Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional
Not a member yet
203 research outputs found
Sort by
Klaim Sepihak Donald Trump Terhadap Kota Yerusalem Sebagai Ibukota Israel Dalam Perspektif Konstruktivisme
Konflik Palestina-Israel merupakan salah satu konflik global yang tidak berujung hingga saat ini. Kota Yerusalem merupakan kawasan yang diperebutkan dan sebagai pemicu konflik sepanjang masa antara Palestina-Israel. Kota ini dianggap merupakan tempat yang begitu sakral bagi umat Islam dan kaum Yahudi sehingga terus menjadi perebutan dua negara tersebut. Kemudian di penghujung tahun 2017, Donald Trump telah memicu konflik memanas kembali dengan pernyataan keberpihakannya terhadap Israel dengan memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan klaim sepihak Amerika Serikat dibawah pemerintahan Trump terhadap kota Yerusalem sebagai ibukota Israel dengan menggunakan perspektif konstruktivisme. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Dalam studi kepustakaan, data dan informasi dikumpulkan dan dianalisis untuk memahami fenomena yang dikaji. Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis data, bahwa klaim sepihak dilakukan berdasarkan unsur identitas (identity) dan kepentingan (interest), sehingga Amerika Serikat menganggap Israel sebagai ‘kawan’ dan Palestina sebagai ‘lawan’.Kata kunci: Perspektif Konstruktivisme; Kota Yerusalem; Klaim Sepihak Donald Trump
Implikasi Pandemi Covid-19 terhadap Hubungan Internasional: Menuju dunia Paska-Liberal
Tujuan dari tulisan ini adalah menelaah implikasi pandemic Covid-19 terhadap pola hubungan internasional. Hal ini tengah menjadi perdebatan diantara para pengkaji hubungan internasional, dimana terdapat pandangan yang optimis dan pesimis. Tulisan ini sendiri berargumen bahwa terjadi pergeseran pola hubungan internasional dari pola hubungan yang bersifat positif sum yang didasarkan kepada interdependensi, institusionalisme, multilateralisme, dan sistem demokrasi menjadi pola hubungan yang lebih mengarah kepada zero sum game dimana negara semakin memperkuat dirinya dan saling berkompetisi dengan negara lain
Pandemi Global COVID-19 dan Problematika Negara-Bangsa: Transparansi Data Sebagai Vaksin Socio-digital?
Pandemi coronavirus COVID-19 telah memunculkan tantangan baru untuk diatasi oleh negara-bangsa.Secara khusus, yaitu mengenai bagaimana negara merespons dan berupaya mencegah dan menghentikan penyebaranvirus jauh lebih luas. Banyak negara melakukan kebijakan yang diterapkan di dalam wilayahnya, seperti sistemkebijakan lockdown, atau kebijakan menjaga jarak sosial atau social distancing terhadap masyarakat. Beberapanegara menunjukkan keberhasilan, tetapi ada pula yang menunjukkan kegagalan dari kebijakan ini. Kedua kebijakanini adalah contoh dari vaksin sosial yang dilakukan oleh pemerintah dalam menanggapi keadaan darurat ini. Namun,vaksin sosial masih perlu didukung oleh elemen lain, dan salah satu yang paling penting adalah tentang transparansidata. Artikel ini membahas masalah yang dihadapi oleh negara-bangsa terkait dengan transparansi data dan mengapatransparansi data dapat disebut sebagai 'vaksin sosio-digital' untuk mencegah penyebaran virus corona. Tulisan inididasari pada argumentasi bahwa, meskipun data merupakan bagian dari spektrum digital, tetapi bagaimanapemerintah memperlakukan data, apakah itu transparan atau tidak, tetap memiliki dampak bagi aspek sosial danpolitik terhadap bangsa dan negara
West-Eastern Divan Orchestra: A Representation of Peace Optimism from the Middle East
The high escalation of conflict that occurred in the Middle East region became a global issue which until now still has not found a solution. This situation is also complicated by the presence of US President Donald Trump\u27s controversial immigration policy, which targets the Middle Eastern countries. Various efforts have been made by each country to reduce tension and maintain social and political stability in each country. In the midst of the many efforts made, emerging non-state actor that are trying to resolve conflicts, one of which is the Divan OrcThe high escalation of conflict that occurred in the Middle East region became a global issue which until now still has not found a solution. This situation is also complicated by the presence of US President Donald Trump\u27s controversial immigration policy, which targets the Middle Eastern countries. Various efforts have been made by each country to reduce tension and maintain social and political stability in each country. In the midst of the many efforts made, emerging non-state actor that are trying to resolve conflicts, one of which is the Divan Orchestra, an international music organization that runs Music Diplomacy in the conflict countries. In this study, researchers will try to discuss The Divan Orchestra diplomatic roles as a representation of the message of peace from its members. The researcher will use the concepts of Music Diplomacy, Soft Power and Non-State Roles as Analysis Tools. While the research method used is a Qualitative Method using Literature Study. https://orcid.org/0000-0002-1953-766
Rethinking the Larger Pattern of the American Interest in the Arab Gulf
This paper evaluates the larger pattern of American interest in the Arab Gulf. It questions whether the pattern is based on ideological or economic interest. It also critically examines various data and interprets following their (data) social, economic and political interlinks and special topics that have been significantly proposed in the state policy. This paper argues that the US foreign policy represents two larger directions of its interest: economy and ideology. Both have linked together and interrelatedly have determined and have been determined by strategic culture of the states in the region and its complexities covering all national, interstate, regional, broader regional (Middle East) and global levels. This paper also arguably states that there is no single interest that can be oversimplified, but it has remained highly dynamic or has demonstrated multiple complexities of the interest in which they are represented by issues of oil, war on terrorism, nuclear weapon and Israel
COVID- 19 dan Potensi Konflik Sosial
Penyebaran wabah COVID-19 membuka peluang pada munculnya konflik-konflik di masyarakat. Konflik ini bersifat horizontal maupun vertikal. Penyebaran wabah COVID-19 ini telah memukul kondisi ekonomi sebagian warga. Hal tersebut kemudian menjalar sehingga menyebabkan kegelisahan sosial di tengah masyarakat. Tulisan ini membahas tentang potensi konflik akibat COVID-19 dengan pendekatan studi konflik dan perdamaian yang dipadukan dengan pendekatan struktural. Salah satu argument utama dari tulisan ini adalah ketakutan atas munculnya konflik berakar dari ketidaktahuan atas unsur-unsur yang menjadi pra-kondisi atas situasi konflik tersebut. Konflik, selanjutnya, merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang saling berkelindan satu sama lain
Mengkaji Kemungkinan Dunia Pasca-Pagebluk 2020: Deglobalisasi dan Kembalinya Big State
Tulisan ini berupaya memahami kemungkinan dunia pasca-pagebluk. Untuk mengkajinya, tulisan terbagi dalam tiga bagian besar. Bagian pertama mengemukakan situasi dunia sebelum pagebluk yakni mengemukanya fenomena globalisasi, yang mengakibatkan peran negara memudar. Bagian kedua mengemukakan situasi dunia selama pagebluk yakni terkikisnya fenomena globalisasi secara umum. Bagian ketiga, melanjutkan bagian kedua, mengemukakan kembalinya peran negara dalam situasi selama dan sesudah pagebluk
Pengaruh Legitimasi Uni Eropa Terhadap Proses De-Eropanisasi di Turki Pasca Kudeta Militer 15 Juli 2016
Tahun 2019 ditandai sebagai 56 tahun berlangsungnya hubungan diplomatik antara Turki dan Uni Eropa. Selama hubungan diplomatik tersebut berlangsung, Turki juga berupaya untuk menjadi bagian dari keanggotaan penuh Uni Eropa. Uni Eropa memiliki kepentingan untuk bertindak sebagai kekuatan normatif di Turki selama proses negosiasi keanggotaan. Namun, proses negosiasi tidak berjalan dengan mudah terutama pasca terjadinya kudeta militer 15 Juli 2016 di Turki. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses de-Eropanisasi pasca peristiwa kudeta dan pengaruh legitimasi Uni Eropa dalam menjalankan peran sebagai kekuatan normatif sehingga terjadi de-Eropanisasi di Turki. Penulis menggunakan konsep de-Eropanisasi dan teori legitimasi untuk mencapai tujuan penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang datanya diperoleh dari studi pustaka berupa buku, artikel jurnal, berita, dan internet. Penelitian ini memiliki temuan bahwa tindakan yang diambil Presiden Erdoğan dan partai AKP dalam merespons kudeta militer tidak mencerminkan nilai demokrasi, aturan hukum, dan HAM yang diagungkan oleh Uni Eropa. Hal ini juga dipengaruhi oleh lemahnya legitimasi Uni Eropa di Turki akibat dari bangkitnya pemahaman xenophobia serta Islamophobia di Eropa. Selain itu, Uni Eropa juga gagal menepati janji untuk memberikan hak bebas visa kepada Turki