e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan
Not a member yet
    194 research outputs found

    Perbandingan Karbon dan Nitrogen pada Sistem Bioflok Terhadap Pertumbuhan Nila Merah (Oreochromis Niloticus)

    Full text link
    Nila merah (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Berkembangnya proses budidaya nila merah juga berpengaruh terhadap peningkatan limbah diperairan.Salah satu cara untukmembantumengatasi limbah perairan dan dapat dimanfaatkan oleh ikan yaitu dengan sistem bioflok.Teknologi bioflok merupakan salah satu alternatif dalam mengatasi masalah kualitas air dalam akuakultur dan dimanfaatkan sebagai sumber pakan tambahan untuk nila merah.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup nila merah pada sistem bioflok dengan rasio C:N (perbandingan karbon dan nitrogen) yang berbeda.Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu (A) kontrol, (B) rasio C:N 15, (C) rasio C:N 20, (D) rasio C:N 25. Penelitian dilakukan dengan menggunakan benih nila merah dengan panjang total 3 cm dan berat rata-rata 2 ± 0,4 gramyang dipelihara dengan akuarium berukuran40x30x35 cm. Parameter penelitian meliputipertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik, kelangsungan hidup, Feed Convertion Ratio (FCR), Protein Efficiency Ratio (PER), dan kualitas air.Hasil penelitian menunjukan bahwa rasio C:N yang berbeda pada aplikasi bioflok memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup nila merah. Kisaran laju pertumbuhan spesifik  nila merah sebesar 12,17-16,33% dan tingkat kelangsungan hidup ikan nila 53,33-80%. Hasil pengukuran kualitas air untuk suhu pada pagi dan sore berkisar 26-27°C, pH relatif stabil pada 6-7 dan kandungan amonia setiap perlakuan terjadi peningkatan di akhir penelitian. Perlakuan terbaik adalah perlakuan B dengan rasio C:N 15

    Penerapan Teknik Imotilisasi Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Menggunakan Ekstrak Daun Bandotan (Ageratum conyzoides) Pada Transportasi Basah

    Full text link
    Transportasi benih nila (Oreochromis niloticus) merupakan tahapan penting dalam keberhasilan pembesaran nila. Pemanfaatan bahan pembius lokal seperti daun bandotan (Ageratum conyzoides) dilakukan untuk mengantisipasi permasalahan transportasi basah berupa aktivitas metabolisme benih yang tinggi yang menyebabkan stres dan sintasan benih menjadi rendah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun bandotan yang paling baik untuk teknik imotilisasi dan pengaruhnya terhadap tingkat sintasan benih ikan nila. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan                 A (0 mg/L), B (1,585 mg/L ekstrak daun bandotan), C (2,512 mg/L ekstrak daun bandotan), dan D (3,982 mg/L ekstrak daun bandotan), masing-masing perlakuan 6 ulangan. Parameter yang diamati adalah uji toksisitas, kecepatan pingsan, lama pulih sadar, tingkat kelangsungan hidup, kecepatan pertumbuhan dan kualitas air (suhu, oksigen terlarut dan pH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun bandotan antar perlakuan berbeda nyata (P>0,01) terhadap periode imotilisasi, lama waktu pulih sadar, sintasan setelah transportasi dan pemeliharaan. Konsentrasi ekstrak daun bandotan antar perlakuan tidak berbeda nyata (P<0,05) terhadap kecepatan pertumbuhan harian benih nila. Konsentrasi yang sesuai untuk teknik imotilisasi sebesar 3,982 mg/L dengan tingkat kelangsungan hidup benih 95,55%

    Pertumbuhan Diaphanasoma sp. Yang Diberi Pakan Nannochloropsis sp.

    Full text link
    Pakan alami yang berkualitas dan dalam jumlah yang cukup dibutuhkan dalam pembenihan ikan dan udang agar survival rate larva ikan dan udang tinggi. Diaphanosoma merupakan salah satu zooplankton yang digunakan sebagai pakan alami larva ikan dan udang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pertumbuhan Diaphanosoma yang diberi pakan Nannochloropsis. Penelitian dilaksanakan pada bulan April - Mei 2013 di Laboratorium Zooplankton, Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung. Perlakuan berupa pemberian Nannochloropsis sebagai pakan Diaphanosoma, dilakukan setiap pagi hari secara ad libitum. Penghitungan kepadatan Diaphanosoma diukur setiap 24 jam sekali. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi lima fase hidup dalam penelitian, yaitu fase lag, fase eksponensial, fase stasioner, fase decline dan fase kematian. Kepadatan rata-rata Diaphanosoma tertinggi dicapai pada fase stasioner yang terjadi pada hari ke-9, dengan kepadatan 2150 ind/l. Pada fase tersebut Diaphanosoma dapat dipanen untuk dikultur ulang dan atau dijadikan sebagai pakan alami larva ikan atau udang. Parameter kualitas air selama kultur masih dalam kisaran normal

    Efektivitas Pemberian Astaxanthin Pada Peningkatan Kecerahan Warna Ikan Badut (Amphiprion ocellaris)

    Full text link
    Ikan badut (Amphiprion ocellaris) adalah ikan hias air laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi karena warnanya yang menarik. Peningkatan kualitas warna ikan badut yang bersifat permanen diperlukan untuk mendapatkan harga jual yang terbaik. Metode alternatif yang digunakan untuk meningkatkan warna ikan badut adalah dengan menggunakan astaxanthin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh astaxanthin pada peningkatan intensitas warna, sintasan dan pertumbuhan ikan badut. Metode yang digunakan adalah Toca Colour Finder Modified (M - TCF). Penelitian dilakukan dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan penambahan astaxanthin sebanyak 0, 20, 30, 40 mg/kg pakan. Ikan badut dengan padat tebar 20 ekor dipelihara selama selama 60 hari dalam akuarium berukuran 40 x 40 x 40 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan astaxanthin memberikan pengaruh terhadap peningkatan warna dan sintasan tetapi tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan. Penambahan astaxanthin sebanyak 30 dan 40 mg/kg pakan memberikan pengaruh terbesar dalam intensitas peningkatan warna ikan badut. Perlu dilakukan perhitungan analisa ekonomi terhadap penggunaan astaxanthin dalam budidaya ikan badut

    Profil Hematologi Kakap Putih (Lates calcallifer) yang Distimulasi dengan Jintan Hitam (Nigela sativa) dan Efektifitasnya Terhadap Infeksi Vibrio alginolyticus

    Full text link
    Vibrio alginolyticus merupakan bakteri yang paling sering menginfeksi kakap putih (Lates calcarifer)  sehingga menyebabkan kematian massal. Salah satu alternatif pencegahan infeksi V. alginolyticus yang aman baik bagi ikan, manusia dan lingkungan, yaitu dengan pemberian imunostimulan dari bahan alami seperti jintan hitam (Nigella sativa). Penelitian bertujuan untuk mempelajari profil hematologi dan efektifitas dosis jintan hitam terhadap daya tahan tubuh kakap putih yang diinfeksi V.alginolyticus. Penelitian menggunakan 4 perlakuan (0,0%, 2,5%, 5,0%, dan 7,5% ekstrak jintan hitam) dicampur dengan pakan sebanyak 1kg. Data hematokrit, jumlah leukosit, diferensiasi leukosit, dan aktivitas fagositosis dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak jintan hitam 7,5% merupakan yang paling efektif digunakan sebagai imunostimulan pada kakap putih. Ekstrak jintan dapat meningkatkan  nilai hematokrit, leukosit, limfosit, monosit, neutrofil, dan aktifitas fagositosis yang bermanfaat mengatasi infeksi V. alginolyticus

    Panduan Untuk Penulis

    Full text link

    Dewan Redaksi

    Full text link

    Daftar Isi

    Full text link

    Imunogenisitas Kombinasi Vaksin Inaktif Whole Cell Aeromonas salmonicida dan Jintan Hitam (Nigella sativa) Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio)

    Full text link
    Furunculosis dan carp erytrodermatitis merupakan penyakit pada ikan yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas salmonicida.  Vaksin inaktif whole cell A. salmonicida saat ini sedang dikembangkan untuk menanggulangi penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui imunogenisitas kombinasi vaksin inaktif whole cell A. salmonicida dengan imunostimulan dari jintan hitam (Nigella sativa) pada ikan mas (Cyprinus carpio).  Sebanyak 180 ekor ikan mas dimasukkan kedalam 18 akuarium dengan 6 perlakuan yang berbeda dan diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan yang dilakukan terdiri dari kontrol (tanpa vaksin dan jintan hitam), pemberian jintan hitam 5%, pemberian vaksin, vaksin yang ditambah jintan hitam 1%, vaksin yang ditambah jintan hitam 2.5%, vaksin yang ditambah jintam hitam 5%.   Vaksin diberikan dengan cara penyuntikan secara intraperitoneal dengan kepadatan bakteri 107sel/ikan dan jintan hitam diberikan melalui pakan sebanyak tiga kali dalam sehari. Pengambilan contoh darah ikan untuk diuji titer antibodi, total leukosit, dan hematokrit ikan dilakukan saat sebelum vaksinasi, 7 hari setelah vaksinasi, dan 7 hari setelah booster. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi vaksin inaktif whole cell A.  salmonicida yang ditambah jintan hitam 5% mampu meningkatkan titer antibodi ikan hingga 27 dibandingkan kontrol yang hanya meningkat hingga 25 dan tanpa jintan hitam yang hanya meningkat hingga 24, kombinasi ini juga mampu meningkatkan jumlah leukosit pada ikan dengan rendahnya nilai hematokrit dan mampu mengembalikan kondisi tubuh dalam keadaan seimbang dalam waktu 7 hari

    Penggunaan Tepung Onggok Singkong Yang Difermentasi dengan Rhizopus sp. sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus)

    Full text link
    Onggok singkong merupakan hasil samping pengolahan tepung tapioka dan berpotensi menjadi bahan baku alternatif pakan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung onggok singkong yang difermentasi sebagai bahan baku pakan ikan terhadap pertumbuhan nila merah (Oreochromis niloticus). Metode percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan berupa penggunaan tepung onggok singkong yang difermentasi Rhizopus sp. dalam berbagai jumlah dan setiap perlakuan diulang 3 kali. Pakan A (tanpa tepung onggol/kontrol),  pakan B (tepung onggok  fermentasi (TOF) 10%), pakan C (TOF 15%), pakan D (TOF 20%) dan pakan E (tepung onggok tanpa fermentasi 20%). Pakan diujikan pada nila merah dengan bobot 4,0±0,7 gram, yang dipelihara dalam bak beton berukuran 150 x 150 x 50 cm dengan kepadatan 50 ekor/bak. Ikan dipelihara selama 50 hari dengan feeding rate 3% dan diberikan 3 kali setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan C (TOF 15%) memberikan hasil yang terbaik untuk pertumbuhan nila merah. Pertumbuhan mutlak sebesar 13,7±0,4 gram, tingkat kelangsungan hidup mencapai 95,33%. Kualitas air pada tiap perlakuan berada dalam kondisi optimum untuk budidaya ikan

    177

    full texts

    194

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇