Jurnal Agro
Not a member yet
217 research outputs found
Sort by
Kandungan karotenoid, antioksidan, dan kadar air dua varietas cabai rawit pada tingkat kematangan berbeda dan deteksi non-destruktif
Cabe rawit umumnya berwarna hijau, jingga dan merah. Tiap tingkat kematangan memiliki kualitas yang berbeda. Teknologi non-destruktif visible/near infrared spectroscopy (Vis/NIRS) telah banyak digunakan untuk memprediksi kualitas secara cepat dan akurat serta tidak merusak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kandungan kadar air, total karotenoid dan antioksidan dua varietas buah cabai rawit dengan tingkat kematangan berbeda dan memprediksi kualitas secara non-destruktif menggunakan Vis/NIRS. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan yaitu varietas ‘Manik’ dan ‘Domba’, yang dipanen pada 20 hari setelah bunga mekar (HSBM), 40 HSBM dan 60 HSBM, serta diulang 5 kali. Data dianalisis dengan analisis varians (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas ‘Manik’ and ‘Domba’ yang dipanen pada 20 HSBM memiliki kandungan kadar air dan antioksidan tertinggi sedangkan total karotenoid meningkat pada buah matang. Model kalibrasi dan uji validasi silang kadar air, total karotenoid, dan antioksidan mendapatkan nilai Rkal  ≥ 0,87 dan Rval ≥ 0,84. Berdasarkan hasil tersebut, maka kandungan air dan antioksidan terbesar yaitu buah cabai rawit hijau sedangkan total karotenoid tertinggi pada buah cabai rawit merah. Vis/NIRS dapat digunakan untuk mendeteksi kandungan air, total karotenoid dan antioksidan pada buah cabai rawit. Generally, cayenne pepper is coloring in green, orange, and red. Each maturity level has a different quality. A non-destructive technology, visible/near infrared spectroscopy (Vis/NIRS), has been widely used to predict the quality quickly and accurately without causing damage. The study aimed to determine water content, total carotenoids, and antioxidant of two varieties cayenne pepper with different maturity levels and to predict quality non-destructively using Vis/NIRS. The research was conducted at the Horticulture Laboratory, Agriculture Faculty, Universitas Padjadjaran. The research was arranged in a completely randomized design (CRD) with 6 treatments, namely ‘Manik’ and ‘Domba’ varieties harvested at 20 days after flowering (DAF), 40 DAF and 60 DAF, and 5 replications with analysis of variance (ANOVA). The results showed that ‘Manik’ and ‘Domba’ harvested at 20 DAF had the highest water content and antioxidant while the total carotenoids increased in ripe fruit. The calibration model and cross-validation of water content, total carotenoids, and antioxidants obtained values of Rcal 0.87 and Rval 0.84. Based on these results, the highest water and antioxidant content was green cayenne pepper, while the highest total carotenoids were in red cayenne pepper. Vis/NIRS can be used to detect water content, total carotenoids, and antioxidants in cayenne pepper
Eksplorasi dan karakterisasi keragaman plasma nutfah tanaman padi (Oryza sativa L.) di pulau Belitung
Banyak sumber daya genetik penting yang masih belum teridentifikasi di Pulau Belitung salah satunya adalah tanaman padi. Kegiatan eksplorasi dan identifikasi menjadi langkah yang tepat untuk mendapatkan jenis tanaman padi baru pada kegiatan pemuliaan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah melakukan eksplorasi, karakterisasi, dan menentukan hubungan kekerabatan dan variabilitas padi di Pulau Belitung. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2020 hingga Mei 2021. Penelitian menggunakan metode eksplorasi dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Karakter yang diidentifikasi terdiri dari karakter kualitatif dan karakter kuantitatif. Analisis kekerabatan menggunakan program NTSYS. Hasil penelitian didapatkan lima aksesi yaitu Rembiak, Siam, Cerai Merah, Ketan dan Merawang. Hasil uji beda nyata terkecil (BNT) menunjukkan aksesi padi lokal Belitung memiliki perbedaan yang nyata pada karakter umur panen (α 5%). Hasil analisis hubungan kekerabatan pada karakter kualitatif terdapat 2 grup dengan koefisien 0,64 atau 64%, kuantitatif terdapat 4 grup dengan koefisien 0,28 atau 28% dan gabungan dari karakter kualitatif dan kuantitatif terdapat 4 grup dengan koefisien 0,33 atau 33%. Aksesi padi yang diperoleh terdapat variabilitas genetik luas yaitu pada karakter jumlah biji total serta variabilitas fenotip yang luas yaitu pada tinggi tanaman, umur panen dan berat 1000 benih.ABSTRACTMany important genetic resources have not identified yet on the Belitung Island, one of which is rice plant. Exploration and identification activities are the right steps to get a new type of rice plant in plant breeding activities. The objectives of research were to explore, characterize, and determine the relationship and variability of rice on Belitung Island. The experiment was conducted from December 2020 to May 2021. Research used exploratory methods with purposive sampling technique.The identified character consisted of qualitative and quantitative characters. Kinship analysis using the NTSYS program. The results of the study obtained five accessions namely Rembiak, Siam, Cerai Merah, Ketan and Merawang. Least Significance Different (LSD) results showed that local rice accession had a noticeable difference in the character of the harvest age (α 5%)." The results of the analysis of relationships in qualitative character there were 2 groups with coefficients of 0.64 or 64%, quantitative there were 4 grup with coefficients of 0.28 or 28% and a combination of qualitative and quantitative characters there were 4 groups with coefficients of 0.33 or 33%. Rice accession obtained contained extensive genetic variability in the character of the total number of seeds as well as wide phenotype variability on the plant height, harvest age and weight of 1000 seeds
Perbaikan fisik tanah pasca galian batuan dan pertumbuhan cabai rawit dengan pemberian bahan organik dan mikroorganisme tanah
Bahan organik dan mikroorganisme diperlukan untuk memperbaiki sifat fisik tanah pasca galian batuan agar dapat digunakan untuk budidaya tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi bahan organik dan mikroorganisme tanah terhadap perbaikan fisik tanah pasca galian batuan dan pertumbuhan cabai rawit. Penelitian dilaksanakan di Cibiru Bandung, Jawa Barat dengan titik ordinat -6.92049471880716, 107.716127309820, dari bulan Juni sampai Oktober 2020, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dua faktor dan diulang tiga kali. Faktor pertama yaitu bahan organik: b0 : kontrol (tanpa pemberian bahan organik), b1: kompos Paitan 15 t ha-1, b2: kompos eceng gondok 15 t ha-1, b3: abu cangkang sawit 15 t ha-1. Faktor kedua : mikroba: mo: kontrol (tanpa pemberian mikroba), m1 : Inokulum campuran Fungi Mikoriza Asburkular (FMA) 10 g polibag-1, m2 :Inokulum campuran  BPF (Bakteri Pelarut Fosfat) 10 ml polibag-1, m3 : campuran FMA dan BPF. Hasil penelitian menunjukkan eceng gondok 15 t ha-1 yang diberikan bersamaan dengan FMA atau BPF menaikan kelembaban tanah. Aplikasi bahan organik dan mikroba menurunkan agregat stabil tahan air. Eceng gondok dan BPF masing-masing menurunkan suhu tanah. Aplikasi bahan organik dan mikroorganisme belum berpengaruh dalam peningkatan pertumbuhan tanaman cabai rawit, namun berpengaruh terhadap fisik tanah tanah pasca galian batuan.ABSTRACTOrganic matters and microorganisms are needed to improve the physical properties of the post-mine sand pits soil so that it can be used for plant cultivation. The purpose of this study was to know the influence of organic matters and soil microorganism application on post-mine sand pits soil improvement and chili pepper growth. This study was conducted in Cibiru Bandung (-6.92049471880716, 107.716127309820), from June to October 2020, using Block Randomized Factorial Design two factors and repeated three times. The first factor was organic matters: b0 : control, b1: compost Titonia 15 t ha-1, b2: compost Hyacinth 15 t ha-1, b3: palm shell ash 15 tha-1. The second factor: microbes: m0: control, m1: mix inoculum AMF 10 g polybag-1, m2 : mix inoculum PSB 10 ml polybag-1 , m3 : mixture of AMF and PSB. The results showed that hyacinth 15 t ha-1 given with FMA or PSB increased soil moisture. The application of organic matters and microbes decreased water stable aggregates. Hyacinth and PSB lower the temperature of the soil. The application of organic matters and microorganisms has not had an effect in increasing the growth of chili pepper plants but influences the physical properties of the post-mine sand pit soil
Induksi ketahanan tanaman padi terhadap serangan pathogen busuk pelepah (Rhizoctonia solani) menggunakan halotoleran bakteri Diazotrof asal pantai utara Pemalang, Jawa Tengah
Padi merupakan komoditas pangan yang memiliki peranan terpenting dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Ekstensifikasi produksi padi dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan marjinal seperti lahan salin. Lahan salin merupakan lahan yang memiliki kadar kadar garam tinggi akibat intrusi air laut maupun tingginya laju evaporasi. Pengembangan budidaya padi di lahan salin memiliki kendala berupa serangan patogen busuk pelepah (Rhizoctonia solani). Alternatif pengendalian patogen selain menggunakan pestsida kimia, dapat dilakukan menggunakan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), seperti kelompok bakteri diazotrof. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi bakteri diazotrof lahan salin dalam meningkatkan ketahanan tanaman padi serta kemampuannya dalam memacu pertumbuhan padi yang terinfeksi R. solani. Penelitian dilaksanakan di Experimental Farm dan Laboratorium Agronomi & Hortikultura, Fakultas Pertanian Unsoed pada bulan Oktober 2021 - Februari 2022. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 11 perlakuan dan diulang tiga kali, meliputi kontrol tanpa inokulasi bakteri diazotrof dan inokulasi isolat Ju1, Jn3, Jn1, J, J12, J5, Kn1, A3, Jn dan K3. Semua tanaman juga dinokulasi dengan Rhizoctonia solani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi bakteri diazotrof dapat meningkatkan ketahanan padi yang terinfeksi jamur R. solani, ditandai dengan penurunan intensitas penyakit hingga 70%, peningkatan kandungan saponin, tanin dan hidrokuinon, serta peningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman dan panjang akar total padi.ABSTRACTRice is the most important  food commodity that supply the basic needs of the Indonesian people. The development of rice cultivation in salin land has obstacles in the form of attacks by sheat blight pathogen (Rhizoctonia solani). Alternative to controlling pathogens other than using chemical pesticides is by using Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), such as diazotroph bacteria. This research aimed to determine the potential of diazotrof bacteria in increasing rice resistance and its ability to stimulate the growth of rice infected with R. solani. The research was carried out at Experimental Farm and Agrohorti Laboratory, Faculty of Agriculture Unsoed in October 2021 - February 2022. The design used was Randomized Completely Block Design (RCBD) with 11 treatments and repeated three times, including controls without inoculation of diazotroph bacteria and inoculation of isolates Ju1, Jn3, Jn1, J, J12, J5, Kn1, A3, Jn and K3. All plants were also inoculated with R. solani. The results showed that inoculation with diazotrof bacteria could increase the rice resistance towards attack of sheath blight pathogen (R. solani) that characterized by a decrease disease intensity up to 70%, increase saponins, tannins and hydroquinones content, also increase growth of plant height and total root length of rice
Pengaruh BA dan NAA terhadap multiplikasi tunas ubi kayu secara in vitro
Ubi kayu varietas UJ-3, klon BW-1 dan Unila UK-1 banyak ditanam khususnya di Lampung. Untuk itu diperlukan bibit dalam jumlah besar yang dapat dilakukan secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh BA dan NAA terhadap induksi dan multiplikasi tunas ubi kayu secara in vitro. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor, yaitu : (1) Varietas/klon yang terdiri atas UJ-3 (K1), BW-1 (K2) dan Unila UK-1 (K3), dan (2) Media yang terdiri atas media Murashige and Skoog (MS) tanpa zat pengatur tumbuh (M1), MS + BA 0,1 mg L-1 (M2), MS + BA 0,1 mg L-1 + NAA 0,05 mg L-1 (M3), MS + BA 0,3 mg L-1 + NAA 0,05 mg L-1 (M4), MS + BA 0,5 mg L-1 + NAA 0,05 mg L-1 (M5). Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Hasil menunjukkan bahwa tunas dari varietas/klon ubi kayu dapat terinduksi pada semua media perlakuan. Rata-rata jumlah tunas tertinggi (1,25 tunas) dihasilkan pada media M4 untuk klon Unila UK-1, jumlah buku paling tinggi (8 buku) dihasilkan klon BW-1 pada media M3 dan M4, jumlah daun hijau tertinggi (6 helai) pada media M3. Klon BW-1 juga menghasilkan jumlah daun gugur tertinggi (4,5 helai) pada media M4. ABSTRACTCassava UJ-3, BW-1, and Unila UK-1 are widely planted especially in Lampung. Therefore, it needs a high number of planting materials that can be done through tissue culture. This study aimed to determine the effect of BA and NAA on in vitro of cassava shoot induction and multiplication. The study used a completely randomized design with two factors, namely: (1) Variety/clone which consisted of UJ-3 (K1), BW-1 (K2), and Unila UK-1 (K3), and (2) Medium which consisted of MS without growth regulators (M1), MS + BA 0,1 mg L-1 (M2), MS + BA 0,1 mg L-1 + NAA 0,05 mg L-1 (M3), MS + BA 0,3 mg L-1 + NAA 0,05 mg L-1 (M4) and MS + BA 0,5 mg L-1 + NAA 0,05 mg L-1 (M5). Each treatment was repeated four times. Results showed that shoots from all genotypes could be induced in all treatment mediums. The highest shoot number (1.25 shoots) was produced by Unila UK-1 on M4 medium. The BW-1 clone showed the best result in the node number (8 nodes) on the M3 and M4 medium, the green leaves number (6 sheets) on the M3 medium, and produced a high deciduous leaves number (4.5 sheets) on the M4 medium
Water quality and water spinach productivity in aquaponic systems using fine bubbles (FBS)
Fine bubbles (FBs) merupakan teknologi baru dalam sistem akuaponik yang diharapkan mampu meningkatkan produksi ikan dan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pemberian tekanan fine bubbles (FBs) yang dapat meningkatkan kualitas air dan produktivitas kangkung dalam sistem akuaponik. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari – Maret 2022 di Green House Ciparanje Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah pemberian tekanan FBs masing-masing 0 atm (A), 5,25 atm (B), 5,5 atm (C), 5,75 atm (D). Parameter kualitas air yang diukur terdiri atas parameter fisika (suhu) dan kimia (oksigen terlarut, pH, amonia, dan nitrat). Hasil penelitian menunjukkan pemberian tekanan FBs 5,75 atm menghasilkan suhu berkisar 24,4℃ - 26,5℃, kandungan oksigen terlarut sebesar 7,83 mg, pH 6,98 – 8,07, konsentrasi amonia 0,002 mg L-1, yang berpengaruh pada pertumbuhan ikan yang baik serta konsentrasi nitrat 0,316 mg L-1 yang berpengaruh pada produktivitas tanaman yang lebih tinggi, menghasilkan pertumbuhan tinggi tanaman 128,83 cm, bobot tanaman 140,60 g, dan jumlah daun 284 helai.ABSTRACTThe fine bubbles (FBs) is a new technology in aquaponic system that is expected to improve the fish and plant productivity. This study aimed to determine the application of fine bubbles pressure in improving water quality and water spinach in an aquaponic system. The research was conducted from January to March 2022 at Ciparanje Green House, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. This study used an experimental method of Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and three replications. The treatments used were FBs pressure of 0 atm (A), 5.25 atm (B), 5.5 atm (C), 5.75 atm (D). The water quality parameters measured consisted of physical (temperature) and chemical (dissolved oxygen, pH, ammonia, and nitrate) parameters. The results showed that the pressure of FBs 5.75 atm generated temperatures ranging from 24.4oC - 26.5 oC, dissolved oxygen content of 7.83 mg L-1, pH 6.98 – 8.07, ammonia concentration 0.002 mg L-1 which affected on good fish growth and nitrate concentration 0.316 mg L-1 which affected higher plant productivity, resulting plant height of 128.83 cm, a plant weight of 140.60 g, and the number of leaves of 284 leaves
Pengaruh peningkatan suhu pada fase pembentukan umbi tanaman kentang (Solanum tuberosum) cv. Granola
Kentang (Solanum tuberosum) merupakan salah satu bahan makanan yang penting di dunia. Budidaya komoditas ini umumnya berada di dataran tinggi dengan suhu yang rendah. Jumlah lahan pertanian di dataran tinggi semakin kecil disebabkan antara lain karena alih fungsi lahan. Penanaman kentang di dataran yang lebih rendah menjadi kendala karena adanya peningkatan suhu. Penelitian ini dirancang untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat dan perubahan suhu terhadap tanaman kentang pada fase pembentukan umbi. Tanaman kontrol ditanam pada ketinggian 2921 meter diatas permukaan laut (m dpl) dengan suhu siang/malam (190C/120C). Setelah fase pembentukan umbi, sebagian tanaman dipindah ke daerah dengan ketinggian 115 m dpl dengan suhu siang/malam (300C/240C). Perubahan ketinggian tempat dengan suhu yang berbeda mengakibatkan shade avoidance, perubahan akumulasi biomasa pada batang tanaman dan penurunan hasil panen. Hal ini disebabkan karena penurunan hasil fotosintesa, sukrosa, serta kadar klorofil yang disebabkan oleh faktor genetik dan metabolisme enzim. Oleh karena untuk mendukung permintaan komoditas kentang yang semakin meningkat, pemuliaan tanaman kentang tahan terhadap cekaman suhu diperlukan untuk memperluas area penanaman kentang di dataran menengah maupun dataran rendah.ABSTRACTPotato (Solanum tuberosum) is one of the important staple foods in the world. This plant is mostly cultivated in high-altitude regions with low temperatures. As the number of lands for potato cultivation is getting smaller due to land conversion. Potato cultivation in low-altitude regions with high temperatures yields low productivity. This study was designed to determine the effect of altitude and temperature changes on potato plants in the tuber formation phase. Control plants were planted in an area with an altitude of 2921 meters above sea level (m asl), with day/night temperatures (190C/120C). After the tuber formation phase, some plants were transferred to areas with an altitude of 115 m above sea level and day/night temperatures (300C/240C). Change in altitude with different temperatures resulted in shade avoidance, changes in the accumulation of biomass on plant stems, and yield reduction. This is due to decreasing sucrose content as photosynthesis assimilates, and chlorophyll content due to genetic factors and enzyme metabolism. Therefore, to support the increasing demand for potato commodities, breeding potato plants resistant to heat stress is needed to expand the potato planting area in middle or low altitudes.Â
Penentuan umur panen beberapa kultivar mangga (Mangifera indica L.)
Salah satu penyebab rendahnya kualitas buah mangga adalah umur panen yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur panen terhadap kualitas beberapa kultivar mangga (Mangifera indica L.). Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan Juli sampai November 2021 di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunung Jati. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang diuji adalah kombinasi antara kultivar mangga (Gedong Gincu, Arumanis, Cengkir, dan Lalijiwo) dengan umur panen (60, 75, 90, 105, dan 120 hari setelah bunga mekar). Perlakuan diulang sebanyak 2 kali sehingga didapat 40 satuan percobaan. Variabel yang diamati adalah bobot segar buah, susut bobot buah, kekerasan buah, vitamin C, dan total padatan terlarut. Hasil penelitian menunjukkan bobot buah Arumanis dan Cengkir pada umur 90–120 Hari Setelah Bungan Mekar (HSBM) lebih tinggi dibanding kultivar lainnya. Susut bobot paling rendah terjadi pada Gedong Gincu dan Arumanis umur 120 HSBM sedangkan kandungan vitamin C dan total padatan terlarut yang tinggi diperoleh pada Gedong Gincu, Cengkir, dan Lalijiwo umur 120 hari setelah bunga mekar. Umur panen terbaik untuk semua kultivar adalah antara 90–120 HSBM.ABSTRACTOne of the causes of mango’s low quality is the improper harvesting age. This study aimed to determine the effect of harvest age on the quality of several mango cultivars (Mangifera indicaL.). This research was carried out from July to November 2021 at the Laboratory of Agriculture Faculty, Universitas Swadaya Gunung Jati. The research method used was the experimental method with a Completely Randomized Design (CRD). The factor tested was a combination of mango cultivars (Gedong Gincu, Arumanis, Cengkir, and Lalijiwo) and harvest age (60, 75, 90, 105, and 120 days after the flower blooms). The treatment was repeated 2 times so that 40 trials were obtained. The variables age observed were fresh fruit weight, fruit weight loss, fruit hardness, vitamin C, and total dissolved solids. The results showed that Arumanis and Cengkir fruit weights of 90-120 days after blooming (DAB) were higher than other cultivars. The lowest weight loss occurred in Gedong Gincu and Arumanis at 120 DAB, vitamin C content and total soluble solids were obtained in Gedong Gincu, Cengkir, and Lalijiwo at 120 DAB. The best harvest age for all cultivars was between 90 – 120 DAB
Efektifitas Azotobacter sp. Dan Pseudomonas sp. Pada tanaman sorgum (Shorgum bicolor L.) dalam proses fitoremediasi limbah minyak bumi
 Interaksi sinergis antara tanaman-bakteri dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja fitoremediasi tanah yang terkontaminasi hidrokarbon (HC). Penelitian bertujuan untuk karakterisasi plant growth promoting rhizobacteria: Azotobacter sp. dan Pseudomonas sp. dalam kinerja fitoremediasi limbah minyak bumi menggunakan tanaman sorgum (Sorghum bicolor L.). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok faktorial (RAK-Faktorial) terdiri dari inokulasi Azotobacter sp. sebanyak 0%, 1%, 2%, dan 3% per konsentrasi total petroleum hydrocarbon (TPH), dan inokulasi Pseudomonas sp 0%, 1%, 2%, dan 3% per TPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara inokulasi Azotobacter sp. dan Pseudomonas sp. terhadap seluruh variabel respon. Namun, efek mandiri terlihat pada efisiensi biodegradasi HC, yaitu inokulasi Azotobacter sp dosis 3% berbeda secara signifikan dengan kontrol pada fase ke 4 minggu setelah tanam (MST), tetapi tidak signifikan pada fase 14 MST. Inokulasi Pseudomonas sp. tidak memberikan efek yang signifikan antar perlakuan terhadap efisiensi biodegradasi HC pada dua periode pengamatan. Populasi Azotobacter sp. dan Pseudomonas sp. menurun pada periode 4 MST, selanjutnya meningkat  pada periode 14 MST. Pertumbuhan tanaman sorgum mengalami retardasi selama 14 MST. Residu hidrokarbon terakumulasi lebih tinggi di bagian akar daripada di bagian tajuk tanaman. Azotobacter sp. dan Pseudomonas sp. berperan sebagai binding agent yang dapat menghambat serapan hidrokarbon oleh akar sorgum.ABSTRACTThe synergism interaction between plant-bacteria can be used to improve performance of phytoremediation hydrocarbon (HC) contaminated soil. The study aimed to characterize  Azotobacter sp. and Pseudomonas sp. in petroleum phytoremediation performance using sorghum (Sorghum bicolor L). The research used a randomized block design with two factors: Azotobactersp. inoculation 0%, 1%, 2% and 3% per total petroleum hydrocarbon (TPH) concetration, and Pseudomonas sp inoculation: 0%, 1%, 2% and 3% per TPH concentration. The results showed there was no interaction between Azotobacter sp. and Pseudomonas sp. inoculation to each response variable. The independent effect of 3% Azotobacter sp. to biodegradation HC efficiency was significantly different from the control at phase 4 weeks after planting (WAP), but not significantly different at phase 14 WAP. Pseudomonas sp. effect did not show a significantly different between treatments on the hydrocarbon biodegradation efficiency in the two observation periods. Azotobacter sp. and Pseudomonas sp. population decreased at period 4 WAP, then increased at period 14 WAP. The Sorghum growth was retarded during 14 WAP. Hydrocarbon residues accumulated higher in the roots than in shoot. Azotobacter sp. and Pseudomonas sp. act as a binding agent that can inhibit the hydrocarbons uptake by sorghum roots
Pengaruh taraf pH media logam alumunium terhadap viabilitas dan vigor tujuh varietas benih kedelai (Glycine max [L.] Merr.)
Benih kedelai peka terhadap lingkungan masam sehingga perlu dilakukan evaluasi pada media masam untuk mengetahui varietas benih yang toleran terhadap kondisi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kondisi pH media tumbuh serta respons tujuh varietas benih kedelai terhadap viabilitas dan vigor. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Faktor pertama adalah tujuh varietas kedelai yaitu Anjasmoro, Grobogan, Detap 1, Derap 1, Deja 1, Dega 1 dan Dena 1. Faktor kedua adalah tiga taraf pH pada larutan Al yaitu tanpa Al pH 7, larutan dengan konsentrasi AlCl3.6H2O 1 mM pH 6 – 7, dan larutan dengan konsentrasi AlCl3.6H2O 1 mM pH 4,5. Sehingga terdapat 21 perlakuan yang diulang tiga kali. Perbedaan antar perlakuan menggunakan Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian didapatkan bahwa media tanpa Al memiliki viabilitas dan vigor terbaik diikuti media Al pH 6 – 7 dan media Al pH 4,5. Varietas dengan vigor dan viabilitas terbaik diperoleh pada varietas Dega 1 tercermin dari variabel muncul radikula, daya berkecambah, indeks vigor, bobot kering tajuk dan akar, serta panjang akar. Viabilitas dan vigor benih kedelai tergantung dari varietas kedelai dan taraf pH media tumbuh.ABSTRACTSoybean seeds are sensitive to soil acidic environments so it is necessary to study effect of acidic media to determine varieties that are tolerant to acidic conditions. The study purposed to determine the effect of different pH conditions both without and with Al on the viability and vigor of different varieties of soybean seeds. This research was a factorial experiment in a Completely Randomized Block Design (RCBD). The first factor was seven soybean varieties, namely Anjasmoro, Grobogan, Detap 1, Derap 1, Deja 1, Dega 1, and Dena 1. The second factor was three pH levels in Al solution, namely without Al pH 7, solution with AlCl3.6H2O pH 6—7, and solution with AlCl3.6H2O pH 4.5. There were 21 treatments with three replications. The differences between treatments were analyzed using the Least Significant Difference (LSD) at a 5%. The results showed that media without Al had the best viability and vigor followed by Al pH 6—7 media and Al pH 4.5 media. Varieties with the best vigor and viability were obtained in the Dega 1 variety as reflected in the variables of radicle emergence, germination, vigor index, hypocotil, and root dry weight, and root length. Viability and vigor of soybean seeds depended on soybean varieties and the pH level of the growing media