Jurnal Agro
Not a member yet
217 research outputs found
Sort by
Pendugaan parameter genetik karakter akar beberapa genotype kedelai (Glycine max (L.) Merril)
Akar menjadi salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan, perkembangan, serta hasil tanaman kedelai. Hal ini disebabkan akar menjadi organ pertama yang merespon kondisi media tanam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabilitas dan nilai heritabilitas karakter akar beberapa genotipe kedelai. Penelitian dilaksanakan menggunakan wadah dari kaca (rhizobox) di Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Riau. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap, dengan perlakuan berupa 20 genotipe kedelai yang diulang 3 kali. Benih yang digunakan berasal dari Balitkabi. Karakter yang diamati yaitu: panjang plumula, panjang akar primer, panjang akar sekunder, jangkauan akar sekunder, kedalaman akar sekunder, dan jumlah akar yang panjang >1 cm. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman genetik yang sangat tinggi pada karakter panjang plumula, panjang akar sekunder, jangkauan akar dan jumlah akar yang panjang >1 cm. Karakter kedalaman akar sekunder memiliki keragaman genetik luas, sedangkan panjang akar primer memiliki keragaman genetik rendah. Nilai heritabilitas seluruh karakter tinggi kecuali kedalaman akar sekunder yang memiliki nilai heritabilitas sedang dan panjang akar primer yang memiliki nilai heritabilitas rendah. Root is one of the important factors that determine the growth, development, and yield of soybean plants. Root is the first organ to respond to growing media conditions. This study aimed to determine variability and heritability values of root characters of several soybean genotypes. The research was conducted using a glass container (rhizobox) at the Plant Breeding Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Riau. The study was an experimental research in a completely randomized design, with the treatment consisted of 20 genotypes repeated 3 times. The seeds used originated from Balitkabi. The characters observed were: plumule length, primary root length, secondary root length, secondary root reach, secondary root depth, and number of long roots >1 cm. The results showed that there was very wide variability in the character of the plumule length, secondary root length, secondary root range, and number of root range >1 cm. The secondary root depth character had wide genetic variability, while the primary root length had narrow genetic variability. The heritability values for all characters were high except for secondary root depth which had medium heritability and the primary root length had low heritability
Analysis of the growth, productivity and nutritional content of jarak towo variety cassava at various fertilizers and altitudes in Karanganyar Regency, Indonesia
Pengembangan singkong Jarak Towo meningkatkan ketersediaan bahan baku olahan pangan dan pendapatan petani. Hal ini karena keunggulan rasa dan tekstur halus dengan harga mencapai 3 sampai 4 kali lipat dari varietas lain. Sebagai bahan baku industri pengolahan pangan, harus didukung dengan kandungan gizi yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas, parameter pertumbuhan, kandungan gizi singkong Jarak Towo dengan perlakuan dosis pupuk P dan K serta ketinggian tempat yang berbeda. Penelitian ini menggunakan percobaan rancangan acak kelompok lengkap dengan faktorial kombinasi dosis pupuk P dan K. Dosis pupuk P tiga level berupa SP36 yaitu 0 kg ha-1, 100 kg ha-1, dan 200 kg ha-1, sedangkan dosis pupuk K berupa KCl tiga level yaitu 0 kg ha-1, 150 kg ha-1, 300 kg ha-1 sehingga diperoleh sembilan kombinasi perlakuan yang diulang di tiga lokasi yaitu Desa Kemuning, Sepanjang, dan Wonorejo pada ketinggian 700 mdpl, 927 mdpl, and 1034 mdpl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa singkong Jarak Towo yang dibudidayakan di Desa Kemuning memiliki kadar air dan lemak tertinggi 54,28 ± 2,76% dan 0,78 ± 0,21%. Kandungan karbohidrat dan protein tertinggi diperoleh di Desa Wonorejo 15,74 ± 4,25% dan 2,42 ± 0,23%. Perlakuan pupuk P dan K tidak berpengaruh signifikan terhadap parameter pertumbuhan, produktivitas dan nutrisi dalam singkong Jarak Towo.ABSTRACTThe development of Jarak Towo cassava increases the availability of processed food raw materials and farmers' income. This is because of the superiority of taste and smooth texture with prices reaching 3 to 4 times that of other varieties. As a raw material for the food processing industry, it must be supported by quality nutritional content. This study aimed to determine productivity, the growth parameters, nutritional content of Jarak Towo cassava with different doses of P and K fertilizers and altitudes. This research used a completely randomized block design trial with a factorial combination of P and K fertilizer doses. The dose of P fertilizer at three levels in the form of SP36 was 0 kg ha-1, 100 kg ha-1, and 200kg ha-1, while the dose of K fertilizer in the form of KCl 3 levels was 0 kg ha-1, 150 kg ha-1, 300 kg ha-1 in order to obtain nine treatment combinations repeated in three locations, namely Kemuning, Sepanjang, and Wonorejo Villages at an altitude of 700 masl, 927 masl, and 1034 masl. The results showed that Jarak Towo cassava cultivated in Kemuning Village had the highest water content and fat content of 54.28 ± 2.76% and 0.78 ± 0.21%. The highest carbohydrate and protein content were obtained in Wonorejo Village 15.74 ± 4.25% and 2.42 ± 0.23%. The treatment of P and K fertilizers had no significant effect on the growth parameters, productivity and nutrition in Jarak Towo cassava
Kemampuan Pseudomonas spp. Pendar fluor dan Bacillus spp. Dalam mengendalikan penyakit hawar pelepah jagung
Upaya meningkatkan produksi jagung di Indonesia seringkali mengalami beberapa kendala, di antaranya adanya infeksi Rhizoctonia solani Kühn, penyebab penyakit hawar pelepah daun. Pengendalian hayati menggunakan bakteri antagonis indigenous jagung diharapkan dapat mengendalikan penyakit hawar pelepah jagung. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan bakteri antagonis Pseudomonas spp. pendar fluor dan Bacillus spp. dalam mengendalikan penyakit hawar pelepah dan memacu pertumbuhan tanaman pada tanaman jagung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 8 perlakuan meliputi Pseudomonas spp. pendar fluor BB.R1, Pseudomonas spp. pendar fluor PPD.B5, Bacillus spp. BB.R3, Bacillus spp. BK.R5, Bacillus spp. BB.B4, Bacillus spp. BK.A1, serta fungisida (fluopikolid 6% + propineb 67%) dan kontrol. Variabel yang diamati meliputi masa inkubasi, intensitas penyakit, AUDPC, jumlah daun, tinggi tanaman, bobot tanaman segar dan kering, bobot akar segar dan kering, serta panjang akar. Hasil penelitian menunjukkan bakteri antagonis asal rizosfer dan endofit mampu menekan penyakit hawar pelepah jagung, dengan menurunkan intensitas penyakit sebesar 42,87-85,69% dan AUDPC 53,19-87,23%. Pseudomonas spp. pendar fluor BB.R1, Bacillus spp. BB.R3 serta Bacillus spp. BB.B4 mampu meningkatkan beberapa komponen pertumbuhan tanaman jagung antara 9,5-40,49%. Bakteri Pseudomonas spp. pendar fluor BB.R1, Bacillus spp. BB.R3 serta Bacillus spp. BB.B4 memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai pengendali penyakit hawar pelepah jagung serta mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung. ABSTRACTThe efforts to increase maize production in Indonesia experienced several constraints, including the infection of Rhizoctonia solani Kuhn, the cause of sheath blight disease. Biological control, with antagonistic bacteria from indigenous maize, can be used to control maize sheath blight disease. This study was aimed to determine the ability of fluorescent Pseudomonas and Bacillus spp. to control sheath blight and promote plant growth in maize. The study used a randomized complete block design with eight treatments, including the fluorescent Pseudomonas BB.R1, fluorescent Pseudomonas PPD.B5, Bacillus spp. BB.R3, Bacillus spp. BK. R5, Bacillus spp. BB.B4, Bacillus spp. BK.A1, fungicides (fluopicolide 6% + propineb 67%) and controls. Variables observed including incubation period, disease intensity, AUDPC, number of leaves, plant height, fresh and dry plant weight, fresh and dry root weight, and root length. The results showed that antagonist bacteria could suppress maize sheath blight by reducing disease intensity from 42.87 to 85.69% and AUDPC from 53.19 to 87.23%. Fluorescent Pseudomonas BB.R1, Bacillus spp. BB.R3, and Bacillus spp. BB.B4 increased several components of maize growth from 9.50 to 40.49 %. The fluorescent Pseudomonas spp. BB.R1, Bacillus spp. BB.R3 and Bacillus spp. BB.B4 potentially utilized to control sheath blight disease and promote plant growth in maize
Uji keberhasilan persilangan, heterosis dan penampilan F1 padi lokal Pare Bau x Impari 4
Padi lokal memiliki keunggulan pada rasa dan aroma, namun memiliki produksi yang rendah dan umur panen yang lama sehingga kurang unggul. Upaya untuk memperbaiki genetik padi lokal adalah melalui persilangan buatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari tingkat keberhasilan persilangan, heterosis, karakter kualitatif dan kuantitatif F1, dan kekerabatan F1 dengan tetuanya. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Tallunglipu, Kabupaten Toraja Utara dari Januari 2019 hingga Juli 2020. Metode persilangan yang digunakan yaitu single cross dan resiprocal cross menggunakan padi lokal aromatik Pare Bau dengan Inpari 4 sehingga diperoleh dua kombinasi persilangan. Hasil penelitian menunjukkan persentase keberhasilan persilangan single cross sebesar 14,4% dan persilangan resiprok sebesar 25,5%. Karakter hasil F1 persilangan resiprok, jumlah gabah bernas per malai (164,2 gabah) dan bobot gabah bernas per rumpun (96,4 g), lebih tinggi dibandingkan F1 single cross. Karakter keharuman pada waktu berbunga terbaik dihasilkan oleh tanaman F1 single cross B1 senilai 92,2% dan B2 senilai 95%. Nilai heterosis dan heterobeltiosis tertinggi adalah F1 resiprok pada semua karakter yang diamati. Generasi F1 hasil single cross (B1 dan B2) memiliki kekerabatan dekat dengan Pare Bau, sedangkan generasi F1 hasil persilangan resiprok (RB1, RB2, RB3, RB4, dan RB5) membentuk kelompok genetik tersendiri tetapi memiliki kekerabatan dekat dengan Inpari 4. ABSTRACTThe rice landrace has a great taste and aroma, but has low yield and late maturity. The artificial crossing is one of ways to improve the genetics performance of the rice landrace. This study purposed to observe the success rate of crosses, heterosis, heterobeltiosis, qualitative and quantitative characters of F1, and genetic relationship of the F1with its parents. This research was conducted in Tallunglipu District, North Toraja Regency from January 2019 to July 2020. The crosses method used were single cross and reciprocal cross using local aromatic Pare Bau and Inpari 4 varieties in order to obtain two cross combinations. The results showed the success rate of the single cross was 14,4% and the reciprocal cross was 25,5%. The characteristics of the F1 reciprocal crosses, the number of fully developed grain per panicle (164,2 grain) and the weight of pithy grain per clump (96,4 g), was higher than the F1 single cross. The best level of aroma character at the time flowering was produced by F1 single cross i.e B1 92,2% and B2 95%. Resiprocal F1 had the highest value of heterosis and heterobeltiosis in all observed characters. Single cross lines (B1 and B2) were closely related to Pare Bau, while reciprocal cross lines (RB1, RB2, RB3, RB4, and RB5) formed separate genetic groups. However, reciprocal cross lines were closely related to Inpari 4
Pengaruh priming terhadap vigor benih kedelai (Glycine max (L.) Merril.) yang dikecambahkan pada media dengan cekaman alumunium
Kandungan aluminium yang tinggi pada tanah Ultisol merupakan salah satu masalah utama dalam budidaya tanaman kedelai mulai dari fase perkecambahan hingga pertumbuhan tanaman. Perlakuan priming pada benih diyakini mampu memperbaiki perkecambahan pada lingkungan yang kurang menguntungkan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh priming pada perkecambahan benih kedelai yang dikecambahkan dalam media masam dan mengandung aluminium. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah jenis priming : tanpa priming, H2O (air), KNO3 1%, KNO3 2%, GA3 50 ppm, GA3 100 ppm, dan PEG 6000 7,5%. Faktor kedua adalah varietas kedelai yaitu: Anjasmoro, Burangrang, dan Grobogan. Data dianalisis sidik ragamnya dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5% menggunakan program statistika R Studio. Hasil penelitian menunjukkan priming PEG 7,5% dan varietas Burangrang secara mandiri merupakan perlakuan terbaik untuk meningkatkan vigor benih kedelai berdasarkan variabel waktu muncul kecambah, kecepatan perkecambahan, dan panjang hipokotil. Implikasi penelitian ini adalah PEG 7,5% dapat digunakan untuk perbaikan perkecambahan pada tanah masam dengan kandungan aluminium yang relatif tinggi. High aluminium content in Ultisol is the main problem in soybean cultivation from germination to planting growth phases.Priming treatment is believed to improve seed germination in a poor-growing environment. This study aimed to determine the effect of priming of soybean seeds germinated under acid medium and aluminium stress. The experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with factorial pattern. The first factor was priming type : no priming, H2O (water), 1% KNO3, 2% KNO3, 50 ppm GA3, 100 ppm GA3, and 7.5% PEG 6000. The second factor was soybean variety : Anjasmoro, Burangrang, and Grobogan.  The data obtained were analyzed using the R Studio statistic program with a 5% HSD test. The study resulted that each PEG 7.5% priming and Burangrang variety independently was the best in increasing soybean seed vigor based on sprout time emergence, germination speed and hypocotyl length. This research implicates that PEG 7.5% can be used to improve seed germination on acid soils with high aluminium content.Â
Optimasi komposisi media untuk mikropropagasi tanaman kupa (Syzygium polycephalum (Miq.) Merr. & L.M Perry)
Kupa (Syzygium polycephalum (Miq.) Merr. & L.M Perry) merupakan tanaman berkayu yang dapat dijadikan sebagai bahan obat dan zat pewarna. Kupa sudah jarang ditemukan di beberapa wilayah Indonesia, oleh karena itu diperlukan upaya konservasi. Kultur jaringan adalah salah satu teknik yang dapat diaplikasikan untuk perbanyakan tanaman dan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi media yang optimum untuk mikropropagasi kupa. Penelitian terdiri atas 3 tahap percobaan, yaitu multiplikasi tunas menggunakan eksplan buku tunggal dan tunas pucuk pada media dasar DKW dan MS, yang mengandung BAP dan IBA; perakaran menggunakan substrat agar atau campuran pasir + vermikulit, ditambah larutan DKW atau MS, dan IBA; dan aklimatisasi. Semua percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media MS + BAP 1 mg L-1 + IBA 0,1 mg L-1 merupakan media terbaik untuk perbanyakan dan tinggi tunas dari eksplan buku tunggal. Tunas terbanyak dari eksplan tunas pucuk didapatkan dari media DKW + BAP 1 mg L-1 + IBA 0,1 mg L-1. Media Pasir + Vermikulit dengan larutan MS maupun DKW memberikan 100% tunas berakar. Planlet yang berasal dari media pasir + vermikulit dengan pemberian larutan MS menghasilkan jumlah dan panjang akar lebih baik, dan daya hidup tertinggi pada tahap aklimatisasi.ABSTRACTKupa (Syzygium polycephalum (Miq.) Merr. & L.M Perry) is a woody plant, which has many benefits including herbal medicine and coloring matter. Kupa is rarely found in some parts of Indonesia, therefore the conservation is needed. Tissue culture is a technique applied for propagation and conservation. This study aimed to obtain the optimal media composition for kupa micropropagation. The study consisted of 3 steps, i.e. shoot multiplication using single node and shoot tips explants cultured in basic media DKW and MS containing BAP and IBA; rooting in two different substrates, agar and a mixture of vermiculite + sand, enriched with DKW or MS solution, and IBA; and acclimatization. All experiments used a factorial completely randomized design. The results showed that MS +BAP 1 mg L-1 + IBA 0.1 mg L-1 was the best for shoot multiplication and shoot height from single node explants. Media of DKW + BAP 1 mg L-1+ IBA 0.1 mg L-1 was the best for multi-shoots from shoot tip explant. Sand + vermiculite media with MS or DKW solution produced 100% rooted-plantlets. Plantlets derived from sand + vermiculite with MS solution gave the best root number and length, and it also the highest survival rate at the acclimatization stage
Respons tanaman kopi liberika bermikoriza di lahan gambut terhadap aplikasi pupuk anorganik
Aplikasi pupuk anorganik secara kontinyu dengan dosis tinggi berdampak negatif terhadap kerusakan tanah dan lingkungan lainnya. Pemakaian pupuk hayati mikoriza merupakan salah satu upaya untuk mengatasi dampak negatif tersebut. Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk anorganik terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman kopi liberika bermikoriza di lahan gambut, dilakukan menggunakan  Rancangan Acak Kelompok satu faktor 6 perlakuan, yaitu tanpa pupuk hayati mikoriza + pupuk anorganik 100%, pupuk hayati mikoriza + tanpa pupuk anorganik, pupuk hayati mikoriza + 25% pupuk anorganik, pupuk hayati mikoriza + 50% pupuk anorganik, pupuk hayati mikoriza + 75% pupuK anorganik, serta pupuk hayati mikoriza + 100% pupuk anorganik dengan dosis rekomendasi yaitu 50 g Urea, 40 g SP-36, 40 g KCl dan 15 g Kisserit per tanaman. Isolat mikoriza yang digunakan berupa isolat gabungan Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c sebanyak 10 g per tanaman. Peubah yang diamati adalah pertambahan tinggi tanaman, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah daun dan pertambahan jumlah cabang serta kolonisasi mikoriza. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati mikoriza 10 g per tanaman dan 50% pupuk anorganik merupakan kombinasi terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan kopi liberika di lahan gambut. Pupuk hayati mikoriza mampu menggantikan dan menghemat pemakaian pupuk anorganik sebesar 50%.   ABSTRACTContinuous application of inorganic fertilizers in high doses can harm the soil and causes other environmental damage. Using mycorrhizal biofertilizers is one of the efforts to overcome the adverse effects of these inorganic fertilizers. The study aimed to obtain the best dose of inorganic fertilizer in increasing the growth of mycorrhizal liberika coffee plants on peatlands and was designed in a randomized block experiment. The treatment was the application of mycorrhizal biofertilizers and inorganic fertilizers according to recommendations i.e: without mycorrhizal biofertilizers +100% inorganic fertilizers; mycorrhizal biofertilizers+ no inorganic fertilizers; mycorrhizal biofertilizer+25% inorganic fertilizer; mycorrhizal biofertilizer + 50% inorganic fertilizer; mycorrhizal biofertilizer + 75% inorganic fertilizer; mycorrhizal biofertilizer + 100% inorganic fertilizer (as recommended doses of 50 g Urea, 40 g SP-36, 40 g KCl and 15 g Kisserit per plant). The mycorrhizal isolates used were a combination of Glomus sp-1a and Glomus sp-3c of 10 g per plant. The variables observed were the increase in plant height, stem diameter, number of leaves, number of branches, and mycorrhizal colonization. The results showed that applying 10 g per plant of mycorrhizal biofertilizer and 50% of inorganic fertilizer was the best combination for increasing the growth of Liberica coffee in peatlands. Mycorrhizal biofertilizers can replace and reduce the use of inorganic fertilizers by 50%
Respons bibit kopi Liberika hasil sambung pucuk dengan kopi Robusta pada berbagai panjang entres dan inokulasi mikoriza
Grafting bibit kopi memiliki tujuan menghasilkan tanaman dengan karakteristik terbaik dari dua varietas kopi yang disambungkan. Kopi robusta digunakan sebagai batang bawah, karena lebih tahan terhadap kondisi yang tidak menguntungkan di lahan gambut. Upaya peningkatan ketahanan batang bawah dapat memanfaatkan mikoriza dan disambungkan dengan kopi liberika sebagai batang atas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bibit kopi Liberika unggul hasil grafting dengan kopi Robusta bermikoriza serta mendapatkan panjang entres kopi Liberika yang mampu meningkatkan pertumbuhan bibit kopi Liberika hasil sambung pucuk. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan dua faktor dan empat ulangan. Faktor pertama adalah inokulasi mikoriza (tanpa aplikasi mikoriza dan aplikasi mikoriza gabungan Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c) dan faktor kedua berupa panjang entres (10, 15, 20 dan 25 cm). Parameter yang diamati adalah persentase keberhasilan sambungan, waktu pecah tunas, pertambahan tinggi bibit, pertambahan jumlah daun, jumlah tunas, bobot kering tunas, dan infeksi mikoriza. Hasil penelitian menunjukkan respons bibit kopi Liberika hasil grafting dengan bibit kopi Robusta bermikoriza terbaik diperoleh pada panjang entres 15 cm, sedangkan yang disambungkan dengan Robusta tidak bermikoriza diperoleh pada panjang entres 25 cm. Pertumbuhan bibit kopi Liberika hasil grafting dengan bibit kopi Robusta terbaik pada berbagai panjang entres diperoleh pada kopi Robusta bermikoriza.â€Â The main goal of coffee grafting is to create a crop with the best characteristic of two coffee varieties in one plant. Robusta coffee is used as the rootstock, which is more resistant to constraints and unfavorable conditions in the peatland. The effort to increase rootstock resistance is inoculated by mycorrhizae and grafted with Liberica coffee as the scion. This study aimed to obtain the best scion length in order to increase the growth of Liberica coffee with Robusta coffee as the inoculated rootstock. The experiment used factorial completely randomized design with the first factor was mycorrhizae inoculation (without inoculation and inoculation of Glomus sp-1a and Glomus sp-3c combination) and the second factor was the length of scion (10, 15, 20 and 25 cm). The variables observed were the percentage of success grafted plants, shoot break time, growth (plant height, number of leave, number of shoots, and shoot dry weight) and mycorrhizae infection. The results showed that the plant inoculated by mycorrhizae and scion lenght of 15 cm gave the best percentage of the success graft, shoot break time, and growth of scion. While, the root stock without inoculation showed the best result with the scion length 25 cm. The best growth of grafted plant was obtained in all scion length with mycorrhizae inoculation.Â
Induksi kalus daun binahong merah (Basella rubra L.) dengan pe,berian 2,4-D dan kinetin
Tanaman binahong merah (Basella rubra L.) merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa metabolit sekunder berkhasiat obat. Kultur kalus adalah salah satu solusi dalam menghasilkan senyawa metabolit sekunder dengan jumlah yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian 2,4-D dan kinetin dalam menginduksi kalus daun binahong merah. Penelitian dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Riau pada bulan November 2019 sampai Maret 2020. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari dua faktor yaitu 2,4-D dengan empat taraf konsentrasi yaitu 0 ppm, 0,5 ppm, 1 ppm dan 2 ppm dan kinetin dengan empat taraf konsentrasi yaitu 0 ppm, 0,5 ppm, 1 ppm dan 2 ppm dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan tanpa 2,4-D dan 0,5 ppm kinetin memberikan respon terbaik pada saat muncul kalus 11,67 HST dan perlakuan 1 ppm 2,4-D dan 2 ppm kinetin memberikan respon terbaik pada persentase keberhasilan induksi kalus 62,50 %.  Red binahong (Basella rubra L.) is a plant that contains medicinal secondary metabolites. Callus culture is one solution in producing secondary metabolites in large quantities. This research aimed to determine the effect of 2,4-D and kinetin in inducing callus on red binahong leaves. The research was conducted at the Laboratory of Plant Biotechnology, Faculty of Agriculture, the University of Riau from November 2019 to March 2020. The experiment used a randomized block design with two factors, namely four levels of 2,4-D 0, 0.5, 1, and 2 ppm and four levels of kinetin namely 0, 0.5, 1, and 2 ppm with three replications. The results showed that a combination of 0 ppm 2,4-D and 0.5 ppm kinetin and 1 ppm 2,4-D and 2 ppm had the fastest callus formation 11.67 DAP and a combination of 1 ppm 2,4-D and 2 ppm kinetin produced weigher callus 6.4 mg and had a percentage of callus formation 62.50%