Jurnal Kesehatan Medika Saintika
Not a member yet
301 research outputs found
Sort by
PENGARUH MEROKOK TERHADAP HORMON TESTOSTERON PADA LAKI-LAKI USIA DIATAS 40 TAHUN
Testosteron adalah hormon androgen pada laki-laki dan hormon ini akan menurun sesuai dengan bertambahnya usia. Penurunan kadar testosteron ini mulai terjadi pada usia 40 tahun. Dua puluh persen laki-laki berusia 60-80 tahun, dan tiga puluh lima persen laki-laki berusia 80 tahun mempunyai konsentrasi testosteron total di bawah batas normal yaitu 350 ng/dL. Penurunan kadar testosteron akan menimbulkan berbagai gangguan fisik dan psikologis. Banyak faktor yang menyebabkan penurunan kadar testosteron salah satunya adalah perokok. Laki-laki perokok mempunyai risiko 2 kali lipat untuk mengalami penurunan kadar hormon testosteron. Rokok mengandung banyak bahan kimia yang sangat berbahaya bagi perokok aktif. Menurut WHO, ada 13 milyar perokok, dan Indonesia menduduki peringkat ke-4 jumlah perokok terbanyak di dunia dengan jumlah sekitar 141 juta orang. Pada hasil survei MMAS ditemukan perokok memiliki resiko 24% terjadinya disfungsi ereksi akibat penurunan hormon testosteron. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh merokok terhadap hormon testosteron pada laki-laki berusia diatas 40 tahun. Penelitian ini observasional, dengan pendekatan cross sectional dengan total sampling berjumlah 36 orang laki-laki berusia diatas 40 tahun dan perokok aktif. Penelitian ini telah dilaksanakan dari bulan April 2017 sampai Oktober 2017 di RW X Perumahan Mega Permai dan Laboratorium Biokimia FK Unand untuk pemeriksaan hormon testosteron. Analisa data diolah dengan sistem komputerisasi dengan uji statistic regresi linier sederhana derajat penolakan 5% ( p =0,05). Hasil penelitian tentang kebiasaan merokok didapatkan nilai mean 19,69 batang, median 18,50 batang, minimum 5 batang dan maximum 42 batang. Sedangkan hormone testosterone dengan nilai mean 11,303 nmol/L, median 10,250 nmol/L, minimum 7,5 nmol/L dan maximum 18,1 nmol/L. Terdapat pengaruh nilai signifikan kebiasaan merokok dengan hormone testosteron, di tandai nilai pada F hitung 30,309 dengan sig. 0,000 ≤ 0,05, artinya variabel kebiasaan merokok dapat mempengaruhi variabel hormone testosteron secara signifikan. Pengaruh kebiasaan merokok terhadap hormone testosterone adalah sebesar 68,7%. Kata Kunci : Hormon Testosteron, Kebiasaan Merokok SMOKING EFFECT ON TESTOSTERON HORMONES ON THE MAN AGES IN 40 YEARS ABSTRACTTestosterone is an androgene hormone in males and this hormone decreases with age. This decrease in testosterone levels begins at 40 years of age. Twenty percent of men aged 60-80 years, and thirty-five percent of men aged 80 years have testosterone concentrations below the limit of 350 ng / dL. Decrease in testosterone levels will cause various physical and psychological disorders. Many that cause a decrease in testosterone levels one of them is a smoker. Male smokers have a 2-fold risk of decreasing testosterone levels. Cigarettes contain many chemicals that are very dangerous for active smokers. According to WHO, there are 13 billion smokers, and Indonesian is ranked the 4th largest number of smokers in the world with about 141 million people. In the survey results found MMAS smokers have a 24% risk of erectile dysfunction due to decreased testosterone. The aim of the study was to investigate the effect of smoking on testosterone in men over 40 years old. This study was observational, with cross sectional approach with sampling amounting to 36 men over the age of 40 years and active smokers. This research has been conducted from April 2017 to October 2017 in RW X Mega Permai and Biokimia Laboratory FK Unand for examination of testosterone. Was analysis processed by computerized system with simple linear regression statistic test of 5% rejection degree (p = 0,05). Result of research about smoking got mean value 19,69 stem, median 18,50 stem, minimum 5 rod and maximum 42 rod. While the hormone testosterone with a mean value of 11.303 nmol / L, median 10,250 nmol / L, a minimum of 7.5 nmol / L and a maximum of 18.1 nmol / L. There is of significant value of smoking with testosterone hormone, in mark value at F count 30,309 with sig. 0.000 ≤ 0,05, meaning that smoking variable can variable of testosterone hormone significantly. The of smoking on testosterone hormone is 68,7%
Faktor – Faktor yang berhubungan dengan Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) terhadap Deteksi Kanker Servik pada WUS di Wilayah Kerja Puskesmas Paninggahan Kabupaten Solok
Menurut WHO,terdapat 490.000 perempuan di dunia terkena kanker servik setiap tahunnya dan 80% di antaranya berada di negara-negara berkembang, salah satunya adalah Indonesia. Cara melakukan tes kanker servik adalah dengan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat). Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan pemeriksaan inspeksi visual asam asetat (IVA) terhadap deteksi kanker servik pada WUS. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan bulan September 2017, dengan populasi seluruh ibu WUS di wilayah kerja Puskesmas Paninggahan yang berjumlah 1.660 dengan sampel 94 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dianalisa secara univariat dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 55,3% responden mempunyai tingkat pengetahuan tinggi, 67 % responden baik menyikapi tentang pemeriksaan IVA, 57,4 % responden mempunyai motivasi tinggi dan 81,9% responden tidak pernah melakukan pemeriksaan IVA. Hasil uji statistik diperoleh ada hubungan antara pengetahuan (p value = 0,006), sikap (p value = 0,019) dan dukungan keluarga (p value = 0,044) dengan pemeriksaan IVA di wilayah kerja Puskesmas Paninggahan Kabupaten Solok tahun 2017. Diharapkan petugas puskesmas memberikan penyuluhan kepada WUS diwilayahnya guna meningkatkan motivasi dan dukungan suami untuk melakukan deteksi dini kanker servik dan menyarankan WUS agar menjaga kesehatan dengan gaya hidup sehat.Kata kunci : Pengetahuan; Sikap; Dukungan Keluarga; Pemeriksaan IV
GEJALA KESEHATAN YANG DIDERITA PENAMBANG EMAS AKIBAT PROSES PENAMBANGAN EMAS MENGGUNAKAN MERKURI (Hg)
Kegiatan tambang emas di Desa talakiak, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan masih secara Tradisional dengan menggunakan teknik amalgamasi. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara langsung dilapangan hasil menunjukkan bahwa sebagian besar penambang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti sepatu karet, masker dan sarung tangan. Hal ini dapat meningkatan resiko para penambang emas tersbut terpajan merkuri karena merkuri yang digunakan selama proses penambangan secara amalgamasi bisa masuk langsung dengan kulit dan inhalasi. Berdsarkan hasil kuisioner dan wawancara langsung dengan penambang kajian awal gangguan kesehatan yang banyak diderita penambang yaitu E17 (penyakit sendi-sendi kaku, nyeri otot, reumatik, ngilu, sendi kaki/tangan terasa kesemutan, pegal-pegal, mudah lelah, menggigil/gemetar, meriang, sakit pinggang dan dada terasa sakit), dan E17002 (penyakit kulit gatal-gatal/alergi) sebanyak 22 orang penambang dengan presentasi 39%. Kajian awal gangguan kesehatan para penambang dapat diperkuat dengan cara pengambilan sampel rambut atau urin yang akan dipelajari dalam penelitian selanjutnya. Gold mining activities in Talakiak Village, Sangir Subdistrict, South Solok Regency are Traditionally using amalgamation techniques. Based on observations and direct interviews in the field results show that most miners do not use Personal Protective Equipment (PPE) such as rubber boots, masks and gloves. This may increase the risk of gold miners exposed to mercury because the mercury used during the mining process by amalgamation can enter directly with the skin and inhalation. Based on questionnaires and direct interviews with miners of preliminary study of health disorders that many miners suffer from E17 (stiff joint disease, muscle pain, rheumatism, aches, foot / hand joints feel tingling, achy, tired, shivering / shaking, Fever, sore waist and chest pain), and E17002 (skin diseases of itching / itching / allergy) as much as 22 people miners with 39% presentation. Initial assessment of health disorders of miners can be strengthened by hair sampling or urine to be studied in further researc
HUBUNGAN KONDISI LINGKUNGAN DAN PERILAKU MASYARAKAT DENGAN KEJADIAN FILARIASIS DI DESA MUARO PUTUIH WILAYAH KERJA PUSKESMAS TIKU KECAMATAN TANJUNG MUTIARA KABUPATEN AGAM TAHUN 2016
Filariasis adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup di kelenjar getah bening dan darah manusia. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah mengurangi kejadian filariasis yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan perilaku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat dengan kejadian filariasis di muaro putuih desa tiku wilayah pusat pelayanan kesehatan tanjung mutiara kecamatan agam kabupaten. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah semua KK di muaro putuih desa tiku wilayah pusat pelayanan kesehatan tanjung mutiara subdistrik agam nomor 100 KK dengan sampel 50 KK. Mengambil sampel dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 10 Februari sampai dengan 2 Maret 2016. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Teknik pengolahan data adalah editing, coding, entry and cleaning. Analisis univariat dianalisis dengan uji chi-square yang ditunjukkan pada bentuk tabel silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 responden, lebih dari separuh responden (54%) memiliki risiko lingkungan, lebih dari separuh responden (54%) memiliki perilaku buruk, lebih dari separuh responden (58%) tidak menderita filariasis. Ada hubungan antara kondisi lingkungan dan kejadian filariasis (p = 0,000), ada hubungan antara perilaku dan kejadian filariasis (p = 1.000), ada hubungan antara kepatuhan terhadap pengobatan dan pemulihan (p = 0,017) pada muaro putuih desa tiku kesehatan masyarakat pusat wilayah kerja kecamatan tanjung mutiara kabupaten agam.Diharapkan untuk Puskesmas Tiku dalam rangka memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit filariasi
Analisis Spasial Temporal Hubungan Kepadatan Penduduk Dan Ketinggian Tempat Dengan Kejadian DBD Kota Padang
ABSTRAK Kejadian DBD di kota padang terus meningkat pada tahun 2013 terjadi 998 kasus dan tahun 2014 terjadi 666 kasus. menurut HL. Blumm, terdapat 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, yaitu faktor perilaku, lingkungan, keturunan dan pelayanan kesehatan. lingkungan ini termasuk kepadatan penduduk dan ketinggian tempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecepatan angin dan kepadatan penduduk dengan kejadian DBD. Penelitian ini menggunakan rancangan study kolerasi ( correlasion study ) merupakan jenis penelitian deskriptive yang pada hakikatnya merupakan penelitian atau penelaahan hubungan antara dua variabel pada situasi atau sekelompok subjek. Penelitian ini dilakukan di kota padang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita penyakit DBD di kota padang tahun 2015, yang tercatat dalam register DBD dinas kesehatan kota padang. berjumlah 2790 . sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi dijadikan sampel dalam penelitian. Dari hasil penelitian diperoleh tidak ada hubungan antara kepadatan penduduk dengan Kejadian DBD (p = 0, 360, r = 0,307). Ada hubungan yang bermakna yang berpola negatif hubungan antara ketinggian tempat dengan kejadian DBD (p = 0,038, r = - 0, 659). Tidak tidak ada hubungan antara kepadatan penduduk dengan kejadian DBD dan terdapat hubungan yang bermakna antara ketinggian tempat dengan kejadian DBD di kota padang. Diharapkan pihak kesehatan dapat menjadikan ketinggian tempat dan kepadatan penduduk sebagai salah satu landasan dalam melakukan penanggulangan penyakit DBD. Kata kunci : DBD; kepadatan penduduk; ketinggian tempat ABSTRACT Incidence of DHF in Padang had increased, 998 cases in 2013 and 666 cases in 2014. According to HL. Blumm, there are four factors that affect the degree of public health : behaviour, environment, heredity, and health services. The environment includes population density and altitude. The aim of this study was to determine the relationship between wind direction, and population density with incidence of DHF.This study used a correlasion study design, a descriptive research which is essentially study or review of the relationship between two variables in a group situation or subject. This research was conducted in Padang. The populationof this study were all of DHF patients in Padang year 2015, which is recorded in the register of DHF in Health Department Padang City, which is 2790 population. All of population became sample in this study.The result showed, there was no correlation between density (p = 0, 360, r = 0.307) with DHF incident. There is a significant relationship with negative pattern between altitude and DHF incident (p = 0.038, r = - 0, 659).There is no relationship between population density and incidence of DHF. There is a significant relationship between altitude with incidence of dengue in the city of Padang. Health authorities should make a collaboration with the condition demografi so thats factors can be monitored well. Key Word : DHF, population density, altitud
PENGARUH PEMBERIAN PERASAN LABU SIAM (SECHIUM EDULE) TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI
Angka kejadian hipertensi tahun demi tahun terus mengalami peningkatan. Selain tanpa gejala penyakit juga menyebabakan berbagai komplikasi hingga kemataian. Penanganan hipertensi dapat dilakukan secara farmakologis dan non farmakologis. Labu siam merupakan salah satu pengobatan non farmakologis dan merupakan jenis sayuran yang umum dikonsumsi masyarakat. Tetapi masyarakat tidak mengetahui kegunaan labu siam sebagai terapi herbal untuk hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian perasan labu siam terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi.Jenis penelitian ini adalah Quast eksperiment dengan pendekatan non equivalen comparison group pretest-posttest design.Tempat penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Tanah Kampung dengan Jumlah populasi 128 orang. sampel pada penelitian ini sebanyak 16 responden dalam satu kelompok. Pengambilan sampel menggunakan teknik Non random sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran tekanan darah. Analisa data dilakukan dengan univariat dengan mencari rata-rata tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian perasan labusiam dan analisa Bivariat diolah dengan uji paired t-test dan independent sample test.Hasil analisa didapatkan rata-rata penurunan tekanan darah sistolik 15,500 mmHg dan diastolik 9,000 mmHg dan p-value 0,000 setelah diberikan perasan labu siam.Kesimpulan terdapat pengaruh bermakna antara perasan labu siam terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja puskesmas Tanah Kampung. Diharapkan kepada tenaga kesehatan agar bekerjasama dengan puskesmas setempat dalam melakukan kegiatan-kegiatan penyuluhan kepada masyarakat terkait pemberian terapi secara non Farmakologis yaitu dengan perasan labu siam agar diterapkan dalam penanganan terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi
GAMBARAN BERAT PLASENTA TERHADAP BERAT LAHIR BAYI
Kesadaran Di Provinsi Sumatera Barat jumlah bayi yang lahir dengan BBLR 1125 atau 1,30% dari jumlah bayi yang lahir pada tahun 2014. BBLR mengalami kenaikan setiap tahunnya. Dari hasil observasi yang telah dilakukan 20Mei 2015- 15 Juni 2015 di Rumah Bersalin Mutiara Bunda didapatkan bayi dengan berat Lahir kurang dari 2.500 gram yaitu 2.400 gram. Rata-rata pasien persalinan di Rumah bersalin Mutiara Bunda adalah 30 orang perbulan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran berat plasenta terhadap berat lahir bayi di Rumah Sakit Bersalin Mutiara Bunda Padang tahun 2015. Penelitian dengan jenis deskriptif ini dilakukan pada bulan April sampai Juni 2015 di Rumah Sakit Bersalin Mutiara Bunda Padang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi yang lahir 3 bulan terakhir di Rumah Sakit Bersalin Mutiara Bunda Kota Padang yang berjumlah 125 orang, dengan jumlah sampel 31 orang yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan menimbang berat lahir bayi dan plasenta yang selanjutnya didokumentasikan ke dalam format pengumpulan data, kemudian diolah serta dianalisis dengan analisis univariat secara manual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 31 ibu bersalin di Rumah Sakit Bersalin Mutiara Bunda, terdapat 5 orang bayi (16,1%) yang lahir dengan berat yang tidak normal, dan terdapat 5 plasenta (16,1%) lahir dengan berat yang tidak normal. Sebagian kecil (16,1%) bayi lahir dengan dengan berat lahir tidak normal dan sebagian kecil (16,1%) plasenta lahir dengan berat lahir tidak normal di Rumah Sakit Bersalin Mutiara Bunda Padang Tahun 2015. Diharapkan kepada RSB Mutiara Bunda Padang dapat lebih meningkatkan promosi kesehatan tentang Kesehatan Ibu selama Hamil.Kata Kunci: Berat plasenta, Berat lahir bay
HUBUNGAN OBESITAS DAN UMUR DENGAN KEJADIAN DIABETES MELLITUS TIPE II
ABSTRACT Nowaday, every year the rate of DM (Diabetes Mellitus) always rise. DM is one of the fourth biggest caused of human died. There are some factors which are caused it. Some of them are obesity and age. obesity is able to be identified by measuring BMI. For DM type II risky catogorize if BMI> 25 kg/m2. The risky age factor appears to the patients in the age up to 40 years old. The aim of this research is to know the correlation between obecity and age with the DM incident rate in 2017.The method of this research is analitical method by using cross sectional study which will be applied in Health Center of Gambok of Sijunjung regency on February 2017.The sampling which will be done is accidental sampling and have 90 sampple. The process implied are editing, coding, entry, cleaning, and analysis of univarat and bivarat which is done by calculating statitics with chi-square(X²) and P<0,005.The result of the research is found that 10% of respondents have DM, 90% of respondent not DM and 38,9% of respondents have obecity, 61,1% of respondents have not obecity, 50% of respondents included into the risky age, and 50% of respondents included into the non risky age. In the Bivariat analysis, it is found that there is a significant correlation between obecity and the DM type II incident rate with P= 0,025 and there is a signifant correlation with DM type II incident rate with P=0,031.Through this study, the author concluded that there is a significant correlation between obesity and age with DM type II. The Health Center of Gambok should give illumination which emphasizes on how to keep the healthy life, either includes physical activity or healthy diet so that the rate of obesity will be decreased and and examination of sugar level periodically for the patients of DM tipe II classified. Keyword : Obesity, Age, Diabetes Mellitus ABSTRAK Kejadian diabetes mellitus (DM) mengalami peningkatan dari hari ke hari. DM termasuk empat besar penyebab kematian. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya DM diantaranya adalah faktor usia dan obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor usia dan obesitas dengan kejadian DM pada pasien DM di Puskesmas Gombok Kabupaten Sijunjung tahun 2017.Metode penelitian ini adalah observasi dengan pendekatan cross secsional. Sampelnya berjumlah 90 orang yang diambil dengan teknik accidental sampling. Uji chi- square digunakan untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan dependen.Hasil penelitian didapatkan 10% sampel menderita DM, 38,9% obesitas dan 50% memiliki usia yang beresiko. Analisis statistik didapatkan nilai p= 0,025 untuk hubungan obesitas dengan kejadian DM dan p=0,031 untuk hubungan usia dengan kejadian DM.Dari penelitian ini dapat disimpulkan ada hubungan antara faktor usia dan obesitas dengan kejadian DM. Diharapkan kepada petugas kesehatan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama dengan kelompok usia yang beresiko agar dapat menjaga pola hidupnya terutama mencegah terjadinya obesitas
HUBUNGAN MOTIVASI BERMAIN GAME ONLINE DENGAN ADIKSI GAME ONLINE PADA REMAJA
Adiksi game online saat ini menjadi permasalahan global. Game online memiliki kecenderungan membuat pemainnya asik bermain game online hingga melupakan waktu Kelompok usia yang paling rentan akan adiksi game online ini adalah para remaja. Banyak studi yang telah menunjukkan bahwa adiksi game online memberikan dampak negatif psikososial gamer remaja. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi adiksi game online diantaranya motivasi bermain. Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi bermain dengan adiksi game online pada remaja. Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas 7 dan 8 SMP N 13 Padang yang berjumlah 150 orang. Hasil penelitian menunjukkan remaja yang mengalami adiksi game online adalah 64,7%, motivasi remaja 66,7%. Terdapat hubungan antara motivasi bermain dengan adiksi game online,. Perawat jiwa perlu melakukan skrinning adiksi game online pada remaja kemudian memberikan upaya kerjasama dengan sekolah untuk membentuk Usaha Kesehatan Jiwa Sekolah (UKJS) serta memberikan terapi perilaku kognitif untuk menurunkan adiksi game online untuk mengembangkan konsep adiksi game online di Indonesia.The current online game additions are becoming a global issue. Online game has a tendency to make the players cool to play online games to forget the time The most vulnerable age group will be the addiction of this online game is the teenagers. Many studies have shown that online game addiction positively affects teens' psychosocial gamers. There are several factors that influence the online game addiction including play motivation. This research is a research with descriptive analytic design with cross sectional approach that aims to know the relationship of motivation to play with adiksi online game in adolescent. The sample in this research is the students of grade 7 and 8 SMP N 13 Padang which amounts to 150 people. The results showed adolescents who experienced online game addiction was 64.7%, teen motivation 66.7%. There is a relationship between the motivation of playing with online game addiction. Nurse of the soul needs to do online game addiction screening in adolescent then give effort co-operation with school to establish School Mental Health Business (UKJS) as well as provide cognitive behavioral therapy to decrease addiction game online to develop game addiction concept online in Indonesia
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERAPAN 3 R (REDUCE, REUSE, DAN RECYCLE) PADA SAMPAH RUMAH TANGGA DI KABUPATEN SOLOK
Pengelolaan sampah dengan 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle) merupakan hal yang penting untuk mengatasi bertambahnya volume sampah setiap harinya. Data Kantor Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Solok tahun 2016 diketahui bahwa luas total wilayah Kabupaten Solok adalah 3.738 km2, daerah yang terlayani dalam pengelolaan sampah yaitu hanya 2,06%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan 3 R (reduce, reuse, dan recycle) pada sampah rumah tangga di Kabupaten Solok. Jenis penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Populasi penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga di Kabupaten Solok dengan jumlah sampel 96 responden. Metode pengambilan sampel secara proportional random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian didapatkan lebih dari separuh responden (56,3%) tidak menerapkan 3 R dengan baik. Hampir separuh responden (44,8%) memiliki tingkat pengetahuan yang rendah. Lebih dari separuh responden (55,2%) memiliki sikap yang negative dan 64,6% memiliki motivasi yang rendah, hampir separuh responden (43,8%) memiliki dukungan tokoh masyarakat yang rendah. Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan, sikap, motivasi, dan dukungan tokoh masyarakat dengan penerapan 3 R pada sampah rumah tangga (p value ≤ 0,05). Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan, sikap, motivasi, dan dukungan tokoh masyarakat dengan penerapan 3 R pada sampah rumah tangga. Disarankan kepada lintas sektor terkait untuk melakukan sosialisasi 3 R kepada masyarakat agar mengelola sampah rumah tangga dengan menerapkan prinsip 3 R