Jurnal Kesehatan Medika Saintika
Not a member yet
301 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN VAKSINASI BCG DENGAN KEJADIAN TB PARU DI RUMAH SAKIT
Penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular dengan 90% kasusnya menginfeksi paru-paru (TB paru) dan sisanya menginfeksi organ tubuh lainnya. Sembilan puluh persen penderita TB tidak menunjukkan gejala (asymptomatic) dan menginfeksi sekitar 1,7 milyar orang. Jumlah ini merepresentasikan 23% dari total penduduk dunia dengan 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Penularan TB Paru disebabkan oleh adanya riwayat kontak dan riwayat tidak melakukan vaksinasi BCG pada anak. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan riwayat kontak dan vaksinasi BCG dengan kejadian TB paru pada anak di poliklinik RSUD.DR. M Zein Painan tahun 2020. Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik. Populasi pada penelitian ini seluruh anak yang berkunjung di poliklinik RSUD.Dr.M Zein Painan dari bulan oktober sampai februari dan sampel penelitian berjumlah 100 orang dengan metode wawancara menggunakan kuesioner. Uji statistik dalam penelitian ini menggunakan uji chi-square.Hasil penelitian didapatkan lebih dari sebagian anak yaitu 64% anak mengalami riwayat kontak dengan penderita TB paru dan lebih dari sebagian anak yaitu 67% tidak imunisasi BCG. Riwayat pemberian vaksinasi BCG (ρ = 0,012) dengan kejadian TB paru pada anak.Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan riwayat pemberian vaksinasi BCG dengan kejadian TB paru pada anak. Dengan demikian diharapkan kepada orang tua untuk dapat menambah pengetahuan tentang pencegahan TB paru pada anak, selain itu orang tua diharapkan selalu memperhatikan keadaan kesehatan dan makanan anaknya dengan cara pemberian nutrisi yang baik, melakukan imunisasi BCG agar anak memiliki kekebalan tubuh yang baik sehingga tidak mudah tertular penyakit TB paru dan penyakit lainnya
KELENGKAPAN BERKAS REKAM MEDIS DAN KLAIM BPJS DI RSUD M.ZEIN PAINAN
Kualitas mutu rumah sakit dinilai salah satunya yaitu pendokumentasian rekam medis. Rekam medis merupakan berkas atau dokumen penting bagi setiap instansi rumah sakit. Berkas rekam medis tidak lengkap sebanyak 70% dan berkas rekam medis lengkap sebanyak 30%. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode observasi analitik dengan pendekatan studi potong lintang atau Cross Sectional. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan kelengkapan rekam medis dengan klaim BPJS. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Januari sampai dengan Maret 2020 di RSUD M.Zein Painan. Populasi pada penelitian ini adalah semua berkas rekam medis dengan menggunakan JKN-KIS dengan sampel sebanyak 125 orang. Hasil pada penelitian ini adalah berkas rekam medis yang lengkap adalah 66,4% serta tidak lengkap sebanyak 33,6% sedangkan persetujuan Klaim BPJS sebanyak 60,8% dan tidak setuju sebanyak 39,2%. Kesimpulan adalah ada hubungan antara kelengkapan rekam medis dengan persrtujuan klaim BPJS. Saran adalah adanya kesadaran tinggi bagi petugas rekam medis, perawat dan dokter untuk melengkapi berkas rekam medis secara baik.Kualitas mutu rumah sakit dinilai salah satunya yaitu pendokumentasian rekam medis. Rekam medis merupakan berkas atau dokumen penting bagi setiap instansi rumah sakit. Berkas rekam medis tidak lengkap sebanyak 70% dan berkas rekam medis lengkap sebanyak 30%. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode observasi analitik dengan pendekatan studi potong lintang atau Cross Sectional. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan kelengkapan rekam medis dengan klaim BPJS. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Januari sampai dengan Maret 2020 di RSUD M.Zein Painan. Populasi pada penelitian ini adalah semua berkas rekam medis dengan menggunakan JKN-KIS dengan sampel sebanyak 125 orang. Hasil pada penelitian ini adalah berkas rekam medis yang lengkap adalah 66,4% serta tidak lengkap sebanyak 33,6% sedangkan persetujuan Klaim BPJS sebanyak 60,8% dan tidak setuju sebanyak 39,2%. Kesimpulan adalah ada hubungan antara kelengkapan rekam medis dengan persrtujuan klaim BPJS. Saran adalah adanya kesadaran tinggi bagi petugas rekam medis, perawat dan dokter untuk melengkapi berkas rekam medis secara baik.Kata Kunci : Rekam medis, Klaim. BPJ
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BURNOUT PERAWAT DI RUMAH SAKIT SANTA MARIA PEKANBARU
Perawat memegang peranan penting menghadapi masalah kesehatan pasien selama 24 jam. Banyaknya tanggung jawab dan tuntutan yang harus dijalani oleh perawat mengakibatkan profesi perawat rentan mengalami burnout terhadap pekerjaannya. Burnout pada perawat terjadi akibat beban kerja yang tinggi, tingkat ketergantungan pasien terhadap perawat, banyaknya pasien dan kurangnya tenaga perawat. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Burnout perawat di RS Santa Maria Pekanbaru. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 156 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan antara persepsi beban kerja (p=0,009) dan area rawat (p= 0,000) dengan kejadian Burnout di RS Santa Maria Pekanbaru. Tidak ada hubungan antara stres kerja (p= 0,387) dengan kejadian Burnout perawat di RS Santa Maria Pekanbaru. Penelitian ini merekomendasikan rumah sakit untuk dapat membuat kebijakan yang tepat dalam mengatasi burnout perawat demi meningkatkan kinerja perawat sehingga dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan Perawat memegang peranan penting menghadapi masalah kesehatan pasien selama 24 jam. Banyaknya tanggung jawab dan tuntutan yang harus dijalani oleh perawat mengakibatkan profesi perawat rentan mengalami burnout terhadap pekerjaannya. Burnout pada perawat terjadi akibat beban kerja yang tinggi, tingkat ketergantungan pasien terhadap perawat, banyaknya pasien dan kurangnya tenaga perawat. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Burnout perawat di RS Santa Maria Pekanbaru. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 156 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan antara persepsi beban kerja (p=0,009) dan area rawat (p= 0,000) dengan kejadian Burnout di RS Santa Maria Pekanbaru. Tidak ada hubungan antara stres kerja (p= 0,387) dengan kejadian Burnout perawat di RS Santa Maria Pekanbaru. Penelitian ini merekomendasikan rumah sakit untuk dapat membuat kebijakan yang tepat dalam mengatasi burnout perawat demi meningkatkan kinerja perawat sehingga dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan Kata Kunci: Burnout; persepsi beban kerja ; stres kerja ; area perawatan; Keperawata
Efektivitas Media Booklet dan Video Terhadap Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan Ispa Pada Balita
Balita merupakan kelompok masyarakat yang rentan terserang berbagai penyakit khususnya infeksi. Salah satu penyebab kematian tertinggi pada bayi dan balita adalah akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah ada perbedaan efektivitas media booklet dan media video terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang pencegahan ISPA pada balita di Desa Muak Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kerman Kabupaten Kerinci. Jenis penelitian quasi exsperimental rancangan two group pre-test dan post-test. Populasi dari penelitian sebanyak 81 dengan sampel sebanyak 36 ibu balita dengan menggunakan teknik inciedental sampling. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor pengetahuan ibu sebelum dilakukan penyuluhan dengan media booklet tentang pencegahan ISPA 45.00 dan rata-rata skor media video menunjukkan 38.89. Sesudah dilakukan penyuluhan dengan media Booklet menunjukkan rata-rata skor pengetahuan ibu 91.67 dan menggunakan media video menunjukkan rata-rata skor pengetahuan ibu 95.56. Kesimpulannya penyuluhan kesehatan menggunakan media booklet dan video efektif terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang pencegahan ISPA pada balita di Desa Muak Wilayah Kerja Puskesmas Bukit Kerman Kabupaten Kerinci
CORRELATION BETWEEN GLOMERULUS FILTRATIONS AND PLASMA BICARBONATE CONDITIONS IN KIDNEY DISEASE CHRONIC STADIUM 5 WITH METABOLIC ACIDOSIS
ABSTRAKKadar bikarbonat plasma yang rendah berhubungan dengan tingginya mortalitas pada pasien PGK stadium lanjut, Beratnya derajat hipobikarbonatemia berkaitan dengan derajat laju filtrasi glomerulus (LFG) dimana semakin rendah LFG maka semakin rendah pula kadar bikarbonat plasma. maka berdasarkan adanya hubungan bahwa derajat hipobikarbonatemia berkaitan dengan derajat LFG, penelitian ini bertujuan ingin mengetahui lebih lanjut peran diagnostik nilai LFG dalam memperkirakan kadar bikarbonat plasma pada PGK stadium 5 dengan asidosis metabolik.Metode, penelitian ; Populasi penelitian adalah semua pasien yang menderita PGK stadium 5 dengan asidosis metabolik yang dirawat di Bagian Ilmu Penyakit Dalam, RS Dr. M. Djamil. Dari hasil penelitian diperoleh pria lebih banyak menderita PGK stadium 5 dengan asidosis metabolic,Kesimpulah; Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) tidak dapat dijadikan alat diagnostik untuk memperkirakan kadar bikarbonat plasma kurang dari 12 mmol/l pada PGK stadium 5 dengan asidosis metabolik.Kadar bikarbonat plasma pasien PGK stadium 5 dengan asidosis metabolik memiliki kadar rerata 9,1 (SD 3,4) mmol/l dengan estimasi selang 8,2 - 10,0 mmol/l.Tidak terdapat hubungan bermakna antara nilai LFG dan kadar bikarbonat plasma.Terdapat korelasi positif antara kadar bikarbonat plasma dan nilai base excess pada PGK stadium 5 dengan asidosis metabolik.Kata kunci : laju filtrasi glomerulus; Kadar bikarbonat ;penyakit ginjal kronik stadium 5ABSTRACTLow plasma bicarbonate levels are associated with high mortality in patients with advanced CKD. The severity of the degree of hypobycarbonatemia is related to the degree of glomerular filtration rate (GFR) where the lower the GFR, the lower the plasma bicarbonate level. Therefore, based on the relationship that the degree of hypobycarbonatemia is related to the degree of GFR, this study aims to find out more about the diagnostic role of GFR in estimating plasma bicarbonate levels in stage 5 CKD with metabolic acidosis. Method, study; The study population was all patients suffering from CKD stage 5 with metabolic acidosis who were treated at the Internal Medicine Department, Dr. M. Djamil. The results showed that men suffered more from CKD stage 5 with metabolic acidosis. Kesimpulah; Glomerular Filtration Rate (GFR) cannot be used as a diagnostic tool to estimate plasma bicarbonate levels of less than 12 mmol / l in stage 5 CKD with metabolic acidosis. Plasma bicarbonate levels in CKD stage 5 patients with metabolic acidosis had a mean level of 9.1 (SD 3, 4) mmol / l with an estimated range of 8.2 - 10.0 mmol /l. There was no significant relationship between LFG values and plasma bicarbonate levels. There was a positive correlation between plasma bicarbonate levels and base excess values in stage 5 CKD with metabolic acidosis.Keywords : Bicarbonate levels ;glomerular filtration rate; stage 5 chronic kidney diseaseKadar bikarbonat plasma yang rendah berhubungan dengan tingginya mortalitas pada pasien PGK stadium lanjut, Beratnya derajat hipobikarbonatemia berkaitan dengan derajat laju filtrasi glomerulus (LFG) dimana semakin rendah LFG maka semakin rendah pula kadar bikarbonat plasma.maka berdasarkan adanya hubungan bahwa derajat hipobikarbonatemia berkaitan dengan derajat LFG, penelitian ini bertujuan ingin mengetahui lebih lanjut peran diagnostik nilai LFG dalam memperkirakan kadar bikarbonat plasma pada PGK stadium 5 dengan asidosis metabolik.Metode, penelitian ; Populasi penelitian adalah semua pasien yang menderita PGK stadium 5 dengan asidosis metabolik yang dirawat di Bagian Ilmu Penyakit Dalam, RS Dr. M. Djamil. Dari hasil penelitian diperoleh pria lebih banyak menderita PGK stadium 5 dengan asidosis metabolic,Kesimpulah; Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) tidak dapat dijadikan alat diagnostik untuk memperkirakan kadar bikarbonat plasma kurang dari 12 mmol/l pada PGK stadium 5 dengan asidosis metabolik.Kadar bikarbonat plasma pasien PGK stadium 5 dengan asidosis metabolik memiliki kadar rerata 9,1 (SD 3,4) mmol/l dengan estimasi selang 8,2 - 10,0 mmol/l.Tidak terdapat hubungan bermakna antara nilai LFG dan kadar bikarbonat plasma.Terdapat korelasi positif antara kadar bikarbonat plasma dan nilai base excess pada PGK stadium 5 dengan asidosis metabolik
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN SELIMUT HANGAT DIBANDINGKAN SELIMUT BIASA TERHADAP PENINGKATAN SUHU PADA PASIEN POST OPERASI DI RSUD. SAWAHLUNTO
Hipotermia merupakan suatu kondisi kedaruratan medis yang muncul ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat dari pada produksi panas. Ketika suhu tubuh turun, sistem saraf dan organ lain tidak dapat bekerja normal. Jika tidak ditindaklanjuti, hipotermia dapat menyebabkan kegagalan jantung dan sistem pernapasan dan bahkan kematian. Tujuan penelitian ini untuk melihat efektivitas penggunaan selimut hangat dibandingkan selimut biasa terhadap peningkatan suhu pada pasien post op. Bahan dan metode: Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Metode yang digunakan adalah post test control two grup design, dimana terdapat dua grup kontrol dan grup intervensi. Alat ukur dalam penelitian ini adalah lembar observasi. Penelitian dilakukan di Ruangan Pacu Bedah sentral RSUD Sawahlunto pada tanggal 13 Maret sampai 3 April 2020. Hasil penelitian diolah dengan sistim komputerisasi dengan menggunakan uji T karena data yang didapatkan peneliti terdistribusi normal. Hasil uji T didapatkan p value 0,000, yang artinya ada perbandingan yang signifikan antara pemakaian selimut panas dan selimut biasa terhadap perubahan suhu tubuh pada pasien hipotermia post operasi di ruangan recovery room RSUD Sawahlunto tahun 2020. Diharapkan kepada RSUD Sawahlunto untuk memfasilitasi kesediaan selimut panas, agar komplikasi yang tidak diharapkan akibat hipotermi pada pasien dapat dihindarkan. Serta diharapkan bisa meningkatkan mutu pelayanan RSUD Sawahlunto
PENERAPAN MODEL DESA SEHAT NELAYAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA NELAYAN KECAMATAN BELAKANG PADANG, KOTA BATAM TAHUN 2019
ABSTRAK Keselamatan dan kesehatan kerja di sektor informal berdasarkan beberapa faktor dalam proses kerja, faktor manusia, dan lingkungan kerja termasuk bahaya di tempat kerja atau kondisi kerjayang kurang sehat. Keselamatan dan kesehatan nelayan saat melakukan pekerjaannya belum mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan model desa sehat nelayan dengan penyuluhan untuk melihat apakah ada peningkatan pngetahuan nelayan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang K3.Penggunaan Penelitian Yang Digunakan Pada Penelitian Penyanyi adalah eksperimen dengan eksperimen kuasi Rancangan yang Setara Pengendalian Non Grup . Jumlah populasi dijadikan sampel yaitu sebanyak 50 responden. Pengetahuan sebelum penyuluhan tentang K3, diketahui bahwa dari 50 orang Nelayan ada 42 orang (84,0%) memiliki pengetahuan baik dan sebanyak 8 orang (16,0%) memiliki pengetahuan kurang baik. Sedangkan setelah dilakukan penyuluhan tentang K3, terjadi peningkatan pengetahuan yang baik menjadi 47 responden (94,0%) dan yang kurang baik menjadi 3 responden (6,0%). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menggunakan uji Paired Sampel t-test dapat dilihat bahwa terjadi perubahan nilai rata-rata pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang keselamatan dan kesehatan kerja pada nelayan yaitu 10,37 menjadi 12,14 dengan nilai p <0,000, maka Dapat disingkapkan bahwa ada pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja Nelayan.Disarankan kepada Puskesmas melalui unit UKK untuk melakukan penyuluhan secara berkelanjutan agar pengetahuan nelayan mengenai keselamatan dan kesehatan kerjanya dapat terus meningkat sehingga dengan peningkatan pengetahuan iniakan membuat sikap dan tindakan nelayan juga akan baik dalam keselamatan dan kesehatan kerjanya. Keywords: Model, nelayan, sehat ABSTRACT Occupational safety and health in the informal sector are related by several factors in the work process, human factors, and work environment hazards at work or unhealthy work. Safety and health of fishermen when doing their work has not received attention. This research proposes to apply the fisherman healthy village model with counseling to see whether there is an increase in fishermen's knowledge before and finally given counseling about K3.This type of research used in this study is a study with a quasi-experimental design of the Non Equivalent Control Group. The total population was sampled as many as 50 respondents.Before speaking about OSH, there were 42 out of 50 fishermen (84.0%) having good knowledge and 8 people (16.0%) having poor knowledge. While after counseling about safety and health, there was an increase in good knowledge to 47 respondents (94.0%) and those who were not good to 3 respondents (6.0%). Based on the results of research that has been done using the Paired Sample t-test can be seen about changes in the average value of knowledge before and then given an explanation of Occupational Safety and Health in fishermen that is 10.37 to 12.14 with a value of p <0,000, then it can be deduced from knowledge about the Occupational Safety and Health of Fishermen.Didistribusikan ke Puskesmas melalui unit usaha kesehatan kerja untuk melakukan pemutakhiran guna meningkatkan keselamatan dengan meningkatkan pengetahuan ini menjadikan sikap dan tindakan nelayan juga akan baik dalam keselamatan dan kesehatan kerja
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENGGUNAAN KB SUNTIK 1 BULAN DI BPM MURTINA WITA PEKANBARU
Program keluarga berencana memberikan kesempatan untuk mengaturjarak kelahiran atau mengurangi jumlah kelahiran dengan menggunakan metodekontrasepsi hormonal atau kontrasepsi nonhormonal. Upaya ini dapat bersifatsementara ataupun permanen, meskipun masing-masing jenis kontrasepsi memiliki tingkat efektifitas yang berbeda dan hampir sama. Penyuntikannya dilakukan setiap 1 bulan dan suntikan tersebut sangat efektif apabila rutin di berikan secara tepat waktu dan sesuai jadwal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui factor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan KB Suntik 1 Bulan di BPM Murtina Wita. Jenis Penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling dimana sampel dalam penelitian ini adalah ibu- ibu yang berkunjung ke BPM Murtina Wita Pekan Baru dengan Jumlah Sampel 250 orang. Hasil Penelitian Berdasarkan karakteristik menunjukkan sebagian besar responden memilih penggunaan kontrasepsi suntik 1 bulan, mendapat dukungan dari suami dengan pendapatan yang baik. Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor umur ibu, pendidikan ibu, informasi, jumlah anak, pengetahuan, dukungan suami, pendapatan suami, pekerjaan ibu dan peningkatan BB signifikan mempengaruhi tingginya akseptor KB suntik 1 bulan di BPM Murtina Wita. Faktor umur ibu (POR: 3,391), peningkatan BB (POR: 3,357), Informasi (POR: 2,105) dan dukungan suami (POR: 1,924), secara bersama-sama mempengaruhi tingginya akseptor KB suntik 1 bulan. Diharapkan petugas kesehatan mengetahui pola dasar pemilihan KB dan dapat membantu masyarakat khususnya WUS untuk memilih KB
PENERAPAN KONSEP HOSPITAL WITHOUT WALLS DALAM MENURUNKAN ANGKA COLD CASE
Hospital without walls memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan medis yang diperlukan tanpa pergi ke rumah sakit dan memperkecil resiko penularan infeksi dan juga kontak dengan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan penerapan konsep hospital without walls pada pelayanan kesehatan di rumah sakit dan puskesmas. Desain penelitian kualitatif (grounded research) atau grounded theory. Penelitian dilaksanakan di Poli Gigi dan Mulut di RSU GMIM Bethesda Tomohon dan Puskesmas Kakaskasen. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam kepada 10 informan penelitian. Instrumen berupa daftar pertanyaan, alat perekam, dan alat tulis menulis serta pemantauan data observasi. Analisa data dilakukan secara manual yang didapat melalui sumber data primer. Hasil penelitian ini, dari pihak rumah sakit melihat tantangan dan hambatannya dari pemerintah dan dinas kesehatan. Dari budaya, karena orang-orang masih terbiasa kalau sakit harus bertemu secara langsung dengan dokter, kemudian dari lingkungan jaringan internet harus kuat karena kalau ada gangguan tidak bisa tersambung. Bagi Puskesmas masih banyak kasus-kasus rujukan atas permintaan keluarga. Bagi masyarakat yang lebih memilih pelayanan di rumah sakit hambatannya harus menunggu lama. Kesimpulan penelitian ini, penerapan konsep ini mempunyai peluang untuk diterapkan dengan memperhatikan tantangan dan hambatan. Rumah sakit dalam menerapkan konsep hospital without walls dapat bekerjasama dengan para stakeholder dan juga para pemberi layanan kesehatan yang terkait. Kata Kunci: hospital without wall; cold case; hospital, public health cente
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU IBU MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USIA DINI
ABSTRAK Kasus kekerasan seksual pada anak setiap tahunnya meningkat. Kondisi ini disebabkan anak tidak dibekali pendidikan seksual yang memadai oleh orang tuanya. Pemberian pendidikan seksual oleh orang tua dapat melindung anak dari kasus kekerasan seksual. Berdasarkan hasil pra survey di kelurahan Tugul Hitam, pada 20 ibu, didapatkan bahwa 15 ibu merasa canggung bila mengajarkan pendidikan seks kepada anaknya. Hal itu terjadi kemungkinan dari minimnya pengetahuan ibu sehingga perilaku memberikan pendidikan kurang.Tujuan Penelitian: penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku ibu memberikan pendidikan seks pada anak. Jenis penelitian : penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian analitik observasional dengan pendekatan crossectional. Jumlah populasi sebanyak 42 ibu siswa paud, kemudian pengambilan sampel dilakukan dengan total sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi menjadi 30 ibu siswa TK Dharmawanita Persatuan Gumukmas. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dengan masing – masing item pertanyaan 15 soal dan analisis data menggunakan analisis korelasi pearson dan regresi linear sederhana. Hasil Penelitian: penelitian yang diperoleh adalah terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan dengan perilaku ibu memberikan pendidikan seks pada anak (ρ=0,001) dengan kekuatan hubungan r=0,578, hasil uji regresi didapatkan koefisien determinan sebesar 0,334(korelasi rendah).Kata kunci : pengetahuan, perilaku, pendidikan seks ana