Forum Arkeologi
Not a member yet
534 research outputs found
Sort by
OPTIMALISASI PENGELOLAAN PELABUHAN-PELABUHAN KUNO DI BULELENG DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA
Buleleng waters had been busy since the 10th century and achieved greatness during the Dutch government. The potential of natural resources and strategic geographical location are the main factors. Political developments led to only three ports that play an active role and as a triangle spot of the Dutch government. The purpose of optimizing management is that the ancient port as a cultural heritage also has an important role and existence in the current development and provide benefits both in the preservation of culture, economic community. This research uses descriptive qualitative approach with field observation data and interview technique. The results obtained that in optimizing the management of ancient ports for tourism development, should be accompanied by connections with subsystems and other tourism support facilities. The harbor and the surrounding landscape can serve as a tourist attraction as well as provide access services to increase the motivation of tourists to learn and gain new knowledge and experience. High tourist motivation to visit Buleleng will directly promote the tourism industry, preservation of ancient ports with various supporting facilities and as a means of diplomacy to become the pride of the people of Buleleng. In optimizing the management of ancient ports in tourism development, it is expected that there will be coordination and synchronization with stakeholders related to the preservation of cultural heritage, environment and tourism industry. Perairan Buleleng sudah ramai sejak abad ke-10 dan mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Belanda. Potensi sumber daya alam dan letak geografis yang strategis menjadi faktor utama. Perkembangan politik menyebabkan hanya tiga pelabuhan yang berperan aktif dan sebagai triangle spot pemerintah Belanda. Tujuan optimalisasi pengelolaan adalah agar pelabuhan kuno sebagai warisan budaya juga mempunyai eksistensi dan peran penting dalam pembangunan saat ini serta memberikan manfaat dalam pelestarian budaya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitataif dengan teknik pengumpulan data observasi lapangan dan wawancara. Hasil yang diperoleh bahwa dalam melakukan optimalisasi pengelolaan pelabuhanpelabuhan kuno untuk pengembangan pariwisata, harus disertai dengan koneksi dengan subsistem dan fasilitas pendukung pariwisata lainnya. Motivasi wisatawan yang tinggi untuk berkunjung ke Buleleng secara langsung akan memajukan industri pariwisata, pelestarian pelabuhan-pelabuhan kuno dengan berbagai fasilitas pendukungnya dan sebagai sarana diplomasi sehingga menjadi kebanggaan masyarakat Buleleng. Dalam optimalisasi pengelolaan pelabuhan-pelabuhan kuno dalam pengembangan pariwisata diharapkan ada koordinasi dan sinkronisasi dengan stakeholder terkait pelestarian warisan budaya, lingkungan dan industri pariwisata
RELIEF JAMBANGAN BUNGA DI PURA PUSEH KANGINAN CARANGSARI DESA CARANGSARI, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG STUDI ARKEOLOGI-RELIGI
In the temple of Puseh Kanginan there is building components one of which is a relief of vase fl owers. This relief is becoming very attractive to author because it resembles a relief of kalpataru which were found many at temples in Java, such as Prambanan and Borobudur. There are two problems raised in this study, namely the identity of relief of vase fl owers, and its meaning. This study uses two theories; they are theory of religion and cultural ecology theory. Those theories were used to reveal the religious aspects and the role of the relief in the hopes of its creators and the community to adapt and maintain the environment. The study was a qualitative research.The datawere collected by observation and literature study. Data were analyzed descriptively and qualitatively, with the process of data reduction, presentation of data, and drawing conclusions. In the fi nal stage after data analysis, it was conducted the presentation of data according to the problems. So it can be seen that the relief of fl ower vase at Pura Puseh Kanginan, Carangsari village, Petang District, Badung regency, in terms of its characteristics is the Kalpataru relief. Meaning contained in it is a symbol of life, the purity and balance of the universe. In addition, this tree is also known as the banyan tree, as well as a symbol of purity, which is used as a means of spiritual purifi cation ceremony in Bali (atma wedana). Di Pura Puseh Kanginan terdapat komponen bangunan salah satu diantaranya adalah relief jambangan bunga. Relief ini menjadi sangat menarik bagi penulis karena relief ini menyerupai relief kalpataru yang banyak terdapat pada candi di Jawa, seperti Prambanan dan Borobudur. Ada dua permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu mengenai identitas relief jambangan bunga tersebut, dan makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan dua teori yaitu teori religi dan teori ekologi budaya, yang digunakan untuk mengupas aspek religi dan peran relief tersebut dalam harapan masyarakat penciptanya dalam beradaptasi dan menjaga lingkungannya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif ; sumber data dikumpulkan secara observasi dan kepustakaan. Anaalisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif, dengan proses ; reduksi data, penyajian data, menarik kesimpulan. Pada tahap akhir setelah analisis data, dilakukan penyajian data, sesuai dengan permasalahan yang diajukan. Jadi dapat diketahui bahwa relief jambangan bunga yang terdapat di Pura Puseh Kanginan, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, dilihat dari segi ciri-cirinya adalah relief kalpataru. Makna yang terkandung di dalamnya adalah simbol kehidupan, kesucian dan keseimbangan alam semesta. Di samping itu pohon ini juga dikenal dengan banyan dan beringin, juga sebagai simbol kesucian, yang dipakai sebagai sarana upacara penyucian roh di Bali (atma wedana)
SITUS-SITUS MEGALITIK DI DESA PADANGRATU KABUPATEN OKU SELATAN (GAMBARAN ADAPTASI LINGKUNGAN)
The purpose of this study was to determine the environmental adaptation in Padangratu Village with the target of megalithic sites and their relationship with the physical environment in Padangratu Village. The method used is a qualitative method and a semi-macro space study. which examines the relationship between megalithic and environemental in Padangratu Village. The results show that the megalithic sites in Padangratu Village were Jurun, Langkat, Putor, Bumijawa and Tanjung sites located at an altitude of 400-1032 meters/asl. The community supporting the megalithic tradition in the village of Padangratu had adapted to the environment by establishing megalithic buildings near water sources (springs and siring) and on soils containing volcanic weather and choosed locations that provide sources of megalithic building materials. The occupational periods of megalithic sites in the village Padangratu was the 10th century AD, this was based on the relative date of the ceramic findings from these sites. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adaptasi lingkungan di Desa Padangratu dengan sasaran situs-situs megalitik dan hubungannya dengan lingkungan fisik di Desa Padangratu. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan studi ruang semi makro. yang mana menguji hubungan antara megalitik dan environemental reliks di Desa Padangratu. Hasilnya menunjukkan bahwa situs-situs megalitik di Desa Padangratu adalah situs Jurun, Langkat, Putor, Bumijawa dan Tanjung terletak di pada ketinggian 400 – 1032 meter/dpl. Masyarakat pendukung tradisi megalitik di Desa Padangratu sudah berdaptasi dengan lingkungan dengan mendirikan bangunan megalitik di dekat sumber air (mata air dan siring) dan pada tanah mengandung lapukan vulkanik dan memilih lokasi yang menyediakan sumber material bangunan megalitik.. Periode okupasi situs-situs megalitik di Desa Padangratu pada abad ke-10 M, hal ini berdasarkan pertanggalan relatif dari temuan keramik dari situs-situs tersebut