Jurnal Agro
Not a member yet
    217 research outputs found

    Pendugaan parameter genetik karakter biomassa dan hasil pada galur-galur F7 sorgum numbu X samurai 2.

    Full text link
    This research is a preliminary yield test of the F7 lines crossing from Numbu x Samurai 2. The aims are to obtain selection criteria, a relationship between vegetative characters and yield and biomass characters, and to obtain vegetative characters that have a direct influence on character Yield and biomass and have high production potential. This study used 20 F7 lines and 4 check lines grown using a Randomized Complete Block Design. The data were analyzed for variance and to estimate variance component analysis, broad sense heritability, genetic diversity coefficient, correlation analysis, cross-trace analysis, and selection index. The results showed that to obtain lines with high biomass, attention should be put on the characters of plant height, panicle diameter, and weight while selecting lines with high yields needs to pay attention tocharacters of the number of leaves at harvest and panicle weight. These characters show wide genetic variation, high broad sense heritability values, and have a high correlation and direct influence on biomass and yield. Therefore, they were potent selection criteria for sorghum plant breeding programs. The F7 lines selected for high biomass and yield based on the selection index were NS021, NS126, NS107, NS123, NS112, NS020, NS015, NS119, NS121 and NS011. Penelitian ini merupakan bagian dari uji daya hasil pendahuluan galur-galur F7 hasil persilangan Numbu x Samurai 2. Tujuannya adalah memperoleh kriteria seleksi hasil dan biomassa, memperoleh hubungan antar karakter vegetatif dengan karakter hasil dan biomassa, memperoleh karakter vegetatif yang berpengaruh langsung terhadap karakter hasil dan biomassa dan memperoleh galur sorgum yang memiliki potensi produksi tinggi. Penelitian ini menggunakan 20 galur F7 dan 4 galur pembanding yang ditanam menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak. Data dianalisis ragam, analisis komponen ragam, heritabilitas arti luas, koefisien keragaman genetik, analisis korelasi, analisis sidik lintas dan Indeks seleksi. Hasil analisis menunjukkan bahwa untuk mendapatkan galur dengan biomassa tinggi perlu memperhatikan karakter tinggi tanaman, diameter dan bobot malai. Sedangkan seleksi galur dengan hasil tinggi perlu memperhatikan karakter bobot malai. Karakter-karakter tersebut menunjukkan ragam genetik yang luas, nilai heritabilitas dalam arti luas yang tinggi, dan mempunyai korelasi dan pengaruh langsung besar terhadap biomassa dan hasil, sehingga merupakan karakter seleksi yang sangat baik untuk program pemuliaan tanaman sorgum. Galur F7 yang terseleksi dengan biomassa dan hasil tinggi berdasarkan indeks seleksi adalah NS021, NS126, NS107, NS123, NS112, NS020, NS015, NS119, NS121 dan NS011

    Role of bokashi fertilizer in increasing growth and yield components of groundnut on marginal dry land in southeast Sulawesi

    Full text link
    The low growth and production of groundnuts in Southeast Sulawesi are caused by land dominated by marginal dry land and low soil fertility. One of the efforts to overcome these problems is converting secondary vegetation into bokashi fertilizer, effectively improving soil's physical, chemical, and biological properties on marginal land. This study aims to determine the effect of bokashi fertilizer on the growth and yield of several ecotypes of groundnut plants on marginal dry land in South Konawe. This research was conducted in Baito-South Konawe. Laboratory analysis was conducted at the Agrotechnology Laboratory, Faculty of Agriculture, Halu Oleo University, Kendari. The design used a randomized block design with a factorial pattern of two factors, the first factor was groundnut ecotype, and the second factor was bokashi fertilizer. Parameters observed were relative growth rate, leaf area index, net assimilation rate, productive branches, number of young pods, seed weight per plant, the weight of 100 seeds, and plant production. The results showed that there was an interaction effect between the local groundnut ecotype Muna and bokashi fertilizer on the relative growth rate, leaf area index, net assimilation rate at 56 DAP, productive branches, number of young pods, seed weight per plant, the weight of 100 seeds and production. The application of bokashi fertilizer 15 t ha-1 showed the best response of groundnut plants to the ecotypes of Wadaga, Parigi, and Lasehao. Rendahnya pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah di Sulawesi Tenggara disebabkan oleh lahan yang didominasi lahan kering marginal dengan kesuburan tanah yang rendah. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan pemanfaatan limbah pertanian menjadi pupuk bokashi yang efektif memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pupuk bokashi terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa ekotipe tanaman kacang tanah pada lahan kering marginal. Penelitian lapangan dilaksanakan di Kecamatan Baito, Kabupaten Konawe Selatan. Penelitian laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi Universitas Halu Oleo, Kendari. Desain penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor yaitu pertama faktor ekotipe kacang tanah dan kedua faktor dosis pupuk bokashi. Parameter yang diamati yaitu laju tumbuh relatif, indeks luas daun, laju asimilasi bersih, cabang produktif, jumlah polong muda, bobot biji per tanaman, dan bobot 100 biji tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara ekotipe kacang tanah lokal Muna dan pupuk bokashi dalam mempengaruhi laju tumbuh relatif, indeks luas daun, laju asimilasi bersih pada umur 56 HST, cabang produktif, jumlah polong muda, bobot biji per tanaman, dan bobot 100 biji. Pemberian pupuk bokashi 15 t ha-1 menunjukkan respon tanaman kacang tanah terbaik pada ekotipe Wadaga, Parigi dan Lasehao

    Ketahanan 50 galur harapan padi terhadap penyakit tungro

    Full text link
    Green leafhoppers is the main vector for tungro disease infection. Tungro is a rice disease which is characterized with stunted plants, yellow orange leaves, and a reduced number of tillers. The research aimed to determine the resistance of 50 rice lines to tungro disease. This research was conducted in Augmented Design with 5 blocks. The observation was held on 50 expected tungro resistant rice lines, with 2 check varieties, Inpari 36 and Ciherang. Experiment in field were included observation on number of imago and nymph green leafhoppers for each line test during 2, 4, 6 and 8 weeks after planting, and the incidence of tungro infection. Leaf which indicated tungro infection was isolated for its DNA and PCR analysis at the virology  laboratory of the tungro disease research station. The results showed that the number of green leafhopper (imago and nymph) for the  43 test lines were less than the check varieties of 5% LSI test. The incidence of tungro was very low in the field. The results of the PCR test showed that the rice line infected by tungro virus was only rice line number 7. Thus, there are 43 promizing lines that can be recommended for future research to obtain tungro resistant varieties.ABSTRAK Wereng hijau merupakan vektor utama penyebaran penyakit tungro. Tungro merupakan penyakit padi dengan ciri utama tanaman kerdil, daun berwarna kuning oranye, dan jumlah anakan berkurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketahanan 50 galur padi terhadap penyakit tungro. Penelitian ini menggunakan rancangan augmented yang terbagi dalam 5 blok. Pengamatan dilakukan terhadap 50 galur padi harapan tahan tungro, dengan 2 varietas cek, yaitu Inpari 36 dan Ciherang. Penelitian di lapangan meliputi pengamatan terhadap jumlah imago dan nimfa wereng hijau pada masing-masing galur uji selama 2, 4, 6 dan 8 minggu setelah tanam, serta insidensi serangan tungro. Sampel daun tanaman yang terindikasi terserang tungro diuji untuk mengkonfirmasi keberadaan virus tungro secara molekuler dengan isolasi DNA (PCR) dan RNA (RT/PCR) di laboratorium virologi Loka Penelitian Penyakit Tungro. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 43 galur uji yang signifikan lebih sedikit jumlah wereng hijau (nimfa dan imago) dibanding varietas cek pada uji LSI 5%. Insidensi tungro sangat rendah di lapangan. Hasil uji PCR menunjukkan bahwa galur uji yang terinfeksi virus tungro RTSV hanya galur nomor 7. Dengan demikian, terdapat  43 galur yang direkomendasikan pada penelitian berikutnya untuk memperoleh varietas tahan tungro

    Respons pertumbuhan bibit kopi arabika dan sifat kimia media tanam terhadap pemberian pupuk hayati dan pupuk organik

    Full text link
    Using soil planting media with low fertility can inhibit seedling growth. Bbiofertilizer and organic fertilizer applications in plantation nurseries aim to improve the planting media quality and stimulate seedling growth. The effectiveness of biofertilizers is thought to be influenced by the carrier formula and the planting medium characteristics. This study aimed to determine the effect of biofertilizer formulas and organic fertilizer doses on the growth of Arabica coffee seedlings and the planting media chemical properties. The experiment used a randomized block design with two factors. The first factor was biofertilizer formula types, namely without biofertilizers, 10 g polybag-1 solid biofertilizer, and 10 ml polybag-1 liquid biofertilizer. The second factor was sheep manure dosage (2%, 4%, 6%, and 8%). The results showed that the solid biofertilizers significantly increased seed vigor (height, stem diameter, and number of leaves) of coffee seedlings aged 6 MAP (months after planting). The dose of 6% manure produced the highest leaf dry weight of coffee seedlings aged 6 MAP. Increasing the dose of manure from 2% to 8% could significantly increase the pH, organic C content, P-available, CEC, exchangeable pottasium, exchangeable calsium, and exchangeable magnesium of the planting medium. The application of solid biofertilizer formula and manure can support the production of good-quality Arabica coffee seedlings.ABSTRAKPenggunaan media tanam tanah dengan kualitas kesuburan yang rendah dapat menghambat pertumbuhan bibit. Aplikasi pupuk hayati dan pupuk organik pada pembibitan tanaman perkebunan bertujuan untuk memperbaiki kualitas media tanam dan memacu pertumbuhan bibit lebih optimal. Keefektifan pupuk hayati diduga dipengaruhi oleh formula bahan pembawa dan karakteristik media tanam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formula pupuk hayati dan dosis pupuk organik terhadap pertumbuhan bibit kopi arabika dan sifat kimia media tanam. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama terdiri dari formula pupuk hayati yaitu tanpa pupuk hayati, pupuk hayati padat 10 g polybag-1, pupuk hayati cair 10 ml polybag-1. Faktor kedua adalah dosis pupuk kandang domba (2%, 4%, 6%, dan 8%). Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati padat secara nyata dapat meningkatkan vigor bibit (tinggi, diameter batang, dan jumlah daun) bibit kopi umur 6 BST (bulan setelah tanam). Dosis pupuk kandang 6% menghasilkan bobot kering daun bibit kopi umur 6 BST yang paling tinggi. Peningkatan dosis pupuk kandang 2% menjadi 8% dapat meningkatkan secara nyata pH, kadar C organik, P tersedia, KTK, K-dd, Ca-dd, dan Mg-dd media tanam. Aplikasi formula pupuk hayati padat dan pupuk kandang dapat menunjang produksi bibit kopi arabika yang berkualitas baik

    Pengaruh dosis pupuk organik kasgot terhadap karakter agronomi dan hasil tanaman bayam (Amaranthus tricolor)

    Full text link
    Increasing soil fertility through the application of organic fertilizers is important, and the newest organic fertilizer source is maggot frass. This study aimed to examine the effectiveness of maggot frass on the growth and yield of spinach plants. Research was conducted in the Agronomy and Horticulture Laboraty, and Experimental Field Faculty of Agriculture Universitas Soedirman from October - December 2022. This research was an experimental study and used a Randomized Block Design with three replications. The standard fertilizers used were 150 kg ha-1 urea, 150 kg ha-1 SP-36, and 100 kg ha-1 KCl. The treatments tried included K0: control, K1: standard fertilization, K2: 1 t ha-1, K3: 2 t ha-1, K4: 4 t ha-1, K5: 8 t ha-1, K6: 16 t ha -1, K7: 32 t ha-1, and K8: 64 t ha-1. The results showed that the application of maggot frass starting at a dose of 2 t ha-1 was able to increase the yield of spinach plants. The highest yield was achieved at a dose of 64 t ha-1 of 18.85 t ha-1. These results have implications that maggot frass can be used as a source of organic fertilizer with application doses starting at 2 t ha-1.ABSTRAK Kesuburan tanah sangat berpengaruh terhadap hasil tanaman bayam. Peningkatan kesuburan tanah melalui aplikasi pupuk organik menjadi penting, dan sumber pupuk organik terbaru adalah kasgot. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pupuk kasgot terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam. Penelitian dilakukan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, dan Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Soedirman pada Oktober - Desember 2022. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga kali ulangan. Perlakuan yang dicoba adalah dosis pupuk kasgot. Pupuk standar yang digunakan adalah urea 150 kg ha-1, SP-36 150 kg ha-1, dan KCl 100 kg ha-1. Perlakuan yang dicoba antara lain K0: control, K1: pemupukan standar, K2: 1 t ha-1, K3: 2 t ha-1, K4: 4 t ha-1, K5: 8 t ha-1, K6: 16 tha-1, K7:  32 t ha-1, dan K8: 64 t ha-1. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi pupuk organik kasgot mulai dosis 2 t ha-1 sudah mampu meningkatkan hasil tanaman bayam dibandingkan kontrol maupun pemupukan standar. Hasil tertinggi dicapai pada dosis 64 t ha-1 sebesar 18,85 t ha-1. Aplikasi kasgot layak secara teknis agronomi. Hasil ini memberikan implikasi bahwa kasgot dapat dijadikan sebagai sumber pupuk organik dalam budidaya tanaman bayam dengan dosis aplikasi mulai 2 t ha-1

    Substitusi sebagian pupuk anorganik dengan bahan organik terhadap ketersediaan N, P, K dan hasil tanaman jagung pada tanah inceptisol

    Full text link
    The reduced usage of inorganic fertilizers is needed to avoid various undesirable impacts. This study aimed to assess whether partial reduction of inorganic fertilizers with the use of organic fertilizers can maintain nutrient adequacy and yield of maize. The research was conducted in Juwiring, Klaten, Central Java from August 2021 - March 2022 designed in a Completely Randomized Group Design with seven fertilizer combination treatments, namely ¼ NPK + 1 organic fertilizer, ½ NPK + 1 organic fertilizer, ¾ NPK + 1 organic fertilizer,  ¾ NPK + ¾ organic fertilizer, and two comparison treatments namely no fertilizer and standard NPK (350 kg ha-1, SP36 150 kg ha-1, KCl 75 kg ha-1) repeated three times. The parameters observed were N-total soil and tissue, P-available soil, K-available available P and soil CEC, P and K levels of plant tissue. Organic fertilizer of 10 t ha-1 was applied a week before planting. The application of ½ NPK of the standard dose + 1 organic fertilizer showed higher N-total soil, P-available, and K-available as well as higher corn yield than the standard NPK treatment with the results of cob weight (22.52 g), cob weight without cob (13.92 g), cob length (21.47 g), and cob diameter (4.55 g) against the standard NPK treatment. The use of organic fertilizers needs to be done to maintain the sustainability of natural resources.ABSTRAK Pengurangan penggunaan pupuk anorganik perlu dilakukan untuk menghindari berbagai dampak yang tidak diharapkan. Penelitian bertujuan untuk mengkaji apakah pengurangan sebagian pupuk anorganik dengan pupuk organik mampu menjaga kecukupan hara dan hasil jagung. Penelitian dilaksanakan di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah sejak Agustus 2021 – Maret 2022 menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tujuh perlakuan kombinasi pupuk yaitu: ¼ NPK + 1 pupuk organik, ½ NPK + 1 pupuk organik, ¾ NPK + 1 pupuk organik(E), 1 NPK + 1 pupuk organik, ¾ NPK + ¼ pupuk organik, ¾ NPK + ½ pupuk organik, ¾ NPK + ¾ pupuk organik, dua perlakuan pembanding yaitu tanpa pupuk serta NPK standar (350 kg ha-1, SP36 150 kg ha-1, KCl 75 kg ha-1) yang diulang 3 kali. Parameter pengamatan yaitu N-total tanah dan jaringan, P-tersedia tanah, K-Tersedia tanah dan KTK tanah, serta kadar P dan K jaringan tanaman. Pupuk organik 10 t ha-1 diberikan seminggu sebelum tanam. Aplikasi ½ NPK dari dosis standar + 1 pupuk organik menunjukkan N-total, P-tersedia, dan K-tersedia tanah serta hasil jagung yang lebih tinggi dari perlakuan NPK standar dengan hasil berat tongkol berkelobot (22,52 g), berat tongkol tanpa kelobot (13,92 g), panjang tongkol (21,47 g), dan diameter tongkol (4,55 g) terhadap perlakuan NPK standar. Penggunaan pupuk organik perlu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya alam

    Isolasi dan karakterisasi cendawan endofit asal rizosfer bawang merah “Lembah Palu†dan potensinya menghambat penyakit bercak ungu Alternaria porri (ELL) CIF

    Full text link
    The decrease in shallot production due to Alternaria porri infection can reach 50%-70% or can even cause crop failure. One of the biological control methods to overcome this is by utilizing antagonistic microbes. The purpose of this study was to identify endophytic fungi from the rhizosphere of shallots "Lembah Palu " that have the potential to inhibit the A. porri fungus that causes purple spot disease. Research January-September 2022, the activity began with isolating endophytic fungi using the surface sterilization method, followed by characterization and identification of morphology macroscopically and microscopically, compatibility testing between isolates, and antagonism power test. The results obtained 5 isolates of endophytic fungi identified in the genus Fusarium sp., Aspergillus flavus, Penicillium sp., Aspergillus niger, and Trichoderma sp. A total of seven compatible interactions between endophytic fungi resulted from compatibility tests, while 3 other interactions were not compatible. The antagonism test of 5 fungal isolates against the A. porri produced an average inhibition of ≥ 75%. The HKP5 isolate (Penicillium sp) had the best inhibition of 78.96%. This indicates that endophytic fungal isolates have some potencies the potential to be developed as biological control agents in an effort to support sustainable agriculture.ABSTRAKPenurunan produksi tanaman bawang merah akibat serangan Alternaria porri dapat mencapai 50%-70% bahkan dapat menyebabkan terjadinya gagal panen. Salah satu metode pengendalian hayati untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan memanfaatkan mikroba yang bersifat antagonis . Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi cendawan endofit asal rizosfer bawang merah “Lembah Palu†yang berpotensi dalam menghambat cendawan A. porri penyebab penyakit bercak ungu. Penelitian Januari-September 2022, kegiatan diawali dengan mengisolasi cendawan endofit menggunakan metode sterilisasi permukaan, dengan perendaman sampel akar berurutan dalam 2% Natrium hipoklorit, etanol 70% dan air steril, kemudian dikulturkan dalam media Potato Dextrose Agar (PDA). Selanjutnya setelah isolat tumbuh, disubkultur kembali untuk dilakukan karakterisasi dan identifikasi morfologi secara makroskopis dan mikroskopis, pengujian kompatibilitas antarisolat serta uji daya antagonisme. Dari hasil penelitian diperoleh 5 isolat cendawan endofit yang teridentifikasi dalam genus Fusarium sp., Aspergillus flavus, Penicillium sp., Aspergillus niger, dan Trichoderma sp. Sebanyak tujuh interaksi kompatibel antarcendawan endofit dihasilkan dari uji kompatibilitas, sedangkan 3 interaksi lainnya tidak kompatibel. Uji daya antagonisme 5 isolat cendawan terhadap patogen A. porri menghasilkan rata-rata daya hambat ≥ 75%. Isolat HKP5 (Penicillium sp) memiliki daya hambat terbaik sebesar 78,96%. Hal ini mengindikasikan bahwa isolat cendawan endofit berpotensi untuk dikembangkan sebagai agens pengendali hayati dalam upaya mendukung pertanian berkelanjutan

    Penetuan dosis pupuk nitrogen, fosfor, dan kalium optimum untuk padi sawah varietas bioemas agritan

    Full text link
    Fertilizer requirements for each rice variety are different from other varieties. Research on the optimum dosage of fertilization on new superior varieties is needed to obtain optimum growth and yield. This study aims to determine the optimum dosage of N, P, and K fertilizer for the growth and productivity of lowland rice of the Bioemas Agritan variety. The research was conducted at Banten Assessment Institute for Agricultural Technology, from February 2022 to June 2022 on soils with very low C-organic and total N conditions. The study consisted of three parallel experiments, namely the N, and P, K fertilization experiment using a single factor randomized  complete block design which was repeated three times. Fertilizer dosages consist of five levels, namely 0, 50, 100, 150, and 200% of the reference dosage. Determination of the optimum dosage based on the maximum value of the relative yield quadratic equation. The optimum fertilizer dosage for the lowland rice variety Bioemas Agritan is 140,93% of the reference dosage or equivalent to 422,79 kg ha-1 urea, while the optimum dosage of P2O5 and K2O fertilizer cannot be determined.ABSTRAK Kebutuhan pupuk setiap varietas padi berbeda antara varietas satu dengan varietas lainnya. Penelitian dosis optimum pemupukan pada varietas unggul baru diperlukan untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil yang optimum. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis optimum pupuk N, P, K untuk pertumbuhan dan produktivitas padi sawah varietas Bioemas Agritan. Penelitian dilaksanakan di BPTP Banten, pada bulan Februari 2022 sampai dengan Juni 2022 pada tanah dengan kondisi C-organik dan N total sangat rendah. Penelitian terdiri atas tiga percobaan paralel yaitu percobaan pemupukan N, P, K menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak faktor tunggal yang diulang sebanyak tiga kali. Dosis pupuk terdiri atas lima taraf yaitu 0, 50, 100, 150, dan 200 % dari dosis acuan. Penentuan dosis optimum berdasarkan nilai maksimum dari persamaan kuadratik hasil relatif. Dosis pupuk optimum untuk padi sawah varietas Bioemas Agritan adalah 140,93% dari dosis acuan atau setara dengan 422,79 kg ha-1 urea, sedangkan dosis optimum pupuk P2O5 dan K2Otidak dapat ditentukan

    Pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi liberika (Coffea liberica) belum menghasilkan pada beberapa jenis pohon penaung

    Full text link
    Research on how shade trees affects growth and development of liberica coffee is still limited. Liberica coffee shade trees can take advantage from other plantation plants that are mature and have a high habitus. The research objective was to analyze the effect of shade trees on the growth and the development of immature liberica coffee. The research was conducted at the  the Pakuwon Experimental Station, Indonesian Industrial and Beverage Crops Research Institute, Sukabumi from January 2021 to March 2022. The experiment was arranged in a randomized block design with five treatments and four replications. The treatment was shade tree, namely: (1) without shade as a control, (2) Averrhoa bilimbi, (3) Canarium sp., (4) Cassia spectabilis, and (5) Cocos nucifera L.. Observations were made on liberica coffee plants with the parameters of plant height, stem diameter, number of branches, leaf area, stomata density, leaf chlorophyll, soil fertility, percentage of flowering plants and average number of flowers. The results showed that the growth of liberica coffee plants with tall coconut shade was better than the others. The results of this study enrich information regarding the effect of several shade trees on immature liberica coffee plant in agroforestry systems.ABSTRAK Penelitian tentang pengaruh pohon penaung terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi liberika belum banyak dilakukan. Pohon penaung kopi liberika dapat memanfaatkan tanaman perkebunan lainnya yang sudah dewasa dan memiliki habitus tinggi. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh jenis pohon penaung terhadap pertumbuhan dan perkembangan kopi liberika belum menghasilkan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Pakuwon, Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Sukabumi mulai bulan Januari 2021 sampai dengan Maret 2022. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diuji adalah jenis pohon penaung, yaitu: (1) tanpa penaung sebagai kontrol, (2) belimbing wuluh, (3) kenari, (4)  ramayana, dan (5) kelapa dalam. Pengamatan dilakukan terhadap tanaman kopi Liberika belum menghasilkan dengan parameter tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, luas daun, kerapatan stomata, klorofil SPAD, kesuburan tanah, persentase tanaman berbunga dan rerata jumlah bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman kopi liberika dengan penaung kelapa dalam lebih baik dibandingkan penaung lainnya. Hasil penelitian ini memperkaya informasi mengenai pengaruh jenis pohon penaung terhadap tanaman kopi liberika dalam sistem agroforestry

    Enhancing phosphate availability and growth of C. asiatica in andisols through phosphate-solubilizing bacteria application

    Full text link
    Centella asiatica is a medicinal plant containing asiaticoside bioactive, this is considerably higher if grown in the highlands generally on Andisols. Conversely, phosphorus was deficient in Andisol soils. The experiment aimed to study effect of phosphate solubilizing bacteria (PSB) isolates from the rhizosphere of C. asiatica which can dissolve P, produce plant growth promoters, increase growth of C. asiatica and fertilization efficiency. The research was done at Soil Biology Laboratory, Agriculture Faculty, Universitas Padjadjaran and at the experimental field of Agricultural Technology Research and Assessment Installation Manoko, Lembang District, West Java, Indonesia. The research used a factorial randomized block design with three replications and two factors. The first factor were application techniques: control, root soaking, and soil watering. The second factor were dose of NPK fertilizer and soil conditioner: control, P fertilizer dose of 100%, soil conditioner, P fertilizer dose 75% + soil conditioner, and P fertilizer dose of 100% + soil conditioner. Three superior isolates were isolated from C. asiatica rhizosphere and have been identified as: Paraburkholderia caribensis strain MNL-133, Paraburkholderia caribensis strain DSM 13236, and Pseudomonas aeruginosa strain K19PSE24. The results showed that the application of PSB combined with a dose of P fertilizer and soil conditioner on C. asiatica affected the soil P available, the number of leaves, the number of stolons and plant dry weight.ABSTRAKPegagan (Centella asiatica) salah satu komoditas tanaman obat yang memiliki kandungan bioaktif asiatikosida. Asiatikosida lebih tinggi jika ditanam di dataran tinggi umumnya ordo Andisols. Defisiensi hara fosfor salah satu kendala budi daya pada tanah Andisol. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh bakteri pelarut fosfat (BPF) unggul yang diisolasi dari roofer tanaman pegagan yang mampu melarutkan P dan menghasilkan pemacu pertumbuhan tanaman pengaruhnya terhadap peningkatan pertumbuhan tanaman pegagan dan efisiensi pemupukan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tanah, Fakultas Pertanian UNPAD dan di kebun percobaan Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Manoko, Lembang menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah teknik aplikasi BPF: kontrol; perendaman akar; penyiraman pada tanah. Faktor kedua yaitu dosis pupuk NPK dan pembenah tanah, yaitu perlakuan kontrol, pupuk P dosis 100%, pembenah tanah, pupuk P dosis 75% + pembenah tanah, dan pupuk P dosis 100% + pembenah tanah. Isolasi BPF dari rhizosfer pegagan menghasilkan isolat unggul yaitu Paraburkholderia caribensis strain MNL-133, Paraburkholderia caribensis strain DSM 13236, and Pseudomonas aeruginosa strain K19PSE24. Hasil menunjukkan pemberian BPF dikombinasikan dengan dosis pupuk P dan pembenah tanah pada tanaman pegagan memberikan pengaruh terhadap P tersedia, jumlah daun, jumlah stolon, dan berat kering tanaman

    199

    full texts

    217

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agro
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇