Jurnal Agrista
Not a member yet
273 research outputs found
Sort by
HISTO-CYTOLOGICA; CHANGES ACCOMPANIED BY THE FAILURE OF EMBRYOGENESIS UNDER HIGH TEMPERATURE CONDITIOM IN SNAP BEAN (Phaseolus vulgaris)
Dibawah kondisi temperature normal, sel telur telah terjasi pembelahan pada 1 DAA (day after anthesis) sehingga lebih dari dua embrio terdapat didalam embryo sac. Sel embrio ini dikelilingi oleh coenocytic endosperm dengan sederet sel nuclear diobservasi pad adaerah micropil. Sejumlah butiran pati menjadi lebih daripada 10 cel yang panjangnya mencapai 200 m. Pada tahap perkembangan ini, embrio dapat dibedakan sebagai suspwnsor dan embryo proper. Embrio diobservasi berbentuk bulat pada 3 samapai 4 DAA. Dalam kondisi temperatur tinggi tidak didapatkan perubahan struktural yang khusus samapai 1 DAA. Volume ovul berkurang dibandingkan dengan control pada 2 DAA. Selain dari pada itu, sel telur yang takterbuahi dengan integument yang abnormal diobservasi pada 2 dan 3 DAA. Embrio yang kurang berkembang diobservasi baik pada cv. Haibushi maupun cv. Wonder fibawah kondisi temperature tinggi
DAYA ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS PADI GOGO (Oryza sativa L.) PADA TINGKAT NAUNGAN YANG BERBEDA
Abstrak,Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat pertumbuhan dan produksi beberapa varietas padi gogo dalam kondisi naungan yang berbeda. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie dari Mei hingga Agustus 2015. Desain penelitian yang digunakan adalah Split Plot, dengan 3 ulangan. Ada dua faktor yang diteliti, yaitu faktor naungan dan varietas. Faktor naungan menjadi petak utama dan varietas sebagai subplot, faktor naungan terdiri dari 3 taraf perlakuan, yaitu tanpa naungan, naungan 25%, naungan 50%, sedangkan 5 varietas padi terdiri dari Situpatenggang Batu Tegi, Inpago-8, Inpago-4 dan Inpago-5. Dengan demikian ada 15 kombinasi perawatan dengan 45 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh sangat signifikan terhadap klorofil a, tinggi tanaman b / b umur 6, dan 8 minggu setelah tanam, jumlah anakan berumur 4 minggu setelah tanam, luas daun 8 dan 10 minggu setelah tanam. , umur berbunga, panjang malai, berat 1000 butir, jumlah butir yang terkandung, jumlah butir kosong, bobot butir per rumpun dan potensi hasil per ha-1. Naungan yang berbeda secara signifikan mempengaruhi kandungan klorofil b dan memiliki efek yang sangat signifikan pada kandungan klorofil a / b, tinggi tanaman berumur 4, 6, 8 minggu setelah tanam, jumlah anakan berumur 4, 6, 8 minggu setelah tanam, luas daun umur 8 dan 10 minggu setelah tanam, umur berbunga, jumlah anakan produktif, panjang malai, 1000 gabah, jumlah gabah isi, gabah kosong, gabah per rumpun dan potensi hasil per ha-1. Ada interaksi nyata antara varietas dan naungan dari jumlah anakan berumur 6 minggu setelah tanam, jumlah anakan produktif, dan berat 1000 butir, dan ada interaksi yang sangat nyata pada luas daun usia 8, 10 minggu setelah tanam. , umur berbunga, jumlah butir per malai, jumlah butir kosong per malai, berat biji per rumpun dan potensi hasil per ha-1. Varietas situpatenggang adalah varietas terbaik dengan naungan 25% dengan produktivitas tertinggi, sedangkan varietas inpago 4 toleran naungan 50%. 25% naungan adalah tingkat naungan yang masih cocok untuk penanaman padi gogo.Adaptation Power Of Some Gogo Rice Varieties (Oryza Sativa L.) On Different State LevelsAbstract,This study aims to determine the growth rate and production of some upland rice varieties in different shade conditions. The research was conducted in Indrajaya Subdistrict, Pidie Regency from May to August 2015. The research design used was Split Plot, with 3 replications. There are two factors studied, namely shade factor and variety. Shade factors became the main plot and variety as subplot, shade factor consisted of 3 levels of treatment, namely without shade, 25% shade, 50% shade, while 5 rice varieties consisted of Situpatenggang Batu Tegi, Inpago-8, Inpago-4 and Inpago-5. Thus there are 15 combinations of treatments with 45 experimental units. The results showed that the treatment of varieties had a very significant effect on chlorophyll a, b / b height of plants aged 6, and 8 weeks after planting, number of tillers aged 4 weeks after planting, leaf area aged 8 and 10 weeks after planting, age of flowering, panicle length, weight 1000 grains weight, number of grains contained, empty grain number, grain weight per clump and yield potential per ha-1. Different shade significantly affected the chlorophyll content of b and had a very significant effect on chlorophyll content of a / b, plant height aged 4, 6, 8 weeks after planting, number of tillers aged 4, 6, 8 weeks after planting, leaf area aged 8 and 10 weeks after planting, flowering age , the number of productive tillers, panicle length, 1000 grain weight, number of filled grains, empty grain number, grain weight per clump and yield potential per ha-1. There is a real interaction between varieties and shade of the number of tillers aged 6 weeks after planting, the number of productive tillers, and the weight of 1000 grains, and there is a very real interaction on leaf area aged 8, 10 weeks after planting, age of flowering, number of grains per panicle, number of grains empty per panicle, grain weight per clump and yield potential per ha-1. Situpatenggang varieties are the best varieties at 25% shade with the highest productivity, while inpago 4 varieties are 50% shade tolerant. 25% shade is the shade level that is still suitable for upland rice cultivatio
PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TUMBUH DAN KONSENTRASI MOLASE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAMUR MERANG (Volvariella volvaceae L.)
Abstrak, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media tumbuh dan konsentrasi molase terhadap pertumbuhan dan hasil jamur merang. Penelitian ini dilaksanakan di kumbung Lam Keuneng, Darussalam, Aceh Besar dan di Laboratorium Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, dari Agustus sampai Oktober 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 4 x 5 dengan tiga ulangan. Faktor-faktor yang diteliti adalah media tumbuh (ampas sagu, ampas sagu + kardus (1:1), ampas sagu + kardus (2:1) dan kardus) dan konsentrasi molase (tanpa pemberian molase, 50 ml/L, 100 ml/L, 150 ml/L dan 200 ml/L air). Peubah yang diamati meliputi tinggi tubuh buah, diameter tubuh buah, jumlah tubuh buah dan berat tubuh buah per plot. Pertumbuhan dan hasil jamur merang terbaik dijumpai pada perlakuan ampas sagu +kardus (1:1) sebagai media tumbuh dan perlakuan konsentasi molase 50 ml/L air. Terdapat interaksi yang sangat nyata antara perlakuan media tumbuh dengan konsentrasi molase terhadap pertumbuhan dan hasil jamur merang yaitu pada kombinasi ampas sagu + kardus (1:1) dengan konsentrasi molase 50 ml/L air.The Influence of Grow Media Composition and Molase Concentration on Growth and Yield of Straw Mushroom (Volvariella volvaceae L.)Abstract,This research aimed to determine the effect of the growing medium and the concentration of molasses on growth and yield of edible mushroom. This research was conducted in kumbung Lam Keuneung, Darussalam, Aceh Besar and in the Horticulture Laboratory at Agriculture Faculty of Syiah Kuala University, from August to October 2014. This study uses a completely randomized design (CRD) 4 x 5 design factorial with three replications. The factors studied were growing medium (sago dregs, sago dregs+cardboard (1:1), sago waste+cardboard (2:1) and cardboard) and the concentration of molasses (without the administration of molasses, 50 ml L-1, 100 ml L-1, 150 ml L-1 and 200 ml L-1 of water). The parameters observed high fruiting body, fruiting body diameter, number of fruiting bodies and body weight of fruit per plot. Growth and yield best mushroom found in the pulp treatment sago + cardboard (1:1) as a growing medium and treatment of molasses concentrations of 50 ml L-1 of water. There is a very real interaction between the treatment of growth media with molasses concentration on growth and yield of edible mushroom that is the combination of sago dregs + cardboard (1: 1) with molasses concentration of 50 ml / L of water
ANALISIS PEMANFAATAN PESISIR PANTAI UNTUK PENGEMBANGAN TANAMAN MANGROVE DITINJAU DARI PENDAPATAN EKONOMI DAN EKOSISTEM DI KOTA BANDA ACEH
Abstrak, Hutan bakau merupakan ekosistem yang memiliki peran penting dalam pemenuhan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan tanaman bakau di wilayah pesisir Banda Aceh dan menganalisis nilai ekonomi, jenis pengembangan mangrove dan tanaman bakau dalam hal ekosistem. Percobaan dilakukan di distrik Meuraxa, Kuta Raja, Kuta Alam, dan Syiah Kuala yang berlangsung dari Februari hingga April 2015. Peta ini dilakukan di Laboratorium Penginderaan Jauh dan Kartografi Fakultas Pertanian UNSYIAH Banda Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di wilayah pesisir Banda Aceh (4 kabupaten) dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan hasil yang diperoleh cukup beragam dari setiap kabupaten di wilayah penelitian. Kabupaten Meuraxa adalah spesies Bruguiera sp, Rhizophora sp, Avicennia sp, Sonneratia alba, dan Nypa fruticans dengan luas 25,70 ha, kabupaten Kuta Raja Bruguiera sp, Rhizophora sp. dan Nypa fruticans, dengan luas 43,42 ha, distrik Kuta Alam Rhizophora sp, Avicennia sp, Bruguiera sp. dan Nypa fruticans, dengan luas 24,43 ha, Distrik Syiah Kuala yaitu Avicennia sp. Bruguiera sp dan Rhizophora sp dengan luas 17,65 ha.(Coastal Utilization Analysis for the Development of Mangrove Plant Seen From Economic Income And Ecosystems In Banda Aceh City)Abstract, The mangrove forest is an ecosystem that has an important role in the fulfillment of human. This study aims to identify the utilization of mangrove plants in coastal areas of Banda Aceh and analyze the economic value, types of mangrove and mangrove plant development in terms of the ecosystem. The experiment was conducted in Meuraxa district, Kuta Raja, Kuta Alam, and the Syiah Kuala which lasted from February to April 2015. The map is done in the Laboratory of Remote Sensing and Cartography of the Faculty of Agriculture UNSYIAH Banda Aceh. The results showed that mangrove ecosystems in the coastal region of Banda Aceh (4 districts) may be utilized by the community and the results obtained are quite varied from every district in the research area. Meuraxa district are Bruguiera sp species, Rhizophora sp, Avicennia sp, Sonneratia alba, and Nypa fruticans with an area of 25.70 ha, district of Kuta Raja Bruguiera sp, Rhizophora sp. and Nypa fruticans, with an area of 43.42 ha, district of Kuta Alam Rhizophora sp, Avicennia sp, Bruguiera sp. and Nypa fruticans, with an area of 24.43 ha, District Syiah Kuala namely Avicennia sp. Bruguiera sp and Rhizophora sp with an area of 17.65 ha
Pemanfaatan Fungi Mikoriza Arbuskular Spesifik Lokasi dan Pupuk Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit pada Tanah Ultisol terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq)
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan fungi mikoriza arbuskular (FMA) spesifik lokasi dan pupuk kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS) serta interaksi antara FMA dan kompos TKKS pada tanah Ultisol terhadap pertumbuhan tanaman kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Alur Tani II Kecamatan Tamiang Hulu Kabupaten Aceh Tamiang, Penelitian berlangsung dari Bulan Juni 2015 sampai dengan Mei 2016. Lokasi penelitian memiliki jenis tanah Ultisol. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial dengan 3 ulangan, ada dua faktor yang diteliti yaitu fungi mikoriza arbuskular (FMA) spesifik lokasi dan pupuk kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Faktor dosis FMA spesifik lokasi terdiri empat taraf yaitu: 0, 50, 100 dan 150 g/tan dan faktor dosis pupuk kompos TKKS yang terdiri dari tiga taraf yaitu : 30, 40 dan 50 kg/tan. Peubah yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah pelepah daun, diameter batang, serapan unsur hara N, P dan K, jumlah spora dan kolonisasi akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis FMA spesifik lokasi tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah pelepah daun, diameter batang, serapan unsur hara N, P dan K dan akar terkolonisasi, tetapi berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah spora. Pemberian dosis pupuk kompos TKKS mempengaruhi tinggi tanaman, jumlah pelepah daun, serapan unsur hara N dan jumlah spora, tetapi tidak berpengaruh terhadap diameter batang, serapan hara P dan K dan kolonisasi akar. Tidak terdapaat interaksi antara pemberian dosis FMA spesifik lokasi dan pupuk kompos TKKS terhadap semua parameter pengaamatanUtilization of Location-Specific Arbuscular Mycorrhizal Fungi and Oil Palm Empty Fruit Brunch Compost in Ultisol on the Growth of Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq)Abstract: The aim of this research is to determine the effect of location-specific arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and oil palm empty fruit bunch compost (OPEFB) as well as the interaction between AMF and OPEFB compost in ultisol on the growth of oil palm. The experiment was carried out at Alur Tani II Village, Tamiang Hulu District, Aceh Tamiang Regency, from June 2015 to May 2016. The soil of the location was ultisol. The research design used was randomized block design (RBD) with a 4 x 3 factorial design with three replications. There were two tested factors: First, location-specific AMF dose (F), consisting of F0 = 0 g/plant, F1 = 50 g/plant, F2 = 100 g/plant, F3 = 150 g/plant; second, OPEFB compost dose (K), consisting of K1 = 30 kg/plant, K2 = 40 kg/plant, K3 = 50 kg/plant. The observed variables were plant height, number of fronds, trunk diameter, N, P and K nutrients absorption, number of spores, and root colonization. The research findings indicated that the location-specific AMF doses did not have any significant effect on plant height, number of fronds, trunk diameter, N, P and K nutrients absorption, and root colonized roots, though it did significantly affect the number of spores. The OPEFB compost doses affected plant height, number of fronds, N absorption, and number of spores but did not influence trunk diameter, P and K absorption, and root colonization. There was no interaction between the location-specific AMF and OPEFB compost doses on every observed parameter
Pengaruh Jenis Fungi Mikoriza Arbuscular Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill)
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis fungi mikoriza terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan 3 ulangan. Adapun faktor yang diteliti yaitu faktor jenis mikoriza, yang terdiri atas 4 taraf yaitu: Tanpa Mikoriza, Mikoriza Glomus sp, Mikoriza Gigaspora sp, Campuran Mikoriza Glomus sp dan Gigaspora sp. Parameter yang diteliti yaitu serapan hara N dan P, bobot berangkasan (segar dan kering) fase vegetatif dan generatif, biomassa akar (segar dan kering) fase vegetatif dan generatif, potensi hasil per tanaman, panjang akar fase vegetatif dan generatif, dan tingkat infeksi mikoriza (%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Jenis fungi mikoriza berpengaruh sangat nyata terhadap bobot berangkasan segar fase vegetatif, bobot akar segar fase vegetatif, bobot berangkasan kering fase vegetatif, bobot akar kering fase vegetatif dan panjang akar fase vegetatif serta berpengaruh nyata terhadap serapan hara N. Jenis fungi mikoriza yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman tomat adalah Gigaspora sp.Effect of Fungi Arbuscular Mycorhiza on the Growth and Yield of Tomato Plants(Lycopersicum esculentum Mill)ABSTRACT: This aimed of this experiment to study the effect of mycorrhizal fungi on the growth and yield of tomato plants. This study uses a randomized block design non factorial with three replications. The factors studied were kind of mycorrhizal, which consists of four levels ie: Without Mycorrhiza, Mycorrhiza Glomus sp, Mycorrhiza Gigaspora sp, Mixed Mycorrhizae Glomus sp and Gigaspora sp. The parameters studied were uptake of N and P, fresh and dry weight of biomass on phases of vegetative and generative, fresh and dry weight of root biomass on phases of vegetative and generative, the potential yield per plant, the length of root on vegetative and generative phase, and infection rate mycorrhizal. The results of this study showed that the type of mycorrhiza fungi very significant effect on the weight of fresh biomass vegetative phase, the vegetative phase fresh root weight, dry weight biomass vegetative phase, dry root weight and root length of the vegetative phase of the vegetative phase and significantly affect the nutrient uptake N. type of fungi mycorrhiza is best for growth and yield on tomatoesis to Gigaspora sp
Analisis Kesuburan Tanah Tempat Tumbuh Pohon Jati (Tectona grandis L.) pada Ketinggian yang Berbeda
Abstrak: Pertumbuhan tanaman sangat ditentukan oleh beragam faktor, baik faktor internal seperti : hormon, keseimbangan air dan genetik serta faktor eksternal seperti : iklim, api, pencemaran, temperatur, radian energi, ketersediaan lengas, reaksi tanah, susunan gas dalam tanah dan ketersediaan hara tanah. Tanaman jati merupakan salah satu tanaman yang dalam proses pertumbuhannya membutuhkan unsur hara, baik makro dan mikro. Ketersediaan unsur hara makro dan mikro dalam tanah berbeda-beda tergantung dimana habitatnya. Pohon jati merupakan jenis pohon yang pertumbuhannya menyesuaikan habitatnya, baik habitat yang berada di dataran rendah maupun dataran tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan unsur hara tanah tempat tumbuh jati pada ketinggian yang berbeda.Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan meliputi dua tahap yaitu : pertama, pengambilan sampel tanah pada ketinggian 0 200 mdpl (A), 201 400 mdpl (B) dan 401 600 mdpl (C); kedua, uji laboratorium untuk mengetahui kandungan unsur hara tanah baik makro dan mikro. Pengambilan contoh tanah menggunakan sistem composite sampel, yaitu percampuran contoh yang diambil dari areal yang dikehendaki. Data hasil analisis laboratorium akan ditabulasi berdasarkan ketinggian tempat, kemudian di analisis secara deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah tergolong agak masam (A dan B) dan masam (C). Kandungan C organik tergolong sedang sampai tinggi (A,B dan C), bahan organik termasuk dalam kriteria sedang sampai tinggi (B dan C) sedangkan berlebihan (A). Kriteria kandungan unsur hara makro dan mikro pada ketinggian A, B dan C bervariasi. Unsur hara makro, N tergolong rendah sampai sedang, P dan K sangat rendah, Ca tinggi dan unsur Mg tergolong sedang sampai tinggi. Kandungan unsur hara mikro Fe, Zn dan Cu sangat rendah, Mn berada dalam kisaran 20 - 3.000 ppm dan Na sangat rendah
Jamur Endofit Asal Pisang (Musa paradisiaca L.) sebagai Agens Antagonis untuk Mengendalikan Fusarium Oxysporum secara in Vitro
Abstrak.Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi jamur endofit pada akar dan bonggol pisang dan menguji potensinya sebagai agens antagonis terhadap patogen F. oxysporum. Penelitian dilakukan di Desa Jurong Anoe Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie dan Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala mulai dari bulan April sampai September 2015. Penelitian dilaksanakan dengan 4 tahap yaitu, tahap survei dan pengambilan sampel, tahap isolasi jamur endofit dari akar dan bonggol pisang, tahap uji patogenesitas pada benih padi, dan tahap uji antagonis terhadap patogen F. oxysporum. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan eksperimen, data hasil uji antagonis terhadap jamur patogen F. oxysporum dianalisis menggunakan RAL nonfaktorial dengan 10 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil isolasi diperoleh 23 isolat murni jamur dengan karakteristik morfologi yang berbeda, 10 diantaranya merupakan jamur endofit yang berpotensi sebagai agens antagonis terhadap jamur patogen F. Oxysporum, sedangkan 13 isolat lainnya merupakan jamur non endofit. Berdasarkan hasil uji antagonis secara in vitro diketahui bahwa jamur endofit yang berpotensi dalam menghambat pertumbuhan patogen F. oxysporum adalah isolat SKA3 (1) dengan rata-rata daya hambat 33.70%, diikuti oleh isolat jamur SKB1 (2) 23.21%, SHB1 (1) 19.62%, dan isolat jamur SKA1 (3) 17.90%
Uji Fungi Mikoriza Arbuskula Spesifik Lokal dan Kompos terhadap Pertumbuhan Jagung pada Tanah Sub-Optimal Ultisol
Abstrak: Untuk mengantisipasi menurunnya luas panen dan produksi jagung di Aceh serta untuk tercapainya swasembada jagung nasional di tahun 2017 pemanfaatan lahan-lahan sub-optimal seperti Ultisol dapat dijadikan alternatif. Namun penanganan khusus perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Dewasa ini, keinginan yang kuat terhadap pertanian berkelanjutan telah mendorong peningkatan pemanfaatan mikrobia tanah indigenus dan aplikasi bahan organik ke tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fungi mikoriza arbuskula spesifik lokal dan kompos terhadap pertumbuhan jagung pada tanah sub-optimal Ultisol. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) faktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor yang diuji adalah jenis fungi mikoriza arbuskula (kontrol, Glomus sp. dan Acoulospora sp), dosis kompos (0, 25, dan 50 g pot-1). Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah tinggi tanaman dan jumlah daun pada umur 15, 30, dan 45 hari setelah tanam (HST). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terjadi pengaruh yang nyata baik secara tunggal maupun interaksi antara pemberian mikoriza asbuskula spesifik lokal dan kompos terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun 15, 30 dan 45 hari setelah tanam (HST) pada Ultisol.Abstract: To anticipate the decline in harvested area and production of maize in Aceh as well as to achieve national self-sufficiency in maize in 2017 the use of sub-optimal land as Ultisols can be used as an alternative. However, special care needs to be done to address issues that can inhibit plant growth. Today, a strong desire to sustainable agriculture has prompted increased use of soil microbial indigenus and application of organic material to the soil. This study aims to determine the effect of arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) specific local and compost on the growth of maize in sub-optimal soil Ultisols. The design used was a randomized block design (RBD) factorial 3 x 3 with three replications. Factors to be examined is the type of AMF (control, Glomus sp., and Acoulospora sp.), the dose of compost (0, 25, and 50 g pot-1). The parameters observed in this study were plant height and number of leaves at 15, 30, and 45 days after planting (DAP). The results showed that there was no significant effect either singly or interaction between local specific of mycorrhizal asbuscular and compost application on plant height and number of leaves at 15, 30 and 45 DAP
Seleksi Mutan Generasi Ke Dua (M2) Kedelai Kipas Putih Terhadap Produksi dan Kualitas Biji yang Tinggi
Telah dilakukan evaluasi mutan-mutan kedelai Kipas Putih generasi ke 2 (M2) terpilih untuk mendapatkan galur berpotensi produksi dan kadar protein tinggi. Iradiasi sinar gamma dilakukan di Puslitbang Teknologi Isotop dan Radiasi BATAN, Pasar Jumat Jakarta. Sebagai kontrol digunakan varietas Kipas Putih yang belum diradiasi. Penelitian dilakukan di Kebun Percoban Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Darussalam - Banda Aceh yang berlangsung dari bulan Januari 2015 sampai bulan Mei 2015. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola non faktorial. Penelitian ini menggunakan 14 genotipe dan 1 genotipe kontrol varietas Kipas Putih tanpa radiasi, terdiri dari 2 ulangan sehingga terdapat 30 unit satuan percobaan. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong, jumlah polong bernas, berat 100 butir biji, jumlah biji per tanaman, dan berat biji per bedeng, untuk kualitas biji dilakukan analisis kadar protein, lemak, serat dan abu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap berat 100 biji tanaman, namun tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong, jumlah polong bernas, dan jumlah biji sedangkan kadar protein tertinggi pada genotipe KP200-51 (G9) (39.01%), lemak KP200-52 (G10) (15,16%), serat KP200-10 (G5) (12,54%) dan abu KP200-28 (G6) (6,83%)