J - SIMBOL (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Not a member yet
180 research outputs found
Sort by
Nilai-Nilai Karakter dalam Novel The Chronicle Of Kartini Karya Wiwid Prasetyo
This study aimed to describe the character values contained in Novel The Chronicle of Kartini by Wiwid Prasetyo and compiled as a teaching material. The method used in this research is descriptive qualitative. Technique of collecting research data is done by using literature study or documentation study. The results show that the dominant character values appearing in novel The Chronicle of Kartini by Wiwid Prasetyo include (1) the religious values reflected in the dialogue and statements in the Chronicle of Kartini novel, (2) the value of hard work reflected in dialogue and depiction of contents in the novel the Chronicle of Kartini, (3) social care reflected from the dialogue and exposure of contents in the novel the Chronicle of Kartini. The used of novels as teaching materials with the values of the characters contained in it into the constituent element of Activity Activities Learners generated for high school students class XII.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam Novel the Chronicle of Kartini karya Wiwid Prasetyo dan menyusun sebagai bahan ajar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menggunakan studi kepustakaan atau studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai karakter yang dominan muncul dalam novel the Chronicle of Kartini karya Wiwid Prasetyo meliputi (1) nilai religius yang tercermin pada dialog dan pernyataan dalam novel the Chronicle of Kartini, (2) nilai kerja keras yang tercemin dari dialog dan penggambaran isi dalam novel the Chronicle of Kartini, (3) peduli sosial yang tercemin dari dialog dan paparan isi dalam novel the Chronicle of Kartini. Penggunaan novel sebagai bahan ajar dengan nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya menjadi unsur penyusun Lembar Kegiatan Peserta Didik yang dihasilkan untuk siswa SMA kelas XII.Kata kunci: nilai pendidikan karakter, novel, dan bahan aja
ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 1 PAGELARAN
This study was aimed at describing forms and causes of code-switching and code-mixing in the environment of SMAN I Pagelaran. It was conducted through a qualitative descriptive design. Sources of data were the teachers, staff, and students of SMAN I Pagelaran in the forms of code-switching and code-mixing occurrences. The results of the study show that code-switching occurs in the forms of internal and external code-switching. The factors causing the occurrences of code-switching include: the benefit obtained by the speaker from his/her actions, the interlocutor switching his/her code because of the presence of the third person, changes of situation from formal to informal, changes of conversational topics. The forms of code-mixing occur in the forms of words, abbreviation/acronyms, phrases, baster, and clauses. Factors causing the code-mixing occurrences are background of the speakers attitude and linguistic preferences.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan faktor penyebab terjadinya alih kode-campur kode di lingkungan SMAN I Pagelaran. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif. Sumber datanya adalah guru, pegawai, dan siswa dilingkungan SMAN I Pagelaran, sedangkan datanya berupa tuturan yang berwujud alih kode dan campur kode. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peristiwa alih kode terjadi dalam bentuk alih kode intern dan ekstern Faktor penyebab alih kode adalah penutur memperolah keuntungan dari tindakannya, mitra tutur terlebih dahulu beralih kode, berubahnya situasi karenakehadiran orang ketiga, perubahan situasi formal ke informal, dan berubahnya topik pembicaraan. Bentuk-bentuk campur kode terjadi dalam bentuk kata, singkatan/akronim, frasa, baster, dan klausa. Faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode adalah latar belakang sikap penutur dan kebahasaan.Kata kunci: alih kode, campur kode, pembelajaran
Alih Kode dan Campur Kode Film Guru Bangsa Tjokroaminoto dan Implikasinya
This study aims to describe the transfer of code and mix code with descriptive qualitative method. of the date form of dialogue film Guru Nation Tjokroaminoto by Garin Nugroho. Date collection is done using document analysis. The results of this study indicate that the transfer of code and mixed code consists of several forms of factors & causes.The most dominant code change is the transfer of external code in form of a dutch code transition to Indonesian language and the most influencing factor is speaker factor. The most dominant code mix is word-shaped word code of Indonesian language & the most influencing factor is language factor. Transfer of code and mixed code can be used as supelmen in learning sociolinguistic course with material related to bilingual. It is important to be understood students and lecturers because sociolinguistics teaches how to put a person's language attitude in a multicultural society.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan alih kode dan campur kode dengan metode deskriptif kualitatif. data berupa dialog film Guru Bangsa Tjokroaminoto karya Garin Nugroho. Pengumpulan data dilakukan menggunakan analisis dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa alih kode dan campur kode terdiri beberapa bentuk faktor&penyebabnya. Alih kode paling dominan adalah alih kode ekstern berupa peralihan kode bahasa Belanda ke bahasa Indonesia dan faktor penyebab paling memengaruhi adalah faktor penutur. Campur kode yang paling dominan adalah campur kode berbentuk kata bahasa Indonesia&faktor penyebab paling memengaruhi ialah faktor kebahasaan. Alih kode dan campur kode dapat dijadikan sapelmen dalam pembelajaran mata kuliah sosiolinguistik dengan materi yang berkaitan dengan kedwibahasaan. Hal ini penting untuk dipahami oleh mahasiswa dan dosen sebab sosiolinguistik mengajarkan bagaimana menempatkan sikap berbahasa seseorang di tengah masyarakat yang multi kultural.Kata Kunci: Alih Kode, Campur Kode, dan Implikasi
Kontribusi Kebiasaan Membaca dan Penguasaan Makna Kata terhadap Kemampuan Menulis Teks Eksposisi
This study aims to find out some of the contributions: reading habits to the ability to write exposition, mastery of the meaning of words to the ability to write exposition, and as well as reading habits and mastery of the meaning of words to the ability to write exposition text. This research uses quantitative approach with ex post facto method. The result of research indicate that there is contribution of reading habits to ability of writing exposition text equal to 21,8% with correlation coefficient 0,467; the contribution of mastery of word meaning to the ability of writing exposition text of 24,6% with correlation coefficient 0,496; the contribution of reading habits and mastery of the meaning of the word together to the ability to write exposition text of 35,4% with a correlation coefficient of 0,595. This study has important implications for improving the ability to write exposition text by improving reading habits and mastery of word meaning.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa kontribusi: kebiasaan membaca terhadap kemampuan menulis teks eksposisi, penguasaan makna kata terhadap kemampuan menulis teks eksposisi, serta kebiasaan membaca dan penguasaan makna kata terhadap kemampuan menulis teks eksposisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode ex post facto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kontribusi kebiasaan membaca terhadap kemampuan menulis teks eksposisi sebesar 21,8% dengan koefisien korelasi 0,467; kontribusi penguasaan makna kata terhadap kemampuan menulis teks eksposisi sebesar 24,6% dengan koefisien korelasi 0,496; kontribusi kebiasaan membaca dan penguasaan makna kata secara bersama-sama terhadap kemampuan menulis teks eksposisi sebesar 35,40% dengan koefisien korelasi 0,595. Penelitian ini memiliki implikasi penting terhadap upaya peningkatan kemampuan menulis teks eksposisi dengan cara meningkatkan kebiasaan membaca dan penguasaan makna kata.Kata kunci: kebiasaan membaca, makna kata, menulis teks eksposis
TINDAK TUTUR GURU DAN SISWA SMP PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DAN IMPLIKASINYA
Issues discussed in this study is how the speech act of teachers and students in learning, especially illocutionary acts assertive, directive, commissive, expressive, and declarative learning Indonesian and its implications in learning speaking skills junior high school (SMP). This study used descriptive qualitative method. The results showed that all the functions of illocutionary acts assertive, directive, commissive, expressive, and declarative found at the time in the classroom. Illocutionary acts of which dominated the speech of teachers and students are asking directive illocutionary acts while the least used is commissive. Forms of verbal utterances which dominate the direct speech. This research may be implicated in learning speaking skills in junior high school (SMP).Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimanakah tindak tutur guru dan siswa pada pembelajaran khususnya tindak ilokusi asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif pada pembelajaran bahasa Indonesia dan implikasinya dengan pembelajaran kemampuan berbicara di sekolah menengah pertama (SMP). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua fungsi tindak ilokusi asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif ditemukan pada saat pembelajaran di kelas. Tindak ilokusi yang mendominasi pada tuturan guru dan siswa adalah direktif meminta sedangkan tindak ilokusi yang paling sedikit digunakan adalah komisif. Bentuk tuturan secara verbal yang mendominasi adalah tuturan langsung. Penelitian ini dapat diimplikasikan dalam pembelajaran kemampuan berbicara di sekolah menengah pertama (SMP).Kata kunci : tindak tutur, pembelajaran bahasa Indonesia, dan implikasi
Implikatur Percakapan Proses Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas XII dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran
The problem of this research is how the implicatur of conversation in learning process of Indonesian class XII IPS 1 SMA Yayasan Pembina Unila. The design of this research is descriptive qualitative. Research data in the form of conversations that contain implicatur. The results showed (1) the type of speech that dominates in the teacher's speech is the act of speech directive. This is inseparable from the very close classification of relationships, thus making the speaker convey the speech without feeling the burden on his partner. (2) The findings of verbal forms of speech indicate that both have the ability to choose the appropriate use of verbal forms in accordance with the situation and conditions encountered. Some data show that the teacher utilizes verbal form of the speech as a strategy for the purpose of learning Indonesian language is achieved. The implications of the findings are the supplement of teaching materials / learning materials related to politeness.Masalah penelitian ini bagaimanakah implikatur percakapan dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia kelas XII IPS 1 SMA Yayasan Pembina Unila. Desain penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa bentuk percakapan yang mengandung implikatur. Hasil penelitian menunjukkan (1) jenis tuturan yang mendominasi pada tuturan guru adalah tindak tutur direktif. Hal ini tidak terlepas dari klasifikasi hubungan yang sangat dekat, sehingga membuat penutur menyampaikan tuturan tersebut tanpa merasa membebani mitra tuturnya. (2) Hasil temuan bentuk verbal tuturan menunjukkan bahwa keduanya memiliki kemampuan untuk memilih penggunaan bentuk verbal yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Beberapa data menunjukkan bahwa ternyata guru memanfaatkan bentuk verbal tuturan tersebut sebagai strategi agar tujuan pembelajaran bahasa Indonesia tercapai. Implikasi hasil temuan berupa suplemen bahan ajar/materi pembelajaran terkait kesantunan.Kata kunci: implikatur, jenis, verbal, yp, implikasi
PEMAKAIAN BAHASA IKLAN PRODUK MINUMAN DI TELEVISI DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS
This study aimed to describe the use of language in advertising related beverage products on television pragmatic analysis and analysis of symbolic violence, and use it as a material of learning to write slogan/poster in grade VIII of junior high school. The method used in this research is descriptive qualitative. In the results, language in advertising showed that generally the ad using speech acts states something (locutions), providing information that the public interest (illocutionary) to invite them to use the advertised product. In addition, advertisers may also take advantage of speech implicature by present information that implicitly invites the public to buy or use the product. While symbolic violence advertisers use to give an image as the best product. Analysis of pragmatic and symbolic violence on television advertising language is further developed into a material of learning as examples and references to develop persuasive writing skills to students in the form of a slogan/poster.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemakaian bahasa pada iklan produk minuman di televisi terkait analisis pragmatik dan analisis kekerasan simbolik serta implikasinya sebagai media pembelajaran menulis slogan/poster bahasa Indonesia kelas VIII di SMP. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian didapat bahwa umumnya pemakaian bahasa dalam iklan menggunakan tindak tutur menyatakan sesuatu (lokusi), memberikan informasi yang menarik minat masyarakat (ilokusi) yang berdampak untuk mengajak mereka untuk menggunakan produk yang diiklankan. Selain itu, pengiklan juga memanfaatkan tuturan implikatur dengan mengemas sajian informasi yang secara tersirat mengajak masyarakat untuk membeli atau menggunakan produk tersebut dan kekerasan simbolik digunakan pengiklan untuk memberikan citra seolah-olah produk minumannya adalah yang terbaik. Analisis pragmatik dan kekerasan simbolik bahasa iklan di televisi ini selanjutnya diimplementasikan dalam pembelajaran sebagai contoh dan refrensi untuk mengembangkan keterampilan menulis persuasif kepada siswa dalam bentuk slogan/poster.Kata kunci: bahasa iklan, kekerasan simbolik, dan implikasi pembelajaran
Peningkatan Kemampuan Menulis Melalui Model Project Based Learning pada Peserta Didik SMP
The purpose of this research was to describe the improvement of writing skill through project based learning model students in class VII D State Junior High School 1 Tumi Jajar in academic year 2015/2016. This research is a Classroom Action Research conducted in three cycles. The result of improving the ability to write text in class VII D State Junior High School 1 Tumi Jajar implementing project based learning model has increased from pre-cycle, cycle I, cycle II, and cycle III. In prasiklus learners get an average score of 66.57 and learners who reach KKM 12.50%, cycle I average score of 73.57 and learners who reach KKM 18.75%, cycle II average value 80 , 28 and students who reach KKM 25%, cycle III average value 89,89 and learners reaching KKM 84,38%.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis melalui model project based learning pada peserta didik kelas VII D SMP Negeri 1 Tumi Jajar tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam tiga siklus. Hasil peningkatan kemampuan menulis teks dikelas VII D SMP Negeri 1 Tumijajar yang menerapkan model PBL mengalami peningkatan dari prasiklus, siklus I, siklus II, dan siklus III. Pada prasiklus peserta didik memperoleh nilai rata-rata 66,57 dan peserta didik yang mencapai KKM 12,50%, siklus I nilai rata-rata 73,57 dan peserta didik yang mencapai KKM 18,75%, siklus II nilai rata-rata 80,28 dan peserta didik yang mencapai KKM 25%, siklus III nilai rata-rata 89,89 dan peserta didik yang mencapai KKM 84,38%.Kata kunci: model project based learning, menulis teks
NILAI PENDIDIKAN, SOSIAL, BUDAYA, DAN RELIGIUS NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA
The purpose of this study was to describe the value of education, social, cultural, and religious in Laskar Pelangi novel by Andrea Hirata. This research used qualitative descriptive design. Educational values research findings in the novel Laskar Pelangi was essentially an attempt by the author to help readers realize the values it has. Social value was the lessons learned from social behavior such as attitudes towards events that occur in the vicinity that has to do with others, ways of thinking, and community social relations between individuals. Cultural values Belitong load of everyday citizens, and also about the diverse ethnic and cultural activities in Belitong. The religious value of the load; In terms of life outwardly, as well as the whole human self in total in its integration relationship to God. Furthermore, the findings are discussed in a comprehensive manner to be implied as teaching materials (Student Worksheet) for junior high school.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan nilai pendidikan, sosial, budaya, dan religius dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif. Temuan hasil penelitian Nilai Pendidikan di dalam novel Laskar Pelangi pada kahikatnya merupakan upaya penulis untuk membantu pembaca menyadari nilai-nilai yang dimilikinya. Nilai sosial merupakan hikmah yang dapat diambil dari perilaku sosial berupa sikap seseorang terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya yang ada hubungannya dengan orang lain, cara berpikir, dan hubungan sosial bermasyarakat antar individu. Nilai budaya memuat tentang keseharian warga Belitong, kemudian juga tentang beragam etnis dan kegiatan kebudayaan yang ada di Belitong. Nilai religius memuat tentang; segi kehidupan secara lahiriah, serta keseluruhan diri pribadi manusia secara total dalam integrasinya hubungan terhadap Tuhan. Selanjutnya hasil temuan dibahas secara komprehensif untuk diimplikasikan sebagai bahan ajar (Lembar Kerja Siswa) untuk sekolah menengah pertama.Kata kunci: nilai (pendidikan, sosial, budaya, religius), novel, lembar kerja siswa
Tindak Tutur Anak TK ABA dan Pengembangannya Sebagai Media Pembelajaran Berbasis Animasi
The study aims to describe the speech acts of grade B of TK ABA and develop the results of research as a medium of learning language skills in TK. The development model used to develop the research results into learning media using DDD-E model.The result of research showing assertives speech act based on direction, indirection and literalation, inliteralation include in direct literal of speech act. A directives speech act based on direction, indirection and literalation, inliteralation include in direct an indirect literal. An expressive based on direction, indirection and literalation, inliteralation include in direct literal of speech act. An commissive from the direction, indirection and literalation, inliteralation include in direct literal. Education media language skill based on animation that improved from the result of research can be used by teachers and student in education at TK.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindak tutur anak kelas B TK ABA dan mengembangkan hasil penelitian menjadi media pembelajaran kemampuan berbahasa di TK. Model pengembangan yang digunakan untuk mengembangkan hasil penelitian menjadi media pembelajaran menggunakan model DDD-E. Hasil penelitian menunjukan tindak tutur asertif berdasarkan kelangsungan dan ketidaklangsungan serta keliteralan dan ketidakliteralannya tergolong ke dalam tindak tutur langsung literal. Tindak tutur direktif berdasarkan kelangsungan dan ketidaklangsungan serta keliteralan dan ketidakliteralannya dapat digolongkan ke dalam tindak tutur langsung literal dan tindak tutur tidak langsung literal. Tindak tutur ekspresif berdasarkan kelangsungan dan ketidaklangsungan serta keliteralan dan ketidakliteralannya tergolong ke dalam tindak tutur langsung literal. Tindak tutur komisif berdasarkan kelangsungan dan ketidaklangsungan serta keliteralan dan ketidakliteralannya tergolong ke dalam tindak tutur langsung literal. Tindak tutur ekspresif berdasarkankelangsungan dan ketidaklangsungan serta keliteralan dan ketidakliteralannya tergolong ke dalam tindak tutur langsung literal. Media pembelajaran kemampuan berbahasa berbasis animasi yang dikembangkan dari hasil penelitian dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran di TKKata kunci: tindak tutur, media pembelajaran,animasi