Jurnal Agrista
Not a member yet
273 research outputs found
Sort by
Tingkat Efisiensi dan Efektivitas Pupuk Hayati dalam Mensubstitusi Pupuk Nitrogen dan Fosfor pada Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efisiensi substitusi relatif pupuk hayati pada tanaman jagung. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei - September 2015 di kebun percobaan Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK): A=tanpa pemupukan, B=100% NP, C=100% NP + pupuk hayati 50 kg ha-1, D=75% NP + pupuk hayati 50 kg ha-1, E=50% NP + pupuk hayati 50 kg ha-1, F=25% NP + pupuk hayati 50 kg ha-1, G=75% NP + pupuk hayati 100 kg ha-1, H=50% NP + pupuk hayati 100 kg ha-1, I=25% NP + pupuk hayati 100 kg ha-1. Parameter pengamatan terdiri atas berat tongkol berkelobot, berat tongkol tanpa kelobot, berat 100 biji, hasil, relative agronomi effectiveness (RAE) dan efisiensi substitusi relatif (ESR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati pada dosis pupuk NP yang lebih rendah dari rekomendasi belum mampu meningkatkan semua parameter pertumbuhan dan hasil. Efektivitas pupuk hayati masih rendah (RAE100%). Pemberian pupuk hayati 100 kg ha-1 dapat mengefisienkan penggunaan pupuk NP sampai 17% pada tanaman jagung (ESR=17%).Efficiency and Effectiveness of the Application of Biofertilizer on Nitrogen and Phophorus Substitution at the Maize (Zea mays L.)Abstract: The research aimed to determine the relative substitution efficiency rate of biofertilizer in maize. The research conducted in May-September 2015 at experimental garden of Padjadjaran University, Jatinangor, Sumedang. The experiment used randomized block design (RAK): A=without fertilization, B=100% NP, C=100% NP + biofertilizer 50 kg ha-1, D=75% NP + biofertilizer 50 kg ha-1, E=50% NP + biofertilizer 50 kg ha-1, F=25% NP + biofertilizer 50 kg ha-1, G=75% NP + biological fertilizer 100 kg ha-1, H=50% NP + biofertilizer 100 kg ha-1, I=25% NP + biological fertilizer 100 kg ha-1. Parameter observations consist of, cobs weight with husk, cobs weight without husk, 100 seeds weight, yield, relative agronomic effectiveness (RAE) and relative substitution efficiency (RSE). The results showed that the biofertilizer at doses lower NP fertilizer of the recommendations have not been able to increase all parameters of the growth and yield. The effectiveness of biofertilizer remained low (RAE 100%). Application of biofertilizer of 100 kg ha-1 can minimize the use of fertilizers NP until 17% in maize (ESR = 17%)
Uji Patogenisitas Beberapa Isolat Penyakit Busuk Buah Kakao Asal Aceh dan Evaluasi Efektivitas Metode Inokulasi
ABSTRAK. Eksplorasi dan Penapisan Genotipe Kakao Plasma Nutfah Aceh untuk Memperoleh Genotipe Kakao Tahan Penyakit Busuk Buah, merupakan penelitian dasar untuk mendapatkan informasi metode yang efektif dalam melakukan seleksi untuk memperoleh tanaman kakao tahan terhadap penyakit busuk buah. Tujuan penelitian pada tahun pertama ini adalah diperoleh sumber inokulum yang memiliki tingkat patogenisitas yang tinggi, diperoleh metode inokulasi yang efektif, adanya korelasi positif antara tingkat ketahanan di lapangan dan di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil uji patogenisitas asal inokulum yang diperoleh dari buah yang bergejala dilapangan, hamper seluruhnya menunjukkan tingkat patogenesitas yang tinggi. Metode inokulasi buatan yang efektif adalah dengan cara melukai dan menempel baik di daun maupun dibuah. Namun metode inokulasi untuk memperoleh genotype yang tahan pada buah adalah dengan menempelkan potongan inokulum tanpa dilukai.Pathogenicity Test Isolate Some Black Pod Diseases of Cocoa Aceh and Evaluation of the Effectiveness of Inoculation MethodsABSTRACT. Exploration and Screening Genotypes Aceh Cocoa Germplasm Resistant to Acquire Genotype Cocoa Black Pod Disease, is a basic research to obtain information effective method of selecting to obtain cocoa plants resistant to fruit rot disease. The purpose of this study is the first year that has acquired a source of inoculum levels are high pathogenicity, obtained an effective inoculation method, a positive correlation between the level of resistance in the field and laboratory. The results showed that the origin of the inoculum pathogenicity test results obtained from symptomatic fruit in the field, almost entirely showed a high degree of pathogenicity. Effective method of artificial inoculation is to hurt and stuck both in leaf and pod. However, inoculation method for obtaining genotypes resistant to the fruit is by gluing pieces of inoculum unharmed
Aplikasi Beberapa Dosis Herbisida Campuran Atrazina dan Mesotriona pada Tanaman Jagung: I. Karakteristik Gulma
ABSTRAK. Efektivitas herbisida dalam mengendalikan gulma sangat ditentukan oleh dosis herbisida. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis yang tepat untuk mengendalikan gulma pada tanaman jagung. Dosis herbisida campuran atrazina dan mesotriona yang digunakan adalah: 0; 0,5; 1,0; 1,50; 2,0 dan 2,50 L bahan dagang ha-1. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap. Peubah yang diamati adalah: persentase pengendalian gulma, populasi gulma, jenis gulma, bobot kering gulma teki, bobot kering gulma rumput, dan bobot kering gulma berdaun lebar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis herbisida campuran sebanyak 0,5 L bahan dagang ha-1 dapat meningkatkan persentase pengendalian gulma serta menurunkan populasi gulma, jenis gulma, bobot kering gulma teki, bobot kering gulma rumput, dan bobot kering gulma berdaun lebar.The Application of some Dosages of Mixture Atrazine and Mesotrione Herbicides on Corn: I. Weed Characteristics ABSTRACT. Herbicide effectivity for weed control depends on herbicide dosages. This research conducted to find dosage for weed control on corn. Mixture herbicide of atrazine and mesotrione dosages were: 0; 0.5; 1.0; 1.50; 2.0 and 2.50 L formulation ha-1. Completely Randomized Design was used. Variables were: weed control percentage, weed population, weed species, dry weight of sedges, dry weight of grasses, and dry weight of broad leaves. The result showed were herbicide dosages of 0.5 L formulation ha-1could increasing weed control percentages, decreasing of weed population, weed species, dry weight of sedges, dry weight of grasses, and dry weight of broad leaves
Identifikasi Beberapa Varietas Unggul Padi Gogo di Aceh Besar
ABSTRAK. Padi varietas unggul baru merupakan salah satu terobosan inovasi teknologi yang paling mudah diadopsi petani karena teknologi ini murah dan sangat praktis. Tujuan penelitian ini adalah untuk memilih varietas unggul baru padi gogo yang dapat beradaptasi baik di Aceh Besar. Penelitian lapangan dilakukan di kebun petani di desa Turam Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar pada musim kering 2012. Lima varietas yang digunakan yaitu Tuwoti, Situ Patenggang, Situ Bagendit, Limboto, dan Inpago 6 ditata dalam Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Situ Patenggang memiliki pertumbuhan dan komponen hasil yang baik. Situ Patenggang memberikan hasil tertinggi yaitu 4,47 ton ha-1 dan berbeda nyata dengan varietas lainnya. Varietas Situ Patenggang merupakan varietas yang sangat potensial untuk dikembangkan di Aceh Besar.The Identification Some Upland Rice Superior Varieties in Aceh BesarABSTRACT. New varieties of rice is one of the most innovative technology for the most easily adopted by farmers because the technology is cheap and very practical. Adaptation of varieties is needed to know rice performance new superior variety of upland rice can be adaptation in Aceh Besar. A field experiment was conducted at Farmer Farm, to screen suitable upland rice varieties in Aceh Besar District on dry season 2012. Five upland rice varieties ei, Tuwoti, Situ Patenggang, Situ Bagendit, Limboto, and Inpago 6 were evaluated in randomized block design with three replications. The result shows that the performance of rice varieties Situ Patenggang in vegetative stage of growth and yield component are very good. The upland rice variety Situ Patenggang produced the highest grain yield of 4,47 ton ha-1and it was significantly superior to other rice varieties. Varieties Situ Patenggang potential to be developed in Aceh Besar
Pengaruh Penyiangan Gulma dan Sistim Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.)
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyiangan gulma dengan sistim tanam SRI dan sistim tanam konvensional terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terpisah (Split Plot Design) dalam pola RAK faktorial, yang terdiri dari 2 faktor yang di teliti: petak utama yaitu sistem tanam terdiri dari: SRI dan konvensional, dan anak petak yaitu pengaruh penyiangan gulma terdiri dari 3 taraf: penyiangan 20 HST, penyiangan 40 HST, penyiangan 60 HST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyiangan gulma berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil padi yang dibudidayakan secara sistim SRI dan konvensional. Pertumbuhan yang terbaik dan hasil tertinggi pada penelitian ini diperoleh pada sistim SRI yang disiangi pada umur 20 HST. Sedangkan hasil terendah dijumpai pada penyiangan 60 HST menggunakan sistem konvensional.Effect of Weed Mowing and Planting System on Growth and Yield of Rice (Oryza sativa L.).ABSTRACT. The objectives of the research were to study effects of weed mowing using System Rice Intensification (SRI) and conventional transplanting system on growth and yield of rice. The experiment was arranged in a split plot design using factorial randomized block design which consists of 2 checked factors i.e main plot that is transplanting system consists of: SRI and conventional and sub plot that is effect of weed mowing consists of three levels: 20 DAT mowing, 40 DAT mowing, and 60 DAT mowing. Result showed that the mowing of weed affect the growth and yield of rice which conducted using SRI and conventional transplanting system. The best growth and yield in this experiment was obtained by using SRI transplanting system and 20 DAT. While the worst was obtained by using conventional transplanting system and 60 DAT
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Akibat Perbedaan Jarak Tanam dan Jumlah Benih per Lubang Tanam
ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jarak tanam dan jumlah benih per lubang yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun serta untuk mengetahui interaksi antara kedua faktor tersebut. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh dari bulan Oktober sampai Desember 2009. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor yang diteliti yaitu jarak tanam (20 cm x 60 cm, 30 cm x 60 cm dan 40 cm x 60 cm) dan jumlah benih per lubang (1, 2,dan 3 benih per lubang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam berpengaruh sangat nyata terhadap berat buah per tanaman, serta berpengaruh nyata terhadap panjang buah. Buah per tanaman terberat dan terpanjang diperoleh pada jarak tanam 40 cm x 60 cm. Jumlah benih per lubang berpengaruh sangat nyata terhadap diameter buah dan berat buah per tanaman, serta berpengaruh nyata terhadap panjang batang utama umur 15 HST dan jumlah buah per tanaman. Diameter buah terbesar dan buah per tanaman terberat dijumpai pada penggunaan 1 benih per lubang, sedangkan jumlah buah per tanaman terbanyak diperoleh pada penggunaan 3 benih per lubang. Terdapat interaksi yang tidak nyata antara jarak tanam dan jumlah benih per lubang terhadap pertumbuhan dan hasil mentimun.Plant Growth and Yield of Cucumber (Cucumis sativus L.) in Response to Different Spacing and Seed Numbers per HoleABSTRACT. The study was aimed at determining the right spacing and seed numbers per hole on growth and yield of cucumber plants and investigating interactions between the two factors. The study was conducted at the Experiment Station of Agriculture Faculty of Syiah Kuala University, Darussalam, Banda Aceh from October to December 2009. Experiment was arranged in a factorial randomized complete block design (RCBD) 3 x 3 with three replications. Factors studied were plant spacing (20 cm x 60 cm, 30 cm x60 cm, and 40 cm x 60 cm) and seed numbers per hole (1, 2, and 3 seeds per hole). Results showed that plant spacing exerted a highly significant effect on fruit weight per plant and a significant effect on fruit length. The best fruit weight and length were obtained at a spacing of 40 cm x 60 cm. Seed numbers exerted highly significant effects on fruit diameter and fruit weight per plant and significant effects on main stem length at age 15 days after planting and fruit numbers per plant. The best fruit diameter and fruit weight per plant were found at 1 seed per hole, while the best fruit numbers per plant was obtained at 3 seeds per hole. There was no significant interaction between plant spacing and seed numbers per hole on growth and yield of cucumber
Efikasi Beberapa Insektisida Nabati Untuk Mengendalikan Hama Pengisap Polong di Pertanaman Kedelai
ABSTRAK. Hama pengisap polong adalah hama utama yang dapat menyebabkan kehilangan hasil tanaman kedelai baik secara kualitas maupun kuantitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan efektivitas insektisida botani pada beberapa varietas kedelai terhadap serangan hama pengisap polong tanaman kedelai. Species hama pengisap polong yang dijumpai pada tanaman kedelai di lapangan adalah: Riptortus linearis dan Nezara viridula. Ada tiga jenis N. viridula yang teridentifikasi yaitu N. viridula var. torguata, N. viridula var. aurantiaca, dan N. viridula var. smaragdula. Insektisida botani yang digunakan pada penelitian ini memiliki kemampuan yang bervariasi dalam mengendalikan hama pengisap polong pada tanaman kedelai. Ekstrak daun Tephrosia vogelii dan Azadirachta indica dapat menurunkan intensitas kerusakan yang lebih ringan dan berimplikasi pada meningkatnya komponen hasil dibandingkan dengan menggunakan ekstrak daun dan bunga Lantana camara. Ada perbedaan resistensi varietas Kipas Merah dan Anjasmoro terhadap kerusakan oleh hama pengisap polong yang ditunjukkan dalam hal perbedaan intensitas kerusakan, jumlah trikoma, dan hasil. Tingkat kerusakan polong antara varietas Kipas Merah dan Anjasmoro disebabkan karakteristik dalam hal jumlah trikoma, luas permukaan polong, and jumlah polong per cabang. Jumlah trikoma pada varitas Kipas Merah adalah 41,6 trichomes/4 mm2 dan lebih banyak dibandingkan varietas Anjasmoro yaitu sebesar 29,1 trichomes/4 mm2.Efficacy Some Botanical Insecticides for Controlling Pest Pod Sucking in Soybean FieldsABSTRACT. Pod sucking bugs are the important pest that can causing yield loss soybean on quality and quantity. The objectives of the research were to determine effectiveness botanical insecticides and using varieties to pod sucking bugs along with presentation yield soybean. Species pod sucking bugs that identify to soybean plants at location research it is Riptortus linearis and Nezara viridula. There are three kinds of N. viridula that identify that is N. viridula var. torguata, N. viridula var. aurantiaca, and N. viridula var. smaragdula. The botanical insecticide that used in research be possessed of ability have variation in controlling pod sucking soybean. Extract leaf Tephrosia vogelii and Azadirachta indica causing intensity damage that lower more as well as increase component yield than with extract leaf and flower Lantana camara. The are difference resistance varieties Kipas Merah and Anjasmoro to damage pod sucking bugs that showed by difference intensity damage, number of trichomes, and yield. Level damage pod effect injury sucking to varieties Kipas Merah and Anjasmoro diverse follow characteristics morphological at pods varieties soybean as number of trichomes, wide surface pod, and number pod per nodes. Number of trichomes at varieties Kipas Merah that is 41,6 trichomes/4 mm2 many more than with varieties Anjasmoro that is 29,1 trichomes/4 mm2
Pengelompokan Berdasarkan Karakter Morfologi Vegetatif pada Plasma Nutfah Pisang Asal Kabupaten Aceh Besar
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan berbagai jenis pisang (Musa spp.) yang terdapat di Kabupaten Aceh Besar berdasarkan karakter morfologi vegetatif dari berbagai plasma nutfah pisang. Pengamatan meliputi karakter kuantitatif dan karakter kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi pisang dapat dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan tinggi batang semu. Kelompok pertama, kategori batang semu pendek, terdapat 4 aksesi, selanjutnya kategori batang semu sedang, terdapat 9 aksesi dan terakhir kategori batang semu tinggi, terdapat 7 aksesi. Sedangkan berdasarkan 28 karakter kualitatif, terbentuk dendogram yang mengelompokkan aksesi pisang pada 3 kelompok. Kelompok pertama yaitu pisang Bu I, Talon, Nangka, Ayam, Gantang, Mah Sabang, Banten, Mas Aceh, Klat Barat, Lidi, Abin, dan Kapai. Kelompok kedua yaitu pisang Swasa dan Buu. Kelompok ketiga yaitu pisang Wak, Kepok dan Bhem. Berdasarkan karakter tipe lekuk kanal petiol, warna batang semu dasar dan tipe bercak maka kelompok pertama dan kedua diklasifikasikan memiliki genom dominan A (berasal dari Musa acuminata), sedangkan kelompok ketiga memiliki genom dominan B (berasal dari Musa balbisiana).Grouping Based on Vegetative Morphological Character of Banana Germplasm from Aceh Besar DistrictABSTRACT. This study aims to grouping the diversity of banana (Musa spp.) from Aceh Besar District based on vegetative morphological characters of banana germplasm. Observations included quantitative and qualitative characters. Grouping based on pseudostem height were divided into three groups. The first group, short pseudostem, is 4 accessions. The second group, medium pseudostem, are 9 of accession. Last, the third group, high pseudostem, are 7 accessions. While based on 28 qualitative characters, formed dendogram classifying banana accessions into 3 groups. Based on the character type of petoile canal, predominant underlying color of pseudostem and blotches of petiole base, the first and second groups are classified into the group that have dominant genome A (derived from Musa acuminata), while the third group has dominant genome B (derived from Musa balbisiana)
Pengaruh Tingkat Kemasakan Buah dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair Super ACI Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma Cacao L.)
ABSTRAK. Tujuan penelitian ini adalah menentukan tingkat kemasakan buah kakao dan konsentrasi pupuk organik cair Super ACI yang tepat, serta interaksi antara keduanya, untuk menghasilkan bibit kakao yang terbaik. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala sejak Agustus hingga Desember 2011. Unit-unit penelitian disusun berdasarkan rancangan acak kelompok faktorial 3 kali 4 dengan 3 ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis ragam, dan terhadap data yang menunjukkan beda nyata, analisis dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata antara tingkat kemasakan buah kakao dan konsentrasi pupuk organik cair super ACI pada semua peubah yang diamati. Konsentrasi pupuk organik cair super ACI juga tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit kakao. Tingkat kemasakan buah kakao yang tepat untuk menghasilkan benih masak fisiologis dengan tingkat vigor tertinggi adalah yang berwarna hijau kekuningan.The Effect of Fruit Maturity Level and Concentration of Liquid Organic Fertilizer Super ACI to Cacao (Theobroma cacao L.) Seedling GrowthABSTRACT. The purposes of this research are to determine the best cacao fruit maturity level and liquid organic fertilizer Super ACI concentration and also their interaction to achieve the best cacao seedlings. The research conducted at Experimental Station of Agriculture Faculty of Syiah Kuala University, from August to December 2011. Units of treatments arranged according to completely randomized block design, 3 by 4 with 3 replications. Data from observation analyzed with analysis of variance and to them showing significant influenced, continued with honestly significant different test at the level of 5%. The result showed that no significant interaction between treatments to all parameters observed. The concentration of liquid organic fertilizer super ACI also dont has significant influence to cacao seedlings growth. The appropriate cacao fruit maturity level to produce physiologically matured seed with the highest vigor is those with yellowish green in color
Pengaruh Jenis Tanah dan Dosis Fungi Mikoriza Arbuskular pada Tanaman Kedelai Terhadap Sifat Kimia Tanah
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis tanah dan dosis FMA terhadap sifat kimia tanah. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Keutapang, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara, sejak April sampai Oktober 2013. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial. Faktor pertama yaitu jenis tanah: Ultisols Buket Rata, Inceptisols Reuleut dan Andisols Saree. Faktor kedua yaitu dosis Fungi Mikoriza Arbuskular yang terdiri dari enam taraf : 0, 10, 20, 30, 40, dan 50 g pot-1. Peubah yang diamati adalah pH, N-total, P-tersedia dan KTK tanah pada umur tanaman kedelai 45 HST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara mandiri jenis tanah mempengaruhi nilai pH, P-tersedia dan KTK, jenis tanah dengan tingkat kesuburan tanah rendah yaitu tanah Ultisols Buket Rata. Pemberian dosis FMA mampu meningkatkan nilai pH, p-tersedia dan KTK dibandingkan tanpa pemberian FMA. Interaksi antara jenis tanah dengan dosis FMA berpengaruh terhadap N-total tanah. Tanah Inceptisols Reuleut dengan pemberian dosis FMA 20 g pot-1, Andisols Saree dengan pemberian dosis FMA 40 g pot-1 mampu meningkatkan N-total tanah.The Effect of Soil Type and Arbuscular Mycorrhizal Fungi Doses on Soybean of Soil Chemical PropertiesABSTRACT. The aim of this research was to investigate the effect of soil type and Arbuscular Mycorrhizal Fungi doses on soybean plants of soil chemical properties. The research was conducted in Keutapang village Syamtallira Aron subdistrit Aceh Utara from April to October 2013. The experimental design was factorial randomized completely block design. The first factor was soil types: Ultisols from Buket Rata, Inceptisols from Reuleut and Andisols from Saree. The second factor was AMF doses consisted of six levels: 0, 10, 20, 30, 40, 50 g per pot. Variables measured were pH value, total-N, available P, and CEC soil at the age of soybean plants 45 days after planting. The results showed that soil type gave significantly effect to pH value, available P and CEC soil. We also found that soil type with low soil fertility levels are Ultisols from Buket Rata. FMA dosing increased the pH value, available P and CEC compared to without giving FMA. There was a significant interaction between soil types with FMA doses on soil total nitrogen. Inceptisols from Reuleut with FMA dosing 20 g per pot and Andisols from Saree with FMA dosing 40 g per pot is able to increased the soil total nitrogen