tepung kulit pisang kepok + cairan rumen 30%, R2: tepung kulit pisang kepok + cairan rumen 40%, R3: tepung kulit pisang kepok + 50 % cairan rumen. Proses fermentasi dilakukan selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar cairan rumen kambing memiliki kandungan tanin dan kalsium yang lebih rendah secara nyata (P0,05) terhadap kadar fosfor pada tepung kulit pisang. Disimpulkan bahwa penggunaan cairan rumen kambing hingga 40% dapat menurunkan kandungan tanin dan kalsium pada tepung kulit pisang.Kata kunci: cairan rumen, fermentasi, tepung kulit pisang kepokTannin, Calcium (Ca), and Phosphorus (P)Content of Banana Peel Flour Fermented by Goat Rumen FluABSTRACTBanana peel is a food processing by-product that can be used as animal feed. High tannin levels of banana peels restrict its use as monogastric animals feed. The tannin content of feed ingredients can be reduced by fermentation technology. Microorganisms that play a role in the fermentation process can be obtained from the rumen fluid of ruminants like a goat. The objective of this research was to determine the effect of goat rumen fluid levels on the content of tannins, calcium (Ca), and phosphorus (P) of Kepok banana peel flour. A completely randomized design with four treatments and five replicates was used in this study. The treatments were R0: banana peel flour + 0% rumen fluid (control), R1: banana peel flour + 30% rumen fluid, R2: banana peel flour + 40% rumen fluid, R3: banana peel flour + 50% rumen fluid. The fermentation process was carried out for 7 days. The results showed that goat rumen fluid levels had significantly (P0.05) on phosphorus level in banana peel flour. In conclusion, the use of goat rumen fluid up to 40 % can reduce the content of tannins and calcium of banana peel flour.Keywords: rumen fluid, fermentation, kepok banana peel flou
Efek Sinbiotik Bacillus subtilis dan Biji Asam (Tamarindus indica L.) terhadap Kualitas Fisik Daging dan Lemak Abdominal Ayam Broiler
ABSTRAK Penggunaan antibiotik mengakibatkan resistensi bakteri dan akumulasi residu pada daging ayam, selain itu antibiotik dapat membunuh semua mikrofloral pada saluran pencernaan, sehingga mikrofloral yang bermanfaat bagi tubuh juga akan mati. Penggunaan probiotik, prebiotik, dan sinbiotik menjadi alternatif pengganti peran antibiotik karena aman dan tidak membahayakan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh sinbiotik berbasis probiotik Bacillus subtilis dan prebiotik biji asam jawa (Tamarindus indica L) terhadap kualitas fisik daging dan lemak abdominal ayam broiler. Penelitian ini menggunakan 200 ekor ayam broiler umur satu hari yang dibagi menjadi lima perlakuan dan empat ulangan, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan sebagai berikut: P0 (kontrol), P1 sinbiotik (2 mL probiotik dan 2 g prebiotik), P2 sinbiotik (2 mL probiotik dan 4 g prebiotik), P3 sinbiotik (4 mL probiotik dan 2 g prebiotik), dan P4 sinbiotik (4 mL probiotik dan 4 g prebiotik). Sampel daging yang menjadi variabel pengamatan berasal dari penyembelihan ayam broiler umur 36 hari, yang diambil empat ekor secara acak pada setiap perlakuan. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam ANOVA. Parameter yang diamati adalah pH, daya ikat air, susut masak daging bagian dada dan paha, serta lemak abdominal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinbiotik berbasis probiotik Bacillus subtilis dan prebiotik biji asam pada pakan memberikan pengaruh nyata (p0,05) terhadap lemak abdominal. Pemberian sinbiotik pada pakan ayam broiler mempengaruhi penurunan pH dan daya ikat air, serta kenaikan susut masak daging dada dan paha ayam broiler.Kata kunci: sinbiotik, Bacillus subtilis, biji asam, ayam broiler The Effect of Synbiotics Bacillus subtilis and Tamarind Seed (Tamarindus indica L) on the Physical Quality Meat and Abdominal Fat of Broiler ABSTRACT The study aims to determine the effect of the synbiotic-based Bacillus subtilis as probiotic and Tamarind seed (Tamarindus indica L.) as prebiotic on the physical quality of meat and abdominal fat in broiler chickens. This research used 200 broilers of one day age divided into five treatments and four replications, used a completely randomized design (CRD) with the following treatments: P0 (control), P1 synbiotic (2 mL probiotic and 2 g prebiotic), P2 synbiotic (2 mL probiotic and 4 g prebiotic), P3 synbiotic (4 mL probiotic and 2 g prebiotic), and P4 synbiotic (4 mL probiotic and 4 g prebiotic). The meat sample as the observation variable came from the slaughter of broiler chickens aged 36 days, which were taken four broilers randomly for each treatment. Data were analyzed using ANOVA analysis of variance. The parameters observed were pH, water holding capacity, cooking loss of breast and thigh meat, and abdominal fat. The results showed that the synbiotic-based Bacillus subtilis as probiotic and tamarind seed as prebiotic in the feed had a significant effect (p0.05) on abdominal fat. Giving synbiotics to broiler chicken feed affects the decreased pH and water holding capacity, and increases in cooking losses of broiler chicken breast and thigh meat. Keywords: synbiotic, Bacillus subtilis, tamarind seed, broiler chicke
Identifikasi Hijauan Makanan Ternak di Lahan Pertanian dan Padang Penggembalaan Kecamatan Haharu Kabupaten Sumba Timur
ABSTRAK Padang penggembalaan perlu dikelola dan didata kondisinya karena sebagai sumber pakan utama bagi ternak gembala di Pulau Sumba. Rumput alam di padang penggembalaan dan lahan pertanian Kecamatan Haharu Kabupaten Sumba Timur memiliki jenis yang beragam dan merupakan pakan utama yang dikonsumsi oleh ternak ruminansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi jenis-jenis rumput dan komposisi kimia rumput alam di padang penggembalaan dan lahan pertanian Kecamatan Haharu Kabupaten Sumba Timur. Penelitian menggunakan metode survei dan pengamatan langsung di lapangan. Pengambilan sampel dilakukan pada 4 titik yakni Desa Wunga, Napu, Praibakul, dan Rambangaru. Sampel rumput alam yang diperoleh diidentifikasi menggunakan referensi buku indentifikasi rumput alam. Pengujian komposisi kimia dengan analisis proksimat. Hasil penelitian identifikasi rumput alam lokal sebagai berikut: mbelar penji (Heteropogon insignis), moru kapuka (Sorghum nitidum), wolu kamemu (Brachiaria decumbes), mapu bokul (Themeda triandara), mapu baokul kangadu (Hetropogon contortus), kahanga keri (Ischaemun timorense), bara minah (Brachiaria humidcola), kandaung hondu karambo (Cynodon dacylon), Kandaung hira panggu (Cynodon dactylon (L) Pers.), kandaung mmbata kambaku (Digitaria ciliaris), uhu randu (Echinochloa cruss-galli), ndaica (Panicum maximum), ilah (Saccharum spontaneum). Kesimpulan, rumput alam di Kecamatan Haharu terdapat 12 spesies, rumput alam uhu randu, kandaung mbata kambaku, kandaung hondu karambo memiliki komposisi kimia yang lebih baik dibanding rumput alam yang lainnya.Kata kunci: hijauan, padang penggembalaan, lahan pertanian Green Fodder Identification on Agriculture Land and Pasture of Haharu Sub District in East Sumba RegencyABSTRACTPasture condition needs to be managed and recorded because as the main feed source for livestock shepherd on the island of Sumba. Natural grass in the grazing fields and agricultural land of Haharu District, East Sumba Regency has various types and is the main feed consumed by ruminants. This study’s purpose to explore the types of grass and the chemical composition of natural grass in the pasture and agricultural land in the Haharu District of East Sumba. The research used survey methods and direct field observations. Sampling was conducted at 4 points i.e Wunga, Napu, Praibakul, and Rambangaru villages. The natural grass samples obtain were identified using a natural grass identification book reference. The research results identified local natural grasses as follows; mbelar penji (Heteropogon insignis), moru kapuka (Sorghum nitidum), wolu kamemu (Brachiaria decumbes), mapu bokul (Themeda triandara), mapu baokul kangadu (Hetropogon contortus), kahanga keri (Ischaemun timorense), bara minah (Brachiaria brizantha), kandaung hondu karambo (Cynodon dacylon), kandaung hira panggu (Cynodon dactylon (L) Pers.), kandaung mmbata kambaku (Digitaria ciliaris), uhu randu, dan ndaica. In conclusion, the grassland in District Haharu there were 12 species, uhu randu, kandaung mbata kambaku, kandaung hondu karambo grassland have better chemical composition than the other grassland.Keywords: forage, pasture, agricultural land
Asosiasi Gen TGF-β2 dengan Ukuran-Ukuran Tubuh pada Ayam Tolaki
ABSTRAKAyam tolaki merupakan ayam lokal yang berasal dari Sulawesi Tenggara yang memiliki beberapa keunggulan seperti daya tahan tubuh yang lebih tinggi terhadap virus dan bakteri serta memiliki pertumbuhan yang beragam. Sifat-sifat unggul tersebut dikontrol oleh beberapa major gen, salah satunya adalah Transforming growth factor-beta 2 (TGF-β2). Transforming growth factor-beta 2 (TGF-β2) adalah kelompok gen growth hormone (GH) yang berperan sebagai pengontrol sifat pertumbuhan ayam dan termasuk dalam kelompok sitokin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asosiasi gen TGF-β2 dengan ukuran-ukuran tubuh ayam tolaki. Sampel penelitian menggunakan 60 ekor ayam tolaki. Data tentang ukuran tubuh yang diamati meliputi: panjang punggung, panjang femur, panjang shank, panjang tibia, lingkar dada dan panjang sayap. Polimorfisme gen TGF-β2 diidentifikasi menggunakan metode PCR-RFLP. Hasil identifikasi ditemukan 2 alel, yaitu alel T dan alel C dan 3 genotipe yaitu TT, TC, dan CC. Gen TGF-β2 menunjukkan perbedaan (p<0.05) pada panjang femur 9 minggu dan lingkar dada umur 12 minggu. Genotipe CC memiliki panjang femur dan lingkar dada yang lebih tinggi dari genotipe TC dan TT.Kata Kunci: Ayam tolaki, Gen TGF-β2, PCR-RFLP, ukuran tubuh Gen Association TGF-β2 with The Size of The Body in Tolaki ChiABSTRACTTolaki chicken is a local chicken originating from southeast Sulawesi, which has several advantages such as a higher immune system to viruses and bacteria and has a variety of growth. These superior qualities were controlled by several major genes, one of which was Transforming growth factor-beta 2 (TGF-β2). Transforming Growth Factor-beta 2 (TGF-β2) is a group of growth hormone (GH) genes that serve as a controlling nature of chicken growth and belong to the cytokine group. The aim of this research was to find out the gene Association TGF-β2 with the body size of tolaki chickens. Samples of the study used 60 tolaki chicken tails. Data about the body size observed include Length of the back, length of the femur, length of the shank, length of the tibia, chest circumference, and length of the wings. TGF-β2 gene polymorphism is identified using the PCR-RFLP method. The identification results found 2 alels, namely allele T and allele C, and 3 genotypes i.e. TT, TC, and CC. Gen TGF-β2 shows the difference (p< 0.05) in the length of the femur 9 weeks and the chest circumference age 12 weeks. The CC genotyping has a higher femur length and a chest circumference than the TC and TT genotypes.Keywords: Tolaki chicken, Gen TGF-β2, PCR-RFLP, body siz
Respons Fisiologis dan Gambaran Termografi Inframerah Kambing Sapera Induk Kondisi Bunting
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons fisiologis dan gambaran hasil penginderaan termografi inframerah dalam evaluasi kemampuan adaptasi kambing sapera induk kondisi bunting. Sebanyak empat ekor kambing perah sapera induk kondisi bunting dengan kisaran bobot badan 35-40 kg digunakan dalam penelitian ini. Parameter respons fisiologis yang diamati meliputi suhu permukaan kulit, suhu rektal, suhu tubuh, denyut jantung, dan frekuensi pernapasan, sedangkan gambaran termografi inframerah (IRT) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, yaitu area mata, hidung, kaki, badan, ambing, vagina, dan anal. Pengamatan respons fisiologis dan termografi inframerah dilakukan mulai pukul 06.00-18.00 WIB dengan selang waktu pengukuran setiap 2 jam. Data yang terkumpul dianalisis statistik secara deskriptif menggunakan SAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons fisiologis dan hasil penginderaan IRT pada kambing sapera induk kondisi bunting menunjukkan pola ritme harian atau sirkadian di sepanjang hari pengamatan. Kambing sapera induk kondisi bunting memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik, hal ini ditunjukkan dengan nilai parameter respons fisiologis maupun hasil penginderaan IRT yang masih berada dalam kondisi normal.Kata kunci: parameter fisiologis, termografi, inframerah, kambing Physiological Response and Infrared Thermographic Features Sapera Dairy Goat in Pregnant ConditioABSTRACT This study aimed to determine the physiological response and the description of infrared thermography sensing results in evaluating the adaptability of sapera dairy goat in pregnant conditions. A total of four sapera dairy goats in pregnant conditions with a body weight range of 35-40 kg were used in this study. Physiological response parameters observed included skin surface temperature, rectal temperature, body temperature, heart rate, and respiratory rate, while infrared thermography (IRT) images were performed on several parts of the body, namely the eye area, nose, feet, body, udder, vagina, and anal. Observation of physiological responses and infrared thermography was carried out from 06.00-18.00 WIB with a measurement time interval every 2 hours. The collected data were analyzed statistically descriptively using SAS. The results showed that the physiological responses and results of IRT sensing in pregnant sapera dairy goats showed a daily or circadian rhythm pattern throughout the day of observation. Sapera dairy goat in pregnant conditions have a fairly good adaptability, this is indicated by the value of the physiological response parameters and IRT sensing results that are still in normal conditions.Keywords: physiological parameters, thermography, infrared, goa
Milk Production and Fatty Acids Balance of Dairy Goat Fed Diet with Fermented Durio zibethinus Peel
ABSTRACTThe by-product of Durio fruit is huge potential biomass to be utilized as a feed ingredient. However, it needs to be treated physically and biologically such as by fermentation. The objectives of this study were to evaluate nutrient contents, nutrient intakes, nutrient digestibility, milk yield, milk composition, and fatty acid contents in concentrate, milk, and feces of dairy goat fed the diet with a concentrate containing fermented Durio peel flour. The backlogs containing a mixture of Durio peel flour, rice bran, and CaCO3 were fermented with Pleurotus ostreatus for two weeks, air dried, then were ready to be formulated in concentrate. Treatments were FDC 0: basal diet of 55.7% tofu- by-product + 44.3% composite forage; FDC 5: basal diet + Concentrate with 5% fermented Durio peel +25% rice bran; FDC 10: basal diet + Concentrate with 10% fermented Durio peel +20% rice bran; FDC 20: basal diet + Concentrate with 20% fermented Durio peel + 10 rice bran. The experimental design used was a completely randomized design in 4 x 4, 4 treatments, and 4 replications in 40 days. Therefore, there were 16 lactating Nubian crossed goats as experimental units. Results showed there was found that the 5% fermented Durio peel flour in concentrate showed several consistency in some quality. Those were high in crude protein, ether extract, dry matter intake, gross energy, digestibility of nutrients (dry matter, organic matter, ether extract, crude protein, crude fiber, N-free extract, gross energy), milk yield, ECM, MCFA, LCFA, PUFA in milk, C16, unsaturated, a total fatty acid in concentrates, milk, and feces. There were low SCC in milk and low n-6/n-3 in milk that were expected. Therefore, the 5% fermented Durio peel flour and 25% of rice bran in concentrate was considered optimal for lactating dairy goat.Keywords: balance, D. zibethinus, fatty acid, fermente
Potensi Integrasi Ternak Sapi Bali dan Tanaman Pangan di Kabupaten Muna Barat
ABSTRAK Sistem integrasi merupakan alternatif penanggulangan kekurangan pakan ternak sekaligus memberi manfaat bagi tanaman. Penelitian bertujuan menganalis potensi pengembangan ternak sapi bali terintegrasi tanaman pangan di Kabupaten Muna Barat dimulai sejak November 2020 sampai Januari 2021, menggunakan metode perhitungan daya tampung ternak dengan asumsi terdapat peternak yang menerapkan sistem integrasi. Populasi penelitian adalah petani-peternak pada sebelas kecamatan, yaitu Kecamatan Tiworo Kepulauan, Kecamatan Maginti, Kecamatan Tiworo Tengah, Kecamatan Tiworo Selatan, Kecamatan Tiworo Utara, Kecamatan Lawa, Kecamatan Sawerigadi, Kecamatan Barangka, Kecamatan Wadaga, Kecamatan Kusambi, dan Kecamatan Napano Kusambi. Data yang diperoleh dari sebelas kecamatan tersebut dianalisis berdasarkan satuan ternak (ST) untuk melihat potensi pengembangan ternak sapi bali terintegrasi tanaman pangan. Hasil analisis menunjukkan luas panen tanaman pangan di Kabupaten Muna Barat 12.280 hektar dengan produksi pakan dari hasil ikutan tanaman pangan sebesar 34.318.800 kg bahan kering per tahun, mampu menyediakan kebutuhan pakan ternak sebanyak 12.534 satuan ternak. Sistem integrasi ternak dan tanaman pangan sangat potensial untuk diterapkan di Kabupaten Muna Barat.Kata Kunci: integrasi, sapi bali, tanaman pangan Potential Integration of Bali Cattle and Food Crops in West Muna RegencyABSTRACT The integration system is an alternative to overcome the shortage of animal feed while providing benefits for plants. This study aims to analyze the potential for developing bali cattle integrated with food crops in West Muna Regency starting from November 2020 to January 2021, using the cattle carrying capacity calculation method with the assumption that there are farmers who apply an integrated system. The population of this research is farmer-breeder in eleven sub-districts, namely Tiworo Islands District, Maginti District, Central Tiworo District, South Tiworo District, North Tiworo District, Lawa District, Sawerigadi District, Barangka District, Wadaga District, Kusambi District, and Napano Kusambi District. The data obtained from the eleven sub-districts were analyzed based on livestock units (LU) to see the potential for developing integrated bali cattle for food crops. The results of the analysis show that the harvested area of food crops in West Muna Regency is 12.280 hectares with feed production from by-products of food crops of 34.318.800 kg of dry matter per year, capable of providing animal feed needs of 12.534 units of livestock. The livestock and food crop integration system have the potential to be implemented in West Muna Regency.Keywords: integration, bali cows, food crop
Suplementasi Ekstrak Brokoli sebagai Agen Kyuring Alami terhadap Uji Sensorik dan Protein Terlarut Daging Sapi Kornet
ABSTRAKBrokoli dapat digunakan sebagai alternatif untuk dipakai sebagai agen kyuring alami produk daging organik. Brokoli lebih cocok dan lebih sesuai sebagai penambah aroma dan cita rasa pada produk olahan daging dibandingkan dengan sayuran berhijau daun lainnya yang mengandung nitrat yang tinggi. Brokoli memiliki manfaat lain yaitu menormalkan kadar gula darah, menurunkan kadar kolesterol jahat, serta sebagai antioksidan. Tujuan suplementasi ekstrak brokoli sebagai agen kyuring alami pengaruhnya terhadap warna, tekstur, dan protein terlarut daging sapi kornet. Perlakuan pada penelitian ini terdiri atas P1 (0% ekstrak brokoli); P2 (5% penambahan ekstrak brokoli); P3 (10% penambahan ekstrak brokoli); P4 (15% penambahan ekstrak brokoli) dengan ulangan sebanyak empat kali. Data dianalisis menggunakan analisis ragam jika ada pengaruh maka dilakukan uji lanjut berganda Duncan. Hasil penelitian suplementasi ekstrak brokoli sebagai agen kyuring alami berpengaruh nyata terhadap warna dan tekstur, serta berpengaruh sangat nyata terhadap protein terlarut. Suplementasi brokoli 15% memberikan pengaruh yang terbaik.Kata kunci: ekstraksi brokoli, kyuring alami, daging sapi kornet Supplementation of Broccoli Extract as Natural Curing Agent on Sensory Test and Water Soluble Protein of Corned BeeABSTRACT Broccoli can be used as an alternative for natural curing agents for an organic beef product. broccoli is better than other high nitrate content vegetables to increase taste and aroma. Furthermore, it can normalize blood sugar, decrease blood cholesterol, and has antioxidant properties. This study aimed to determine the color, texture, and water soluble protein of beef cornet supplemented by broccoli extract. The treatments experimented were P1 (0% broccoli extract), P2 (5% broccoli extract), P3 (10% broccoli extract), and P4 (15% broccoli extract), each repeated 4 times. The data obtained were analysed by analyzed of variance continued by Duncan test. The results indicated that broccoli extract supplementation significantly affected color, texture, and water soluble protein. 15% broccoli extract supplementation showed the best result.Keywords: broccoli extraction, natural curing agent, corned bee
Performan Hasil Persilangan Simental, Brahman, PO, Limousin dengan Sapi Bali di Kabupaten Kolaka Timur
ABSTRAK Uji performans merupakan cara dalam mengetahui tingkat performance dari keturunan yang dihasilkan. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi performans produksi anak sapi hasil persilangan antara pejantan simental, brahman, peranakan ongole dan limousin dengan induk sapi bali. Pengamatan dilakukan selama delapan bulan dari bulan Januari sampai Agustus 2020. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), kelompok simental-bali, limousin-bali, brahman-bali, peranakan ongole-bali dan bali-bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan tertinggi masing-masing parameter pada umur lahir, bobot badan tertinggi yaitu 27,3±3,03kg (simental-bali), lingkar dada 59,9±2,52cm (simental-bali), panjang badan 57,8±2,11cm (simental-bali), tinggi badan 62,6±1,83 cm (simental-bali) sedangkan pada umur 12 bulan bobot badan tertinggi 174,4±9,48 kg (simental-bali), lingkar dada 144,2±5,81 cm (simental-bali), panjang badan 110,0±4,38cm (simental-bali) dan tinggi pundak 107,0±4,62 (simental-bali). Kesimpulan bahwa persilangan antara induk sapi bali dengan pejantan simental, limousin, brahman, dan PO berpengaruh nyata terhadap performans hasil persilangan mulai dari bobot badan, pertambahan bobot badan dan ukuran dimensi tubuh (lingkar dada, panjang badan dan tinggi pundak). Sapi persilangan pejantan simental dengan induk sapi bali (simental-bali) memiliki bobot badan, laju pertumbuhan dan ukuran dimensi tubuh yang terbaik.Kata Kunci: performans, persilangan, bangsa sapi, Kolaka Timur Performance of Crossing Simmental, Brahman, PO, Limousin with Bali Cow in East Kolaka Regency ABSTRACTPerformance test is a way to find out the level of performance of the offspring produced. The research aims to evaluate the performance of calf production resulting from a cross between males simmental, brahman, peranakan ongole and limousin with bali mother cows. Observations were made for eight months from January to August 2020. Research using randomized group design, simmental-bali, limousin-bali, brahman-bali, peranakan ongole-bali and bali-bali. The results showed that the highest average of each parameter at birth age, the highest body weight is 27,3±3,03kg (simmental-bali), bust 59,9±2,52 cm (simmental-bali), body length 57,8±2,11 cm (simmental-bali), height 62,6±1,83 cm (simmental-bali) while at 12 months the highest body weight 174,4±9,48 kg (simmental-bali), chest girth 144,2±5,81 cm (simmental-bali), body length 110,0±4,38 cm (simmental-bali) and shoulder height 107,0±4,62 (simmental-bali). The conclusion that the cross between the mother cow of bali with studs simmental, limousin, brahman and peranakan ongole has a real effect on the performance of the results of crosses ranging from weight, weight gain and body dimension size (chest circumference, body length and shoulder height). The crossbreeding of simmental bulls with bali cow (simmental-bali) had the best body weight, growth rate and dimensions.Keywords: performans, crosses, cow nation, East Kolak
VFA dan N-NH3 Daun Gamal (Gliricidia sepium) pada Ransum Sapi Potong Secara In Vitro
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian konsentrat dengan daun gamal (Gliricidia sepium) terhadap produksi VFA total dan N-NH3 secara in vitro dengan pakan basal jerami padi dengan rasio konsentrat dan jerami padi 60%:40%. Materi yang digunakan dalam percobaan in vitro adalah cairan rumen berasal dari tiga sapi potong di Rumah Potong Hewan Bantarwuni, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Ransum yang diuji tersusun dari daun gamal berumur satu tahun dan dipanen umur 60 hari berasal dari Kebumen, jerami padi varietas Umbul-umbul, dan konsentrat. Ransum yang diuji adalah jerami padi dengan konsentrat yang digantikan daun gamal dengan taraf 0; 20; 40; 60% BK. Penelitian menggunakan metode eksperimen secara in vitro yang telah dimodifikasi. Variabel yang diukur adalah produksi VFA total dan nitrogen amonia (N-NH3). Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan daun gamal pada ransum ruminansia berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap produksi VFA total dan N-NH3. Penggantian daun gamal sebanyak 40% BK pada ransum mampu menghasilkan produk VFA dan mengalami penurunan pada taraf penambahan 60% BK, sedangkan penggunaan daun gamal pada taraf 60% BK menghasilkan puncak produksi nitrogen amonia (N-NH3).Kata kunci: daun gamal, tanin, VFA total, N-NH3.