Forum Arkeologi
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
SEBARAN SUMBER DAYA ARKEOLOGI DI KABUPATEN MOROWALI: GAMBARAN TOLERANSI MASYARAKAT MASA LALU
Kabupaten Morowali has abundance archeological resources that have not been explored optimally. The resources are spread from coastal areas to karst hills along the areas of Kabupaten Morowali. This research aims to compile the data of the resources together with its spreading location and to understand the description of Morowali people tolerance in the past. The research was descriptive, and using inductive approach and historical archaeology approach. The results of this research are natural caves once functioning as a graveyard in Kecamatan Lembo and the area surround, old mosque, fort, tomb, palace, and colonial building. Based on historical data and interpretation of archaeological data, people of Morowali have known tolerance and harmony in the past. Morowali communities live in harmony despite having different ethnicities and religions because of their strong kinship. Kabupaten Morowali mempunyai potensi tinggalan sumber daya arkeologi yang sampai saat ini belum tergali secara optimal. Peninggalan sumber daya arkeologi tersebar di wilayah pesisir sampai di wilayah perbukitan karst yang membentang sepanjang wilayah Kabupaten Morowali. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendata sumber daya arkeologi di wilayah Kabupaten Morowali, sebarannya, dan mengetahui gambaran toleransi masyarakat Morowali masa lalu berdasarkan tinggalan tersebut. Penelitian ini bersifat dekriptif dengan menggunakan penalaran induktif dan pendekatan arkeologi kesejarahan. Hasil penelitian berupa gua-gua alam yang berfungsi sebagai penguburan di wilayah Kecamatan Lembo dan sekitarnya, masjid tua, benteng, makam, bekas istana, dan bangunan kolonial. Berdasarkan data sejarah dan interpretasi data arkeologis yang ada, masyarakat Morowali telah mengenal toleransi kerukunan pada masa lalu. Masyarakat Morowali hidup rukun, walaupun berbeda etnis dan agama karena adanya ikatan kekerabatan yang kuat
MINIATUR SARKOFAGUS DAN MINIATUR NEKARA PERUNGGU TEMUAN PRASEJARAH DI SERIRIT, KABUPATEN BULELENG
LANSKAP PERTAMBANGAN PENAMBANG TIONGKOK DI MONTERADO, KALIMANTAN BARAT: PENDEKATAN ARKEOLOGI SEJARAH
Monterado is the biggest gold mining landscape in West Kalimantan, which shows great mining and technology owned by the Chinese miners at that time. This research aims to reconstruct the past life phenomenon through cultural landscape of gold mining in Monterado, West Kalimantan. The landscape which has experienced some alteration by man’s hand is expected to be able to describe man’s activities and roles of the cultural landscape over the process of settlement. The reasoning of this research is inductive with historical archeology approach. In landscape archaeology research, historical data is compliance data to reconstruct cultural landscape. Data were collected through literature study, survey, and interview. The cultural landscape shows great activities and technology of Chinese miners. They also established organization which is called “kongsi” to support mining. Settlement and towns grew at the coastal area as the influence of the gold mining which now becomes Singkawang Town. Monterado adalah lanskap pertambangan emas terbesar di Kalimantan Barat, yang menunjukan aktifitas pertambangan yang besar dan teknologi yang dimiliki oleh para penambang Tiongkok pada saat itu. Penelitian ini bertujuan untuk merekontruksi kehidupan masa lalu melalui fenomena lanskap budaya pertambangan emas di Monterado, Kalimantan Barat. Lanskap yang sudah mengalami perubahan bentuk oleh tangan manusia tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran aktifitas apa saja yang dilakukan manusia pada masa lalu dan bagaimana peran lanskap budaya tersebut terhadap proses terbentuknya pemukiman. Penalaran yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Induktif dan pendekatan arkeologi kesejarahan. Dalam penelitian arkeologi lanskap, data sejarah merupakan data pelengkap untuk melakukan rekontruksi terhadap lanskap budaya yang ada. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, survei, dan wawancara. Lanskap budaya tersebut menunjukan aktifitas pertambangan yang besar dan teknologi yang dimiliki oleh para penambang Tiongkok pada saat itu. Selain kemampuan untuk tambang, ternyata penambang Tiongkok juga membentuk sebuah organisasi yang disebut “kongsi” untuk mendukung kegiatan pertambangan. Pemukiman dan kota-kota yang tumbuh sebagai pengaruh dari pertambangan emas Monterado muncul di wilayah pesisir, yang saat ini menjadi Kota Singkawang