Jurnal Agro
Not a member yet
217 research outputs found
Sort by
Seleksi dan indeks sensitivitas cekaman kekeringan galur-galur padi sawah tadah hujan
Cekaman kekeringan hampir terjadi setiap tahun pada sawah tadah hujan. Salah satu teknologi untuk mengatasinya adalah dengan penanaman padi toleran kekeringan. Perakitan varietas toleran kekeringan terus dilakukan dengan mengevaluasi galur-galur yang ditujukan untuk stress kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi, mengevaluasi penurunan hasil, dan mengetahui indeks sensitivitas cekaman kekeringan pada galur-galur tadah hujan hasil seleksi generasi lanjut. Percobaan seleksi cekaman kekeringan dilakukan pada Maret – November 2016 dengan materi genetik sebanyak 135 galur dan Cek Mekongga yang ditanam pada kondisi stress kekeringan (61-72 centibar/Kpa) dan evaluasi galur – galur terseleksi dilakukan pada Februari – Juli 2017 dengan menggunakan rancangan acak kelompok 3 ulangan. Hasil kegiatan seleksi memperoleh sebanyak 19 galur terbaik memiliki toleransi terhadap stres kekeringan untuk dilanjutkan pada kegiatan evaluasi lebih lanjut di kondisi sawah tadah hujan kondisi optimum. Hasil penelitian evaluasi 19 galur menunjukkan sebanyak 4 galur toleran yaitu BP17586-2-0-JK-3-IND-2-SKI-10-PWK-1-SKI-2 (ISK 0.49), BP18354-1-2-JK-3-IND-1-SKI-3-PWK-1-SKI-1 (ISK 0.49), BP18360-2-3-JK-1-IND-1-SKI-7-PWK-2SKI-1 (ISK 0.16), dan BP18406c-JK-1-IND-0-SKI-3-PWK-2-SKI-1 (ISK 0.1). Galur BP18354-1-2-JK-3-IND-1-SKI-3-PWK-1-SKI-1 (Y = 4,77 ton ha-1) adalah galur terbaik yang memiliki potensi hasil tinggi lebih baik dari cek Inpari 38 Tadah Hujan dan memiliki toleransi terhadap cekaman kekeringan. Galur ini potensial untuk diuji lebih lanjut dan dikembangkan di sawah tadah hujan.                           ABSTRACTDrought stress almost occurs every year in rainfed rice fields. One of the technologies to overcome is by planting drought tolerant varieties rice. Therefore, the assembly of drought tolerant varieties is carried out continuously by evaluating lines intended for drought stress. This study aimed to select, evaluate the decline in yield, and determine the drought tolerance index of rainfed lines resulting from advanced generation selection. Study-1 of drought stress selection experiment was carried out in WS 1 2016 (March – November) with 135 genetic lines and Mekongga as susceptible checks and Inpari 38 as resistant check planted in drought stress conditions (61-72 centibar / Kpa), and study-2 was an evaluation of selected strains carried out in WS 1 2017 (February – July) with 19 selected lines and 3 checks (Mekongga and Ciherang as susceptible check and Inpari 38 as resistant checks) by using a randomized block design with 3 replications. The results of the selection activities (Study-1) obtained as many as 19 of the best lines which had tolerance to drought stress and these lines were continued in further evaluation activities in rainfed lowland with optimum conditions (Study-2). The results showed that 4 of 19 lines were tolerant namely BP17586-2-0-JK-3-IND-2-SKI-10-PWK-1-SKI-2 (DSI - drought stress sensitivity index = 0.49), BP18354-1 -2-JK-3-IND-1-SKI-3-PWK-1-SKI-1 (DSI 0.49), BP18360-2-3-JK-1-IND-1-SKI-7-PWK-2SKI-1 (DSI 0.16), and BP18406c-JK-1-IND-0-SKI-3-PWK-2-SKI-1 (DSI 0.1). The BP18354-1-2-JK-3-IND-1-SKI-3-PWK-1-SKI-1 (Y = 4.77 tons ha-1) line was the best strain that had the potential for high yield better than the Inpari 38 Rainfed Check and had tolerance to stress. This strain has the potential to be further tested and developed in rain-fed rice fields
Karakter morfologi, heritabilitas dan indeks seleksi terboboti beberapa generasi F1 Melon (Cucumis melo L.)
Perakitan varietas melon hibrida dengan karakter-karaker unggul merupakan suatu upaya untuk memenuhi kebutuhan benih melon dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor benih melon dari luar negeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penampilan fenotipik 24 genotip tanaman melon hibrida (F1). Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura pada bulan Februari sampai Mei 2019. Bahan yang digunakan adalah 24 genotip melon hibrida (F1) hasil persilangan di antara galur-galur melon. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan satu perlakuan yaitu genotip dan diulang sebanyak 3 kali. Analisis data menggunakan analisis varians (Anova) yang dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%. Nilai heritabilitas dalam arti luas dihitung menggunakan taksiran nilai kuadrat tengah pada analisis varians. Seleksi indeks digunakan untuk mendapatkan kandidat varietas tanaman melon hibrida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 24 tanaman melon hibrida (F1) yang diuji memiliki perbedaan penampilan pada karakter umur berbunga, panjang buah, diameter buah, tebal daging buah, kadar gula, jumlah biji per buah, bobot buah per tanaman dan produksi per hektar. Nilai heritabilitas dalam arti luas tanaman melon hibrida (F1) pada karakter yang dievaluasi berkisar antara 0,15 – 0,71. Hasil nilai seleksi indeks terboboti menunjukkan bahwa terdapat dua calon varietas tanaman melon hibrida yang memiliki seleksi indeks tertinggi yaitu G4 dan G5.  ABSTRACTAssembling hybrid melon varieties with superior characters is an effort to meet the needs of domestic melon seeds and reduce dependence on imported melon seeds. The purpose of this study was to evaluate the phenotypic appearance of 24 genotypes of hybrid melon plants (F1). This research was conducted at the Agrotechnology Experimental Field at Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura from February to May 2019. The materials use
Pengaruh pemberian fosfor di pembibitan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi pada rendaman cekaman
Cekaman rendaman merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi dalam kegiatan budidaya padi di lahan rawa lebak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian fosfor sebelum tanaman terendam yang diharapkan mampu meningkatkan ketahanan tanaman padi terhadap cekaman rendaman. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot) dengan varietas padi sebagai petak utama dan waktu pemberian fosfor sebagai anak petak yang masing-masing diulang sebanyak 3 kali. Varietas padi yang digunakan yaitu IR 42, Inpari 30, dan Ciherang. Waktu pemberian fosfor terdiri dari kontrol (P0), pemberian fosfor 3 hari sebelum perendaman (P1), 7 hari sebelum perendaman (P2), dan 14 hari sebelum perendaman (P3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ciherang merupakan varietas yang paling terhambat pertumbuhannya akibat cekaman rendaman. Selain itu, perlakuan P2 (aplikasi fosfor pada 7 hari sebelum perendaman) menunjukkan hasil terbaik dibandingkan perlakuan lain yang secara signifikan ditunjukkan pada peubah luas daun, berat kering akar dan total berat kering tanaman pada 6 minggu setelah tanam atau 14 hari setelah perendaman. Data yang dihasilkan diharapkan mampu menjadi bahan pertimbangan dalam perbaikan teknis budidaya padi di lahan rawa lebak.  One of the major constraints of rice cultivation in the non-tidal swamp area is submergence stress, which is considered could be managed by phosphorus application before submergence in order to increase rice tolerance towards submergence stress condition. Split plot design was used in this research with three replicates. Rice cultivars served as the main plot consisted of IR42, Inpari 30, and Ciherang. While for the sub-plot was phosphorus application consisted of P0 = control, P1 = phosphorus application 3 days before submergence, P2 = phosphorus application 7 days before submergence, and P3 = phosphorus application 14 days before submergence. Results showed that Ciherang was the most affected cultivar due to submergence stress. Furthermore, P2had better performance compared to other P treatments as significantly showed in leaf area, dry root weight, and total dry weight at 6 weeks after sowing or 14 days after submergence. The resulted data hopefully can be used as a consideration for swamp rice cultivation improvement effort
Stabilitas dan adaptabilitas daya hasil hibrida jagung manis padjadjaran berdasarkan analisis AMMI
Evaluasi interaksi G x E melalui pengujian multilokasi merupakan tahapan penting untuk menentukan stabilitas dan adaptabilitas hibrida superior. Untuk menentukan interaksi G x E, stabilitas dan adaptabilitas hibrida jagung manis Padjadjaran di Jawa Barat, enam belas hibrida Padjadjaran dan dua hibrida komersial diuji di tiga lokasi selama dua musim yang berbeda di Jawa Barat- Indonesia. Hasil memperlihatkan bahwa biplot AMMI dapat dengan akurat menentukan interaksi G x E, stabilitas, dan adapatabilitas hasil hibrida jagung manis Padjadjaran di Jawa Barat. Biplot AMMI mengidentifikasi bahwa hibrida jagung manis Padjadjaran G 10 sebagai jagung manis yang stabil di berbagai lokasi pengujian dan musim di Jawa Barat, sedangkan hibrida jagung manis Padjadjaran G5 dan Padjadjaran G11 sebagai hibrida yang spesifik lingkungan. Biplot AMMI disarankan sebagai alat menentukan hibrida superior yang akan dilepas di Indonesia.Evaluation of genotype (G) x environment (E) interaction through multi-location testing is an important phase to determined stability and adaptability of superior hybrid. To determined G x E interaction, stability and adaptability of Padjadjaran sweet corn hybrids, sixteen new Padjadjaran sweetcorn hybrids and two commercial hybrids were tested in three locations for two different seasons in West Java, Indonesia. Results showed that AMMI biplot was accurately determined G x E interaction, stability and adaptability of Indonesian sweet corn in West Java for yield. The AMMI biplot determined Padjadjaran G 10 sweetcorn hybrid as a stable hybrid across locations and seasons in West Java, while Padjadjaran G5 and G11 as the specific environment hybrid. The AMMI biplot is suggested to implement as a tool to release particular superior hybrid in Indonesia. Key words : Adaptability, AMMI, G x E interaction, Sweetcorn, Stabili
Aplikasi agens hayati dari perakaran bamboo dan rumput gajah untuk mengendalikan penyakit hawar daun dan peningkatan hasil tanaman pada sawi (Brassica rapa)
Penyakit Damping Off dan hawar daun merupakan penyakit yang sering ditemukan pada tanaman sawi (Brassica rapa) dan tanaman hortikultura sayuran lainnya. Kedua penyakit ini disebabkan oleh jamur Rizoctonia solani. Penggunaan bahan alam berbasis agens hayati mikroba merupakan solusi penanganan penyakit tanaman yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, selain untuk pengendalian penyakit juga berpotensi meningkatkan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek aplikasi agens hayati dari perakaran bambu dan rumput gajah terhadap serangan penyakit hawar daun dan hasil tanaman sawi. Perlakuan yang dicobakan adalah agens hayati dari ekstrak akar bambu (EAB) dan akar rumput gajah (EARG), dan pupuk hayati konsorsium (PHK) dengan konsentrasi : PHK 1% , EAB 1%, EAB 1,5% , EAB 2%, EARG 1% , EARG 1,5%, EARG 2%, dan tanpa agens hayati sebagai kontrol. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian adalah pemberian agens hayati dari EAB, EARG dan PHK dapat mengendalikan penyakit hawar daun, dan meningkatkan tinggi tanaman, bobot segar tanaman dan bobot kering tanaman. Agens hayati dengan konsentrasi terbaik adalah PHK 1%, EAB 2% dan EARG 2%. Hasil penelitian yang terbaik dapat direkomendasikan kepada petani untuk meningkatkan produksi tanaman sawi. ABSTRACT Damping off and leaf blight diseases are often found in mustard (Brassica rapa) and other vegetable horticultural crops. Both diseases are caused by a fungal pathogen Rizoctonia solani. The use of natural materials based on biological agents is a sustainable environmentally friendly solutions, besides controlling crop diseases, it also has the potential to increase crop yields. This study aims to determine the effect of application of biological agents from bamboo roots and elephant grass on leaf blight and mustard. The treatments involved biological agents extracted from bamboo roots (EAB) and elephant grass roots (EARG), and consortium bio-fertilizers (PHK) with concentrations of 1% layoff, EAB 1%, EAB 1.5%, EAB 2%, EARG 1%, EARG 1.5%, EARG 2%, and without biological agents as a control.  The experimental design was a randomized block design with three replications. The results of the study showed that the the application of biological agents from bamboo roots (EAB), elephant grass roots (EARG) and consortium bio-fertilizers (PHK) can control the leaf blight disease, and can increase the plant height, and the fresh and plant dry weight. The best concentration of biological agents is PHK 1%, EAB 2% and EARG 2%. The best results of this study can be recommended to farmers to increase the production of mustard plants.Â
Lettuce and water spinach growth in silver catfish (Pangasius Sp) culture using aquaponic system
Solid and liquid wastes from feces and fish feed residues can affect water quality, which in turn affect fish physiological processes, behavior, growth and mortality. So it is necessary to have water quality management in the aquaponic system. This study aimed to observe the growth of lettuce and water spinach as biofilters in silver catfish culture (Pangasius sp) using aquaponic system. The study was conducted at the Laboratory of Fisheries, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Universitas Padjadjaran, from March to April 2018. This was an experimental study using Randomized Block Design (RBD) with two treatments and six repetitions to compare between combination of silver catfish and water spinach with silver catfish and lettuce combination. The parameters observed were fish growth, fish survival, increase in stem length, and increase in the number of leaves. The results show silver catfish and water spinach combination produced the highest crop with a stem length of 38.7 cm and more leaves with an addition of 16 leaves. A higher absolute growth of 7.79 grams fish-1 and 100% survival are also seen in this combination. Furthermore, water spinach is more effective as biofilter for aquaponic systems than lettuce.Limbah padat dan cair dari feses dan sisa pakan ikan dapat mempengaruhi kualitas air, yang selanjutnya memengaruhi proses fisiologis ikan, perilaku, pertumbuhan, dan angka kematian. Sehingga perlu adanya manajemen kualitas air pada sistem akuaponik. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pertumbuhan selada dan kangkung sebagai biofilter pada budidaya ikan lele (Pangasiussp) dengan sistem aquaponik. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran dari bulan Maret hingga April 2018. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua perlakuan dan enam ulangan untuk membandingkan kombinasi Ikan Patin dan kangkung dengan kombinasi lele dan selada. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan ikan, kelangsungan hidup ikan, pertambahan panjang batang, dan pertambahan jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan Kombinasi lele perak dan kangkung menghasilkan tanaman tertinggi dengan panjang batang 38,7 dan daun lebih banyak dengan penambahan 16 helai daun. Pertumbuhan absolut yang lebih tinggi sebesar 7,79 g ikan-1 dan kelangsungan hidup 100% juga terlihat pada kombinasi ini. Dengan demikan kangkung merupakan biofilter yang lebih efektif untuk aquaponik dibandingkan selada
Antagonism potency of dark Septate endophytes against Pyricularia oryzae for improving health of rice plants
Blast disease caused by Pyricularia oryzae (Po) is the main disease affecting rice production. Dark septate endophytes (DSEs) is known to improve plant performance and suppress disease. This study evaluated DSEs antagonism potency against P. oryzae in improving the rice plant's health. The research stages consisted of: (1). DSE and Po growth rate; (2). Antagonism of DSEs against Po; (3). Chitinase; (4). DSEs Viability; (5). DSEs application to rice seeds in nurseries. The results showed the growth of APDS 3.2 colonies had fulfilled Petri (d = 9 cm) at three days after incubation (DAI), while 4.1 BTG and TKC 2.2.a at 7 DAI.  Po had slow colony growth required 20 DAI. Inhibition of APDS 3.2 against Po was 43.75%, higher than of 4.1 BTG (38.60%) and of TKC 2.2.a (39.76%). The rice plants inoculated with APDS 3.2 had a relatively higher at seedling height, root length, wet weight, and dry weight than those inoculated with TKC 2.2.a and 4.1 BTG. The highest DSEs colonization was found in APDS 3.2 at 50.56%, followed by TKC 2.2.a (46.67%) and 4.1 BTG (40%). DSEs fungus has the potential to suppress rice blast pathogens by improving the health of rice plants, especially APDS 3.2.Key words: Colonization, Growth Rate, Viability  Penyakit blas yang disebabkan oleh Pyricularia oryzae (Po) merupakan penyakit utama yang memengaruhi produksi padi. Dark septate endophyte (DSE) diketahui mampu meningkatkan performa tanaman dan menekan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi antagonisme DSE terhadap P. oryzae dalam meningkatkan kesehatan tanaman padi. Tahapan Penelitian terdiri atas: (1). Kecepatan tumbuh DSE dan Po; (2). Antagonisme DSE terhadap Po; (3). Kitinase; (4). Viabilitas DSE; (5). Aplikasi DSE pada benih padi di persemaian. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan koloni APDS 3.2 telah memenuhi petri (d= 9 cm) pada 3 hari setelah inkubasi (HSI), sedangkan 4.1 BTG dan TKC 2.2.a pada 7 HSI. Pertumbuhan koloni Po lambat membutuhkan 20 HSI. Penghambatan APDS 3.2 terhadap Po sebesar 43,75% lebih tinggi dibandingkan 4.1 BTG (38,60%) maupun TKC 2.2.a (39,76%). Tanaman padi yang diinokulasi APDS 3.2 memiliki tinggi, panjang akar, bobot basah, dan bobot kering relatif lebih tinggi dibandingkan yang diinokulasi TKC 2.2.a dan 4.1 BTG. Kolonisasi DSE tertinggi dijumpai pada APDS 3.2 sebesar 50,56%, diikuti TKC 2.2.a (46,67%) dan 4.1 BTG (40%). Cendawan DSE memiliki potensi untuk menekan patogen blas padi dengan cara meningkatkan kesehatan tanaman padi, khususnya APDS 3.2
Aplikasi dan efektivitas pupuk hayati dalam upaya perbaikan mutu produksi, produktivitas dan pengendalian serangan layu fusarium pada bawang merah
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan nasional yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Untuk pencapai target produksi yang maksimal, umumnya petani menggunakan pupuk dan pestisida kimia sintetik yang tinggi. Penurunan daya dukung lahan pertanian akibat penggunaan bahan kimia agroinput berlebihan mendorong penggunaan pupuk hayati berbahan aktif mikroba pemicu pertumbuhan terutama untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetik pada bawang merah. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi beberapa pupuk hayati yang dikombinasikan dengan pupuk kimia sintetik untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan dan produksi bawang merah, serta menekan penyakit layu fusarium. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuan berupa tiga jenis pupuk hayati, yaitu Agrofit, Bio Pf dan Biotrico dikombinasikan dengan dosis pupuk kimia sintetik yaitu sebesar 0, 25, 50, 75, 100% dari dosis rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kombinasi pupuk hayati Agrofit, Bio-Pf dan Biotrico dengan 50% dosis rekomendasi pupuk kimia sintetik dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan dan bobot umbi kering sebesar 7.91 – 32.65% dari aplikasi pupuk kimia sintetik 100% dosis rekomendasi. Pada kombinasi Bio-Pf yang ditambah dengan 25% pupuk kimia sintetik dosis rekomendasi menunjukkan nilai efektifitas relatif agronomi dan nilai penekanan terhadap infeksi fusarium tertinggi. Kombinasi perlakuan ini juga memberikan total biomasa tidak berbeda pada dosis pupuk kimia sintetik 100%.                              ABSTRACT Shallot is one of important vegetables in Indonesia. Expecting high yield, farmers tend to apply high amount of chemical fertilizer and shynthetic pesticide. The concern to the negative impacts of chemical agroinput in agriculture production has induced the application of biofertilizer containing beneficial microbes to reduce the use of synthetic fertilizers in shallot production. The research was conducted to evaluate several formulated biofertilizers combined with synthetic fertilizers on growth, yield and productivity improvement, and fusarium wilt control on shallot. The research was conducted at Sukabumi, West Java, Indonesia from March to August 2017. The combination of bio-fertilizer types, i.e. Agrofit, Bio-Pf and Biotrico and synthetic fertilizers in different dosages, i.e 0, 25, 50, 75, 100 % from recommended dosages were arranged in completely randomized block design with three replications. The results showed the application of bio-fertilizers might reduce 50% of synthetic fertilizer usage. The combined application of each bio-fertilizer with 50% recommended dosage of synthetic fertilizers improved growth quality and total dry bulb weight of 7.91 – 32.65% from 100% recommended dosage of synthetic fertilizer. The combination of Bio-Pf and Agrofit with 25% recommended synthetic fertilizer gave highest relative agronomic effectiveness value and fusarium wilt suppression. Total biomass weight of these treatments also had negligible differences with 100% synthetic fertilizers dosages.Â
Water saving technology package to improve shallot productivity for smallholder farmers in eastern Indonesia
Dryland usage for shallot cultivation is very potential in West Nusa Tenggara (NTB) Province Indonesia. However, its utilization is faced with various obstacles such as soil low fertility, limited water availability, and high pest and disease attacks. Currently, farmers apply flood and furrow irrigation methods for shallot cultivation in NTB Province, which may not suitable on dryland, especially on coarse texture soils. The purpose of this study was to obtain a package of water-saving technology to increase the productivity of shallots in the dryland of NTB. There were three treatments of technology packages tested laid as Randomized Block Design: A (Trichoderma sp., bio-urine liquid fertilizer, sprinkler irrigation; B (bio-urine liquid fertilizer, furrow irrigation); and C (farmer practice), involving farmer group members from planning to evaluating for the technology package that being tested. The amount of water used was measured using a water meter. The results showed that package A had achieved the highest shallot yield at 31.6 tons ha-1, which was 14% and 45% higher compared to package B and C, respectively. Package A was also able to save water irrigation for 62.1% and 95.8% compared to package B and C, respectively. Thus, sprinkler irrigation not only can increase shallot yield but also better in saving water irrigation. Penggunaan lahan kering untuk budidaya bawang merah di Nusa Tenggara Barat sangat potensial. Namun hal tersebut terkendala oleh beberapa masalah seperti rendahnya kesuburan tanah, terbatasnya air irigasi, dan tingginya gangguan hama dan penyakit. Saat ini, petani di NTB mengairi tanaman bawang merah dengan cara direndam atau leb yang belum tentu sesuai dengan kondisi lahan kering terutama pada tanah dengan tekstur berpasir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan paket teknologi hemat air yang dapat meningkatkan hasil dan pendapatan budidaya bawang merah di lahan kering. Ada tiga perlakuan paket teknologi yang ditata dengan rancangan acak kelompok yaitu A (Trichoderma sp., pupuk organik cair bio-urine, dan irigasi curah); B (pupuk organik cair bio-urine, dan pengairan leb), dan paket C (cara petani: pengairan leb). Penelitian ini melibatkan petani mulai dari perencanaan sampai evaluasi paket teknologi yang diujikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paket A menghasilkan produksi tertinggi sebesar 31,6 t ha-1, atau 14% dan 45% ebih tinggi dari paket B dan C. Paket A juga mampu menghemat air irigasi sebanyak 62,1% dan 95,8% dibandingkan dengan paket B dan C. Dengan demikian, penggunaan irigasi curah mampu meningkatkan hasil dan menghemat air irigasi
Bioaktivitas ekstrak biji bintaro terhadap kutu daun Aphis gossypii GLOVER dan pengaruhnya terhadap tanaman cabai
Aphis gossypii Glover hama penting tanaman cabai, dapat dikendalian dengan menggunakan pestisida nabati. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi waktu aplikasi dan konsentrasi ekstrak kasar biji bintaro (Cerbera odollam G.) dalam mengendalikan A. gossypii Glover serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap, dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah waktu aplikasi ekstrak (waktu sebelum dan waktu setelah infestasi A. gossypii Glover). Faktor kedua adalah konsentrasi ekstrak bintaro (0%, 1%, 2%, 3%, 4% dan 5%). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi 1% ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas kutu daunnya 68% sedangkan pada konsentrasi 3% mortalitasnya mencapai 90%. Ekstrak biji bintaro yang diberikan sebelum hama diinfestasikan menyebabkan mortalitas kutu daun 59,5% sedangkan jika diberikan setelah hama diinfestasikan mortalitasnya meningkat menjadi 77,6%. Nilai LC50 dan LC90 ekstrak biji bintaro diaplikasikan sebelum dan setelah hama diinfestasikan secara berurutan adalah 1,8%; 4,4%; 0,57% dan 2,8%. A. gossypii Glover yang diinfestasikan pada tanaman berumur 4 minggu dan disemprot dengan ekstrak biji bintaro pada konsentrasi 1% dapat menurunkan intensitas kerusakan pada hari ke tujuh setelah infestasi dan tidak berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot segar maupun bobot kering tanaman cabai. Ekstrak biji bintaro dapat dikembangkan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama A. gossypii Glover pada tanaman cabai. Aphis gossypii Glover is an important sucking insect pest of the pepper (Capsicum annum L.), Can be controlled by using natural pesticides. The study aimed to evaluate the application time and concentration of Cerbera odollam G. seed extract in controlling A. gossypii and their effects on pepper, C. annum. Complete randomized design was used in this experiment, with two factors, and was repeated three times. The first factor was the time of application of the extract, consisting of before and after A. gossypii infestation. The second factor was the concentration of C. odollam extract (0%, 1%, 2%, 3%, 4% and 5%). The results indicated the C. odollam seed extract affected the mortality of A. gossypii. At a concentration of 1% of C. odollam seed extract, the mortality of A. gossypii was 68% while at a concentration of 3% the mortality reached up to 90%. C. odollam seed extract applied before infestation, the mortality of A. gossypii was 59.5% whereas, after the infestation, the mortality increased up to 77.6%. LC50 and LC90 extract of C. odollam seeds applied before and after infestation were 1.8%; 4.4%; 0.57% and 2.8% respectively. A. gossypii infested at 8 weeks old pepper and sprayed with C. odollam seed extract at a concentration of 1% lowered the crop damage on the seventh day after infestation. On the other hand, the application of C. odollam seed extract did not affect the number of leaves, fresh weight, and dry weight of pepper. This study indicate that C. odollam seed extract can be developed as a natural pesticide to control A. gossypii on pepper.