Jurnal Agro
Not a member yet
217 research outputs found
Sort by
Pematahan dormansi benih cabai lokal tiung tanjung asal tabalong Kalimantan Selatan
Tiung Tanjung seeds pepper are believed to have dormant properties that can be detrimental to farmers during planting. The aim of this study was to find out the correct method of breaking the dormancy on Tiung Tanjung pepper. The study was designed with a two-stage nested design, the first stage was the seed storage time of 1, 3, 5, 7, 9, and 11 weeks. The second stage was a dormant breakdown method consisting of 8 treatments namely control, aquades, warm water (40 °C), ionic water, IAA 100 ppm, IAA 200 ppm, KNO3 0,1% and KNO3 0.5%. Each unit of experiment used 3 repetitions with 25 seeds planted using Top of Paper method (TP). Parameters observed were the vigor index, growth speed, germination,maximum germination potential, fresh seed, seed mortality rate, and growth performance. The results of the study showed that the treatment of Tiung pepper seed immersed in 0.5% KNO3 for 24 hours was able to break the dormancy at 7 weeks after storage with germination values increased to 80%. Treatment with 0.1% KNO3 could break the dormancy in the 9th week. Dormancy breakdown treatments with aquades, warm water (40 °C), ionic water, IAA 100 ppm, and IAA 200 ppm had not been able to break the dormancy of Tiung pepper seeds up to 11 weeks of storage.
Benih cabai Tiung Tanjung diyakini memiliki sifat dormansi yang dapat merugikan petani saat penanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode pematahan dormansi yang tepat pada cabai Tiung Tanjung. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan tersarang dua tingkat, tingkat pertama adalah lama masa simpan benih yaitu 1, 3, 5, 7, 9, dan 11 minggu simpan dan tingkat kedua adalah metode pematahan dormansi yang terdiri dari 8 perlakuan yaitu kontrol, akuades, air hangat (40 °C), air ion, IAA 100 ppm, IAA 200 ppm, KNO3 0,1% dan KNO3 0,5%. Setiap satuan percobaan menggunakan 3 ulangan. Setiap ulangan menggunakan 25 benih yang ditanam dengan metode uji di atas kertas (UDK). Parameter yang diamati adalah indeks vigor, kecepatan tumbuh, daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, benih segar tidak tumbuh, dan tingkat kematian benih, dan performa kecambah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman benih cabai Tiung dalam KNO3 0,5% selama 24 jam mampu mematahkan dormansi pada 7 minggu setelah simpan dengan nilai daya berkecambah mencapai 80%. Perlakuan dengan KNO3 0,1% dapat mematahkan dormansi pada minggu ke-9. Perlakuan pematahan dormansi dengan akuades, air hangat (40 °C), air ion, IAA 100 ppm dan IAA 200 ppm belum mampu mematahkan dormansi benih cabai Tiung hingga 11 minggu simpan
Respons tanaman bawang merah terhadap pemberian plant growth promoting rhizobacteria dan pupuk NPK 15-10-12
Shallots are a horticultural commodity with high economic value. The high demand is reversed to the low production. The continuous and excessive use of NPK fertilizer in shallot cultivation will have an impact on decreasing land productivity. Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) is an alternative to reduce this impact. The research aimed to examine the response of shallot plants to application of PGPR and several dosage levels of NPK 15-10-12 fertilizer, and to obtain the best treatment. The research was carried out from July to September 2023 in Sandaran Galeh Village, Sungai Penuh City, Jambi Province at an altitude of 836 m above sea level using a Randomized Block Design. The experiment used several concentrations of PGPR and doses of NPK 15-10-12 i.e. No PGPR and No NPK, NPK 525 kg ha-1, PGPR 5 mL L-1 + NPK 400 kg ha-1, PGPR 10 mL L-1 + NPK 275 kg ha-1, PGPR 15 mL L-1 + NPK 150 kg ha-1, and PGPR 20 mL L-1. Data were analyzed using ANOVA and DMRT test at the 5% level. The results showed that PGPR 15 mL L-1 + NPK 150 kg ha-1 produced the best growth response and yield in an effort to reduce the use of NPK 15-10-12 fertilizer. The PGPR can be applied to promote eco-green in shallot productivity.
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) termasuk komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi. Namun, permintaan yang tinggi tidak diiringi dengan produksi yang optimum. Penggunaan pupuk NPK dalam budidaya bawang merah secara terus-menerus dan berlebihan akan berdampak menurunnya produktivitas lahan. Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) menjadi alternatif dalam mengurangi dampak tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji respon tanaman bawang merah terhadap pemberian beberapa konsentrasi PGPR dan beberapa taraf dosis pupuk NPK 15-10-12, serta mendapatkan perlakuan terbaiknya. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juli hingga September 2023 di Desa Sandaran Galeh Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi dengan ketinggian 836 m dpl dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan yang digunakan yaitu beberapa konsentrasi PGPR dan dosis NPK 15-10-12, yaitu tanpa PGPR dan tanpa NPK, NPK 525 kg ha-1, PGPR 5 mL L-1 + NPK 400 kg ha-1, PGPR 10 mL L-1 + NPK 275 kg ha-1, PGPR 15 mL L-1 + NPK 150 kg ha-1, dan PGPR 20 mL L-1. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan PGPR 15 mL L-1 + NPK 150 kg ha-1 menghasilkan respon pertumbuhan dan hasil terbaik dalam upaya pengurangan penggunaan pupuk NPK 15-10-12. PGPR dapat diaplikasikan untuk mendukung produktivitas bawang merah yang ramah lingkungan
The influence of ameliorant, nutrient solution and bioferilizer on soil P, plant P uptake, and yield of red chili.
The productivity and quality of red chili are greatly influenced by soil conditions and the availability of nutrients. Nutrients play a critical role in the growth and development of red chili plants. This experiment aimed to determine the combination of ameliorant, nutrient solution, and biofertilizer on the population of phosphate-solubilizing bacteria (PSB), available P, P-uptake, and red chili production in Inceptisols. The experiment was conducted at the experimental field of the Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The experiment used a Randomized Complete Block Design (RCBD) with seven treatments and four replications, consisting of control, NPK, and nutrient solution (NS) with doses of 0, 6, and 12 kg ha-1 biofertilizers. The dosage used in a single application was 15 g plant-1 of NPK fertilizer and 300 mL plant-1 of nutrient solution. The base fertilizer consisted of manure in the control treatment and an ameliorant in other treatments at a dose of 4 t ha-1. The results showed that the combination of ameliorant + NPK + 6 kg ha-1 biofertilizer increased PSB population (4.93 x 106 CFU mL-1), available P (15.4 ppm), and P-uptake (0.74 g plant-1). Meanwhile, the combination of ameliorant + nutrient solution + 6 kg ha-1 biofertilizer increased fruit diameter (15 mm), and length of red chili (17.3 cm). Correlation analysis indicated positive correlation between red chili production with stem diameter and fruit length, but a negative correlation with P-uptake. Regression analysis indicated that stem diameter and PSB population had the most dominant effect on red chili yield.
Produktivitas dan kualitas cabai merah sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah dan ketersediaan unsur hara. Unsur hara memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai merah. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi amelioran, larutan hara dan biofertilizer terhadap populasi bakteri pelarut fosfat (BPF), P tersedia, serapan P, dan produksi cabai merah pada tanah Inceptisols. Percobaan dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tujuh perlakuan dan empat kali ulangan, terdiri dari: kontrol, NPK dan Larutan Hara dengan dosis 0, 6, dan 12 kg ha-1 pupuk hayati. Dosis yang digunakan dalam satu kali aplikasi adalah pupuk NPK 15 g tanaman-1 dan larutan hara 300 mL tanaman-1. Pupuk dasar berupa pupuk kandang pada perlakuan kontrol dan amelioran pada perlakuan lain dengan dosis 4 t ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi amelioran + NPK + 6 kg ha-1 pupuk hayati mampu meningkatkan populasi BPF (4,93 x 106 CFU mL-1), P tersedia (15,4 ppm), dan serapan P (0,74 g tanaman-1). Sementara itu, kombinasi amelioran + larutan hara + 6 kg ha-1 pupuk hayati mampu meningkatkan diameter buah (15 mm), dan panjang cabai merah (17,3 cm). Analisis korelasi menunjukkan korelasi positif antara produksi cabai merah dengan diameter batang dan panjang buah, tetapi korelasi negatif dengan serapan P. Analisis regresi menunjukkan bahwa diameter batang dan populasi BPF memiliki pengaruh paling dominan terhadap hasil cabai merah
Yield components and seed attribute of nine varieties of open-pollinated chili.
Many studies related to chili varieties and productivity have been conducted. However, studies on the potential of seed production based on seed rendements to fulfil the need for chilli seeds are still limited. The study aimed to present rendement results, yield, and quality of the nine open-pollinated chilli seed varieties owned by the Indonesian Vegetable Research Institute (IVegRI), i.e. were Tanjung-2, Lembang 1, Ciko, Lingga, Kencana, Prima Agrihorti, Rabani Agrihorti, Carvi Agrihorti, and Branang, planted in a screen house. This study was conducted from January to December 2019. Cultivation techniques and seed certification followed the applicable Procedures. Data were analysed using descriptive methods. Observations were made on harvested fruits for yield and quality of seeds produced. The study revealed that Branang had the highest chili productivity (34.15 gm-2). Meanwhile, the highest seed rendement was Lembang 1 (5.48%). All varieties had good germination, namely above 75%. Based on the results, the breeders are expected to obtain information related to seed productivity from chili varieties owned by the Indonesian Vegetable Crops Research Institute (IVegRI).
Penelitian terkait varietas dan produktivitas cabai telah banyak dilakukan. Akan tetapi, penelitian tentang potensi produksi benih berdasarkan rendemen benih untuk memenuhi kebutuhan benih cabai masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan hasil rendemen, daya hasil, dan mutu sembilan varietas benih cabai menyerbuk terbuka milik Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) yaitu Tanjung-2, Lembang 1, Ciko, Lingga, Kencana, Prima Agrihorti, Rabani Agrihorti, Carvi Agrihorti, dan Branang yang ditanam di rumah kaca. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Desember 2019. Teknik budidaya dan sertifikasi benih mengikuti Prosedur yang berlaku. Data dianalisis dengan metode deskriptif. Pengamatan dilakukan terhadap buah yang dipanen untuk mengetahui daya hasil dan mutu benih yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Branang memiliki produktivitas cabai tertinggi (34,15 gm-2). Sementara itu, rendemen benih tertinggi adalah Lembang 1 (5,48%). Semua varietas memiliki daya berkecambah yang baik, yaitu di atas 75%. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan para pemulia tanaman dapat memperoleh informasi terkait produktivitas benih dari varietas cabai yang dimiliki Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa)
Pengaruh perbedaan nutrisi fosfor dan media tanam terhadap pertumbuhan tanaman melon (Cucumis melo L.,) hidroponik sistem irigasi tetes
The growth of melon (Cucumis melo L.,) can be improved by changing the nutrition and using planting media such as cocopeat and zeolite. The aim of this research was to determine the effect of different P nutrition, planting media composition and the interaction of two factors on the growth of melon. The research started from March 2023 to July 2023 at the screen house and agronomy horticulture laboratory of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The first factor consisted of five levels of difference in P nutrition: AB-Mix nutrition manufacturer, P difference in the growth phase: flowering: fruit ripening (1.5%: 1.5% : 1.5% ; 1.75% : 2.00% ; 1.75% ; 2.25% : 2.75% : 2.00%, and; 2.75% : 3.5% : 2.5%). The second factor was the type of planting media, which consisted of three levels with a cocopeat:zeolite ratio (100% : 0, 50% : 50%, and 75% : 25%). The research found that the interaction between variations in P nutrition and the composition of the planting medium increased root length and leaf area, but did not affect plant length or chlorophyll content in melon plants. Different P nutrients could increase plant length, root length, leaf area and chlorophyll content in melon plants. Planting media composition was able to increase plant length, root length, and leaf area, but did not affect chlorophyll content of melon plants. These results indicate that differences P nutrition (F2) and planting media composition (P3) can be used in hydroponic melon production to improve melon plant growth.
Peningkatan pertumbuhan tanaman melon (Cucumis melo L.,) secara hidroponik dapat dilakukan melalui modifikasi nutrisi unsur hara serta penggunaan media tanam yang tepat seperti cocopeat dan zeolit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan nutrisi P, komposisi media tanam serta interaksi perbedaan nutrisi P dan komposisi media tanam terhadap pertumbuhan tanaman melon hidroponik sistem irigasi tetes. Penelitian dilaksanakan Maret 2023 sampai dengan Juli 2023 di screen house dan laboratorium agronomi dan hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor. Faktor pertama perbedaan nutrisi P terdiri atas lima taraf yaitu: nutrisi AB-Mix pabrikan, perbedaan P pada fase pertumbuhan : pembungaan : pemasakan buah (1,5% : 1,5% : 1,5% ; 1,75% : 2,00% ; 1,75% ; 2,25% : 2,75% : 2,00%, dan ; 2,75% : 3,5% : 2,5%). Faktor kedua jenis media tanam terdiri atas tiga taraf dengan perbandingan media cocopeat : zeolite (100% : 0 ; 50% : 50%, dan ; 75% : 25%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Interaksi antara perbedaan nutrisi P dan komposisi media tanam mampu meningkatkan panjang akar dan luas daun tetapi tidak mampu meningkatkan panjang tanaman dan kadar klorofil tanaman melon. Perbedaan nutrisi P mampu dalam meningkatkan tanaman, panjang akar, luas daun dan kadar klorofil tanaman melon. Komposisi media tanam mampu meningkatkan panjang tanaman, panjang akar dan luas daun tetapi tidak mampu meningkatkan kadar klorofil tanaman melon. Hasil ini menunjukkan perbedaan nutrisi P (F2) dan komposisi media tanam (P3) dapat diaplikasikan pada budidaya melon hidroponik untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman melon
Pengaruh empat isolat Bacillus spp. untuk pertumbuhan tanaman padi dan peningkatan ketahanan terhadap serangan kepinding tanah (Scotinophara coarctata Fabricius.)
Rice black bug (Scotinophara coarctata Fabricius) is an important pest of rice plants. An alternative control method involves utilizing biological agents from the genus Bacillus. The research aims to identify the effective Bacillus spp. isolates in enhancing the growth and resistance of rice plants against rice bug infestations. The experimental study employed a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments: (1) B. cereus strain MRDKBTE 1.3, (2) B. subtilis strain MRTDUMBE 3.2.1, (3) B. cereus strain MRPLUMBE 1.3, (4) B. mycoides strain MRSNUMBE 2.2, and (5) Control, each with five replications. The results showed that B. cereus strain MRPLUMBE 1.3 increased plant height by 135.27 cm, and the number of tillers by 23.85, with fresh and dry weights of 0.8 grams and 0.09 grams, respectively. Furthermore, B. mycoides strain MRSNUMBE 2.2 reduced the number of eggs by 30.60 ± 2.70 eggs, with a hatching percentage of 74.46%, and an infestation intensity of 11.18%.
Kepinding Tanah (Scotinophara coarctata Fabricius) merupakan hama penting tanaman padi. Alternatif pengendalian yang dapat dilakukan dengan pemanfaatan agens hayati dari genus Bacillus. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi isolat Bacillus spp. yang efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tanaman padi terhadap serangan kepinding tanah. Penelitian secara eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yaitu : (1) B. cereus strain MRDKBTE 1.3, (2) B. subtilis strain MRTDUMBE 3.2.1, (3) B. cereus strain MRPLUMBE 1.3, (4) B. mycoides strain MRSNUMBE 2.2, dan (5) Kontrol dengan masing masing 5 ulangan. Hasil penelitian yang diperoleh B. cereus strain MRPLUMBE 1.3 meningkatkan pertumbuhan tanaman 135,27 cm, jumlah anakan 23,85 anakan, serta berat segar dan kering masing-masing sebesar 0,8 gram dan 0,09 gram. Selanjutnya, B. mycoides strain MRSNUMBE 2.2, dapat menurunkan jumlah telur 30,60 ± 2,70 telur, presentase telur yang menetas 74,46%, dengan intensitas serangan sebesar 11,18%
Keragaman genetik stroberi (Fragaria x ananassa Duch) berdasarkan marka morfologi dan molekuler
The development of new superior varieties will be more efficient if it is based on accurate information about the genetic diversity and population structure of available breeding resources, so that the combination of the most potential parents in the breeding program that will be carried out can be identified. Indonesia still lacks information of strawberry diversity.
The aim of this research is to study strawberry genetics based on morphological and molecular markers in order to develop strawberry varieties efficiently. Genetic relationship analysis was carried out on 20 genotypes of strawberries collected by Indonesian Instruments Standardization Testing Center for Citrus and Subtropical Fruits (BPSI Jestro), based on morphological characteristic and molecular Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Morphologycal markers analysis showed that there were two groups of strawberry genotypes using Gower dissimilarity coefficient value of 0.0936–0.5977. The result of molecular marker analysis was also separated into two groups by dissimilarity coefficient value of 0,1321-0,5566. Combination of morphologycal and molecular analysis was carried out and also showed two groups by disimilarity coefficient of 0,1657–0,5264. The information obtained on morphological characteristics and genetic distances can be used as a basic consideration in parental selection for strawberry breeding program.
Pengembangan varietas unggul baru akan lebih efisien bila didasarkan pada informasi yang akurat tentang keragaman genetik dan struktur populasi sumber genetik yang tersedia, sehingga dapat diketahui kombinasi tetua yang paling potensial dalam program pemuliaan yang akan dilakukan. Namun, informasi tentang keragaman genotipe-genotipe stroberi di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman genetik stroberi berdasarkan marka morfologi dan molekuler dalam rangka pengembangan varietas stoberi yang efisien. Analisis kekerabatan genetik dilakukan pada 20 genotipe stroberi koleksi Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (BPSI Jestro), berdasarkan karakter morfologi dan molekuler dengan metode Random Amplified Polymorhpic DNA (RAPD). Pengamatan pada 41 karakter morfologi menunjukkan terdapat 34 karakter yang beragam dan 7 karakter yang seragam. Hasil analisis menggunakan marka morfologi menunjukkan bahwa 20 genotipe stroberi terbagi menjadi dua kelompok dengan nilai koefisien ketidakmiripan Gower 0,0936–0,5977. Hasil analisis menggunakan marka molekuler juga terbagi menjadi dua kelompok dengan nilai koefisien ketidakmiripan sebesar 0,1321-0,5566. Analisis gabungan morfologi dan molekuler yang dilakukan juga membagi ke 20 genotipe menjadi dua kelompok dengan koefisien ketidakmiripan 0,1657–0,5264. Informasi karakter morfologi dan jarak genetik yang diperoleh dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam pemilihan tetua pada kegiatan pemuliaan tanaman stroberi
Pengaruh aplikasi zinc pada jagung terhadap pertumbuhan, produksi, mutu benih, dan kandungan zinc dalam benih
Functional food corn has the potential to be developed because it has complete nutritional content. However, the nutritional value needs to be increased. One of the nutrients that needs to be improved because it is needed for plant growth and human nutritional needs is zinc. Agronomic biofortification techniques using priming and spraying leaves are believed can increase growth, production, seed quality and nutritional content in corn seeds. The aim of this research was to determine the effect of Zinc application on growth, production, seed quality and Zinc concentration levels in corn seeds. The research was arranged in a Randomized Block Design and was repeated three times and there were five treatments in this study, namely (1) control; (2) Zinc priming 0.5%; (3) Zinc priming 0.5% + spraying 0.5% Zinc 30 Days After Planting (DAP); (4) Zinc priming 0.5% + spraying 0.5% Zinc 45 DAP; (5) Zinc priming 0.5% + spraying 0.5% Zinc 50 DAP. The research results showed that the combination of seed priming and Zinc spraying had a significant effect on the variables of chlorophyll content, chlorophyll index, plant dry weight, and the number of seeds per cob of Srikandi Ungu corn variety. Zinc biofortification treatment through Zinc priming 0.5% + 0.5% Zinc spraying 50 DAP is the best treatment in increasing growth, production, seed quality and zinc content in Srikandi Ungu cord seeds compared to other treatments.
Jagung pangan fungsional berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki kandungan nutrisi yang lengkap. Namun nilai kandungan nutrisinya perlu ditingkatkan. Salah satu nutrisi yang perlu ditingkatkan kandungannya karena sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman maupun kebutuhan nutrisi manusia adalah Zinc . Teknik biofortifikasi agronomi dengan priming dan penyemprotan daun diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan, produksi, hingga mutu benih dan kandungan nutrisi pada benih jagung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh aplikasi Zinc terhadap pertumbuhan, produksi, mutu benih, dan kadar konsentrasi Zinc dalam benih jagung. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang sebanyak tiga kali. Terdapat lima perlakuan pada penelitian ini, yaitu (1) kontrol; (2) priming Zinc 0,5%; (3) priming Zinc 0,5% + penyemprotan 0,5% Zinc 30 Hari Setelah Tanam (HST); (4) priming Zinc 0,5% + penyemprotan 0,5% Zinc 45 HST; (5) priming Zinc 0,5% + penyemprotan 0,5% Zinc 50 HST. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi priming benih serta penyemprotan Zinc berpengaruh nyata terhadap variabel kandungan klorofil, indeks klorofil, bobot kering tanaman, dan jumlah biji per tongkol jagung varietas Srikandi Ungu. Perlakuan biofortifikasi Zinc melalui priming Zinc 0,5% + penyemprotan 0.5% Zinc pada 50 HST merupakan perlakuan terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan, produksi, mutu benih, dan kadar zinc pada benih jagung varietas Srikandi Ungu dibandingkan dengan perlakuan lainnya
Penampilan agronomi tanaman bawang merah varietas lokananta hasil induksi mutasi kolkisin pada beberapa media tanam
Shallot (Allium ascalonicum L) is an important horticultural sub-sector commodity and potential to be developed. Nevertheless, the production fluctuates due to the use of vegetative seeds in cultivation. Currently, there are still a few true seed shallot (TSS) varieties circulating for production. TSS diversity is needed by the colchicine mutation supported by a proper planting media composition. The experiment aimed to determine the effect and obtain the best colchicine concentration with media composition on the performance of Lokananta shallot. The experiment used a randomized group design with two factors. The first factor was colchicine concentrations i.e. 0%, 0.25%, 0.50%, and 0.75%. The second factor was the composition of media i.e. soil + goat manure), soil + husk charcoal, and soil + husk charcoal + manure. The observations were the percentage of growing seeds (%), growth, and yield characteristics. The results showed that the concentration of colchicine and planting media affected on plant height, leaf area, number of leaves, dry plant weight, dry bulb weight, escaped dry bulb weight, number of tillers, and number of bulbs. Colchicine concentration with media composition only interacted on fresh plant weight with 0.75% colchicine with planting media soil + manure (1:1).
Bawang merah merupakan komoditas hortikultura penting dan berpotensi dikembangkan sebagai tanaman obat. Produksi bawang merah masih fluktuatif karena menggunakan benih vegetatif pada budidayanya. Saat ini, masih sedikit varietas true seed shallot (TSS) yang beredar di masyarakat. Diperlukan keragaman TSS melalui mutasi dengan kolkisin dan didukung komposisi media tanam yang tepat. Percobaan bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan memperoleh konsentrasi kolkisin dengan komposisi media terbaik terhadap penampilan bawang merah Lokananta. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 faktor. Faktor pertama konsentrasi kolkisin yang terdiri dari konsentrasi 0%, 0,25%, 0,50%, dan 0,75%. Faktor kedua komposisi media tanam yang terdiri atas tanah + pupuk kandang kambing, tanah + arang sekam, dan tanah + arang sekam + pupuk kandang kambing. Variabel pengamatan yaitu persentase benih tumbuh (%), karakter agronomi dan hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi kolkisin dan komposisi media tanam berpengaruh terhadap tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, bobot tanaman kering, bobot umbi kering, bobot umbi kering eskip, luas daun, jumlah anakan, dan jumlah umbi. Konsentrasi kolkisin dengan komposisi media hanya berinteraksi pada bobot tanaman segar. Pemberian kolkisin 0,75% dengan komposisi media tanam tanah + pupuk kandang kambing (1:1) mampu meningkatkan bobot tanaman segar
Produksi tanaman kopi liberika hasil penyambungan intra- dan inter- spesifik pada aplikasi mikoriza dan pupuk anorganik di lahan gambut
Increasing the production of Liberica coffee plants in peatlands can be achieved by applying mycorrhiza and using superior plants resulting from intra- and inter-specific grafting. This research aimed to determine the interactions between intra- and inter-specific grafted Liberica coffee plant with combination of mycorrhiza and inorganic fertilizers in peatlands. The experiment was conducted for 6 months on 2-year-old coffee plants used a Split-Plot Design with two treatment factors. The first factor (main plot) consisted of two levels, namely the Liberica coffee plant grafted with Liberica coffee (intra-specific) and Liberica coffee plants grafted with Robusta coffee (inter-specific). The second factor (sub-plot) was the treatment combination of mycorrhiza (Glomus sp-1a and Glomus sp-3c isolate) and inorganic fertilizer, which consisted of six levels: without mycorrhiza + 100% inorganic fertilizer, mycorrhiza + without inorganic fertilizer, mycorrhiza + 25% inorganic fertilizer, mycorrhiza + 50% inorganic fertilizer, mycorrhiza + 75% inorganic fertilizer, and mycorrhiza + 100% inorganic fertilizer according to recommendations. The results showed that there was an interaction between grafted Liberika coffee plants and a combination of mycorrhiza and inorganic fertilizers on the production of Liberika coffee plants. Combining mycorrhiza and 50% inorganic fertilizer was the best combination for producing intra- and inter-specific grafted of Liberica coffee plant in peat land.
Peningkatan produksi tanaman kopi Liberika di lahan gambut dapat dilakukan melalui aplikasi mikoriza dan penggunaan tanaman unggul hasil sambung intra- dan inter- spesifik. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan interaksi antara tanaman kopi liberika hasil sambung intra- dan inter- spesifik dengan kombinasi mikoriza dan pupuk anorganik di lahan gambut. Percobaan dilakukan selama 6 bulan pada tanaman kopi berumur 2 tahun menggunakan Rancangan Petak Terbagi faktorial dengan dua faktor perlakuan, yaitu faktor pertama (petak utama), perlakuan jenis tanaman kopi hasil penyambungan terdiri dari dua taraf, yaitu tanaman kopi Liberika hasil penyambungan dengan kopi Liberika (intra-spesifik) dan tanaman kopi Liberika hasil penyambungan dengan kopi Robusta (inter-spesifik). Faktor kedua (anak petak) adalah perlakuan kombinasi mikoriza (isolat Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c) dan pupuk an-organik yang terdiri atas enam taraf yaitu tanpa mikoriza + 100% pupuk an-organik, mikoriza + tanpa pupuk an-organik, mikoriza + 25% pupuk an-organik, mikoriza + 50% pupuk an-organik, mikoriza + 75% pupuk an-organik serta mikoriza + 100% pupuk an-organik sesuai rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara jenis tanaman kopi Liberika hasil sambung dengan kombinasi mikoriza dan pupuk anorganik terhadap produksi tanaman kopi Liberika. Kombinasi mikoriza dan 50% pupuk anorganik merupakan kombinasi terbaik untuk produksi tanaman kopi Liberika hasil sambung intra- dan inter-spesifik di lahan gambut