Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
140 research outputs found
Sort by
SUDUT PANDANG SPASIAL DAN TEMPORAL PADA KUMPULAN CERPEN SIHIR PEREMPUAN KARANGAN INTAN PARAMADITHA (PERSPEKTIF NARATOLOGI USPENSKY)
Penelitian ini bertujuan untuk memahami lebih dalam kumpulan cerpen Sihir Perempuan karangan Intan Paramaditha dengan menemukan sudut pandang spasial dan temporal. Metode yang digunakan adalah metode deksriptif kualitatif dengan teknik analisis naratologi, kajian sudut pandang spasial dan temporal oleh Uspensky. Penelitian ini dilakukan di Jakarta, selama semester ganjil tahun 2017/2018. Subfokus penelitian ini ialah menentukan posisi spasial narator dan posisi temporal narator. Untuk menganalisis penelitian kualitatif ini, peneliti sendiri yang menjadi instrumen penelitian utama. Sudut pandang spasial merujuk pada posisi tempat penggambaran yang ditampilkan, sedangkan sudut pandang temporal merujuk pada representasi kejadian dunia fiksi dari keterangan posisi waktu. Berdasarkan hasil penelitian, narator yang menceritakan sudut pandangnya masing-masing mengenai dirinya sendiri atau tokoh yang lain dari tempat dan waktu yang berbeda-beda. Pengisahan setiap narator memiliki tujuan yang sama, yaitu menyuarakan apa yang dibungkam. Tokoh-tokoh di dalam setiap cerpen adalah perempuan yang hendak menyuarakan hak dan penderitaan mereka.
Kata kunci: naratologi, sudut pandang, spasial dan temporal, kumpulan cerpen Sihir Perempuan, Intan Paramaditha
ETNOSENTRISME TOKOH UTAMA DALAM LAKON MENTANG-MENTANG DARI NEW YORK KARYA MARCELINO ACANA JR
Penelitian ini bertujuan untuk mengupas unsur-unsur etnosentrisme yang ada dalam lakon Mentang-mentang dari New York karya Marcelino Acana Jr yang kemudian diterjemahkan oleh Tjetje Yusuf dan disadur oleh Noorca Marendra. Objek penelitian ini adalah tokoh utama pada lakon Mentang-mentang dari New York karya Marcelino Acana Jr yang pada naskah ini bernama Ikah. Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah mencari dialog-dialog dari tokoh utama yang mengandung unsur etnosentrisme. Adapun hasil yang didapat dari penelitian ini ialah mengetahui pengaruh etnosentrisme yang dialami tokoh utama dalam lakon Mentang-mentang dari New York karya Marcelino Acana Jr.
This research propose to peeling some elements of ethnocentrism in drama script of Mentang-mentang dari New York by Marcelino Acana Jr then translated by Tjetje Yusuf and adapted by Noorca Marendra. The object of this research is main character in drama script of Mentang-mentang dari New York by Marcelino Acana Jr named Ikah. The methods that used in this research is finding for dialogs from the main character that contain ethnocentrism elements. Therefore, the result obtained by this research is knowing the impact of ethnocentrism experienced by the main character of drama script of Mentang-mentang dari New York by Marcelino Acana Jr.
 
KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK LAHIR PREMATUR USIA DUA TAHUN: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kemampuan pemerolehan bahasa anak premature usia dua tahun. Data dalam penelitian ini adalah kosakata yang diujarkan oleh Naro (anak lahir prematur berusia 2 tahun). Sumber data dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu sumber data primer yang diperoleh dari ujaran Naro, dan data sekunder yang diperoleh dari buku-buku yang berkaitan dengan psikolinguistik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dan diklarifikasi yang selanjutnya dianalisis menurut kriteria yang sudah ditetapkan. Hasil kajian ini menunjukan bahwa Kemampuan berbahasa anak lahir prematur usia dua tahun mengalami keterlambatan dalam berbahasa.
Kata Kunci: kemampuan berbahasa, anak, prematur, psikolinguisti
AFIKSASI PADA KARANGAN ANAK DI SDN JATIWARINGIN 1: SUATU KAJIAN BERDASARKAN PEMEROLEHAN BAHASA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam mengenai afikasi yang terdapat pada karangan anak di SDN Jatiwaringin 1, Kota Bekasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Masalah pada penelitian ini terdapat pada afiksasi yang terdapat pada karangan anak di SDN Jatiwaringin 1. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen kunci, sedangkan instrumen pendukung dibantu oleh tabel analisis kerja. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada Oktober 2017 s.d. Januari 2018. Objek pada penelitian ini adalah 30 karangan anak kelas 5 di SDN Jatiwaringin 1. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 30 karangan anak yang diteliti, ditemukan 17 bentuk afiks yang terdapat pada proses prefiksasi, sufiksasi, konfiksasi, dan klofiksasi. Proses infiksasi tidak ditemukan pada data. 17 bentuk afiks tersebut membentuk tiga ketegori kelas kata, yaitu verba, nomina, dan ajektiva. Pembentukan kata dengan afiksasi ditemukan pada bentuk dasar berupa kata dasar, reduplikasi, kompositum dan kosakata asing. Afiksasi yang dikaji berdasarkan pemerolehan bahasa menunjukkan bahwa berdasarkan usia kronologisnya, bentuk afiksasi yang terdapat pada karangan anak kelas 5 SD di SDN Jatiwaringin 1 telah melampaui usia kronologis pemerolehan bahasa anak 5 tahun. Sementara itu, dilihat dari satuan pembentuk morfem yang dikaji melalui PUR, pemerolehan bahasa anak kelas 5 di SDN Jatiwarigin 1 telah berada pada tahap 5 dari lima tahapan pemerolehan bahasa pertama.
Kata Kunci: Afiksasi, Karangan Anak, Pemerolehan Bahas
KESANTUNAN BERBAHASA INDONESIA DALAM DIALOG CERITA PENDEK DI MEDIA SOSIAL STORIAL.CO
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesantunan berbahasa dalam kumpulan cerita pendek di media sosial di situs Storial.co. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena kesantunan berbahasa baik yang mematuhi maupun yang melanggar maksim kesantunan. Objek penelitian ini adalah dua kumpulan cerita pendek di situs Storial.co yang berjudul Kumpulan Cerita Pendek Yong karya Andriyana dan Sepuluh Helai Daun karya Raka Raha. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa dalam kumpulan cerpen tersebut memuat unsur pematuhan dan unsur pelanggaran maksim.
This research is to find out about the short stories collection on social media on the Storial.co site. The method used in this research is qualitative descriptive methods that aims to describe the phenomenon of politeness either comply with or violating the maxim of politeness in the short story collection. The object of this research is a collection of short stories on the Storial.co site entitled Kumpulan Cerita Pendek Yong by Andriyana and Sepuluh Helai Daun by Raka Raha. The results of this study indicate that politeness in the short story collection. Kumpulan Cerita Pendek Yong by Andriyana and Sepuluh Helai Daun by Raka Raha, identified as breaking and bleeding politeness.
 
TEKNIK PENERJEMAHAN SIRKUMSTAN DALAM NOVEL LASKAR PELANGI DAN TERJEMAHANNYA DENGAN PENDEKATAN LINGUISTIK FUNGSIONAL SISTEMIK
Penelitian ini menggunakan pendekatan fungsional dalam penerjemahan untuk menganalisa bagaimana sirkumstan dalam Novel Laskar Pelangi diterjemahkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat tiga teknik penerjemahan yang digolongkan menjadi: varian tunggal (104 klausa), varian kuplet (19 klausa), and triplet (3 klausa). Varian tunggal didominasi oleh teknik penerjemahan harfiah (59 kali) kemudian diikuti oleh transposisi (16 kali), reduksi (14 kali), modulasi (6 kali), generalisasi (3 kali), amplifikasi (3 kali), padanan lazim (1 kali), dan amplifikasi linguistik (1 kali). Varian kuplet terdiri dari 9 pasang teknik penerjemahan yang didominasi oleh teknik penerjemahan harfiah dan penerjemahan harfiah (36,8%). Varian triplet hanya diterapkan oleh tiga klausa, dengan teknik penerjemahan harfiah, transposisi dan penerjemehan harfiah. Penelitian ini juga menemukan adanya pergeseran makna, sebanyak 2 klausa dari 126 data.
Guided by Halliday’s systemic functional linguistics, this paper attempts to apply functional approach to translation studies by analyzing how circumstances of Rainbow Troops novel are being translated. This research is descriptive qualitative. This research found three groups of translation technique; singular (104 clauses), couplet (19 clauses), and triplet (3 clause). The singular is dominated with literal translation (59 times) then followed with transposition (16 times), reduction (14 times), modulation (6 times), generalization (3 times), amplification (3 times), established equivalent (one time), and linguistics amplification (one time). The couplet consists of 9 couples of technique and dominated with the literal translation and literal translation (36.8%). The triplet is only applied in 3 clauses with literal translation, transposition, and literal translation. The result also shows two translation shifts in meaning.
 
UJARAN PERFORMATIF DALAM WACANA DIALOG NOVEL RANTAU 1 MUARA KARYA A. FUADI
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai ujaran performatif dalam novel Rantau 1 Muara. Penelitian ini dilakukan di Jakarta dan waktu pelaksanaan penelitian pada Februari sampai Juni tahun 2014- 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Penelitian ini difokuskan pada ujaran performatif dalam novel Rantau 1 Muara yang mencakup verdiktif, eksersitif, komisif, behatitif, dan ekspositif. Objek penelitian ini adalah novel Rantau 1 Muara yang berjumlah 16 bab dari 46 bab yang dilakukan secara reduksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah peneliti sendiri dibantu dengan tabel analisis kerja, yaitu tabel analisis ujaran pada novel Rantau 1 Muara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 156 ujaran yang mengandung performatif, terdapat 42,31 % ekspositif, 25,64 % eksersitif, 16,02 % verdiktif, 12,82 % behatitif dan 3,21 % komisif Dengan demikian, seluruh kategori ujaran performatif dapat ditemukan di dalam ujaran-ujaran yang dianalisis.
Kata Kunci: Verdiktif, Eksersitif, Komisif, Behatitif, Ekspositi
PERFORMATIVITAS TOKOH UTAMA DALAM NOVEL PASUNG JIWA KARYA OKKY MADASARI
Novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari menceritakan kehidupan tokoh utama yang merasakan seluruh kehidupannya terperangkap, karena permasalahan gender yang dialaminya. Tokoh utama dalam novel ini bernama Sasana. Karena terlahir dengan jenis kelamin laki-laki, ia diharuskan oleh masyarakat membawa sifat gender maskulin. Tetapi sang tokoh diceritakan tidak hanya memperlihatkan gender maskulin saja, ia membawa dua sisi gender dalam dirinya, gender maskulin serta gender feminin. Adanya variasi dalam diri tokoh, membuat masyarakat heteroseksual mempermasalahkan dan mempertanyakan gender yang dibawa olehnya. Untuk mengungkap identitas gender sesungguhnya yang dimiliki sang tokoh, dapat diketahui melalui performativitas yang dilakukannya secara terus-menerus. Adapun penelitian ini menggunakan teori queer serta teori performativitas gender yang dikemukakan oleh Judith Butler. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa tokoh utama terbukti membawa sifat maupun nilai performativitas gender maskulin dan juga gender feminin. Melalui tindakannya tersebut, identitas gender tokoh utama digolongkan menjadi gender queer, yaitu gender yang merupakan kombinasi atau berada di antara gender maskulin dan gender feminin. Variasi gender dalam novel ini memberikan dampak negatif terhadap diri sang tokoh karena respons masyarakat heteroseksual yang masih memberikan stigma negatif.
Novel Pasung Jiwa by Okky Madasari tells the life of the main character who felt all his life was trapped, because of the gender problems he experienced. The main character in this novel is named Sasana. Being born of a male gender, he is required by society to bring masculine gender traits. But the character is told to show not only masculine gender, he brings two sides of gender in himself, masculine gender and feminine gender. The presence of variations in the character, make the heterosexual community questioning and doubting the gender brought by him. To reveal the true gender identity of the character, can be known through performativity that he did continuously. The research uses queer theory and gender performance theory proposed by Judith Butler. The results of this study reveal that the main character brings the personality and value of masculine gender performativity as well as feminine gender. Through this action, the gender identity of the main character is classified into a gender queer, which is a gender that is a combination or is between the masculine gender and feminine gender. The gender variation in this novel has a negative impact on the character because of the heterosexual community response that still gives negative stigma
PENGGUNAAN ISTILAH BINATANG DALAM METAFORA BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS
Pengajaran bahasa kedua dan belajar bahasa kedua tidak selalu mudah seperti kelihatannya. Terdapat beberapa perbedaan yang akan memengaruhi interferensi siswa terkait dengan prinsip bahasa dari bahasa pertama siswa. Sebagai contoh, ketika tiba saatnya bagi penutur bahasa Inggris mempelajari metafora dalam bahasa Indonesia, prosesnya tidak selalu mudah. Walau bagaimanapun, metafora mungkin memiliki arti yang berbeda. Hal tersebut dipengaruhi oleh budaya, sejarah, dan lingkungan sosial di mana bahasa digunakan. Studi analisis kontrastif diperlukan untuk menunjukkan perbandingan antara metafora bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Hasil studi analisis kontrastif antara metafora bahasa Indonesia dan metafora bahasa Inggris menunjukkan bahwa terdapat beberapa persamaan dan perbedaan makna dalam penggunaan istilah binatang dalam metafora pada kedua bahasa tersebut. Studi ini dapat digunakan untuk praktik pedagogi dalam pendidikan bahasa. Guru Bahasa Indonesia untuk penutur bahasa Inggris dapat menggunakan studi ini untuk membantu mereka dalam mengajarkan metafora bahasa Indonesia. Guru disarankan untuk memilih metafora yang memiliki arti yang mirip dengan metafora bahasa Inggris sebelum melompat ke tingkat perbedaan yang lebih tinggi. Artinya, membantu para siswa mendapatkan pemahaman tentang bagaimana memahami dan menggunakan metafora dalam ekspresi sehari-hari untuk memoles keterampilan bahasa mereka. Ketika para pemelajar bahasa Indonesia dapat menerapkan metafora bahasa Indonesia dalam praktik keseharian berbicara, mereka mendapatkan beberapa poin tentang budaya Indonesia, karena bagaimanapun metafora berhubungan dengan budaya.
Kata kunci: Analisis kontrastif, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Metafora, Pengajaran bahas
KEKERABATAN BAHASA BATAK TOBA DAN BAHASA BATAK MANDAILING
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kekerabatan Bahasa Batak Toba (BBT) dengan Batak Mandailing (BBM) berdasarkan persamaan dan perbedaan fonologinya beserta waktu pisah kedua bahasa tersebut. Penelitian ini menggunakan teori linguistik historis komparatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara setelah itu dianalisis dengan menggunakan metode leksikostatistik dan metode komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BBT dengan BBM memiliki kekerabatan sebanyak 170 kosakata dengan persentase sebesar 85% berdasarkan 200 kosakata Swadesh, 111 kosakata berkerabat dengan kategori identik, 30 kosakata memiliki korespondensi bunyi dan 30 kosakata merupakan satu fonem berbeda 19 dan 30 kosakata yang tidak berkerabat. Masa pisah antara BBT dan BBM antara 464 dan 614 tahun atau antara 1554 hingga 1404 tahun dari bahasa induknya.
This study aims to describe the level of Toba Batak Language (BBT) kinship with Mandailing (BBM) Batak based on the similarities and differences in phonology along with the separations of the two languages. This study uses historical comparative linguistic theory. Data was collected using the interview method after which it was analyzed using the lexicostatistics method and the comparative method. The results showed that BBT with BBM had a kinship of 170 vocabulary with a percentage of 85% based on 200 Swadesh vocabulary words, 111 related vocabulary with identical categories, 30 vocabulary words having sound correspondence and 30 vocabulary words constituting one different phoneme 19 and 30 unrelated vocabulary. The period of separation between BBT and BBM is between 464 and 614 years or between 1554 and 1404 years from the parent language