Forum Arkeologi
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
TRANSFORMASI IDEOLOGI HARITI DI BALI
Brayut legend is very popular in Bali. It is the legend of the conjugal life which had eighteen children. This legend is often associated with Hariti mythology, which also had many children. The purpose of this research is to determine the transformation of Hariti ideology in Bali. The result of this research is some varieties of media transformation of Hariti ideologi such as statues, folklore, legends, literary works such as poems about Brayut geguritan. Balinese people rarely know the name of Hariti. It is known that a family or a statue that has many children as Berayut. Nevertheless, the transformation of Hariti ideology from India to Bali, certainly not taken for granted, but adapted to the local culture of Balinese people. So, it really can be internalized and implemented in everyday life, in term of protection to children. Legenda Brayut sangat populer di Bali, yakni legenda mengenai kehidupan suami-istri yang memiliki delapan belas anak. Legenda ini sering dikaitkan dengan mitologi Hariti, yang juga memiliki banyak anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui transformasi ideologi Hariti di Bali. Hasil penelitian ini berupa berbagai media transformasi ideologi Hariti seperti arca, cerita rakyat, legenda, karya sastra puisi berupa geguritan tentang Brayut. Masyarakat Bali jarang yang mengenal nama Hariti. Justru yang dikenal kalau menyinggung masalah keluarga atau arca yang banyak anak sebagai Berayut. Meskipun demikian, transformasi ideologi Hariti dari tanah India, hingga sampai ke Bali, tentu tidak diterima begitu saja, tetapi disesuaikan dengan budaya lokal masyarakat Bali. Dengan demikian, hal ini benar-benar dapat diinternalisasi dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam hal perlindungan kepada anak
KEHARMONISAN DALAM TINGGALAN ARKEOLOGI DI PURA DANGKA, TEMBAU, DENPASAR
Dangka Tample is one of the temples that keep the archaeological remains of ancient Balinese era, still sacred, by its penyungsung people, because it has important meaning for harmony. This study aims to determine the meaning of harmony that is reflected in the remains of akeologi in the temple. This research is a qualitative research, whose data is collected through direct observation in Pura Dangka, analyzed by iconography, the results are presented in narrative, and completed with drawings. The results of this research are Linga-yoni, statue of Dewi Durga, statue of Ganesha, statue of Nandi. Of all these remains, there is Linga-yoni which has a larger size among the others, which is thought to be the main medium of worship, while the other remains as supporting media in achieving harmony. Pura Dangka adalah salah satu pura yang menyimpan tinggalan arkeologi dari jaman Bali Kuno, masih dikeramatkan, oleh masyarakat penyungsungnya, karena memiliki makna penting untuk keharmonisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna keharmonisan yang tercermin pada tinggalan akeologi di pura tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang datanya dikumpulkan melalui observasi langsung di Pura Dangka, dianalisis secara ikonografi, hasilnya disajikan secara naratif, dan dilengkapi gambar. Hasil penelitian ini berupa Lingga-yoni, arca Dewi Durga, arca Ganesa, arca Nandi. Dari semua tinggalan tersebut, terdapat Lingga-yoni yang mempunyai ukuran yang lebih besar di antara tinggalan lainnya, yang diduga sebagai media utama pemujaan, sedangkan tinggalan lainnya sebagai media pendukung dalam mencapai keharmonisan