Journal of Agroindustrial Technology
Not a member yet
    744 research outputs found

    PREDIKSI KANDUNGAN KATEKIN GAMBIR (Uncaria gambir Roxb.) DENGAN SPEKTROSKOPI NIR

    Get PDF
    ABSTRAK Kandungan katekin merupakan penentu utama dari mutu gambir (Uncaria gambir Roxb.). Pada perdagangan gambir secara tradisional, penentuan kandungan katekin dilakukan berdasarkan pengalaman dari petugas pemeriksa sehingga metode ini bersifat subjektif. Metode kuantitatif dilakukan dengan metode kimia, namun metode ini bersifat denstruktif, mahal dan membutuhkan waktu sehingga tidak sesuai untuk pengukuran kandungan katekin dalam gambir secara real time. Tujuan penelitian adalah mengembangkan model kalibrasi untuk memprediksi kandungan katekin dalam gambir tepung dan bongkahan menggunakan spektroskopi near infrared (NIR). Model dikembangkan dengan metode partial least square (PLS) dan pra perlakuan normalization between 0 and 1 (n01) dan first derivative Savitzky-Golay 9 points (dg1). Penentuan jumlah faktor PLS optimum berdasarkan pada nilai consistency dan predicted residual error sum square of validation set (V-Set PRESS). Evaluasi terhadap ke dua model menunjukkan bahwa model yang dihasilkan dapat memprediksi kandungan katekin dalam gambir tepung dan bongkahan. Model mempunyai nilai koefisien korelasi yang tinggi (>0,90), nilai standard error of calibration set (SEC) dan standard error of validation set (SEP) yang rendah, dan perbedaan yang kecil antara SEC dengan SEP. Penelitian ini memperlihatkan bahwa spektroskopi NIR dapat memprediksi kandungan katekin dalam gambir secara akurat dan presisi. Kata kunci: gambir, katekin, PLS, spektroskopi NI

    REDUKSI SISA PELARUT ETANOL OLEORESIN KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii)

    No full text
    ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi proses destilasi kolom serta kondisi proses destilasi kolom packing yang optimum dalam mereduksi kadar sisa pelarut etanol destilat kayu manis (Cinnamomum burmannii) pada variasi suhu destilasi (73, 78, dan 83oC) dan waktu destilasi (3, 4, dan 5 jam), mengetahui kadar sisa pelarut etanol oleoresin kayu manis setelah pengovenan serta mengetahui karakteristik oleoresin kayu manis yang meliputi kadar senyawa aktif dan kadar minyak atsiri. Hasil prediksi RSM menunjukkan bahwa kadar sisa pelarut etanol destilat kayu manis sebesar 0 ppm diperoleh dengan destilasi kolom pada  suhu 85oC selama 3 jam 8 menit dan destilasi kolom packing pada suhu 83oC selama 6 jam 40 menit. Akan tetapi, hasil verifikasi menunjukkan bahwa kadar sisa pelarut etanol lebih tinggi daripada hasil prediksi RSM yaitu sebesar 201957,4 ppm untuk destilasi kolom dan 107631 ppm untuk destilasi kolom packing. Pengovenan destilat pada suhu 80oC selama 3 jam mampu menghasilkan kenampakan fisik oleoresin berupa cairan kental atau pasta berwarna coklat kemerahan dengan kadar sisa pelarut 0 ppm untuk destilat destilasi kolom dan 82,75 ppm untuk destilat destilasi kolom packing.  Karakteristik mutu oleoresin kayu manis dengan destilasi kolom adalah kadar sinamaldehida 6,83%, kadar kumarin 51,11% dan kadar minyak atsiri 9,91%. Karakteristik mutu oleoresin kayu manis destilasi kolom packing pada kadar sisa pelarut etanol optimum adalah kadar sinamaldehida 69,48% dan kadar minyak atsiri 9,96%. Kata kunci : Cinnamomum burmannii, destilasi, kayu manis, oleoresin, sisa pelaru

    PENGGUNAAN MODEL PENGADUK PITCHED BLADE TURBIN DAN FIVE BLADE TURBIN PADA PRODUKSI BIODIESEL DARI RESIDU MINYAK DALAM TANAH PEMUCAT BEKAS (SBE) SECARA IN SITU

    Get PDF
    ABSTRAK Tingginya kandungan minyak sawit dalam SBE berpotensi dimanfaatkan dalam produksi biodiesel. Teknik yang sesuai digunakan dalam proses produksi biodiesel ini adalah esterifikasi dan transesterifikasi in situ. Keuntungannya lebih efisien dan waktu proses lebih singkat, sehingga dapat menyebabkan peningkatan rendemen biodiesel. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kinerja model pengaduk mana yang terbaik (five-blade turbin atau pitched-blade turbin) dan variasi rasio pelarut metanol/heksana/SBE dalam mendapatkan rendemen dan mutu biodiesel yang terbaik. Hasil analisis ragam menunjukkan kondisi proses in situ yang terbaik adalah dengan menggunakan pengaduk model pitched-blade turbin dan variasi rasio metanol/heksana/SBE 6:0:1 pada suhu 65oC dengan kecepatan pengadukan 650 rpm. Kondisi ini menghasilkan rendemen biodiesel 90,17%, densitas 0,85 mg/mL, viskositas 6 cSt, bilangan asam 0,77KOH/g, bilangan penyabunan 287,59 mg KOH/g, gliserol total 0,21%, kadar ester alkil 99,76%. Kata kunci: biodiesel, pengaduk five-blade turbin, pitched-blade turbin, proses esterifikasi dan transesterifikasi in situ, tanah pemucat bekas (SBE

    SIFAT FISIK DAN MEKANIK PAPAN PARTIKEL DARI AMPAS JARAK KEPYAR

    Get PDF
    ABSTRAK   The castor cake meal was a by-product of castor oil production and its has recently been highly rated as a source of raw material for particle board, because beyond its high protein content (32-48%)  and fibre (28-33%). The objective of this research was to produce and investigate the physical and mechanical properties of the particle board from castor cake meal. Particle board samples were manufactured using hot pressing temperatures (150-1900C), pressing time (4-12 minutes), compressed using a pressure  (140-220 kg/cm2) with  particles size of 20-100 mesh. The central composite design (CCD) method and ANOVA (α=0.05) with  response surface method (RSM) were used to evaluate production of the particle board. The physical and mechanical properties of particle board  were determined based on Japanese Industrial Standards, JIS A 5908-2003 type-8. The experimental results showed that the pressing process conditions affected the physical and mechanical properties of particle board. The particle size were significant factor for moisture content, density, water absorption and thickness swelling, pressing temperature were significant factors for modulus of elasticity,modulus of rupture and internal bonding of particle board. The smaller particle size (20 to 60 mesh) and the higher pressing temperature (150 to 1700C), increased moisture content, density, modulus of elasticity, modulus of rupture,  and bonding strength and decreased water absorption  and thickness swelling of particle board. Physical and mechanical properties obtained from the best process conditions at a temperature of 1700C, time of 8 minutes, pressure of 180 kgf/cm2 and 60 mesh particle size. Based on the overall results, the physical and mechanical properties of particle board did not met requirement of the JIS A 5908-2003 except for moisture content, density and internal bonding. Keywords: castor cake meal, particle board, modulus of elasticity,modulus of rupture, internal bondin

    Ucapan Terima Kasih

    Get PDF
    Jurnal Teknologi Industri Pertanian, Agustus 2013 Vol. 23, No. 2ISSN : 0216 - 3160UCAPAN TERIMA KASIHDewan Editor menyampaikan terima kasih Kepada Bapak/Ibu/Sdr, atas kesediannya untuk menelaah naskah yang dimuat pada edisi ini.Aji Hermawan, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,Institut Pertanian BogorAgus Kartono, Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,Institut Pertanian BogorAde Febransyah, Kampus Prasetiya Mulya Business School, Cilandak Barat,Jakarta SelatanAkhmad Fauzi, Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian BogorBambang Haryanto, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, JakartaDedi Fardiaz, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian,Institut Pertanian BogorKhaswar Syamsu, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,Institut Pertanian BogorLiesbetini Haditjaroko, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,Institut Pertanian BogorMuh. Yusram Massijaya, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian BogorM. Syamsul Ma’arif, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,Institut Pertanian BogorNur Richana, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, BogorMukhamad Najib, Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen,Institut Pertanian BogorR. Sudrajat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Gunung Batu, BogorRita Nurmalina, Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan ManajemenInstitut Pertanian BogorRizal Syarief, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian,Institut Pertanian BogorRaffi Paramawati, Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Serpong, TangerangRini Hidayati, Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika danIlmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian BogorSapta Raharja, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,Institut Pertanian BogorSuharjito, Pusat Teknologi Agroindustri, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, JakartaSuprihatin, Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,Institut Pertanian BogorTjahja Muhandri, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian,Institut Pertanian BogorUdin Hasanuddin, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Bandar LampungYohanes Aris Purwanto, Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogo

    APLIKASI PEWARNA BUBUK ALAMI DARI EKSTRAK BIJI PINANG (Areca catechu L.) PADA PEWARNAAN SABUN TRANSPARAN

    Get PDF
    ABSTRAKPewarna alami merupakan alternatif pewarna yang tidak toksik, dapat diperbaharui (renewable), mudah terdegradasi dan ramah lingkungan. Penelitian ini memanfaatkan biji pinang (Areca catechu L.) sebagai pewarna alami. Biji pinang diekstrak kemudian dikeringkan menggunakan pengering semprot (spray drier) menghasilkan pewarna bubuk. Biji pinang mengandung polifenol yang bermanfaat untuk kulit sehingga pewarna bubuk ekstrak biji pinang yang dihasilkan diaplikasikan pada sabun transparan yang biasa digunakan sebagai sabun perawatan dan kecantikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan bubuk ekstrak biji pinang dan jenis minyak terhadap karakteristik sabun transparan yang dihasilkan. Bubuk ekstrak biji pinang yang digunakan adalah bubuk ekstrak biji pinang tanpa bahan pengisi dan bubuk ekstrak biji pinang dengan bahan pengisi (gum arab 2% b/b). Minyak yang digunakan untuk membuat sabun transparan terdiri dari dua jenis, yaitu minyak kelapa dan campuran minyak kelapa dengan kelapa sawit (15:5 b/b). Kontrol yang digunakan adalah sabun transparan tanpa penambahan bubuk ekstrak biji pinang. Semua kombinasi perlakuan jenis minyak dan jenis pewarna bubuk ekstrak biji pinang menghasilkan sabun transparan pada kisaran warna merah kuning. Jenis minyak berpengaruh terhadap stabilitas busa dan kekerasan sabun transparan pada semua jenis pewarna bubuk ekstrak biji pinang yang digunakan dimana campuran minyak kelapa dan minyak kelapa sawit (15:5 b/b) menghasilkan sabun transparan dengan stabilitas busa yang lebih tinggi dan kekerasan yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan menggunakan minyak kelapa akan tetapi tidak berbeda nyata pada kadar air dan nilai pH. Jenis pewarna bubuk ekstrak biji pinang tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air, kekerasan dan nilai pH tetapi berpengaruh terhadap stabilitas busa sabun transparan. Keberadaan bahan pengisi gum arab pada bubuk ekstrak biji pinang meningkatkan stabilitas busa pada sabun transparan yang menggunakan bahan baku minyak kelapa. Penggunaan gum arab pada bubuk pewarna ekstrak biji pinang dapat menurunkan perubahan warna pada sabun transparan selama penyimpanan enam bulan.Kata kunci: Pinang, pewarna alami bubuk, sabun transparanPENDAHULUANPinang (Areca catechu L.) merupakan salah satu tanaman palma yang dapat menghasilkan warna. Biji pinang mengandung senyawa golongan polifenol, yaitu flavonoid dan tanin (Amudhan et al.

    PRODUKSI BIOETANOL DARI HIDROLISAT PATI SINGKONG RACUN DENGAN FERMENTASI REPEATED-BATCH OLEH Saccharomyces cerevisiae TERIMOBILISASI PADA AMPAS SINGKONG

    No full text
    ABSTRAK Produksi bioetanol secara curah oleh sel mikroba bebas memiliki kelemahan, yaitu produktivitas dan efisiensinya yang rendah. Dalam penelitian ini sel Saccharomyces cerevisiae diimobilisasi menggunakan ampas singkong. Bahan ini merupakan hasil samping produksi pati singkong dan belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan mengkaji proses produksi bioetanol dari pati singkong racun dengan fermentasi secara repeated-batch 6 siklus oleh S.cerevisiae terimobilisasi pada ampas singkong. Metode penelitian ini terdiri atas ekstraksi pati, pembuatan hidrolisat pati secara enzimatis, perlakuan terhadap ampas singkong oleh HCl 3% (v/v), imobilisasi S.cerevisiae pada ampas singkong, serta fermentasi secara repeated-batch. Pada penelitian ini diperoleh rendemen pati sebesar 26,20% (b/b) serta efisiensi konversi pati menjadi hidrolisat pati sebesar 36,89% (b/b). Penggunaan ampas singkong hasil perlakuan oleh HCl telah mampu mengimobilisasi sel sebanyak 1,76x1011 sel/g carrier. Fermentasi secara repeated-batch oleh S.cerevisiae terimobilisasi pada ampas singkong dengan kadar total gula awal 140 g/L telah menghasilkan etanol berkadar 42,72-63,66 g/L, produktivitas 1,78-2,66 g/L/jam, yield sebesar 0,33-0,47 g etanol/g gula, persentase konversi gula sebesar 90,80-95,74%, serta efisiensi sebesar 65,91-93,13%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode imobilisasi yang digunakan memiliki kestabilan yang baik, serta didapatkan produktivitas bioetanol, persentase konversi gula dan efisiensi yang tinggi dengan fermentasi secara repeated-batch. Kata kunci: ampas singkong, bioetanol, fermentasi, repeated-batch, Saccharomyces cerevisia

    PROSES PENYIAPAN GRITS JAGUNG UNTUK PRODUKSI TEPUNG JAGUNG

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi proses penyiapan grits jagung hibrida untukproduksi tepung jagung dan mempelajari fenomena pengaruh penambahan papain terhadap kekerasan,kandungan protein, morfologi, dan sifat rheologi tepung jagung yang dihasilkan. Pemilihan degerminatordilakukan terhadap 3 (tiga) tipe peralatan, yaitu polisher beras (tipe A), penyosoh jagung (tipe B) dan peralatanhasil modifikasi (tipe C), sedangkan lama waktu perendaman biji dilakukan selama 10, 20, 30, 40, dan 50 menit.Grits yang dihasilkan selanjutnya diinkubasi dengan papain pada suhu ruang (30oC), konsentrasi papain 0,1; 0,5dan 1,0% atau 70,9; 354,5; dan 709 U/100 mL larutan, dan waktu inkubasi 3, 6, 12 dan 24 jam. Degerminatortipe C dan waktu perendaman 20 menit memberikan hasil grits terbaik, yaitu kandungan lemak 0,75% danrendemen 61,66%. Kekerasan dan kandungan protein grits cenderung menurun seiring dengan peningkatankonsentrasi enzim dan waktu inkubasi. Penurunan kekerasan grits tersebut diikuti dengan meningkatnyakehalusan tepung jagung yang dihasilkan. Pengamatan dengan (Scanning Electron Microscope) SEMmenunjukkan terjadinya penguraian matriks protein pada horny endosperm. Hasil analisis sifat visco amilografidengan RVA menunjukkan profil amilografi tepung yang dihasilkan memiliki kesamaan dengan profil amilografipati jagung komersial.Kata kunci: grits jagung, degerminasi, kekerasan, papain, tepung jagung, ukuran partike

    Kata Pengantar

    No full text
    PRAKATA   Pembaca yang budiman, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT,  atas berkat dan rahmatNya pada kesempatan ini kita dapat kembali berjumpa melalui Jurnal Teknologi Industri Pertanian Volume 24 Nomor 1 Edisi April, Tahun 2014. Semua artikel yang dimuat pada Jurnal Teknologi Industri Pertanian ini telah ditelaah dan diseleksi oleh Dewan Editor dan Mitra Bebestari yang kompeten. Hanya artikel-artikel berkualitas baik dan sangat baik yang dapat dimuat pada Jurnal Teknologi Industri Pertanian. Topik-topik yang disajikan pada edisi kali ini mencakup Vehicle Routing Problem (VRP) dengan algoritma genetika pada pendistribusian sayuran dataran tinggi, strategi implementasi pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi energi listrik, produksi bioetanol dari hidrolisat pati singkong racun   dengan fermentasi repeated-batch oleh Saccharomyces cerevisiae terimobilisasi pada ampas singkong, penambahan cpo dan  rpo sebagai sumber provitamin a terhadap retensi karoten, sifat fisik dan penerimaan  gula kelapa, analisis model keberlanjutan usaha berbasis agen pada minapolitan udang, prediksi kandungan katekin gambir Uncaria gambir Roxb.)  dengan spektroskopi NIR, reduksi sisa pelarut etanol oleoresin kayu manis (Cinnamomum burmannii), analisis dan mitigasi risiko rantai pasok kopi gayo berkelanjutan dengan pendekatan fuzzy. Sebagai penutup disajikan artikel tentang penggunaan model pengaduk pitched blade turbine dan five blade turbine pada produksi biodiesel dari residu minyak dalam tanah pemucat bekas (sbe) secara in situ. Kepada penulis dan mitra bestari yang telah berkontribusi pada penerbitan jurnal edisi ini, kami menyampaikan terima kasih yang mendalam.    Sebagai akhir kata, kami mengundang rekan sejawat peneliti dan praktisi agroindustri  mengirimkan naskah untuk disajikan pada jurnal ini.  Saran dan kritik yang membangun dari pelanggan,  pembaca dan para pihak lainnya sangat kami harapkan.  Selamat membaca.   Ketua Dewan Editor   Marimi

    INFLUENCE OF MATERIAL DENSITY AND STEPWISE INCREASE OF PRESSURE AT STEAM DISTILLATION TO THE YIELD AND QUALITY OF CAJUPUT OIL

    Get PDF
    ABSTRACT   Penyulingan uap pada minyak kayu putih biasa dilakukan dengan tekanan konstan. Penelitian ini membandingkan hasil dan mutu minyak kayu putih dari penyulingan dengan tekanan uap konstan dengan peningkatan tekanan bertahap.  Kepadatan bahan selama penyulingan juga harus diperhatikan karena dapat mempengaruhi hasil minyak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepadatan bahan pada penyulingan uap dengan kenaikan tekanan bertahap terhadap hasil dan mutu minyak.  Diharapkan diperoleh hasil yang tinggi dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Penyulingan dilakukan dengan 3 tingkat kepadatan bahan yaitu 0,20; 0,25, and 0,30 kg/L selama 3.5 jam dengan tekanan awal sebesar 0 bar (pressuregauge)  selama 1,5 jam, dilanjutkan dengan 0,5 bar selama 1 jam dan 1 bar pada satu jam terakhir. Rendemen yang diperoleh dari penyulingan tekanan tetap adalah   0,8% dan untuk penyulingan tekanan bertahap berkisar antara   0,79% sampai 0,98%. Kepadatan bahan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap rendemen, indeks refraksi dan    specific gravity,  namun hanya mempengaruhi rotasi optik. Kenaikan tekanan uap bertahap mempengaruhi karakteristik minyak kayu putih. Kadar sineol  sebesar  60,48%  terdapat pada fraksi dengan tekanan  0 bar, 10,08%  pada fraksi dengan tekanan    0,5 bar dan    1,47%  pada fraksi dengan tekanan  1 bar. Minyak kayu putih dari  penyulingan dengan  tekanan  konstan  hanya mengandung sineol sebesar  35,70% Komponen utama minyak kayu puti adalah sineol, α-terpineol, trans-kariofilen, viridiflorol, limonen, α-humulen α-selinen, dan β-selinen. Kata kunci: penyulingan uap, minyak kayu putih, kepadatan bahan, kenaikan tekanan uap bertaha

    603

    full texts

    744

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal of Agroindustrial Technology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇