Riset Informasi Kesehatan
Not a member yet
105 research outputs found
Sort by
Hubungan kepatuhan minum obat terhadap kesembuhan pada pasien dewasa tuberkulosis paru di Puskesmas Kemang Kabupaten Bogor
Abstrak
Latar Belakang : Kepatuhan minum obat tinggi maka kesembuhan pasien TB paru juga meningkat sehingga risiko untuk terjadi kasus TB resisten obat juga dapat dicegah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan minum obat dengan kesembuhan pada pasien TB paru dewasa di Puskesmas Kemang Kabupaten Bogor.
Metode : Desain penelitian ini adalah korelasi dengan pendekatan cross sectional populasi dalam penelitian ini adalah pasien Tuberkulosis paru dewasa di Puskesmas Kemang Kabupaten Bogor yang sudah menerima terapi selama lima sampai enam bulan dengan teknik pengambilan sempel menggunakan total sampling dengan jumlah responden 50 orang. Metode pengumpulan data menggunakan data kuesioner.
Hasil : Penelitian ini telah dilakukan uji statistik contingency coefficient dengan tingkat kemaknaan α = 0,1 dan diperoleh nilai signifikansi 0,072 maka Ho ditolak H1 diterima yang berarti ada hubungan antara kepatuhan minum obat dengan kesembuhan pada pasien Tuberkulosis paru dewasa di Puskesmas Kemang Kabupaten Bogor, kemudian dilihat nilai contingency coefficient diperoleh nilai value 0,246 yang berarti ada hubungan yang lemah antara kepatuhan dengan kesembuhan.
Kesimpulan : Ada hubungan yang lemah antara kepatuhan minum obat dengan kesembuhan pada pasien Tuberkulosis paru dewasa di Puskesmas Kemang Kabupaten Bogor
Pengaruh struktur keluarga dan kesehatan mental terhadap perilaku seksual pada remaja
Latar Belakang : Problematik perilaku seksual pada remaja erat kaitannya dengan isu global yang sejalan adanya peningkatan jumlah kasus yang signifikan. Karakteristik perilaku seksual pada remaja dipengaruhi secara signifikan oleh struktur keluarga dan kesehatan mental. Namun, belum banyak penelitian di Indonesia yang mengeksplorasi pengaruh faktor tersebut terhadap perilaku seksual pada remaja. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh struktur keluarga dan kesehatan mental terhadap perilaku seksual pada remaja.
Metode : Penelitian cross-sectional dengan pendekatan convenience sampling sebanyak 108 remaja di kota Kediri, Jawa Timur. Pengumpulan data menggunakan kuesioner secara online melalui google from pada media sosial. Data menggunakan uji Person korelasi, Independent t test dan linier regresi dengan Adjusted Coefficients b dan 95% Confidence Interval (CI).
Hasil : Penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua yang utuh meningkatkan 1.61 kali perilaku seksual yang positif dibandingkan dengan orang tua tunggal. Kemudian, kesehatan mental memiliki pengaruh yang positif terhadap perilaku seksual (b = 0.77, 95% CI = [0.05, 0.09]) dengan faktor variabel pengganggu seperti jenis kelamin dan umur.
Kesimpulan : Secara independen, struktur keluarga dan kesehatan mental merupakan faktor penting dalam mempengaruhi perilaku seksual. Hasil dari penelitian dapat menjadi faktor penting dalam memahami perilaku seksual di kalangan remaja
Faktor yang Berhubungan Pelaksanaan Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan
Background: Not maximally documenting nursing care will have an impact on the quality of nursing services.
Methods: This study aims to determine what factors are associated with the implementation of nursing care documentation using quantitative methods, using a cross sectional approach, with a sample of 71 respondents.
Results: From the results of this study obtained from 71 respondents whose early adulthood were 38 people (53.5%), female gender were 41 people (57.7%), professional education 36 people (50.7%), work period ≥2 years totaling 51 people (71.8%), good knowledge 50 people (70.4%), light workload 43 people (60.6%), implementation of good nursing documentation 46 people (64.8%), the results of bivariate analysis obtained age p value 0.003, gender ρ value = 0.041, education ρ value = 0.057, tenure ρ value = 0.012, knowledge ρ value = 0.001, workload ρ value = 0.018.
Conclusion: Based on the results of the study it can be concluded that the age with early and late adulthood has a different mindset in work, while the implementation of documenting nursing care between men and women has its own way of differences in roles and responsibilities, with a high level of education with experience. good knowledge is obtaine
Penerimaan diri wanita hamil dengan HIV positif
Background : Being HIV positive, someone will face psychological pressure such as depression, anxiety and other negative ones. Pregnant women with HIV positive face two challenges, to keep her pregnancy and struggle to fight with HIV. Self-acceptance of those two dimensions gives high challenges for pregnant women who are HIV positive. The aim of the study is to understand deeper and describe about the self-acceptance of pregnant women with HIV positive
Method : This study used qualitative research method with phenomenology approach. The participants are the pregnant women with HIV positive with inclusion criteria as: 1) woman in reproductive age 18-40 years old, 2) confirmed pregnant, 3) natural born of Indonesia, 4) can expressed her-selves verbally. The data analyzed with Collaizi’s analysis of qualitative research.
Results : Data saturation was reached on the seventh participant. From the qualitative data analysis, there are three themes under the phenomenon of self-acceptance of pregnant-women with HIV positive, such as internal negativism, internal acceptance, and ready to enhanced health status.
Conclusion : The process of self acceptance of being pregnant and infected with HIV gives contribution on the continuity of antenatal care and HIV therapy in order to the improvement of quality of life. Self-denial depicts as disappoint, anxiety, unbelief, blame herself, isolate her self, become as consequences of the situation. But, due to the support from family and people around, makes the pregnant mothers with HIV positive try to accept and disclose about her status. So, it will give better self-acceptance of to improve her healt
Potensi risiko pajanan PM2,5 pada pekerja tambang batu kapur di PT.X Kab. 50 Kota
Latar belakang: Penambangan batu kapur di PT.X merupakan salah satu kegiatan penyumbang emisi PM2,5 di Kab. 50 Kota yang berpotensi menimbulkan risiko penyakit pada saluran pernapasan yang mencakup risiko non karsinogenik maupun karsinogenik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui risiko yang dialami pekerja akibat paparan PM2,5.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan sampling PM2,5 serta pengisian kuisioner/wawancara oleh pekerja (responden) yang berjumlah 14 orang. Kegiatan ini dilakukan selama jam kerja pekerja tambang tersebut. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) untuk mengetahui tingkat risiko kesehatan yang dialami oleh pekerja tambang.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai konsentrasi PM2,5, Al, Pb dan Cd di lingkungan kerja tambang batu kapur PT.X berturut-turut adalah 0,1151 mg/m3, 0,3789 mg/m3, 0,0065 mg/m3 dan 0,0863 mg/m3. Pajanan PM2,5 dan Al tergolong risiko non karsinogenik, sedangkan pajanan logam Pb dan Cd tergolong risiko karsinogenik. Nilai risiko rata-rata non karsinogenik (RQ) PM2,5 dan Al berturut-turut adalah 0,4116 dan 9,484 (realtime). Pada kondisi lifetime, nilai rata-rata RQ dari PM2,5 dan Al berturut-turut adalah 1,2318 dan 28,3811. Nilai risiko rata-rata karsinogenik (ECR) Pb dan Cd berturut-turut adalah 5,43E-04 dan 0,48E-04 (realtime). Pada kondisi lifetime, nilai rata-rata ECR dari Pb dan Cd berturut-turut adalah 1,4E-04 dan 16,30E-04.
Kesimpulan: Nilai RQ PM2,5 <1 dan ECR Cd <1E-04 (realtime) mengindikasikan bahwa pajanan PM2,5 dan Cd belum memberikan risiko bagi pekerja. Nilai RQ Al (realtime dan lifetime), PM2,5 (lifetime) >1 dan ECR Pb (realtime dan lifetime), Cd (lifetime) >1E-04 mengindikasikan bahwa pajanan polutan sudah berisiko terhadap kesehatan pekerja
Hubungan status gizi dengan tumbuh kembang anak usia 1-3 tahun di wilayah kerja Puskesmas Pante Ceureumen, Aceh Barat
Latar Belakang: Usia 1-3 tahun dalam kehidupan balita merupakan salah satu fase yang sangat penting menunjang tumbuh kembangnya sehingga harus didukung nutrisi maupun pola pengasuhan yang adekuat.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan tumbuh kembang anak usia 1-3 tahun di wilayah Pante Ceureumen, Aceh Barat.
Metode: Penelitian cross-sectional pada 20 ibu yang memiliki balita usia 1-3 tahun di tiga desa di wilayah kerja Puskesmas Pante Ceureumen Kabupaten Aceh Barat ini menggunakan purposive sampling. Data antropometri dan KMS perkembangan dikumpulkan melalui wawancara dan observasi menggunakan kuesioner. Uji chi square digunakan untuk melihat hubungan kedua variabel.
Hasil: Sebanyak 15 orang (75%) balita memiliki status gizi kurus, dan 2 orang (10%) memiliki tumbuh kembang kurang baik. Hasil uji chi square didapatkan nilai p-value = 0,208 (α>0,05).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan stimulasi tumbuh kembang balita usia usia 1-3 tahun di wilayah kerja Puskesmas Pante Ceureumen, Aceh Barat.
 
Konsumsi minuman manis prediktor risiko prediabetes remaja Kota Jambi
Latar Belakang: Prediabetes salah satu indikator risiko untuk diabetes mellitus tipe 2 yang merupakan masalah kesehatan global dan harus diperhatikan. International Diabetes Federation memperkirakan prevalensi prediabetes di seluruh dunia sebesar 280 juta pada tahun 2011 dengan proyeksi 389 juta pada tahun 2030. Perilaku konsumsi makanan merupakah salah satu faktor risiko penyebab terjadinya prediabetes. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor perilaku konsumsi makanan dengan risiko prediabetes remaja Kota Jambi.
Metode: Desain penelitian cross-sectional. Sampel peneltian berjumlah 140 orang dengan kriteria: (1) memiliki usia 15 – 18 tahun; (2) bersedia dan mendapatkan izin dari orang tua/wali untuk menjadi responden (3) Bersedia menjalani puasa dari jam 23.00 sampai dengan jam 07.30 pagi (sebelum dilakukan pemeriksaan gula darah puasa). Variabel terikat prediabetes dengan pemeriksaan glukosa darah puasa metode biosistem menggunakan alat spektrofotometer biochemical analyzer AE-600N pada panjang gelombang (λ) 500 nm. Variabel bebas konsumsi makanan dilakukan dengan wawacara food recall 3 x 24 jam. Data dianalisis dengan uji chi-square dan regresi logistik ganda.
Hasil: uji statistik chi-square perilaku konsumsi karbohidrat >300 – 400 g/hari (p=0,009; OR=4,058) dan perilaku konsumsi minuman manis >12g/hari (p=0,01; OR 4,333) memiliki risiko kejadian prediabetes. Regresi logistik ganda konsumsi minuman manis 4,2 kali risiko prediabetes remaja (p=0,018).
Kesimpulan: konsumsi minuman manis merupakan faktor dominan risiko prediabetes remaja
Uji antioksidan fitosom campuran buah kelapa (Cocos nucifera L.) sebagai agen immunonutrisi pada kondisi infeksi
Infections and parasitic diseases are the cause of most of the deaths of 13 million infants and children in developing countries due to malnutrition. The existence of resistance from the use of antibiotics is also a public health problem throughout the world in handling cases of infection. Formulas from natural ingredients that have strong antioxidant activity can be used to treat infections. It has been reported that phytosome formulations from natural ingredients provide protection and even increase antioxidant activity. Coconuts and kaffir limes are sources of polyphenols and other multicomponent compounds that are good for treating infections. Phytosomes which are also known as herbosomes can be prepared by the reflux method. The coconut flesh that has been mashed first is filtered to get the coconut milk and then added with 10:1 kaffir lime juice. The mixture was refluxed in 100 ml of distilled water for 2 hours at 40°C using a rotary vacuum evaporator equipped with a vacuum pump to obtain a thin film formation. Rotavapor speed is gradually increased from 100 to 180 rpm. The coating is kept in the refrigerator for up to 24 hours. After storage, the film was hydrated in phosphate buffer at pH 5.5 at 40°C. Phytosome suspension is formed and sonicated. The precipitate was taken and put into a desiccator. The phytosomes obtained were characterized for their physicochemical properties, morphology and particle size shape and were tested for antioxidant activity using the DPPH method. The phytosome formula 1:1 with very strong antioxidant activity with a value of 33.75 g/mL has the potential to be developed as an immunonutrient formula in cases of infection through antioxidant activity with an average particle size of ± 470 nm
Kepuasan pasien terhadap pelayanan terapis gigi dan mulut di Poli Gigi Puskesmas Rawat Inap Tanjung Kabupaten Muaro Jambi
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi tingginya. Salah satu strategi utama Kementerian Kesehatan RI adalah untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas yaitu melalui Puskesmas. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Poli Gigi Puskesmas mencakup pelayanan medis gigi yang dilakukan oleh dokter gigi serta pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut oleh Terapis Gigi dan Mulut (TGM). Jenis penelitian survey desriptif, pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, pada seluruh pengunjung di Poli Gigi Puskesmas Rawat Inap Tanjung Kabupaten Muaro Jambi berumur diatas 12 tahun yang bersedia mengisi kuesioner setelah dilakukan perawatan. Kepuasan pasien terhadap sikap dalam pelayanan yang diberikan oleh TGM di Poli Gigi Puskesmas Rawat Inap Tanjung, paling banyak dengan kriteria puas sebesar 66,6 % dan masih ada yang berkriteria kurang puas sebesar 2,8%. Kepuasan pasien terhadap terhadap fasilitas penunjang pelayanan TGM, paling banyak dengan kriteria puas 61,1%, serta yang berkriteria cukup puas 38,9%
Tingkat kepuasan kerja apoteker di rumah sakit dan apotek serta faktor-faktor yang mempengaruhinya: Literatur review
Latar Belakang: Kepuasan kerja apoteker memainkan peran utama dalam aspek kefarmasian. Individu dengan tingkat kepuasan kerja yang tinggi akan memiliki sikap positif terhadap pekerjaan, sementara individu dengan tingkat kepuasan kerja yang rendah akan memiliki sikap negatif terhadap pekerjaan. Kajian pustaka ini bertujuan memberikan gambaran tingkat kepuasan kerja apoteker di rumah sakit dan apotek serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Metode: Pencarian literatur melalui basis data Ebsco dan Medline yang dilakukan pada bulan Mei–Juni 2021 dengan kata kunci job satisfaction dan pharmacist. Kajian Pustaka ini merangkum 17 artikel dengan kriteria inklusi yaitu tahun publikasi 2011-2021, berbahasa inggris, artikel penelitian asli, dan tersedia naskah lengkap.
Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan kerja apoteker berkisar antara 30%-95,5%. Penelitian yang dilakukan kepada 2.667 apoteker yang bekerja di rumah sakit dari beberapa negara seperti Saudi Arabia, Amerika Serikat, Lithuania, Romania, Vietnam, Yordania, Australia, Hongkong, Belanda, dan Inggris menunjukan bahwa apoteker menyatakan puas dengan pekerjaan mereka dengan tingkat kepuasan berkisar antara 30,76%-95,5%. Selanjutnya, Penelitian yang dilakukan kepada 2.134 apoteker yang bekerja di apotek dari beberapa negara seperti Iran, Amerika Serikat, Irak, Swedia, Lithunia, Yordania, Australia, Belanda, dan Inggris menunjukan bahwa apoteker menyatakan puas dengan pekerjaan mereka dengan tingkat kepuasan berkisar antara 30%-91,4%.
Kesimpulan: Secara umum apoteker merasa puas di tempat kerjanya dalam memberikan pelayanan kefarmasian. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi adalah usia, jenis kelamin, status perkawinan, pengakuan kerja dari atasan, kemudahan promosi jabatan, pendapatan atau gaji, komunikasi dalam organisasi, tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan lama jam kerja apoteker.
Kata Kunci: Apoteker, apotek, rumah sakit, kepuasan kerj