Forum Arkeologi
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
PERKEMBANGAN AKSARA KWADRAT DI JAWA TENGAH, JAWA TIMUR, DAN BALI: ANALISIS PALEOGRAFI
To date, kwadrat script always associated with Kadiri era from 12th century, so that it is known as “kwadrat kadiri”. Besides in Central Java and East Java, there are some inscriptions in Bali which use kwadrat script. This research aims to know the development of kwadrat script and since when this script was used. Besides, it is also to track the historical relation of the use of kwadrat in Java, especially East Java with Bali. This research uses analitical-descriptive method and paleography approach. Based on paleography analysis, it is known that kwadrat script had been known since the era of King Dharmawangsa Tguh (± 991-1016). This script was brought to Bali by King Dharmawangsa Tguh’s sister named Gunapriya Dharmapatni/Mahendradatta who married King Udayana from Bali. If the two siblings had known kwadrat script, it means that the script had been known since the reign of their parent named Makutawangsawarddhana. Aksara kwadrat selama ini selalu dikaitkan dengan masa Kaḍiri dari abad ke-12 sehingga dikenal dengan istilah “kwadrat kaḍiri”. Selain di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ada beberapa prasasti dari Bali yang menggunakan aksara kwadrat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan aksara kwadrat dan sejak kapan aksara kwadrat ini dipakai. Selain itu juga untuk menelusuri hubungan kesejarahan pemakaian aksara kwadrat di Jawa, terutama Jawa Timur dengan Bali. Dalam penelitian ini, metode yang dipakai adalah metode deskriptif analitis dengan pendekatan paleografi. Berdasarkan analisis paleografi dapat diketahui bahwa aksara kwadrat adalah aksara yang telah dikenal sejak masa raja Dharmawangśa Tguḥ (± 991–1016). Aksara ini dikenal di Bali karena dibawa oleh saudara perempuan Dharmawangśa Tguḥ, Guṇapriya Dharmapatnī/Mahendradattā yang menikah dengan raja Udāyana dari Bali. Jika kedua bersaudara tersebut telah mengenal aksara kwadrat, aksara tersebut telah dikenal sejak masa pemerintahan orang tua Dharmawangśa Tguḥ dan Guṇapriyadharmapatnī, yaitu Makuṭawangsawarddhana
TIKUS SEBAGAI SUMBER KALORI BAGI MANUSIA PURBA LIANG BUA, FLORES BARAT, NUSA TENGGARA TIMUR
Liang Bua Cave reserved evidences of human evolution in form of different species hominins called Homo floresiensis, lived by hunting and gathering. This study aims to describe the utilization of rats as the source of calories for Homo floresiensis. The data in this study are gathered through literature review, observation of the excavation result, and interview. Analysed by qualitative analysis method and zooarchaeology analysis. Ecological theory and subsistence theory are used as the rationale for reviewing how the utilization of environmental resources was done by human in the past. These rats remains are discovered on the same layer as Homo floresiensis and associated with lithic artifacts. Therefore, it is assumed that Homo floresiensis hunted these faunas to sustain its life. A giant rat is the most possible consumed species due to its size which is smaller than the hominins, yet considerably big to fulfil the needs of calories of the hominin. Situs Liang Bua menyimpan bukti-bukti evolusi manusia dalam bentuk temuan hominin dari spesies yang berbeda yaitu Homo floresiensis, yang hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tikus sebagai sumber kalori oleh Homo floresiensis. Pengumpulan data dilakukan dengan kajian pustaka, pengamatan hasil ekskavasi, dan wawancara. Analisis menggunakan metode kualitatif dan zooarkeologi. Teori ekologi dan teori subsistensi digunakan sebagai dasar pemikiran mengenai pemanfaatan sumber daya lingkungan untuk sumber makanan manusia di masa lalu. Temuan tulang tikus ditemukan pada lapisan yang sama dengan Homo floresiensis dan berasosiasi dengan artefak litik sehingga diasumsikan bahwa Homo floresiensis melakukan perburuan terhadap tikus dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Temuan tulang dari jenis tikus besar paling mungkin dijadikan hewan buruan untuk dikonsumsi karena ukurannya yang lebih kecil dari Homo floresiensis namun cukup besar untuk memenuhi kebutuhan kalori hominin tersebut
RELIEF NAGA DI PURA SUBAK WASAN, DESA BATUAN KALER, KECAMATAN SUKAWATI, KABUPATEN GIANYAR
Dragon is used as religious symbols in many parts of the world. In Hindu teaching, dragon as a symbol of gods embodied in many forms. Dragon relief is found at Subak Wasan Temple in Gianyar, Bali which is now placed on piyasan building. This study aims to reveal the form and fuction of the dragon relief at Subak Wasan Temple in the past. The method, including the forms, styles and fuctions. From its form, style and carving tecnic, it is knows that dragon relief in Puseh Wasan came from the same era as the dragon relief in Pusering Jagat Temple in Pejeng. This study showed that the dragon relief in Subak Wasan Temple symbolizes fertility whch is the symbol of land, water and earth.Naga banyak dijadikan sebagai perlambangan religi di berbagai belahan dunia. Dalam ajaran Hindu, naga sebagai lambang dewa diwujudkan dalam berbagai bentuk. Relief naga ditemukan juga di Pura Subak Wasan, Gianyar, Bali yang kini ditempatkan pada bangunan palinggih Piyasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan fungsi relief naga Pura Subak Wasan pada masa lalu. Metode yang diterapkan adalah metode analisis relief, meliputi bentuk, gaya dan fungsi. Dilihat dari bentuk, gaya, teknik pahatan relief naga di Pura Subak Wasan, nampaknya sejaman dengan relief naga di Pura Puseringjagat, Pejeng. Penelitian ini menunjukkan bahwa relief naga Pura Subak Wasan melambangkan kesuburan yang merupakan simbol dari tanah, air dan bumi