Jurnal Agro
Not a member yet
    217 research outputs found

    Perbedaan pertumbuhan dan produktivitas varietas bayam hijau dan bayam merah

    Full text link
    Bayam termasuk salah satu sayuran terpenting di Indonesia karena paling banyak dikonsumsi setelah kangkung. Bayam hijau dan bayam merah merupakan jenis bayam paling banyak ditanam dan dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan dan produktivitas varietas bayam hijau dan bayam merah. Penelitian dilakukan pada Februari – April 2021 di Kebun Percobaan Leuwikopo, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB University. Sebanyak 9 varietas bayam hijau (Maryland, Richie, Maestro, Benua, Doly, Khanafiah, Manila, Pacific, White Leaf) dan 4 varietas bayam merah (Mira, Baret Merah, Clara, Aurora) ditanam menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga ulangan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa varietas bayam hijau memiliki kandungan persentase warna hijau daun lebih banyak namun memiliki persentase warna biru dan merah yang lebih rendah dibandingkan varietas bayam merah. Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa varietas bayam hijau menghasilkan tinggi tanaman dan produktivitas yang lebih baik dibandingkan varietas bayam merah, namun varietas bayam merah menghasilkan luas daun dan jumlah daun per tanaman saat panen yang lebih baik besar dibandingkan varietas bayam hijau. Varietas White Leaf merupakan varietas bayam yang sangat baik karena memiliki persentase warna hijau daun yang tinggi, luas daun yang besar dan produktivitas yang tinggi. Spinach is one of the most important vegetables in Indonesia because it was the second most consumed after kangkung. Green spinach and red spinach are the most widely grown and consumed types of spinach. This study aimed to determine differences in growth and productivity between varieties of green spinach and red spinach. The research was conducted in February – April 2021 at the Leuwikopo Experimental Field, Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University. A total of nine varieties of green spinach and four varieties of red spinach were planted using a completely randomized block design with three replications. The results showed that the green spinach variety contained a higher percentage of green leaf color but had a lower percentage of blue and red leaf color than the red spinach varieties. The results also showed that the green spinach varieties produced better plant height and productivity than the red spinach varieties, but the red spinach produced better leaf area and a number of leaves per plant at harvest than the green spinach. The White Leaf variety is the excellent spinach variety because it has a high percentage of green leaf color, large leaf area, and high productivity

    Kultur suspensi sel tanaman gajah beranak (Goniothalamus tapis Miq) terhadap kandungan zat goniotalamin

    Full text link
    Zat goniotalamin pada tanaman gajah beranak (Goniothalamus tapis) merupakan obat alternatif penyembuhan kanker. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan zat goniotalamin melalui kultur kalus dan kultur suspensi sel. Metode penelitian eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan kombinasi 2,4-D (1-10 mgL-1) dan BAP (0,5-2 mgL-1) menggunakan eksplan batang muda, terdiri dari 17 perlakuan dan 3 kali ulangan. Analisis data menggunakan Analysis of Variances dan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil menunjukkan bahwa kultur kalus G. tapis pada media 5,0 mg L-1 2,4-D + 1 mg L-1 BAP adalah yang terbaik dengan waktu muncul kalus 28,33 hari dan persentase pembentukan kalus 100%. Kalus untuk kultur suspensi sel bertekstur remah dan berwarna kuning kehijauan. Kultur suspensi sel menghasilkan pertumbuhan sel yang cepat, tidak lembek berair dan mudah dipisahkan. Hasil kualitatif Kromatografi Lapis Tipis kultur suspensi sel sangat jelas, bersih dan terdapat potensi kandungan zat goniotalamin pada perlakuan 2,4-D 5 mg L-1 + BAP 0,5 mg L-1, 2,4-D 5 mg L-1 + BAP 1 mg L-1, 2,4-D 5 mg L-1 + BAP 2 mg L-1, 2,4-D 10 mg L-1 + BAP 0,5 mg L-1 dan 2,4-D 10 mg L-1 + BAP 1 mg L-1. Hasil kuantitatif zat goniotalamin dengan Kromatografi Cair Prestasi Tinggi terdapat pada perlakuan 2,4-D 5,0 mgL-1 + BAP 1 mg L-1 yaitu 9,57 mg g-1.The goniothalamine compound on Goniothalamus tapis is an alternative cancer medicine. This study aimed to obtain gonotalamin through callus culture and suspension cell culture. The experiment research method was Completely Randomized Design (CRD) with a combination of 2.4-D (1-10 mg L-1) and BAP (0.5-2 mg L-1) using young stem explants consisting of 17 treatments with 3 replications. Data analysis used ANOVA and DMRT at 5%. The results showed that G. tapis callus culture on 5.0 mg L-1 2.4-D + 1 mg L-1 BAP was the best treatment medium with callus emergence time of 28.33 days and percentage of callus formation 100%. The callus used for suspension cell culture was friable and greenish-yellow in color. Suspension cell culture resulted in rapid cell growth, was not fleshy, and easily separated. The  quality test by Thin Layer Chromatography (TLC) from suspension cell culture resulted very clear, clean, and potential content of goniothalamin found in treatments 2.4-D 5.0 mg L-1 + BAP 0.5 mg L-1, 2.4-D 5.0 mg L-1 + BAP 1 mg L-1, 2.4-D 5.0 mg L-1 + BAP 2 mg L-1, 2.4-D 10 mg L-1 + BAP 0.5 mg-1 and 2.4-D 10 mg-1 + BAP 1 mg-1. The quantitative results of the best goniotalamine compounds in cell suspension cultures using High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) on medium 2,4-D 5.0 mgL-1 + BAP 1 mg L-1 ie 9.57 g-1

    Seleksi jagung hibrida UNPAD berdasarkan komponen hasil dan parameter tumpangsari pada sistem tanam tumpang sari jagung-ubi jalar

    Full text link
    Tumpangsari merupakan pemanfaatan lahan dengan cara menanam dua jenis tanaman atau lebih. Hal yang perlu diperhatikan dalam sistem tanaman tumpangsari adalah penentuan jenis serta kultivar tanaman yang digunakan. Sebagian besar kultivar jagung yang beredar di masyarakat dikembangkan untuk pertanaman tunggal sehingga diperlukan kegiatan seleksi untuk mendapatkan kultivar jagung yang sesuai untuk sistem tanam tumpangsari. Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi 22 jagung hibrida berdasarkan komponen hasil dan parameter tumpangsari. Penelitian dilaksanakan di Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Garut, Jawa Barat dengan.ketinggian 1346 meter diatas permukaan laut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktor Tunggal dengan dua metode yaitu metode eksperimental dan metode deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan 20 hibrida terseleksi berdasarkan karakter diameter tongkol, 18 hibrida berdasarkan karakter panjang tongkol, 19 hibrida berdasarkan karakter jumlah baris biji per tongkol, dan 13 hibrida berdasarkan karakter jumlah biji per tongkol. Berdasarkan parameter tumpangsari terseleksi 3 hibrida dengan kritera menguntungkan dalam kondisi sistem tanam tumpangsari dengan ubi jalar berdasarkan Land Equivalent Ratio (LER), 13 hibrida menunjukkan lebih kompetitif dibandingkan dengan ubi jalar berdasarkan Competitive Ratio (CR), dan semua hibrida mengalami kehilangan hasil berdasarkan Actual Yield Loss (AYL). Hibrida DR7 x DR8, DR 14 X DR 18 dan MDR 3.1.4 X MDR 18.5.1 merupakan hibrida terseleksi berdasarkan komponen hasil dan parameter tumpangsari.ABSTRACTIntercropping is cultivating two or more types of plants at the same field. Selecting type and cultivar of the plants need to be considered in the intercropping system. Commonly, the available corn cultivars in the market are developed for single cropping. Therefore plant selection is necessary to obtain corn cultivars suitable for intercropping systems. The research was conducted in Desa Margamulya, Cikajang District, Garut, West Java at 1346 meters above sea level. This study used a randomized block design (RBD) design with two methods; the experimental method and the quantitative descriptive method. The results showed 20 hybrids were selected on the character of cob diameter, 18 combinations surface of the cob length, 19 hybrids on the number of cob seed rows, 13 hybrids on the number of cob kernels. According to the parameters of intercropping combinations, 3 hybrids were selected with superior characters in intercropping condition with sweet potatoes based on Land Equivalent Ratio (LER), 13 hybrids showed the more competitive characters compared to sweet potatoes based on Competitive Ratio (CR) and all hybrids showed yield loss based on Actual Yield Loss (AYL). Hybrids DR7 x DR8, DR 14 X DR 18 and MDR 3.1.4 X MDR 18.5.1 are selected hybrids based on yield components and intercropping parameters

    Pengaruh pemupukan N terhadap serapan dan efisiensi penggunaan N, serta hasil padi hibrida

    Full text link
    Pemupukan N pada padi hibrida menjadi krusial mengingat varietas padi hibrida sangat responsif, sehingga harus diketahui dosis yang tepat untuk menghasilkan produksi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dosis N terhadap serapan N, efisiensi penggunaan N, dan hasil padi hibrida. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah varietas padi hibrida yang terdiri dari Varietas Mapan P05, Varietas SL-8 SHS Sterling, dan Varietas Intani 602. Faktor kedua adalah dosis pemupukan N yang terdiri dari kontrol tanpa pemupukan N, dosis N 100 kg ha-1, dan dosis N 200 kg ha-1. Terdapat respon yang beragam antar varietas padi hibrida terhadap taraf pemupukan N, Serapan N, efisiensi penggunaan N tertinggi yang dihasilkan oleh varietas Intani 602 masing-masing sebesar 138,57 %, dan 36,13%. Serapan N tanaman padi tertinggi dicapai pada dosis N 100 kg ha-1, dan efisiensi penggunaan N tertinggi pada dosis N 200 kg ha-1. Hasil gabah tertinggi dicapai pada varietas Mapan P05 sebesar 7,42 t ha-1, dan dosis pemupukan N 100 kg ha-1 memberikan hasil tertinggi sebesar 7,47 t ha-1. Implikasi dari penelitian ini bahwa dosis nitrogen 100 kg ha-1 dapat menjadi acuan sebagai dosis pemupukan N varietas padi hibrida di Indonesia. Hybrid rice is responsive to nitrogen, so it’s necessary to find the optimum dose to optimize the production. The  aim of this research was to examine the effect of nitrogen on N uptake, N use efficiency, and yield of hybrid rice. This study used a randomized block design with three replications. The first factor consisted of the  Mapan P05 variety, the SL-8 SHS Sterling variety, and Intani 602 variety. The second factor was Nitrogen dosage consisted of control, 100 kg ha-1, and 200 kg ha-1. There were various responses among hybrid rice varieties to the level of fertilization. The highest N uptake and N use efficiency was achieved in the Intani 602 variety at 138.57% and 36.13%, respectively. The highest N uptake was achieved at 100 kg ha-1 of N, and the highest N use efficiency was at 200 kg ha-1. The highest yield was achieved in the Mapan P05 variety (7.42 t ha-1), and the dose of N at 100 kg ha-1 gave the highest yield (7.47 t ha-1). The implication of this research is that the nitrogen dose of 100 kg ha-1 can be used as a reference for hybrid rice varieties fertilizer in Indonesia

    Pengaruh tumpangsari cabai dan tomat terhadap perkembangan hama utama dan hasil cabai (Capsicum annuum L.)

    Full text link
    Tumpangsari cabai dan tomat merupakan salah satu sistem kultur teknis dalam pengendalian hama terpadu. Tujuan penelitian untuk mendapatkan sistem penanaman cabai yang paling tepat dalam menekan perkembangan hama utama dan meningkatkan hasil cabai. Penelitian dilakukan di Balitsa. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Desember 2018, metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok diulang empat kali dengan perlakuan: (A). Cabai dan tomat ditanam bersamaan (B). Tomat ditanam satu minggu setelah cabai (C). Tomat ditanam dua minggu setelah cabai (D). Tomat ditanam tiga minggu setelah cabai (E). Cabai ditanam monokroping tanpa menggunakan mulsa plastik hitam perak (F). Cabai monokroping dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak. Hasil penelitian: Tumpangsari cabai dan tomat berpengaruh baik dalam menekan populasi kutu daun 14,65%-48,91%, kutu kebul 18,30%-27,16%, trips 11%-41,44%, dan dapat meningkatkan hasil cabai 90%-127% dibandingkan cabai monokroping dan 10%-31% cabai monokroping dengan mulsa plastik hitam perak. Implikasi dari hasil penelitian sistem tanam tumpangsari cabai dan tomat dapat menghambat perkembangan populasi hama utama cabai karena dapat bersifat sebagai barrier dan repellen. Perlakuan terbaik adalah tomat ditanam 1 dan 2 minggu setelah cabai.ABSTRACTChilli and tomatoes intercropping is a technical culture system in integrated pest control. The study aimed to find the most appropriate chilli planting system to suppress the development of major pests and increase chilli yields. The research was conducted at the IVEGRI. The study was conducted from April to December 2018, and the experimental method using an RBD was repeated four times. Treatments: (A). Chilli and tomato planted together (B). Tomatoes were planted one week after chilli (C). Tomatoes are planted two weeks after chilli (D). Tomatoes are planted three weeks after chilli. (E). The chilli was grown monocrop without silver black mulch (F). Chilli was grown monocrop with silver black mulch. The results: Chilli and tomato intercropping had a good effect on suppressing aphids population 14,65%-48,91%, white flying 18,30%-27,16%, trips 11%-41,44%, and could increase chilli yields 90%-127% compared to monocropped chilli and 10%-31% monocropped chilli with silver black mulch. The implications of the research results on chilli and tomato intercropping systems can inhibit the development of the main pest population of chilli because they act as a barrier and repellant. The best treatment is tomato planted 1 and 2 weeks after chilli. Tumpangsari cabai dan tomat merupakan salah satu sistem kultur teknis dalam pengendalian hama terpadu. Tujuan penelitian untuk mendapatkan sistem penanaman cabai yang paling tepat dalam menekan perkembangan hama utama dan meningkatkan hasil cabai. Penelitian dilakukan di Balitsa. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Desember 2018, metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok diulang empat kali dengan perlakuan: (A). Cabai dan tomat ditanam bersamaan (B). Tomat ditanam satu minggu setelah cabai (C). Tomat ditanam dua minggu setelah cabai (D). Tomat ditanam tiga minggu setelah cabai (E). Cabai ditanam monokroping tanpa menggunakan mulsa plastik hitam perak (F). Cabai monokroping dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak. Hasil penelitian: Tumpangsari cabai dan tomat berpengaruh baik dalam menekan populasi kutu daun 14,65%-48,91%, kutu kebul 18,30%-27,16%, trips 11%-41,44%, dan dapat meningkatkan hasil cabai 90%-127% dibandingkan cabai monokroping dan 10%-31% cabai monokroping dengan mulsa plastik hitam perak. Implikasi dari hasil penelitian sistem tanam tumpangsari cabai dan tomat dapat menghambat perkembangan populasi hama utama cabai karena dapat bersifat sebagai barrier dan repellen. Perlakuan terbaik adalah tomat ditanam 1 dan 2 minggu setelah cabai

    Estimasi nilai ragam genetik dan heritabilitas tomat tipe determinate pada dua lingkungan tanam di dataran rendah

    Full text link
    Pertumbuhan tomat pada lingkungan berbeda memberikan perbedaan hasil karena adanya interaksi genetik x lingkungan yang mempengaruhi ekspresi suatu gen pada kondisi lingkungan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai ragam genetik serta nilai heritabilitas arti luas pada genotip tomat tipe determinate di dua lingkungan tanam. Penelitian dilakukan dari Maret hingga Juli 2021 dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) di dua lingkungan tanam (Depok dan Jakarta). Perlakuan terdiri dari 3 genotip tomat generasi F6 dan 2 varietas komersil diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan tanam memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan genotip tomat yang digunakan. Nilai ragam genetik pada setiap karakter tergolong dalam kriteria sempit, kecuali pada karakter tebal daging buah dan luas daun. Nilai heritabilitas arti luas terhadap karakter yang diamati menunjukkan kriteria tinggi, kecuali pada karakter diameter buah (kriteria sedang) dan karakter tinggi tanaman (kriteria rendah). Genotip RwTa-4-10U-6U-4U-2U memberikan penampilan terbaik pada kedua lokasi tanam, dengan tinggi tanaman lebih rendah (91,09 cm), diameter batang lebih kekar (9,69 mm), buah lebih panjang (5,64 cm), diameter buah lebih besar (4,25 cm), total padatan terlarut lebih tinggi (5,22ºBrix), bobot per buah lebih besar (48,43 g), serta umur berbunga lebih genjah (25 HST) dibandingkan varietas Tantyna dan varietas Tora.ABSTRACTTomatoes growth in different environments give different results due to genetic x environment interaction that affect the expression of genes in a certain environmental condition. This study aimed to estimate the genetic variance and the broad sense heritability of determinate tomato genotypes in two growing environments. The study was conducted from March to July 2021, using a Randomized Complete Block Design (RCBD) in two planting environments (Depok and Jakarta). The treatments consisted of 3 genotypes of tomato generation F6 and 2 commercial varieties with 3 replications. The results showed that the environment affected the growth and development of the tomato genotypes used. The genetic variance was classified into narrow criteria except for flesh thickness and leaves area. The heritability value showed high value except for fruit diameter (medium) and plant height (low). The genotype RwTa-4-10U-6U-4U-2U gave the best performance at both planting locations, with lower plant height (91.09 cm), more harder stem diameter (9.69 mm), longer fruit (5.64 cm), larger fruit diameter (4.25 cm), higher total dissolved solids (5.22ºBrix), greater weight per fruit (48.43 g), and early flowering (25 DAP) compared to the Tantyna and Tora varieties

    Back Matter JA 9(1),2022

    No full text

    Efektifitas penggunaan beberapa indeks toleransi untuk menyeleksi jagung toleran nitrogen rendah

    Full text link
    Keakuratan dalam seleksi jagung hibrida toleran N rendah dapat ditingkatkan dengan penggunaan beberapa indeks seleksi secara sekaligus. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi indeks toleransi yang sesuai untuk seleksi jagung hibrida toleran N rendah serta memilih jagung hibrida toleran N rendah. Penelitian dilaksanakan di IP2TP Bajeng Balai Penelitian Tanaman Serealia Kabupaten Gowa bulan April sampai dengan September 2021. Sebanyak 8 hibrida dan 2 varietas pembanding ditanam pada rancangan tersarang tiga ulangan. Genotipe tersarang pada taraf pupuk N. Taraf pupuk N meliputi 100 kg N ha-1 dan 200 kg N ha-1. Indeks toleransi meliputi Tolerance (TOL), Mean Productivity (MP), Geometric Mean Productivity (GMP), Harmonic Mean (HM), Stress Tolerant Index (STI), Relative Tolerant Index (RTI), Stress Susceptibility Index (SSI), Yield Index (YI), Stress Relative Index (SI), Yield Stability Index (YSI), Stress Susceptibility Percentage Index (SSPI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks toleransi menunjukkan bahwa MP, GMP, HM dan STI merupakan yang paling sesuai untuk menyeleksi hibrida toleran N rendah. Hibrida HLN 02 dan HLN 06 merupakan hibrida yang toleran terhadap N rendah, sedangkan Hibrida HLN 03 dan HLN 07 dan ADV 777 termasuk peka. Berdasarkan hasil biji pada pemupukan 100 kg N ha-1 dan 200 kg N ha-1 dan indeks toleransi serta analisis kluster.ABSTRACTLow N tolerant hybrid maize selection accuracy can be increased by using several selection indices simultaneously. This study's objective was to identify the proper tolerance index for low N tolerant hybrid maize selection and to determine the low N tolerant hybrid maize. The research was conducted at IP2TP Bajeng Indonesian Cereal Crop Institute Gowa Regency from April to September 2021. Eight promising hybrid and two check varieties were planted in a nested design with three replications. The genotypes were nested at the N fertilizer level. The N fertilizer levels were 100 kg N ha-1 and 200 kg N ha-1. The tolerance index used was Tolerance (TOL), Mean Productivity (MP), Geometric Mean Productivity (GMP), Harmonic Mean (HM), Stress Tolerant Index (STI), Relative Tolerant Index (RTI), Stress Susceptibility Index (SSI), Yield Index (YI), Stress Relative Index (SI), Yield Stability Index (YSI), Stress Susceptibility Percentage Index (SSPI). The results showed that tolerance index MP, GMP, HM, and STI were the most suitable for electing low N tolerant hybrids maize. hybrids HLN 02 and HLN 06 were low N tolerant; meanwhile, HLN 03 and HLN 07 and ADV 777 were susceptible based on yields at 100 kg N ha-1 and 200 kg N ha-1 fertilization, tolerant indexes, and clustering

    Saponins accumulation and antimicrobial activities on shallot (Allium cepa L.) from marginal land

    Full text link
    Saponins are one of the secondary metabolites found in Shallot (Allium cepa L.), particularly in the roots. Microclimate differences in the cultivation area are thought to have a significant impact on the production of secondary metabolites, such as saponins. This research aimed to observe the saponins content in the root of shallot plants cultivated in marginal agricultural land and their antimicrobial activity against bacteria (Ralstonia solanacearum) and fungus (Fusarium oxysporum). This research was observational research with a random sampling method. The samples were collected from the shallot plantation with two different cultivation conditions. Two varieties of ‘Bima' and 'Tiron' cultivated by farmers in sandy coastal land Samas, Bantul were used. The plants were harvested at 1, 1.5, and 2 months after planting, respectively. The crude saponins extract was used to test antimicrobial activity. Shallot plants cultivated in marginal coastal sandy land produced higher saponins accumulated in their roots. The saponins production increased along with the maturity of shallot plants, both cultivated in marginal coastal sandy land and regular paddy field. The saponins extracted from the roots of shallots cultivated in both marginal and regular land showed higher antimicrobial activity than antifungal activity. Saponin merupakan salah satu metabolit sekunder yang terdapat pada bawang merah (Allium cepa L.), terutama pada bagian akar. Perbedaan iklim mikro pada lahan budidaya diduga akan berpengaruh terhadap produksi metabolit sekunder termasuk saponin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan saponin pada bagian akar tanaman bawang merah yang dibudidayakan di lahan pertanian marginal serta aktivitas antimikrobanya terhadap bakteri (Ralstonia solanacearum) dan jamur (Fusarium oxysporum). Penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan metode pengambilan sampel secara acak. Sampel berasal dari perkebunan bawang merah dengan dua lahan budidaya yang berbeda. Digunakan dua varietas yaitu 'Bima' dan 'Tiron' yang dibudidayakan oleh petani di daerah pantai Samas,kabupaten Bantul. Bahan tanaman dipanen pada tiga waktu berbeda, yaitu 1 bulan, 1,5 bulan dan 2 bulan berturut-turut setelah tanam. Ekstrak kasar saponin digunakan untuk menguji aktivitas antimikrobanya. Tanaman bawang merah yang dibudidayakan di lahan marginal pasir pantai menghasilkan saponin yang  lebih tinggi yang terakumulasi pada akarnya. Produksi saponin semakin meningkat seiring dengan umur tanaman bawang merah, baik yang dibudidayakan di lahan marginal pasir pantai maupun di lahan sawah biasa. Saponin yang diekstraksi dari akar bawang merah yang dibudidayakan di lahan marginal dan lahan biasa menunjukkan aktivitas antimikroba yang lebih tinggi daripada aktivitas antijamurnya

    Formula padat Bacillus cereus STRAIN TLE1.1 untuk pengendalian penyakit busuk pangkal batang (Sclerotium rolfsii) pada tanaman tomat

    Full text link
    Penyakit utama tanaman tomat yaitu busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii dapat menimbulkan kerugian mencapai 80-100%. Tujuan penelitian yaitu untuk mendapatkan formula padat Bacillus cereus strain TLE1.1 yang efektif untuk pengendalian penyakit busuk pangkal batang pada tanaman tomat. Penelitian bersifat eksperimen dengan mengamati kemampuan formula padat B.cereus strain TLE1.1 dalam pengendalian penyakit busuk pangkal batang dengan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas 9 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas kombinasi bahan pembawa formula padat yang terdiri atas limbah padat ampas tebu, ampas tahu dan tongkol jagung, fungisida serta kontrol. Masing-masing formula padat B. cereus strain TLE1.1 diintroduksi pada benih dan bibit tomat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua formula mampu menekan penyakit busuk pangkal batang tanaman tomat. Formula terbaik dalam menurunkan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman yaitu formula ampas tahu dan ampas tahu + tongkol jagung. Main disease of tomato plant, namely stem rot caused by Sclerotium rolfsii which can cause losses up to 80-100%. The aim of the study was to obtain a solid formula of Bacillus cereus strain TLE1.1 which was effective for controlling stem rot disease in tomato plant. This research was an experimental study to know the ability of the solid formula of B. cereus strain TLE1.1 in controlling stem rot disease which was carried out in a completely randomized design consisting of 9 treatments and 3 replications. The treatment consisted of a combination of solid formula carriers consisting of sugarcane solid waste, tofu dreg and corncob, fungicides and controls. Each solid formula of B. cereus strain TLE1.1 was introduced into tomato seeds and seedlings. The results showed that almost all of the formulas were able to suppress stem base disease of tomato plants. The best formula that reduced stem rot in plants were the tofu dreg and tofu dreg + corncob formula

    199

    full texts

    217

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agro
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇