Forum Arkeologi
Not a member yet
    534 research outputs found

    MERAJUT PLURALISME DI DESA LINGSAR, KECAMATAN LINGSAR, LOMBOK BARAT, NUSA TENGGARA BARAT

    Full text link
    Lingsar village on the island of Lombok is unique. It has two places of worship, a temple and kemaliq, and also perang topat which is respected by the Balinese ethnic of Hindu and Wetu Telu Islam Sasak tribe. This village also has a tradition that unites Hindu and Islam Wetu Telu, in the form of slamatan and a joint funeral. The main reference used in carrying out daily life and tradition by the two ethnic groups, and the two devotees, is to materialize state the pluralist attitude as a pace of mutual respect and tolerance. The purpose of this research is to describe the existence of Hindu and Islam Wetu Telu symbols as a worship media, and to find out society’s perceptions to pluralism in Taman Lingsar temple. This research uses a qualitative method. Primary data were obtained by observation and interviews with village officials, religious leaders, humanists, from the Hindu and Muslim Wetu Telu. Secondary data were collected from library sources. The result informs that the life of people in Lingsar Village is harmonious, with mutual respect, from the perceptions of Hindu and Islam Wetu Telu symbols. These symbols, both physical and nonphysical, are part of a symbol system that builds synergistic relationships, a religious social order between Hindu and Islam Wetu Telu in Lombok. Desa Lingsar di Pulau Lombok memiliki keunikan utama yaitu terdapat dua tempat ibadah, pura dan kemaliq serta perang topat yang dihormati bersama antara umat Hindu dari suku bangsa Bali dan Islam Wetu Telu dari suku bangsa Sasak. Selain itu desa ini juga memiliki tradisi yang menyatukan antara umat Hindu dengan Islam Wetu Telu, yaitu berupa tradisi slamatan dan pemakaman bersama. Rujukan utama yang dipakai dalam menjalankan kehidupan seharihari dan menjalankan tradisi tersebut oleh kedua suku bangsa dan dua umat tersebut, adalah dengan mewujudnyatakan sikap pluralis sebagai langkah saling menghormati dan toleran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keberadaan simbol-simbol agama Hindu dan Islam Wetu Telu sebagai media pemujaan, dan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang pluralisme di Pura Taman Lingsar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data primer didapat dengan cara observasi dan wawancara dengan aparat desa, tokoh agama, budayawan, dari umat Hindu dan Islam Wetu Telu. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari sumber-sumber pustaka. Hasil penelitian menginformasikan bahwa kehidupan masyarakat di Desa Lingsar harmonis, dengan saling menghargai dan menghormati satu sama lain, dari hasil persepsi terhadap simbol-simbol agama Hindu dan Islam Wetu Telu. Simbol-simbol tersebut baik berupa fisik maupun non fisik merupakan bagian dari sistem simbol yang membangun hubungan yang sinergis, membangun tatanan sosial religius antara umat Hindu dengan umat Islam Wetu Telu di Lombok

    SEBELAS WINDU PURBAKALA INDONESIA

    No full text

    KONSTELASI KERUANGAN BIARA SANGKILON, KAWASAN KEPURBAKALAAN PADANG LAWAS BAGIAN SELATAN PADA ABAD XI—XIV MASEHI

    Full text link
    Biara Sangkilon is one of the many biaras in the in Padang Lawas archaeological area located in Sangkilon Village, Lubuk Barumun District, Padang Lawas Regency. In general, the arrangement of biaras in this region has its own characteristics, namely the main building facing the mandapa, with one gate. The problem raised in this paper is how the spatial constellation of Biara Sangkilon is? The writing purpose of this article is to get a description of the space boundaries based on the distinction of spatial functions and their relationships in the Biara Sangkilon Complex. Through descriptive-analytical research it can be seen in fact through the form of structure, distance, findings artifactual, and boundaries, there is a fairly clear division of space between sacred space, and profane at Biara Sangkilon. Biara Sangkilon merupakan salah satu dari sekian banyak biara di Kawasan Kepurbakalaan Padang Lawas yang terletak di Desa Sangkilon, Kecamatan Lubuk Barumun, Kabupaten Padang Lawas. Secara umum, susunan biara-biara yang terdapat di kawasan ini memiliki ciri khas tersendiri yaitu bangunan utama berhadapan dengan mandapa, dengan satu pintu gerbang. Adapun permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah bagaimanakah konstelasi keruangan Biara Sangkilon? Tujuan dari penulisan artikel ini untuk mendapatkan gambaran tentang batas-batas ruang yang didasarkan pada pembedaan fungsi-fungsi ruang beserta relasirelasinya yang terdapat di Kompleks Biara Sangkilon. Melalui penelitian yang bersifat deskriptifanalitis dapat diketahui ternyata melalui bentuk struktur, jarak, temuan artefaktual, dan batasbatas, terdapat pembagian ruang yang cukup jelas antara ruang sakral, dan profan di Biara Sangkilon.

    PERKEMBANGAN ANALISIS FITOLIT DAN PENERAPANNYA DALAM ARKEOLOGI DI INDONESIA

    Full text link
    Nowadays, the method of analysis in archaeology is growing, including the archaeobotany approach by using phytolith analysis. Apart from other microbotany data such as pollen and starch, phytolith has the advantage of being able to survive in the soil under fairly extreme conditions. Phytolite analysis is still rarely used in Indonesia for reconstructing the past environment,. Meanwhile, it has been used in other scientific researches such as paleoclimatology, paleoecology, paleoethnobotany. The purpose of this research is to explain phytolith as archaeological data and its implementation in archeology in Indonesia. This research data focuses on reviews of several studies which have used phytolith data as archaeological data in the world, including in Indonesia. Based on the results of archaeological research using phytolith data in this paper, it can provide an overview of the past environment, plant use, and human dietary patterns. Research prospects using phytolith analysis in Indonesia are still wide open which is also described in this paper. Metode analisis dalam arkeologi dewasa ini semakin berkembang, termasuk pendekatan arkeobotani dengan menggunakan analisis fitolit. Selain data mikrobotani lain seperti polen dan starch, fitolit memiliki keuntungan tersendiri yang mampu bertahan di dalam tanah dengan kondisi yang cukup ekstrim. Namun, di Indonesia sendiri analisis fitolit dalam arkeologi relatif sedikit digunakan dalam upaya rekonstruksi lingkungan masa lalu. Sementara itu fitolit telah digunakan dalam penelitian ilmu lain seperti paleoklimatologi, paleoekologi, paleoetnobotani. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan fitolit sebagai data arkeologi dan implementasinya dalam arkeologi di Indonesia. Data penelitian ini berfokus pada ulasan beberapa penelitian di dunia termasuk di Indonesia yang telah menggunakan data fitolit sebagai data arkeologi. Berdasarkan hasil penelitian arkeologi dengan menggunakan data fitolit dalam tulisan ini dapat memberikan gambaran lingkungan masa lalu, pemanfaatan tumbuhan, dan juga pola diet manusia. Selain itu prospek penelitian dengan menggunakan analisis fitolit di Indonesia masih terbuka lebar yang juga dijelaskan dalam tulisan ini.

    PENGELOLAAN SUMBERDAYA ARKEOLOGI

    Full text link
    To manage of the archaeological resources from early finding until the used must be following in unity and continuity of a managing cylus, to succesfull to get the aims. This condition is not yet done in Indonesia, so the working still in fragment form and based to the egosectoral. The aims of this paper are to try to promoted an alternative of archaeological resorces managing with used a system who called with cultural resorches management, hoppelly can managing the archaeological resources in unity and continuity working procces, so resulting bicome maxcimal. The Cultural resources management including several procces, like : Planning; Doing; Organizing; Net Working and a good controlling. With used this method. We are hoppelly the all of archaeological resources, will be done by sustainable development procces. Pengelolaan sebuah sumberdaya arkeologi sejak penemuan hingga pemanfaatannya semestinya melalui sebuah siklus pengelolaan yang berurutan dalam satu kesatuan, sehingga berhasil mencapai tujuannya. Kondisi inilah yang belum dikerjakan di Indonesia, sehingga pengerjaan masih bersifat sepotong-sepotong dan berdasarkan kepentingan sektoral saja, sehingga sangat tidak menguntungkan bagi keberadaan sumberdaya arkeologi. Tujuannya adalah untuk mencoba mengajukan sebuah alternatif pengelolaan sumberdaya arkeologi dengan menggunakan sebuah sistem yang disebut managemen sumberdaya budaya, agar terjadi pengelolaan sumberdaya arkeologi yang sistematik dalam satu kesatuan proses kerja, sehingga hasilnya menjadi maksimal. Managemen sumberdaya budaya meliputi beberapa proses, seperti perencanaan, pelaksanaan, organisasi, jaringan kerja dan pengawasan yang baik, Dengan menggunakan metode ini, kita berharap seluruh sumberdaya arkeologi, akan dapat dikembangkan secara berkelanjutan

    PENGARUH KEBUDAYAAN ISLAM DI MINAHASA MASA KOLONIAL: BERDASARKAN TINGGALAN ARKEOLOGI

    Full text link
    This article discusses about the influence of Islamic culture in the land of Minahasa of North Sulawesi Province based on archaeological studies. Minahasa is the biggest ethnic area in North Sulawesi Province, with the majority of the population being Christians. Islam arrival in Minahasa carried by Arab traders, fisherman from North Maluku, Bugis, Makasar, Gorontalo and political prisoners from Java and Sumatera. The early history of Islam in Minahasa, acculturation process, development, and Islamic influence in Minahasa can be traced by using archaelogical studies based on existing physical cultural. Research on Islamic culture in Minahasa specifically based on archaeological studies has not been done before. The previous researches of the same topic were mostly conducted through nonphysical culture. The result of the observation reveals that the influence of Islamic culture in Minahasa comprises of some Islamic Settlements, Mosques, and Islamic Cemetery. The influence of Islamic culture in Minahasa coastal area and inland has different characters due to different historical background, socio cultural, and political background of the Islamic communities. Artikel ini membahas mengenai pengaruh kebudayaan Islam di tanah Minahasa, Propinsi Sulawesi Utara berdasarkan tinggalan arkeologi. Minahasa merupakan wilayah etnis terbesar di Propinsi Sulawesi Utara dengan mayoritas penduduk beragama Kristen. Agama Islam di Minahasa dibawa oleh pedagang-pedagang Arab serta, nelayan dari Maluku Utara, Bugis, Makasar, Gorontalo dan tahanan politik dari Jawa dan Sumatera. Dengan menggunakan kajian arkeologi, dapat ditelusuri sejarah awal masuknya Islam, proses akulturasi yang terjadi, perkembangan dan pengaruh Islam di Minahasa berdasarkan tinggalan kebudayaan fisiknya. Penelitian mengenai kebudayaan Islam di Minahasa dengan menggunakan kajian arkeologi secara khusus belum pernah dilakukan, penelitian-penelitian sebelumnya mengkaji dengan menggunakan tinggalan kebudayaan non fisik yang ada. Hasil pengamatan di lapangan, pengaruh kebudayaan Islam yang terdapat di Minahasa berupa: permukiman Islam, masjid, dan pemakaman (kubur) Islam. Terdapat adanya perbedaan pengaruh kebudayaan Islam di wilayah pesisir dengan pedalaman Minahasa yang disebabkan perbedaan latar belakang sejarah, sosial budaya, dan politik masyarakat Islam pesisir dan pedalaman Minahasa

    IDENTIFIKASI BANGUNAN PADA PAHATAN TEBING DI SEPANJANG SUNGAI PAKERISAN, KABUPATEN GIANYAR

    Full text link
    Pakerisan River which located in Gianyar Regency is one of the famous rivers which has many archaeological sites. Some of them are rock-cut architectures, carved along its riverbank, such as Gunung Kawi Temple Site, Kerobokan Temple Site, Goa Garbha, and Tegallinggah Temple Site. In general, all of the rock-cut architectures are the depiction of buildings and could be categorized as sacred or profane in regard to their functions. These sites were built around 10th- 13th Century. This research aims to indentify all the building types based on the carving. Survey and interview were used in data collection, and were used in collecting data. Then, the data were analyzed with morphological, technological and contextual analysis. The result of this research shows that these rock-cut architectures consist of sacred buildings, i.e. rock-cut temples, worship niches, hermitage niches, and some house-like profane buildings. These architectural concepts of rock-cut architecture might be used as references to understand the origin of Balinese traditional architecture nowadays. Sungai Pakerisan yang ada di Kabupaten Gianyar adalah salah satu situs arkeologi yang terkenal di Bali. Sebab di sepanjang sungai itu terdapat beberapa pahatan tebing kuno, seperti Komplek Gunung Kawi, Situs Kerobokan, Situs Goa Garbha, dan Situs Tegallinggah. Umumnya semua pahatan tebing tersebut merupakan bentuk-bentuk bangunan yang dapat diketahui sebagai bangunan suci dan bangunan biasa yang dibangun sekitar abad ke- 10-13 Masehi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tipe-tipe bangunan berdasarkan pahatan tebing yang ada di sana. Metode survei dan wawancara diterapkan dalam penelitian ini untuk memperoleh data. Analisa data menggunakan teknik analisis morfologi, analisis teknologi dan analisis kontekstual pahatan tebing. Dari kegiatan penelitian ini diharapkan dapat diketahui seluruh tipe bangunan yang ada di sana. Temuan penelitian ini berupa berbagai pahatan tebing berbentuk bangunan pada DAS Pakerisan, yang secara garis besar terdiri atas bangunan suci (sakral) berupa candi tebing, ceruk pemujaan dan ceruk pertapaan, serta bangunan profan berupa rumah. Dengan melihat pahatan-pahatan tebing tersebut, tersirat adanya konsep-konsep dasar arsitektur yang mungkin sebagai cikal-bakal dari arsitektur tradisional Bali yang kita kenal sekarang

    PELESTARIAN DAERAH ALIRAN SUNGAI PAKERISAN PERSPEKTIF LINGKUNGAN

    No full text

    APPENDIX FORUM ARKEOLOGI VOL. 25 NO. 3 NOVEMBER 2012

    No full text

    140

    full texts

    534

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Forum Arkeologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇