Jurnal Agro
Not a member yet
217 research outputs found
Sort by
Potensi bakteri pelarut P dan Penambat N rhizosper kelapa sawit gambut saprik
Pemanfaatan pupuk hayati sangat berpotensi untuk menurunkan input produksi pada budidaya kelapa sawit khususnya pupuk. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan Bakteri Pelarut P dan Penambat N yang berpotensi sebagai bahan pupuk hayati dari rizosfer tanaman kelapa sawit. Penelitian dilakukan di lahan gambut saprik Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau dari bulan Juni sampai November 2014. Pengambilan sampel tanah dilakukan menggunakan bor gambut pada bagian rizosfer dengan kedalaman sampai 20 cm. Isolasi dan karakterisasi dengan metode pure plate menggunakan media selektif N Ashby untuk penambatan N dan Pikovskaya untuk pelarutan P, sedangkan analisis fiksasi N dan pelarutan P dilakukan menggunakan HPLC dan spektrofotometer di Laboratorium mikrobiologi PT. RPN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah gambut saprik berpotensi sebagai sumber isolat bakteri pelarut P dan penambat N potensial. Jumlah isolat bakteri pelarut P yang berhasil diperoleh adalah 11 isolat sedangkan jumlah bakteri penambat N non-simbiotik adalah 6 isolat. Isolat bakteri pelarut P potensial asal Sungai Ara dengan kemampuan melarutkan P 329,94 ppm; sedangkan bakteri penambat N non-simbiotik potensial adalah asal Kuala Panduk dengan kemampuan fiksasi N 0,0293 mmol l-1jam-1. ABSTRACTUtilization of biofertilizer is potential to decrease production inputs on oil palm cultivation, especially fertilizer expense. The research aimed to obtain Solubilizing P-Bacteria and Non-Symbiotic Fixing N bacteria which potential as biological fertilizer from oil palm rhyzosphere. The research was conducted at Pelalawan sapric peat soil from June to November 2014. Soil samples were taken by using peat drill into 20 cm soil depth, while isolation and characterization used pure plate method by using the selective media N Ashby for N fixation and Pikovskaya for P solubility. N fixation and P dissolution analyzed by using HPLC and spectrophotometer at PT. RPN microbiology laboratory. The results showed that sapric peat soil potentially utilize as microbial resource. The number of phosphate solubilizing bacteria isolates were 11 isolates, while the number of non-symbiotic nitrogen fixation bacteria inhibiting N Azotobacter sp. were 6 isolates. The potential isolate of P-solubilizing bacteria was Sungai Ara origin with the ability to dissolve P about 329.94 ppm; while the potential of non-symbiotic N-fixing bacteria was Kuala Panduk origin with N fixation ability 0.0293 mmoll-1h-1
Respon pertumbuhan vegetatif semaian akibat aplikasi mikroba potensial pada rehabilitasi pohon kakao tanpa penebangan
Usaha yang dapat dilakukan untuk megatasi penurunan produksi pohon kakao tua dan rusak adalah penerapan inarching grafting atau penyambungan tanaman kakao muda unggul berumur minimal 6 bulan yang ditanam di sekitar pohon tua. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh aplikasi Trichoderma asperellum dan Azotobacter chroococcum terhadap pertumbuhan vegetatif semaian kakao yang akan disambungkan ke pohon kakao tua menggunakan metode inarching grafting. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan tiga ulangan. Petak Utama yaitu aplikasi T.asperellum sebanyak 4 g L-1 setiap tanaman, dengan empat taraf: tanpa T.asperellum (T0), satu kali (T1), dua kali (T2), dan tiga kali (T3) aplikasi. Anak Petak adalah inokulasi A.chroococcum sebanyak 40 ml x 108 cfu setiap tanaman, dengan 3 taraf: tanpa A.chroococcum (A0), satu kali (A1) dan dua kali (A2) aplikasi. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat interaksi antara aplikasi T.asperellum dengan A.chroococcum, tetapi terdapat pengaruh tunggal dari kedua mikroba potensial yang diaplikasikan. Pada umur semaian 90 hst, aplikasi dua kali A.chroococcum menghasilkan rata-rata tinggi tanaman 155,25 cm, total daun 41 helai dan diameter batang 13,10 mm. Pemberian tiga kali T.asperellum menghasilkan rata-rata tinggi tanaman 150,89 cm,  total daun 41,22 helai dan diameter batang 12,86 mm. Semaian yang diberi mikroba potensial digunakan untuk rehabilitasi pohon kakao tua. An efforts that can be done to overcome the decline in production of old and damaged cocoa trees are the application of inarching grafting or grafting of superior young cocoa plants with a minimum age of 6 months planted around old trees. The purpose of this study was to examine the effect of the application of Trichoderma asperellum and Azotobacter chroococcumon the vegetative growth of cocoa seedlings which was grafted to old cocoa trees using the inarching grafting method. The research used a Split Plot Design with three replications. The main plot was application of T.asperellum of 4 g L-1 for each seedling and cocoa tree, consisted of four levels. i.e: without T.asperellum (T0), one time application (T1), two times application (T2), and three times application (T3). The subplot factor was A.chroococcum as much as 40 ml x 108 cfu on each seedling and cocoa tree, consisted of three levels, i.e.: without A. chroococcum (A0), one time application (A1) and two times application (A2).  The analysis of variance results showed that no interaction between applications of T.asperellum with  A.chroococcum, but it had a singular effect for both potential microbial applied. At 90 days after planting, the application of A.chroococcum twice resulted in an average plant height of 155.25 cm, a total of 41 leaves and a stem diameter of 13.10 mm. Application of T.asperellum three times resulted in an average plant height of 150.89 cm, the number of leaves 41.22 sheets and a stem diameter of 12.86 mm. The seedlings that inoculated with potential microbes can be used for rehabilitation of old cacao trees
Konservasi in vitro dua aksesi lili mealui modifikasi media kultur
Konservasi in vitro merupakan salah satu alternatif penyimpanan materi genetik dalam kondisi aseptik. Metode ini dapat mengurangi resiko kepunahan materi genetik akibat kondisi lingkungan yang ekstrem dan kerumitan pengelolaan pada skala in vivo terutama untuk tanaman yang berasal dari subtropis, seperti lili. Metode penghambatan pertumbuhan dan ketahanan plantlet selama perlakuan konservasi merupakan faktor penting untuk kelangsungan hidup materi genetik yang disimpan. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi media konservasi melalui modifikasi kandungan nutrien dan konsentrasi sukrosa untuk konservasi in vitro jangka menengah terhadap dua aksesi lili yaitu lokal Lilium longiflorum dan cv. Candilongi. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Hias mulai Januari 2015 sampai September 2017. Hasil penelitian menunjukkan laju kematian plantlet semakin meningkat seiring dengan lamanya waktu penyimpanan. Laju kematian plantlet dengan pertumbuhan daun yang terendah diperlihatkan oleh plantlet Lili yang dikonservasi pada media ¼ MS + 7 % sukrosa dengan kisaran 27-31 % setelah 24 bulan penyimpanan. Dua genotipe lili menunjukkan respon pertumbuhan yang berbeda selama konservasi in vitro dan in vivo, namun tidak pada media konservasi yang dicoba. Plantlet lili lokal L. longiflorum mempunyai jumlah daun lebih sedikit selama konservasi in vitro. Sedangkan cv. Candilongi memperlihatkan tinggi tanaman yang lebih rendah dengan jumlah bunga lebih banyak dan ukuran bunga lebih besar pada evaluasi in vivo. ABSTRACTIn vitro conservation is an alternative method of plant genetic resources preservation in aseptic condition. The method has successfully applied in many crops and reduced the limitation of in vivoconservation of non-native crop as Lily planted in the tropic area. Growth inhibition method and plantlet resistance are important factors to ensure the life-span of the conserved plantlet during in vitro storage. The research aimed to evaluate the media compositions and sucrose concentrations for mid-term conservation of two Lilium accessions, local L. longiflorum and cv. Candilongi. The experiment was carried out at Indonesian Ornamental Crops Research Institute from January 2015 to September 2017. The results showed the plantlet death rates increased in line with the duration of storages. After 24 months storage, plantlets conserved under ¼ MS + 7% sucrose showed fewer numbers of leaves and death plantlets in the range of 27-31%. Growth plantlet retardation during storage was merely detected on local L. longiflorum that showed less leaves development. Plantlet of cv. Candilongi had shorter plant height, yet bigger flower size and higher number of flower per plant under in vivo evaluation
Komponen epidemi penyakit antraknosa pada tanaman cabai di kecamatan baturaden kabupaten Banyumas
Penyakit antraknosa merupakan penyakit utama pada tanaman cabai yang dapat menyebabkan kegagalan panen dan kerugian mencapai 80 %. Tujuan penelitian untuk menilai perkembangan penyakit antraknosa cabai di Kecamatan Baturraden, menguji pengaruh  komponen epideminya terhadap pertumbuhan jamur Colletotrichum gloeosporioides dan penekanan penyakit pada buah cabai. Metode penelitian yang digunakan adalah survey dengan pengambilan sampel secara purposive random sampling di empat desa di Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas. Pengujian pengaruh komponen epidemi dilakukan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Faperta Unsoed dengan menumbuhkan jamur C. gloeosporioides pada beberapa suhu dan menguji penekanan penyakit pada buah cabai. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap. Variabel pengamatan yaitu intensitas penyakit, laju infeksi, kecepatan pertumbuhan jamur, persentase penghambatan pertumbuhan jamur dan penekanan penyakit pada buah cabai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit antraknosa di desa Kemutug Lor menunjukkan intensitas penyakit tertinggi yaitu 76% dengan laju infeksi 0,345 unit/hari. Suhu optimum yang mendukung  pertumbuhan C. gloeosporioides yaitu 29oC, dengan kecepatan pertumbuhan 14,72 mm.hari-1. Pertumbuhan C. gloeosporioides dihambat oleh bakteri endofit cabai BE2 sebesar 78,6%. Bakteri endofit cabai dapat menekan penyakit antraknosa pada buah cabai dengan efektivitas 30,93%. Anthracnose is the main disease in chili that can cause crop failure and losses up to 80%. The aim of the study was to assess the development of chili anthracnose in the Baturraden district, to examine the effect of its epidemic components on the growth of Colletotrichum gloeosporioides, and suppression of anthracnose. The research method used was a survey with purposive random sampling in four villages in Baturraden district, Banyumas Regency. Testing the effect of epidemic components was carried out in Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture Unsoed by growing the C. gloeosporioides at several temperatures, and testing the disease suppression of chilies with chili endophytic bacteria. The design used was a Completely Randomized Design. The variables observed were disease intensity, infection rate, fungal growth rate, percentage of inhibition of fungal growth, and disease suppression in chilies. The results showed that chili anthracnose in the village of Kemutug Lor showed the highest intensity of 76% with an infection rate of 0,345 units per day. The optimum temperature that supported the growth of C. gloeosporioides was 29oC with a growth rate of 14,72 mm day-1. Growth of C. gloeosporioides was inhibited by endophytic bacteria BE2 chili by 78,6%. Chili endophytic bacteria could suppress anthracnose in chilies by 30,93% effectivity
Efektivitas air cucian beras dan air rendaman cangkang telur pada bibit anggrek dendrobium
Air cucian beras masih mengandung karbohidrat cukup tinggi yang berasal dari kulit ari beras yang terkelupas. Disamping itu, air cucian beras mengandung nitrogen, fosfor, kalium, magnesium, sulfur, besi dan vitamin B1 yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Cangkang telur juga mengandung fosfor, magnesium, kalium, seng mangan dan besi yang merupakan unsur hara penting bagi tanaman. Percobaan dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Waktu percobaan dimulai pada bulan Februari sampai bulan September 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan desain Rancangan Acak Kelompok terdiri dari 8 perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali. Perlakuan yaitu: tanpa aplikasi/kontrol, aplikasi pupuk daun lengkap Gandasil D 10 hari satu kali, aplikasi air cucian beras 3 hari satu kali, aplikasi air cucian beras 5 hari satu kali, aplikasi air cucian beras 7 hari satu kali, aplikasi air rendaman cangkang telur 3 hari satu kali, aplikasi air rendaman cangkang telur 5 hari satu kali, aplikasi air rendaman cangkang telur 7 hari satu kali. Air cucian beras dan air rendaman cangkang telur yang diaplikasikan pada 3, 5 dan 7 hari satu kali belum efektif terhadap peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan bobot brangkasan segar tanaman sampai umur 84 HST.                           ABSTRACTRice-washed water contains quite high carbohydrates from the peeled seeds epidermis. It also contains nitrogen, phosphorus, potassium, magnesium, sulfur, iron, and vitamin B1 needed for plant growth. Eggshells contain phosphorus, magnesium, potassium, zinc manganese and iron, which are essential elements for plants. The experiment was conducted at the experimental field of the Faculty of Agriculture, Siliwangi University, Tasikmalaya. The experiment started from February 2017 to September 2017. The research method used Randomized Block Design consists of eight treatments and three replications. The treatments are without application/control, complete application of Gandasil D fertilizer once in ten days
Shade effect on growth, yield, and shade tolerance of three peanut cultivars
Peanut, which is commonly planted in interculture and intercropping system, often suffers from shading caused by associated plants. This experiment aimed to study the effect of different shade levels of three peanut cultivars on the growth and seed yield, also to determine the shade-tolerant cultivar. A pot experiment was done at the Research Station of Agriculture Faculty Universitas Winaya Mukti since July until October 2016 by creating 50%, 65%, and 75% artificial shade levels during the lifetime of Tuban, Jepara, and Bima cultivars. The shade significantly affected on number of trifoliate leaves, number of branches, plant dry weight, yield components (number of pods, number of filled pods, and number of seeds), dry weight of pod, and seed weight per plant. The cultivar gave same effect on the growth and seed yield per plant. Based on Stress Tolerance Index (STI) analysis on the seed dry weight per plant, only Tuban cultivar showed great tolerance of 65% shade of natural light. Overall, the whole cutivars tested were sensitive on 75% shade level.                            ABSTRAKKacang tanah yang biasa ditanam pada sistem tumpangsari dan interkultur, sering ternaungi karena berasosiasi dengan tanaman lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh naungan yang berbeda pada tiga kultivar kacang tanah terhadap pertumbuhan dan hasil, serta mendapatkan kultivar kacang tanah yang toleran terhadap naungan. Percobaan pot dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti dari bulan Juli sampai dengan Oktober 2016. Perlakuan percobaan adalah perbedaan naungan (tanpa naungan, naungan 50%, 65% dan 75%) selama siklus hidup tiga kultivar tanaman kacang tanah (Tuban, Jepara dan Bima). Hasil percobaan menunjukkan bahwa naungan memengaruhi jumlah daun trifoliat, jumlah cabang, bobot kering tanaman, komponen hasil (jumlah polong, jumlah polong isi, dan jumlah biji), bobot kering polong dan bobot kering biji per tanaman. Kultivar memberikan efek yang sama terhadap pertumbuhan dan hasil per tanaman. Berdasarkan analisis Stress Tolerance Index (STI) terhadap bobot kering per tanaman, hanya kultivar Tuban yang toleran pada naungan 65%. Semua kultivar peka terhadap naungan 75%
Aplikasi Trichoderma viride menekan perkembangan Ganoderma boninense di main nursery kelapa sawit media gambut
Pembibitan kelapa sawit sering terkendala akibat pengelolaannya belum optimal, sehingga mempengaruhi produksi kelapa sawit. Salah satu kendala kelapa sawit adalah penyakit busuk pangkal batang disebabkan oleh Ganoderma boninense.  Pengendalian penyakit busuk pangkal batang diperlukan teknik yang tepat terutama pengendalian yang bersifat ramah lingkungan, seperti Trichoderma viride. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan antagonisme jamur Trichoderma viride untuk menekan perkembangan Ganoderma boninense secara in vitro dan bibit tanaman kelapa sawit umur 7-9 bulan (main nursery). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2019 – Maret 2019 di Laboratorium Patologi, Entomologi dan Mikrobiologi dan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Metode Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa aplikasi 25 g Trichoderma viride mampu menurunkan intensitas serangan Ganoderma boninense menjadi 22,90%. Sehingga pemberian dosis 25 g merupakan dosis yang efektif untuk menurunkan intensitas serangan Ganoderma boninense pada kelapa sawit umur 7-9 bulan (main nursery). Elais guienensis Jacq seedlings in nursery main are often constrained due to less optimal management, affecting the oil palm production. One that opposes oil palm is a rotten disease caused by Ganoderma boninense. Control of stem rot disease requires appropriate suspended technique which is environmentally friendly, such as Trichoderma viride application. Trichoderma viride was applied to supress the development of Ganoderma boninense in in vitro and Elais guienensis Jacq seedlings aged 7-9 months (main nursery). This research was conducted in January - March 2019 at Pathology, Entomology and Microbiology Laboratory and at Experimental Field of Faculty of Agriculture and Animal Husbandry, UIN Sultan Syarif Kasim Riau. This research method used a non factorial completely randomized design with 4 treatments and 5 replications. The result proved that the application of 25 g of Trichoderma viride could supress up to 22.90% the development of Ganoderma boninense. Therefore dose of 25 g T. viride is more effective against Ganoderma boninense pathogen attack for Elais guienensis Jacq aged 7-9 months in main nursery
Pengaruh aplikasi ekstrak kasar daun Sphagneticola trilobata terhadap pertumbuhan dan perkembangan larva Spodoptera litura
Spodoptera litura merupakan serangga polifag yang menyerang banyak komoditas tanaman budidaya. Pengendalian dengan menggunakan insektisida nabati merupakan upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif penggunaan insektisida kimia sintetik. Tumbuhan S. trilobata diketahui memiliki potensi untuk dijadikan sebagai insektisida nabati untuk mengendalikan S. litura. Aktivitas insektisida tidak hanya ditunjukkan oleh tingkat mortalitas dan penghambatan makan, suatu ekstrak tumbuhan dapat pula memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dari serangga sasaran sehingga dapat dikembangkan menjadi insektisida nabati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi ekstrak kasar daun S. trilobata terhadap pertumbuhan dan perkembangan larva S. litura. Penelitian terdiri dari tahap pemeliharaan serangga, ekstraksi bagian tumbuhan, dan uji hayati serta analisis fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kasar daun S. trilobata yang diaplikasikan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan larva S. litura namun tidak memengaruhi ukuran panjang dan berat pupa yang terbentuk. Hasil analisis fitokimia menunjukkan ekstrak daun S. trilobata mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder diantaranya alkaloid, triterpenoid, steroid, flavonoid, tanin dan saponin.                                  ABSTRACTSpodoptera litura is a polyphagous insect that attacks many commodities of crops. Control using plant-based insecticides is an effort made to minimize the negative effects of using synthetic insecticides. S. trilobata plant is known to have potential as plant-based insecticides to control S. litura. The effectiveness of an insecticide is not only demonstrated by the level of mortality and feeding inhibition activity, a plant extract can also affect the growth and development of the target insect so that it can be developed into a botanical insecticide. The purpose of this study was to determine the effect of S. trilobata leaf crude extract application on growth and development of S. litura larva. The study stages consisted of insect rearing, extraction of plant parts, bioassay and phytochemical screening. The results showed that S. trilobata leaf extract which was applied affected the growth and development of S. litura larvae but did not affect the length and weight of the pupae formed. The results of phytochemical analysis showed that S. trilobata leaf extract contained several secondary metabolite compounds including alkaloids, triterpenoids, steroids, flavonoids, tannins and saponins
Efek inokulasi PGPR terhadap pertumbuhan tanaman padi fase vegetative di media salinitas tinggi
Rhizobakteria merupakan kelompok bakteri yang hidup di perakaran tanaman yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman melalui kemampuan menghasilkan IAA. Rhizobakteria dapat hidup di berbagai kondisi lingkungan, salah satunya di lahan salin. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji efek Plant-Growth Promoting Rhizobacteria bagi tanaman padi pada fase vegetatif di media dengan silinitas tinggi, dan mendapatkan isolat yang paling efektif meningkatkan pertumbuhan vegetatif padi varietas Inpari Unsoed 79 Agritan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, dan Screenhouse Experimental Farm Fakultas Pertanian UNSOED pada bulan Oktober 2019-Januari 2020. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 6 perlakuan dan diulang 4 kali. Perlakuan pada penelitian ini antara lain kontrol, JA2, JB1, JB2, JD1, dan JE1 pada medium cair AB Mix dengan tingkat salinitas 5 dSm-1. Inokulasi PGPR meningkatkan pertumbuhan tanaman padi pada fase vegetatif. Bobot kering tanaman, panjang akar, kehijauan daun, luas daun, tinggi tanaman masing-masing meningkat sebesar 130%, 108%, 19%, 50%, 21% dengan inokulasi PGPR pada medium dengan salinitas tinggi. Â Â Rhizobacteria are a group of bacteria that live in rhizozphere of plant which are beneficial for plant growth through the ability to produce IAA. Rhizobacteria can live in various environmental conditions, one of which is in saline fields. The research goal was to study the effect of PGPR for rice plants in the vegetative phase in high salinity media and to find the most effective isolates in increasing vegetative growth of Inpari Unsoed 79 Agritan rice. This research was conducted at the Agronomy and Horticulture Laboratory, and the screenhouse of Experimental Farm, Faculty of Agriculture, UNSOED in October 2019-January 2020. This research was arranged by using a Randomized Complete Block Design and repeated 4 times. The treatments in this study included control, JA2, JB1, JB2, JD1, and JE1 in AB Mix liquid medium with a salinity level of 5 dSm-1. The inoculation of rhizobacteria can increase the rice plant growth at vegetative phase. The plant biomass, root length, leaf greenness, leaf area, plant height increased by 130%, 108%, 19%, 50%, 21% respectively by PGPR inoculation of medium with high salinity
Analisis Diversitas Morfologi dan Potensi Persebaran Maja (Aegle marmelos (L.) Corr. dan Crescentia cujete L.) di Mojokerto
Tanaman maja memiliki sejarah vital bagi masyarakat Mojokerto. Selain sebagai simbol budaya, maja dimanfaatkan untuk pangan, keperluan medis, dan pertanian. Sekarang, keanekaragaman hayati tanaman lokal ini terancam karena minimnya upaya pelestarian. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi, memetakan sebaran dan potensi sebaran maja serta menganalisis keanekaragaman dan kekerabatannya berdasarkan morfologi. Metode eksplorasi didasari pada survey ekogeografi dan pemetaannya menggunakan model maxent di aplikasi DivaGIS. Indeks Shannon digunakan untuk menganalisis keanekaragaman. Analisis kekerabatan menggunakan aplikasi DARwin dengan metode Neighbor-Joining dan Hierarchical clustering. Hasil penelitian ini mengindikasikan adanya penurunan populasi maja secara masif di mayoritas wilayah Mojokerto. Kecamatan Trowulan, Jetis, Kota Mojokerto, dan Ngoro menjadi pusat distribusi aktual maja. Indeks Shannon menunjukkan bahwa keanekaragaman morfologi maja pada parameter kualitatif (0,15) jauh lebih rendah dibanding kuantitatif (4,95). Secara umum, keanekaragaman morfologi maja di Mojokerto tergolong dalam kategori sedang (1,95). Ada 4 kategori maja di Mojokerto berdasarkan pengelompokan menggunakan Neighbor-Joining dan 3 kategori menggunakan Hierarchical Clustering.Maja has a vital role in Mojokerto civilization. Aside as a cultural symbol, maja also used as religious festivals, medical purpose, and agricultural practice. Today, the diversity of maja is endangered because of the minimum conservation. The research was conducted to map the actual and potential distribution of Maja. The research also analyzes the diversity and kinship of maja. The Maxent model in DivaGIS was used as the bases of the ecogeographical survey and mapping.. The morphological diversity of maja was assessed by Shannon index and the cluster analysis was carried out based on Neighbor-joining dan Hierarchical clustering method using DARwin software. The result shows that the diversity index of maja in Mojokerto is classified as medium with the value of 1.95. Maja's kinship is divided into 4 groups based on qualitative and 3 groups based on quantitative traits. Maja was spread in Mojokerto and concentrated in 4 sub districts of Trowulan, Jetis, Mojokerto, and Ngoro. Based on the comparison with maxent predictions, there is a massive maja population loss in Mojokerto. Land conversion and plant substitution is a major cause of decrease of maja population