Forum Arkeologi
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
HIASAN KEPALA KALA DI PURA BALE AGUNG DESA SUKAWANA, KINATAMANI, BANGLI
The forms of kala head ornaments at the upper plith (tugeh) of Bale Agung Sukawana Temple, Kintamani, Bangli resembles to the motive of karang bhoma which generally placed at the upper side of door frame or candi kurung’s niche. There are six ornaments and all of them are the same. There are no significant differences. The ornaments have shapes resembling a giant head with a very creepy face, because the head was the head of Banaspati raja (king of the jungle). Judging the character of the six ornaments, it seems that the sculpture is more likely a rather flat relief. The only element that stands out are the eyes and cheeks. The information of society leaders stated that the kala head ornaments functioned as repellent from danger, the building guard, and also the guard of the whole temple. In addition, the kala head ornaments are also have magic religious meaning and function. They also have aesthetic value and decorate of sacred building. Hiasan kepala kala pada alas tiang (tugeh) di Pura Bale Agung Sukawana, Kintamani, Bangli memiliki ciri-ciri dengan motif karang bhoma yang umumnya ditempatkan pada ambang atas pintu candi kurung. Dari enam buah hiasan kepala kala yang ditempatkan pada alas tiang (tugeh) tersebut memiliki persamaan satu dengan yang lainnya dan tidak nampak ada perbedaan yang signifikan. Memperhatikan karakter dari keenam buah hiasan kepala kala tersebut, memiliki bentuk menyerupai kepala raksasa dengan muka yang sangat menyeramkan, karena kepala kala ini berasal dari binatang penjaga hutan yang disebut dengan Banaspati raja (raja hutan). Dilihat dari karakter bentuk pahatan keenam buah hiasan kepala kala tersebut, tampak menunjukkan penggarapan lebih cenderung mirip dengan relief agak datar. Dimensi kedalamannya hanya elemen mata dan pipi yang menonjol. Hiasan kepala kala tersebut berfungsi sebagai penolak bala (bahaya), penjaga bangunan sekaligus penjaga pura secara keseluruhan di wilayah tersebut. Selain itu, juga hiasan kepala kala tersebut mempunyai fungsi dan makna religius magis dan memiliki juga nilai estetis dan penghias bangunan suci
POLA RUANG PERMUKIMAN DAN ARSITEKTUR TRADISIONAL KAMPUNG ADAT DUARATO
Duarato Traditional Village is one of the traditional villages in Belu Regency, East Nusa Tenggara, which has space pattern and traditional architecture that still preserved today and reflect the concept of life. This study aims to determine the settlement pattern and architecture of Duarato traditional houses. Data were collected through literature study, direct observation, and interview with traditional figures. The data analyzed qualitatively, then a conclusion is drawn. This study resulted in the unique pattern of the village settlements and the architecture of traditional houses have become the characteristic of Duarato Traditional Village. Based on the analysis, Duarato settlement belongs to cluster pattern. The most sacred area for ancestor worship is built on the highest land and/or the direction of sunrise. The center of activity is in K’sadan, which is surrounded by houses and bosok. The traditional house is in the form of wooden stage house. The space pattern of the house is divided vertically and horizontally which functioned for profane or sacred activities. It is meaningful as an effort to maintain the constancy of tribe personalities. Kampung Adat Duarato merupakan salah satu kampung adat di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, yang memiliki pola ruang dan arsitektur traditional yang masih lestari dan mencerminkan konsep kehidupan masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola ruang permukiman dan arsitektur rumah adat Duarato. Data penelitian ini dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi langsung, dan wawancara kepada tokoh adat. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis secara kualitatif, dilanjutkan dengan penyimpulan. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa pola ruang permukiman kampung dan arsitektur tradisional rumah adat cukup unik yang menjadi ciri khas Kampung Adat Duarato. Berdasarkan dari hasil analisis, Kampung Adat Duarato menganut pola cluster atau mengelompok. Areal paling suci untuk pemujaan leluhur dibangun pada lahan yang paling tinggi dan/atau arah matahari terbit. Pusat kegiatan berada pada k’sadan, yang dikelilingi oleh rumah dan bosok. Rumah adat kampung ini secara arsitektur berupa rumah panggung dengan konstruksi kayu. Pola ruang rumah ini terbagi secara vertikal dan horizontal yang difungsikan untuk kegiatan yang bersifat profan maupun sakral, yang bermakna sebagai upaya menjaga keajegan kepribadian suku
GUNUNG KAWI TEMPLE TAMPAKSIRING: RELIGIOUS EDUCATION SITE DURING ANCIENT BALI
Kajian terhadap bangunan suci yang berfungsi sebagai tempat pendidikan agama masa lalu yang sering disebut dengan mandala kadewaguruan jarang disentuh oleh peneliti. Candi Gunung Kawi Tampaksiring sebagai salah satu bangunan suci keagamaan masa lalu telah memberikan petunjuk bahwa kemungkinan tempat ini difungsikan juga sebagai ruang belajar-mengajar. Untuk itu studi ini ingin menelusuri bukti-bukti yang memperkuat dugaan tersebut dan ingin menjelaskan kehidupan masyarakat pendukungnya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung ke lapangan (observasi) dan studi pustaka. Analisis data yaitu mengunakan analisis kualitatif, kontekstual, dan komparatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Candi Gunung Kawi Tampaksiring merupakan sebuah bangunan suci yang berstatus sebagai mandala kadewaguruan. Hal ini buktikan dengan beberapa variabel yakni tempat yang luas, ditemukan berbagai tinggalan arkeologi keagamaan, ditemukan gerabah, dan diberitakan dalam prasasti. Kehidupan yang dilakukan oleh kaum ṛṣidan pertapa menunjukkan aktivitas yang kompleks yakni memenuhi kebutuhan sosial yang berkenaan dengan kegiatan estafet pendidikan agama, memenuhi kebutuhan religius yang senantiasa mengadakan berbagai upacara keagamaan, dan memenuhi kebutuhan hidup yang berkaitan dengan makanan dan minuman. The study of sacred buildings that served as religious education sites in the past or often called as rarely carried out by researchers. Gunung Kawi Temple Tampaksiring as one of the sacred religious buildings in the past has given hints of the possibility of this place used as learning and teaching space. For this reason, this study aims to find out the evidence that reinforce the assumption and to explain the life of the supporting community. Data was collected through observations and literature reviews. The data was analyzed by using qualitative, contextual and comparative analysis. The results of this study show that Gunung Kawi Temple is a sacred building with a Mandala Kadewaguruan status. It is proven by evidences such as, i.e. its wide place, variety of religious remains findings, ceramics findings, and inscription reports. The life of the rṣi dan hermits showed complex activities meeting social needs related to learning and teaching,fulfilling religious needs by conducting various ceremonies as well as fulfilling the needs life related to foods and drinks